Posted by: lizenhs | November 14, 2015

PENERAPAN SORTASI, GRADING dan SIMPLISIA untuk PRODUK PERTANIAN

PENERAPAN SORTASI, GRADING dan SIMPLISIA untuk PRODUK PERTANIAN

oleh: Haslizen Hoesin

Kata Pengantar
Sebelum membahas sortasi, grading dan simplisia produk pertanian, disapa terlebih dahulu para Petani.
Halo bapak/ibu/sahabat para petani, dimanapun Anda berada. Jadilah anda “Pengusaha Pertanian”, artinya Anda bertani secara sistem [dengan kata lain saling terkait satu petani dengan petani lain, terkait dengan kegiatan hulu (meliputi: ikuti/lakukan pola tanam, ikuti/terapkan perwilayahan komoditas pertanian, keadaan tanah, ketersediaan air dan pengaturan air atau iklim, Proses (pembibitan, pengolahan tanah dan penyemaian), sampai hilir (panen, pasca panen, pengolahan hasil, Penjualan ( pemasaran, pengiriman/transportasi produk dll).
Jagan Anda hanya sebagai pekerja ditanah sendiri atau produsen saja, jangan pula sebagai petani ikut-ikutan, misal daerah lain menanam kentang Anda juga tanam kentang, atau ditempat lain tanam cabe atau tomat atau ubi, Anda juga menanamnya.

1. Kelompok Tani Atau Koperasi
Bila anda berusaha (bertani), buatlah kelompok tani atau koperasi. Koperasi yang Anda bentuk berfungsi untuk mengatur pengairan (seperti subak di Bali), pengadaan pupuk, tata cara pengolahan lahan, pasca panen dan pemasaran dan jaringan pemasaran. Koperasi anda itu dapat disebut juga Koperasi Produsen dan/atau Pemasaran. Terbaik dalam kegiatan bertani Anda adalah jangan jual hasil tanaman Anda sebelum siap panen atau masih muda [dijual berdasarkan taksiran dibatang (atau cara Ijon)].
Koperasi yang Anda bentuk berperan: 1). Pengadaan pupuk saat musim tanam. 2). Pengaturan Air saat musim tanam. 3) Mengendalikan harga jual agar tidak jatuh saat panen (raya). 4). Mengendalikan mutu produk (Sortasi dan Garding), sehingga produk lebih bermutu berikut harga jual tentu akan lebih baik. Sortasi dan Grading, Anda yang melakukan secara sendiri atau berkelompok.
Bila Anda menanan padi, hasil panen simpanlah dilumbung atau sejenisnya, sebagian sesudah panen, jangan dijual dalam keadaan muda (terhampar disawah). Bila perlu padi/gabah kering, keringkan sendiri, kemudian simpan ditempat tertentu (Lumbung). Jualah beras saat butuh uang (bukan padi) untuk kebutuhan hidup (kebutuhan sekolah anak), jangan jual semua, sisakan padi (gabah) untuk kebutuhan makan sampai musim panen mendatang sebagai persediaan. Artinya Anda tidak kekurangan beras sampai musim panen berikutnya.
Satu ukuran kesuksesan petani dari beberapa kesuksesan adalah jika Anda tidak kekurangan beras sampai panen berikutnya, itulah yang dikatakan petani yang berhasil (sukses).
Mengenai mengeringkan pasca panen (padi/gabah), baca TEKNOLOGI TEPAT GUNA (TTG): Kamar Pengering Dengan Energi Surya. https://lizenhs.wordpress.com/2013/02/26/teknologi-tepat-guna-ttg-kamar-pengering-dengan-energi-surya/
Bila Anda berkoperasi, kelolalah koperasi Anda dengan professional (baik dan benar), artinya koperasi menguntungkan Anda, jangan menguntungkan pengurus, jangan mendirikan koperasi hanya agar dapat bantuan pemerintah. Jadikan koperasi sebagai tempat Anda berdikusi tentang usaha pertanian Anda, pada hari-hari tertentu secara rutin, mulai dari pengadaan pupuk dan bibit, cara bertani, peralatan pertanian, peralatan panen, peralatan pasca panen, penyimpanan, pengangkutan hasil untuk dijual (pemasaran) dll. Bila koperasi produsen (padi/gabah): Usahakan memiliki mesin giling, Jaringan usaha untuk pengadaan keperluan usaha tani dan pemasaran produk Anda. Jangan koperasi itu berperan sebagai tengkulak. Koperasi produsen (pertanian) dikatakan berhasil bila harga pupuk stabil dan standard saat musim tanam, membimbing Anda dalam usaha tani dan harga hasil panen tidak turun pada panen raya. Itulah ciri-ciri diantara beberapa keberhasilan koperasi. Mengenai koperasi, sebagai pemahaman awal baca:
KOPERASI MENURUT SRI-EDI SWASONO, Oleh-oleh dari IKOPIN
https://lizenhs.wordpress.com/2015/05/20/koperasi-menurut-sri-edi-swasono-oleh-oleh-dari-ikopin/
Koperasi Produsen: Apa Itu ……..??? https://lizenhs.wordpress.com/2009/09/02/koperasi-produsen-apa-itu%E2%80%A6%E2%80%A6/
Koperasi Produksi (Industri). https://lizenhs.wordpress.com/2009/11/11/koperasi-produksi-industri/
Selamat berusaha, semoga usaha anda berkembang. (Haslizen Hoesin).

2. Mutu Produk
Berikut ini kembali ke judul tulisan yaitu menganai Mutu (Sortasi dan Gading), Sebelum tulisan ini anda baca, sebaiknya baca terlebih dulu Manajemen Mutu: Sortasi, Grading dan Simplisa.https://lizenhs.wordpress.com/2015/10/24/manajemen-mutu-sortasi-grading-dan-simplisia/
Apakah Mutu Dan Bermutu Itu? https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/apakah-mutu-dan-bermutu-itu/ dan
Mutu Produk: HALAL dan ASUH. https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/mutu-produk-halal-dan-asuh/
Upaya Mempertahankan Mutu Produk. https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/11/upaya-mempertahankan-mutu-produk-3/
Selamat membaca semoga bermanfaat.

3. Sotasi dan Grading Produk Pertanian
Pada usaha budidaya tanaman (buah-buahan dan sayur-sayuran), penyortiran dilakukan pasca panen dapat dilakukan secara manual oleh petani, yaitu menggunakan tangan. Grading dapat selain secara manual dapat pula menggunakan mesin sortir. Pada kegiatan grading, penentuan mutu hasil panen biasanya didasarkan pada: kebersihan produk, aspek kesehatan, ukuran, bobot, warna, bentuk, kematangan, kesegaran, ada atau tidak-ada serangan/kerusakan oleh penyakit, terdapat kerusakan oleh serangga dan luka/lecet oleh faktor mekanis.
Grading secara manual memerlukan tenaga yang terampil dan terlatih. Bila panen dalam jumlah besar, maka akan memerlukan lebih banyak tenaga kerja.

3.1. Sortasi
Sortasi merupakan bagian kegiatan pasca panen yang dilakukan dengan tujuan memisahkan hasil (pasca) panen yang baik dan yang jelek.
Sortasi merupakan proses pengklasifikasian bahan berdasatkan sifat fisiknya. Sortasi juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang memisahkan produk berdasarkan tingkat keutuhan atau kerusakan produk, baik karena cacat karena mekanis ataupun cacat karena bekas serangan hama atau penyakit. Pada kegiatan sortasi, penentuan mutu hasil panen biasanya didasarkan pada kebersihan produk, ukuran, bobot, warna, bentuk, kematangan, kesegaran, ada atau tidak adanya serangan atau kerusakan oleh penyakit, adanya kerusakan oleh serangga, dan luka oleh faktor mekanis.
Sortasi selain dilakukan secara manual dapat pula dengan mesin. Prinsip sortasi menggunakan mesin mengacu pada sifat-sifat buah (secara mekanis) sebagai dasar sortasi. Sifat-sifat buah itu meliputi: Berat; Ukuran (panjang, pendek, diameter); Bentuk (bulat, lonjong, lurus, pipih dll.), Karakteristik Potometrik (berdasarkan warna dan perubahn transmisi sorter); Aerodinamik dan Hidrodinamik: (pemisahan berdasarkan densitas atau daya apung secara alami; Untuk keadaan ini digunakan pada alat sortasi, misal dengan cara menggetarkan dan mendorong).

Pengaruh Sortasi
Apabila tidak dilakukan sortasi maka proses pengeringan dan pengolahan tidak merata. Misalnya bahan ukuran besar bercampur dengan ukuran kecil sehingga proses pengeringan dan pengolahan akan lebih cepat bahan berukuran kecil.

3.2. Grading
Grading adalah mengelompokkan produk (sayuran, biji-bijian dan buah) berdasarkan ukuran (besar, kecil dan sedang) serta tingkat kemasakan (kematangan). Grading yang dilakukan pada saat pasca panen, bertujuan untuk memisahkan hasil panen berdasarkan ukuran. Grading-pun bisa dilakukan bersamaan dengan penyortiran atau dilakukan secara terpisah.
Jadi Grading merupakan proses pengklasifikasian bahan berdasarkan mutu produk. Grading, misalnya memisahkan yang tua dan muda, karena pengeringan akan lebih cepat kering, bahan yang tua karena berhubungan dengan sifat fisiologis dan morfologis bahan yaitu pori –pori bahan yang lebih besar dan sifat jaringan bahan yang tua lebih renggang sehingga mempermudah kehilangan air dari jaringan bahan pangan.
Grading juga merupakan pemisahan bahan pangan kedalam beberapa katagori berdasarkan mutu. Standard grade bahan meliputi tiga hal atau parameter yaitu: Nama komoditas, Kelas grade mutu dan Atribut yang digunakan dalam penetapan standard grade, seperti: warna, ukuran, kemasakan, tekstur dan bebas dari kerusakan seperti: busuk, penyakit, rusak akibat benturan fisik, aroma dan cita rasa, fungsi, bebas dari kontaminan, bebas dari bagian yang tidak perlu sesuai standar/kode.
Grading dalam posesnya bila dilakukan dengan alat bantu grading, akan memberikan hasil yang akurat. Alat bantu itu seperti: alat pengukur warna atau ukuran (diameter).

3.4. Sortasi Produk
Kegiatan sortasi bila dikaitkan dengan produk pertanian (sayur, umbi, buah dll.) adalah proses pemisahan dan penggolongan tingkat kebugaran dan keseragaman hasil. Jadi sortasi adalah pemisahan produk yang sudah bersih menjadi bermacam-macam mutu atas dasar sifat-sifat fisik. Jadi:
1). Sortasi dilakukan dengan prinsip-prinsip pemisahan seperti: Beda berat, beda bentuk, beda sifat permukaan, beda bobot jenis, beda warna dan beda kematangan/ kemasakan.
2). Sortasi biasanya dilakukan berdasarkan standard mutu yang ditetapkan baik untuk pasar lokal dalam negeri maupun manca negara. Maka sortasi adalah pemisahan bahan yang sudah dibersihkan ke dalam berbagai fraksi mutu berdasarkan karakteristik: Fisik (kadar air, bentuk, ukuran, bobot jenis, tekstur, warna, benda asing/kotoran); Kimia (komposisi bahan, bau dan rasa tengik) dan Biologis (jenis dan jumlah kerusakan oleh serangga, jumlah mikroba dan daya tumbuh khususnya pada bahan pertanian berbentuk bijian).
Berkenaan dengan sortasi dibedakan atas dua macam proses, yaitu: sortasi basah dan sortasi kering.

3.4.1. Sortasi Kering dan Basah
Sortasi basah dilakukan pada saat bahan masih segar. Proses ini untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing lainnya dari bahan simplisia. Misalnya dari simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat, maka bahan-bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah rusak, serta pengotoran lainnya harus dibuang. Hal tersebut dikarenakan tanah merupakan salah satu sumber mikroba yang potensial. Sehingga, pembersihan tanah dapat mengurangi kontaminasi mikroba pada bahan obat.
Sortasi kering pada dasarnya merupakan tahap akhir pembuatan simplisia. Tujuannya untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan dan kotoran lain yang masih tertinggal pada simplisia kering. Sortasi dapat dilakukan dengan atau secara mekanik.

3.4.2. Tujuan Sortasi:
1) Untuk memperoleh simplisia yang dikehendaki, baik kemurnian maupun kebersihannya.
2) Memilih dan memisahkan simplisia yang baik dan tidak cacat.
3) Memisahkan bahan yang masih baik dengan bahan yang rusak akibat kesalahan panen atau serangan patogen, serta kotoran berupa bahan asing yang mencemari tanaman obat.

3.4.3. Bahan Yang Dapat Disortir:
Bahan yang dapat disortir adalah semua simplisia: baik berupa daun, batang, rimpang, korteks, buah, akar, biji maupun bunga.

3.4.4. Batasan Penyortiran dan Simplisia
Pada dasarnya, penyortiran produk (tanaman) dilakukan sesuai dengan jenis simplisia yang akan digunakan. Istilah simplisia umumnya dipakai untuk bahan-bahan tanaman obat alam yang masih berada dalam wujud aslinya atau belum mengalami perubahan bentuk. Hal ini dilakukan karena perlakuan terhadap setiap jenis simplisia berbeda.
Apakah yang dimaksud dengan simplisia? Simplisia adalah bentuk jamak dari simpleks yang berasal dari kata simple (berarti satu atau sederhana).
Pengelolaan simplisia untuk obat-obatan dari tanaman alami adalah sebagai berikut: 1. Pengeringan; 2. Pengawetan; 3. Wadah; 4. Suhu penyimpanan.
Berikut adalah beberapa contoh batasan penyortiran terhadap beberapa simplisia obat dari tanaman:
1) Simplisia daun, yang diambil adalah daun yang berwarna hijau muda sampai tua. Yangdibuang adalah daun yang berwarna kuning atau kecoklatan.
2) Simplisia bunga, misal pada simplisia bunga Srigading, yang dibuang adalah tangkai bunga dan daun yang terikut saat panen.
3) Simplisia buah, misal pada buah kopi, sortasi buah dilakukan untuk memisahkan buah yang superior (masak, bernas, seragam) dari buah inferior (cacat, hitam, pecah berlubang dan terserang hama/penyakit). Kotoran seperti daun, ranting, tanah dan kerikil (harus dibuang), karena dapat merusak mesin pengupas. Pada simplisia buah Adas, buah yang sudah kering dipisahkan dari tangkainya dengan cara memukul batang atau tangkai buah sehingga buah adas lepas
4) Simplisia rimpang, biasanya pada simplisia rimpang seringkali mengenai jumlah akar yang melekat. Seperti pada rimpang terlampau besar, sehingga harus dibuang.

3.4.5. Peraturan Sortasi Tanaman Obat
Menurut WHO Guidelines on Good Agricultural and Collection Practice (GACP) for Madicinal Plants:
1) Pemeriksaan visual terhadap kontaminan yang berupa bagian-bagian tanaman yang tidak dikehendaki/digunakan.
2) Pemeriksaan visual terhadap materi asing.
3) Evaluasi organoleptik, meliputi: penampilan, kerusakan, ukuran, warna, bau dan rasa.

3.5. Tujuan sortasi dan grading
1) Memperoleh mutu yang lebih baik dan seragam,
2) Memberikan standardisasi dan perbaikan-perbaikan cara pengolahannya,
3) Menawarkan beberapa mutu kepada konsumen dengan harga yang sesuai mutunya.

3.5.1. Cara-cara sortasi
1). Cara Manual
Sortasi pada umumnya dikerjakan dengan tenaga manusia:
a. Memerlukan tenaga terampil dan terlatih
b. Memerlukan jumlah tenaga kerja yang banyak

Produk dipisahkan berdasarkan sifat-sifat visual. Misal:
a. Produk baik dengan produk buruk (jelek),
b. Ukuran: besar dan kecil produk,
c. Produk matang dan mentah.

2). Cara Mekanis
a. Menggunakan alat atau mesin sortasi
b. Memerlukan tenaga kerja relatif sedikit
c. Biaya relatif murah

Sortasi adalah pemisahan produk yang sudah bersih menjadi bermacam macam mutu atas dasar sifat-sifat fisik, sedangkan grading adalah sortasi produk menjadi bermacam-macam fraksi mutu sesuai dengan standard klasifikasi yang telah diakui atas dasar nilai komersial dan kegunaannnya. Grading bergantung pada banyak faktor selain sifat fisik.

Tujuan utama sortasi adalah untuk mengoptimalkan kegunaannya untuk tugas-tugas tertentu. Sortasi merupakan pemisahan makanan ke dalam kategori berdasarkan sifat-sifat fisik yang dapat di ukur atau proses pengklasifikasian bahan berdasarkan sifat fisiknya. Hampir semua produk bahan makanan melewati tahap penyortiran.

Beberapa manfaat sortasi, termasuk kebutuhan penyortiran unit berdasarkan: Operasi berat, Pengisian, Keuntungan estetika dan berbagai keuntungan pemasaran yang menyediakan berbagai Jenis ataupun Warna yang berbeda.

Contoh: Membersihkan dan menyortir harus digunakan sebaik mungkin: Untuk memastikan produk. Pengolahan pangan dan Empat (4) sifat fisik produk.
Keempat sifat fisik yang dilakukan dalam pemisahan makanan atau sortasi adalah: berat, ukuran, bentuk dan warna.
1) Sortasi berdasarkan berat. Sotasi berdasarkan berat adalah metode yang paling tepat dari penyortiran karena tidak tergantung pada geometri produk. Telur, buah atau sayuran dapat dipisahkanmenjadi kategori berat dengan menggunakan pegas atau alat elektronik pengukur berat.
Kerugian dari sortasi berdasarkan berat adalah dibutuhkannya banyak waktu untuk menyortasi suatu unit dan metode yanglain lebih tepat dengan item lebih kecil seperti sereal ataupun polong
2) Sortasi berdasarkan ukuran. Sortasi berdasarkan ukuran kurang tepat daripada sortasi berdasarkanberat tapi biayanya jauh lebih murah. Ukuran dan bentuk unit makanan sulit untuk ditentukan secara pasti. Bentuk dan ukuran menyortir ukuran partikel ukuran partikel distribusi bahan yang dinyatakan sebagai salah satu fraksi massa materi yang dipertahankan pada setiap saringan atau presentasekumulatif bahan.
3) Sortasi berdasarkan bentuk. Sortasi bentuk berguna dalam kasus dimana unit makanan terkonta minasi dengan partikel dengan ukuran hampir sama ukuran danberatnya. Hal ini berlaku untuk gabah/beras yang mungkin terdapat biji lain.
4) Sortasi berdasarkan warna. Penyortiran warna masih digunakan tetapi semakin mahal, karena tenaga kerja baik biaya, pelatihan operator maupun ruang yang diperlukan untuk menyortir .
Sortasi merupakan bagian kegiatan pasca panen yang dilakukan dengan tujuan memisahkan hasil panen yang baik dan yang buruk (jelek). Pengertian baik disini adalah yang tidak mengalami kebusukan atau kerusakan fisik akibat penguapan atau serangan hama dan penyakit.
Grading
Grading merupakan proses pengklasifikasian bahan berdasarkan mutunya. Pengaruh perlakuan Grading misalnya bahan yang tua dan muda, jika ingin dilakukan pengeringan, maka yang akan lebih cepat kering adalah bahan yang tua karena berhubungan dengan sifat fisiologis dan morfologis bahan yaitu pori –pori bahan yang lebih besar dan sifat jaringan bahan yang tua lebih renggang sehingga mempermudah kehilangan air dari jaringan.
Grading merupakan pemisahan bahan pangan kedalam beberapa katagori berdasarkan mutunya. Standar grade bahan meliputi tiga hal atau parameter yang meliputi: nama komoditas, kelas grade mutu dan atribut yang digunakan dalam penetapan standard grade tersebut seperti: warna, ukuran, kemasakan, tekstur dan bebas tidaknya dari kerusakan seperti kebusukan, penyakit dan kerusakan akibat benturan fisik, aroma dan cita rasa, fungsi, bebas dari kontaminan, bebas dari bagian yang tidak perlu sesuai standar/kode. Alat bantu proses grading ini agar dalam memberikan hasil yang akurat seperti alat pengukur warna atau ukuran buah apel.
Parameter atribut mutu pada buah, seperti warna dan ukuran. Untuk memperolehnya dapat menggunakan alat bantu sebagai pembanding atau alat koreksi dari inspector dalam melakukan tugasnya. Kemampuan inspektor melakukan tugasnya dengan baik dan benar dalam menentukan grade suatu produk atau sistem grading secara umum dengan bantuan alat yang minimal sangat penting karena akan menentukan kecepatan dalam melaksanakan tugas.
Grading adalah mengelompokkan produk buah atau sayuran tersebut berdasarkan ukuran (besar, kecil dan sedang) serta tingkat kemasakan. Grading dilakukan pada saat panen.
Grading bertujuan untuk memisahkan hasil panen berdasarkan ukuran. Grading bisa dilakukan bersamaan dengan penyortiran atau dilakukan secara terpisah. Sortasi dan grading sangat bermanfaat khususnya dalam pemasaran karena dapat meningkatkan harga jual produk hortikultura.
Penanganan pasca panen terhadap produk hortikultura (buah, umbi dan sayuran) harus dilakukan dengan hati-hati. Karena komoditi tersebut masih merupakan benda hidup yang melakukan proses pernafasan. Selain itu mengingat produk hortikultura mempunyai sifat yang mudah rusak dan membutuhkan tempat yang khusus dalam penyimpanannya selain itu produk hortikultura hanya baik bila dikonsumsi saat segar.
Perlakuan pasca panen meliputi sortasi dan grading. Sortasi adalah memisahkan buah atau sayuran berdasarkan kenampakan yang terlihat, misalnya ada tidaknya serangan hama/penyakit, tanda-tanda busuk, adanya kotoran atau bercak pada kulit, dan sebagainya. Sedangkan grading adalah pengelompokan produk buah dan sayuran tersebut berdasarkan ukuran (besar, sedang dan kecil), tingkat kemasakan, warna dan sebagainya.
Perlakuan sortasi dan grading dilakukan untuk menghasilkan mutu produk hortikultura yang dikehendaki konsumen dengan mempertimbangkan sifat-sifat produk tersebut.
Sortasi maupun grading merupakan serangkaian langkah yang perlu dilakukan dalam penanganan pasca panen yang bertujuan menjaga produk pertanian agar tidak cepat rusak serta untuk meningkatkan harga jual ke konsumen.
Sortasi merupakan suatu usaha untuk memisahkan produk pertanian (buah, umbi dan sayuran) yang didasarkan pada faktor-faktor penampakan yang terlihat (baik atau buruk) segera setelah pemanenan. Grading yaitu pengelompokan produk buah, umbi dan sayuran berdasarkan ukuran (besar, sedang dan kecil) tingkat kemasakan dan lain-lain.
Pada produk (hasil) pertanian, sortasi juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang memisahkan produk berdasarkan tingkat keutuhan atau kerusakan produk, apakah karena cacat mekanis ataupun cacat bekas serangan hama atau penyakit.
Kegiatan sortasi, pada penentuan mutu hasil panen didasarkan pada kebersihan produk, ukuran, bobot, warna, bentuk, kematangan, kesegaran, ada atau tidak adanya serangan atau kerusakan oleh penyakit, terdapat kerusakan oleh serangga dan luka oleh faktor mekanis.
Berdasarkan paparan diatas, sortasi merupakan proses pengklasifikasian bahan berdasarkan sifat fisik. Proses pengklasiasian, bila tidak dilakukan maka proses pengeringan dan pengolahan tidak merata. Misalnya bahan dengan ukuran besar bercampur dengan berukuran kecil, sehingga proses pengeringan akan lebih cepat pada bahan berukuran kecil demikian juga pada pengolahan.
Prinsip sortasi dapat pula menggunakan alat bantu (mesin). Biasanya mengacu pada sifat-sifat buah, sebagai dasar sortasi. Cara ini disebut juga cara mekanis. Sifat-sifat buah yang dijadikan dasar diantaranya: Berat, Ukuran, Bentuk: bulat, memanjang, lonjong dll; Karakteristik potometrik: warna dan perubahan transmisi sorter; Aerodinamik dan hidrodinamik: pemisahan dengan daya apung (berdasarkan densitas) dan Permukaan alami, alat sortasi untuk aerodinamik dan hidrodinamik menggunakan cara menggetarkan dan mendorong.

3.5.2. Contoh Sortasi dan Grading
Sortasi dan grading banyak digunakan, terutama pada produk-produk agroindustri, sebagai contoh umbi kentang. Sortasi dan grading pada umbi kentang merupakan tahapan kedua, yang dilakukan dalam proses penanganan pasca panen, yaitu setelah umbi kentang dicuci, umbi kentang disortasi. Pada proses ini dilakukan pemisahan umbi yang baik dan sehat, (yaitu umbi yang tidak cacat dan tidak terserang hama ataupun penyakit). Kegiatan sortasi dapat mencegah penularan penyakit dari umbi yang sakit atau rusak ke umbi yang sehat.
Sortasi umbi kentang
Setelah disortasi, umbi kentang yang sehat dilakukan grading yaitu mengelompokkan menurut ukuran besar umbi atau beratnya, varietas dan tingkat ketuaan umbi. Hasil grading adalah kentang dengan kelas mutu I, II, III, dan IV. Grading bisa dilakukan bersamaan dengan sortasi. sebgai contoh yaitu kentang varietas French Fries, dikelompokkan ke dalam 4 kelas mutu menurut ukuran beratnya, yaitu:
Kelas mutu umbi Kentang
Kelas I: berat antara 250-400 g; Kelas II: berat antara 100-250 g; Kelas III: berat antara 60-100 g; Kelas IV: berat antara 30-60 g
Menurut SNI-01-3175-1992 umbi kentang segar dikelompokkan ke dalam 3 mutu yaitu mutu I, II, dan III.
Dari kegiatan grading diperoleh hasil umbi yang seragam, baik ukuran maupun mutu. Hal ini akan memudahkan penentuan harga dan pemasarannya, pengemasan atau penyusunan dalam wadah, serta memberikan kepercayaan serta kepuasan pada konsumen sehingga menjamin kestabilan pemasaran.
Tulisan ini terkait dengan FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU PRODUK HASIL PERTANIAN https://lizenhs.wordpress.com/2016/04/13/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-mutu-produk-hasil-pertanian/
Pustaka
Arpah. Muhammad, (1993). “Pengawasan Mutu Pangan”. Bandung, Tarsito.
Grading dan Sortasi Buah Tomat. http://www.pertanianku.com/grading-dan-sortasi-buah-tomat/
Hoesin, Haslizen (1994). “Petunjuk Praktikum Pengendalian Mutu”. Laboratorium Manajemen Produksi. Fakultas Manajemen Produksi dan Pemasaran, IKOPIN.
Kartika. Bambang, Pudji Hastuti dan Wahyu Supartono (1988). “Pedoman Uji Inderawi Bahan Pangan”. PAU Pangan dan Gizi, Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Puri, Suhash C. Daniel Ennis and Kenneth Mullen (1979). “Stasistical Quality Control for Food and Agricultural Scientists”. G.K. Hall Medical Publications Division. Boston, Massachusetts.
Puri, Suhash C. and Kenneth Mullen (1980). “Applied Stasistical for for Food and Agricultural Scientists”. G.K. Hall Medical Publications Division. Boston , Massachusetts
Beberapa Pustaka tidak ditampilkan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: