Posted by: lizenhs | October 28, 2011

KATO MALERENG

KATO MALERENG

Oleh: Haslizen Hoesin

Kato (kata) malereng dimaksudkan untuk memberikan sesuatu kepada yang lain dalam bentuk kata melambung atau tidak langsung. Mungkin kadang-kadang bernada sindiran. Hal ini diperlukan untuk menyemarakkan dan menambah khasanah penyampaian informasi. Mudah-mudahan bentuk ini tidak membuat berkurang artinya dalam bentuk kesan dan kenangan.

MEMAKNAI HIDUP
Aku takut mati bukan karena mati itu sendiri,
tapi aku takut sebelum sempat memberi makna hidup ini,
mati telah menjemputku, sehingga hidup ku sia sia.

MEMBANGUN DARI SEJARAH
Sejarah fondasi masa depan, jadi bila,
Lupa sejarah tidak bisa membangun dengan baik, dan/atau
Jangan melupakan sejarah, agar dapat membangun masa depan dengan jaya.

BULE BASALUAK
Sekitar tahun delapan puluhan, sangat popular di tengah masyarakat tertentu di Minangkabau istilah “bule basaluak”. Istilah ini muncul karena beberapa bangunan pemerintah maupun swasta yang telah ada diberi “bagonjong”. Gonjong di tempatkan/dipasang di bagian depan dan/atau pada bagian atas bangunan (alias atap) yang telah ada.
Bagi perantau Minang “bule basaluak” tu mengingatkan mereka kepada rumah makan yang “manyebar di rantau dakek, jauah jo mancanegara”.

BARAKIK-RAKIK
Barakik-rakik kahulu, baranang-ranang katapian, ……………..
Rakik (Rakit) adalah alat mengapung, biasanya terbuat dari batuang (bambu) atau batang kayu, kadang-kadang batang pisang. Bambu, kayu atau batang pisang disusun, jadilah rakit. Rakik digunakan pula sebagai alat angkutan sungai zaman dahulu, walaupun begitu sekarang masih sering digunakan. Hulu adalah bagian sumber air dari sungai disebut mata air. Ranang adalah cara mengapung di air dengan menggerakkan seluruh anggota tubuh dan pikiran supaya merapung. Tapian adalah pinggir sungai.
Berakit-rakit kahulu, dapat berarti mendayung rakit menantang arus sungai, jadi butuh daya, tenaga dan pikiran agar sampai pada tempat tertentu di bagian hulu sungai. Rakit tak mungkin maju tanpa ada kekuatan, daya dan pikiran menantang arus sungai. Bila tidak ada kekuatan, daya, disiplin dan pikiran, rakit akan terbawa arus ke hilir. Tenaga, daya dan pikiran pada pendidikan dalam bentuk kata lain sama dengan “baraja basitungkin”, belajar keras, dan berbagai cara secara baik, terhormat dan disiplin untuk mencapai cita-cita. Guru berperan sebagai pendorong dan pembuka jalan pikiran.
Jadi untuk sampai ke bagian hulu (tujuan) tertentu harus berdasarkan rencana. Sesudah direncanakan, tindakan/kegiatan apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang direncanakan itu. Bila telah sampai pada tujuan yang direncanakan, ibaratnya cita-cita telah tercapai. Hati lega, puas dan gembira.

Aia Diminum Raso Duri, Nasi Dimakan Raso Sakam

Dialihkan kebahasa Indonesia: Air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam. Arti/maksud: Perasaan seseorang yang sedang mengalami penderitaan yang berat. [Sekam adalah bagian dari bulir/biji padi-padian (serealia) berupa lembaran yang kering, bersisik, dan tidak dapat dimakan disebut juga kulit, yang melindungi bagian dalam (endospermium dan embrio). Sekam dapat dijumpai pada hampir semua anggota rumput-rumputan (Poaceae), meskipun pada beberapa jenis budidaya ditemukan variasi bulir tanpa sekam (misalnya jagung dan gandum)]

Angguak Anggak, Geleang Amuah

Dialihkan kebahasa Indonesia: Angguk (mengangguk) tidak, geleng mau. Arti/maksud: Seseorang yang bersikap berbeda antara yang diucapkan dengan yang di-maui (diinginkan) [tidak konsisten/tidak jujur/tidak berterus terang].

Alam Takambang Jadi Guru

Dialihkan kebahasa Indonesia, kira-kira menjadi begini ”alam terkembang dijadikan guru“.  Kata-kata ini sering disebut ayat-ayat Kauniayah yaitu dalam bentuk pepatah. Artinya/bermakna: “agar manusia belajar kepada/dari alam dan berbagai fenomena yang senantiasa mengabarkan sebuah kearifan”.

Alam Takambang Jadi Guru pengertian paling pas untuk itu adalah alam yang “Takambang” (membentang luas) atau alam raya dengan segala isinya. “Guru ” maksudnya adalah apa yang ada dapat memberikan pelajaran kepada manusia (kita)  atau apa yang dapat dipelajari padanya. Oleh karena itu guru disini bermakna luas, berlaku untuk semua baik berupa orang dan alam sekitar di segala tempat dan keadaan. Guru adalah sumber belajar, baik untuk disekolah maupun diluar sekolah.

Anak Dipangku Kamanakan Dibimbiang

Dialihkan kebahasa Indonesia: Anak dipangku kemenakan/keponakan dibimbing. Artinya/maksud: Seorang lelaki Minangkabau harus bertanggung jawab dan peduli kepada kemenakannya (anak dari saudara perempuannya), selain tanggung jawab terhadap anak sendiri (ini terkait dengan sistem matrilineal yang berlaku di Minangkabau).

Alun Takilek Alah Takalam

Dialihkan kebahasa Indonesia: Belum terkilat (terlihat) sudah terkalam (tertulis). Arti/maksudnya: Seseorang harus bijak dan berperasaan halus, sehingga ia bisa memahami/mengerti apa yang dimaksud oleh seseorang sebelum orang tersebut mengutarakannya dalam bentuk kata-kata.

Bajalan Luruih, Bakato Bana

Dialihkan kebahasa Indonesia: Berjalan lurus, berkata benarArti/Maksudnya:  Agar semua orang menegakkan kejujuran dan kebenaran ditengah-tengah masyarakat.

Capek Kaki Ringan Tangan (Cepat Kaki Ringan Tangan).  Dalam bentuk lain. Capek Kaki Indak Manaruang, Ringan Tangan Indak Mamacah.

Dialihkan kebahasa Indonesia: Cepat kaki tidak penyandung, ringan tangan tidak pemecah.  Arti/maksudnya: Untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya, seseorang harus bijaksana, mahir serta terampil secara teori maupun fisiknya (nyatanya), sehingga tidak akan menimbulkan kerugian dan kesalahan dalam menjalankan tugas(nya).

Daripado Jadi Ikua Gajah, Elok Jadi Kapalo Samuik.

Dialihkan ke bahasa Indonesia: Daripada jadi ekor/buntut gajah, lebih baik jadi kepala semut. Maksud/artinya: Daripada jadi seorang bawahan pada suatu perusahaan/ instansi/institusi yang besar, lebih baik jadi pimpinan pada usaha sendiri walaupun kecil (peribahasa ini erat kaitannya dengan filosofi kewirausahaan orang Minang).

Dima Bumi Dipijak, Di Sinan Langik Dijunjuang. Dima Aia Disauak, Di Sinan Rantiang Dipatah.

Dialihkan kebahasa Indonesia: Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Dimana air disauak, di sana ranting dipatah (untuk menutup sumber mata air agar tidak kotor).

disauak = ditimba/diambil dengan alat …..  Arti/maksudnya:  Selalu menjaga, membela, dan merawat sumber kehidupan. Dalam bentuk kata lain:  Seseorang harus mampu beradaptasi dengan masyarakat atau tempat di mana ia berada dengan menghargai adat dan budaya tempat berada tanpa harus kehilangan jati-dirinya (Filosofi survival perantau Minangkabau).  Falsafah ini mengajarkan bahwa setiap orang yang berdiam disuatu daerah, maka ia harus tunduk pada peraturan yang berlaku disitu.

Didauluan Salangkah, Ditinggian Sarantiang.

Dialihkan kebahasa Indonesia: Didahulukan selangkah, ditinggikan seranting. Didahulukan selangkah, ditinggikan seranting maksudnya dekat sekali, atau lebih tinggi juga dekat. Tentu berbeda kalau didahulukan beberapa langkah, ditinggikan beberapa ranting atau sedahan.  Arti/maksudnya:  Seorang pemimpin hanya didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting, jadi sangat dekat sekali antara pemimpin dengan yang dipimpin sehingga saran atau teguran cepat sampai ke atasan/pimpinan, tidak ada rasa segan apalagi untuk kebaikan bersama. [Suatu filosofi kepemimpinan egaliter dalam budaya Minangkabau]. (egaliter/ega·li·ter/ /égalitér/ a. bersifat: sama; sederajat) {Budaya masyarakat egaliter sejalan dengan nilai-nilai universal yang dijunjung tinggi oleh manusia yang beradab, sesuai fitrahnya sebagai manusia. … Egaliter dalam masyarakat bernegara adalah kesetaraan sosial di mana semua orang yang berada dalam suatu masyarakat atau kelompok tertentu memiliki status yang sama.} [Kesetaraan sosial adalah tata politik sosial di mana semua orang yang berada dalam suatu masyarakat atau kelompok tertentu memiliki status yang sama. Setidaknya, kesetaraan sosial mencakup hak yang sama di bawah hukum, merasakan keamanan, memperolehkan hak suara, mempunyai kebebasan untuk berbicara dan berkumpul, dan sejauh mana hak tersebut tidak merupakan hak-hak yang bersifat atau bersangkutan secara personal. Hak-hak ini dapat pula termasuk akses untuk mendapatkan pendidikan, perawatan kesehatan dan pengamanan sosial lainnya yang sama dalam kewajiban yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.]

{Dalam Islam, Islam bersifat egaliter. Sebagai manusia, semuanya sederajat, dalam pengertian bahwa semua manusia memiliki hak-hak yang sama, yang harus dihargai dan dihormati, baik yang menganut Islam dan/atau yang tidak.}

Duduak Samo Randah, Tagak Samo Tinggi

Dialihkan kebahasa Indonesia: Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Arti/ maksudnya: Kesetaraan (budaya egaliter Minangkabau).

Duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang. Dialihkan kebahasa Indonesia: Duduk sendiri bersempit-sempit, duduk bersama berlapang-lapang. Arti/maksudnya: Menyelesaikan persoalan berat akan terasa susah kalau sendiri, namun jadi mudah jika ada pihak lain yang ikut membantu.

Duduak Marauik Ranjau, Tagak Maninjau Jarak.

Dialihkan kebahasa Indonesia: Duduk meraut ranjau, berdiri meninjau jarak. {[raut/ra.ut/makna raut di KBBI adalah:  Melicinkan (menghaluskan, meruncingkan) dengan pisau dan sebagainya. .. [ranjau/ran·jau/ n 1 pancang kecil-kecil dan tajam (dari besi, buluh, dan sebagainya) yang ditancapkan di tanah untuk melukai kaki orang atau untuk membunuh binatang yang melintas]}. Arti/maksudnya:  Selalu melakukan yang bermanfaat, tidak menyia-nyiakan waktu.

Dima Tumbuah, Sinan Disiangi

Dialihkan kebahasa Indonesia: Dimana tumbuh disitu disiangi (dicabut/dibersihkan). Disiangi merupakan bentuk pasif dari kata menyiangi, yaitu kegiatan be-bersih-bersih (mencabuti tanaman pengganggu di sebuah lahan).  Arti/maksudnya: Cara memecahkan suatu masalah langsung ke akarnya atau penyebab masalah itu sendiri.

Gabak Di Ulu Tando Ka Ujan, Cewang Dilangit Tando Kapaneh.

Gabak /ga•bak/ Mk (Minangkabau), a 1 redup; 2 mendung (sebutan lain kundok) awan hitam, membawa  hujan;  Cewang /ce•wang/dilangit (cahaya cemerlang) atau cerah dilangit. peribahasa ini muncul, setelah mengamati alam sekitar sebagai tanda-tanda akan terjadi sesuatu

Peryataan kata-kata diatas muncul tentu setelah diperhatikan berkali-kali (gejala alam), misalnya setiap ada gabak (mendung) dilangit, akan turun hujan. Begitu pula apabila terjadi cewang (cahaya cemerlang atau cerah) dilangit, hari akan panas. Dari memperhatikan, mempelajari dan memahami gejala yang terjadi pada alam tersebut lahirlah ketentuan adat yang berbunyi :  “Gabak dihulu tando kahujan, Cewang dilangit tando kapaneh”

Dialihkan ke bahasa Indonesia: Redup/berawan hitam/mendung (sebutan lain kundok) di hulu pertanda akan hujan. Cerah (cemerlang) dilangit tanda mau/akan panas.

Apa yang dapat di ambil dari pengamatan tersebut adalah pahamilah suatu tanda-tanda (isyarat) yang akan terjadi sesuatu masalah, sebelum masalah itu terjadi…

Dari pengamatan inilah satu diantara beberapa pengamatan, sehingga muncullah pepatah  Alam Takambang Jadi Guru.  Kemudin  berkembang pada pengamatan/ fenomena lain. Munculah pepatah-pepatah baru.

Mengetahui sesuatu yang akan terjadi.  Dimaksudkan membaca yang tasirat di baliak yang tersurat, mengambil makna dibalik suatu yang nyata. Contoh “Alun bakilek alah bakalam/ takalam.  Takilek ikan di dalam aia, alah tantu jantan batinonyo”.  Dialihkan kebahasa Indonesia: Belum terkilat (terlihat) sudah terkalam (tertulis). Terlihat ikan di air, sudah tahu jantan betinanya.  Arti/maksudnya: Seseorang harus bijak dan berperasaan halus, sehingga ia bisa memahami/mengerti apa yang dimaksud oleh seseorang sebelum orang tersebut mengutarakannya dalam bentuk kata-kata.

Itulah kearifan orang Minang dalam menanggapi suatu permasalahan… Orang arif bukanlah orang yang mampu memberi kiasan mengenai hidup, bukanlah orang yang selalu berkias (berkata kiasan) kata bayangan.  Tapi orang yang arif, yaitu orang yang mampu meletakkan sesuatu pada tampeknya, orang yang mampu menyelesaikan suatu permasalahanan dengan seadil-adilnya… “Sasuaikan tanah dengan tanaman, talatak suatu di maqamnya, pakaikan alur dengan  patut”.  begitu pituah mengatakan… Sebagai urang Minang, hendaknya mampu memaknainya di dalam kehidupan sahari-hari.

Mambaco nan tasurek, handaknyo bisa mamahami nan tasirek, karena nan tasirek maknanyo labiah dalam dan labiah haluih dari pada nan tasurek…pahamilah.  Dialihkan ke bahasa Indonesia: Membaca yang tersurat hendaknya bisa memahami tersirat, karena yang tersirat maknanya lebih dalam dan lebih halus daripada yang tersurat. ….. pahamilah.

Gadang Jan Malendo, Cadiak Jan Manjua.

Dialihkan ke bahasa Indonesia: Besar jangan melanda (menabrak/menghantam), cerdik jangan menjual. Maksud/arti: Seorang yang besar dan kuat serta pintar (berkuasa) janganlah menzalimi/menindas yang kecil dan lemah.

Iduik Bajaso Mati Bapusako

Dialihkan kebahasa Indonesia: Hidup berjasa mati berpusaka. Maksud/Artinya: Seseorang yang memberikan jasa besar pada sesama di masa hidup, mendapatkan ‘pusaka’ atau ‘harta’ untuk bekal ke akhirat.

Jariah Manantang Buliah

Dialihkan kebahasa Indonesia: Jerih menantang/berhadapan dengan boleh/dapat (imbalan). Arti/maksudnya: Jerih-payah seseorang pasti akan mendapatkan imbalan atau balasan.

Secara etimologi, kata jariah digandengkan/disandingkan dengan amal, maka ditulis “amal jariah”. Amal jariah berasal dari bahasa Arab yaitu “amal” yang berarti perbuatan dan kata “jaariah” berarti yang mengalir.

Jariah berarti perbuatan yang baik mendatangkan/mengalirkan kebaikan bagi yang melakukannya, walaupun ia telah tiada (meninggal dunia). Perbuatan baik tersebut terus bermanfaat atau mengalir kepadanya selama orang hidup mengikuti atau memanfaatkan hasil amal/perbuatan-nya (di dunia).

[Secara etimologi, amal jariah berasal dari bahasa Arab yaitu “amal” yang berarti perbuatan dan kata, “jaariah” berarti yang mengalir.

Bila dikaitkan Jaariah dengan pengertian dalam agama (Islam) disebut Amal jariah berarti perbuatan baik yang mendatangkan pahala bagi yang melakukannya, meskipun ia telah berada di alam kubur (akhirat). Pahala dari amal/perbuatan tersebut terus mengalir kepadanya selama orang yang hidup mengikuti atau memanfaatkan hasil amal perbuatannya selama di dunia. Di sinilah kelebihan dari amal-jariah dari amal-amal yang lain, hanya diberi balasan sekali dalam satu perbuatan] [Amal adalah perbuatan manusia.  Amal secara garis besar terbagi dua yaitu amal lahiriyah dan amal batiniyah, amal Lahiriyah yaitu perbuatan manuisa yang berhubungan dengan duniawi, sedangkan amal Batiniyah adalah perbuatan-perbuatan manusia yang berhubungan dengan ukhrawi seperti berdzikir, shalat,puasa dan lain-lain.]

Ka Bukik Samo Mandaki, Ka Lurah Samo Manurun 

Dialihkan kebahasa Indonesia: Ke Bukit sama mendaki, ke Lurah sama menurun.

Secara geografi lurah dibedakan 1. (Ravine) Lurah: jurang, ngarai, tahang, gaung. 2. (Groove) lurah: alur, lekuk, galur, parit.  [Secara geografi Lurah dapat juga disebut Lombong, yaitu bentuk tanah yang terjadi akibat arus air, erosi tajam pada tanah, biasanya di pinggir bukit. Lombong mengingatkan pada selokan besar atau lembah sempit, namun memiliki ukuran kedalaman dan lebar dari sekian meter sampai sepuluh meter. Saat pembentukan lombong terjadi, tingkat arus air dapat menjadi substansial, menyebabkan kedalaman signifikan terpotong pada tanah].  Dialihkan kebahasa Indonesia: Ke bukit sama mendaki, ke jurang sama menurun. Maksud/arti: Senasib sepenanggungan atau solidaritas.

Kandua Badatiak-datiak, Tagang Maleo-leo

Dialihkan kebahasa Indonesia: Kendur berderik (berdetik-detik), tegang tapi meleo-leo (meliuk-liuk/terjulur). Maksud/arti: Dalam keadaan normal/biasa tetap dengan kehati-hatian/kewaspadaan tinggi, sebaliknya dalam keadaan tegang/krusial diusahakan tetap tenang sehingga dapat mengambil keputusan yang rasional.

Ketek Paguno, Gadang Tapakai

Dialihkan ke bahasa Indonesia: Sewaktu kecil/muda berguna, sewaktu tuapun menjadi lebih bermanfaat. Ini merupakan perbuatan seseorang di muka bumi (didunia).

Kusuik-Kusuik Bulu Ayam

Dialihkan kebahasa Indonesia: Kusut-kusut bulu ayam. Arti/maksudnya: Perselisihan/ pertengkaran/perbedaan pendapat di kalangan sendiri (internal) yang nantinya akan selesai dengan sendirinya.

Mambangkik Batang Tarandam

Dialihkan ke bahasa Indonesia: Membangkit batang terendam/terbenam

Arti/maksudnyaMengangkat/Mengeluarkan batang/pohon yang sudah lama berada di dalam air yang berlumpur atau dengan kata lain “mengangkat batang kepermukaan agar berguna bagi kehidupan manusia”. Bisa juga diartikan “Sebagai menggali kembali nilai-nilai luhur yang sudah hampir hilang atau ditinggalkan generasi muda saat ini agar menjadikan lebih bermanfaat” untuk mereka “generasi” (manusia saat sekarang).

Dalam tenggangrasa, yang menjadi pedoman masyarakat Minangkabau adalah “kato nan ampek (kata yang empat)”, yaitu: Kato mandaki, kato maleleng, kato mandata dan kato manurun.

  1. Kato mandaki (Kata mendaki/ tata tertib untuk berbicara dengan orangtua)
  2. Kato malereng (Kata melereng/tata tertib untuk berbicara dengan orang yang disegani)
  3. Kato mandata (Kata mendatar/tata tertib untuk berbicara dengan saudara atau kawan sebaya)
  4. Kato manurun (Kata menurun/tata tertib berbicara dengan yang lebih muda).

Terimakasih atas kunjungan anda pembaca pembaca Bukik Ranah Ilmu https://lizenhs.wordpress.com/. Semoga bermanfaat.  Bila anda suka beritahu yang lain (teman anda) ya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: