Posted by: lizenhs | June 3, 2015

SISTEM, PROSES DAN MUTU PERGURUAN (Bagian Kedua)

SISTEM, PROSES DAN MUTU PERGURUAN
(Bagian Kedua)
Oleh: Haslizen Hoesin

Pengantar
Tulisan ini adalah melengkapi dari bembicaraan singkat saya (lizen) dengan beberapa teman yang tertarik tentang perguruan/yayasan pendidikan, juga sebagai menyambut hari Pendidikan Nasional. Pembicaraan singkat itu Lizen tulisan meliputi:
Perguruan; Pesantren, Madrasah, Sekolah, Perguruan Tinggi; Mendidik Dan Pendidikan; Belajar–Mengajar; Konsep Pendidikan Menurut Islam; Belajar – Mengajar; Lembaga dan Yayasan; Sistem dan Model; Himpunan dan Irisan; Perguruan Sebagai Sistem dan Subsistem; Yayasan (Bagian Pertama). Sebelum membaca yang kedua, sebaiknya membaca bagian pertama lebih dahulu klik disini https://lizenhs.wordpress.com/2015/06/02/sistem-proses-dan-mutu-perguruan-bagian-pertama/
Sistem Perguruan; Sarana dan Prasarana Perguruan; Proses; Mengajar, Pembelajaran dan Pendidik; Perguruan Sebagai Suatu Proses; Input, proses, output dan outcome Perguruan; Lembaga Pendidikan yang Berhasil dan Sukses; Perguruan Tinggi; Manajemen Mutu Terpadu Pada Perguruan Tinggi; Akreditasi dan Sertifikasi; Model Perguruan Tinggi dan Pustaka (Bagian Kedua).
Ya, cukup panjang tulisan ini, maka disajikan dalam dua (2) bagian. Selamat membaca, mudah-mudahan bermanfaat.

Sistem Perguruan
Berdasarkan pengertian diatas, maka ada tiga hal penting yang menjadi suatu sistem.
Pertama, sistem pasti memiliki tujuan,
Kedua, sistem selalu mengandung proses atau rangkaian suatu kegiatan dan
Ketiga, proses dalam suatu sistem selalu melibatkan dan memanfaatkan berbagai komponen atau unsur-unsur tertentu dari sistem.
Pengajaran dikatakan suatu sistem, karena pengajaran adalah kegiatan yang bertujuan, yaitu mengajar peserta didik. Pengajaran sebagai suatu sistem merupakan suatu pendekatan yang menekankan hubungan sistemik antara berbagai komponen dalam pengajaran. Hubungan sistemik mempunyai arti, bahwa komponen yang terpadu dalam suatu pengajaran sesuai dengan fungsinya. Hubungan sistemik, penekanannya pada sistem, merupakan ciri yang pertama dan ciri yang kedua adalah penekanan kepada perilaku yang dapat diukur atau diamati. Sistem bermanfaat untuk merancang atau merencanakan proses pengajaran. Oleh karena itu, proses perencanaan yang sistematis dalam proses pembelajaran mempunyai beberapa keuntungan diantaranya:
a. Melalui sistem perencanaan yang matang, pendidikan akan mencapai hasil yang optimal.
b. Melalui sistem perencanaan yang sistematis, setiap pendidik akan bisa menggambarkan hambatan yang akan di hadapi dan didapat menentukan strategi yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
c. Melalui sistem perencanaan, pendidik akan dapat menentukan berbagai langkah dalam memanfaatkan berbagai sumber dan fasilitas yang ada untuk mencapai tujuan.

Sarana dan Prasarana Perguruan
Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pengajaran, misalnya: media pengajaran, alat-alat praktek, penerangan (pencahayaan) diruang kelas, lapangan olah raga dan lain sebagainya, sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung mendukung keberhasilan proses pengajaran, misalnya: jalan menuju sekolah, kamar kecil, halaman didepan bangunan sekolah dan lain sebagainya.

Proses
Proses (dalam Industri) diartikan sebagai suatu cara, metode dan teknik, bagaimana sesungguhnya factor-faktor produksi (tenaga kerja, mesin dan dana) yang ada, mengubah masukan (bahan baku) menjadi keluaran (produk) yang bermutu.
Proses juga diartikan sebagai cara, metode ataupun teknik bagaimana produksi itu dilaksanakan. Bila proses digandengkan dengan produksi maka menjadi proses produksi. Proses poduksi adalah suatu cara, metode ataupun teknik menambah kegunaan suatu barang dan jasa dengan menggunakan faktor produksi yang ada.
Dari kedua definisi di atas, dapat disusun pengertian bahwa proses produksi merupakan kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan faktor-faktor yang ada seperti: tenaga kerja, mesin, bahan baku dan dana agar lebih bermanfaat bagi kebutuhan manusia.
Pada perguruan, proses digandengkan dengan belajar, maka menjadi proses belajar disebut juga pembelajaran. Perhatikan KBBI Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1997), penerbit Balai Pustaka. Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu sedangkan pembalajaran adalah proses, yaitu cara orang atau makhluk hidup belajar mendapatkan kepandaian atau ilmu.
Pembelajaran dapat pula diartikan sebagai tahapan perubahan (proses) pada: perilaku kognitif, perilaku afektif dan psikomotorik dalam diri peserta didik, yaitu menggunakan faktor-faktor yang ada, seperti: tenaga pekerja (pengajar dan non pengajar), mesin/peralatan pendidikan dan dana. Tahap perubahan itu tentu harus bersifat positif. Pelaksanaan pembelajaran terjadi atas tiga fase yaitu: fase informasi, fase transformasi dan fase evaluasi. Dari paparan diatas maka Pembalajaran itu adalah “proses belajar”.
Satu hal yang harus diperhatikan adalah bahwa: “Proses belajar yang tidak menyentuh karakter bukanlah disebut sebagai pendidikan. Oleh karena itu, karakter itu harus ada. Maka tumbuhkanlah karakter pada peserta dididik dengan tiga strategi pengembangan karakter dan perilaku” kata Mendikbud (Anies Baswedan) dalam Seminar Nasional Pendidikan yang diselenggarakan di Gedung Merdeka Museum Konferensi Asia Afrika, Bandung, Sabtu (28/2/2015). Strategi itu adalah keteladanan, pembiasaan rutinitas dan disiplin. Menurut Mendikbud menumbuhkan karakter bukan dilakukan melalui lisan, melainkan dengan perbuatan.

Mengajar, Pembelajaran dan Pendidik
Mengajar merupakan suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur (mengelola) lingkungan sehingga tercipta suasana yang sebaik-baiknya dan dihubungkan dengan peserta didik sehingga terjadilah proses belajar yang menyenangkan.
Pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan murid. Pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang telah tersusun yaitu unsur material, manusiawi, perlengkapan, fasilitas.
Manusiawi, manusiawi merupakan sifat dasar, alamiah dan lahiriah dari manusia. yaitu dimana sifat paling esensi dari penciptaan manusia. Sifat sifat seperti baik hati, kekeluargaan dan saling mencintai serta sifat baik yang lain diyakini merupakan sifat dasar manusia sebelum didistorsi oleh kehidupan didunia. Jadi manusia yang manusiawi adalah manusia yang memelihara dan mendasari tindakannya dengan sifat-sifat esensial manusia itu.
Material meliputi buku-buku, papan tulis dan lain sebagainya.
Perlengkapan dan prosedur saling berpengaruh untuk memperoleh tujuan pembelajaran, yaitu manusia yang terlibat didalam sebuah sistem pengajaran yang terdiri dari guru, peserta didik dan tenaga yang lain.
Fasilitas serta perlengkapan terdiri atas ruang kelas dan audiovisual.
Prosedur pengajaran meliputi: jadwal beserta metode penyampaian informasi, belajar, ujian dan lain sebagainya.
Pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang telah tersusun yaitu unsur material, manusiawi, perlengkapan, fasilitas, perlengkapan serta prosedur yang saling berpengaruh untuk memperoleh tujuan pembelajaran, yaitu manusia yang terlibat didalam sebuah sistem pengajaran yang terdiri dari guru, murid dan tenaga yang lain. Materinya meliputi buku-buku, papan tulis dan lain sebagainya. Fasilitas serta perlengkapan terdiri atas ruang kelas dan audiovisual. Prosedur pengajaran meliputi: jadwal beserta metode penyampaian informasi, belajar, ujian dan lain sebagainya.
Pendidik adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pengajaran. Dalam proses pengajaran pendidik tidak hanya berperan sebagai teladan bagi peserta didik, tetapi juga sebagai pengelola pengajaran (Manager of Learning). Pendidikan adalah sarana yang efektif untuk membangun manusia seutuhnya. Oleh karena itu, lembaga pendidikan memiliki peranan yang besar dalam menentukan keberhasilan tujuan pendidikan. Sebagaimana kita ketahui, manusia pada dasarnya mengalami proses sosialisasi primer dan sekunder. Sosialisasi primer dilakukan dalam lingkungan keluarga semenjak anak dilahirkan. Sedangkan sosialisasi sekunder dialami ketika anak memasuki usia sekolah, dimana anak mengalami sosialisasi yang lebih luas dalam melihat dunianya. Sosialisasi dalam keluarga merupakan modal dasar untuk meneruskannya dalam sosialisasi sekunder.
Terdapat sejumlah aspek yang dapat mempengaruhi mutu proses pengajaran dilihat dari faktor pendidik, yaitu: Teacher Formatif Experience, meliputi jenis kelamin serta semua pengalaman hidup pendidik yang menjadi latar belakang mereka. Teacher Training Experience, meliputi pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang pendidikan pendidik dan Teacher Properties, meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat yang dimiliki guru.
Jadi pengajar dengan pembelajaran ternyata sangat (bahkan saling) terkait.

Perguruan Sebagai Suatu Proses
Pada perguruan sebagai proses terdapat tiga masukan yaitu Masukan Mentah, Masukan Komponen Proses (disebut juga Masukan Instrumental), Masukan Lingkungan dan Unpan balik. Kegiatan proses harus ber “mutu”.
Masukan Mentah berupa calon peserta didik, persoalan-persoalan Ilmiah, Persoalan-persoalan Masyarakat.
Masukan komponen proses (disebut juga Masukan Instrumental) adalah sarana yang diperlukan untuk memproses masukan mentah menjadi keluaran [Masukan Instrumental yaitu: staf pengajar, peralatan, kurikulum, laboratoria, perpustakaan, gedung/prasarana dan tenaga pengajar non dosen (termasuk manajemen perguruan)].
Masukan lingkungan berupa factor-faktor yang sudah “given” dari lingkungan yaitu berupa peraturan pemerintah (misal peraturan pendidikan, materi matakuliah dll.), sistem nilai masyarakat, kondisi sosial, ekonomi, politik, sarana dan prasaran dan lain-lain. Kesemuanya dapat mempengaruhi proses dalam sistem dan subsistem.
Keluaran itu Lulusan, hasil penelitian, hasil (manfaat) yang diterima masyarakat dari pengabdian Perguruan Tinggi dll.
Masukan kepada sistem dari lingkungan dapat juga berasal dari keluaran sistem, berupa Umpan Balik. Jadi bila sistem adalah lingkaran tertutup maka sistem akan menerima masukan selain dari lingkungan, juga di keluarannya (Umpan Balik).
Bagaimanapun kegiatan pembelajaran, sebenarnya ada tiga hal utama hendak diberdayakan yaitu input, proses dan output dan/atau outcome. Kadang, susah membedakan arti kata output dengan outcome. Sehingga pemakaian kedua kata ini sering keliru.

Input, proses, output dan outcome Perguruan
Input adalah semua potensi yang ‘dimasukkan’ ke sekolah sebagai modal awal kegiatan pendidikan padasekolah tersebut. Berkaitan dengan peserta didik, input adalah ‘peserta didik baru’ yang diterima dan siap dididik/diberdayakan.
Input kelas satu (tujuh) SMP adalah lulusan SD yang diterima. Input kelas dua (delapan) adalah peserta didik kelas satu (tujuh) yang naik kelas dan seterusnya.
Proses adalah serangkaian kegiatan pendidikan yang dirancang secara sadar dalam usaha meningkatkan kompetensi input demi menghasilkan output dan outcome bermutu.
Wujud proses pada pendidikan formal adalah pembelajaran, pembinaan mental, pengembangan diri (oleh pihak sekolah), pelatihan, penugasan dan sebagainya.
Output adalah peserta didik yang telah menyelesaikan pendidikan dalam jangka waktu tertentu (lulusan) dari sekolah dimana peserta didik mendapat pendidikan.
Outcome adalah keluaran yang dimanfaatkan (input) pemakai (proses lain).

Lembaga Pendidikan yang Berhasil dan Sukses
Pendidikan yang diselenggarakan suatu lembaga pendidikan dikatakan berhasil dan sukses dilihat dari mutu dan prosesnya. Ketika mutu suatu lembaga sudah bagus maka tentu outpunya akan bagus pula. Demikian juga proses dalam menjadikan peserta didik itu mampu menguasai apa yang seharusnya dikuasai maka dapat pula dikatakan begus. Dari proses yang baik maka kemungkinan akan timbul hasil yang baik pula. Jika diperhatikan, ada empat tipe sekolah dilihat dari mutu dan proses pendidikannya, yaitu: 1) Sekolah Buruk (bad school); 2) Sekolah Bagus (good school); 3) Sekolah Efektif (effective school); dan 4) Sekolah Sangat Baik (excellence school).
Sekolah Buruk (Bad school) adalah gambaran sekolah (lembaga pendidikan) yang memiliki input baik, namun proses pendidikan dan outputnya tidak bermutu.
Sekolah Bagus (Good school) adalah sekolah (lembaga pendidikan) yang memiliki input, proses pendidikan dan outputnya yang baik.
Sekolah Efektif (Effective school) adalah sekolah (lembaga pendidikan) yang memiliki input baik atau mungkin kurang baik, proses pendidikannya sangat baik dan outputnya baik atau bermutu.
Sekolah Terbaik (Excellence school) merupakan sekolah (lembaga pendidikan) yang memiliki input, proses dan output pendidikan sangat baik, jadi sejak pertama kali masukan (peserta didik) sampai keluaran (alumni) dari sekolah tersebut benar-benar sangat baik.

Perguruan Tinggi
Pada perguruan tinggi pengertian 4 (empat) tipe sekolah dilihat dari mutu dan proses pendidikan juga berlaku, jadi pada Prguruan Tinggi terdapat: “Bad”, “Good”, “Effective” dan “Excellence”.
Bila perguruan itu adalah Perguruan Tinggi maka keluarannya (adalah Lulusan, Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat) yang dikembalikan sebagai unpan balik (feedback) kepada Perguruan Tinggi.
Dengan pendekatan proses dapat diketahui/dihitung efesiensi, efektifitas dan produktivitas pada Perguruan Tinggi. Berikutnya pada Perguruan Tinggi dapat diterapkan pula konsep mutu. Efisensi diartikan sebagai kehematan menggunakan sumberdaya dalam kegiatan produksi atau kegiatan organisasi. Hasil kegiatan menggunakan sumber daya harus sebanyak mungkin dan dengan mutu sebaik mungkin, ini berarti bahwa proses (pekerjaan) dilakukan dengan efektifitas (atau efektifitas tinggi).
Gabungan efektifitas dan efisiensi dalam bentuk perbandingan terbentuklah produktifitas. Bentuk persamaannya adalah sebagai berikut:
Produktifitas = [Efektifitas pelaksanaan tugas mencapai tujuan]/[efesiensi mengguna-kan sumber-sumber masukan pada sistem].
Unpan balik diartikan sebagai informasi yang diperoleh dari lapangan kerja, alumi dan masyarakat. Jadi dengan konsep proses dapat diketahui dan/atau dihitung “efesiensi”, “efektifitas”, “produktifitas” dan konsep mutu yaitu Manajemen Mutu Terpadu (MMT) pada Perguruan Tinggi dan APAKAH MUTU Dan BERMUTU ITU? https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/apakah-mutu-dan-bermutu-itu/, dan MANAJEMEN MUTU TERPADU (Total Quality Management). https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/08/manajemen-mutu-terpadu-total-quality-management/

Manajemen Mutu Terpadu Pada Perguruan Tinggi
Bila Perguruan Tinggi dinyatakan sebagai suatu proses yang menghasilkan keluaran yang berujuan untuk memperbaiki efesiensi, efektifitas dan produktifitas. Perguruan (PerguruanTinggi) didekati dengan konsep mutu maka Perguruan adalah industri jasa/pelayanan. Klien (pelanggan) perguruan dapat dibedakan atas dua bentuk yaitu: Klien Eksternal: Primer Peserta didik. Sekunder Orang tua Peserta Didik, pemerintah, masyarakat dll. Tersier: pemakai tenaga lulusan. Klien Internal: staf pengajar (dosen), Karyawan/pegawai, Pimpinan (Manajemen perguruan/perguruan tinggi/sekolah).
Untuk itu, semua karyawan/pekerja (pengajar dan non pengajar) harus bersifat melayani klien internal maupun eksternal dan harus memuaskan klien tersebut. Bila klien internal tidak terpuaskan, maka klien ekternalpun akan mengikuti pula (tidak terpuaskan).
Dengan pendekatan proses dan mutu, maka upaya-upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan mutu adalah: 1. Proses belajar-mengajar dan, 2. Mutu SDM dan Pisik. Satu diantara beberapa cara peningkatan mutu pada proses belajar-mengajar adalah menguraikan proses menjadi elemen-elemen proses. Dari uraian tersebut diketahui pada elemen-elemen (bagian-bagian) mana saja dilakukan pengendalian mutu proses.
Suatu Pergurun dikatakan bermutu bila pada peserta didik, baik yang dalam proses pendidikan atau alumni tidak terjadi biaya mutu. Untuk memahami biaya mutu, sebagai pemahaman awal, baca: Strategi Biaya Mutu Pendidikan https://lizenhs.wordpress.com/2008/11/21/strategi-biaya-mutu-pendidikan/. Untuk menambah pemahaman tentang mutu, Baca juga: APAKAH MUTU Dan BERMUTU ITU? https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/apakah-mutu-dan-bermutu-itu/ dan Mutu Produk: HALAL dan ASUH https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/mutu-produk-halal-dan-asuh/
Bila pada Perguruan Tinggi diterapkan pula Manajemen Mutu Terpadu (MMT), paling tidak terdapat 5 (lima) unsur yang harus diperhatikan, yaitu: 1. Fokus pada Klien (Pelanggan), 2. Perbaikan proses secara sistemik, 3. Pemikiran jangka panjang, 4. Pengembangan sumber daya. 5. Komitmen kepada mutu.

Akreditasi dan Sertifikasi
Karena Perguruan dinyatakan sebagai sistem dan dilakukan proses yang bermutu terhadap masukan mentah (peserta didik) untuk mendapatkan keluaran bermutu. Untuk meningkatkan mutu Perguruan Tinggi diterapkan: Manajemen Mutu Terpadu (MMT), Akreditasi dan Sertifikasi.
Akreditasi
Untuk mengawasi dan mengakreditasi Perguruan Tinggi digunakan PP no 30 thn 1990. Berdasarkan PP tersebut, dalam akreditasi setidak-tidaknya terdapat dua komponen yang diakredisasi yaitu:
1. Program studi, meliputi relevansi, keterkaitan (link) dan mutu,
2. Kelembagaan, meliputi dan kesepadanan (match) dan efisiensi.
Karena Perguruan dinyatakan melaksanakan proses, maka komponen yang diakreditasi adalah: 1). Masukan (masukan Informental), indikatornya: peserta didik, tenaga (SDM), sarana/prasarana dan kurikulum. 2). Proses, indikatornya adalah pengelola [a. lembaga, b. program dan c. pembelajaran] dan evaluasi indikatornya adalah program, Proses dan Produk. 3) Keluaran, indikatornya (Produk) hasil. Dimensi dari komponen yang diakreditasi adalah mutu, relevansi dan efisiensi.
Sertifikasi
Sertifikasi merupakan suatu penetapan yang diberikan oleh suatu organisasi profesional terhadap seseorang untuk menunjukkan bahwa orang tersebut mampu untuk melakukan suatu pekerjaan atau tugas spesifik. Sertifikasi biasanya harus diperbaharui secara berkala, atau dapat pula hanya berlaku untuk suatu periode tertentu. Sebagai bagian dari pembaharuan sertifikasi, umumnya diterapkan bahwa seorang individu harus menunjukkan bukti pelaksanaan pendidikan berkelanjutan atau memperoleh nilai CEU (continuing education unit).
Berkenaan “Sertifikasi” bila mengacu pada penerbitan jaminan tertulis (sertifikat) oleh badan eksternal independen yang telah diaudit dengan persyaratan yang ditentukan dalam suatu standard. Berbeda lagi dengan Ikatan ahli Geologi Indonesia, yang memiliki perangkat sebuah komisi sertifikasi, menetapkan pengertian sertifikasi adalah sebagai berikut: sertifikasi adalah standardisasi secara profesional bagi mereka yang kompeten di bidang pekerjaan masing-masing yang dikelola dan dibina oleh Organisasi Profesi bukan Pemerintah. Sertifikasi ini memenuhi persyaratan kualitas profesional yang sudah ditetapkan
Dari berbagai pengertian tentang sertifikasi, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud sertifikasi (padanan kata dari penyertifikatan) adalah legalitas terhadap seseorang atau lembaga yang karena telah melakukan aktivitas sehingga memenuhi syarat-syarat tertentu sesuai standard sehingga kepadanya diberikan bukti berupa sertifikat. Jadi yang dimaksud dengan sertifikasi pendidik yang sering diperbincangkan akhir-akhir ini adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen.

Model Perguruan Tinggi
Secara lebih khusus tentang perguruan maka berikutnya dibahas Perguruan Tinggi. Sama halnya dengan Perguruan, maka Perguruan Tinggi juga sebagai Sistem atau Subsistem dari sistem yang lebih besar, mempunyai masukan dan menghasilkan sesuatu (keluaran). Bila Perguruan tinggi dimodelkan, maka dalam penyusunan model Perguruan Tinggi komponen-komponennya adalah: Masukan Mentah (peserta didik), Masukan Instrumental (tenaga pengajar, sarana/prasarana dan kurikulum), Proses (program, pembelajaran dan lembaga), Keluaran (Alumni, Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat) dan Umpan Balik terhadap proses dari alumni [didalamnya tersimpan kemampuan (teoritis dan teknis)] dan pemakai alumni.

Pustaka
1 Amirin. Tatang M. (1984) “Pokok-pokok Teori Sistem.” Rajawali. Jakarta
2 Armstrong, Thomas (2004). “Sekolah Para Juara: Menerapkan Multiple Intelligences di Dunia Pendidikan”. (alih bahasa Yudhi Martanto). Cetakan ke empat. Kaifa. Bandung
3 Hoesin. Haslizen (1983). “Penjawalan Kuliah: Permasalahan dan Pengelolaannya di IKOPIN”. Disampaikan pada BIRO I IKOPIN http://www.ikopin.ac.id/.
4 …………….. (1988). “Suatu Gagasan Pengembangan Praktikum Statistika.” Makalah disampaikan pada pertemuan Dosen Statistika IKOPIN. 9 Februari 1988
5 ……………… (1992) “Urutan (Alur Alir) Penempatan Mata Kuliah Rencana Kurikulum Per Semester Fakultas Manajemen Produksi dan Pemasaran”. Laporan FMP kepada Biro I (Rektor) IKOPIN.
6 …………….. (1996) “Pengalaman Mempersiapkan Pengisian Borang Akreditasi Program Studi”, Makalah, disampaikan pada Rapat Kerja Teknis Kopertis Wilayah IV, tanggal 30 Juli 1996.
7 …………….. (1997). “Sistem, Proses dan Mutu Perguruan Tinggi dan Modelnya Menurut BAN”. Wawasan Tridharma no 11 Thn IX. Majalah Ilmiah Bulanan Kopertis Wilayah IV. Bandung
8 ……………… (2002). “Pengembangan Jurusan/Program Studi (Suatu Gagasan)”. Makalah pada Lomba Karya tulis Ilmiah antar dosen IKOPIN diselenggarakan LPPM IKOPIN. April 2002. (Juara I).
9 ……………… (2004). “Hal yang Harus Diperhatikan BAAPSI (Biro Administrasi Akademik, Perencanaan dan Sistem Informasi) ARS Internasional.” Laporan BAAPSI ARS Internasional.
10……………… (2004). “Kegiatan Staf Akademik Satu Semester.” Laporan BAAPSI ARS Internasional.
11 Hoesin, Haslizen dan Kawan-kawan (2004).”Laporan Pertanggung Jawaban Pengurus Perpustakaan FMP. Fakultas Manajemen Produksi dan Pemasaran IKOPIN.
12 Hoesin, Haslizen (2005). “Kebijakan Bidang Kurikulum Perguruan Darul Hikam”, Materi Prajabatan Guru Karyawan Perguruan Darul Hikam, 26 – 27 November 2005.
13 ……………… (2006). “Belajar dan Sekolah Masa Depan”. Prestatif News (Majalah Darul Hikam) Edisi 03, Vol II Juni 2006.
14 Sidi, Indra Djati. 2003, “Menuju Masyarakat Belajar: Menggagas Paradigma Baru Pendidikan”, Edisi kedua Paramadina, Jakarta.
15 Maksum. H (1999). “Madrasah: Sejarah dan Perkembangannya”. Logos Wacana Ilmu. Jakarta
16 Navis A. A (1996). “Filsafat dan Strategi Pendidikan M. Sjafei: Ruang Pendidikan INS Kayutanam ”. Grasindo. Jakarta.
17 Yunus, Mahmud (1979) “Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia”. Cetakan Ke Dua. Mutiara. Jakarta.
18 Beberapa literatur lain tidak ditampilkan


Responses

  1. Di tengah seringnya terjadi plagiarisme dan banyaknya universitas odong-odong yang menjual ijasah., Apa yang di sampaikan Mas Lizen ini sungguh suatu pencerahan. Sistem akreditasi perguruan tinggi ini sudah bagus tapi saya dengar ada kelemahannya yakni masalah standarisasi indikator kinerjanya.
    Barangkali mas atau adek saya bilangnya ( karena saya sudah 40 tahunan), bisa membahas tentang praktek jual ijasah itu ya mas.

    Senang sekali, Bukik Ranah kan bahasa Padang berarti mas orang Padang ya. Saya dari daerah Cupak dekat Solok.

    • Terimakasih atas kunjungan Anda Sahabat Udin, semoga bermanfaat. Ambo urang Minang kab Agam lebih terperinci baca pada Tentang lizenhs. sanak jangan sebut bahasa Padang tapi bhs Minang itu yang tepat. siapa tahu satu saat awak ketemu di Darat. (di Solok) atau ditempat lain.

      • Semoga bermanfaat dan bahan pemikiran/ide


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: