Posted by: lizenhs | May 4, 2016

MENGENANG Ir. ACHMAD NOE’MAN, ARSITEK MASJID SALMAN

MENGENANG Ir. ACHMAD NOE’MAN, ARSITEK MASJID SALMAN
Oleh Haslizen Hoesin

Kata Pengantar
Para pembaca Bukik Ranah Ilmu yang terhormat. Berikut ini anda akan membaca mengenang Ir. Achmad Noe’man, seorang arsitek Masjid, Masjid Salman. Lahir di Garut, 10 Oktober 1925 berpulang kerahmatullah 4 April 2016 pkl 15.45. di Bandung. Dishalatkan, 5 April di masjid Salman ITB pkl 9.00 dan dimakamkan di TPU Cikutra. Selain Kang Noe’man, dipaparkan pula Drs Achmad Sadali (almarhum) selintas.

Di lingkungan keluarga Salman, Pak Achmad Noe’man dan Pak Achmad Sadali disapa Kang Noe’man dan Kang Sadali. Pak Achmad Noe’man dan Pak Achmad Sadali juga seorang pendukung kegitan Pramuka (saat itu dikenal Gedep 104 – 105). Hal ini dirasakan oleh Kakak-kakak pelatih/Pembina. Di Pramuka pak Achmad Noe’man pak Achmad Sadali disapa Kak Noe’man sedangkan kak Sadali (karena beliau Mabigus Gudep). Terima kasih atas dukungan kakak-kakak melancarkan kegiatan Pramuka, semoga amal-ibadah kakak/bapak diterima Allah SWT.

Lizen awal bulan Juli 2014 ke Birano bersilaturrahim kepada kang Noe’man. Anak beliau Fauzan sedang ada di Birano, perbincangan kami diawali kenangan tentang Pramuka ITB (Anak Kang Noe’man: Irfan, Nazar, Fauzan dan Ilma adalah Anggota Pramuka Gudep 104-105), kemudian mengenai Masjid berlanjut ke Masjid Salman.
Para pembaca BRI yang terhormat, anda membaca tiga tulisan pendek mengenai masjid dan komentar pendek dari anggota Pramuka. Mengenai Pramuka ITB baca selengkapnya SEJARAH PEMBENTUKAN KEPANDUAN DI KAMPUS ITB dan KEGIATAN LATIHAN https://lizenhs.wordpress.com/2014/05/23/sejarah-pembentukan-kepanduan-di-kampus-itb-dan-kegiatan-latihan/

Pertama, masjid Salman, hasil silaturahim Lizen dengan Kang Noe’man.

Kedua, pengalaman seorang penyelegara Puskesman Ciparai Kabupaten Bandung Ahmad Rofi’ Usmani membangun masjid di Puskesmas tempat dia bekerja, tentang awal mula Masjid di lahan Puskesmas Pakutandang Ciparai Bandung dibangun. Diposting oleh: Handiar Naming, alumni Pramuka Gudep 104-105 di group WA Pramuka. Terima kasih kak Handiar yang telah mengizinkan untuk dikutip dan dimuat di Bukik Ranah Ilmu.

Ketiga, masjid LIPI, pengalaman DKM masjid LIPI mendirikan masjid. Tulisan ini disusun berdasarkan silturrahim Lizen awal April 2016 dengan pak Sujadno dan pak Nanan sebagai anggota pengurusan DKM Masjid LIPI Bandung, karena pak Ade Suriadarma (Ketua DKM) sedang sakit, mereka menyarankan mengenai pembangunan masjid LIPI lengkapi dari http://masjidlipibandung.org/2016/04/06/mengenang-achmad-noeman-sang-arsitek-masjid-lipi-bandung/. Mudah-mudahan memenuhi apa yang diinginkan, sebagai bahan tulisan kata beliau.

Keempat, dilanjutkan komentar mantan anggota Pramuka Gudep 104-105; Ririn (Wuryantari) dan Heru Absoro. Mudah-mudahan tiga Tulisan Masjid dan komentar anggota pramuka menjadi bahan renungan, teladan dan pelajaran bagi anda pembaca Bukik Ranah Ilmu (BRI), para Arsitek dan anggota Pramuka. Selamat membaca, semoga bermanfaat (lizen).

Pendahuluan
Sebelum memaparkan tentang Masjid, terlebih dahulu disepakati penamaan dinding Masjid, agar terdapat kesamaan pemahaman/bahasa dalam paparan ini.

Dinding Masjid
Pertama ada yang menyebut Dinding Barat disebut jaga Dinding Depan. Pada Dinding Depan terdapat Ceruk disebut Mihrab. Di Mihrab tempat imam memimpin shalat, terdapat Mimbar tempat khatib ber Khutbah. Dinding Depan disebut juga dinding Qiblat. Kedua Dinding Timur saling berhadapan dengan dinding Qiblat (bila berada dalam masjid), disebut Dinding Belakang. Ketiga Dinding Kanan dan Kiri. Bila Qiblat di arah Barat, Dinding Kanan disebut Dinding Utara dan Dinding Kiri disebut Dinding Selatan.

Penamaan dinding: Depan (barat), Belakang (timur), Kanan (utara) dan Kiri (selatan) hanya berlaku untuk masjid yang berada dibelahan bumi timur Ka’bah (Negara-negara: Asia Selatan, Asean, Timur Leste, Papua Nugini, Tiongkok, Korea, Jepang, Australia, New Zealand dll)

Untuk daerah lain, yang berada disebelah barat, utara dan selatan Ka’bah tentu akan berbeda sebutan dinding. Tapi untuk Dinding Depan tetap namanya yaitu dinding Qiblat (tempat imam memimpin shalat) dan dinding belakang adalah dinding yang berhadapan dengan dinding Qiblat.

Dinding dan langit-langit sangat berperan terhadap kenyamanan (Pendengaran, Pencahayaan dan Kesejukan). Kenyamanan Pendengaran, Pencahayaan dan Kesejukan, istilah lain disebut Tata Suara, Tata Cahaya dan Tata Udara. Mengenai Tata Suara, Tata Cahaya dan Tata Udara baca https://lizenhs.wordpress.com/2013/06/30/fisika-bangunan-tata-udara-alami-tata-cahaya-alami-dan-tata-suara-alami/ Dinding dan langit-langit dapat dibuat berbagai perlakuan untuk mendapatkan kenyamanan pendengaran, cahaya alamiah dan kehangatan alamiah. Bila tak memuaskan baru dilakukan secara buatan seperti Amplifier, lampu dan Air Conditioning (AC).

Masjid Ijtihad Kang Noe’man
Lizen, Juli 2014 bersilaturahim ke tempat kang Noe’man di jalan Ganesha, berbicang-bincang mengenai Masjid (kenapa masjid Salman tidak berkubah dan tidak ada sajadah panjang dihamparkan di lantai ruang utama masjid).

Mengenai Masjid Salman kenapa tidak ada kubah dan hanya ada garis shaf, Kang Noe’man menjelaskan dasarnya adalah Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah. Kang Noe’man mengaku tidak menemukan ketentuan mengenai kubah, tiang dan lantai dalam Al Qur’an dan Hadist. Kang Noe’man hanya menemukan petunjuk pada Surat Al Baqarah, Surat Al Isra’ dan hadist tentang shalat sebagai berikut.
Surat Al Baqarah (2) ayat 170 yang artinya: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, ”Mereka menjawab (tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”
Surat Al Isra’ (13) ayat 27 artinya: “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.

Hadist Rasulullah Menurut kang Noe’man petunjuk yang rinci hanyalah mengenai shalat. Beliau merujuk sabda Rasulullah Muhammad SAW yang artinya: “Salatlah kamu seperti salatku”. Dalam shalat berjamaah, imam harus punya tempat tersendiri di depan. Selanjutnya Kang Noe’man menyatakan. “Syarat shalat berjamaah, adalah bershaf, bahkan Sayyidina Umar meluruskan shaf itu pakai pedang. Nah…, saya ingat itu”. Ini berarti jamaah berdiri harus tertib di belakang iman dalam shaf dan saling berdekatan dalam satu shaf. Keteraturan seperti ini tentu memerlukan ruangan tanpa kehadiran yang menghalangi kedekatan (ketersambungan) antar jamaah pada suatu shaf. Jadi jelaslah bahwa kesempurnaan shalat itu harus lurus dan rapat (tidak terputus).

Menurut kang Noe’man: Kedua ayat dan sabda Rasulullah itulah mengharuskan saya sebagai muslim untuk aktif ber-ijtihad menggunakan ilmu yang dimiliki dan mendahulukan aturan dari Allah dibandingkan dengan tradisi yang ada. “Kalaupun salah, ijtihad itu tetap dapat pahala satu,” Memang, berat menghilangkan kubah dari rancangan masjid, karena itu kan “ciri masjid selama ini” :Kata Kang Noe’man.

Kubah, menurut kang Noe’man: bukan identitas masjid. Konstruksi atap Masjid berbentuk kubah (bawang), adalah konstruksi gaya arsitektur Bizantium, ini bisa dilihat pada Masjid Aya Sofia di Istambul Turki, yang terkenal dengan kubah birunya. Perhatikan sejarah, Aya Sofia semula berfungsi sebagai gereja kemudian digunakan jadi tempat shalat. Demikian juga Gedung Capitol di Washington Amerika Serikat, bahkan gedung Kremlin di Moskow. “Semuanya berkubah.” :kata Kang Noe’man.

Sikap Kang Noe’man
Kang Noe’man juga pernah berhadapan dengan tradisi lama, saat mendirikan bangunan masjid yaitu menanamkan kepala kerbau, beliau menolak hal itu, bahkan bersedia memilih mundur, meskipun masjid itu dibangun oleh petinggi negara saat itu (Masjid itu terkenal di Jakarta). Kang Noe’man mendatangi sejumlah pejabat dan tokoh Islam untuk meminta pendapat mereka tentang penanaman kepala kerbau. Alhamdulillah, rencana penanaman kepala kerbau itu tidak dilaksanakan (dibatalkan).

Pesan dan Doa Kang Noe’man
Khutbah Iedul Fitri 1410 H – 1990 M Kang Noe’man, berjudul “Menata Masa Depan”, berpesan agar umat Islam memiliki optimisme di abad yang penuh tantangan ini. Pesan beliau: “Sebagai kaum Muslimin, kita memang meyakini bahwa apa dan bagaimana pun yang akan terjadi pada masa depan, pada akhirnya yang akan jadi penentunya adalah Allah SWT. Akan tetapi orientasi pandangan masa depan, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Al Quran yaitu: jadikan masa depanmu lebih baik dari kehidupanmu kini. Tidak bisa tidak, harus mampu mengantisipasi berbagai hal dan kecenderungan masa datang.

Di akhir Khutbah Kang Noe’man berdoa, “Jadikanlah para pemimpin, dosen, karyawan dan mahasiswa menjadi manusia-manusia yang makin dekat pada-Mu lewat ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang mereka pelajari. Jadikanlah mereka ulil albab, seperti yang Engkau sendiri sebut di dalam Al Quran. Sehingga mereka menjadi pribadi-pribadi yang mampu mensyukuri nikmat dan anugerah yang Engkau berikan.”

Kang Sadali
Drs Ahmad Sadali (almarhum) kakak Kang Noe’man adalah seorang Seniman mengatakan pada Khutbah Iedul Fitri 1396 H – 1976 M. bahwa kehadiran Nabi Muhammad SAW membelokkan perhatian seniman dari benda realitas kejalan dunia mimpi, garis-garis dan warna-warna. Memunculkan seni mengarah kepada yang disebut lukisan non objectitive. Pada Khutbah Iedul Fitri 1396 H. Judul: Al Qur’an Sumber Tuntutan yang Mengetuk Pintu Fitrah Manusia, di Institut Teknologi Bandung. Kang Sadali menyampaikan beberapa surat/ayat Al Qur’an diantaranya Surat Ar Ra’ad (13) ayat 3 dan 4. sebagai dasar seni lukis yang beliau tekuni.

Ar Ra’ad (13) ayat 3: “Dan Ialah yang membentangkan bumi dan ia menjadikan padanya gunung-gunung dan sungai-sungai dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan. Ia menutup siang dengan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau berpikir”.
Ar Ra’ad (13) ayat 4: “Dan di bumi (ada) beberapa bidang tanah yang berdekatan (letaknya) dan (ada) kebun-kebun anggur dan tanaman-tanaman korma yang berumpun, disiram dengan satu macam air, dan kami lebihkan sebagian dari atas sebagian tentang rasa. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda bagi kaum yang memakai akalnya”.

Kang Sadali melanjutkan: Andaikan saya seorang Geolog pasti saya akan menghayati ayat ini sebagai rangsangan pada pengembangan ilmu Goelogi yang berbeda persepsinya dengan seorang, fisika, biologi pertanian dll. Bagi seorang seniman bentangan-bentangan bumi adalah pola-pola yang indah beriramakan gerak-gerak horizontal, warna warni yang ada pada bidang itu, disatukan, dikeraskan atau dilembutkan oleh cahaya matahari yang jatuh padanya. Bilamana pohon-pohon tumbuh diatasnya, maka sinar matahari akan menyebabkan garis-garis horizontal pembawa irama, nyanyian hati. Diwaktu pagi panjang-panjang garis itu, karena matahari masih rendah. Kesannya akan penuh kontrast, lain lagi diwaktu petang.

Kang Sadali (mengutip pendapat Jonson yang diditulis pada “The Story of Art”) Jonson mengatakan bahwa Muhammad membelokkan perhatian seniman masa sebelum Islam yaitu dari benda realitas kebentuk garis-garis dan warna-warna.

MASJID SALMAN.
Masjid Salman boleh dikatakan digarap oleh dua bersaudara Kang Noe’man dan Kang Sadali (seorang Arsitek dan Seni Rupa) yang saling mengisi. Konstruksi (beton) digarap kang Suhud dan kan Luthfi. Akustik Irwan Syarkawi dan/atau kelistrikan Syafri Martinus. Banyak lagi mahasiswa berbagai perguruan tinggi Bandung yang aktif dalam berbagai kegiatan Salman selama pembangunan, sesudah pembangunan dan pengembangan Salman sampai sekarang, sekarang sebagian telah jadi Alumni Salman ITB dan tersebar di Indonesia di berbagai keahlian (yang ditekuni), selamat bekerja dan sukses. Agar lebih jelas bagian-bagian Masjid Salman, lihat Sket/denah (gambar 1) pada: Tata Suara (Akustik) Masjid: Kasus Masjid Salman ITB https://lizenhs.wordpress.com/2010/03/22/tata-suara-akustik-masjid-kasus-masjid-salman-itb/

Berikut paparan tentang:
Atap dan Tiang, Dinding, Lantai, Sajadah, Tempat wudhu’ dan WC, Mihrab Mimbar dan Koridor, Unit-unit Kegitan dan lain-lain.

Atap Dan Tiang.
Apa dasar atap melengkung keatas? Kang Noe’man menjelaskan sebagai berikut: Diatas tiang-tiang terdapat atap (pada Salman atap, pada dasarnya sebuah sebuah balok persegi). Tentu tak indah dipandang bila berbentuk balok/kotak tebal dan besar, maka pinggirnya dilengkungkan. Lengkung juga berfungsi menampung air hujan dari atap yang relatif datar dan tipis ditengah. Konstruksi atap dirancang tipis jadi sederhana. Artinya materil atap ringan, tak boros bahan dan tak perlu banyak tiang, sehingga shaf tidak terputus. Ide atap ini disampaikan kepada Kang Luthfi (Ir. A. M. Luthfi) dan kang Suhut (Ir. Ridwan Suhut) (keduanya sarjana Sipil) yang mengerjakan konstruksi masjid. Kang Suhut dan Luthfi menyetujui, maka ide kang Noe’man terlaksana. Ya …, kang Achmad Noe’man, lebih menekankan pada “fungsi.

Dinding
Dinding kanan-kiri dan belakang Masjid Salman terbuat dari kayu, kaca dan tembok, berpintu lebar. Cahaya alamiah dan udara bebas masuk, kedalam ruangan. Ruangan sejuk (adem) dan cahaya alamiah cukup untuk membaca dan menulis, saat langit cerah dan berawan sebagian sehingga menjadi hemat energi. Dinding Qilat berupa tembok dan tiang balok, bila dilihat saat masuk masjid dari pintu belakang, atau dari kejauhan seolah-olah terlihat garis-garis tipis (kecil) dan tebal (lebar). Diantara garis-garis tersebut ditengah terdapat kotak hitam. Dinding: depan, kanan dan kiri dan belakang polos, tidak ada kaligrafi.

Dinding belakang bagian luar Masjid bergaris-garis tebal tegak lurus berwarna-warni, rancangan kang Sadali. Garis-garis berwarna warni itu akan terlihat langsung bila memasuki lokasi masjid dari arah barat. Apakah arti warna-warna ini? tak ketahui, karena tempat bertanya sudah tiada. Barangkali Kang Sadali terinspirasi dari surat Ar Ra’ad (13) ayat 3, 4 Al Qur’an dan pendapat Jonson (dikutip Gomrich The Story of Art). Sebagaimana ditulis pada Khutbah Iedul Fitri 1396 H beliau.

Lantai, Sajadah, Tempat wudhu’ dan WC
Mengenai tak ada hamparan sajadah panjang, pembicaraan hanya sedikit, terhenti karena azan Dhuhur, kami pergi Shalat ke Salman, selesai shalat berpisah, pembicaraan tidak berlanjut.

Lantai masjid Salman ditutup dengan parket dan dilantai hanya ada tanda garis Shaf, jadi tak diperlukan lagi sajadah panjang. Seandainya ada sajadah panjang berarti mubazir. Apalagi bila sajadah panjang itu terdapat pola, merupakan gabungan beberapa sajadah perorangan [dengan kata lain seperti sajadah perorangan yang disambungkan satu dengan yang lain (dirapatkan) dan mempunyai batas-batas]. Pola sajadah seperti ini cendrung shaf shalat berjamaah tidak rapat, karena yang berdiri diatas sajadah terpengaruh dengan pola tersebut, itu berarti kesempurnaan shalat berkurang. Shalat berjamaah itu harus lurus dan rapat (bersinggungan bahu dengan bahu jamaah yang bersebelahan pada satu shaf), itulah hasil pembicaraan pendek dengan Kang Noe’man. Dibagian belakang dalam Masjid terdapat lantai atas tempat shalat perempuan.

Tempat wudhu’ Masjid Salman berdampingan dengan tempat WC diselelah kiri (selatan) bangunan Masjid. Lubang WC [bulat telur (lonjong)] dan urin, mengarah Utara dan Selatan. Rancangan WC dan urin, pengaturan seperti itu didasarkan Sunnah Rasul melarang manusia untuk tidak buang air kecil dan besar menghadap kearah dan membelakangi qiblat.

Koridor, Mihrab dan Mimbar
Koridor (Selasar) Masjid terletak di kanan, kiri dan belakang. Dinding depan Masjid terdapat ruang antara dinding Qiblat (dalam Masjid) dengan dinding luar depan masjid, seolah seperti selasar (koridor) yang ditembok berbentuk ruangan tertutup. Ruang tersebut digunakan sebagai tempat peralatan Sound System dan ruang penyimpan peralatan kerperluan Masjid. Dari selasar kanan dan kiri terdapat pintu masuk menuju ruang Mihrab

Di ruang mihrab terdapat pintu untuk masuk keruang operator sound system, juga menuju selasar (koridor) kiri (selatan) dan ke tangga (tempat wudhu’/WC). Jadi dari (pintu) selasar dapat menuju mihrab. Pintu tersebut digunakan Imam atau penceramah masuk mihrab, bila bagian depan masjid telah terisi jama’ah. Sehingga imam dan penceramah menuju mihrab tidak melangkahi bahu jama’ah atau berjalan di depan shaf jama’ah. Pintu juga digunakan imam/penceramah yang ingin berwudu’ atau ke kamar kecil (WC).

Mimbar berukuran kecil tidak menjorok kedepan, artinya tidak memotong shaf jama’ah. Bentuknya sederhana dan lebih penekanan kepada fungsi.

Tata Suara
Di ruang Mihrab diatas Mimbar terdapat Kotak. Kotak ditutup dengan kain hitam serat jarang disebut Kotak Hitam. Kotak hitam melambangkan Ka’bah kata kang Nu’man dan kang Sadali. Dalam kotak ini ditempatkan speaker kotak kolom lima arah. Mengenai speaker masjid Salman baca selengkapnya pada: Tata Suara (Akustik) Masjid: Kasus Masjid Salman ITB https://lizenhs.wordpress.com/2010/03/22/tata-suara-akustik-masjid-kasus-masjid-salman-itb/ Akibatnya kotak pengeras suara tidak terlihat penempatannya. Sekarang sudah terjadi pengembangan peralatan tatasuara terlihat dari penempatan kotak spaker.

Menara masjid tidak diatas bangunan Masjid, berdiri pada pondasi sendiri di samping belakang Masjid. Di Menara ditempatkan Speaker corong yang cukup (tidak banyak). Dalam pembangunan Masjid, menara selesai lebih dulu, peresmian menara bersamaan  dengan peresmian Pramuka Salman, yaitu Selasa sore, 22 Juni 1965. Setelah peresmian dilanjutkan dengan Ceramah disampaikan oleh Prof. T.M. Soelaiman dengan tema surat Al-Ashr. Hadir antara lain Wakil Gubernur Jawa Barat, Walikota Bandung, wakil Pangdam Siliwangi dan Panca Tunggal jawa barat.

Langit-langit masjid tinggi dan rata dengan bahan MDF (Medium Density Board) warna coklat. Bahan tersebut mengurangi pantulan suara khutbah atau ceramah dari speaker sehingga mengurangi/ meniadakan terjadi gema.

Shalat Jum’at Pertama
Masjid Salman pertama kali digunakan untuk shalat Jum’at pada tanggal 5 Mei 1972, dibuka oleh Rektor ITB Prof. Dr. Doddy A. Tisna Amidjaja (Rektor ITB periode 1969 – 1976). Khatib adalah Prof. Ir T.M. Soelaiman. Imam, Abdul Latif Aziz dan Muazzin, Endang Saifuddin Anshari.

Laboratorium Kerohanian
Masjid Salman ITB oleh Prof. Dr. Doddy A. Tisna Amidjaja disebut sebagai “laboratorium kerohanian” yang harus berfungsi setiap hari untuk dapat memberi perimbangan kepada laboratorium lainnya.

Unit-unit Kegitan
Terdapat Unit-unit kegitan yaitu: KARISMA; PAS; LPES; Pustena; Bioter; SEC; MATA; UPTQ; KORSA; AKSARA dan Asrama Salman (Putra dan Putri). Rumah Amal Salman ITB (terdiri dari Amal Pendidikan; Amal Pemberdayaan dan Ekonomi; Amal Kemanusiaan; Amal Syiar; Amal Kesehatan dan Lingkungan; Konsultasi Zakat). Sekitar masjid terdapat Perpustakaan, Kantin, Mini market, Bank dan ruang-ruang untuk berbagai kegiatan unit-unit para aktifis masjid.

Parket
Apa itu Parket? Parket berasal dari istilah bahasa asing, yaitu: parquette. Parquette berarti menyusun potongan-potongan kayu dapat juga diganti dengan batang kelapa dll. Lantai parket, bersifat natural, hangat, tidak dingin bila duduk dan berjalan diatasnya (berbeda dengan Keramik atau marmer). Jadi bangunan berlantai parket tidak dingin, tidak memerlukan lagi karpet.

MASJID PUSKESMAS PAKUTANDANG CIPARAI BANDUNG

Ciparai, 1987
Mas, sebaiknya tanah kosong ini dimanfaatkan untuk apa? Lahan luas begini kok tampak kosong”: Demikian ucap istri saya (Rofi). Kala itu saya [AHMAD ROFI USMANI – (Rofi)] sedang menjabat sebagai kepala Pusat kesehatan Masysrakat (Puskesmas) Pakutandang Ciparai, kabupaten Bandung, kepada saya (Rofi). Kala itu kami menempati rumah dinas Puskesmas yang memiliki luas 4000 meter persegi. Selain rumah dinas dan bangunan Puskesmas, di lahan tersebut juga telah kami lengkapi dengan balong alias kolam ikan mas dan nila. Meskipun demikian, lahan tersebut terasa masih kosong.

Bagaimana jika di ujung lahan kita dirikan Masjid? Jawab saya: “Oh, ide yang bagus, sebaiknya kita dirikan masjid kecil, tapi indah, yang pas dengan lahan itu. Mas kenal dengan arsitek yang demikian itu?” Saya kenal: “Pak Achmad Noe’man, arsitek Masjid Salman ITB. Tapi kita kan tidak banyak dana”. Coba temui beliau: “Barangkali beliau berkenan merancangkan masjid kecil tapi indah seperti yang didambakan. Siapa tahu, beliau membantu kita”.

Beberapa hari setelah perbincangan di hari Ahad itu, saya (Rofi) pun menemui Pak Noe’man di biro Arsitek beliau, Birano, di jalan Ganesha no 3 Bandung, tidak jauh dari dari kampus ITB. Setelah bertegur sapa, saya (Rofi) kemukakan kedatangan. “Rofi, sepekan lagi datang kesini ya. Insya Allah rancangan masjid yang Rofi maksudkan sudah saya siapkan.” :Jawab beliau.

Benar, sepekan kemudian saya (Rofi) datang menemui beliau. Masya Allah, ternyata rancangan Masjid itu benar-benar telah selesai. Ketika saya (Rofi) menanyakan tentang biaya rancangan, beliau hanya tersenyum saja dan mengucapkan dengan pelan. “Rofi, Jangan pernah tanyakan lagi biayanya ya. Doakan, semoga hal itu dapat menjadi amal saya kelak, ketika saya menghadap Allah Swt”. “Jazakumullah ahsanal jaza, pak Noe’man, semoga doa bapak dijabah Allah Swt. Aamiin”. Sejak itu, saya (Rofi) menganggap beliau sebagai ayah, pencerah dan sahabat. Setahun kemudian, masjid kecil dan indah itu tegak di lingkungan Puskesmas Pakutandang.
Ciparai, 2016

Terakhir saya (Rofi) bertemu dengan beliau, ketika beliau berkunjung ke Pasantren Mini kami di Baleendah kabupaten Bandung. Beliau yang sudah berusia 90 tahun datang didampingi sahabat yang juga menglola penerbit di Bandung, Ammar Haryono, berkunjung ke Pasantren kami. Sekitar dua jam beliau berada di Pasantren kami.
Itulah kenangan terindah yang “membara” dalam benak saya (Rofi). Ketika tadi siang saya (Rofi) mendengar Bapak Ir Achmad Noe’man berpulang. Ternyata sebulan setelah kunjungan itu beliau berpulang, Innalillahi wa Innalillahi raji’un.

MASJID LIPI BANDUNG

Pak H. Ade Suriadarma (Ketua DKM LIPI Bandung) menjelaskan bahwa Masjid LIPI terletak di Komplek LIPI Jalan Sangkuriang Bandung adalah rancangan Almarhum pak Achmad Noeman.

Pak H. Ade Suriadarma menceritakan kebaikan Almarhum pada saat pembangunan Masjid LIPI Bandung. Masjid dibangun antara tahun 1998 – 2002. Yang menggugah Ketua DKM adalah Almarhum tidak pernah berhitung untung rugi dalam membangun Masjid. Dimasa pembangunan berlangsung panitia pembangunan kehabisan Dana dan Alhamdulillah masjid LIPI Bandung pembangunannya dapat dituntaskan.

Waktu itu tahapan pembangunan masjid yang belum dapat diselasaikan oleh panitia pembangunan, adalah Menara Masjid Setinggi 25 Meter. Karena panitia betul-betul telah kehabisan dana pembangunan. Melalui putra beliau, yaitu Fauzan Noe’man, Almarhum menawarkan bantuan untuk menyelesaikan menara masjid LIPI Bandung dengan seluruh biaya pembangunan dari beliau. Namun panitia menolak secara halus, merasa malu kepada beliau, karena dari sejak perancangan sampai pembangunan telah banyak beliau berinfak untuk masjid LIPI Bandung ini. Ketua DKM menjelaskan bahwa Almarhum tidak pernah berhitung untung rugi dalam membangun Masjid. “Itulah yang meggugah saya” kata Ketua DKM

Semoga saja seluruh kebaikan Allmarhum dicatat oleh Allah SWT sebagai amal jariah yang pahala akan terus mengalir kepada beliau sampai dihari penghisaban diahirat kelak sehingga Almarhum dicatatkan sebagai Ihsan yang muksinin. Amiin
Bandung, 6 April 2016, DKM LIPI Bandung

MASJID AL-KASIAH (MASJID BESI)

Karya Achmad Noe’man selain masjid-masjid diatas (Salman, Puskesmas dan LIPI) adalah Masjid Al Kasiah.  Masjid yang dibangun dengan struktur besi baja, dari tiang hingga kerangka atap. Masjid ini juga dikenal dengan masjid besi.

Masjid besi terletak di Jalan Kosambi, Klari, Karawang, Jawa Barat. Merupakan masjid keluarga Wongsoredjo sehingga dana pembangunan berasal dari ahli waris.

Penggunaan besi diseluruh bahan bangunan masjid menurut Sritomo adalah keinginan dari Sisman. Selain dari kreatifitas Pak Achmad Noe’man.  Sisman berharap pembangunan masjid dapat berlangsung cepat dengan kerangka besi tersebut.

Sritomo paman Sisman mengaku tidak mengenal dekat dengan Achmad Noe’man. Tetapi dia tahu bahwa Achmad Noe’man merupakan arsitek masjid yang tak pernah meninggalkan ciri khasnya, masjid tak berkubah.

Sritomo merupakan anak dari Soekandar Wignjosoebroto yang memiliki ide untuk membangun masjid. Namun proses pembangunan masjid ditangani langsung oleh paman Sritomo yaitu Sisman.  Mohammad Sisman bin Wongsoredjo, putra bungsu Wongsoredjo.  Masjid  diresmikan oleh Sisman tahun 1998.

Ketua pengurus masjid Al Kasiah sebelumnya yaitu almarhum Soetandyo Wignjosoebroto, adalah kakak Sritomo

Sember:  http://www.republika.co.id  /16/04/06/

Masjid – masjid Lain

Selain mesjid Salman ITB, Masjid Puskesmas Ciparai, Masjid LIPI Bandung dan Masjid Al Kasiah (Masjid Besi) melalui tangan Achmad Noe’man, lahir mesjid-mesjid seperti Masjid Al-Furqan UPI Bandung; Masjid Darul Ichwan kampus IKOPIN Jatinangor; Masjid kampus IPB Al-Ghifari Bogor; Masjid At-Tin Jakarta; Masjid Al-Markaz Al-Islami di Makassar; Masjid di lingkungan RS Al Islam Bandung; Mushalla Bangbayang Bandung dll.Tak hanya di dalam negeri saja, terdapat pula di mancanegara. Diantaranya, Mesjid Istiqlal di Bosnia; Mesjid renovasi dari bangunan Gereja di Amsterdam, Belanda; Masjid Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika selatan dll.

Saat ditanya jumlah mesjid yang pernah dirancang, kang Noe’man hanya mengatakan: “saya lupa menghitungnya”. Kang Noe’man hanya berharap, setiap Masjid yang dirancang/dibuat bermanfaat bagi umat. Diantara beberapa Masjid yang dirancang kang Noe’man, anak beliau Fauzan ikut juga berperan.

KOMENTAR ANGGOTA PRAMUKA
Ririn Soedarsono, berkata: “Beliau (Almarhum) Arsitek teladan”. Heru Absoro, berkata: “Saya ingat ketika berterimakasih atas dukungan dana dan moril Almarhum dan semua orang tua pendukung Gudep, selalu mengatakan ini investas untuk pendidikan via jalur Pramuka, mari kita lihat hasilnya 15 tahun lagi”. Ternyata beliau-beliau benar”.

PUSTAKA
Noe’man, Ahmad (1990). Menata Masa Depan. Khutbah Iedul Fitri 1410 H, di Institut Teknologi Bandung.
Sadali, Ahmad (1976). Al Qur’an Sumber Tuntutan yang Mengtuk Pintu Fitrah Manusia. Khutbah Iedul Fitri 1396 H, di Institut Teknologi Bandung.
http://masjidlipibandung.org
http://salmanitb.com
http://www.republika.co.id  /16/04/06/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: