Posted by: lizenhs | June 13, 2017

Pengalaman Dalam Peristiwa Situjuah

Pengalaman Dalam Peristiwa Situjuah

Pengantar

Pengalaman peristiwa Situjuah ini dikutip dari Majalah Bulanan KINANTAN edisi 05 Agustus 1995 (halaman 17 dan 18), ditulis oleh pelaku sejarah yaitu Saadu’ddin Marah Bandaro.  Judul aslinya “Pengalaman Dalam Peristiwa Situjuh”. Tulisan ini adalah untuk menambah bacaan/literatur mengenai Peristiwa Situjuah (versi lain), yang hanya ditemukan di majalah dan mungkin ada yang lain (media Sosmed), bagi yang suka membaca. Tulisan-tulisan seperti ini mungkin tak ditemukan di buku pelajaran sejarah disekolah-sekolah Dasar atau Menengah (SMP dan SMA). Tulisan mengenai Peristiwa Situjuah mungkin banyak (berserakan).  Semoga bagi yang membaca blog Bukik Ranah Ilmu https://lizenhs.wordpress.com/ sebagai menambah perbendaharaan mengenai riwayat/sejarah perjuangan kemerdekaan yang tersebar di berbagai lokasi dipelosok Nusantara, sebagaimana (mungkin) ditemukan di majalah atau cerita dari mulut-kemulut perlu ditulis.  Semua peristiwa, baik yang sudah ditulis maupun hasil wawancara terhadap yang masih hidup (kalau masih ada) ditulis/disusun ulang secara sistematis berdasarkan metoda yang dapat dipertanggung jawabkan, kemudian dibukukan (Lizen).

Situjuah bukan Situjuh

Situjuah (Limo Nagari) adalah sebuah kecamatan di kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Kecamatan Situjuah Limo Nagari terdiri dari: 1. Situjuah Banda Dalam, 2. Situjuah Gadang, 3. Situjuah Batua, 4. Situjuah Tungka, 5. Situjuah Ladang Laweh.  Itulah sekilas mengenai Situjuah.
Mengenai nama tempat, bagaimana cara penulisan dan menyebutnya yang baku menurut aturan,  baca pada:
Nama Tempat (“Kampuang” dan “Kota”) Ambo:  Lucu, Aneh, Takberaturan, Merubah Arti dan Sejarah (Bagian pertama)   https://lizenhs.wordpress.com/2015/05/04/nama-tempat-kampuang-dan-kota-ambo-lucu-aneh-takberaturan-merubah-arti-dan-sejarah-bagian-pertama/ dan
Nama Tempat (“Kampuang” dan “Kota”) Ambo:  Lucu, Aneh, Takberaturan, Merubah Arti dan Sejarah (Bagian kedua)  https://lizenhs.wordpress.com/2015/05/04/nama-tempat-kampuang-dan-kota-ambo-lucu-aneh-takberaturan-merubah-arti-dan-sejarah-bagian-kedua/#more-2645

Ya…. Sekarang kembali ke Peristiwa Situjuah, ketulisan Saaduddin Marah Bandaro (Majalah Bulanan KINANTAN edisi 05 Agustus 1995) (hal. 17 dan 18). Tulisan ini  Lizen edit seperlunya agar enak dibaca (bahasanya mengalir).

Pengalaman Dalam Peristiwa Situjuh

oleh: Saaduddin Marah Bandaro

Pada tanggal 23 Desember 1948 tentara Nica menduduki kota Bukittinggi sekitarnya pukul 6.00 WIB pagi.  Penulis yang sedang nyenyak tidur, karena semalaman melakukan bumi angus terkejut oleh dengungan pesawat terbang dan bunyi corong (speaker) dari Jam Gadang yang menyerukan:  “Tentara kerajaan telah berada di kota Bukittinggi.  Golongan pengacau keamanan sudah dihancurkan.  Rakyat diharap tenang dan bekerja sebagai biasa”.

Sebagai anggota TNI, sub Teritorial Sumatera Barat, bagian Penghubung Masyarakat (PEMA),  segera berangkat keluar kota.  Semua surat-surat tentang identitas dirobek dibuang ke WC, Pistol colt 4.2  dikubur dibawah rumah.

Setiap hari pesawat terbang mendarat di Gaduik (Gadut) Bukittinggi.  Letusan kecil-kecil tak pernah berhenti.  Tentara Nica kelihatan masuk keluar kampung-kampung disekitar Ampek Angkek.  Hanya lima hari saya berada di sekitar Ampek Angkek, lalu berangkat bersama teman seperjuangan, Syamsul Bahar menuju Koto Tinggi, tempat kedudukan Gubernur Meliter.  Tanggal  1 Januari 1949, kami bertahun baru di Koto Tinggi.  Di situ kami temui Efendi Nur, Juir Muhammad, Anwar Lutan, Rasyid Manan, Rosman Algamar, Bachtarudduin dan lain-lain. Sesudah melapor kepada Pak MR. St M. Rasyid, Gubernur Meliter, lalu dengan bantuan Effendi Nur, barulah didapat surat keterangan identitas diri serta tugas mengawasi pos-pos perjuangan BPN/K di front Payakumbuh Utara.

Setelah beberapa hari menjalankan tugas di front itu, terdengarlah berita, bahwa akan diadakan rapat konsolidasi ornganisasi tenaga perjuangan di Situjuah, tanggal 15 Januari 1949.

Peristiwa Situjuah

Pada hari Jum’at 14 Januari 1949, penulis bersama Syamsul Bahar yang ingin tahu hasil rapat, lalu menunggu rombongan yang akan ke Situjuh (Situjuah), dipimpin Abdullah Adabiah.  Kami menunggu di sebuah warung di Tiakar Danguang-danguang.

Ternyata rombongan bukan hendak menghadiri rapat tetapi hanya singgah dan bermalam di Situjuah.  Besoknya akan terus ke Batusangka (Batusangkar) mengantar Sidi Bakaruddin yang diangkat menjadi bupti Kabupaten Tanah Datar.

Kamipun bergabung,  rombangan terdiri dari  Abdullah, Baharuddin Dt Bagindo alias Dt Gagog (BDB), Arifin Alip, Kapten Yahya Jalil, Syamsul Bahar dan penulis sendiri.  Sesudah Shalat Magrib dan makan di dapur umum di Batu Ampa, berangkatlah kami senja itu melewari jalan kereta api melintasi Padang Siantah, dengan bantuan seorang pemuda anggota BPN/K sebagai penunjuk jalan.

Sekitar pukul 9.00 malam, barulah rombongan tiba di Situjuah dan langsung menuju Rumah Kincia (kincir) tempat rapat.  Sambil berbicang-bincang penulis tanyakan, mengapa tempat rapat dipilih kenagarin Situjuah ini yang secara strategis, mudah dikepung musuh?

“Semuanya sudah diperhitungkan. Jalan-jalan yang kita lewati tadi sudah diberi penghalang” :kata B Dt Bagindo.

Tiba-tiba naik seorang yang tidak dikenal. Dalam percakapan di Surau pada malam sebelum peristiwa Situjuah itu, seorang mengatakan: “Kak Rahmah sudah menyerahkan diri dan Pak Syafei sudah ditangkap di Padangpanjang”.

Padahal kedua tokoh (pemimpin) tersebut sampai peristiwa penyerahan kedaulatan  27 Desember 1949 tidak pernah bekerjasama dengan Belanda, karena setelah penyerahan  kedaulatan barulah Kak Rahmah ke luar dari Sampur – tempat persembunyian beliau dan  Pak Syafei keluar dari desa Kandang Kudo di kaki gunung Singgalang.  Belakangan baru diketahui bahwa orang itu adalah Kamaluddin Tambiluak.

Keesokan hari ketika Adzan Subuh terdengar desa-desus ada tentara Belanda di atas.  Abdullah sebagai ketua rombongan segera memberi isyarat agar “bersiap”.  Sementara yang lain  sibuk mengumpulkan peralatan masing-masing.  Terdengar Baharuddin Dt Bagindo berceloteh:  “Mana bisa Belanda sampai kesini, jalan-jalan sudah dihalangi, apalagi jarakya 12 km dari Payakumbuah”.

Semua kawan-kawan lalu turun mengikuti Abdullah, sedangkan Baharuddin Dt Bagindo di belakang.  Saat itulah terlihat dua sosok yang bepakaian seragam, topi bersih, sebelah kakinya berlutut di tanah dan di tangannya memegang senjata.  Penulis berteriak: “Iyo Balando diateh Angku”.  dengan menyebut “Bismillah”, angku Abdullah lalu berlari menuju ke pinggir tebing, sementara Mayor Makiruddin mengambil wuduk di tepi Tabek.

Mayor Makinuddin lalu memanggil ajudannya, untuk pergi melihat.  Baru saja rombongan mulai mendaki tebing terdengar letusan.

Angku Abdullah dan Yahya Jalil sudah tiba diatas tebing sedangakan Arifin Alip dan penulis sendiri menolong Baharuddin Dt Bagindo yang barang-barangnya  berceceran.  Akhirnya di antara desingan peluru, kami semuanya berlima selamat tiba diatas tebing, lalu terus masuk ke dalam rumpun bambu.  Tak lama kami bertemu dengan seorang yang berbaju hitam.

Kami menyatakan kemana jalan keluar, namun dia diam saja.  Mungkin kaki tangan musuh, bukan penduduk kampung, lalu kami cepat-cepat keluar dari semak-belukar disekitar rumpun bambu menuju lapangan.  Untuk melintasi tanah lapang yang berhadapan dengan nagari Situjuah, timbul keraguan.  Penulis yang dulunya pernah menjadi Stadwacht, segera mengambil prakarsa agar rombongan berlari, bertiarap, lalu lagi lagi dengan arah zig-zag. hingga akhirnya sampai kepinggir tebing yang dibawahnya terbentang sawah yang luas.  Setelah istirahat sejenak, barulah terpikir bagaimana nasib Syamsul Bahar dan kawan-kawan yang masih tertidur ketika letusan mulai terdengar.

Korban yang Gugur

Kami takut meninggalkan tepi Batang Agam karena letusan sanjata api masih terdengar.  Pukul 5.00 sore terasa haus dan lapar, karena sejak subuh tidak setetespun air dan sebutir nasi yang masuk kerongkongan.

Tiba di jalan kampung, kami jumpai rombongan pemuda yang membawa cangkul, sodok dan keranjang dengan kaki celana yang disinsingkan, penuh dengan lumpur.  Ternyata mereka baru saja menguburkan para korban penembakan Belanda tadi pagi.

Di Situjuan ada delapan mayat yang dikuburkan sekaligus, sedangkan  yang lainnya oleh masing-masing keluarga dengan pertolongan orang.  Belakangan barulah ketahuan ternyata korban yang jatuh akibat serangan Belanda, diantaranya  Khatib Sulema, Bupati Arisun, Munir Latif, Kapten Zainuddin Tembak, Tantawi, Azinar dan Syamsul Bahar.  Pemuda yang berada disitu sejumlahnya 59 orang.  Setalah tiga hari di Situjuah Banda Dalam, rombongan dibagi agar tidak sekali serentak jadi korban.

Angku Abdullah dan Arifin Alip pergi ke Kubang Putiah mengabarkan kepada famili bahwa Arisun sudah syahid.  Yahya Jalil dan penulis pergi ke Kototinggi melaporkan kepada Bapak Gubernur dan B. Dt Bagindo tinggal di Situjuah karena keluarganya berada disekitar ini.

Penulis bersama Yahya Jalil melintasi Koto Nan Ampek terus ke Tiakar, lalu keesokan hari nya berangkat melalui Limbanang, Suliki, terus ke Koto Tinggi.  Ketika menghadap Gubernur, kami ceritakan segala pengalaman dan menyebutkan nama-nama korban yang syahid.  Berlinangan  air mata Pak Mr M. Rasyid mendengan cerita kami.  Lebih-lebih ketika mendengar nama Alm Khatib Suleman.

Sebulan kemudian, datanglah Mayor Thalib dari Koto Tinggi, lalu dia menceritakan peristiwa yang sebenarnya.

Selalu Saja Ada Pengkhianat dan Hukumannya

Peristiwa Situjuah adalah akibat pengkhianatan Letnan Kamaluddin Tambiluak.  Rupanya ada musang berbulu ayam.   Kamaluddin Tambiluak dibunuh BPN/K, termasuk juga istri dan anak-anaknya, semuanya disudahi pemuda.  Karena cukup bukti dari pengakuan istrinya bahwa dia adalah kaki tangan Belanda.

Dari bukti yang ada dapat diyakini bahwa Kamaluddin Tambiluak adalah pengkhianat  yang mendalangi, sampai tentara Nica tiba di waktu Subuh di Situjuah untuk mengepung tempat rapat dan membunuh semua pemuda yang berada disitu sejumlahnya 59 orang.  Pagi itu dia lebih dahulu diatas tebing nagari Situjuah dan sesudah melambaikan tangannya baru lah mulai terdengar tembakan senjata dan dia kabur.  Dia memberikan komando kepada tentara Nica.  Isterinya mengakui dia dan suaminya kaki tangan Nica.

Hukuman Revolusi telah berlangsung tidak perlu dipertanyakan lagi wajar atau tidak wajarnya hukuman yang telah dijatuhkan waktu itu.

Itulah tulisan Saaduddin Marah Bandaro (versi lain mengenai peristiwa Situjuah) tentang pengalamannya  di awal tahun 1949.  Mudah-mudahan tulisan Saaduddin Marah Bandaro bermanfaat, terutama sebagai bagian bahan penulisan sejarah perjuangan bangsa.

Semoga bermanfaat  (Haslizen Hoesin). Bila anda suka, beritahu teman lain yaaaa….. ?? !!! Terima kasih atas kunjungan Anda (sahabat) ke Bukik Ranah Ilmu  https://lizenhs.wordpress.com/.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: