Posted by: lizenhs | May 11, 2011

UPAYA MEMPERTAHANKAN MUTU PRODUK

UPAYA MEMPERTAHANKAN MUTU PRODUK

Oleh: Haslizen Hoesin

Podusen harus merancang dan mempertahankan mutu produk sesuai dengan yang diharapkan konsumen perantara dan/atau konsumen akhir. Secara umum untuk mempertahankan mutu dapat ditempuh upaya-upaya sebagai berikut:
1. Pengadaan bahan baku. Baik bahan baku/mentah maupun perkakas/peralatan harus direncanakan dan dikendalikan dengan baik. Aspek-aspek penting yang perlu diperhatikan, yaitu (1) Persyaratan-persyaratan dan perjanjian pengadaan bahan baku/mentah, (2) Pemilihan pemasok yang memiliki kemampuan mengadakan bahan baku yang bermutu, (3) Kesepakatan tentang jaminan mutu dengan pemasok, (4) Kesepakatan tentang metoda-metoda verifikasi, 5) Penyelesaian perselisihan mutu, (6) Perencanaan dan pengendalian pemeriksaan, dan (7) Catatan-catatan mutu penerimaan bahan baku (mentah).
2. Pengendalian Proses Produksi. Pengendalian produksi dilakukan secara terus menerus meliputi kegiatan antara lain: (1) Pengendalian mutu bahan baku dengan inti kegiatan adalah sistem persediaan (inventory system), dengan tujuan pengendalian kecacatan bahan baku , (2) Pengendalian dan pemeliharaan bahan baku selama di gudang pemampungan dan peralatan, (3) Proses produksi secara umum dan poduksi khusus, produksi khusus yaitu proses produksi yang kegiatan pengendaliannya merupakan hal yang sangat penting terhadap mutu produk dan (4) Pengendalian dan perubahan proses untuk meningkatkan mutu produk.
3. Pengkemasan. Pengkemasan dilakukan dengan benar dan memenuhi persyaratan teknis untuk kepentingan distribusi. Pengkemasan merupakan tahap terakhir produksi sebelum didistribusikan. Pengemasan berfungsi sebagai: (1) Memelihara keutuhan selama penyimpanan dan distribusi, (2) Melindungi produk dari benturan, cuaca lingkungan dan manusia, (3) Mencegah kehilangan komponen atau utuh selama pengangkutan dan distribusi.
4. Penyimpanan dan Penanganan. Penyimpanan dan penanganan produk bertujuan untuk mencegah kerusakan akibat getaran, pengaruh suhu, kelembaban, sinar matahari dan sebagainya selama penanganan, pengangkutan, dan penyampaian.
5. Pemeriksaan dan Pengujian Selama Proses dan Produk Akhir. Tujuan utama adalah untuk mengetahui apakah produk yang dihasilkan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan/prosedur yang telah ditetapkan.
6. Keamanan dan Tanggung Jawab produk. Karakteristik mutu dan keamanan produk semakin hari semakin penting diperhatikan, karena banyak kasus yang terjadi baik di dalam pelaksanaan, pengkemasan dan penyerahan kepada penerima. Oleh karena itu perlu dikembangkan metode atau peraturan tentang praktek proses produksi dan penyerahan kepada penerima yang baik.
7. Secara teknis dalam upaya “mempertahankan mutu produk”, yang dilakukan adalah:
1) Dokumentasi Sistem Mutu. Pelaksana kegiatan memproduksi harus membangun dan mempertahankan suatu sistem mutu secara tertulis (terdokumentasi). Sistem mutu tertulis bukan sekedar dan merupakan sesuatu yang diinginkan saja, tetapi harus dikerjakan di lapangan (data riil). Sistem mutu terdiri dari manual, prosedur, instruksi kerja, format-format dan pencatatan pada lembaran mutu. Penulisan sistem mutu sebaiknya melibatkan semua pekerja karena mereka nantinya yang akan mengerjakan dan hasil kerja mereka mempengaruhi produk yang dihasilkan pekerja.
2) Pengendalian Rancangan Mutu. Poduk tergantung kepada rancangan mutu produk tresebut yang diinginkan. Tanpa merancang mutu kedalam produk yang ingin dihasilkan pekerja, akan sulit mencapai mutu tersebut selama kegiatan produksi. Tujuan utama perancangan adalah menciptakan suatu produk yang dapat memuaskan kebutuhan penerima secara penuh. Dengan demikian, proses perancangan yang meliputi perencanaan, verifikasi, kaji ulang, perubahan dan dokumentasi menjadi sangat penting terutama yang mempunyai kekhususan tertentu.
3) Pengendalian Dokumen. Dalam penerapan sistem baku jaminan mutu, pelaksana proses dituntut untuk menyusun dan memelihara prosedur pengendalian semua dokumen dan data yang berkaitan dengan sistem mutu. Tujuan pengendalian dokumen adalah untuk memastikan bahwa para pelaksana tugas sadar akan adanya dokumen-dokumen yang mengatur tugas mereka.
4) Pengendalian Pembelian. Kegiatan proses hampir seluruhnya berdampak kepada mutu produk akhir sehingga harus dikendalikan dengan baik. Manajemen harus memastikan bahwa semua bahan baku yang diperoleh dari pemasok (sumber-sumber) memenuhi persyaratan yang ditentukan.
5) Pengendalian Proses. Pengendalian proses dalam sistem baku jaminan mutu, mencakup seluruh faktor yang berdampak terhadap proses seperti parameter proses, peralatan, bahan baku (mentah), personil dan kondisi lingkungan proses.
6) Inspeksi dan Pengujian. Meskipun penekanan pengendalian mutu telah beralih pada kegiatan-kegiatan pencegahan dalam tahap sebelum produksi (perancangan, rekayasa proses dan pembelian), inspeksi dengan tertentu tidak dapat dihindari dalam sistem mutu pelaksanaan proses poduksi produk.
7) Inspeksi dan Status Pengujian. Tujuan utama sistem mutu adalah untuk memastikan hanya produk yang memenuhi spesifikasi sesuai kesepakatan yang disampaikan/dikirim ke penerima perantara produk (penerima akhir). Dengan demikian status inspeksi produk setengahjadi dan produkjadi harus jelas yaitu:
(1) Produk belum diperiksa
(2) Poduk sudah diperiksa dan diterima
(3) Produk sudah diperiksa tetapi ditolak
8). Pengendalian Produk Yang Tidak Sesuai. Dalam sistem pelaksanaan kegiatan proses produksi, harus dapat disingkirkan produk-poduk yang tidak sesuai (afkir). Sistem baku jaminan mutu mempersyaratkan pekerja mempunyai prosedur tertulis untuk mencegah terkirim poduk-poduk yang tidak sesuai dengan dengan mutu yang ditetapkan. Jika produk setengah jadi yang tidak sesuai terdeteksi pada tahap proses, prosedur yang ada harus tidak membiarkan produk setengahjadi tersebut diproses lebih lanjut.
9) Tindakkan Koreksi. Setiap kegiatan atau sistem operasi dapat saja menyimpang dari kondisi operasi standar (prosedur) karena berbagai alasan sehingga menghasilkan produk yang tidak sesuai. Sistem standar jaminan mutu mempersyaratkan panitia mempunyai sistem institusional untuk memonitor kegiatan proses produksi. Jika ketidaksesuaian diketahui, tindakan koreksi harus dilakukan segera agar sistem operasi kembali kepada standar.
10) Penanganan, Penyimpanan, Pengemasan dan Pengiriman. Pekerja yang terlibat dengan bahan mentah, produk setengah jadi untuk di kerjakan (proses) lagi. Sesuatu yang sangat penting dalam menjamin mutu bahwa dari semua produk tersebut tidak terpengaruh oleh penyimpanan yang kondisinya kurang baik, penanganan yang tidak tepat, pengemasan yang tidak memadai dan prosedur pengiriman yang salah.
11) Catatan-Catatan Mutu. Panitia harus menyusun dan memelihara prosedur untuk identifikasi meliputi produk, pembuatan indeks, pengarsipan, penyimpanan dan disposisi catatan mutu. Catatan mutu memberikan bukti obyektif bahwa mutu produk yang disyaratkan telah dicapai dan berbagai unsur sistem mutu telah dilaksanakan dengan efektif.
12) Audit Mutu Internal. Sistem baku jaminan mutu mempersyaratkan suatu manajemen untuk melembagakan suatu audit sistematis terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan mutu, untuk mengetahui apakah prosedur dan instruksi memenuhi persyaratan baku. Pelaksana (pekerja) juga harus bisa mendemonstrasikan bahwa semua operasi dan kegiatan dilaksanakan sesuai prosedur tertulis dan semua tujuan sistem mutu telah dicapai.
13) Pelatihan dan Motivasi. Sistem baku jaminan mutu mempersyaratkan kebutuhan pelatihan harus diidentifikasi dengan cermat dan menyiapkan prosedur, untuk melaksanakan pelatihan semua personil yang kegiatannya berkaitan dengan mutu.

Baca juga:  

SISTEM MUTU  https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/11/sistem-mutu/
APAKAH MUTU Dan BERMUTU ITU?  https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/apakah-mutu-dan-bermutu-itu/
Mutu Produk: HALAL dan ASUH   https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/mutu-produk-halal-dan-asuh/

Pustaka
Hasdjosoedarmo. Soewarso, (2004). “Bacaan Terpilih Tentang Total Quality Managenent” (edisi revisi). Yogyakarya, Andi.
Hoesin, Haslizen. (1994).“Petunjuk Praktikum Pengendalian Mutu.” Laboratorium Manajemen Produksi. Fakultas Manajemen Produksi dan Pemasaran. IKOPIN.
Tunner. Arthur. R and Irving J. Detoro (1992). “Total Quality Management; Three Steps to Continous Improvement” Addision -Wesley Publishing Company, Printing Monlo Park.
Rothery. Brian, (1995). “Analisis ISO 9000”. Seri Manajemen no 144. (Ce-takan ke 3). (alih bahasa Nunuk Adriani). Jakarta, Lembaga PPM.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: