Posted by: lizenhs | May 20, 2015

KOPERASI MENURUT SRI-EDI SWASONO, Oleh-oleh dari IKOPIN

KOPERASI MENURUT SRI-EDI SWASONO,
Oleh-oleh dari IKOPIN

Pengantar
Bulan Mei adalah bulan Pendidikan Koperasi. Tingkat Perguruan Tinggi (Institut) diakui secara Nasional, tepatnya, tanggal 7 Mei 1982 IKOPIN mendapat Izin Operasional (no. 039/1982) sebagai peningkatan AKOP 12 Juli Bandung menjadi Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN). Tanggal 7 Mei ditetapkan hari lahirnya IKOPIN. ).  Dua tahun kemudian tahun 1984 Ikopin mendapat SK Terdaftar (no 0133/0/1984). Mensyukuri peningkatan status dari Izin Operasional menjadi Terdaftar tepatnya Dies IKOPIN tahun 1984, Presiden RI ke IKOPIN sekaligus meresmikan, sebuah Perguruan Tinggi yang memberikan porsi besar terhadap “mata kuliah ilmu koperasi”.
Tahun 2015 IKOPIN menyelenggarakan Dies yang ke 33. Panitia Dies (Mahasiswa, Karyawan dan Manajemen IKOPIN) mengisi kegiatan Dies dengan serangkaian acara yaitu: Pendidikan (lima acara), Keagamaan (satu acara), Pengabdian Kepada Masyarakat (dua acara) dan Hiburan (lima acara). Kegiatan dimulai bulan Maret (tgl 16) berakhir Mei (tgl 12). Pada acara Pendidikan, tanggal 5 Mei 2015 yaitu Seminar Nasional “Kaleidoskop Perkembangan Koperasi dan Road Map Koperasi Indonesia”, Lizen datang ke IKOPIN tanngal tersebut. Kampus penuh dengan Siswa, Mahasiswa, Para Pengajar dari berbagai Perguruan Tinggi, Pengusaha, Pemusik, maupun Pejabat Pemerintah sebagai pengisi acara, peminat dan pengamat Koperasi. KEREN acara Dies, SUKSES IKOPIN. http://www.ikopin.ac.id/ Lizen mengucapkan selamat kepada IKOPIN (Panitia, Pendukung, Penyandang Dana dan Peserta). Lizen membawa oleh-oleh dari IKOPIN untuk pembaca BRI, sebagai menambah wawasan mengenai Koperasi.
Oleh-oleh dari IKOPIN berupa makalah berjudul Apakah Itu Koperasi? Ya……, selalu saja ada yang bertanya dan mempertanyakan KOPERASI. Untuk menjawab pertanyaan tersebut.  Bukik Ranah Ilmu (BRI), menyajikan sebuah tulisan/ makalah dari Prof Dr Sri-Edi Swasono, berjudul Apa itu Koperasi? Makalah ini adalah satu dari beberapa makalah yang disajikan pada acara Dies. Selamat membaca semoga bermanfaat (Haslizen Hoesin).

Segala Sesuatu Itu Ada Ilmunya
Sebuah pepatah lama: SEGALA SESUATU ITU ADA ILMUNYA. Yaaa, tentu segala sesuatu itu ada Ilmunya, itulah dasar berdiri IKOPIN. Tanpa memiliki ilmu/pengetahuan maka akan tidak paham/mengerti, akan terjadi ikut-ikutan, atau trend saja. Itu tentu sangat tidak baik, bagi kelangsungan suatu kegiatan.
Sebagai tambahan pengetahuan tentang Koperasi, baca juga: Pendidikan Koperasi: Jalan Panjang, Berliku, Naik dan Turun. https://lizenhs.wordpress.com/2008/11/21/pendidikan-koperasi-jalan-panjang-berliku-naik-dan-turun/ Tulisan lain sebagai penambah wawasan (ilmu/pengetahuan) tentang koperasi baca:
Koperasi Produsen, https://lizenhs.wordpress.com/2009/09/02/koperasi-produsen-apa-itu%E2%80%A6%E2%80%A6/ .
Koperasi Produksi (industri) https://lizenhs.wordpress.com/2009/11/11/koperasi-produksi-industri/.
Beberapa Faktor Penentu Keberhasilan Koperasi/KUD. https://lizenhs.wordpress.com/2014/05/30/beberapa-faktor-penentu-keberhasilan-koperasikud/ dan Formalisasi Sektor Informal Menurut Herman Soewardi https://lizenhs.wordpress.com/2015/04/17/formalisasi-sektor-informal-menurut-herman-soewardi/
Judul-judul lain, selain Koperasi dapat pula anda baca pada blog Bukik Ranah Ilmu (BRI). Selamat membaca. Bila anda suka tulisan pada blog ini sampaikan kepada teman anda, bila ada komentar anda sampaikan kepada penulis BRI. Selamat membaca makalah bapak Sri-Edi Swasono, semoga bermanfaat.

APA ITU KOPERASI?
Oleh: Sri-Edi Swasono

Pengertian Koperasi
Koperasi adalah suatu lembaga sosial-ekonomi “untuk menolong diri sendiri secara bersama-sama”. Upaya ini dapat tumbuh dari dalam masyarakat sendiri, berkat munculnya kesadaran pemberdayaan-diri (self-empowering), namun dapat pula ditumbuhkan dari luar masyarakat sebagai upaya pemberdayaan oleh agents of development, baik oleh pemerintah, elite masyarakat maupun oleh organisasi kemasyarakatan, LSM, dll.
Dengan kata lain, menolong diri sendiri secara bersama-sama itulah yang apabila diformalkan (dilembagakan) akan menjadi badan usaha bersama, yang lazim kita sebut sebagai “koperasi’’.

Unsur Utama Pembentuk Kopreasi
Unsur utama terbentuknya koperasi (dimensi mikro) sebagai wadah usaha ekonomi:
(1) Adanya sekelompok anggota masyarakat yang sama-sama memiliki “kepentingan bersama”,
(2) Mereka ini sering bertemu secara rutin berdasar alasan serukun tempat tinggal, selokasi kerja, setempat kerja, seprofesi, sejenis matapencaharian.
(3) Sekelompok mereka ini bersepakat untuk bersama-sama bekerja sama “menolong diri sendiri secara bersama-sama” untuk memenuhi kepentingan bersama itu dalam semangat bersama dan kekeluargaan.
Koperasi menghidupkan peri kehidupan kolektivita dengan tetap mempertahankan individualita. Hanya “kepentingan bersama” yang diurus oleh koperasi. Jika suatu jenis kebutuhan diperlukan oleh, katakanlah sekitar sepertiga jumlah anggota, maka jenis kebutuhan ini dapat dikategorikan sebagai kepentingan bersama.
(4). Berbeda dengan wadah usaha lain, misal PT, firma dan CV ataupun berbagai macam perusahan negara, maka koperasi sebagai wadah usaha “dimiliki bersama” oleh seluruh anggotanya berdasarkan kesamaan harkat-martabat sebagai sesama manusia. Dalam koperasi berlaku prinsip partisipasi dan emansipasi.
Koperasi sering disebut sebagai “kumpulan orang”. Dialam koperasi manusialah yang diutamakan, setiap orang (individu anggota) dihormati harkat dan martabatnya , dalam prinsip “satu orang satu suara” (one man one vote). Namun tidak berarti di dalam uang (financial capital) tidak penting. Dilain pihak PT disebut sebagai “kumpulan uang” karena di dalam PT modal uanglah yang penting dan diutamakan, dalan wujudnya “satu sahan satu suara” (one share one vute). Namun tidak berarti di dalam PT peran (human cpital) tidak penting.
(5). Lebih dari itu, tidak seperti di dalam PT, di dalam koperasi berlaku pedoman usaha, anggota koperasi adalah pelanggan dan sekaligus pemilik. Di dalam PT, pemilik adalah para pemegang saham yang bukan (tidak berperan sebagai) pelanggan. Jadi koperasi bukan PT yang bisa diberi nama (didaftarkan sebagai) koperasi.
Oleh karena itu di dalam koperasi (cooperativism) kedudukan manusia adalah “sentral –substansial”. Di dalam PT kedudukan modallah yang “sentral –substansial” sementara kedudukan manusia di PT menjadi “marginal-residual”.
(6). Dengan demikian Koperasi, pembentukannya melalui suatu proses bottom-up atau dari bawah ke atas, bukan top down atau dari atas ke bawah. Jadi boss dari koperasi adalah para anggota koperasi, bukan pengurus koperasinya atau pemerintah sebagai pembina.
(7). Koperasi tidak bertujuan mencari laba (profit) karena koperasi memang milik sendiri dari seluruh anggota, karenanya tidak relevan kalau koperasi mencari laba dari para anggotanya sendiri. Koperasi sebagai wadah (fasilitator) usaha milik bersama bertujuan utama mencari manfaat (benefit) bagi para anggotanya. Namun para anggotalah yang mencari laba dari kegiatan usaha mereka masing-masing (terutama koperasi produksi). Oleh karena itu yang diperoleh koperasi adalah sisa hasil usaha (SHU) kemudian dibagikan kepada para anggotanya sesuai dengan keputusan yang diambil dalam rapat anggota (RAT).
(8). Sebagaimana kita kenal dalam UU Koperasi No.12/1967, seperti tersurat dengan perkataan “kesadaran berpribadi” (individualita menurut istilah Bung Hatta) dan “kesetiakawanan” merupakan landasan mental bagi para koperasiwan, yang satu memperkuat yang lain (Herman Soewardi, 2002). Namun, landasan mental ini justru di cabut oleh UU Koperasi No.25 Tahun 1992. Maka rusaklah koperasi, jadilah koperasi berwatak homo economicus (Herman Soewardi, Ibid.). UU no 17/tahun 2012 adalah undang-undang berjuis, harus dibatalkan.
(9). Koperasi menyatukan kekuatan-kekuatan ekonomi dan sosial yang kecil-kecil menjadi satu kekuatan besar, sehingga terbentuk kekuatan berganda-ganda (sinergis) yang lebih tangguh. Dari sinilah semangat menolong diri sendiri secara bersama-sama memperoleh awal momentumnya untuk mandiri. Mandiri adalah wujud hasil dari kegiatan pemberdayaan-diri (self-empowerment).
Oleh karena itu, apabila upaya membina masyarakat melalui koperasi tidak bertitik tolak, berproses dan bertujuan akhir secara tegas, yaitu untuk menjadikannya mandiri (baik dalam meraih “inilai-tambah ekonomi” ataupun “nilai-tambah sosial”), maka kesalahan fatal akan terjadi. Setiap bantuan (kredit, bantuan teknis dan semacamnya) sejak awal harus dijauhkan dari unsur ketergantungan (dependensi) dan kemandirian harus merupakan target nyata.
Sri-Edi Swasono Nitidiningrat adalah Guru Besar FEUI dan Mantan Ketua Umum Dekopin


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: