Posted by: lizenhs | December 28, 2016

Biaya Mutu (Cost of Quality): MENETAPKAN SASARAN PERBAIKAN MUTU

Biaya Mutu (Cost of Quality):

MENETAPKAN SASARAN PERBAIKAN MUTU

Oleh: Haslizen Hoesin

  1. KATA PENGANTAR

Pada suatu diskusi (ngobrol santai) kelompok kecil (beberapa teman), mengenai usaha (mutu produk). Diketahui bahwa penafsiran teman-teman tercampur antara biaya membuat  produk dengan biaya memperbaiki produk yang sudah jadi/terjual (karena  tak sesuai dengan mutu harapan konsumen).

Tulisan  MENETAPKAN SASARAN …….. MUTU ini adalah satu dari lima tulisan  tentang Biaya Mutu (Cost of Quality) sebagai jawaban pertanyaan teman-teman secara tertulis dari diskusi kelompok kecil (ngobrol santai) mengenai biaya membuat/ menghasilkan produk untuk suatu mutu tertentu dari kegiatan USAHA.  Semua yang dibahas pada kelompok kecil tersebut sudah pernah ditulis dalam bentuk modul, sebanyak delapan (8), yang disampaikan pada suatu pelatihan Biaya Mutu (Cost of Quality) 31 Juli – 3 Agustus 2006, di Bandung.   Sebelum melanjutkan membaca MENETAPKAN SASARAN …….. MUTU baik dibaca terlebih dahulu PENGERTIAN DASAR BIAYA MUTU  https://lizenhs.wordpress.com/2016/12/27/biaya-mutu-cost-of-quality-pengertian-dasar-biaya-mutu/#more-3357

Untuk Bukik Ranah Ilmu (BRI), paparan mengenai Biaya Mutu lima (5) tulisan, yaitu: Pengertian dasar biaya Mutu; Penetapan Sasaran Perbaikan Mutu;  Strutur Biaya mutu;  Mengukur Biaya Mutu dan  Peta Kendali, Biaya Produkasi dan Biaya Mutu.  Selamat membaca.  Semoga bermanfaat.

  1. PENDAHULUAN

Biaya-biaya mutu yang dijadikan sebagai dasar sasaran perbaikan mutu dari sekian banyak kegiatan, yang Pertama adalah melakukan dua hal yaitu:  1). Apa yang menimbulkan  biaya kegagalan tinggi.  2). Memilih dampak terbesar terhadap keluasan pelanggan.  Kemudian

Kedua menargetkan kegiatan-kegiatan lain, seperti kegitan penilaian yang dirancang untuk mengidentifikasi kegagalan.

Kebanyakan kerugian atau biaya yang dikeluarkan disebabkan oleh sejumlah tipe rusak dan/atau pelayanan buruk dari sejumlah kecil dari kerusakan (pelayanan yang buruk), ini diartikan sebagai kesalahan dari sejumlah kecil sebabSejumlah kecil sebab terjadi buruk/cacat, ditentukan sasarannya karena menggunakan tingkat kerusakan (pelayanan yang buruk).  Sebab-sebab kerusakan/(pelayanan yang buruk) ini kemudian dipelajari.

Untuk mengetahui tingkat kerusakan (pelayanan yang buruk) dipelajari dengan menggunakan Diagram Pareto, sedangkan untuk mempelajari sebab-musabab cacat (pelayanan buruk) digunakan Diagram Sebab-akibat.

  1. DIAGRAM PARETO.

3.1. Apakah Diagram Pareto

Diagram Pareto  pertama kali diperkenalkan oleh Ekonom Itali V. Pareto.  Diagram yang ditemukan Pareto tersebut, diterapkan  J.M. Juran dalam mengklasifikasikan masalah mutu dan dinamakan  Analisis Pareto.  Juran menunjukkan dalam banyak hal, kebanyakan kerusakan dan biaya yang timbul didapat dari relatif sejumlah kecil dari penyebab.

Diagram Pareto dapat memperlihatkan kegagalan terbanyak (dominan) yang menjadi prioritas untuk diperbaiki.  Diagram Pareto terdiri dari dari dua sumbu tegak (kiri dan kanan) dan satu sumbu datar. Sumbu tegak kanan skala dalam dalam persentase (0 – 100%).  Sumbu tegak kiri (skala dari 0 (nol) sampai total dari klasifikasi item). Sumbu datar menyatakan sejumlah Interval sesuai dengan klasifikasi  item.

Kalau begitu apa yang didapat dari diagram Pareto?  Tentu permasalahan  apa yang akan diteliti dan bagaimana cara mengumpulkan data.  Jadi diperlukan lembar cacatan data yang mendaftarkan  semua item, dari lebar catatan data dibuat Lembar Data Diagram Pareto. Dari Lembar Data Diagram Pareto, dibuat Diagram Pareto. Dari Diagram Pareto adalah klasifikasi (terhitung) yang dominan terlihat dari persentase.

3.2. CATATAN TERHADAP DIAGRAM PARETO.

Catatan Terhadap Diagram Pareto meliputi: Aturan membuat Pareto dan Anjuran Menggunkan Diagram Pareto

1). Aturan membuat Pareto: (1). Teliti macam-macam klasifikasi kemudian buat diagram batang.  (2) Tidak boleh terjadi klasifikasi lain-lain dalam persentase tertinggi.

2).  Anjuran Menggunkan Diagram Pareto: (1). Item diharapkan pada jawaban sederhana, bila sebuah item yang muncul kecil tetap merupakan hal yang penting dan dipecahkan dengan sederhana. (2). Jangan gagal membuat diagram Pareto oleh sebab (gejala).

Sesudah mengidentifikasi  masalah  dengan membuat diagram Pareto karena/gejala, maka perlu mengdentifikasi sebab, dalam hal pemecahan masalah.  Oleh karena itu penting membuat Diagram Pareto oleh Sebab, bila perbaikan akan dilakukan.  Artinya dilakukan perbaikan berdasarkan sebab.

  1. DIAGRAM SEBAB-AKIBAT

Keluaran atau hasil suatu proses (produksi) dapat didistribusikan dengan banyak faktor dalam hubungan sebab-akibat. Dengan hubungan sebab-akibat dapat ditemukan faktor-faktor.  Berikut dapat pula menentukan struktur atau hubungan sebab-akibat yang banyak (berlipat) dengan mengamatinya  secara sistematik.

Untuk memecahkan  masalah  yang kompleks, sulit dilakukan tanpa memperhatikan  struktur (yang terdiri dari rantai sebab-akibat).  Kalau begitu diagram sebab-akibat adalah metoda untuk menyatakan hubungan penyebab dengan permasalahan secara sederhana dan mudah.

Diagram sebab-akibat pertama kali diperkenalkan Kauro Ishikawa pada sebuah pabrik saat mendiskusikan masalah mutu.  Diperolah hasil yang memuaskan dalam memecahkan masalah, terutama untuk mengetahui penyebab.  Diagram sebab-akibat dapat pula dipergunakan  secara praktek dan sangat berguna/bermanfaat dan  sudah dipergunakan secara luas di Jepang.

4.1.  Apakah diagram Sebab-akibat?

Diagram sebab-akibat adalah sebuah diagram yang menunjukkan hubungan antara karakteristik mutu dengan faktor.  Ternyata diagram Sebab-akibat tidak hanya dipergunkan dan diterapkan pada karakteristik mutu produk, tetapi juga pada bidang lain.

4.2. Struktur Diagram Sebab-akibat

Diagram sebab-akibat adalah diagram yang memiliki cabang-cabang (cabang utama, cabang kecil dan cabang yang lebih kecil. Diagram sebab-akibat mirip tulang ikan, sehingga disebut “Diagram Tulang Ikan” (karena seolah-olah seperti tulang ikan), kadang-kadang disebut juga “Diagram Pohon” [karena menyerupai pohon, ada dahan dan ranting (yaitu besar dan kecil)].

Bila cara menemukan penyebab sulit, gunakan dengan cara memperhatikan variasi.  Artinya: Perhatikan variasi dalam karakteristik mutu, bila berpikir tentang tulang besar (dahan pohon).  Bila data menunjukkan variasi, perhatikan kenapa variasi muncul yaitu variasi akibat yang diperkirakan  oleh variasi dalam faktor.  Bila terjadi demikian  berarti ditemukan variasi.

Bila membuat diagram sebab-akibat mengenai rusak tertentu pada perusahaan, untuk menemukan variasi dalam sejumlah rusak yang terjadi, misal pada hari yang berbeda, maka lakukan dengan pengelompokan data, misal perpekan.  Dari data perpekan ditemukan sering rusak terjadi misal hari Jum’at dari pada hari hari lain.  Rubahlah pikiran sebagai berikut:  Kenapa rusak sering terjadi hari Jum’at dari hari hari lain.  Hal ini akan mengarahkan  pikiran mencari faktor yang membuat  perbedaan dan akhirnya mengarah kepada menemukan sebab rusak.  Misal diperkirakan pikiran pekerja terpengarh untuk berlibur (hari sabtu dan minggu).  Bila diketahui demikian maka ditemukan faktor.

Bila cara (metoda) berpikir pada setiap tahap untuk menguji hubungan antara karakteristik pada tulang besar dengan sedang, tulang sedang dengan tulang kecil, telah ditemukan, berarti diagram sebab-akibat yang berguna telah dapat disusun. Cara menyusun diagram sebab-akibat, adalah berdasarkan logika.

Setelah menyelesaikan diagram sebab-akibat, tahap selanjutnya adalah menentukan tingkat kepentingan pada setiap faktor.  Semua faktor tidak selalu berkaitan langsung dengan karaktristik.  Tandai faktor yang kelihatan mempunyai  pengaruh jelas pada karakteristik.

4.3. Catatan Pada Diagram Sebab-akibat.

Terdapat dua catatan pada diagram Sebab-akibat, yaitu:  1). Anjuran pada Pembuatan Diagram Sebab-akibat dan  2). Anjuran pada Pengguna Diagram Sebab-akibat

1). Anjuran Pada Pembuatan Diagram Sebab-akibat. 

Anjuran Pada Pembuatan Diagram Sebab-akibat yaitu:  (1).  Identifikasi semua faktor yang relevan melalui pengujian dan diskusikan pada orang lain.  (2).  Nyatakan karakterisik senyata mungkin.  (3).  Buat diagram sebab-akibat yang berjumlah sama dengan karakteristik.  (4).  Pilih karakteristik yang bisa diukur.   (5). Tentukan faktor yang dapat diuji untuk diambil tindakan.

2).  Anjuran Kepada Pengguna Diagram Sebab-akibat

Anjuran Kepada Pengguna Diagram Sebab-akibat yaitu: (1). Menentukan kepentingan pada setiap faktor secara obyektif  dengan dasar data. (2). Mencoba mengembangkan diagram sebab-akibat secara berkesinambungan sambil mengunakannya.

  1. Penutup

Dari paparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa Diagram Pareto berhubungan erat dengan Diagram Sebab-akibat.  Penjelasannya sebagai berikut:

5.1. Kombinsi Pareto dengan Sebab-akibat 

Berbagai metoda telah diterapkan, dalam menyelesaikan masalah-masalah berkaitan dengan mutu, satu diantaranya adalah secara kombinasi.  Kombinasi yang dimaksud adalah Diagram Pareto dengan Diagram  Sebab – akibatKombinasi ini umumnya lebih berguna/bermanfaat daripada hanya diagram Pareto atau Sebab- akibat saja yang digunakan yaitu dalam bentuk Hubungan  Diagram Pareto dengan Diagram Sebab-akibat

5.2. Hubungan Diagram Pareto dengan Diagram Sebab-akibat

Harus dipahami pula, bahwa setiap batang pada  Diagram Pareto memperlihatkan  karakteritik mutu yang tidak sesuai (rusak, cacat atau ketidaksesuaian dengan kriteria/harapan pelanggan) itu, harus dicari penyebabnya.  Artinya setiap batang pada Diagram Pareto memiliki satu Diagram Sebab-akibat.  Dengan kata lain satu batang Diagram Pareto, satu Diagram Sebab-akibat.  Bila dapat menyelesaikan 80% dari ketidaksesuaian (cacat atau rusak) tertera pada Diagram Pareto,  berarti sekitar 80% cacat yang ditemukan pada produk untuk diatasi atau tidak boleh terulang lagi.

Untuk mencapai minimal  80% ketidaksesuaian  (cacat atau rusak) yang terjadi, berarti lebih dari satu batang Diagram Pareto,  jadi diagram Sebab-akibat dibuat  lebih dari satu.

Terlihatlah sekarang dengan jelas, bagaimana keeratan hubungan antara diagram Pareto dengan Diagram Sebab-akibat.

Terima kasih atas kunjungan dan perhatian anda, bila suka beritahu yang lain.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: