Posted by: lizenhs | September 29, 2019

Pakan, Balai dan Pasa (Pasar) [Bagian Kedua]

Pakan, Balai dan Pasa (Pasar)

[Bagian Kedua]

Oleh:  Haslizen Hoesin

Kata Pengantar

Sambungan bagian pertama. https://lizenhs.wordpress.com/2019/09/29/pakan-balai-dan-pasa-pasar-bagian-pertama/#more-4352

Para sahabat pembaca Bukik Ranah Ilmu https://lizenhs.wordpress.com/, awalnya tulisan Pakan, Balai dan Pasa (Pasar) berjudul Pakan/Balai, Pakan Gadang, Pasa (Pasar) dan Kota.  Tulisan ini telah lama saya/ambo persiapkan baru sekarang disampaikan.  Ide menulis Balai/Pakan [Pakan Kaciak] tercetus bulan Agustus tahun 2017 saat ke Ranah Minang, yaitu hasil kunjungan ke Pakan-pakan yang pernah dikunjungi waktu sekolah [SR (SD), SMP dan SMA].

Bagian kedua (II) dimulai dari judul.  7. Pakan Di Ranah Minang; 8. Pakan Sumani dan Pakan Sumanik (Sumaniak); 9. Kesan-kesan Tentang Pakan; 10. Pakan (Pasar) Nagari, Pakan (Pasar) Serikat; 11. Tata Ruang Pakan Dan Kelengkapan Pakan; 12. Nama Dan Perkembangan Pakan, selamat membaca.

7. PAKAN DI RANAH MINANG

Pada abad ke-19, banyak nagari di Minangkabau telah memiliki Pakan. Misalnya pada Tahun 1825 diperkirakan terdapat 29 Pakan/balai di Luak Tanah Datar dan sekitarnya. Luak Agam terdapat 15 Pakan, dan Luak Limopuluah Koto terdapat 14 Pakan Utama, termasuk Pakan yang sangat besar yaitu di Payokumbuah.  Sebagian dari Pakan-Pakan di Minangkabau pada abad itu adalah Pakan (Pasar) Sarikat. Pakan (Pasar) Sarikat adalah Pakan yang didirikan oleh beberapa nagari.  Pengelolaan Pakan (Pasar) berdasarkan atas kebijakan dari nagari-nagari pendiri Pakan.

7.1. Awal Mula Pakan dan Kekhasan Pakan (Pasar Rakyat)  

Dua hal yang menarik mengenai Pakan/Balai yaitu Awal Mula Pakan/balai terbentuk dan Kekhasan Pakan (Pasar Rakyat), mulai dari Pakan Ketek, Pakan Gadang dan Pasa.

7.1.1. Awal Mula Pakan

Sebuah Pakan Muncul/terbentuk dan berkembangnya secara garis besar diawali dengan adanya dua kebutuhan yang berbeda sehingga munculnya sistem barter.

Masyarakat Minangkabau menyebut tempat kegiatan berdagang (jual-beli) dengan Pakan.  Pakan adalah pasar tradisional. Di tempat/daerah diluar Ranah Minang Pakan itu disebut Pasar atau sekarang disebut Pasar Rakyat.

Pakan terlaksana satu kali dalam satu pekan [berselang tujuh hari]. Setiap Nagari di Minangkabau umumnya mempunyai Pakan sendiri, sebab Pakan adalah satu dari beberapa pranata berdiri suatu nagari.

Pakan terbentuk/dibangun berbagai cara diantaranya:

  1. Dilapangan dekat Balairung. Maka pengelolaan Pakan sepenuhnya berada di bawah pengawasan pemerintahan nagari setempat yang bersifat otonom. Pelaksanaan hari Pakan di nagari, ditetapkan berdasarkan kesepakatan para Ninik-mamak yaitu dilakukan secara bergiliran di antara nagari-nagari yang berdekatan dalam satu pekan bila patokan hari, maka Pakan dilaksanakan pada pagi hari pukul (7:00) sampai pukul 12:00 dan ditempat/nagari lain sore mulai pukul (13:00) sampai pukul 18:00, bila hari pakan sama dan letaknya berjauhan.
  2. Berawal dari Tempat Perhentian Trasportasi [Padati (Pedati) dan Bendi] disuatu persimpangan jalan menuju lokasi Pakan yang dituju (telah ada). Dipersimpangan terdapat kedai/lapau kopi. Tukang padati dan pedagang beristirahat disini sejenak dari perjalanan jauh. Bendi menunggu Penumpang.  Pedati yang membawa Sayur, Umbi-umbian, Buah-buhan sedang berhenti itu didatang penduduk sekitar persimpangan, menawar barang bawaan kepada tukang padati/pedagang yang ikut padati sedang berhenti/istirahat.  Lama-kelamaan simpang itu ramai oleh pedati/pedagang dan pembeli sekitar lokasi istirahat, maka lokasi tersebut menjadi ramai, lama-kelamaan berubah menjadi Pakan Pagi.
  3. Bisa juga di Persimpangan dipinggir jalan, para dagangan sengaja menggelar barang-dagangan atau dihamparkan. Persimpangan ramai masyarakat, karena pertemuan jalan kebeberapa Jorong (kampung). Bila pembeli sudah sepi bersamaan matahari menaik, panas sudah menyengat hamparan dilipat atau digulung di bawa pulang atau dititipkan dan kembali besok pagi, atau hari yang sama pekan depan. Pakan ini, sering juga disebut Pasa Kaget. Di persimpangan ini kemudian bangun Lapau dan toko bertambah banyak dilokasi tersebut.
  4. Pakan juga bisa terjadi di lapangan dekat Balairung. [Menurut kamus bahasa Minang, Balairung adalah sebuah bangunan tempat musyawarah diselenggarakan, dipimpin oleh kepala suku (penghulu) dari masyarakat (ninik mamak)]. Oleh karena itu pengelolaan Pakan sepenuhnya berada di bawah pengawasan pemerintahan nagari setempat yang bersifat otonom. Pelaksanaan hari Pakan dilakukan secara bergiliran di antara nagari-nagari berdekatan yang memiliki pakan.

Tempat berjualan dilapangan yang luas, pada umumnya terdapat Pohon Beringin (besar). Lapangan tersebut berupa lapangan rumput dan Pohon Beringin sebagai tempat berlindung/berteduh. Dalam kata lain bahwa, pohon Baringin itu ‘ureknyo tampaek baselo, batangnyo tampaek basanda, dan daunnyo tampaek balinduang’ (uratnya tempat duduk bersila, batangnya tempat bersandar dan daunnya tempat bataduah) disitulah orang-orang berjualan.

Mula-mula diramaikan Amai-amai (ibu-ibu), menggelar dagangan berupa hasil-hasil pertanian dan kebutuhan sehari-hari. Lama-kelamaan disekitar pohon beringin menjadi ramai oleh orang berjualan dan yang datang sebagai pembeli. Didirikanlah tenda-tenda darurat, payung-payung kertas dan dangau-dangau (pondok-pondok) segi empat, beratap daun rumbia atau daun ilalang (sebagai tempat berdagang).  Walaupun pekan/Balai itu sudah berkembang, pohon beringin itu tetap dipelihara.  Nama Pakan kadang-kadang dikaitkan dengan nama Nagari, yaitu lokasi Pakan itu berada atau nagari pemilik Pakan.

Pakan ternyata merupakan satu dari beberapa elemen pendukung nagari. Pakan sejak dulu sudah menjadi satu dari beberapa pranata penting dalam suatu nagari.   Perhatikan lahir beberapa kota di dalam wilayah Minangkabau, berawal dari Pakan.  {Pranata atau institusi adalah norma atau aturan mengenai suatu aktivitas masyarakat yang khusus. Norma atau aturan dapat berbentuk tertulis (undang-undang dasar, undang-undang yang berlaku, sanksi sesuai hukum resmi yang berlaku) dan tidak tertulis [hukum adat, kebiasaan yang berlaku, sanksinya ialah sanksi sosial/moral (misalkan dikucilkan)]. Pranata bersifat mengikat dan relatif lama serta memiliki ciri-ciri tertentu yaitu berupa simbol, nilai, aturan main, tujuan, kelengkapan dan umur.}

Fungsi dan peranan Pakan masih dapat dirasakan atau tetap terasa keberlangsungannya di tiap-tiap nagari meskipun pakan itu telah berubah jadi kota (berada disuatu kota). Meskipun Pakan sudah berubah jadi kota, atau Pakan telah menjadi besar dan ramai).  Hal ini tetap terlihat dari hari-hari terlaksana pakan yaitu hari-hari Pakan dadulu.

7.1.2. Kekhasan Pakan (Pasar Rakyat)

Dari paparan diatas, muncul pengertian baru [Perkembangannya] yaitu Pasar Rakyat. Pasar Rakyat adalah nama lain dari Pakan/Pasar/Pasa diluar Ranah Minang. Pakan/Balai/Pasa dan Pasar rakyat adalah sebuah cerminan jati diri masyarakat Indonesia yang sekarang sudah semakin terkikis dengan budaya globalisasi. Cenderung individualis dan tidak peduli dengan sekitarnya.  Pasar Rakyat dan Pakan/Balai/Pasa adalah mencerminkan Budaya Silaturahim/Silaturahmi.

Masyarakat Indonesia dikenal baik oleh banyak negara karena keramah–tamahan.  Masyarakat Indonesia dinilai sebagai penduduk yang senang hidup bersilaturahim, saling membantu dan bergotong royong.

Budaya silaturahim inilah yang tercermin di dalam sebuah Pakan/Balai/Pasa/Pasar Rakyat. Di dalam Pakan/Balai/Pasa/Pasar Rakyat, para pembeli dan pedagang saling menyapa satu sama lain dan sering kali terjadi obrolan-obrolan ringan seputar kehidupan saat bertransaksi (jual–beli).

Obrolan-obrolan ringan menjadi bagian kegiatan transaksi jual-beli, sehingga jual-beli lebih akrab dan hangat, akibat adanya interaksi yang erat antara penjual dan pembeli. Bahkan hubungan yang erat antara penjual dan pembeli, menjadikan para pembeli menjadi pelanggan setia dari penjual. Tapi sekarang hal ini semakin terkikis dengan budaya globalisasi karena semua ingin serba cepat dan tak mau tegur-sapa.

8. PAKAN SUMANI dan PAKAN SUMANIK (SUMANIAK)

Kedua nama ini sekilas terlihat sama, hanya berbeda di akhir kata.  Seolah-olah (diperkirakan) salah ketik, pada hal memang demikian keberadaannya (berbeda). Kedua nama Pakan tersebut berada di Kabupaten yang berbeda di Sumatera Barat. Sumani adalah Nagari dikecamatan Sapuluah (X) Koto, Singkarak, Kabupaten Solok. Sumaniak adalah Nagari  dikecamatan Salimpaung, dekat Batusangkar Kabupaten Tanah Datar.

8.1. Pakan Sumani

Pakan Sumani sudah ada sebelum/semenjak zaman penjajahan Belanda, namun tidak ada data tertulis menjelaskan kapan di mulai pembangunan Pakan. Kondisi Pakan Sumani pada awalnya hanya bersifat sederhana, para pedagang (saudagar) membangun pondok-pondok yang terbuat dari pohon bambu, yang atapnya terbuat dari anyaman daun kelapa.  Pakan Sumani merupakan Pakan Nagari yang aktivitasnya diadakan satu kali dalam sepekan, hari Pakan di Pakan Sumani adalah hari Ahad. Oleh karena itu, pasar ini disebut Pakan Akaik (Ahad).

Pakan Sumani menjadi menarik, karena keberadaan Pakan sangat vital bagi masyarakat Sumani dan masyarakat sekitar Nagari Sumani. Pakan Sumani adalah Pakan terbesar yang ada di Kecamatan Sapuluah (X) Koto – Singkarak, sehingga menjadi Pakan sentral di wilayah tersebut.  Selanjutnya mengenai Pakan Sumani baca pada Pakan Sumani dan Pakan Sumanik.  https://lizenhs.wordpress.com/2019/03/19/pakan-sumani-dan-pakan-sumanik/#more-4270

8.2. Pakan Sumanik

Pakan Sumanik (Sumaniak bhs Minang) disebut Balai Sumaniak. Perkemangannya dari Balai, berkait dengan RUMAH POTONG SAPI SUMANIAK

Dimasa sebelum kemerdekaan, belum ada Pemerintahan dan Negara Kesatuan. Nagari – nagari ketika itu belum berbentuk Pemerintahan Nagari dan Nagari di pimpin oleh Datuak Palo. Sejarah Nagari Sumaniak dan asal usulnya diterima secara lisan turun temurun meskipun tidak tertulis.  Bahwa Nagari Sumaniak sejak zaman perjuangan atau dimasa penjajahan sudah menjadi Nagari yang sudah cukup maju dan di kunjungi atau diramaikan oleh orang – orang yang bukan dari nagari Sumaniak saja tetapi Nagari tetangga bahkan sampai Nagari Tungkar dan Situjuah.  Mereka datang ke Balai Sumaniak pada hari ahad. Balai saat itu adalah tempat berdagang atau berjual-beli.  Balai ahad/pakan Ahad disamping tempat berjual-beli dan bertransaksi serta tempat penjualan berbagai hasil bumi dan komoditi, juga sebagai indikasi kemampuan ekonomi masyarakat.

Sebelum abad 19 (tahun 1900) di Nagari Sumaniak terdapat beberapa Balai yang berpencar yaitu: Balai Sangkur, Balai Malintang, Balai Gobah dan Balai Panjang. Pemuka Nagari Sumaniak, bersepakat balai dijadikan satu, menjadi Balai Ahad sekarang. Disatukan tempat bertransaksi dan berjual-beli, Balai Ahad ramai dikunjungi oleh orang dari berbagai Nagari.  Balai yang ramai dimasa itu menjadi kebanggaan masyarakat, bahkan lebih khusus bagi orang–orang yang baru kawin yaitu membeli daging yang bukan hanya sekedar untuk di konsumsi hari itu, tetapi untuk di cadangkan konsumsi sepekan karena hari Balai/Pakan hanya diselenggarakan sekali sepekan (setiap hari Ahad). Selanjutnya mengenai Pakan Sumaniak baca pada Pakan Sumani dan Pakan Sumanik.  https://lizenhs.wordpress.com/2019/03/19/pakan-sumani-dan-pakan-sumanik/#more-4270

9. KESAN-KESAN TENTANG PAKAN

Pakan memberikan kesan tersendiri bagi konsumen dari sekian banyak pakan yang dikemukan diantaranya adalah Pakan Akaik (Ahad) Koto Baru, Pakan Sinayan, Balai Salasa, Pakan Palembayan dan Pasa Pabukoan.

9.1. Pakan Akaik (Ahad) Koto Baru

Pakan Akaik (Ahad), Nagari Koto Baru, berada di Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, merupakan Pasar Tradisional Terbaik I Ditingkat Sumatera Barat tahun 2018. Sebelumnya, pakan ini adalah pakan (pasar) Ninik Mamak, kemudian diserahkan kepada Nagari dan dikelola sebagaimana arahan Pemkab Agam sesuai Perda nomor 1 tahun 2014 tentang pengelolaan pasar.

Ketua Pakan Akaik Nur Efendi Dt Nan Nan Basa, di Pakan pihaknya mengarahkan pedagang bagaimana pasar menyediakan komoditi sesuai kebutuhan masyarakat. Setiap hari pakan, pedagang selalu diawasi, jika ada berlaku tidak sesuai aturan mereka akan ditertibkan.

“Meski demikian, selalu dijalin silaturahim yang baik dengan pedagang, tanamkan kepada mereka bagaimana rasa hidup berkembang dengan ekonomi yang mapan,” ujar Nur Efendi Dt Nan Basa kepada media center, di pakan itu.

Sebagaimana arahan dari pemerintah daerah, pakan dikelola dengan baik oleh pengurus, seperti: Kebersihan, Pengelolaan sampah, Kerapian, Kenyamanan dan keamanan. Penempatan pedagang dikelompokkan sesuai komoditi.

“Untuk kebersihan, setiap pedagang difasilitasi dengan kantong plastik sebagai tempat pembuangan sampah di lapak dan kios-kios, juga sudah ada kesepakatan dengan pedagang untuk menjaga kerapian pakan/pasar”

Lebih menarik lagi adalah selain tempat jual-beli, juga dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan lain seperti: Olahraga dan Senibudaya, bahkan pernah jadi tempat penelitian bagi mahasiswa. Kedepan pengurus akan terus meningkatkan kedisiplinan, kerapian, keindahan pasar, agar konsumen merasa nyaman saat berbelanja, begitu juga dengan pedagang agar dapat melayani konsumennya dengan ramah.

Pengurus bahu-membahu dengan maysarakat dalam mengelola pakan (pasar), sehingga premanisme tirsingkir dengan sendirinya. Bahkan kedepan direncanakan menambah jadual hari pakan jadi 2 kali dalam sepekan. Dengan demikian, pengurus pasar itu mengharapkan dukungan dari Pemkab Agam, baik moril maupun materil, terutama bagaimana pasar berstandar nasional atau SNI.

Seorang pedagang harian, Nurnis (66) mengaku nyaman berjualan di Pakan Ahad Koto Baru, selain pakan bersih dan rapi, masyarakat yang datang berbelanja juga ramai.  “Dari sekian banyak pasar yang saya tempati, baru Pakan Akaik (Ahad) seramai ini dikunjungi masyarakat,” ujarnya.

Namun, Nurnis menyarankan pengurus agar terus meningkatkan kebersihan, kerapian dan keindahan pasar, supaya pakan ini jadi lebih baik lagi kedepannya. Di sisi lain, Neti (53) seorang dari sekian konsumen, mengaku nyaman belanja di pakan ini, selain komoditi yang cukup, pelayanan pedagang juga memuaskan.

http://infopublik.id/kategori/nusantara/295487/terbaik-i-sumbar-pasar-pakan-ahad-koto-baru?show=#

9.2. Pakan Sinayan

Para dunsanak, anda ambo (saya) bawa ke Pakan Sinayan, Kecamatan Kamang Magek, sebelum kecamatan dimekarkan berada di Kecamatan Tilatangkamang.  Di Pakan (Sinayan) display produk tidak melulu menurut jenis barang.  Penjual makanan basah bisa saja berdampingan dengan makanan kering.  Contoh, dekat pintu masuk meja ayam segar berdampingan/bersisian dengan ikan segar.  Didepannya terhampar lapak sayur mayur berhadapan dengan buah-buahan dan bersebelahan dengan kue kering dan basah.  Bila berlajan terus, bertemu kembali dengan tukang ayam potong, bersebelahan dengan pedagang ikan asin. tak jauh dari sutu ada lagi pedagang sayur.  Lapak tukang sayur bersebelahan lagi dengan kue basah.  Pakan  tidak terlalu luas.  Ketidak teraturan ini tidak mengganggu konsumen, melangkahkan kaki, cuma berputar sekitar seratus meter.

Yang paling ambo (saya) sukai berbelanja di Pakan Sinayan, makanan berasal dari masakan rumahan (setempat), umumnya produk segar.  Penjual adalah amai-amai (ibu-ibu), dagangan yang dipajang satu atau dua jenis sayur diatas karuang beras atau katidiang dalam jumlah sedikit, baru dipetik sebelum dibawa ke Pakan.  Sasaran yang paling ambo (saya) sukai adalah penjual yang banyak jenis jualan dan sedikit jumlahnya. Kenapa? Karena produk seperti ini berasal dari kebun di depan halaman atau disamping rumah.  Bila dari kebun (penduduk), walaupun menggunakan pupuk kimia dan pestisida jumlahnya tidak gila-gilaan, seperti pada kebun komersial.

Selanjutnya melangkah ke penjual masakan, warna kuning kemerah-merahan, bau dan rasa khas masakan Minang untuk dibawa pulang (seperti pangek ikan, gulai kapau, katupek sayur, katupek pical) memanggil-manggil pengunjung Pakan untuk dicoba.  Tak ketingalan kue-kue, goreng-gorengan tradisional (pisang, godok), lapek (lepat) [pisang, nagosari, singkong atau beras isi kelapa parut pakai saka, lapis dll] (saka adalah gula merah dari air tebu), membuat selera menjadi meminta-minta. Semua masakan/kue/lapek/lamang beras ketan (putih/hitam) dan jagung adalah masakan rumah (masakan khas lokasi setempat), yang kemaren diramu untuk dijual hari Sinayan, rasa  ingin tahu dan ingin mencoba makanan tersebut.  Pakan Sinayan, Pakan tua dan seolah  tak ditata (dilihat selitas) namun menyimpan pesona dan aktifitas masyarakat agraris Minangkabau pedalaman.  Jadi memiliki daya tarik yang khas karena belum banyak dikenal umum.  Begitu menariknya Pakan Sinayan (Pakan lokal) memiliki daya tarik tersendiri bagi ambo (saya).  Hal seperti ini terjadi juga pada beberapa Pakan yang belum direnofasi yang ambo (saya) kunjungi.

9.3. Balai Salasa

Ini satu Pakan disebut Balai, yaitu Balai Salasa Kampuang Pinang di Nagari Kampuang Pinang, Kecamatan Lubuakbasuang, Kabupaten Agam. Sebutan awal Pakan Batuang.

Balai Salasa Kampuang Pinang ini, merupakan Pakan peninggalan Kolonial Belanda. Pakan ini mulai dibangun atau diresmikan pada awal tahun 1900.  Pada awal dibangun Balai bernama “Pakan Batuang”, sebab semua tiang-tiang tempat berjualan dari Batuang (Bambu). Kemudian Pakan berubah menjadi Balai Salasa Kampuang Pinang.  Alasan mendirikaan Balai Selasa Kampuang Pinang ini, berdasarkan tanah orang Kampung Pinang ada di pinggir jalan. Pembangunan Pakan ini dilakukan semasa Angku Palo Nagari Kampuang Pinang bernama Mamin. Pasar dibangun dengan gotong royong oleh Niniak Mamak, Anak Nagari dan masyarakat kampuang Pinang.

Sebelum Balai Salasa Kampung Pinang terbentuk. Orang-orang di Kampuang Pinang mulai berjualan kecil-kecilan, seperti karupuak (keripik), karambia (kelapa), bareh (beras), minyak goreng di “tapi jalan” (tepi jalan). Di tepi jalan Pedagang membuat pondok-pondok kecil.  Mereka berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup (uang tunai) dan tidak pergi berjualan ke Pakan lain yang ada di Lubuakbasuang dan sekitarnya. Jadi, Balai Salasa Kampuang Pinang ini milik Niniak Mamak Anak-Nagari Kampuang Pinang, bukan milik Pemerintah Kabupaten Agam.

Balai Salasa Kampuang Pinang demikianlah dinamakan, hal ini disebabkan karena kegiatan Balai hari Salasa, bertempat di Kampuang Pinang.  Di Lubukbasuang saat itu sudah ada Pakan yaitu pada hari Akaik (Ahad) di Padang Baru, Pakan Sinayan di Tiku, Pakan Juma-at di Bawan dan Pakan Sabtu di Manggopoh Simpang Gudang.

Sampai tahun 2012 Balai Salasa Kampuang Pinang dikelola oleh Ninik Mamak dan Tokoh Masyarakat Nagari Kampuang Pinang secara bergiliran menurut hasil musyawarah dan mufakat.

9.4. Palembayan

Di Palembayan, Pakan yang diadakan setiap hari Sabtu. Oleh karenanya, hari sabtu dikenal juga dengan sebutan hari Pakan. Seperti Pakan tradisional lainnya, di Pakan Palembayan dijual berbagai macam bentuk bahan pangan hasil pertanian, aneka kuliner (kuliner tradisional Gulai Bukek), pakaian dan bahan keperluan sehari-hari dll. Gulai Bukek biasanya ada pada acara-acara adat, seperti: baralek (pesta atau kenduri), selalu ada masakan khas Palembayan yang tidak bakal ditemukan di daerah lain. Bentuknya mirip kuah sate (danging sate tanpa tusuk), (terbayang ngga!!). Buat yang penasaran, segera berkunjung ke Palembayan, siapatau ada kenalan yang punya acara adat disana.

9.5. Pasa (Pasar) Pabukoan

Bila memasuki Ramadhan, satu dari beberapa ciri khas di Sumbar disebut Pasa Pabukoan. Pedagang menjajakan berbagai makanan dan minuman menggugah selera. Pasar buka dan tutup bervariasi ada yang dibuka pkl: 14:00, 14:30 dan 15:00.  Pasar sepi atau ditutup sebelum adzan magrib, tapi ramai lagi sesudah tarawiah sampai pkl 20:00. Harga yang ditawarkan pun terjangkau. Pasa pabukoan terdapat di sejumlah daerah/kota di Sumbar, seperti di Padang, Padangpanjang, Bukittinggi, Payakumbuh, Sawahlunto, Solok, Batusangkar dan Pakan-pakan kecil Kecamatan atau Nagari, bahkan pakan Pabukoan muncul di persimpangan jalan nagari yang sebelumnya bukan pakan.

10 PAKAN (PASAR) NAGARI, PAKAN (PASAR) SERIKAT

Pakan (Pasar) di Ranah Minang dapat pula merupakan Pakan (Pasa) Nagari, Pakan (Pasar Serikat).

10.1. Pakan (pasa) Nagari

Pakan (pasa) Nagari adalah Pakan (Pasa) dari satu nagari.  Di Minangkabau secara langsung Pakan adalah sebagai sarana ekonomi masyarakat. Manfaat lain Pakan/Pasar adalah sebagai sumber pendapatan untuk pembangunan nagari, yang berasal dari hasil pungutan kepada pedagang dalam bentuk sewa petak.  Uang yang terkumpul dibagi ke Nagari-nagari yang berserikat.

10.2. Pakan (Pasa) Serikat

Pakan (Pasa) Serikat adalah Pakan dari beberapa Nagari (bisa cakupannya Luhak). Pasar Serikat milik nagari-nagari yang beserikat seperti:

Padang Panjang (Luak Tanah Datar), Pakan (Pasa) Serikat didirikan berdasarkan musyawarah masyarakat yang diwaliki Niniak Mamak Sapuluah [X] Koto dan Batipuah.

Payakumbuh (Luak 50 Koto), awalnya Pakan (Pasar) Serikat, milik bersama nagari-nagari, didirikan oleh Niniak Mamak Koto nan Ampek, dan Koto Nan Gadang.

Bukittinggi (Luak Agam) juga Pakan (Pasar) Serikat, didirikan melalui musyawarah bersepakat Niniak-mamak pemangku adat 40 Nagari. Pasar Serikat dimiliki nagari-nagari, lokasinya di Nagari Kurai. Nagari Kurai merupakan satu nagari di antara 40 Nagari di Agam Tuo.  Berdasarkan kesepakatan Niniak Mamak, Pasar Serikat diatur dalam ‘Syarikat Haq Ummat’.

Di Jorong Baso terdapat sebuah Pasa Serikat yang didirikan pada masa Kolonial Belanda yang bernama popular dengan nama Pakan Baso, beroperasi setiap hari Senin, Kamis dan Sabtu. (Baso, bukan Baso makanan yaitu Bakso). Pakan ini merupakan pakan terbesar di Kabupaten Agam.

Bila diamati Pakan di Kabupaten Agam. Kabupaten Agam memiliki 45 unit Pakan (Pasa) Tradisional yang terdiri dari Pakan (Pasa) Nagari sebanyak 36 unit dan Pakan (Pasa) Serikat sebanyak sembilan (9) unit. https://sumbar.antaranews.com/berita/143144/pemkab-agam-sosialisasikan-perda-pengelolaan-pasar

11. TATA RUANG PAKAN dan KELENGKAPAN PAKAN

11.1. Tata Ruang Pakan

Pemerintah Belanda ikut berperan membenahi tata ruang Pakan.  Dimulai dengan didirikan Loods (bahasa Belanda) [loih (los) disebut orang Minang], sebagai pengganti dangau.  Walaupun begitu, tetap disediakan tempat-tempat tanah rata yang dinaikan sekitar 30 cm, berbentuk empat persegi, untuk pedagang yang tak tetap (musiman) yaitu para Petani. Di antara Empat persegi di sediakan jalan selebar satu sampai dua meter. Di lokasi Pakan dibuatkan tempat Sumber Air dan MCK.  Sekitar Pakan ada banda (selokan kecil) untuk mengalirkan air, terutama air hujan. Disediakan pula tempat perhentian Bendi, Padati, dan Garabak (gerobak). Di Pakan tidak disediakan petak-petak/kedai-kedai tetap, jadi Pakan tetap mengikuti konsep dasar Pakan awal terbentuk. Ninik-mamak Alim-ulama membangun Surau (Masjid) disekitar tempat Pakan.   Di Pakan terdapat beberapa Loih (Los) dan lapangan rata. Bentuk Loih (los) tanpa pembatas/penyekat, yaitu: 1. Ditembok rata, dinaikkan sekitar 40-70 cm dari tanah dan 2. Ditembok dinaikkan setinggi lutut (berbentuk U) rata kiri-kanan.  Tempat seperti ini untuk pedagang kain dan makanan, jadi ditengah terdapat jalan. Lapangan yang rata tidak beratap ditinggikan sekitar 30 cm dari jalan yang dikeraskan. Ditempat terbuka yang rata dibuat Balai-balai [meja dari anyaman batuang (bambu)] dengan tiang batuang, atau dikeraskan saja sebagai tempat hamparan [dialas dengan lapiak (tikar)] sekarang disebut lapak.  Sekeliling Pakan diberi pembatas (pagar tembok berlubang-lubang empat persegi) setinggi satu meter, berlubang empat persegi panjang agar angin leluasa masuk dan keluar area pakan. Pedagang tidak bibenarkan berjualan diluar pagar Pakan.  Kalau datang ke Pakan bukan hari Pakan, Pakan kosong, hanya los (Loih) tanpa pembatas dan hamparan tanah rata yang ditinggikan ditutupi rumput yang terlihat.  Bentuk-bentuk ini sangat menyenangkan pedagang, baik pedagang tetap ataupun musiman.  Pakan ramai dikunjungi penjual-pembeli hanya saat Hari Pakan saja.

11.2. Kelengkapan Pakan

Kelengkapan Pakan yang dimaksudkan adalah SURAU (MASJID) DAN WC (Toilet).  Hal ini sesuai dengan anjuran Gubernur Sumbar.  Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan bahwa Pakan (pasar) urat nadi perekonomian masyarakat.  “Pada zaman Nabi dahulu yang pertama dibangun adalah Masjid kemudian Pasar, karena pasar selain tempat untuk berdagang juga tempat bertukar informasi”: kata Gubernur Irwan P., saat meresmikan 16 Pakan (pasar) di Kabupaten Solok.  Diharapkan ke 16 Pakan (pasar) dapat meningkatkan perekonomian nagari dan pendapatan masyarakat.  Gubernur berharap disetiap Pakan, area Pakan atau disekitarnya dibuatkan Surau (Masjid). Sekarang sebutan Surau telah tak terdengar lagi, padahal sampai keawal tahun 1970 sangat popular sebutan tersebut.  Itulah yang terjadi di Ranah Minang padahal katanya kembali ke Nagari. Tapi kembali sebutan ke Surau tidak dilakukan. Sebutan Surau bukan di Minang saja tapi terdapat di Asia Tenggara.  Apakah Surau (Masjid) itu? Baca MASJID, MUSAJIK, SURAU, MUSHALLA, LANGGAR DAN MEUNASAH https://lizenhs.wordpress.com/2009/08/26/masjid-musajik-surau-mushalla-langgar-dan-meunasah/. dan pengeras suara (tata suara) masjid.  Mengenai pengeras suara baca Tata Suara (Akustik) Masjid: Kasus Masjid Salman ITBhttps://lizenhs.wordpress.com/2010/03/22/tata-suara-akustik-masjid-kasus-masjid-salman-itb/ dan Riwayat Ringkas Tatasuara dan Akustik Masjid: Dimasa Nabi, Sahabat, Khalifah dan Sekarang  https://lizenhs.wordpress.com/2014/07/30/riwayat-ringkas-tatasuara-dan-akustik-masjid-dimasa-nabi-sahabat-khalifah-dan-sekarang/

12. NAMA DAN PERKEMBANGAN PAKAN

12.1. Nama Pakan

Nama suatu Pakan mengacu pada nama hari kegiatan Pakan atau nama Nagari atau Tempat penyelenggaraan Pakan. Misalnya Pakan Kamih (Kegiatan Pakan hari Kamis), Pakan Sinayan (Kegiatan Pakan pada hari Senin), Pakan Akaik (Kegiatan Pakan pada hari Ahad (Minggu)). Bahkan, terdapat nama suatu Jorong/kampung/nagari lebih melekat daripada nama hari pelaksanaan Pakan/Pasa. Misalnya: Pakan Lawang, Pakan Kurai, Pakan Kapau, Pakan Baso, Pakan Padang Lua, Pakan Piladang, Pakan Koto Baru, Pakan Malalak, Pakan Danguang-danguang, Pakan Palembayan dll.

Perkembangan suatu Pakan Nagari adalah menjadi Pusat Pakan, biasanya didukung oleh letak geografis yang strategis, seperti mudah dijangkau dari seluruh nagari yang berdekatan.

Berdasarkan perkembangannya, Pakan dibedakan atas dua jenis, yaitu Pakan Ketek (Kaciak) dan Pakan gadang.

Masing-masing nagari mempunyai hari Pakan yang berbeda. Oleh karena itu Pakan-Pakan itu satu kali sepekan, nama Pakan disebut menurut hari pekannya, misal Pakan Akaik, Pakan Sinayan, Pakan Salasa, Pakan Raba-a, Pakan Kamih, Pakan Juma-at, dan Pakan Sabtu (Satu) dll. Sistem hari pakan ini melahirkan kelompok pedagang keliling yang melakukan aktivitasnya yang disebut manggaleh babelok (berdagang keliling). Mereka manggaleh dari Pakan ke Pakan, dari Senin hingga Seninnya lagi.  Pedagang lain adalah para penduduk setempat membawa hasil pertanian [Kebun, Sawah, tabek (kolam) ikan dan kerajinan]. Nama Pakan, selalu dihubungkan dengan nama hari, seperti hari Ahad/Minggu (Pakan Akad atau Akaid), Senin (Pakan Sinayan), Selasa (Pakan Salasa), Rabu (Pakan Raba-a), Kamis (Pakan Kamih), Jum’at (Pakan Juma-at) dan Sabtu (Pakan Satu).

Selain itu nama Hari dapat pula mengikuti nama tempat atau nagari Pakan itu berada, seperti: Nagari Kapau (Pakan Kapau), Baso (Pakan Baso, bukan Baso makanan yaitu Bakso), Danguang-danguang (Pakan Danguang-danguang), Palembayan (Pakan Palembayan),  Malalak (Pakan Malalak), Lawang (Pakan Lawang), Piladang (Pakan Piladang) dll.

12.2. Perkembangan Pakan

Pada masa-masa selanjutnya, suatu Pakan dapat berkembang dengan baik ataupun lenyap sama sekali (ditutup). Pakan yang berkembang dapat tumbuh menjadi Pusat Pakan bagi suatu kawasan (sekitar Nagari).

Pada masa-masa selanjutnya, suatu Pakan bisa lenyap (hilang)/ditutup. Pakan yang berkembang dapat tumbuh menjadi Pusat Pakan bagi suatu kawasan sekitar nagari itu (pakan tersebut disebut pakan Gadang).

Perkembangan suatu Pakan nagari menjadi Pusat Pakan (Pakan Gadang) selanjutnya jadi Pasa (Pasar), umumnya didukung oleh letak geografis yang strategis, yaitu mudah/dapat dijangkau dari seluruh nagari, baik yang berdekatan maupun jauh.

12.3. Perkembangan Pakan Dan Proses Menjadi Pasa

Berdasarkan perkembangan kegiatan, jumlah pedagang dan pengunjung, proses pengembangan pakan berawal dari Pakan Ketek (Kaciak) berlanjut jadi Pakan Gadang.  Pakan Gadang terus berkembang selanjutnya jadi Pasa (Pasar). Penjelasan masing-masing sebagai berikut:

Pakan Ketek (Kaciak) adalah pasar yang ruang lingkup operasionalnya melibatkan penduduk setempat atau paling jauh nagari tetangga (yang berdekatan).

Pakan Gadang merupakan Pusat Pakan bagi Pakan-Pakan Kecil yang terdapat di sekelilingnya. Selain melibatkan jumlah pedagang yang lebih banyak dan lingkup geografis yang lebih luas.  Di Pakan Gadang juga terjadi interaksi sosial yang lebih komplek. Satu diantara beberapa Pakan Gadang atau pusat Pakan yang terkenal pada awal abad ke-19 adalah Pasar Bukittinggi, Payakumbuh dan Padangpanjang.

Pakan Gadang bila kegiatan perdagangan/jual-beli (ramai). Hal ini terjadi setiap hari dalam satu pekan, Pakan Gadang berubah sebutannya jadi pasa (Pasar).  Kegiatan Pasa (Pasar) yang paling ramai tetap saja hari Pakan yang ditetapkan awal Pakan dibentuk, yaitu saat masih Pakan Ketek. Perhatikan Bukittinggi awalnya hari (Pakan Sabtu), karena ramai penjual dan pengunjung kegiatan ditambah hari Raba-a (Rabu).

Terimakasih atas kunjungan anda pada Bukik Ranah Ilmu. Bila anda suka beritahu yang lain. Pustaka pada bagian ketiga,

Bersambung ke bagian ketiga https://lizenhs.wordpress.com/2019/09/29/pakan-balai-dan-pasa-pasar-bagian-ketiga/#more-4344


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: