Posted by: lizenhs | January 23, 2016

Sisa Hasil Usaha (SHU) Apa Itu…???

Sisa Hasil Usaha (SHU) Apa Itu…???
Oleh Haslizen Hoesin

Kata Pengantar

Para pembaca BRI yang budiman. Tulisan ini adalah satu diantara sekian banyak tulisan yang tersebar diberbagai media cetak dan elektronik. Mudah-mudahan dapat penambah wawasan Anda, para pembaca BRI. Apakah Anda pengurus, anggota dan/atau pengawas dari suatu koperasi atau calon anggota suatu koperasi dan/atau penggiat/aktivis Koperasi, ataupun hanya sebagai pembaca saja. Tulisan ini dikembangkan dari diskusi kecil di gubuk/saung warga ditempat penulis tinggal di suatu senja, karena Koperasi ditempat tinggal akan melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT).
Tulisan ini dimulai dari Partisipasi Anggota; Simpanan Anggota; Biaya Usaha dan Biaya Organisasi Koperasi; Kontribusi Anggota; Kontribusi Anggota Terhadap Biaya Usaha; Dasar Pembagian dan Rumus Menghitung SHU. Tulisan ini berjudul: SHU Apa Itu…??? dan Cara Menghitungnya, materinya panjang. Karena materinya panjang, dipisah menjadi dua judul yaitu: SHU Apa Itu…??? dan Cara Menghitung SHU. Jadi tidaklah lengkap bila anda hanya membaca satu judul saja, sebaiknya anda mulai dari SHU Apa Itu…??? kemudian dilanjutkan dengan Cara Menghitung SHU

Dari data koperasi yang ditampilkan dan perhitungan, diketahui bahwa partisipasi anggota kepada koperasi sangat berperan dalam memajukan koperasi dan kesejahteraan anggota, sebagaimana tergambarkan dari SHU yang diterima. SHU yang diterima Anggota sering pula dipertanyakan. Mereka mempertanyakan cara menghitung. Selamat membaca kedua judul tersebut, semoga bermanfaat.
Sebelum membaca tulisan ini, ada baiknya dibaca terlebih dahulu tulisan-tulisan berikut:
KOPERASI MENURUT SRI-EDI SWASONO, Oleh-oleh dari IKOPIN. https://lizenhs.wordpress.com/2015/05/20/koperasi-menurut-sri-edi-swasono-oleh-oleh-dari-ikopin/
Koperasi Produsen Apa Itu, https://lizenhs.wordpress.com/2009/09/02/koperasi-produsen-apa-itu%E2%80%A6%E2%80%A6/.
Koperasi Produksi (industri). https://lizenhs.wordpress.com/2009/11/11/koperasi-produksi-industri/

Pendahuluan

Satu dari beberapa tujuan berkoperasi adalah meningkatkan kesejahteraan anggota. Anggota pada koperasi adalah sebagai pemilik, juga sebagai pelanggan dari koperasi dimana dia/mereka terdaftar. Peningkatan kejahteraan anggota tergambarkan dari SHU yang diterima anggota, karena keikutsertaan dalam kegiatan usaha kopersasi (disebut partisipasi).
Dari hasil pengamatan penulis. Koperasilah satu-satunya organisasi usaha yang memperhatikan kesejahteraan anggota. Kejahteraan anggota tergambarkan pada SHU, dari keikutsertaan anggota (Partisipasi Anggota) dalam kegiatan usaha kopersasi. Apakah partisipasi Anggota itu? Berikut paparannya

Partisipasi Anggota

Partisipasi anggota adalah pelaksanaan hak dan kewajiban seorang anggota dimana mereka menjadi anggota koperasi. Pada koperasi terdapat beberapa bentuk partisipasi sebagaimana yang diajukan oleh Ropke dan A Hannel.
Bentuk-bentuk Partisipasi Anggota menurut Ropke (1987), dihubungkan dengan Hak Anggota yaitu: voice; vote dan exit. Selengkapnya sebagai berikut: (1) Berbicara dan Bertindak, disebut voice. (2) Memberikan Hak Suara, disebut vote. (3) Menyatakan Keluar dari Keanggotaan Koperasi, disebut exit.
Bentuk-bentuk Partisipasi Anggota menurut A Hannel (1992), dihubungkan dengan Identitas Ganda Anggota yaitu: sebagai Pemilik dan Pelanggan.
(1). Sebagai pemilik, anggota harus turut serta mengambil keputusan, evaluasi dan pengawasan terhadap jalannya perusahaan koperasi yang biasanya dilakukan pada waktu Rapat Anggota.
(2). Sebagai pemilik, anggota harus turut serta melakukan kotribusi modal melalui berbagai bentuk simpanan, untuk modal usaha perusahaan koperasi.
(3). Sebagai pemilik, anggota harus turut serta menanggung resiko usaha koperasi yang disebabkan oleh kesehatan manajemen, dan
(4). Sebagai pelanggan/nasabah anggota harus turut serta memanfaatkan pelayanan barang dan jasa yang disediakan koperasi. Dalam kedudukan sebagai pelanggan, anggota yang memanfaatkan pelayanan koperasinya, mengandung arti/makna bahwa anggota telah membiayai koperasinya.
Dari dua pendapat pakar tersebut, disusun bentuk-bentuk partisipasi yaitu: Berbicara dan Bertindak, Memberikan Hak Suara, Menyatakan Keluar dari Keanggotaan, Sebagai Pemilik dan Pelanggan.
Partisipasi Anggota dapat pula dijadikan sebagai ukuran keberhasilan koperasi, terlihat dari SHU yang diterima anggota satu tahun buku, selain SHU yang diterima diakhir tahun buku juga karena partisipasi anggota kepada koperasi dalam memanfaat pelayanan (harga barang/jasa).
SHU selain memberikan manfaat kepada anggota juga indikasi keberhasilan pengelolaan koperasi, yaitu satu dari beberapa indikator keberhasilan pelayanan manajemen (koperasi) kepada anggota, disebut juga efesiensi koperasi. Percayakah anda akan hal itu? Coba anda analisis sendiri. Tentu saja setelah membaca kedua judul.
SHU yang diperoleh anggota sering pula mereka pertanyakan. Mereka mempertanyakan cara menghitung. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tulisan ini mencoba menjelaskannya. Perlu pula anda ketahui wahai para anggota, bahwa besar-kecil SHU yang Anda diterima, ditentukan/dipengaruhi partisipasi anda sebagai anggota kepada koperasi.
Wahai para Anggota, ketahuilah Modal Koperasi anda diperoleh dari Simpanan Anda (Anggota). Dalam struktur modal, Partisipasi Modal disebut Modal Sendiri. Bila modal sendiri ini makin besar, ya.. ya…, itu tentu semakin baik artinya semakin baik koperasi, tentu kelangsungan koperasi. Modal sendiri adalah modal segar dan murah. Apa saja bentuk Simpanan Anggota, paparannya sebagai berikut.

Simpanan Anggota

Simpanan anggota merupakan modal koperasi, terdiri dari: Simpanan Pokok, Simpanan Wajib dan Simpanan Sukarela.
Simpanan Pokok dibayarkan hanya sekali selama menjadi anggota, simpanan ini tidak boleh diambil selama yang bersangkutan menjadi anggota. Simpanan Wajib dibayarkan secara priodik, bisa per bulan atau pertahun, tergantung pada AD dan ART koperasi. Simpanan Sukarela dibayarkan secara tidak periodik (kapan saja).
Simpanan Wajib dan Simpanan Sukarela juga tidak boleh diambil selama yang bersangkutan menjadi anggota. Tapi sebagian koperasi simpanan-simpanan tersebut dapat diambil. Ketentuan ini diputuskan dalam AD/ART dan/atau RAT.
Jumlah Simpanan Anggota merupakan indikator/petunjuk kepercayaan anggota kepada pengelolaan koperasi dalam menjalankan usaha koperasi dan/atau pelayanan kepada anggota.
Dalam struktur modal, Partisipasi Modal disebut modal sendiri. Bila modal sendiri ini makin besar, ya.. ya…, itu tentu semakin baik artinya semakin baik koperasi, tentu kelangsungan koperasi. Modal sendiri adalah modal segar dan murah.
Koperasi dalam menjalankan usaha terdapat dua biaya yaitu Biaya Usaha dan Biaya Organisasi Koperasi. paparannya sebagai berikut

Biaya Usaha, Biaya Organisasi Koperasi dan Sisa Hasil Usaha

Biaya Usaha

Anggota sebagai pemilik koperasi wajib memodali koperasinya, dengan menyetor simpanan pokok dan simpanan wajib. Selain itu anggota juga wajib membiayai usaha koperasi. Biaya Usaha Koperasi adalah semua biaya yang dikelurkan koperasi dalam rangka memberikan pelayanan kepada anggota. Biaya Usaha terbagi dalam dua kategori yaitu: (1) Biaya Usaha langsung berhubungan dengan pelaksanaan fungsi ekonomi yang diserahkan anggota kepada koperasi. Dalam akutansi; biaya-biaya ini akhirnya membentuk menjadi biaya pokok penjualan dan di dalam koperasi dapat disebut sebagai harga pokok pelayanan dan. (2) Biaya Usaha yang tidak langsung berhubungan dengan pelaksanaan fungsi ekonomi, misal: gaji manejer dan pegawai, biaya rapat anggota, biaya pembinaan anggota atau pendidikan dan sebagainya. Biaya usaha untuk kategori ini dapat disebut biaya organisasi.
Biaya Usaha harus ditanggung oleh anggota sebagai pemilik. Untuk kepentingan praktis, maka pemenuhan biaya usaha dilakukan pada saat anggota membayar harga pelayanan koperasinya atau nilai barang/jasa yang diserahkan kepada koperasi untuk dipasarkan. Jadi harga pelayanan koperasi, mengandung beberapa pengertian mengikuti bentuk/jenis koperasi. 1). Dalam Koperasi Produsen, yang melasanakan fungsi pemasaran adalah harga yang diterima oleh anggota dari koperasi, karena koperasi menjual produk yang dihasilkan anggota kepasar bebas. 2). Dalam Koperasi Konsumen yang melasanakan fungsi pengadaan barang/jasa adalah harga barang/jasa yang dibayar anggota kepada koperasi. 3). Dalam Koperasi Simpan-pinjam adalah jumlah pokok pinjaman ditambah dengan bunga dan biaya-biaya administrasi yang dibayarkan anggota kepada koperasi. Kegiatan anggota memanfaatkan pelayanan koperasi disebut sebagai kontribusi Anggota dalam kegiatan usaha koperasi, selain modal usaha (simpanan anggota).

Kontribusi Anggota Terhadap Biaya Usaha

Bila berbicara mengenai kontribusi Anggota maka Kontribusi anggota itu adalah Simpanan anggota dan memanfaatkan pelayanan yang disediakan Koperasi. Pelayanan itu berbeda untuk disetiap bentuk kegiatan koperasi. Perhatikanlah paparan berikut sebagai contoh tiga bentuk koperasi yaitu: Produsen, Konsumsi dan Simpan-pinjam. 1). Pada Koperasi Produsen, Kontribusi Anggota adalah, Nilai jual barang/jasa yang diserahkan oleh Anggota kepada koperasi untuk dipasarkan; 2). Pada Koperasi Konsumen, Kontribusi Anggota adalah, Nilai barang/jasa yang dimanfaatkan/dibeli anggota dari koperasi; 3). Pada Koperasi Simpan-pinjam, Kontribusi Anggota adalah, Jumlah pinjaman ditambah bunga dan biaya administrasi kredit yang sudah dibayarkan anggota kepada koperasi. Jelaslah beda koperasi beda pula kontribusi anggota.
Penerimaan atau pembayaran harga pelayanan oleh anggota juga merupakan kontribusi anggota terhadap biaya Usaha Koperasi. Dalam kehidupan berkoperasi sehari-hari, kontribusi anggota, disebut sebagai partisipasi anggota. Penerimaan kontribusi anggota, oleh koperasi di-“buku”-kan sebagai “pendapatan”, sesuai dengan pasal 45 ayat (1) U.U No. 25/1992. Dengan demikian, pengertian Pendapatan Koperasi, sesungguhnya adalah kontribusi anggota terhadap biaya usaha koperasi. Bukan hasil penjualan sebagaimana perusahaan pada umumnya (bukan koperasi).
Dari paparan diatas jelaslah bahwa kontribusi anggota terhadap biaya koperasi terdiri dari: Kontribusi anggota untuk menutupi harga pokok pelayanan dan kontribusi untuk menutup biaya organisasi. Jumlah kedua jenis kontribusi itu, disebut Kontribusi Bruto Anggota.
Kontribusi Bruto Anggota bila ditulis dalam bentuk rumus sbb:

Kontribusi Bruto Anggota = Harga Pokok Pelayanan + Kontribusi Terhadap biaya Organisasi 
Pengertian Harga pokok Pelayanan Koperasi dalam rumus diatas, menjelaskan bahwa bila: 1). Koperasi Produsen, adalah nilai atau harga barang/jasa yang dibayarkan koperasi kepada anggota. 2). Koperasi Konsumen, adalah nilai atau harga pokok pembelian barang/jasa yang dibeli koperasi dari pasar. 3). Pada koperasi Simpan-pinjam, adalah nilai atau pokok pinjaman yang ditarik anggota dari koperasi.
Kontribusi anggota disebut kontribusi bruto, karena masih termasuk kontribusi terhadap harga pokok pelayanan.

Biaya Organisasi Kopreasi

Agar Koperasi dapat mencapai tujuannya, yaitu: Meningkatkan kesejahteraan anggota, maka seluruh sistem organisasi koperasi harus dapat berfungsi dengan baik. Untuk menjalankan organisasi koperasi diperlukan biaya, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan organisasi Koperasi, seperti biaya: Rapat Anggota, gaji, administrasi, kantor, pendidikan, pemeriksaan dan lain-lain. Semua kebutuhan biaya-biaya organisasi harus dapat ditutup oleh kontribusi neto anggota. Jadi yang dimaksud dengan biaya organisasi adalah biaya yang dikeluarkan oleh koperasi dalam rangka menjalankan roda organisasi agar dapat mencapai tujuannya, sesuai dengan prinsip-prinsip dan norma-norma Koperasi.
Profesionalisasi kerja para pengelola koperasi sangat dituntut, agar dana yang bersumber dari kontribusi neto anggota digunakan secara efisien. Hasil efisiensi penggunaan dana-dana itulah yang menghasilkan Sisa Hasil Usaha (SHU) Koperasi. Paparan lebih terperinci sbb.

Sisa Hasil Usaha (SHU)

Pengertian SHU

Bentuk-bentuk partisipasi anggotalah yang dipaparkan diatas menghasilkan SHU, dengan demikian apa itu SHU dan bagaimana menghitungnya. Itulah yang menjadi pembahasan berikut ini, karena dipertanyakan anggota. Ingat kembali bahwa Sisa Hasil Usaha (SHU) adalah hasil efisiensi penggunaan dana-dana dari kontribusi neto anggota.
Apa SHU itu? Untuk menjawab pertanyaan. Terlebih dahulu dipahami pengertian SHU, diambil dari UU no 25/1992 pasal 45 ayat (1), berbunyi: Sisa Hasil Usaha Koperasi merupakan pendapatan Koperasi yang diperoleh dalam satu tahun buku dikurangi dengan biaya, penyusutan dan kewajiban lainnya termasuk pajak dalam satu buku yang bersangkutan.
Pengertian SHU dari UU no 25/1992 pasal 45 ayat (1), bila disusun dalam bentuk butir-butir sebagai berikut:
1). Sisa Hasil Usaha (SHU) Koperasi merupakan pendapatan yang diperoleh Koperasi dalam satu tahun buku, dikurangi dengan biaya penyusutan dan kewajiban lainnya termasuk pajak dalam tahun yang bersangkutan.
2). SHU juga merupakan hasil efisiensi penggunaan dana-dana Koperasi.
3). SHU adalah Pendapatan Koperasi setelah dikurangi dana cadangan, dibagikan kepada anggota sebanding jasa usaha yang dilakukan oleh masing-masing anggota kepada Koperasi, digunakan untuk kepeningkatan pendidikan anggota dan keperluan lain dari koperasi, sesuai dengan keputusan Rapat Anggota (RA).
4). Besar Pemupukan Dana Cadangan, yang ditetapkan dalam Rapat Anggota (RA).
Dari paparan diatas jelaslah bahwa yang disebut SHU adalah suplus dalam satu tahun buku dan efisiensi koperasi diperoleh melalui kegiatan usaha dalam satu tahun buku. Atau dengan kata lain, SHU adalah sisa “Jasa Usaha” yang diberikan anggota terhadap biaya nyata Koperasi.
Karena kelebihan (surplus) koperasi, dikembalikan kepada anggota, tentu setelah terlebih dahulu disisihkan diantaranya: dana cadangan dan keperlukan-keperluan lain, seperti: Dana Pendidikan, Dana Karyawan, Pengurus dan Pengawas, Dana Pembangunan Daerah dll. Penetapan besar pembagian SHU kepada anggota, jenisnya dan keperluan lain ditetapkan pada rapat anggota sesuai dengan AD/ART Koperasi.

Besar SHU yang Diterima Anggota

Besar SHU yang diterima Anggota, jumlahnya akan berbeda-beda, tergantung kepada partisipasi (modal dan transaksi) masing-masing anggota. Partisipasi modal dan transaksi anggotalah yang membentuk pendapatan Koperasi. Semakin besar kegiatan (partisipasi) anggota dengan usaha koperasi, semakin besar pula SHU yang diterima (diperoleh) anggota. SHU dibayarkan tunai kepada anggota pada saat/waktu RAT.
Bila SHU dikaitkan dengan pendapatan koperasi, maka pengertian SHU adalah sebagai sisa kontribusi anggota setelah dipergunakan untuk menutupi biaya-biaya riil Koperasi dalam satu tahun kerja yang bersangkutan. Jelaslah sekarang SHU adalah sisa dari kontribusi anggota, oleh sebab itulah sebagian SHU dikembalikan/dibagikan kepada anggota sesuai dengan jasa (kontribusi) masing-masing anggota.
Sebelum SHU dibagikan kepada anggota, Rapat Anggota dan/atau AD/ART koperasi dapat saja penetapkan dilakukan terlebih dahulu menyisihkan SHU kedalam: dana cadangan, dana pendidikan dan keperluan-keperluan lainnya secara terbuka. Kedudukan dana cadangan adalad sebagai sumber modal sendiri, sedemikian pentingnya bagi koperasi. Berapa bagian SHU harus disisih untuk dana cadangan, jumlahnya dapat berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan dan menurut perkembangan koperasi yang bersangkutan. Karena itu besarnya dana cadangan sebaiknya ditetapkan dalam Rapat Anggota Tahunan.
Apabila Rapat Anggota (RA) menghendaki sesuatu, tidak tertutup kemungkinan jumlah dan besar penyisihan SHU untuk dana Cadangan dan keperluan lain sebagaimana yang ditetapkan dalam AD/ART. Artinya, setiap koperasi dapat menetapkan, kebijaksanaan penyisihan SHU menurut cara yang terbaik bagi kepentingan koperasi dan anggotanya.
SHU juga merupakan hasil efisiensi penggunaan dana-dana Koperasi. Dari pengertian ini, maka pengertian SHU berbeda dengan makna laba pada perusahaan pada umumnya.

Dasar Pembagian dan Rumus Menghitung SHU

Dalam pasal 5 ayat 1 butir UU No 25 tahun 1992 disebutkan, bahwa: Pembagian SHU dilakukan secara adil sebanding dengan besar jasa usaha masing-masing anggota. Penjelasan pasal tersebut adalah sebagai berikut: Pembagian SHU kepada anggota dilakukan tidak hanya semata-mata berdasarkan modal yang dimiliki seseorang dalam koperasi tetapi juga berdasarkan pertimbangan jasa partisipasi anggota terhadap koperasi. Ketentuan ini merupakan perujudan nilai kekeluargaan dan keadilan.
Berdasakan pasal 5 ayat 1 butir UU No 25 tahun 1992 SHU per anggota dirumuskan sebagai berikut:

SHU (Ang) = {[TT(Ang)]/[TT (Kop)] x a } + {[TS(Ang)/TS(Kop)] x b}

dengan: TT = Total Transaksi; TS = Transaksi Simpanan; (Ang) = Anggota; (Kop) = Koperasi; a = (SHU koperasi x % SHU yang dibagikan kepada anggota) x % SHU bagian Transaksi; b = (SHU kopersasi x % SHU yang dibagikan ke anggota) x % SHU bagian partisipasi Simpanan.
Penghitungan SHU per anggota dapat dilakukan, bila diperoleh (diketahui) beberapa informasi yaitu: Total SHU koperasi; % SHU bagian anggota; Simpanan setiap anggota; Total simpanan seluruh anggota; Transaksi setiap anggota; Total transaksi seluruh anggota; % SHU simpanan; % SHU transaksi anggota.

Transaksi Anggota pada Kegiatan Ekonomi Koperasi

Dimaksud dengan transaksi anggota adalah kegiatan ekonomi (jual beli barang atau jasa) antara anggota dengan koperasi dimana anggota beraktifitas. Anggota wajib melakukan transaksi dengan koperasinya yaitu: Dalam bentuk simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan sukarela dan memanfaatkan pelayanan barang dan jasa koperasi. Karena anggota tidak hanya pemilik, tetapi juga sebagai pelanggan.
Partisipasi Modal adalah kontribusi anggota dalam memodali koperasinya. Dalam struktur modal, Partisipasi Modal ini disebut Modal Sendiri. Bila Modal Sendiri ini makin besar, ya.. ya…, itu tentu semakin baik artinya semakin baik koperasi, tentu kelangsungan koperasi. Modal Sendiri adalah modal segar dan murah. Kelanjutan tulisan ini adalah Cara Menghitung SHU. klik disini https://lizenhs.wordpress.com/2016/01/23/sisa-hasil-usaha-shu-apa-itu/ Selamat membaca mudh-mudahan bermanfaat.

Baca Juga: Beberapa Faktor Penentu Keberhasilan Koperasi/KUD. https://lizenhs.wordpress.com/2014/05/30/beberapa-faktor-penentu-keberhasilan-koperasikud/

Pustaka
Fajar, Herlambang (1998). Sisa Hasil Usaha. Suluh Koperasi, Edisi Khusus. Lapenkop Dekopin
Yusuf, Sayuti (2015). Budaya Koperasi di Himpana Sumbagsel. Media Komunikasi Pensiunan Pertamina BIMA. Edisi No 57 Triwulan III.
Sudjono, Ibnu (2001). Jatidiri Koperasi (alih bahasa). ICA Co-operative Identity Statement LSP2I
Tim Ikopin (1999). Penjiwaan Koperasi. IKOPIN.
Tim Penyusun (1996). Memahami Seluk Beluk Perkoperasian Dalam Teori dan Praktek. TNP3K.
Beberapa pustaka tidak ditampilkan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: