Posted by: lizenhs | May 7, 2011

APAKAH MUTU Dan BERMUTU ITU?

APAKAH MUTU Dan BERMUTU ITU?

Oleh: Haslizen Hoesin

  1. Pendahuluan

Sebelum membahas mutu. Dipaparkan terlebih dahulu pengertian mutu, dimaksudkan agar supaya para pembaca mempunyai cara pandang yang sama tentang kosa kata mutu.

Pembahasan diperlukan agar konsumen dan podusen memeliki persepsi yang sama tentang mutu.

  1. Pengertian Mutu

Mutu atau kualitas pengertiannya sama. Dahulu yang populer adalah kata mutu dan bermutu, nilai dan bernilai (bahasa Indonesia), sekarang kualitas dan berkualitas. Kualitas adalah kata serapan dari bahasa Inggeris “quality”. Pernah juga disebut kualitet serapan dari bahasa Belanda. Pada paparan ini menggunakan kata mutu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian mutu dan nilai adalah sebagai berikut:

Mutu (n) adalah ukuran baik buruk suatu benda, kadar, taraf, derajat. Bermutu (v) mempunyai mutu.

Nilai (n) adalah banyak sedikitnya isi, kadar, mutu. Bernilai (v) mempunyai nilai.

Sifat atau ciri yang membedakan suatu produk dengan produk lain disebut kriteria produk disebut juga mutu. Penyusunan kumpulan kriteria produk akan menghasilkan suatu konsep mutu.

Konsep mutu harus dibakukan (distandardisasi) sebelum dilaksanakan (diimplemen-tasikan) [Arpah, 1993: 2].

Pengertian lain tentang mutu adalah paduan sifat-sifat barang atau jasa, yang menun-jukkan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan pelanggan, baik kebutuhan yang dinyatakan ecara tersirat maupun yang tersurat.

Mutu yang dipaparkan berikut merupakan suatu ketentuan yang diberlakukan pada kegiatan suatu proses produkasi. 

1) Mutu

Istilah mutu pada umumnya digunakan dalam dua arti yaitu:

(1) Pertama, sebagai penampakan (standar of performance). Bila berbicara tentang produk, istilah mutu digunakan untuk membedakan suatu produk dengan produk lain.

(2) Kedua, penekanan dengan perbedaan dalam proses pembuatan yang ditujukan untuk sasaran konsumen (pasar) yang dituju. Mutu di sini menunjukkan tingkat kesesuaian (degree of conformity) dengan ketentuan baku.

2) Selogan Mutu

Mutu memiliki “selogan” yaitu:

Buat dengan benar pertama kali ……dan seterusnya buat dengan benar.

Coba membuat dengan benar pertama kali ……dan seterusnya buat dengan benar.

Sesuai “perkataan” dengan “perbuatan”

  1. Konsep Mutu dan Mutu Menurut Islam

Berbagai definisi mutu, diantaranya sebagaimana yang dikemukakan Al Qur’an, hadits, [Chatab, 1996 dan QC Circle Headquarters, 1985]

3.1 Pengertian Dan Konsep Mutu

Bila berbicara mengenai konsep mutu, maka mutu dapat dinyatakan dalam empat pengertian, yaitu:

1) Mutu dapat pula ditinjau dari sisi mutu, proses dan pelanggan:

Mutu: meliputi barang dan jasa,

Proses: meliputi kegiatan produksi dan perdagangan

Pelanggan: meliputi pelanggan internal dan eksternal dan berkenaan dengan jaminan.

2) Mutu sering pula dinyatakan dengan “mencapai persyaratan” dan “disetujui”.

Mencapai: menyatakan motivasi dan “kesanggupan”, bukan hanya untuk memenuhi atau menepati saja.

Persyaratan: kehendak yang sebenarnya dan apa yang diharapkan.

Disetujui: mengakibatkan penelitian, perbincangan untuk menyelesaikan kehendak, perselisihan, perundingan dalam merumuskan persyaratan dan dikehendak.

3) Faktor-faktor untuk mencapai mutu secara menyeluruh.

Mutu menyeluruh meliputi sistem, manusia dan manajemen.

Sistem: kerangka kerja, konsistensi, spesifikasi, ketentuan baku (standar) dan spesifikasi.

Manusia: kesadaran, keterlibatan, komunikasi dan tanggungjawab.

Manajemen: tentukan kebijakan, tentukan rencana tindakan dan mengawasi kemajuan (proses).

4) Mutu didekati dengan P3T

P3T merupakan kependekan dari; Perencanaan (Plan), Pelaksanaan (Do), Pemeriksaan (Chech) dan Tindakan (Action) [QC Circle Headquarters 1985: 141 – 148], bila diringkas P3T atau PDCA.

Artinya; bila mutu produk yang menjadi tujuan akhir dari kegiatan proses produksi maka mulailah dari “perencanaan” kegiatan tentang mutu, “laksanakan” rancangan mutu tersebut, “periksa” hasil kegiatan tentang pelaksanaan mutu dan “tindakan” apa yang dilakukan bila terjadi penyimpangan dari yang direncanakan, mengarah kepada berbaikan mutu yang terus-menerus.

Kejadian ini dilakukan terus-menerus seperti lingkaran ulir atau spiral atau roda. Bila dibentang yaitu P3T-evaluasi (perbaikan) – P3T -evaluasi (perbaikan) – P3T- dan seterusnya maka terjadi berbentuk seperti lingkaran ulir atau spiral atau roda berputar maju kedepan yang selalu mengarah kepada perbaikan. Kejadian tersebut bila diperhatikan adalah penerapan Surat Alam Nasyrah [94]: 5 sampai 8.

3.2 Mutu Menurut Islam

Konsep mutu dalam Islam terdapat di Al Qur’an dan sunnah Nabi.

1) Al qur’an

“Konsep mutu”, firman Allah adalah

Al Kahfi [18]: “Sesungguhnya orang yang beriman dan bekerja dengan benar [sesuai dengan kriteria yang ditetapkan (amal shaleh)], kami tidak akan menyia-nyiakan (disia-siakan) pahala setiap orang yang mengerjakan pekerjaan dengan benar [sempurna (baik)]” (30).

Bila Pendekatan Menghasilkan (pross produksi)

“Bila pendekatan menghasilkan (proses produksi) sesuatu produk”, dalam Al Quran disebutkan pada beperapa ayat.

An Naml [27]: “Dia (Allah) menyelesaikan sesuatu (benda-benda/barang-barang) permintaan dengan sempurna” (88).

Ash-Shaff [61]: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan (2). Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (3).

Asy-Syuaraa [26]: Sempurnakanlah takaran (ukuran) dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan (181), dan timbanglah dengan timbangan (ukuran) yang lurus (tepat-benar) (182)

Al Muthaffifiin [83]: Kecelakaan besar bagi orang-orang yang curang (1), (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran (ukuran) dari orang lain mereka minta dipenuhi (2), Dan apabila mereka menakar atau menimbang (mengukur) untuk orang lain, mereka mengurangi (tidak tepat-benar) (3).

Al Baqarah [2]: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan” (168).

Ayat-ayat diatas menjelaskan mutu berdasarkan ukuran, dalam masyarakat produksi/ produsen (industri) dikenal sebagai variable.

Bila pendekatan kasat mata

Al Israa’ [17]: “Janganlah kamu menerima informasi yang kamu tidak mengetahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya” (36).

Mutu secara kasat mata (penglihatan/dilihat), dalam masyarakat produksi/produsen (industri) dikenal sebagai atribut.

Untuk menganalisis penyebab kecacatan atau menurangi cacat produk yang menurunkan mutu dilakukan dengan mencari penyebab (digunakan konsep hubungan sebab-akibat). Konsep Islam tentang sebab-akibat Al Qur’an menjelaskan pada surat Al Isra’ [17] ayat (7) sebagai berikut: Jika kalian berbuat kebaikan, akibat kebaikan untuk dirimu sendiri, jika kalian berbuat keburukan, maka akibat keburukan itu untuk dirimu sendiri, …. (7).

2) Sunnah Rasul

Mengenai mutu Rasulullah Saw menyatakan bahwa Beliau Saw menunjung tinggi mutu dengan menekankan ihsan (kebaikan) dan itqan (kesempurnaan). Dalam istilah lain adalah teliti, kerja terbaik dan tidak ada cela (cacat) (zero difect). Rasulullah Saw berkata: “Allah telah mewajibkan kamu untuk berbuat baik (ihsan) dalam segala hal” dan bahwa “Allah menyukai orang yang melakukan sesuatu pekerjaan, ia melakukan indah dan sebaik mungkin (sempurna) (Al Hadits) [Chapra, 2001: 59 – 60; Yusanto, 2002: 42]. Hadits ini juga digunakan Chapra (2001: 59 – 60) sebagai konsep untuk menyusun pengertian efisiensi penggunaan sumberdaya manusia dan alam.

Untuk “menilai mutu produk yang dihasilkan”, rujukan yang bagus dari Nabi Saw tercermin dalam sebuah hadits berbunyi: ”Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin sesungguhnya dia telah beruntung, barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka sesungguhnya ia telah merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka sesungguhnya ia terlaknat.” [HR Dailami] [Ibad, 2008]. Perhatikan kembali slogan mutu.

Dari paparan diatas jelaslah konsep “mutu” menurut Islam dinyatakan dengan kata “ihsan” (kebaikan) dan “itqan” (kesempurnaan). Kebaikan (ihsan) itu adalah kemanfaatan, sedangkan kesempurnaan (intaq) itu adalah tanpa cacat (zero defect).

  1. Lingkaran Spiral

Lingkaran spiral adalah model untuk menunjukkan bahwa perbaikan mutu dilakukan terus menerus, tahap demi tahap maju kedepan, menuju yang ditargetkan. Kegiatan ini tak ubahnya seperti spiral/lingkaran ulir/roda (bergerak maju kedepan). Gerak melingkar maju kedepan untuk memperoleh mutu produk yang lebih baik, karena selalu di evaluasi pengerjaannya.

1) Konsep Islam.

Aktifitas pengendalian mutu dilakukan secara terus-menerus agar mutu produk selalu meningkat dari proses pertama, kedua dan seterusnya. Islam mengemukakannya dalam Surat Alam Nasyrah [94]: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (5). Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (6). Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (7). Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (8).

Satu kali proses produksi mulai dari perancangan mutu produk sampai menjadi produkjadi. Didalam kegiatan, dilakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh termasuk mengendalikan pekerjaan. Kegiatan ini akan menghasilkan pengalaman, dibagian mana terjadi kesalahan, kelalaian dan keberhasilan. Kegiatan ini disebut satu lingkaran. Pada kegiatan satu lingkaran diperoleh data, dilakukan analisis Pareto dan sebab-akibat. Hasil analisis sebab-akibat, dipergunakan untuk melakukan perbaikan terhadap cara kerja dan kegiatan pekerja yang dilakukan waktu lampau. Hal itu berarti menghapus kebiasaan cara kerja lama yang tidak optimal. Pekerjaan ini tidak mudah (terdapat kesulitan-kesulitan) kemudian tentu akan mendapatkan kemudahan (manfaat) baru. Proses berikut akan menghasilkan produk yang lebih baik dari yang pertama, berarti akan melapangkan dada dan menghilangkan beban. Begitulah seterusnya, kemudian berserah diri, {Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (8). Alam Nasyrah [94]}

2) Konsep Mutu (P3T)

Untuk mewujudkan tingkat mutu tertentu perlu dilakukan aktifitas pe-ngendalian mutu P3T atau PDCA (QC. Circle Activities, 1985: 141 – 143). P3T (PDCA) merupakan kependekan dari; Perencanaan (Plan), Pelaksanaan (Do), Pemeriksaan (Check) dan Tindakan (Action). Setelah selesai satu perioda kegiatan di ulang lagi Perencanaan (Plan) dan seterusnya sampai Tindakan (Action). Kejadian ini mengikuti ayat-ayat dalam Al Qur’an surat Alam Nasyrah ayat 5 sampai 8

3) Mencapai Mutu

Untuk mencapai tingkat mutu tertentu dalam upaya memuaskan penerima antara lain: setiap unit kerja (internal) memuaskan pelanggan dalam (unit kerja berikut) dan pelanggan luar (eksternal) yaitu konsumen, pelanggan (Hardjosoedarmo, 2004: 50 – 51).

Mutu yang diharapkan konsumen akhir meliputi :

(1) Karakteristik mutu utama.

(2) Karakteristik mutu yang lainnya.

(3) Keandalan, berupa kemungkinan suatu karakteristik mutu memberi manfaat.

(4) Tingkat kesesuaian antara rancangan produk, proses produksi dan ketentuan baku yang ditetapkan.

(5) Ekonomi dan umur teknis.

(6) Pelayanan yang diberikan untuk memuaskan pelanggan.

(7) Keindahan: bentuk, tampilan, rasa dan bau,

(8) Persepsi mutu.

Harus disadari bahwa Mutu (sebutan lain kualitas) adalah:

Pertama, sebagai standard penampakan (kriteria atau sifat-sifat) —-à pembeda.

Kedua, sebagai perbedaan pembuatan —-àditujukan kepada sasaran.

Perlu dicamkan, mutu bukan terbaik dalam arti mutlak, tetapi terbaik untuk kepentingan pelanggan yang berkaitan dengan:

  • Pemakaian sesungguhnya terhadap produk tersebut.
  • Harga yang harus dibayar untuk produk terebut.

Jadi mutu:

  • Merupakan sifat-sifat yang membedakan.
  • Kumpulan sifat-sifat produk disebut kriteria mutu.
  1. Apakah Bermtu Itu?

Menurut Kamus Besar Indonesia ber.mu.tu adalah kata Verba (kata kerja): (1) baik (tinggi) mutunya; (2) mempunyai mutu (kualitas); (3) bertaraf.

Dari pengertian tersebut dapat didefinisikan bermutu: “mempunyai/memiliki mutu”. Artinya produk memiliki “kriteria/karakteristik” mutu sebagaimana dirancang produsen dan sesuai dengan harapan konsumen. Jadi bila Produk tidak bermutu berarti tidak memiliki kriteria/karakteristik mutu dan juga tidak sesuai dengan harapan konsumen.

  1. Siapakah Yang Berkepentingan Dengan Mutu ?

Pada matarantai produk (barang/jasa), setiap orang berkepentingan dengan mutu. Apakah sebagai Produsen [masukan (bahan baku), proses produksi, keluaran (produk)] penjualan dan pemakai akhir.  Lebih terperinci sebagai  berikut: pemasok (bahan baku), produsen, pedangang (penjual) perantara, pedagang akhir dan konsumen/pelanggan (pemakai). Masing-masing orang akan bertindak, apakah mereka sebagai produsen, penyedia barang/jasa, pedagang ataupun pemakai (konsumen/pelanggan). bila menemukan mutu produk tidak sesuai harapan.

7.Penutup

Sebagaimana disebutkan diatas, bahwa mutu merupakan sifat atau ciri yang membedakan suatu produk dengan produk lain yang disebut kriteria mutu. Penyusunan kriteria mutu akan menghasilkan suatu konsep mengenai mutu. Konsep mutu harus di bakukan (standard) sebelum dilaksanakan. Bentuk-bentuk baku mutu diantaranya SNI. SII. dll.

Berdasarkan paparan di atas, dapat didefinisikan mutu secara ringkas.

  1. Mutu, merupakan pemberian kepada pelanggan sesuatu yang dibutuhkan (barang/jasa) sesuai dengan spesifikasi (kriteria) yang diharapkan. Semua dikerjakan sedemikian rupa, sehingga setiap pekerjaan dikerjakan satu kali saja tanpa pengulangan,
  2. Menurut ISO, mutu didefinisikan sebagai gambaran dan kerakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentukan dan tersirat.
  3. Mutu dapat pula berarti: estetika, ketahanan, penampilan dan diandalkan dan purna jual.

Karakteristik mutu suatu produk dapat diamati dan diukur, diklasifikasikan atas atribut dan variabel.

  1. Atribut, ketentuan bermutu atau tidak, ditetapkan dalam bentuk bilangan cacat (tercela) yang terdapat pad produk. Data bersifat dihitung.
  2. Variabel, ditentukan dalam bentuk derajat variasi, seperti keterukuran yaitu panjang, berat, suhu, waktu dll. Data bersifat diukur.

Dari paparan diatas terdapat beberapa definisi/pengertian mutu. Bila dinyatakan dalam pengertian yang sering dijumpai di masyarakat/di lapangan maka Mutu dapat dinyatakan sebagai berikut:

  1. Kesesuaian dengan persyaratan dan tuntutan baik dalam bentuk barang maupun pelayanan (jasa).
  2. Kecocokan bagi pemakai (untuk) dipakai.
  3. Memenuhan kebutuhan pelanggan.
  4. Membahagiakan pelanggan.
  5. Bebas dari kerusakan/cacat.
  6. Perbaikan/penyempurnaan berkelanjutan.
  7. Melakukan segala sesuatu secara benar sejak awal.
  8. Berharga atau bernilai.

Untuk mengendalikan mutu, satu dari beberapa cara adalah dengan statistika (metoda statistika).  Sebagai pengantar atau pengetahuan awal baca pada: Pemanfaatan Metode Statistik Pada Pengendalian Mutu https://lizenhs.wordpress.com/2014/07/28/pemanfaatan-metode-statistik-pada-pengendalian-mutu/

Tulisan yang terkait dengan Mutu adalah sebagai berikut:

Manajemen Mutu: Sortasi, Grading dan Simplisia.  https://lizenhs.wordpress.com/2015/10/24/manajemen-mutu-sortasi-grading-dan-simplisia/

Audit Mutu dan Audit Kendali Mutu https://lizenhs.wordpress.com/2014/07/28/audit-mutu-dan-audit-kendali-mutu/

Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality management) https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/08/manajemen-mutu-terpadu-total-quality-management/

SISTEM MUTU https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/11/sistem-mutu/

Startegi Biaya Mutu Pendidikan https://lizenhs.wordpress.com/2008/11/21/strategi-biaya-mutu-pendidikan/

Mutu Produk: HALAL dan ASUH https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/mutu-produk-halal-dan-asuh/

UPAYA MEMPERTAHANKAN MUTU PRODUK https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/11/upaya-mempertahankan-mutu-produk-3/

Semuanya Pada Kategori:  Ber “Mutu” Yaaaa!

Persepsi Konsumen Terhadap Produk https://lizenhs.wordpress.com/2014/12/20/persepsi-konsumen-terhadap-mutu-produk/#more-2461

Baca Juga:

Manajemen Mutu: Mutu menurut sudut Pandang Konsumen dan Produsen.  https://lizenhs.wordpress.com/2015/08/25/manajemen-mutu-mutu-menurut-sudut-pandang-konsumen-dan-produsen/

Manajemen Mutu: Sortasi, Grading dan Simplisia https://lizenhs.wordpress.com/2015/10/24/manajemen-mutu-sortasi-grading-dan-simplisia/

PRINSIP PENGAWASAN MUTU PRODUK PERTANIAN https://lizenhs.wordpress.com/2016/04/25/prinsip-pengawasan-mutu-produk-pertanian/

Pustaka

Al Qur’an dan buku hadits.

Arpah. Muhammad, (1993). “Pengawasan Mutu Pangan”. Bandung, Tarsito

Chapra. M. Umer, (2001). “Masa Depan Ilmu Ekonomi: Sebuah Tijauan Islam”. (alih bahasa Ichwan Abidin Basri). Jakarta, Gema Insani Pres.

Chatab. Nevizond, (1996). Panduan Penerapan dan Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu ISO 9000”. Jakarta, PT Alex Media Komputindo.

Hasdjosoedarmo. Soewarso, (2004). “Bacaan Terpilih Tentang Total Quality Managenent” (edisi revisi). Yogyakarya, Andi.

Ibad, Asep Farhanil (2008) “Muhasabah (Introspeksi Diri).” http://www.badilag.net/data/Introspeksi%20Diri.pdf 10 Juni 2008.

QC Circle Headquarters, JUSE (1985). “How To Operate QC Circle Activi-ties”. Tokyo, Shibuya-ku

Yusanto, Muhammad Ismail dan Muhammad Karebet Widjajakusuma (2002). Menggagas Bisnis Islami”. Jakarta, Gema Insani.

Beberapa judul pustaka lain tidak ditampilkan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: