Posted by: lizenhs | July 27, 2017

MUTU PRODUK: Pengujian “Inderawi” atau “Organoleptik”

MUTU PRODUK: Pengujian “Inderawi” atau “Organoleptik”

oleh: Haslizen Hoesin

Kata Pengantar

Tulisan ini melengkapi beberapa tulisan terdahulu mengenai mutu, diantaranya: Pengendalian Mutu; Pengawasan Mutu; Pemanfaatan Metode Statistika; Manajemen Mutu: Sortasi, Grading dan Simplisia; Prinsip Pengawasan Mutu Produk Pertanian;  Penerapan Sortasi, Grading dan Simplisia; Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mutu Produk dll.  Tulisan-tulisan tersebut baik sahabat Bukik Ranah Ilmu baca, terutama yang berniat untuk medirikan atau yang mempunyai Café, Restoran (atau Rumah Makan), Perusahaan (usaha) Roti, Kue, makanan kering dan basah.  Apalagi bila Restoran (Uasaha/perushaan) punya memiliki bagian/juru masak, merekalah yang melakukan/mencicipi masakan yang sedang dalam proses pembuatan (dimasak) atau Uji Inderawi. Perhatikan/cermatilah oleh para pembaca Bukik Ranah Ilmu, bila anda melihat makanan, lalu anda minta izin untuk mencicipi atau memakan sedikit/ sebagian kecil dari makanan tersebut. Maka yang anda lakukan pada dasarnya adalah melakukan uji mutu atau mengetahui mutu produk dengan Uji Inderawi, yaitu melalui penglihatan, kemudian mencicipi misal: tentang rasa, kerenyahan dll. Hasil produksi usaha/perusahaan makanan perlu Halal.  Mengenai Halal, baca: Mutu Produk: HALAL dan ASUH https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/mutu-produk-halal-dan-asuh/.

Para pembaca (sahabat) judul-judul tulisan tentang Mutu tersebut, dapat dilihat/baca di Blog Bukik Ranah Ilmu https://lizenhs.wordpress.com/ pada kategori Ber “Mutu” Yaaaa! https://lizenhs.wordpress.com/category/ber-mutu-yaaaa/ dan Kategori Ber “usaha” Yok.  https://lizenhs.wordpress.com/category/ber-usaha-yok/. Selamat membaca para sahabat, semoga bermanfaat.

I. PENDAHULUAN

Sekarang kembali ke judul, Mutu Produk: Pengujian Inderawi atau Organoleptik, bahwa suatu bahan akan diterima dan dihargai oleh konsumen dengan mempertimbangkan nilai dari faktor-faktor mutu, baik sifat inderawi maupun sifat  tersembunyi.

Harus disadari bahwa mutu suatu bahan/produk itu merupakan kumpulan sifat-sifat khas yaitu Sifat Dinilai dengan Indera dan Sifat Tersembunyi. Penilaian sifat-sifat tersebut, umumnya mengandalkan kemampuan indera manusia.  Dalam hal ini tergantung pada kepekaan, pengalaman dan kondisi phisiologis dari penguji. Menguji dari sekian banyak cara satu diantaranya dilakukan dengan Uji Organoleptik, sebutan lain Pengujian InderawiUji Inderawi sangat mudah dilakukan. Perhatikanlah bila anda ingin membeli sesuatu makanan maka yang dilakukan pada dasarnya adalah Uji Inderawi, misal: tentang penampilan (bentuk), rasa, kekerasan dll, demikian pula bila membeli pakaian, perhatikan apa yang anda (ibu-ibu) lakukan.

Para sahabat mengenai MUTU PRODUK: Pengujian Inderawi atau Organoleptik, paparan meliputi: Mutu; Pengawasan Mutu; Uji Organoleptik atau Pengujian Inderawi dan Tujuan Uji; Uji Organoleptik di Perusahaan dll. Selamat membaca. Semoga bermanfaat

II. MUTU

Sebagaimana dikemukakan diatas bahwa mutu suatu bahan merupakan kumpulan sifat-sifat khas yaitu Sifat Dinilai dengan Indera dan Sifat Tersembunyi, itulah yang membedakan masing-masing satuan bahan. Dalam memproduksi bahan pangan sudah tentu bahwa hasil pengolahan harus sesuai dengan apa yang dikehendaki konsumen (pelanggan).  Kesesuaian ini dapat menyangkut sifat-sifat bahan yang dinilai secara subyektif dan yang menilainya dapat diketegorikan obyektif. Jadi mutu suatu bahan akan dapat diterima dan dihargai oleh konsumen dengan mempertimbangkan nilai dari faktor-faktor mutu, baik sifat inderawi maupun sifat  tersembunyi.

Dalam industri/usaha pangan istilah mutu dikaitkan dengan “tingkat kesempurnaan” dan penyimpangan terhadap standard bahan tersebut. Pengertian tentang mutu baca juga APAKAH MUTU dan BERMUTU ITU? https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/apakah-mutu-dan-bermutu-itu/

1). Sifat yang dinilai dengan cara indera Sensorik

Sifat-sifat itu adalah yang dinilai dengan:

1). Indera penglihatan. Ketampakan, berarti keadaan dapat dilihat: warna, kilap,  bentuk, ukuran, cacat, kotor, bersih dan lain-lain. 2). Indera perabaan. Keras-lunaknya dan lain-lain. 3). Indera pembau.  Misal; bau tidak normal, berbau kuat. 4). Indera pengecap.  Dikenal sehari hari dengan istilah rasa. 5). Indera pendengar.  Suara dari suatu jenis makanan yang bertekstur keras, misal kerupuk/keripik dan lain-lain

Penilaian sifat-sifat tersebut mengandalkan kemampuan indera manusia yang dalam hal ini tergantung kepekaan, pengalaman dan kondisi phisiologis dari penguji.

2). Sifatcsifat tersembunyi

Sifat-sifat tersembunyi dinilai dengan mempergunakan analisis kimia, ataupun peralatan analisis di laboratorium, seperti zat-zat tertentu dalam bahan yang dianggap penting antara lain: protein, lemak, vitamin dll.

III. PENGAWASAN MUTU

Pengawasan mutu pada paparan ini yaitu produk pangan, yang merupakan suatu upaya untuk memperoleh mutu tertentu yang meliputi pengawasan mutu sejak penerimaan bahan mentah (baku), pengelolahan pada proses produksi, proses pemasaran hingga dikonsumsi.  Oleh karena itu perlu pula dipahami sekali tentang pengawasan mutu. Jadi yang dimaksud itu adalah Keguna Pengawasan Mutu?

Kegunaan pengawasan mutu produk diantaranya adalah:

  1. Memberikan pedoman mutu,
  2. Membina pemasaran,
  3. Membina perkembangan industri,
  4. Melidungi konsumen,
  5. Mengawasi proses pengelolahan didalam pabrik

IV. UJI ORGANOLEPTIK atau PENGUJIAN INDERAWI dan TUJUAN UJI ORGANOLEPTIK

1). Uji Organoleptik, Beberapa Pengertian

Organoleptik merupakan suatu metode yang digunakan untuk menguji mutu suatu bahan atau produk menggunakan Panca Indra Manusia.

Pengujian Organoleptik digunakan terhadap pengujian bahan makanan berdasarkan kesukaan dan kemauan terhadap suatu produk. Uji Organoleptik atau Uji Indera atau Uji Sensori merupakan cara pengujian tradisional, merupakan cara pengujian dengan menggunakan Indera Manusia sebagai alat utama untuk pengukuran daya penerimaan terhadap produk.

Pengujian organoleptik adalah pengujian yang didasarkan pada proses pengindraanPengindraan diartikan sebagai suatu proses fisio-psikologis, yaitu kesadaran atau pengenalan Alat Indra akan sifat-sifat benda, karena adanya rangsangan yang diterima alat indra yang berasal dari benda tersebut

Jelaslah bahwa Pengujian Organoleptik mempunyai peranan penting dalam penerapan mutu. Karena dapat memberikan indikasi kemunduran mutu, kebusukan dan kerusakan lainnya dari suatu produk.

Uji organoleptik juga pengukuran inderawi. Merupakan ilmu pengetahuan yang menggunakan Indera Manusia untuk mengukur tekstur, penampakan, aroma dan flavor produk pangan.

Perhatikanlah, penerimaan konsumen terhadap suatu produk, diawali dengan penilaiannya tentang:  1. penampakan, 2. flavor dan 3.teksturObjek yang diukur atau dinilai sebenarnya adalah reaksi psikologis, reaksi mental (berupa kesadaran seseorang setelah diberi rangsangan), maka disebut juga penilaian sensorik. Rangsangan yang dapat di indra bersifat mekanis (tekanan, tusukan), bersifat fisis (bentuk, dingin, panas, sinar, warna) sifat kimia (bau, aroma, rasa).

jelaslah bawa Uji Organoleptik merupakan satu dari beberapa cara pengujian komponen bahan.  Ini adalah hal yang sangat penting dalam menganalisis mutu suatu produk pangan.

2). Pengujian Inderawi Beberapa Pengertian

Pengujian Inderawi merupakan bidang ilmu yang mempelajari cara-cara pengujian terhadap sifat karakteristik bahan pangan dengan mempergunakan indera manusia termasuk indera penglihatan, pembauan, perasa, perabaan dan pendengar.

Meskipun sekarang peralatan telah berkembang, dengan kepekaan cukup tinggi, seperti spektrophometri, calori meter dan lain-lain, tetapi pengujian dengan indera manusia tetap merupakan bagian yang penting.  Hal ini disebabkan karena untuk beberapa sifat karakteristik seperti rasa dan suara hanya tepat bila dianalisis dengan “biological detector” tidak lain adalah indera manusiaPeralatan tetap  mengandalkan analisis manusia yaitu mengadalkan penilaian indera terhadap satu komponen saja sedangkan indra manusia dapat mengadakan penilaian terhadap seluruh kesan yang timbul secara terpadu sejak suatu bahan disajikan sampai kesan setelah bahan tersebut ditelan. Enak tidaknya bahan dikonsumsi, hanya tepat bila dinilai dengan indera manusia.

Perhatikanlah, meskipun semakin berkembang industri pangan, seperti industri berbagai jenis permen, aroma rokok dan dikembangkannya bermacam-macam bahan pembungkus dengan berbagai kebaikan dan keburukannya, dapat berpengaruh terhadap aroma dan tekstur, penggunaan bahan-bahan pengawet, bahan-bahan penambah warna dan lain-lain.

Pengujian akhir-akhir ini, menunjukkan kecenderungan semakin banyaknya mempergunakan pengujian inderawai.  Sebagai dampak dari perkembangan industri bahan pangan. Hal ini sangat dimungkinkan akan timbul persoalan seperti aroma yang tidak diinginkan berasal dari bahan sisa industri, ataupun aroma yang ditimbulkan dari bahan-bahan yang telah mengalami kerusakan. Kesemuanya itu, menunjukkan perlu pengembangan pengujian inderawi.

Masih banyak lagi persoalan yang selalu didapati seperti adanya permintaan mengenai pemberian nasehat kepada produsen terhadap dampak perlakuan-perlakuan pengolahan terhadap mutu sejak dari bahan dasar sampai hasil akhir produk, serta kemungkinan-kemungkinan terjadi perubahan mutu produk selama dalam pemasaran terutama dari sifat inderawi.

3) Sifat Inderawi

Pengenalan Sifat Inderawi

Suatu produk (produk pangan atau lainnya) mempunyai berbagai atribut mutu yang dapat digolongkan seperti:

1]. Sifat objektif, yaitu sifat yang dinilai berdasarkan respon objektif dari instrument fisik. dan 2]. Sifat subjektif, yaitu sifat yang dinilai atau diukur berdasarkan respon subjektif atau respon pribadi manusia.

Indera manusia adalah bagian tubuh yang digunakan sebagai alat untuk menilai sifat-sifat atau karakteristik suatu produk atau makanan. Pengujian terhadap suatu bahan makanan dengan menggunakan indera manusia disebut penilaian indera atau pengujian organoleptik.

Proses atau mekanisme penginderaan dapat dijelaskan dengan urutan sebagai berikut:

1). Penerimaan rangsangan (fisiologis), 2). Terjadi reaksi biokimia dalam reseptor, 3). Energi kimia diubah menjadi energi listrik, 4). Energi listrik dikirim ke otak, 5). Terjadi interpretasi psikologis kesadaran, 6). Memunculkan sikap/kesan psikologis

Ada enam tahap dalam melakukan penilaian inderawi yaitu: 1. Menerima bahan, 2. Mengenali bahan, 3. Mengadakan klarifikasi sifat-sifat bahan, 4. Mengingat kembali bahan yang telah diamati dan 5. Menguraikan kembali sifat indrawi produk, terakhir 6. Lakukan pengujian dengan Indrawi.

Lima macam Indera yang dimiliki manusia yaitu:

  1. Mata, sebagai penerima rangsang cahaya (fotoreseptor),
  2. Telinga, sebagai penerima rangsang getaran bunyi (fonoreseptor) dan tempat beradanya indera keseimbangan (statoreseptor),
  3. Hidung, sebagai penerima rangsang bau berupa gas (kemoreseptor),
  4. Lidah, sebagai penerima rangsang zat yang terlarut (kemoreseptor),
  5. Kulit, sebagai penerima rangsang sentuhan (tangoreseptor).

Penilaian indera banyak digunakan untuk menilai mutu suatu komoditi seperti hasil pertanian dan makanan. Penilaian cara ini sangat disenangi karena dapat dilaksanakan dengan cepat dan langsung, kadang-kadang penilaian ini dapat memberi hasil yang sangat teliti dari pada alat yang paling sensitif sekalipun. Oleh karena itu dalam hal penilaian, penggunaan indera bisa lebih teliti.

Indra yang digunakan dalam menilai sifat indrawi sebagaimana disebutkan diatas terhadap suatu produk adalah:

Indera Penglihatan yang berhubungan dengan warna kilap; viskositas; ukuran dan bentuk; volume; kerapatan dan berat jenis; panjang, lebar dan diameter; serta bentuk bahan.

Indera Pendengaran yang berhubungan dengan bunyi, seperti suara yang dikeluarkan misal saat keripik (kerupuk) digigit atau dikunyah.

Indra Peraba yang berkaitan dengan struktur, tekstur dan konsistensi. Struktur merupakan sifat dari komponen penyusun, tekstur merupakan sensasi tekanan yang dapat diamati dengan mulut atau perabaan dengan jari dan konsistensi merupakan tebal, tipis dan halus.

Indra Penciuman (Pembauan), pembauan juga dapat pula digunakan sebagai indikator terjadinya kerusakan pada produk, misalnya ada bau busuk yang menandakan produk tersebut telah mengalami kerusakan.

Indra Pengecap, dalam hal kepekaan rasa, maka rasa manis dapat dengan mudah dirasakan pada ujung lidah, rasa asin pada ujung dan pinggir lidah, rasa asam pada pinggir lidah dan rasa pahit pada bagian belakang lidah.

 4). Sifat Organoleptik

Sifat organoleptik bahan adalah sifat-sifat yang dapat ditangkap oleh indra manusia, oleh karena itu, disebut juga sifat-sifat inderawi. Manusia mempunyai lima alat pengindera yang disebut panca indera, kelima alat penginderaan itu adalah penglihatan, penciuman, pencicip (rasa), peraba dan pendengar. Alat-alat penginderan itu terdapat dalam tubuh berturut-turut seperti mata, hidung, lidah, kulit dan telinga.

 Sifat-sifat yang termasuk ke dalam sifat Organoleptik

Sifat-sifat yang termasuk ke dalam sifat organoleptik adalah:

[1]. Indera penglihatan, misalnya: warna kilap, bentuk ukuran, kotor, bersih.

[2]. Indera perabaan, misalnya: lunak, keras.

[3]. Indera pembau, misalnya: bau tidak normal, berbau kuat.

[4]. Indera pengecap, misalnya rasa.

[5]. Indera pendengaran, misalnya bunyi yang dihasilkan, bila makanan itu digigit (dikunyah).

5). Tujuan Uji Organoleptik

Tujuan dilakukan uji organoleptik terkait langsung dengan selera. Setiap orang di setiap daerah memiliki kecenderungan selera tertentu sehingga produk yang akan dipasarkan harus disesuaikan dengan selera masyarakat setempat. Selain itu disesuaikan pula dengan target konsumen (apakah anak-anak atau orang dewasa). Tujuan uji organoleptik adalah untuk:

[1]. Pengembangan produk dan perluasan pasar. [2]. Pengawasan mutu, bahan mentah, produk, dan komoditas. [3]. Perbaikan produk.  [4]. Membandingkan produk sendiri dengan produk pesaing.  [5]. Evaluasi penggunaan bahan, formulasi dan peralatan baru.

 V. PERBEDAAN PENGUJIAN INDERAWI dan PENGUJIAN ORGANOLEPTIK

Pengertian kedua istilah diatas masih kabur bagi sebagian orang, karena orang menganggap hal yang sama.  Secara garis besar analisis sensorik inderawi dapat dilakukan dengan pengujian inderawi ataupun dengan pengujian organoleptik. Berikut  apakah Karakteristik Pengujian Inderawi dan Karakteritik pengujian Organoleptik.

1]. Karakteristik Pengujian Inderawi, meliputi:

[1]. Penguji melakukan penginderaan dengan perasaan.

[2]. Metoda pengujian yang dipergunakan telah pasti.

[3]. Pada umumnya penguji telah melalui seleksi dan latihan sebelum pengujian.

[4]. Suyektivitas penguji relatif kecil, karena penguji bekerja seperti sebuah alat penganalisa.

[5]. Pengujian dilakukan dalam bilik-bilik pengujian, hasil pengujian akan menganalisis dengan methoda statistika.

2]. Karakteristik Pengujian Organoleptik, diantaranya:

[1]. Penguji cenderung melakukan penilain berdasarkan kesukaan.

[2]. Penguji umumnya tidak melakukan berdasarkan kemampuan dalam uji inderawi.

[3]. Pengujian dilakukan ditempat terbuka sehingga diskusi dsaling mempengaruhiy antara pengujian inderawi mungkin terjadi.

Dalam pengujian inderawi para penguji disamakan sebagai suatu peralatan, baik dalam menguji perbedaan maupun mengklasifikasikan mutu suatu bahan.

3]. Kegunaan Pengujian Inderawi dan Organoleptik

Pengujian indrawi banyak dipergunakan untuk bermacam-macam keperluan.  Beberapa perusahaan yang sangat spesifik misalnya: winn, teh, kopi, bir, tembakau masih menggunakan indera manusia untuk mengetahui mutunya.

Secara umum pengujian indrawi banyak dipergunakan perusahaan-perusahaan untuk tujuan-tujuan pengembangan produk baru, reformasi produk, monitoring kompetisi dengan produk merek lain, pengawasan mutu produk, monitoring pendapat dan kesenangan konsumen atas suatu produk.

Kegunaan uji organoleptik adalah untuk pengkajian masa simpan (shelf life), mencocokkan produk (product matching), pemetaan produk (product mapping), spesifikasi produk dan pengendalian mutu, reformulasi produk, pengujian potensi penyimpangan bau dan munculnya bau–bau asing (taint dan off flavor), dan menentukan penerimaan produk (acceptability).

Pada Perusahaan, beberapa pengujian dilakukan di laboratorium untuk menyiapkan data sebagai pendukung informasi bagi perusahaan.  Misalnya: Pemilihan cara pengolahan yang terbaik; memilih variasi pemakaian bahan dasar; penetapan suhu pemasakan yang paling cocok; pengaruh penambahan suatu zat terhadap sifat inderawi; pengaruh jenis makanan pada rasa; aroma daging dan lain-lain.

VI. BEBERAPA MASALAH YANG MEMERLUKAN INFORMASI PEMECAHAN DARI SEGI ORGANOLEPTIK

1). Pengembangan Produk

Suatu produk baru yang khas maupun yang tiruan imitasi secara umum perlu diketahui aseptabilitasnya. Untuk itu dapat dilakukan uji Hedonik dan uji Pembedaan.  Uji Hedonik sebutan lainnya adalah uji Kesukaan

2). Perbaikan Produk

Perbaikan produk dapat diukur secara obyektif maupun subyektif atau secara organoleptik. Dalam uji ini perlu diketahui: apakah produk baru berbeda dan lebih baik dari produk lama? Apakah produk baru lebih disukai dari produk lama?

3). Penyesuaian Proses

Penyesuaian proses seperti penggunaan alat baru, pemakaian bahan baru dan perbaikan proses. Tujuannya untuk efisiensi atau menekan biaya pengolahan tanpa mempengaruhi mutu. Uji untuk hal yang digunakan adalah uji pembedaan, uji skalar ataupun uji hedonik.

4). Mempertahankan Mutu

Masalah yang sangat penting dalam industri adalah mempertahankan mutu dan keseragaman mutu. Agar hal tersebut dapat dicapai maka perlu diperhatikan pengadaan bahan mentah, pengolahan proses produksi dan proses pemasaran. Uji yang digunakan adalah: uji pembedaan, uji skalar ataupun uji hedonik. Uji skalar merupakan uji dimana panelis menyatakan besaran kesan yang diperolehnya. Besaran tersebut dinyatakan dalam bentuk besaran skalar atau dalam bentuk skala numerik.

Pengujian skalar itu meliputi uji skalar garis, uji scoring, uji perbandingan pasangan.  Besaran skalar digambarkan dalam bentuk garis lurus berrah dengan pembagian skala dengan jarak yang sama dan pita scalar, yaitu dengan degradasi yang mengarah seperti warna. Uji Hedonic merupakan pengujian yang paling banyak digunakan untuk mengukur tingkat kesukaan terhadap produksi.

5). Daya Simpan

Selama penyimpanan atau pemasaran produk akan mengalami penurunan mutu maka perlu dilakukan pengujian. Hasil uji ini sekaligus dapat menetapkan umur simpan. Uji yang dapat dilakukan adalah uji pembedaan, uji skalar, uji hedonik, dan uji diskripsi

6). Pengkelasan Mutu

Dalam pengkelasan mutu perlu dilakukan sortasi yang teliti menurut kriteria baku dan spesifikasi baku yang ditetapkan. Uji yang dipakai adalah uji skalar.

7). Pemilihan Produk atau Bahan Terbaik

Untuk keperluan suatu proses perusahaan perlu memilih satu atau lebih bahan sejenis varietas tertentu, maka uji yang dilakukan meliputi uji pembedaan, uji penjenjangan, uji skalar dan uji diskripsi.

8). Uji Pemasaran

Uji pemasaran tidak dilakukan di dalam laboratorium melainkan di tempat umum, di pasar atau di toko. Untuk itu digunakan uji pembedaan sederhana dan uji hedonik.  Uji kesukaan disebut juga uji hedonik, dilakukan apabila uji dari desain untuk memilih satu produk diantara beberapa produk lain secara langsung. Uji ini dapat diaplikasikan pada saat pengembangan produk atau pembanding produk dengan produk pesaing.

9). Kesukaan Konsumen

Diantara beberapa produk yang sama, ingin diketahui produk mana yang paling disukai. Uji organoleptik yang digunakan adalah uji hedonic.

10). Seleksi Panelis

Uji organoleptik yang banyak digunakan untuk memilih/menyeleksi anggota sampel Panelis, bertujuan untuk uji pembedaan, uji skalar dan uji diskripsi.

VII. PENILAIAN dan MANFAAT ORGANOLEPTIK, TUJUAN UJI ORGANOLEPTIK dan KEGUNAAN UJI ORGANOLEPTIK

Penilaian dan Manfaat Organoleptik digunakan oleh industri, terutama industri pangan dan juga penelitian untuk pengukuran atribut–atribut mutu yang menggunakan manusia sebagai alat pengukur. Berdasarkan kemampuan penginderaannya yaitu (mata, hidung, telinga, lidah dan kulit).

Tujuan Uji Organoleptik adalah untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan–pertanyaan menyangkut mutu produk yang berkaitan dengan pembedaan, afektifitas dan deskriptif. Pembedaan (untuk membedakan mutu organoleptik baik satu atau beberapa atribut organoleptik maupun secara keseluruhan). Afektifitas (untuk mengukur preferensi dan penerimaan) dan Deskriptif (untuk mendeskripsikan atribut–atribut oraganoleprtik).

Kegunaan uji organoleptik adalah: 1. Pengkajian masa simpan (shelf life).  2. Mencocokkkan produk (product matching). 3. Pemetaan produk (product mapping). 4. Spesifikasi produk dan pengendalian mutu.  5. Reformulasi produk6. Pengujian potensi penyimpangan bau dan munculnya bau–bau asing, taint dan off flavor,  7. Menentukan penerimaan produk (acceptability).

VIII. UJI ORGANOLEPTIK pada PERUSAHAAN

Uji organoleptik biasa diaplikasikan diperusahaan (industri)/usaha (Makanan, Restoran, Café dan Rumah Makan).  Kegunaan uji adalah untuk menilai mutu bahan mentah (baku) yang akan digunakan, diolah dan formula yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk dengan mutu tertentu atau dirancang. Selain itu, dengan keberadaan uji organoleptik, produsen dapat mengendalikan proses produksi, menjaga konsistensi mutu dan menetapkan standar tingkat mutu atau kelas-kelas mutu. Produk hasil usaha/perusahaan selain bermutu dan juga Halal. Mengenai “Mutu” dan “Halal” pada kegiatan Usaha/ Perusahaan Makanan, Baca juga:  MENGAPA MUTU dan BERMUTU ITU PENTING BAGI PERUSAHAAN ? https://lizenhs.wordpress.com/2017/01/13/mengapa-mutu-dan-bermutu-itu-penting-bagi-perusahaan/, dan Tiga Keahlian + Satu Memahami Harus Ada Bagi Pebisnis/ Pengusaha  https://lizenhs.wordpress.com/2017/01/13/tiga-keahlian-satu-memahami-harus-ada-bagi-pebisnispengusaha/ dan Mutu Produk: HALAL dan ASUH https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/mutu-produk-halal-dan-asuh/

Produsen juga dapat meningkatkan keuntungan dengan cara mengembangkan produk baru, meluaskan pamasaran atau mengarah ke segmen pasar tertentu. Keberadaan uji organoleptik, produsen dapat membandingkan mutu produknya dengan produk pesaing sehingga dapat memperbaiki kekurangan produknya dengan cara menyeleksi bahan mentah (baku) atau formula dari berbagai pilihan atau tawaran. Semoga bermanfaat.  Bila anda (sahabat) Bukik Ranah Ilmu suka tulisan-tulisan di Bukik Ranah Ilmu (BRI), beritahu teman yaaaa….. ???!!! Terima kasih atas kunjungan anda (sahabat) di Bukik Ranah Ilmu https://lizenhs.wordpress.com/

IX PUSTAKA

Arpah Muhammmad, (1993).  Pengawasan Mutu Pangan.  Tarsito Bandung

Hoesin, Haslizen (1994). “Petunjuk Praktikum Pengendalian Mutu”. Laboratorium Manajemen Produksi. Fakultas Manajemen Produksi dan Pemasaran, IKOPIN.

Bartik, Bambang, Pudji Hastuti dan Wahyu Supartono. (1988). Pedoman Uji Inderawi Bahan Pangan.  UGM.

Soekarto, Soewarno T. (1985).  PENILAIAN ORGANOLEPTIK: untuk industri dan hasil pertanian.  Bhratakara Karya Aksara – Jakarta.

Wijandi. Soesarsono dan Dedi Fardiaz (1974). “Dasar Pengwasan Mutu Hasil Pertanian”. Depatemen Teknologi Hasil Pertanian. FATEMETA – IPB. Bogor

Anonymous. (2005). Kumpulan Standard Mutu: PRODUKSI SUSU & OLAHANNYA.  Berdasakan Standar Nasional Indonesia (SNI). Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Direktorat Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian.  DEPARTEMEN PERTANIAN.

Anonymous. (2005). Kumpulan Standar Mutu: PRODUKSI DAGING, TELUR & OLAHANNYA.  Berdasakan Standar Nasional Indonesia (SNI). Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Direktorat Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian.  DEPARTEMEN PERTANIAN.

Beberapa pustaka lain tidak ditampilkan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: