Posted by: lizenhs | June 8, 2017

ALAT UKUR PENELITIAN

ALAT UKUR PENELITIAN

Oleh :  Haslizen Hoesin

Pengantar

Ini satu lagi tulisan saya kutip dari makalah disampaikan pada Pelatihan Analisis Data Penelitian Bagi Tenaga Peneliti Puslitbang Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi. 3 – 9 Januari 1996.  Sumber lain adalah Analisis Data Survey diktat mata kuliah Fakultas Manajemen Produksi dan Pemasaran.  Para Pembaca yang terhormat,  semula tulisa berjudul PENGUKURAN DAN ALAT UKUR PENELITIAN.  Tulisan ini panjang, dibagi dua: pertama tentang Skala Pengukuran dan kedua tentang Alat Ukur Penelitian.

Dalam Alat Ukur Penelitian pembahasan mencermati/penekanan pada apa yang menjadi variabel (variabel penelitian) dan menguraikan variabel menjadi sub-variabel.  Dari sub-varibel kemudian diperinci menjadi indikator, untuk membuat deskriptornya.

Para pembaca Bukik Ranah Ilmu https://lizenhs.wordpress.com yang terhormat.  Bebarapa hal yang perlu diketahui bila anda (peneliti) akan melakukan penelitian, dari sekian banyak hal pada penelitian, dua diataranya adalah Alat Ukuran Penelitian dan/atau  Skala Pengukuranhttps://lizenhs.wordpress.com/2017/06/01/skala-pengukuran/#more-3615

Alat Ukur Penelitian adalah alat untuk mengukur dari sesuatu masalah yang sangat beragam, bahkan bisa pula khusus.  Artinya untuk mengukur sesuatu itu ada ukuran (skala)nya tersendiri.  Oleh karena itu, skala pengukuran itu, tidak satu.  Demikian pula Alat Ukur Penelitian

Paparan berikut ini menjelaskan mengenai Alat Ukur Penlitian , sehingga diharapkan tidak terjadi salah ukur dan juga tidak salah skala ukurannya.  Tentu akan lebih parah lagi, bila salah menggunakan rumus-rumus statistika (untuk menguji hipotesis) dan/atau rumus-rumus tertentu yang direncanakan untuk mengolah data, karena masing-masing mempunyai skala ukur tersendiri.  Hati-hati jangan salah ukur dan salah skala pengukuran dan/atau  rumus.

Ingat ya!!!, bahwa:  Skala Nominal, Ordinal, Interval dan Rasio, menggunakan statistika yang berbeda. Mengenai Skala Pengukuran baca disini https://lizenhs.wordpress.com/2017/06/01/skala-pengukuran/#more-3615  Selamat membaca Skala Pengukuran dan Alat Ukur, semoga kedua tulisan tersebut bermanfaat.

Pendahuluan

Dalam hal ukur-mengukur  tentu dengan alat ukur, sebenarnya yang dilakukan adalah mencermati variable, apa yang menjadi variable penelitian dan identifikasi masalah.  Yang harus dicamkan bahwa yang menjadi sasaran atau obyek/focus penelitian adalah variable.

Bila variabel  sudah diketahui, maka langkah berikutnya adalah menguraikan (menjabarkan) variable menjadi subvariabel, yaitu aspek-aspek atau bagian-bagian dari variable.   Perincian Variabel  atau bagian variable dapat dipandang antara lain dari bagian atau kelompok yang ada didalamnya atau aspeknya.  Bagaimana menguraikan variable menjadi sub variabel?  Hal ini sangat  dipengaruhi oleh sifat dan jenis variable yang bersangkutan.

Setelah variabel dapat diuraikan menjadi sub variabel, maka selanjutnya adalah merinci sub variabel menjadi yang lebih kecil yaitu indikator. Dari indikator dibuat diskriptornya.  Kesemua  permasalahan tersebut dibahas secara terperinci pada variabel penelitian.

Dengan menguraikan variabel menjadi sub variabel, kemudian menjadi indikator,  maka pekerjaan menusun/menentukan alat  ukur menjadi lebih ringan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Apabila alat ukur tidak akurat, hasil pengukuran tidak akan akurat.  Didalam pengukuran, pada umumnya dapat dibedakan paling tidak dua bentuk alat ukur yang digunakan  untuk memperoleh data, yaitu:

1). Pada bidang-bidang ilmu social, pengkuran selalu dengan menggunakan kuesioner atau waancara, sedangkan

2).  Pada bidang pengetahuan alam dan teknologi, penukuran menggunakan alat ukur yang dapat dibentuk peralatan ukur,  apakah dalam bentuk yang sederhana maupun merupakan sistem peralatan yang rumit.

Dalam bidang ilmu sosial nampaknya alat ukur itu agak rumit dan sulit, dibanding Ilmu Pengetahuan Alam atau mungkin sebaliknya.

Contoh: Suatu variable penelitian adalah luas, subvariabelnya, Panjang dan Lebar, inilah deskripornya.  Satuan penukuran atau dimensi adalah meter.  Alat ukur adalah pengukur panjang.

  1. Alat Ukur Pada Bidang-bidang Ilmu Sosial

Pada bidang ilmu sosial alat ukur yang umum digunakan adalah kuesioner atau pemandu wawancara.  Untuk memperoleh alat ukur maka penliti harus membuat/ menyusun/pemandu  wawancara  yang  harus diperhatikan  adalah penyusunan  butir-butir pertanyaan.  Terdapat dua pihak yang harus dipertimbangkan dalam menyusun kuesiioner.

1).  Pertimbangan Pihak (Kerangka Pikir) Responden

(1).   Daya tangkap Responden. Untuk ini peneliti harus memperhatikan usia,latar belakang pendidikan, latarbelakang kehidupan social, dalam menyusun alat pengumpul data.

(2).   Kesibukan Responden.  Hal ini mempengaruhi banyak sedikitnya waktu yang tersedia  untuk menjawab pertanyaan angket.  Aspek kesibukan perlu dipertimbangkan dalam rangka

[1]. Menentukan butir-butir alat ukur,  banyak butir akan berpengaruh  terhadap waktu yang tersedia untuk menjawab.

[2]. Kemudahan administrasi, hal  ini berpengaruh pada kerelaan atau keengganan responden dalam menyedikan  diri sebagai responden.

(3).   Kemudahan mengerjakan oleh responden

2).  Perimbangan dari pihak (Kerangka Pikir ) Peneliti.

(1).  Variabel yang diungkap, hal ini berkaitan dengandata atau jenis data yang akan dikumpulkan.

(2).  Tenaga, waktu dan dana,  hal ini berkaitan dengan rehabilitas, umumnya termasuk pada banyak butir pertanyaan,  makin banyak butir pertanyaan semakin tinggi rehabilitasnya.

(3).  Teknik pengujian reliabilitas yang dipilih jika peneliti ingin mengujian reliabilitas alat ukurnya dapat dipakai rumus Flanagan dan Rulon.

Selain pertimbangan diatas, pertanyaan lain yang haus dipertimbangkan adalah aturan kebahasaan, yaitu pemilihan kalimat tunggal, efektif, ungkapan yang tepat dan lain-lain, perlu pula dipertimbangkan dalam penyusunan alat ukur.  Jadi apa bila menyusun alat ukur (pertanyaan atau angket) tidak akurat, hasil pengukuranpun tidak akurat pula.

1.2.  Pemilihan atau Pengembangan Alat Pengumpul Data

Dalam ukur mengukur, diperlukan kesesuaian antara alat pengukur dengan apa yang akan diukur.  Artinya mengukur tinggi akan keliru bila digunakan timbangan, haruslah diukur dengan meter.  Selain kesesuaian antara alat pengukur dengan yang diukur, kecermatan dan kestabilan tertentu dari alat ukur yang diperlukan, misal: Menimbang  berat dengan satuan ukuran gram lebih cermat ketimbang kilogram.

Pada suatu penelitian, alat pengambil data,  menentukan mutu data yang dikumpulkan dan mutu data menentukan mutu penelitian.  Alat yang dipergunakan untuk mengumpulkan data harus dipilih secara tepat agar tidak terjadi kesalahan dalam penelitian.

Kesalahan- kesalahan bisa terjadi karena:

1).  Jenis alat pengumpul data tidak tepat ,

2).  Skala pengukuran tidak sesuai dengan karakteristik data yang akan dikumpulkan.

Teladan

[1].  Teknik wawancara digunakan terhadap mahasiwa untuk mengevluasi performansi dosen, bisa menghasilkan data yang tidak tepat, karena mahasiswa merasa takut  untuk mengemukakan pendapatnya secara terbuka.

[2].  Penggunan skala Likert untuk mengukur opini responden berpendidikan  rendah seringkali kurang tepat karena mereka umumnya tidak mampu mengukur kadar persetujuan terhadap hal yang ditanyakan, seperti ini

Sangat tidak setuju  /———/———/———/———/  sangat sangat setuju
………………………………..1        2       3        4        5

Seringkali terjadi pada responden semacam ini yaitu meletakkan tanda (x) sebagai berikut

1).  Jika responden  merasa sangat mengerti akan permasalahan yang ditanyakan dan setuju, cendrung memilih angka mengerti atau terendah (5 atau 1).

2).  Jika responden tidak terlalu mengerti akan permasalahan, umumnya enggan atau tidak mampu berfikir atau tidak mau mau berpikir, sehingga cenderung memilih titik netral (tengah) yaitu angka 3.  Karena itu, walaupun responden cukup banyak, akhirnya jawaban yang diperoleh hanya terdiri dari tiga angka skor/bobot yaitu 1, 3 dan 5.

Agar data penelitian memiliki mutu yang cukup tinggi,  maka alat pengambil data harus memenuhi syarat-syarat sebagai alat pengukur yang baik.  Syarat-syarat alat pengukur yang baik adalah:

1).  Reliabel atau keterandalan dan

2).  Validitas atau kesahihan

Selain kedua syarat diatas, suatu alat ukur akan memberikan data yang lebih baik mutunya kalau memenuhi syarat-syarat keterbukaan artinya responden dalam menjawab pertanyaan tidak menutup-nutupi atau dibuat-buat dan dijawab dengan seadaanya.

Reliabilitas adalah apabila alau ukur mampu memberikan hasil yang relative tetap, apabila dilakukan secara berulang pada sekelompok individu yang sama.  Rehabilitas secara implisit juga mengandung objektifitas, karena hasil pengukuran tidak terpengaruh oleh siapapun  pengukurannya.

Validitas adalah apabila alat ukur benar-benar dapat mengungkapkan aspek yang diselidiki secara tepat dan sesuai, atau benar-benar sesuai secara dan menjawab sec ara cermat tentang variable yang diukur.  Tingkat validitas harus diukur, sebelum alat ukur itu dipergunakan melalui serangakaian uji coba, terhadap keseluruhan alat ukur maupun  item demi item

Syarat lain, yang sangat penting adalah:

1).  Bersifat diagnosis

2).  Bersifat efisien

Alat ukur dikatakan bersifat dianostik bila memiliki daya pembeda.  Dalam arti kata, mampu memilah-milah atau memisah-misahkan antara keadaan teringgi sampai terendah.  Alat ukur dikatakan efisien bila cara mengerjakan mudah dan mudah pula memberkan nilai.

Berikut ini dikemukakan alat ukur yang mengandung objektifitas.  Walaupun bukan dalam scope metode penelitian.

Syarat bagi pembuat alat ukur yang obyektif  adalah harus berusaha memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.

1).  Memiliki pengetahuan yang mendalam tentang yang akan diukur.

2).  Memiliki pengetahuan dan kecakapan dalam teknik konstrusi alat ukur

3).  Memiliki kemampuan meneruskan buah pikiran secara teliti, singkat dan jelas dengan menggunkanbahasa yang baik dan benar.

Petunjuk umum menyusun item alat ukur yang objektif.

1).  Rumusan setiap pertanyaan secara tajam dan jelas agar tidak menimbulkan  bermacam-macam tafsiran.

2).  Usahakan tidak memberikan  pertanyaan dengan mempergunakan kalimat seperti yang terdapat pada buku.

3).  Usahakan agar pertanyaan tidak mendorong atau memberi sugesti agar yang diukur memilih jawaban tertentu sesuai dengan keinginan penyusun alat ukur.

4).   Usahakan membuat jumlah item yang cukup banyak dalam arti mencakup seluruh bahan yang akan alat ukur.

5).   Lakukan uji coba sebelum alat ukur digunakan sebagai pengumpul data.  Uji coba diperlukan untuk mengetahui validitas, rehabilitas, penyebaran  tingkat kesukaran dan analisis setiap item.

1.3  Pengukuran Reliabilitas dan Validitas Alat Pengumpul Data

Pengukuran reabilitas alat pengumpul data dilakukan dengan cara berikut:

(1). Meneliti konsistensi Eksternal dengan menggunakan

[1].  Metoda test-retest.

[2].  Metoda test-retest Paralel

(2).  Meneliti konsistensi internal dengan mengunakan Analisis Diskriminan

1).  Pengukuran Reabilitas Eksternal

     [1]. Metoda Test-Retest

Contoh/Sampel yang sama di ukur (di test) dua kali, pada waktu I (test) dan waktu ke II (retest) dengan menggunakan alat ukur yang sama.  Jarak antara pengukuran I dan II tidak ada patokan, umumnya antara 2 sampai 4 pekan.  Bila hasil pengukuran  I waktu W1 (test) hasilnya H1,  sedangkan pengukuran  ke II (retest) waktu W2 dan hasil H2.  Alat ukur yang baik (ideal) jika H1 dan H2 sama.  Korelasi H1 dan H2 menunjukkan  tingkat tingkat reliabilitas alat ukur.

Metoda test-retest mempunyai keunggulan dan kelemahan.

Keunggulan

  1. Alat ukur bisa dibandingkan secara langsung teradap/dengan alat ukur itu sendiri.
  2. Mudah dilakukan dan hasilnya bisa segera diperoleh.

Kelemahan

Responden dapat mengingat test/pengukuran yang pertama, pada saat retest dilakukan sehingga kesamaan H1 dan H2 belum tentu terjadi, karena reliabilitas alat pengukuran, melainkan karena ingatan responden akan isi alat ukur.

    [2] Metoda Uji-uji Ulang sejalan (Paralel)

Bisa dilakukan dengan dua cara:

1]. Menggunakan satu obyek: 2 (dua) alat pengukur (yang diinginkan tidak sama).

Untuk mengukur sebuah obyek (yang dianggap tidak berubah).  Jika kedia alat ukur itu menunjukkan hasil yang sama, berarti alat ukur tersebut reliabel.

2]. Menggunakan dua objek (yang dianggap sama) satu alat pengukuran igunakan untuk  mengukur (secara berurutan) terhadap dua obyek yang dianggap sama dan jika hasil konstan berarti reliable.  Cara lain adalah 2 (dua) alat ukur digunakan bersamaan, masing-masing untuk mengukur satu obyek.  Jika hasilnya konsisten berarti alat ukur reliabel.

2). Pengukuran konsisten Internal

Memeriksa konsistensi internal aspek-aspek (item) suatu alat pengukur digunakan Analisis Diskriminan, diantaranya:

1]. Penggunaan skala Likert, misal dari yang sangat buruk sampai sangat bagus untuk meneliti sikap/opini responden.

2]. Responen yang mendukung cederung memilih jawaban dengan nilai/bobot skor yang besar, mendekati/hingga sesuai dengan dukungannya,

3]. Responden yang anti cenderung memilih jawaban dengan nilai/bobot/skor kecil.

4]. Jika ada penyimpangan, berarti tidak konsisten

1.4  Mengukur Validitas Alat Pengumpul Data

Berkenaan dengan validitas alat pengumpul data, terdapat bebera jenis validitas, diantaranya validitas  isi, validitas prediksi dan validitas konstruk.

  1. Validitas isi

1). Memeriksa apakah materi yang diajukan sesuai dengan pengetahuan/kemampuan responden,

2). Hanya bisa diuji secara logika.

Misal:

semua pertanyaan berbau ilmiah diajukan kepada  sekelompok responden yang berpendidikan  rendah, sehingga tidak satupun yang sanggup dijawab dengan benar.  Akhirnya ditarik kesimpulan bahwa semua responden bodoh atau sama bodohnya, padahal bisa saja ada yang pintar atau yang lebih pintar dibanding dengan yang lain.  Tetapi karena pertanyaan yang terlalu sulit untuk taraf mereka, maka yang pintar maupun yang bodoh tidak ada yang bisa menjawab, sehingga semuanya dianggap sama bodohnya.

  1. Validitas prediksi

1). Memeriksa kesesuaian antara ramalan tentang perilaku obyek penelitian dengan perilakunya yang nyata dan

2). Validitas prediksi diberi nilai tinggi, jika yang diramalkan  ternyata terbukti.

  1. Validitas Konstrak

1). Obyek penelitian sering mempunyai beberapa komponen, sehingga alat ukur juga seharusnya mengukur kesemua komponen komponen tersebut dan

2).  Makin tinggi validitas konstruk, berarti makin lengkap komponen obyek penelitian yang diukur dengan alat pengukur.

1.5  Peran Alat Ukur Kuesioner

Alat ukur sangat berperan dalam menentukan mutu data/hasil penelitian.  Apabila alat ukur tidak tepat dan sesuai (valid) dan relative tetap (Reliabel) atau tidak akurat, maka  hasilnya tidak akan akurat pula.  Agar alat ukur pengumpul data akurat dan tepat maka dalam menyusun alat ukur (pengumpul data) perlu memperhatikan beberapa segi, terutama bila kuesioner dan pegangan wawancara digunakan, sebagai berikut.

1). Bentuk pertanyaan kata-kata yang mudah dimengerti,

2). Tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda,

3). Harus sesuai dengan maksud yang diperlukan.

Untuk lebih memahami menyusun alat ukur, dibahas lebih terperinci pada Kuesioner, Survey, Wawancara dan Observasi.

  1. Alat Ukur Pada Bidang-bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi

Pada bidang-bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi, umumnya selalu menggunakan seperangkat peralatan berupa alat ukur.  Perangkat peralatan/alat ukur dapat berbentuk sederhana, tetapi dapat pula merupakan sistem peralatan yang rumit dan sulit.  Alat ukur yang digunakan mempunyai keandalan, keadaan ini sangat ditentukan oleh desain, operasi dan bagian-bagian alat ukur itu sendiri.  Untuk melakukan pengukuran, peneliti perlu mengenal sistem dan tatacara serta batasan-batasan alat ukur, sehingga ia mengetahui dengan baik mutu data hasil pengukuran.

Operasi dari suatu alat ukur pada umumnya melalui serangkaian elemen-elemen  fungsional.  Elemen sensor primer berintegrasi dan menggunakan medium yang diukur.  Alat Ukur yang baik adalah gangguan tersebut kecil sekali.  Respon dari sensor dikonversikan menjadi variabel yang lebih sesuai tanpa mengubah kadar informasi yang ada pada masukan awal.  Elemen manipulasi kadang-kadang diperlukan  untuk memperbesar variable yang berisikan informasi.  Data tersebut selanjutnya perlu ditransmisikan dan dipresentasikan oleh elemen penyaji data.  Karakteristik dari alat ukur yaitu kepekaan sangat ditentukan oleh elemen-elemen fungsional yang ada dalam sistemnya.  Besaran dan satuan dari data yang disajikan oleh alat ukur perlu ditetapkan  secara konsisten menggunakan standar yang telah disepakati.

 Untuk menjamin bahwa alat ukur betul-betul memberikan data yang baik, maka alat ukur perlu dikaliberasi dengan alat yang terpercaya.  Apabila seorang peneliti melakukan pengukuran besaran fisis dengan suatu alat dan memperoleh harga numerik, pertanyaan yang timbul adalah seberapa jauh harga tersebut berbeda dari harga yang sesungguhnya.  Sebagai teladan. Peneliti ingin mengukur panjang suatu tabung selinder.  Di dalam operasi pengukuran dua hal selalu ikut bersama-sama yaitu ketepatan, ketelitian.  Keduanya menentukan berapa jauh data yang diperoleh menyimpang dari harga yang sesungguhnya.  Untuk menentukan ini maka pengukuran-pengukuran selalu didukung dengan analisis statistika/teori kesalahan.

  1. Tingkat Pengukuran

Telah disebutkan diatas bahwa alat pengumpul data adala sama dengan alat ukur variabel.  Berkenaan dengan pengkuran terdapat beberapa tingkat pengukuran yaitu: Nominal, Ordinal, Interval dan Nisbah (Rasio) secara terperinci lihat tabel 1.  Masing-masing tingkat ukuran menentukan/mempengaruhi deskripsi atau analisis data.

  1. Pengukuran Statistik

Proses pengukuran digolongkan sebagai pengukuran statistika, apabila dipenuhi syarat-syarat dibawah ini:

1). Pengukuran dilakukan berulang-ulang terhadap sebuah satuan pengamatan,  mengenai satu atau beberapa variable, atau

2). Pengukuran dilakukan sekali terhadap beberapa satuan pengamatan, mengenai satu atau beberapa variable, atau

3).  Pengukuran dilakukan berulang-ulang terhadp beberapa satuan pengamatan, mengenai satu atau beberapa variable.

Pengukuran seperti yang disebutkan itulah dilakukan dalam penelitian.

Tabel 1.  Tingkat Pengukuran dan Jenis Penggunaan Statistika 

Tingkat

Pengukuran

Bentuk Pengolahan Statistika Yang  Berlaku Jenis Statistika

yang sesuai

Nominal 1.      Modus

2.      Frekuensi

3.      Koef Kontigensi

4.      Indek Varian                             Kualitatif

 Statistika

Non Parametrik

Ordinal 1.      Median

2.      Persentil

3.      Sperman

4.      Kendal r

5.      Kendal w

6.      Korelasi Parsial                        Kendal

 Statistika

Non Parametrik

Interval 1.      Rata-rata

2.    Simpangan baku/                       Varians

3.      Menaksir

4.      Korelasi Pearson

5.      Korelasi Matrik

6.      Korelasi Multipel

 

 Statistika

Parametrik

Rasio 1.      Rata-rata

2.      Simpangan baku/                        Varians

3.      Menaksir

4.      Korelasi Pearson

5.      Korelasi Matrik

6.      Korelasi Multipel

 Statistika

Parametrik

Semoga bermanfaat.  Bila anda suka, beritahu teman yaaaa….. !!! Terima kasih atas kunjungan Anda (sahabat) ke Bukik Ranah Ilmu  https://lizenhs.wordpress.com/.

Tulisan ini terkait dengan:

PENGOLAHAN, ANALISIS DATA dan INTERPRETASI https://lizenhs.wordpress.com/2020/05/06/pengolahan-analisis-data-dan-interpretasi/#more-4608

Skala Pengukuran  https://lizenhs.wordpress.com/2017/06/01/skala-pengukuran/#more-3615  dan

EDITING, KODING DAN TABULASI   https://lizenhs.wordpress.com/2017/04/27/editing-koding-dan-tabulasi/#more-3564

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: