Posted by: lizenhs | January 25, 2016

CARA MENGHITUNG SHU

CARA MENGHITUNG SHU
Oleh: Haslizen Hoesin

Kata Pengantar
Para pembaca BRI yang terhormat, tulisan ini dikembangkan dari diskusi kecil di gubuk/saung warga ditempat ambo tinggal, karena Koperasi ditempat tinggal akan melaksanakan Rapat Anggota Tahunan.
Para pembaca BRI yang budiman, tulisan ini adalah satu diantara sekian banyak tulisan yang tersebar diberbagai media cetak dan elektronik. Tulisan ini tentu merupakan penambah wawasan Anda, pembaca BRI. Apakah Anda Pengurus, Pengawas dan/atau Anggota suatu koperasi atau Calon Anggota suatu koperasi. Atau hanya sebagai pembaca saja dan setelah membaca, hati tergerak mendirikan Koperasi……. Aamiin.
Tulisan ini dimulai dari Pendahuluan, Partisipasi, Biaya Usaha dan Biaya Organisasi Koperasi, SHU (dipaparkan secara ringkas), dilanjutkan dengan Dasar Pembagian SHU dan Rumus Menghitungnya, Penghitungan SHU Anggota Dapat Dilakukan Bila, SHU per Anggota dan Contoh Perhitungan SHU. Diketahui pula bahwa Partisipasi Anggota sangat berperan dalam memajukan usaha koperasi, kesejahteraan anggota dan masyarakat . Hal ini tergambar dari SHU yang diterima Anggota. SHU yang diterima Anggota sering pula mereka pertanyakan, diantaranya cara menghitung.
Tulisan ini semula berjudul: SHU Apa Itu…??? dan Cara Menghitungnya, materinya cukup panjang. Dipisah menjadi dua judul: SHU Apa Itu…??? dan Cara Menghitung SHU. Jadi tidaklah lengkap bila anda hanya membaca satu judul saja, sebaiknya anda mulai membaca dari SHU Apa Itu…??? kemudian dilanjutkan dengan Cara Menghitung SHU. Bila ingin membaca SHU Apa itu….??? Klik disini https://lizenhs.wordpress.com/2016/01/23/sisa-hasil-usaha-shu-apa-itu/ . Selamat membaca, semoga bermanfaat. 

Pendahuluan
Satu dari beberapa tujuan berkoperasi adalah meningkatkan kesejahteraan anggota dan masyarakat. Dari pengamatan penulis, Koperasilah satu-satunya organisasi usaha yang memperhatikan kesejahteraan anggota dan masyarakat. Karena Anggota pada koperasi adalah sebagai pemilik, juga sebagai pelanggan dari koperasi dimana dia/mereka terdaftar. Masyarakat sekitar ikut memanfaatkan pelayanan Koperasi. Peningkatan kejahteraan anggota tergambarkan dari SHU dan pelayanan yang diselenggarakan koperasi, karena keikutsertaan dalam kegiatan usaha kopersasi (disebut partisipasi anggota).

Partisipasi Anggota
Partisipasi Anggota dapat dijadikan sebagai ukuran keberhasilan koperasi. Partisipasi anggota tergambarkan oleh SHU yang diterima dalam satu tahun buku. Bagi koperasi, besar-kecil SHU dapat pula dijadikan sebagai satu dari beberapa indikator kemajuan/keberhasilan koperasi dan pelayanan manajemen koperasi kepada anggota, disebut efesiensi koperasi. Apakah efisiensi atau efisien? baca pada: PRODUKTIFITAS: Beberapa Pengertian dan Pengukurannya. https://lizenhs.wordpress.com/2015/01/12/produktifitas-beberapa-pengertian-dan-pengukurannya/#more-2493
Perlu pula diketahui para anggota, bahwa besar-kecil SHU yang diterima, dipengaruhi partisipasi anggota pada koperasi.
Dari paparan diatas jelaslah bahwa kontribusi anggota terhadap biaya koperasi terdiri dari: Kontribusi untuk menutupi harga pokok pelayanan dan kontribusi untuk menutup biaya organisasi. Kedua bentuk kontribusi itu, disebut Kontribusi Bruto Anggota.
Bila Kontribusi Bruto Anggota ditulis dalam bentuk rumus adalah sbb:
Kontribusi Bruto Anggota = Harga Pokok Pelayanan + Kontribusi Terhadap biaya Organisasi.
Pengertian Harga pokok Pelayanan dalam rumus diatas, menjelaskan bila: 1). Koperasi Produsen, adalah nilai atau harga barang/jasa yang dibayarkan koperasi kepada anggota. 2). Koperasi Konsumen, adalah nilai atau harga pokok pembelian barang/jasa yang dibeli koperasi dari pasar. 3). Pada koperasi Simpan-pinjam, adalah nilai atau pokok pinjaman yang ditarik anggota dari koperasi.
Kontribusi anggota disebut kontribusi bruto, karena didalamnya masih termasuk kontribusi terhadap harga pokok pelayanan.

Biaya Usaha, Biaya Organisasi Koperasi dan SHU

Biaya Usaha

Anggota sebagai pemilik koperasi, wajib memodali koperasinya dengan menyetorkan simpanan (pokok dan wajib), untuk membiayai usaha koperasi. Biaya Usaha Koperasi, terbagi dalam dua kategori yaitu: (1) Biaya Usaha langsung dan (2) Biaya Usaha yang tidak langsung.
Untuk kepentingan praktis, maka pemenuhan biaya usaha dilakukan: Pada saat anggota membayar harga pelayanan koperasinya atau nilai barang/jasa yang diserahkan kepada koperasi untuk dipasarkan atau pengembalian pinjaman dengan bunga tertentu sebagaimana yang telah ditetapkan koperasi. Jadi nilai (harga) pelayanan koperasi itu, mengandung beberapa pengertian, mengikuti bentuk koperasi seperti: 1). Koperasi Produsen. 2). Koperasi Konsumen. 3). Koperasi Simpan-pinjam.
Bila berbicara mengenai Kontribusi Anggota. Dipastikan bahwa Kontribusi Anggota mengikuti jenis koperasi dimana mereka berada, apakah pada Koperasi Produsen, Koperasi Konsumen dan Koperasi Simpan-pinjam.
Penerimaan atau pembayaran harga pelayanan dari anggota itu sebenarnya adalah kontribusi anggota terhadap Biaya Usaha Koperasi. Dalam kehidupan sehari-hari dalam berkoperasi, kontribusi anggota disebut Partisipasi Anggota. Penerimaan dari kontribusi anggota tersebut, oleh koperasi di-“buku”-kan sebagai “pendapatan”, sesuai dengan pasal 45 ayat (1) U.U No. 25/1992.
Dengan demikian, Pengertian Pendapatan Koperasi, sesungguhnya adalah kontribusi anggota terhadap biaya usaha koperasi. Bukan hasil penjualan sebagaimana perusahaan pada umumnya (bukan koperasi).
Jumlah kontribusi itu, disebut Kontribusi Bruto Anggota. Kontribusi Bruto Anggota bila ditulis dalam bentuk rumus sbb:
Kontribusi Bruto Anggota = Harga Pokok Pelayanan + Kontribusi Terhadap biaya Organisasi
Disebut Kontribusi bruto, karena didalamnya masih termasuk kontribusi terhadap harga pokok pelayanan.

Biaya Organisasi Kopreasi

Agar Koperasi dapat mencapai tujuannya, yaitu: Meningkatkan kesejahteraan anggota dan masyarakat, maka seluruh “sistem organisasi koperasi” harus dapat “berfungsi” dengan “baik”. Untuk menjalankan organisasi koperasi jelaslah diperlukan biaya, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan organisasi Koperasi.
Para pengelola koperasi dituntut “bekerja” secara “profesionalisasi”, agar dana yang bersumber dari kontribusi neto anggota harus digunakan secara “efisien” oleh manajemen (koperasi). Kerja yang efisien (atau hasil efisiensi) dari manajemen koperasi dalam penggunaan dana-dana tersebutlah yang menghasilkan Sisa Hasil Usaha (SHU) Koperasi.

Dasar Pembagian SHU dan Rumus Menghitungnya

Dasar Pembagian SHU adalah pasal 5 ayat 1 butir UU No 25 tahun 1992. Disebutkan bahwa Pembagian SHU dilakukan secara adil sebanding dengan besar jasa usaha masing-masing anggota. Penjelasan pasal tersebut adalah bahwa pembagian SHU kepada anggota dilakukan tidak hanya semata-mata berdasarkan modal yang dimiliki seseorang (anggota) tetapi juga transaksi. Ketentuan ini merupakan perujudan dari “nilai kekeluargaan” dan “keadilan”.

SHU Per Anggota

SHU per anggota dirumuskan sebagai berikut:
SHU (Ang) = {[TT(Ang)]/[TT (Kop)] x a } + {[TS(Ang)/TS(Kop)] x b}
dengan: TT = Total Transaksi; TS = Transaksi Simpanan; (Ang) = Anggota; (Kop) = Koperasi; a = (SHU koperasi x % SHU yang dibagikan kepada anggota) x % SHU bagian Transaksi; b = (SHU kopersasi x % SHU yang dibagikan ke anggota) x % SHU bagian partisipasi Simpanan.

Penghitungan SHU Anggota Dapat Dilakukan Bila

Penghitungan SHU per anggota dapat dilakukan bila beberapa informasi diperoleh (diketahui), tentang: Total SHU koperasi; % SHU bagian anggota; Simpanan setiap anggota; Total simpanan seluruh anggota; Transaksi setiap anggota; Total transaksi seluruh anggota; % SHU simpanan; % SHU transaksi anggota. Bila satu saja informasi tersebut tidak ada, maka SHU per anggota tak dapat dihitung.

Contoh Perhitungan SHU

Contoh perhitungan SHU, sebagai kasus adalah Koperasi Selalu Maju dan Sejahtera (“SMS”). Pada tahun 1999 memperoleh SHU sebesar Rp 10 juta. Dalam setahun jumlah simpanan anggota sebesar Rp150 juta, serta jumlah transaksi anggota sebesar Rp 250 juta. Menurut Anggaran Dasar, 40% SHU dibagikan kepada anggota saat Rapat Anggota Tahunan (RAT). [Dari 40 % SHU yang dibagikan kepada anggota: 40 % untuk partisipasi Modal (M) dan 60% SHU untuk Transaksi (T) anggota].
Berdasarkan ketentuan tersebut, besar SHU yang dibagikan kepada anggota 40% adalah: Rp 4.000.000,-. (Rp 10.000.000,- x 40%) Dari jumlah tersebut : 60% SHU untuk Transaksi (T) anggota adalah Rp 2.400.000,- (Rp 4.000.000,- x 60%) dan 40% SHU untuk partisipasi Modal (M) anggota adalah Rp 1.600.000,- (Rp 4.000.000,- x 40%).
Pak Asepti anggota koperasi dengan simpanan Modal (M) Rp 500.000,- dan aktif melakukan Transaksi (T) Rp 1000.000,-. Pada akhir tahun Buku pak Asepti menerima SHU (M&T) adalah Rp 14.933.33,- Penjelasannya sbb:
SHU (T) = (1000.000 /250.000.000) x 2.400.000,- = Rp 9.600,-
SHU (M) = (500.000/150.000.000) x 1.600.000,- = Rp 5.333.33,-
Jadi SHU yang diterima pak Asepti adalah Rp 9.600,- + Rp 5.333.33,- = Rp 14.933.33,-

Pak Adaman anggota koperasi dengan simpanan Modal (M) Rp 800.000,-, tidak melakukan Transaksi (T) berarti Rp 0,-. Pada akhir tahun buku pak Adaman menerima SHU (M&T) adalah Rp 8.533.33,- Penjelasannya sbb:
SHU (T) = (0/250 .000.000) x 2.400.000,- = Rp 0,-
SHU (M) = (800.000/150 000.000) x 1.600.000,- = Rp 8.533.33,-
Jadi SHU yang diterima pak Adaman adalah Rp 0,- + Rp 8.533.33,- = Rp 8.533.33,-

Dari data dan perhitungan SHU, ternyata Asepti mendapat SHU lebih besar dari Adaman, meskipun Adaman memiliki simpanan Modal (M) lebih besar dari Asepti. Perbedaan terjadi karena Adaman tidak melakukan Transaksi, sedangkan Asepti melakukan Transaksi. Jelas terlihat bahwa dalam berkopersi partisipasi Transaksi (T) sangat berperan dalam mendapatkan SHU.

Kesimpulan
Kesimpulan paparan mengenai SHU Koperasi, Anda sendiri pembaca BRI menyusunnya, tentu setelah membaca SHU Apa Itu…??? dengan Cara Menghitung SHU. Terima kasih atas kunjungan anda, sahabat dan dunsanak, semoga bermanfaat. Bila anda suka beritahu teman anda.
Baca Juga: Beberapa Faktor Penentu Keberhasilan Koperasi/KUD. https://lizenhs.wordpress.com/2014/05/30/beberapa-faktor-penentu-keberhasilan-koperasikud/
Pustaka
Fajar, Herlambang (1998). Sisa Hasil Usaha. Suluh Koperasi, Edisi Khusus. Lapenkop Dekopin
Yusuf, Sayuti (2015). Budaya Koperasi di Himpana Sumbagsel. Media Komunikasi Pensiunan Pertamina BIMA. Edisi No 57 Triwulan III.
Tim Penyusun (1996). Memahami Seluk Beluk Perkoperasian Dalam Teori dan Praktek. TNP3K.
Beberapa pustaka tidak ditampilkan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: