Posted by: lizenhs | May 11, 2011

SISTEM MUTU

SISTEM MUTU

Oleh Haslizen Hoesin

Pendahuluan
Globalisasi dewasa ini telah menjangkau berbagai aspek kehidupan. Orang sekarang berfikir secara sistem, demikian pula terhadap mutu. Pada Mutu disebut Sistem Manajemen Mutu.
Tentu demikian pula untuk suatu kegiatan menghasilkan poduk harus mampu menghasilkan bermutu tinggi. Hal ini berarti pelaksanaan proses produksi harus mampu mewujudkan sifat aman (tidak membahayakan), sehat dan bermanfaat bagi yang berhak menerima (konsumen). Dengan kata lain, produk bermutu atau memenuhi ketentuan baku (standar) yang ditentukan, selain halal tentu pula mengikuti SNI dan ISO. SNI adalah standard mutu yang ditetapkan pemerintah dan berlaku di Indonesia.
ISO adalah satu dari beberapa ketentuan tentang mutu produk dalam rangka jaminan mutu yang berlaku di dunia. Sebenarnya halal itu mencakup ISO dan SNI, bukan sebaliknya.
Tujuan utama dari ISO bila dicermati dari di paparan Hadiwiardjo [1996] adalah: 1) bahwa organisasi harus mencapai, mempertahankan dan menjamin mutu produk (barang dan/atau jasa) yang dihasilkan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan para pemakai (penerima), 2) Organisasi harus memberikan keyakinan kepada pihak manajemen bahwa mutu yang dimaksudkan telah dicapai dan dapat dipertahankan dan 3) Organisasi harus memberikan keyakinan kepada pihak penerima bahwa mutu yang dimaksudkan telah atau akan dicapai dalam produk atau jasa yang dihasilkan.

Halal Dan ASUH
Halal adalah kriteria mutu produk utama dalam makanan Islam. Halal untuk pangan (daging) mulai dari prosedur pemilihan hewan ternak sampai kepada penerima. Pangan halal harus diawali dengan aman untuk dimakan tidak ada bahan pengawet atau bahan berbahaya, daging yang sehat yaitu segar dan nyaman tidak berpenyakit (mengandung bibit penyakit), dan utuh yaitu sempurna sebagaimana adanya atau sebagaimana semula. Pengertian “halal” dapat didekati dari berbagai arah, seperti: hasil (produk) dan proses, cara/teknik, alat, Ihsan, hukum dan thayyib. Selanjutnya baca Mutu Produk: HALAL dan ASUH
Untuk merealisir ke empat butir diatas lakukan Program Sistem Jaminan Keamanan & Mutu Pangan. Program tersebut meliputi 4 tahap yaitu: GHP/GMP, HACCP (ABTKP), Sistem Mutu (ISO) dan TQM. {(GHP) Good Hygienic Practices/ (GMP) Good Manufacturing Practices. TQM (Totol Quality Management)}

Sistem Mutu
Perlu disadari bahwa permasalahan mutu bukan sekedar masalah pengendalian mutu atas produk (barang dan jasa) atau standar mutu barang (product quality), tetapi sudah bergerak ke penerapan dan penguasaan TQM (Total Quality Management) [Tunner, 1992] menuju tingkatan mutu yang disepakati dunia yang dimanifestasikan dalam ISO (International Standar’s Organization). (Rothtery, 1995; Chatab, 1996).
Sistem mutu menurut ISO 9000 mencakup: 1). Mutu itu sendiri. 2) Kebijakan mutu. 3) Manajemen mutu. 4) Pengendalian mutu, teknik-teknik dan kegiatan-kegiatan operasional yang digunakan untuk memenuhi persyaratan mutu dan 5) Jaminan mutu temasuk didalamnya ASUH dan Halal (bagi Umat Islam).
Dalam kontek mutu produk pangan (seperti daging hewan qurban), maka daging itu harus bermutu sesuai dengan tuntutan penerima daging konsumen akhir. Produk memenuhi keinginan penerima tentu harus memenuhi suatu ketentuan baku (misal standar SNI). Ketentuan baku itu, menghendaki diproses secara sehat (higienis), tidak mengandung/tercemar bahan kimia berbahaya, sesuai dengan keinginan (selera) penerima dengan kata lain ASUH.
Banyak masyarakat menginginkan pelaksana kegiatan produksi meningkatkan mutu. Mereka mencurahkan berbagai upaya untuk melakukan perbaikan manajemen produksi. Akan tetapi upaya-upaya ini sering lebih mengarah kepada kegiatan-kegiatan inspeksi serta memperbaiki cacat dan kegagalan selama proses produksi.
Kegiatan inspeksi saja tidak dapat membangun mutu kedalam suatu produk. Mutu harus dirancang dan dibentuk kedalam produk. Kesadaran mutu harus dimulai dari tahap sangat awal yaitu gagasan/konsep produk , setelah persyaratan-persyaratan keinginan penerima diidentifikasi. Kesadaran upaya membangun mutu ini harus dilanjutkan melalui berbagai tahap kegiatan produksi, sampai setelah pengiriman produk kepada konsumen akhir untuk memperoleh umpan balik.
Bila diperhatikan scara saksama bidang-bidang fungsional dalam pelaksanaan proses produksi dan kegiatan-kegiatan yang terlibat dalam pendekatan terpadu terhadap sistem mutu terlihat seperti lingkaran.
Sistem mutu dimaksudkan untuk mengidentifikasi seluruh tugas yang berkaitan dengan mutu, mengalokasikan tanggung jawab dan membangun hubungan kerjasama dalam kegiatan pelaksanaan proses produksi. Sistem mutu juga dimaksudkan untuk membangun mekanisme dalam rangka memadukan semua fungsi menjadi suatu sistem yang menyeluruh.
Oleh karena itu, didalam sistem jaminan mutu mempersyaratkan manajemen secara formal, mendokumentasikan kebijakan mutu, memastikan kebijakan tersebut dimengerti oleh semua jajaran dan melakukan langkah-langkah tepat untuk memperlihatkan kebijakan tersebut dilaksanakan secara penuh. Pada saat menentukan kebijakan mutu, manajemen harus dengan jelas menyatakan bahwa tujuan utama produsen adalah kepuasan konsumen akhir secara penuh.
Para produsen kedepan harus berfikir sistem jaminan mutu meliputi perencanaan, rekayasa dan pengendalian mutu, karena produk adalah sesuai keinginan konsumen akhir.

Perencanaan dan Rekayasa mutu dan Pengendalian mutu
Seluruh fungsi yang berkaitan dengan mutu dalam suatu perusahaan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu: 1) Perencanaan dan rekayasa mutu, 2) Pengendalian mutu,

Perencanaan dan Rekayasa Mutu
Perencanaan dan rekayasa mutu terdiri dari fungsi-fungsi staf spesialis dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan, definisi dan perencanaan mutu pada tahap sebelum produksi.

Pengendalian Mutu

Kegiatan pengendalian mutu mencakup kegiatan menginterpretasikan dan mengimple-mentasikan rencana mutu. Rangkaian kegiatan ini terdiri dari pemeriksaan/pengujian pada saat sebelum dan sesudah proses produksi yang dimaksudkan untuk memastikan kesesuaian produk terhadap persyaratan (kriteria) mutu. Mengacu, sesuai dengan standar mutu, seperti ISO 9000,
Pengendalian mutu untuk produk pangan, erat kaitannya dengan sistem pengolahan yang melibatkan bahan baku, proses, pengolahan, penyimpangan yang terjadi dan hasil akhir.

Baca Juga:
APAKAH MUTU Dan BERMUTU ITU? https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/apakah-mutu-dan-bermutu-itu/
Mutu Produk: HALAL dan ASUH https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/mutu-produk-halal-dan-asuh/
UPAYA MEMPERTAHANKAN MUTU PRODUK https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/11/upaya-mempertahankan-mutu-produk-3/

Pustaka
Chatab. Nevizond, (1996). Panduan Penerapan dan Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu ISO 9000”. Jakarta, PT Alex Media Komputindo.
Hadiwiardjo. Bambang H dan Sulistijarningasih Wibisono, (1996). “ISO 9000: Sistem Manajemen Mutu”. Jakarta, Galia Indonesia.
Hadiutomo. Kusno (tanpa tahun). Penanganan Pasca Panen Untuk Mempro-duksi Daging Aman, Sehat, Utuh Dan Halal (ASUH) (28 Slide). Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Departemen Pertanian – Jakarta. http://pphp.deptan.go.id/xplore/view.php?file=PASCA-PANEN/Layanan/PASCAPANENDAGING.ppt
Tunner. Arthur. R and Irving J. Detoro (1992). “Total Quality Management; Three Steps to Continous Improvementt” Addision -Wesley Publishing Company, Printing Monlo Park.
Rothery. Brian, (1995). “Analisis ISO 9000”. Seri Manajemen no 144. (Cetakan ke 3). (alih bahasa Nunuk Adriani). Jakarta, Lembaga PPM.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: