Posted by: lizenhs | November 24, 2016

WISATA EKOLOGI: Destinasi Wisata (Daya Tarik Wisata)

WISATA EKOLOGI:  

Destinasi Wisata (Daya Tarik Wisata)

oleh: Haslizen Hoesin

 

KATA PENGANTAR

Para Pembaca (sahabat) Bukik Ranah Ilmu (BRI), tulisan ini tertuju bagi yang mau/suka bepergian (jalan-jalan) dan/atau pengusaha Pariwisata, khusus Pariwisata Ekologi.

Para sahabat BRI, masa depan pariwisata di Indonesia yang mengusung konsep wisata ekologis (ecotou-rism) diperkirakan menjanjikan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat kedepan.  Kenapa??  Benarkah itu??  Paparan berikut sebagai  jawabannya.

Semula tulisan ini berjudul WISATA EKOLOGI, isinya memperkenalkan Wisata Ekologi.  Karena panjang, maka dijadikan dua judul, Pertama: WISATA EKOLOGI, Apa Ituuu…..u?  dan Kedua:  WISATA EKOLOGI:  Destinasi Wisata (Daya Tarik Wisata)WISATA EKOLOGI disebut juga EKOLOGI WISATA (EKOWISATA).

WISATA EKOLOGI: Destinasi Wisata (Daya Tarik Wisata), hanya memaparkan tentang Pesona, Destinasi dan Daya Tarik).  Sebelum membaca EKOWISATA: Destinasi Wisata (Daya Tarik Wisata), sebaiknya baca terlebih dahulu WISATA EKOLOGI: Apa Ituuu…..u?  https://lizenhs.wordpress.com/2016/11/16/wisata-ekologi-apa-ituuu-u/ .  Bertujuan, agar pemahamannya berurut (runtut).  Selamat membaca semoga bermanfaat.

PENDAHULUAN

Masa depan pariwisata di Indonesia mengusung konsep wisata ekologis (ecotourism) menjanjikan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat kedepan. Benarkah itu??  Paparan berikut menguraikannya.

Sahabat, semula tulisan berjudul WISATA EKOLOGI.  Karena panjang, dibagi jadi dua judul, Pertama: WISATA EKOLOGI, Apa Ituuu…..u?  dan KeduaWISATA EKOLOGI:  Destinasi Wisata (Daya Tarik Wisata).  Tulisan ini mudah-mudahan dapat membuka wawasan tentang Pariwisata Ekologi (sebagai pengetahuan awal/pembuka).  Wisata Ekologi disebut juga Ekologi Wisata (Ekowisata).

Paparan Wisata Ekologi meliputi: 1) Alam, Masyarakat, Binaan dan Minat Khusus; 2). Komponen Lingkungan, Prinsip dan Konsep Dasar Ekologi; 3). Ekologi;  4). Proses Ekologi;  5). Daya Dukung; 6). Latar Belakang Kelahiran Wisata Ekologi;  7). Pengertian Pariwisata dan wisatawan;  8). Wisata Menurut Islam;  9).Visi Ekowisata Indonesia; 10). Prinsip Utama Wisata Ekologi;  11). Peran Wisata Ekologi;  12). Unsur yang menjadi daya Tarik Wisata Ekologi;  13). Profil Wisata Ekologi; 14). Prinsip Utama Wisata Ekologi;  15). Syarat Pariwisata yang Berhubungan Dengan Pesona Pariwisata 16). Fasilitas yang dibutuhkan bagi Wisatawan (Muslim);  18). “Destinasi Wisata; 19). Daya Tarik Wisata 20). Manajemen Sarana Pariwisata.  21). Perkembangan Usaha Wisata Ekologi.

DESTINASI WISATA

Pada kegiatan Pariwisata dikenal istilah Destinasi Wisata.  Menurut K.B.B.I.  Destinasi diartikan sebagai “tempat atau daerah tujuan”, bila digabungkan dengan wisata, berarti Daerah Tujuan Wisata. Pengertian lain “destinasi wisata adalah suatu kawasan spesifik yang dipilih oleh seseorang pengunjung, dia dapat tinggal selama waktu tertentu”.

Istilah lain dari Destinasi Wisata adalah Daya Tarik WisataDaya Tarik Wisata sebenarnya adalah kata lain dari Objek Wisata.  Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009.

DAYA TARIK WISATA

Apakah  Daya Tarik Wisata?

Setelah dicermati, ternyata Daya Tarik itu berhubungan dengan mutu jasa.  Apakah mutu??  Baca: APAKAH MUTU dan BERMUTU ITU? https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/apakah-mutu-dan-bermutu-itu/

Unsur-unsur Daya Tarik Wisata meliputi: 1. Atraksi, 2. Budaya, 3. Tenaga Kerja, 4. Sarana dan Prasarana, 5. Transportasi, 6. Jasa pendukung, 7. Akomodasi dan 8. Pelayanan.

Daya Tarik Wisata adalah istilah lain dari Destinasi Wisata, sedangkan Daya Tarik Wisata adalah kata lain dari Objek Wisata. Agar lebih memahami pengertian dan makna dari kata Daya Tarik Wisata, perhatikan Undang-undang Republik Indonesia Tentang Daya Tarik Wisata sebagai berikut:

1). Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009. Daya Tarik Wisata adalah:  Sebagai segala sesuatu yang mempunyai keunikan, kemudahan dan nilai yang berwujud keanekaragaman, kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan para wisatawan. Bahwa Daya Tarik Wisata atau Tourist Attraction adalah istilah yang lebih sering digunakan, yaitu: segala sesuatu yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk mengunjungi suatu daerah tertentu.  Atau bisa sebagai segala sesuatu yang menarik dan mempunyai nilai untuk dikunjungi dan dilihat.

2). Dalam undang-undang nomor 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan, disebutkan bahwa Daya Tarik Wisata adalah suatu yang menjadi sasaran wisata, yang terdiri dari beberapa hal, sebagai berikut:

(1). Daya tarik ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang terdiri dari keadaan alam, flora dan fauna. (2). Daya tarik wisata hasil karya manusia yang terdiri dari museum, peninggalan sejarah, seni dan budaya, wisata agro, wisata berburu, wisata petualangan alam, taman rekreasi dan kompleks hiburan.

Dari paparan diatas dapat dikatakan bahwa suatu kawasan wisata, jelaslah yang disebut Destinasi Wisata. Yaitu: kawasan yang memiliki ciri khas atau keunikan dan memberikan pesona (daya tarik) para pengunjung selama kunjungannya dan bahkan dapat memikat lebih lama dengan berkunjung kembali pada lokasi tersebut.

Unsur-unsur destinasi wisata yang harus dimiliki suatu objek wisata agar memiliki daya tarik ternyata berhubungan dengan mutu jasa dalam hal ini, meliputi: 1. Atraksi, 2. Budaya, 3. Tenaga Kerja, 4. Sarana dan Prasarana, 5. Transportasi, 6. Jasa pendukung, 7. Akomodasi dan 8. Pelayanan.

Bila daya tarik Wisata itu menganai “alam, masyarakat dan lingkungan”, meliputi:  1). Ekologi Memiliki Daya Tarik; 2). Daya Tarik Wisata Alam; 3). Daya Tarik Wisata Masyarakat;  4). Daya Tarik Wisata Binaan dan 5). Daya Tarik Wisata Minat Khusus, (Soewarno Darsoprajitna).

Uraian terperinci sebagai berikut:

1). Ekologi Memiliki Daya Tarik.  Petualangan kelompok manusia dimuka bumi umumnya dirangsang oleh daya tarik yang lebih kuat dari tempatnya bermukim dan bermasyarakat.  Selain bertualang, banyak pula kelompok manusia berkelana di alam bebas untuk melihat dan menyaksikan sesesuatu yang belum pernah dijumpainya.  Petualangan atau berkelana, memang banyak dilakukan oleh manusia atau kelompok manusia hingga sekarang.  Apalagi dengan kehadiran manusia, tata alam senantiasa berubah.  Perubahan ini juga dipicu oleh perkembangan iptek, hingga makin merangsang manusia sekarang untuk keluar dari lingkungan hidupnya, melawat ke belahan bumi yang lain.  Melawat keluar dari lingkungan (sendiri) selama beberapa hari atau lebih untuk menyaksikan keindahan tata alam, masyarakat atau hasil binaan, disebut berwisataBerwisata memang memiliki arti luas, tetapi pada hakekatnya ada beberapa tujuan, antara lain: Kebutuhan untuk menyegarkan kembali rohani-jasmani sesudah jenuh oleh kesibukan kerja sehari-hari.  Kebutuhan untuk melakukan pelawatan atau berwisata ini akan makin meningkat, jika pendapatan perkapita meningkat.  Demikian selanjutnya, dengan meningkatkan pengetahuan yang didukung oleh kemampuan ekonomi, maka jangkauan pelawatan wisata juga meningkat.  Perlu diketahi di mana saja unsur wisata selalu sama, tetapi sesuai dengan kedudukan geografi dipermukaan bumi, tidak ada satupun tata alam atau bentukan alam yang sama dibelahan bumi lain.  Perbedaan inilah yang selalu merangsang seseorang atau sekelompok orang untuk mewisatainya.  Rangsangan atau daya tarik wisata yang kemudian dikembangkam untuk kepentingan kepariwisataan, disebut daya tarik wisata minat khusus, misal: Panjat Tebin, Arung Jeram, Menyelam, Terbang Layang atau lainnya. Sementara itu juga ada yang bersifat: keilmuan, kesenian, niaga, pelatihan atau lainnya yang sampai sekarang masih terus berkembang.  Secara umum, semuanya dapat dikelomkokkan menjadi empat atau lima yang dikenal dengan singkatan MICE yaitu Pertemuan (Meeting), yang Merangsang (Incentive), Sidang (Convention atau Conference) dan Pameran (Exhibition).

Semua kegiatan yang erat kaitannya dengan kepariwisataan, disebut pariwisata  dan tumbuh berkembang, akibat adanya kebutuhan hidup manusia untuk kesegaran rohani dan jasmani-nya.  Kesegaran ini tidak selalu harus ditunjang dengan pariwisata yang bersifat rekreasi saja, tetapi dapat juga ditunjang dengan kegiatan lain, baik di alam terbuka, ditengah masyarakat atau lainnya yang secara ekologi memiliki daya tarik sasaran wisata.

2). Daya Tarik Wisata Alam.  Di dalam tata alam terdapat berbagai bentuk hayati dan nonhayati, satu dengan yang lainya terjalin dalam satu ekosistem hingga membentuk disebut daya dukung lingkungan mantap.  Masing-masing unsur yang terpadu memang memiliki daya tahan yang tidak sama besarnya, tetapi dapat saling mengisi seandainya satu diantaranya rusak atau musnah.  Kegiatan ini seluruhnya berlangsung secara alamiah sasuai dengan matra ruang dan waktu dan hal ini dapat dipelajari.  [matra /mat•ra/(n) menurut KBBI: Ukuran (dimensi): tinggi, panjang atau lebar]. Berdasarkan data geologi, di alam semesta termasuk bumi. Bahwa setiap unsur tata alam selalu berubah dan perubahan masing-masing unsur tidak selalu bersamaan.  Ketidakbersamaan inilah yang akhirnya menciptakan  bentukan alam yang menarik baik dari bentuk maupun ukuran.  Sementara itu fungsi dan keberadaannya akan mengacu pada tata ruang dan waktu untuk menciptakan keseimbangan agar kehadirannya dapat bertahan selama mungkin.

Semua bentukan alam non hayati yaitu: lautan, benua dengan segala unsur hayatinya seperti tumbuhan, hewan dan manusia, lambat atau cepat akan menyesuaikan diri dengan perubahan tata ruang dan waktu.  Perubahan itu kecuali makhluk hidup akan mengubah bentuk dan ukurannya, sedangkan tumbuhan dan hewan jika tidak mampu menyesuaikan diri akan musnah.  Sementara itu perubahan terjadi pada manusia ialah perilaku budayanya, sebab disamping memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tata ruang dan waktu, manusia juga didukung oleh kemampuan iptek.  Sebaliknya manusia yang tidak memiliki kemampuan akan selalu tertinggal atau punah dengan sendirinya, baik oleh peperangan ataupun  akibat penyakit sebagai dampak kemajuan zaman. Punahnya suatu masyarakat, biasanya meninggalkan warisan budaya, misalnya artefak (alat bantu kerja), ipsefak (lingkungan hidup), mensefak (kuburan) atau yang lainnya. Masyarakat ini punah, antara lain disebabkan oleh ketidak mampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tata ruang dan waktu yang demikian rumit.

Berbicara masalah daya tarik wisata alam, mengingat bahwa tata alam memiliki paling tidak tiga tahap penampilan, maka hal itu perlu dipelajari/dipahami.  Tahap pertama  atau masa pembangunan disebu tahap muda atau young stageTahap kedua disebut  tahap dewasa  atau maturity stage dan Tahap ketiga atau tahap penyusutan  disebut tahap tua atau old stage.  Setiap tahap tidak memiliki masa tampil yang sama kurun waktunya dan demikian pula dengan tata alamnya.

Tata lingkungan sangat erat kaitannya dengan matra ruang dan waktu pengaruhnya amat besar pada kelangsungan hidup suatu bentuk alam.  Karena itu kalau tata lingkungannya mendukung, maka akan memberikan dampak positif.  Sekalipun negative, tetapi hasil kinerjanya dapat dikatakan positif sesuai dengan sudut pandang kepentingan.

Pentahapan  semacam ini tidak terbatas pada daya tarik wisata alam yang  sifatnya non hayati, seperti bentangan permukaan (medan), cuaca dan tata keairan, tetapi juga daya tarik wisata alam hayati seperti tumbuhan (hutan), hewan (yang hidup alami) dan perilaku budaya manusia yang masih mengacu pada tata alam sekitarnya.  Tahap  Pembangunan, puncak optimasi atau puncak sebarannya dan tahap penyusutan hingga kapan punahnya suatu unsur daya tarik wisata alam hayati, dapat dipelajari melalui cabang ilmu geologi yang disebut paleontology (ilmu hayat purna).

Karena itu, seandainya dapat digambarkan masa lalu suatu daerah yang yang sekarang ini, ini sudah jauh berbeda keadaannya, maka hal itu akan menjadi daya tarik wisata yang amat mempesona.  Jadi dalam merancang suatu bentukan alami, perlu sekali diinvetarisasi berbagai data dan informasi sifat dan gejala unsurnya, termasuk tata alam yang membayangi dan yang dibayangi bentukan alam tersebut.

Bentuk alam yang menarik perhatian manusia tidak didahului oleh transportasi, restorasi dan akomodasi.  Ketiganya secara berurutan baru hadir, setelah manusia mulai melakukan kegiatan perlawatan dan penjelajahan  alam seperti yang pernah dilakukan oleh pemerhati tata alam Frans Wilhelm Junghuhn, sekitar tahun 1840.  Sejak perjalanan itulah mulai dikenal berbagai bentukan alam yang menarik.  Bentukan alam secara fisik memang memiliki daya tarik untuk dibina menjadi sasaran wisata, sebab latar belakang sejarah terjadi tentu ada sejarahnya.  Demikian pula bentuk dan ukuran, merupakan hasil kinerja almiah yang mengcu pada hukum alam dan temasuk perjalanan sejarahnya.

Latar belakang sejarah terjadi, arsitektur alamiah dan keberadaan merupakan daya tarik fisik yang menghadirkan para pelayat, penjelajah dan pewisata, pemerhati tata alam.  Selain sebagai pemerhati dan pengagum keindahan tata alam, mereka juga dapat digolongkan sebagai pewisata Pencinta Tata AlamPemerhati tata alam, umumnya lebih banyak menggunakan panca indera untuk memperhatikan keindahan tata alam.

Sementara itu, Pencinta Tata Alam lebih banyak menggunakan perasaannya untuk menuangkan rasa sayang pada keindahan tata alam. Paduan perhatian dan keindahan  pada keindahan tata alam dapat menciptakan berbagai nilai azas pencagaran dengan baik dan benar, sehingga dapat menciptakan rancangbangun  untuk memenuhi hajat hidup orang banyak secara berkelanjutan.  Pemenuhan hajat hidup orang banyak semacam ini dapat diwujutkan dalam bentuk rekayasa, termasuk kepariwisataan yang dapat  memenuhi kebutuhan fisik (pemerhati) dan kebutuhan praktis (pencinta).  Bentukan alam secara praktis dapat menciptakan seni dan ilmu.  Seperti halnya Bengawan Solo di Jawa Tengah, bentukan alam mampu mengilhami manusia untuk menciptakan iptek berupa bendungan Gajahmungkur di Wondengan.  Kecintan seorang seniman, Gesang mampu menciptakan irama dan syair Bengawan Solo dengan indah dan bernilai abadi.  Demikian pula berbagai tata alam yang diubah secara teknik dan dipadu dengan seni tata ruang, hal seperti ini banyak dijumpai di dunia, hingga menjadi daya tarik yang kuat.

Bentukan Alam memiliki tiga tahap penampilan.  Tahap Pertama, masih dalam masa pertumbuhan atau pembangunan fisik (Tahap muda). Contoh gunungapi, yaitu gunungapi yang sering meletus.  Tahap kedua, kegiatan makin menyusut, tertinggal hanya hembusan gas alam seperti solfatar, fumaral dan beberapa gas lain.  Tahap ini pertumbuhan fisik sudah berhenti karena sudah mencapai  Tahap Ketiga, yaitu sudah optimal.   Kegiatan erosi mulai mengurangi bentuk dan ukuran tubuh gunung, sekalipun tertutup rapat hutan lebat.  Gunungapi dinyatakan padam, seandainya seluruh kegiatan kegunungapiannya sudah berhenti.  Gunungapi yang sudah padam sesuai dengan tata alamnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata atau lainnya.  Meskipun gunungapi masih aktif, tetap dapat digunakan/dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata secara terbatas.  Kegiatan pariwisata pada keadaan ini, direkayasa yaitu aktif tipe B atau C yang aman untuk dikunjungi.

Selain  gunungapi , bentukan alam lainnya yang memiliki runtutan tahap antara lain delta dimuara sungai.  Kawasan delta memiliki pesona wisata menarik.   Apalagi jika telah ditumbuhi pohon bakau (hutan bakau), tahap ini daya dukung lingkungan masih kuat, sehingga jika direkayasa untuk pariwisata yang mengacu pada azas pencagaran cukup memadai.  Bentukan alam lain yang memiliki perilaku alam perlu dipelajari ketiga tahap penampilan untuk kepentingan pariwisata, yaitu sungai dengan air terjun, danau, telaga, gua batu gamping dll.

Sungai yang masih muda umumnya memiliki arus air yang deras bisa dimanfaatkan untuk kepentingan wisata olah raga, sedangkan sungai yang sudah pada tahap dewasa, laju airnya sudah tenang digunakan untuk wisata rekreasi santai.  Di daerah muara yang lebih tenang arusnya, baik digunakan sebagai pelabuhan nelayan, pasar ikan, pasar terapung, pemukiman dengan segala perikaku budayanya.

Bagian sungai didaerah hulu perlu dikendalikan lingkungannya atau direkayasa, agar kehadiran berbagai perilaku budaya manusia tidak merusak atau mencemarinya.  Untuk itu penelitian terhadap sungai dari hulu sampai ke hilir diperlukan agar diketahui kebolehannya, sehingga kawasan muara sungai memberi manfaat bagi kepentingan hidup manusia.  Artinya diperlukan kepedulian terhadap sungai, termasuk muara dan daya dukung sehingga sungai tidak cepat rusak/tercemar.  Oleh karena itu, hal ini perlu diperhatikan sebab dalam merekayasa suatu bentukan alam, masalah ekologi, khusus ekologi pariwisata tidak boleh diabaikan, justru harus dikembangkan untuk melindunginya.

Perlu pula dipahami bahwa setiap bentukan alam yang dibina untuk kepentingan pariwisata  selalu mendapat beban tambahan baik teknik maupun nonteknik.  Beban barat yang paling banyak diperoleh antara lain, kehadiran pariwisata yang umumnya tidak memahami masalah ekologi pariwisata, sedang beban teknik umumnya lebih banyak disebab oleh rancang bangun yang tidak sesuaiKarena itu tidak mustahil dapat merangsang kehadiran manusia dengan perilaku yang mudah menimbulkan terjadi dampak negatif yang menyusutkan daya tarik wisatanya.  Uapaya meniadakan dampak negatif dapat dilakukan dengan audit lingkungan yang dilakukan secara berkala, sehingga daya tarik wisatanya dapat dikendalikan.  Demikian pula dengan pengelolan lingkungan yang tepat guna, dapat tarik wisatanya dapat ditingkatkan.  Audit dan penglolaan lingkungan yang tertatalaksana dengan tepat, dapat digunakan untuk meredam atau mencegah timbul perilaku predatif atau parasitis pada sementara wisatawan, khususnya para pencari keuntungan dengan kehadiran kawasan atau obyek wisata, mereka tidak peduli pada masalah ekologi pariwisata.

Kerusakan ini terjadi pada umumnya disebabkan oleh kesalahan atau kekhilafan manusia dalam merancangbangun dan merekayasa, yaitu tanpa memperhitungkan kemungkinan hadir dampak  fisik dan psikisDampak fisik diantaranya dalam bentuk kehadiran masyarakat yang memanfaatkan kehadiran wisata sebagai ladang matapencaharian, dengan membangun berbagai sarana dan menjajakan dagangannya, tanpa peduli menyababkan terbentuk pasar.  Pasar, tumbuk dan berkembang sendiri tidak terkendali. Kawasan daya tarik wisata akan terbenam dengan kegiatan pasar yang ramai, huruk-pikuk dan berpolusi, hingga secara psikis (dampak psikis) diantaranya menimbulkan sikap tidak menghargai keindahan tata lingkungan alam.

Sementara itu, bentukan alam yang pembangunannya sudah sampai pada tahap optimal, perkembangn daya dukung lingkungan berhenti. Dalam keadaan semacam ini, seandainya ada gangguan keseimbangan atau pencemaran yang masih di dalam ambang daya dukung, kemungkinan pencemaran yang terjadi, kerusakannya tidak besarTetapi jika gangguan atau pencemaran tersebut sudah melampaui batas daya dukung, mungkin rusak besar.  Apalagi bila gangguan tersebut berlangsung terus-menerus.  Untuk itu perlu dipelajari secara terperinci dan cermat.  Dari berbagai bentukan alam yang sudah memasuki tahap penyusutan mutu, pada umumnya daya tarik tidak dipedulikan lagi.  Padahal, bentukan alam tersebut masih memiliki bobot sumberdaya social, ekonomi dan budaya bagi kesejahteraan hidup manusia secara berkesinambungan.

Oleh karen itu, melalui kemampuan iptek, manusia masih dapat mempelajarinya sehingga tidak ada satu bentukan alam yang tidak dapat dimanfaatkan  kembali.   Pemanfaatan ini dapat dilakukan dengan mengacu pada azas pencagaran, sehingga manusia dapat membinanya untuk memenuhi hajat hidup orang banyak secara berkesinambungan.  Hal ini sangat perlu diperhatikan, sebab dalam merekayasa suatu bentukan alam, masalah ekologi, khususnya ekologi pariwisata tidak boleh diabaikan dan justru harus dikembangkan untuk melindunginya.

3). Daya Tarik Wisata Masyarakat. Dimana saja masyarakat ditemukan, unsur sosial, ekonomi dan budaya selalu menjadi  muatannya.  Melalui ketiga unsur itulah manusia bermukim, bermasyarakat dan berlindung di dalam tata alam.  Bermasyarakat dengan tata alam bertujuan agar kebutuhn untuk memenuhi hajat hidup berupa sandang, papan dan pangan terjamin.  Sementara itu berlindung dalam tata alam bertujuan agar keselamatan, kenyamanan dan ketentraman hidup juga terjamin.  Hal ini dapat diperoleh seandainaya masyarakat tersebut dipimpin oleh seorang tetua masyarakat yang arif dan terampil dalam mengelola  lingkungan hidup.  Kearifan yang seterusnya menjadi peraturan hukum tidak tertulis dan biasanya  disebut hukum adat, sampai sekarang masih banyak dijumpai dimana saja termasuk di Indonesia.

Tatalakasana manusia Indonesia bermasyarakat dengan tata alamnya merupakan  warisan budaya bangsa yang dapat diperkenalkan sebagai daya tarik wisataDaya tarik wisata ini dapat digunakan sebagai sarana pendidikan, penelitian atau sebagai sarana wisata yang menarik untuk dihayati dan dipahami.

Dimanapun  juga manusia bermukim selalu ada saja perbedaan yang satu dengan yang lain. Betapapun kecilnya perbedaan yang disebabkan oleh tata alam sudah mampu mempengaruhi perilaku budaya hidup manusianya.  Karena itu tidak mungkin ada dua bermasyarakat atau lebih yang persis sama mutu dan kuantitas adat istiadatnya. Pengaruh tata alam memang dapat menimbulkan beberapa perbedaan yang disebabkan oleh hukum alam, daya dukung alam dan ekosistem alami yang ada disetiap tempat di permukaan bumi.

Karena itu dengan kearifan, setiap manusia dapat merancangbangun dan merekayasa alam tempat bermukim dan bermasyarakat, agar mampu memenuhi hajat hidup. Kearifan, kemampuan dan adanya fasilitas alam dapat dirancangbangun dan direkayasa,  untuk meningkatkan kehidupan social, ekonomu dan budayanya.  Oleh karena itu kelompok manusia yang berhasil memasyarakatkan diri dengan tata alam di sekitarnya, merupakan satu dari beberapa daya tarik yang dapat dibina dan dikembangkan untuk kegiatan kepariwisataan.

Tata masyarakat setiap tempat selalu berbeda.  Perbedaan  ini disebabkan  oleh tata alam, topografi  medan dan ketersediaan sumber daya alam.  Oleh karena itu, tata masyarakat didaerah pegunungan  berbeda dengan tata masyarakat di pantai dan/atau di ngarai meskipun berada dipegunungan.  Perbedaan tata masyarakat ini disebabkan oleh pengaruh tata alam, terutama keanekaragaman sumberdaya alam yang terpadu secara alamiah.  Sekalipun sudah terpadu dengan mantap, besarannya tidak selalu sama.  Besaran unsur pembentukan tata masyarakat sepenuhnya tergantung kapada memampuan masyarakat dalam memanfaatkannya.  Pemanfaatan secara optimal dan terpadu besarnya tidak mungkin melebihi 100%.  Sebab sumberdaya alam yang tersedia tidak selalu sama. Kadang-kadang satu atau dua diantaranya terlalu kecil atau justru tidak tersedia, atau bahkan masyarakat tidak mampu memanfaatkanya.

Ketidaklengkapan sumberdaya alam untuk memenuhi hidup suatu masyarakat, misal ketiadaan bahan galian untuk bangunan, cadangan air, demikian pula untuk memenuhi sumberdaya hayati, baik tumbuhan maupun  hewan yang jumlahnya terbatas.  Sekalipun demikian ada masyarakat yang yang mampu bertahan dan berkembang seperti masyarakat Eskimo di daerah kutub.  Demikian pula masyarakat terasing yang hidup dan bermasyakat di dihutan lebat di berbagai daerah di Indonesia, di benua Asia, Afrika, Afrika, Amerika dan Australia yang sangat terbatas sumberdaya alaminya.  Adat-istiadat dan perilaku hidup manusia yang membentuk masyarakat terasing seperti tersebut diatas memiliki tataan yang menarik untuk dihayati.  Masyarakat terasing semacam itu bukan hanya tempat bermukim dan bermasyarakat saja yang menarik, tetapi tata masyarakatnya yang khas, yang masih mengacu pada tata alam setempat.  Mereka ini mengenal betul hukum alam, ekosistem dan daya dukung lingkungannya, sekalipun tidak mampu merumuskannya dalam ilmu pengetahuan.  Tetapi akibat berbagai kegiatan pembangunan didalam lingkungan hidup mereka sulit ditanggulangi mereka sediri, maka dengan tatalaksana kerja adati (tradisional) yang masih dihayati tidak memadai lagi diterapkan di dalam lingkungan hidupnya.  Akibatnya kerusakan demi kerusakan selalu timbul, karena matra waktu tidak seimbang dengan makin menyusutnya wilayah pengembaraan.  Hal inilah yang menyebabkan hutan semakin rusak, baik oleh ladang berpindah maupun karena pembangunan di wilayah suku terasing.  Kerusakan hutan ini terjadi di Sumatera, Kalimantan dan beberapa pulau lain.  Jadi perlu sekali dipelajari dahulu tata alam untuk berbagai jenis pembangunan yang akan dilakukan, termasuk yang sudah ada didalamnya, baik alami maupun nonalami.  Hal lain yang perlu diperhatikan dengan berkembangnya berbagai kegiatan pembangunan yang tidak mengacu kepada hak ulayat, adalah akan timbul gejolak yang tidak mustahil menyebabkan dampak  negative, yaitu semakin menyusutnya wilayah ladang (berpindah)  masyarakat terasing yang berada di hutan.  Ini akan berakibat terjadi kerusakan tata alam.

Keberadaan masyarakat terasing yang sudah menyatu dengan tata alam, sebenarnya memiliki nilai yang menguntungkan, sebab mereka tidak merusak tetapi secara alami ikut memelihara kelestarian hutan tempat bermukim.  Perilaku budaya masyarakat terasing ini, umumnya mengcu pada kearifan pendahulunya yang paham sifat dan gejala tata alam yang ada disekitarnya.  Hal ini dapat digunakan sebagai sasaran wisata minat khusus untuk mengetahui betapa tertibnya mereka mematuhi berbagai peraturan hukum yang tidak tertulis, biasanya peraturan yang tak tertulis itu disebut hukum adat.  Masyarakat adati yang terasing dihutan dan masyarakat adati yang tidak terasing, umumnya dapat membina hubungan dengan masyarakat lainnya, hingga dapat tukar-menukar pengalaman dan pengetahuan.  Mengacu pada pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya, mereka akan mengelola lingkungan dengan baik.  Keadaan mereka inilah yang menjadi minat daya tarik wisatawan masyarakat untuk berkunjung.

 Penerapan Pembangunan
Berdasaran paparan diatas, penerapan pembangunan (Pariwisata) yang tepatguna sebaiknya diterapkan, yaitu mengacu pada keseimbangan hidup, sesuai dengan tata masyarakat masing-masing tentu itu yang sebaik-baik dikembangkan (sesuai dengan tata masyarakat masing-masing). Bila pembangunan semacam ini terwujud, kemungkinan tercipta Nice (relung) yang menimbulkan dampak (efek) negative dapat diperkecil atau dihindari/dikendalikan. [Nice (relung) merupakan konsep yang menjelaskan suatu cara yang tepat dari suatu organisme untuk menyelaraskan diri dengan lingkungannya].

“Ekologi alami atau non alami yang terbentuk di suatu kawasan dengan keberadaannya sudah mantap”  adalah yang “sudah memiliki nilai social, ekonomi dan budaya yang tinggi dan mahal”.  Oleh karena itu pemanfaatan suatu wilayah untuk pembangunan (wisata) perlu dipelajari dengan arif agar penerapannya mempertinggi “mutu” tata alam dan masyarakat yang bermukim didalam dan sekitarnya.

Tentu tidak layak jika ada sekelompok anggota masyarakat yang harus dirugikan.  Jika hal ini terjadi tidak mustahil anggota masyarakat yang dirugikan akan berubah menjadi perusak atau pengganggu masyarakat lainnya.  Hal ini dapat terjadi, apalagi jika mereka tersisihkan atau terdesak keluar dari lingkungan hidupnya, yang secara adati sudah menjadi tempatnya bermukim dan bermasyarakat selama ini.

Harus disadari bahwa setiap pembangunan dalam bentuk apapun tidak mustahil dapat menciptakan relung baru dan tidak semua anggota masyarakat memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri. Apalagi jika di dalam relung yang sama terdapat kelompok masyarakat yang satu dengan yang lain tidak dapat berpadu dan sebaliknya satu dengan yang lain saling mengadu kekuatan.  Kalau ini yang terjadi, sifat memangsa lawan (predatif) dan merusak (vanderlistik) akan berkembang.  Relung dalam masyarakat semacam ini memang perlu dipelajari, sebab jika lalai tidak mustahil berbagi hasil kegiatan pembangunan akan rusak kembali sebagai akibat adanya anggota masyarakat yang sadar atau tidak sadar berubah menjadi perusak.  Kejadian ini merugikan masyarakat dan tidak boleh dibiarkan.  Masyarakat itu harus dibina menjadi mintakat penyangga, sangat bermanfaat untuk kepentingan pencagaran  kawasan, obyek yang berfungsi sebagai penyaring dan daya tarik wisata yang langka atau rawan, baik daya tarik alam, masyarakat, budaya atau minat khusus. (Mintakat/ min·ta·kat/ (n), daerah lingkungan; zona).

Daya tarik semcam ini memerlukan perlindungan ekologi yang memadai, agar keberadaannya dapat terkendali.  Sebab dibanding dengan mintakat alam, mintakat masyarakat yang direkayasa secara khusus dayagunanya besar.  Apalagi ditunjang oleh tata alam, baik topografi medan maupun unsur binaan manusia untuk berekreasi.

Pembangunan  mintakat penyangga dengan mengacu pada topografi medan dan unsur binaan manusia pemukiman dan jaringan jalan, dapat direkayasa untuk melindungi daya tarik wisata.  Selain lokasi daya tarik wisata, lokasi lain yang perlu dilindungi antara lain Laboratoria, Observatoria, Sanatoria atau bangunan lain yang boleh dikunjungi dalam jumlah terbatas.  Pembatasan ini dimaksudkan agar ekologi disekitar lokasi yang dilindungi tidak terganggu hingga pencagaran tetap terpelihara.

4). Daya Tarik Wisata Binaan. Jenis daya tarik wisata binaan amat banyak dan sudah ada sejak ratusan tahun, bahkan ribuan tahun yang lalu.  Walaupun  bangunan atau hasil binaan tersebut pada saat dibangun tidak untuk kepentingan pariwisata, namun keberadaannya sangat menarik.  Daya tarik tersebut antara lain keunikan penampilan, latarbelakang sejarah dan fungsinya yang jauh berbeda dengan selera manusia masa kini.  Bangunan atau hasil binaan manusia masa lalu tersebut jenisnya banyak, tetapi jumlahnya sudah amat menyusut hingga berubah menjadi Warisan yang Langka.

Kelangkaan inilah yang perlu diperhatikan keberadaannya, yang sekarang sudah menjadi data dan informasi ilmiah hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian dan dapat dibina menjadi daya tarik wisata.  Kegiatan hidup masyarakat yang selalu meningkat secara terpadu, merangsang terbentuk berbagai macam unsur lingkungan binaan.  Bentuk dan ukuran unsur lingkungan binaan ini juga mengacu pada matra ruang, waktu dan kemampuan iptek yang sudah dikuasai dan umumnya ikut mencirikan zaman serta digunakan sebagai data semiotik (data zaman).  Data semiotik dalam bentuk binaan atau unsur lingkungan binaan ini, daya tarik wisata dapat dibina menjadi wisata pendidikan, penelitian atau sekedar sebagai kawasan bersantai menikmati sesuatu sesuai selera masing-masing.  Kawasan semacam ini biasanya selalu dikunjungi banyak orang, baik dalam negeri maupun manca negara.  Perilaku dan hubungan diantara mereka ini sudah dapat digunakan sebagai daya tarik, apalagi jika di dalam kawasan tersebut terdapat berbagai macam unsur yang berfungsi sebagai katalisator (pemicu).  Unsur binaan yang dapat berfungsi sebagai  katalisator (pemicu), dapat memicu terjadi sesuatu yang baru, baik gagasan, perilaku, rekayasa, maupun lainnya, terutama yang bersifat positif.

Kawasan Langka
Sebagai CONTOH Kawasan Langka  adalah kota Bandung “tempo doeloe” yang dibangun mengacu pada tata alam sekitarnya.  Tata alam yang merupakan paduan alami, terdiri dari topografi dataran landai yang dikelilingi pebukitan, berhutan lebat, berudara sejuk dengan beranekaragam hayati seperti burung berkicau yang mengilhami para arsitek kenamaan datang ke Dataran Tinggi Bandung.  Melalui kemampuan itulah para arsitek berhasil merancangbangun dan merekayasa berbagai macam bangunan yang arsitektur sesuai dengan tata alamnya.  Sekalipun kota Bandung dibangun dengan arsitektur yang mengacu pada tata alam, tidak direncanakan sebagai kawasan wisata.  Melalui unsur binaan berupa berbagai bangunan yang arsitekturnya yang unik, sesuai dengan tata alam, kota Bandung “tempo doeloe” berfungsi menjadi katalisator bagi penghuninya.  Akibat tanpa direncanakan, kota Bandung berkembang menjadi kota pendidikan, kota penelitian, kota wisata dan kota pertemuan.

Sebagai kota pertemuan, pada tahun 1929 gedung “Technishe Hogeshcool” (sekarang ITB) digunakan untuk kongres ilmu pengtahuan Pasifik ke-4 (“4th Pasific Science Congress”), merupakan pertemuan Internasional yang terhormat di kawasan samudera Pasifik pada saat itu.  Hal ini dapat dijumpai juga di daerah pemukiman pertambangan yang besar.  Baik yang ada dikawasan pemukiman kayawan pertambangan minyak bumi di Palembang, Balikpapan, pertambangan timah Bangka maupun pertambangan batu bara di Sawahlunto dan lainnya.

Kota Bandung “Tempo doeloe” yang teratur dan rapi tata ruang serta kegiatan hidup penduduknya, ditata seperti menata pemukiman di kawasan perusahaan.   Pemintakatan  pemukiman ini tampaknya ditujukan untuk mengendalikan tata ruang yang sudah direkayasa  demikian indah, sehingga kemungkinan terjadi pengembangan pemukiman yang tak terkendali dapat dihindarkan.  [Pemintakatan (bahasa Inggris: zoning) adalah metode perencanaan penggunaan tanah yang digunakan oleh pemerintah lokal di sebagian besar negara maju.]

Kota Bandung yang indah, ternyata tidak mampu mengendalikan tataruangnya.  Hal ini disebabkan perjalan sejarah akibat terjadi perang Dunia II (1941 – 1945).  Perang Kemerdekaan (1945 – 1949) dan gejolak lainnya yang terjadi sejak 1950 hingga 1965.  Akibatnya daya dukung kota Bandung yang demikian terbatas, tidak mampu menampung penduduk (jumlah) yang makin berkembang dengan segala hajat hidupnya.  Itulah riwayat ringkas kota Bandung yang sekarang sudah demikian padat.  Apalagi disekitar Bandung sudah dibangun pusat kegiatan kerja, seperti industri, kawasan atau obyek wisata alam, kawasan wisata minat khusus dll. Kawasan wisata minat khusus ini umumnya terbatas wisatawannya.  Itulah sekilas kota Bandung “Tempo doeloe”

5). Daya Tarik Wisata Minat Khusus
Sasaran daya tarikwisata minat khusus sangat banyak, tetapi memerlukan perekyasaan agar diperoleh pasar yang bermutu walaupun jumlahnya kecil.  Arti bermutu disini adalah wisata yang akan hadir umumnya (akan lama disuatu tempat) dan pengeluarannya cukup banyak.  Mereka ini umumnya terdiri dari para pakar ilmu (teoritisi) maupun mereka yang ingin mencari hiburan dengan menikmati suatu tata alam yang berbeda dengan lingkungan hidupnya sehari hari.  Para wisatawan minat khusus biasanya dalam jumlah yang kecil baik kelompok kegiatan kerja terpadu, atau kelompok keluarga yang jumlah anggotanya tidak lebih dari sepuluh orang. Para wisata semacam ini, ada kalanya  membawa berbagai peralatan penelitian yang digunakan untuk bekerja, oleh karenanya memerlukan waktu yang cukup panjang dan pengeluaran yang besar.  Ada juga yang datang untuk menghadiri pertemuan ilmiah, seperti seminar, symposium, kolokium, diskusi panel atau lainnya yang umumnya dilanjutkan dengan penelitian laboratorium atau peninjauan lapangan.  Kehadiran para pakar ilmu adakalnya berlanjut dengan proyek kegiatan kerja penelitian yang luas dan lama. Misalnya satu dua tahun lebih.  Demikian pula yang dilakukan para ahli untuk belajar atau berlatih seni tari, seni gamelan, seni ukir atau pelatihan teknik, seperti tata laksana pertanian, perikanan, keluarga berencana atau lainnya.  Mereka tetap berstatus sebagai wisatawan , sesuai peraturan hukum yang berlaku di Indonesia.  Jelaslah bahwa para wisatawan minat khusus ini yang jadi sasaran utamanya, yaitu berbagai kegiatan ilmu baik pendidikan maupun penelitian.  Demikian pula data dan informasi ilmiah berupa temuan sejarah, budaya atau lainnya. juga dapat menjadi daya tarik wisata handal bagi para pakar maupun ahli.  Banyak orang penting atau pelaku sejarah nasional ataupun  internasional, digunakan sebagai narasumber untuk menulis buku sejarah, enskilopedia atau buku pelajaran lainnya.  Tidak pula kalah pentingnya banyak wisatawan minat khusus yang mencari koleksi  lukisan sejarah, buku, naskah, benda peninggalan orang terkenal dan masih banyak lagi yang lainnya.  Daya tarik khusus ini umumnya juga terdapat di daerah yang khusus dan tidak disebarang tempat.

Daya tarik minat khusus pada umumnya juga terdapat di daerah yang khusus dan tidak terdapat disebarang tempat.  Jaringan gua yang penuh dengan stalakmit dan stalaktit misalnya hanya terdapat di darah sebaran batugamping yang sudah mengalami gejala kars dan wisata olah raga panjat tebing, hanya terdapat didaerah perbukitan dan pergunungan.   Demikian pula wisata budaya minat khusus, terdapat didaerah tertentu, misal masyakakat Kanekes (Badui) atau kampung Naga hanya di Jawa Barat, masyarakat Samosir  (danau Toba), Suku Anak Dalam di Jambi,  Nagari Pariangan (Desa Pariangan)  di Sumatera Barat, sedangkan masyarakat peladang berpindah terdapat di Sumatera atau Kalimantan.  Daya tarik minat khusus tersebar luas diseluruh dunia dan dapat dikembangkan untuk pariwisata pendidikan dan penelitian yang bernilai tinggi.  Sementara itu wisata minat khusus yang bersifat petualangan , baik dihutan balantara, di daerah sebaran gunung berapi di dasar atau di permukaan laut atau diudara, arung jeram, maupun berwisata di lingkungan masyarakat yang masih hidup primitive, dapat dibina menjadi obyek wisata yang menarik.

Perlu diketahui dan perhatian bahwa kekhususan  daya tarik wisata juga erat kaitannya dengan ekologi alami dan budaya.  Kalau ekologinya rusak, kekhususannya juga rusak atau berubah.  Oleh karena itu, pengetahuan lingkungan alam dan budaya perlu dipahami, agar mutu kekhususan daya tarikwisata tetap terpelihara dan dapat ditingkatkan.   Kekhususan daya tarik wisata bersifat tunggal karena hanya satu jenis, tetapi ada pula yang beragam, baik alami maupun budaya dan terhimpun disatu daerah misalnya pebukitan, hutan, danau, teluk, muara dan tata masyarakat.  Tata masyarakat walaupun terbatas, tetapi tetap memiliki daya tarik juga.  Oleh karena itu ada tata masyarakat pedesaan, perkotaan atau lainnya.  Beberapa kota di Indonesia ada yang sudah memiliki jati diri khusus antara lain kota Balik Papan  sebagai kota pertambangan minyak bumi, Surabaya sebagai kota pelabuhan, Yogyakarta sebagai kota budaya, Bandung sebagai kota penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, wisata makanan dan pakaian dll.  Bukittinggi dan sekitarnya dengan wisata alamnya (Ngarai Sianok, Lubang Japang, Danau danau nya (Maninjau, Tarusankamang, Talago Sonsang Singkarak), Kincir Air (menaikkan air dan penumbuk padi jadi beras, beras jadi tepung, pembangkit listrik mikro dll), kilang tebu dll.

PARIWISATA YANG BERHUBUNGAN  DENGAN  PESONA
Hal-hal yang berhubungan pariwisata dengan pesona, hendaknya penuhi yaitu 7 pesona. Disebut Sapta Pesona Pariwisata, yaitu: 1. Aman, 2. Tertib, 3. Bersih, 4. Sejuk, 5. Indah, 6. Ramah Tamah, 7. Kenangan.

  1. AMAN. Wisatawan akan senang berkunjung apabila merasa aman, tenteram, tidak takut, terlindungi dan bebas dari: 1). Tindak kejahatan, kekerasan, ancaman, seperti kecopetan, pemerasan, penodongan, penipuan dan lain sebagainya. 2). Terserang penyakit menular dan penyakit berbahaya la innya 3). Kecelakaan yang disebabkan oleh alat perlengkapan dan fasilitas yang kurang baik. 4). Gangguan oleh masyarakat, antara lain berupa pemaksaan oleh pedagang asongan, tangan jail, ucapan dan tindakan serta perilaku yang tidak bersahabat dan lain sebagainya. Jadi, aman berarti tejamin keselamatan jiwa dan fisik, termasuk milik (barang) wisatawan
  2. TERTIB. Kondisi yang tertib merupakan sesuatu yang sangat didambakan oleh wisatawan. Kondisi tersebut tercermin dari suasana yang teratur, rapi dan lancar serta menunjukkan disiplin yang tinggi dalam semua segi kehidupan masyarakat, misalnya: 1). Lalu lintas tertib, teratur dan lancar, alat angkutan datang dan berangkat tepat waktu. 2). Tidak nampak orang yang berdesakan atau berebutan. 3). Bangunan dan lingkungan ditata teratur dan rapi. 4). Pelayanan dilakukan secara baik dan tepat. 5). Informasi yang benar dan tidak membingungkan [(salah Informasi akan membingungkan) (misal: harga dan kadaluara, terutama makanan merupakan faktor penentu kunjungan, sebaiknya tentu harga dan karakterisik makanan dicantumkan, itulah Informasi), harga dan kadaluarsa, selain informasi, juga pelayanan dan mutu]. Apakan mutu?? baca: APAKAH MUTU dan BERMUTU ITU ? https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/apakah-mutu-dan-bermutu-itu/ bila makanan, baca: Mutu Produk: HALAL dan ASUH https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/mutu-produk-halal-dan-asuh/
  3. BERSIH. Bersih merupakan suatu keadaan/kondisi lingkungan yang menampilkan suasana bebas dari kotoran, sampah, limbah, penyakit dan pencemaran. Wisatawan akan merasa betah dan nyaman bila berada di tempat-tempat yang bersih dan sehat. Lebih terperinci adalah: 1). Lingkungan yang bersih baik di rumah maupun di tempat-tempat umum, seperti di hotel, restoran, angkutan umum, tempat rekreasi, tempat buangair kecil/besar dan lain sebagainya. Bersih dari sampah, kotoran, corat-coret dan lain sebagainya. 2). Sajian makanan dan minuman bersih, sehat dan halalan taiyyiban. mengenai mutu makanan baca: : Mutu Produk: HALAL dan ASUH https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/mutu-produk-halal-dan-asuh/  3). Penggunaan dan penyajian alat perlengkapan yang bersih seperti sendok, piring,     tempat tidur, alat olah raga dan lain sebagainya. 4). Pakaian dan penampilan  petugas bersih, rapi dan tidak bau tidak.
  1. SEJUK. Lingkungan yang serba hijau, segar, rapi, memberi suasana atau keadaan sejuk, nyaman dan tenteram. Untuk itu hendaklah kita semua: 1). Turut serta aktif memelihara kelestarian lingkungan dan penghijaun yang telah dilakukan masyarakat maupun pemerintah. 2). Berperan secara aktif untuk menganjurkan dan memelopori agar masyarakat setempat melaksanakan kegiatan penghijauan dan memelihara kebersihan, menanam berbagai tanaman di halaman rumah masing-masing baik untuk hiasan maupun tanaman yang bermanfaat bagi rumah tangga, melakukan penanaman pohon/tanaman rindang di sepanjang jalan di lingkungan masing-masing di halaman sekolah dan lain sebagainya. 3). Membentuk perkumpulan yang memelihara kelestarian lingkungan. 4). Menghiasi ruang belajar/kerja, ruang tamu, ruang tidur dan tempat lainnya dengan aneka tanaman penghias atau penyejuk.  5). Memprakarsai berbagai kegiatan yang dapat membuat lingkungan hidup menjadi sejuk, bersih, segar dan nyaman.
  2. INDAH. Keadaan atau suasana yang menampilkan lingkungan yang menarik dan sedap dipandang disebut indah. Indah dapat dilihat dari berbagai segi, seperti dari segi tata warna, tata letak, tata ruang bentuk ataupun gaya dan gerak yang serasi dan selaras, sehingga memberi kesan yang enak dan cantik untuk dilihat. Indah selalu sejalan dengan bersih dan tertib, serta tidak terpisahkan dari lingkungan hidup baik berupa ciptaan Tuhan, maupun hasil karya manusia. Karena itu masyarakat wajib memelihara lingkungan hidup agar lestari dan dapat dinikmati umat manusia.
  3. RAMAH TAMAH. Ramah tamah merupakan suatu sikap dan perilaku seseorang yang menunjukkan keakraban, sopan, suka membantu, suka tersenyum dan menarik hati. Ramah tamah tidaklah berarti bahwa kita harus kehilangan kepribadian ataupun tidak tegas dalam menentukan sesuatu keputusan atau sikap. Ramah, merupakan watak dan budaya bangsa Indonesia, yang selalu menghormati tamu dan dapat menjadi tuan rumah yang baik. Sikap ramah tamah ini merupakan satu daya tarik bagi wisatawan dan dikenang selamanya, oleh karena itu harus dipelihara.
  4. KENANGAN. Kenangan adalah kesan yang melekat kuat pada ingatan dan perasaan seseorang yang disebabkan oleh pengalaman yang diperoleh. Kenangan dapat berupa indah dan menyenangkan, akan tetapi dapat pula yang tidak menyenangkan. Kenangan yang ingin diwujudkan dalam ingatan dan perasaan wisatawan dari pengalaman berpariwisata dilokasi tujuan wisata (di Indonesia). Tentu yang indah dan menyenangkan. Kenangan yang indah ini dapat pula diciptakan/dibuat.

 Tulisan ini terkait dengan

Tarusankamang: Wisata Alam dan Ilmiah, Lindungi Biota air dan Ekologi Danau. https://lizenhs.wordpress.com/2014/03/15/tarusankamang-wisata-alam-dan-ilmiah-lindungi-biota-air-dan-ekologi-danau/

TUJUAN WISATA TALAGO SONSANG (TIRTASARI). https://lizenhs.wordpress.com/2016/08/17/tujuan-wisata-talago-sonsang-tirtasari/#more-3198

SIAPA DIBELAKANG “GREAT WALL of KOTO GADANG” (GWoKG). https://lizenhs.wordpress.com/2013/04/26/siapa-dibelakang-great-wall-of-koto-gadang-gwokg/

SEKILAS PENDIDIKAN MENENGAH DI BUKITTINGGI. https://lizenhs.wordpress.com/2010/03/31/sekilas-pendidikan-menengah-di-bukittinggi/

Sir Thomas Stamford Raffles Di Pedalaman Minangkabau: Kincir Air, Bercocoktanam dan Penggilingan Tebu.  https://lizenhs.wordpress.com/2013/09/11/sir-t-s-raffles-di-peralaman-minangkabau-kincir-air-bercocoktanam-dan-penggilingan-tebu/

KIKTINGGI KOTA WISATA JANJANG.  https://lizenhs.wordpress.com/2011/10/28/kiktinggi-kota-wisata-janjang/

KIKTINGGI KOTA WISATA SEJARAH. https://lizenhs.wordpress.com/2008/11/22/kiktinggi-kota-wisata-sejarah/RIWAYAT RINGKAS GEDUNG WANITA JAKARTA. https://lizenhs.wordpress.com/2012/03/19/riwayat-ringkas-gedung-wanita-jakarta-3/

Keunikan Arsitektur Gedung MPR/DPR RI.

https://lizenhs.wordpress.com/2012/11/11/keunikan-arsitektur-gedung-mprdpr-ri/

Teknologi Tepat Guna:  Menaikan Air Dengan Kincia Aia https://lizenhs.wordpress.com/2008/12/23/teknologi-tepat-guna-menaikan-air-dengan-kincia-aia/

BERAGAM MANFAAT, PENGEMBANGAN DAN KENDALA KINCIA-AIA https://lizenhs.wordpress.com/2009/01/05/beragam-manfaat-pengembangan-dan-kendala-kincia-aia/

Rumah Gadang: Rancangan Pepatah Adat Nan Mancangangkan dan Bangga. https://lizenhs.wordpress.com/2015/01/24/rumah-gadang-rancangan-pepatah-adat-nan-mancangangkan-dan-bangga/

MENGENANG Ir. ACHMAD NOE’MAN, ARSITEK MASJID SALMAN https://lizenhs.wordpress.com/2016/05/04/mengenang-ir-ahmad-noeman-arsitek-masjid-salman/#more-3069

Pustaka

Amidjaya, D. A. Tisna. (tanpa tahun).  Prinsip-prisip Dasar dan konsep-konsep Ekologi.  Bahan ajar.

Darsoprajitno, Soewarno (2002). EKOLOGI PARIWISATA: Tata Laksana Pengelolaan Objek dan Daya Tarik Wisata.  Cetakan Pertama.  Penerbit Angkasa.  Bandung.

Hoesin, Haslizen (2005). Pengantar Pengetahuan Lingkungan dan ANDAL. (diktat Kuliah).  Program Studi Manajemen Produksi.  Fakultas Manajemen Produksi dan Pemasaran. Institut Manajemen Koperasi Indonesia (IKOPIN)

Mill, Robert Chistie (2000). Turism the International Business. (Alih bahasa, Tri Budi Sastrio). Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Beberapa pustaka tidak ditampilkan.

Bila anda suka beritahu yang lain.  Terima kasih atas kunjungannya (lizen)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: