Posted by: lizenhs | June 2, 2015

SISTEM, PROSES DAN MUTU PERGURUAN (Bagian Pertama)

SISTEM, PROSES DAN MUTU PERGURUAN

(Bagian Pertama)

Oleh: Haslizen Hoesin

Pengantar

Tulisan ini adalah melengkapi dari bembicaraan singkat saya (lizen) dengan beberapa teman yang tertarik tentang perguruan/yayasan pendidikan, juga sebagai menyambut hari Pendidikan Nasional. Pembicaraan singkat itu saya (Lizen) tulisan kembali untuk pembaca BRI, lebih luas (cukup panjang), maka disajikan dalam dua (2) bagian, yaitu:
Perguruan; Pesantren, Madrasah, Sekolah, Perguruan Tinggi; Mendidik Dan Pendidikan; Belajar–Mengajar; Konsep Belajar Menurut Islam dan Pepatah Lama; Belajar – Mengajar; Lembaga dan Yayasan; Sistem dan Model; Himpunan dan Irisan; Perguruan Sebagai Sistem dan Subsistem; Pengelola Perguruan (Bagian Pertama).
Sistem Perguruan; Sarana dan Prasarana Perguruan; Proses; Mengajar, Pembelajaran dan Pendidik; Perguruan Sebagai Suatu Proses; Input, proses, output dan outcome Perguruan; Lembaga Pendidikan yang Berhasil dan Sukses; Perguruan Tinggi; Manajemen Mutu Terpadu Pada Perguruan Tinggi; Akreditasi dan Sertifikasi; Model Perguruan Tinggi; Pustaka (Bagian Kedua). Selamat membaca, mudah-mudahan bermanfaat.

Perguruan
Bila berbicara mengenai perguruan, maka definisi ‘perguruan’ meliputi: 1. sekolah; gedung-gedung tempat belajar. 2. Pengajaran.
Perguruan adalah tempat (lokasi) dan bangunan pelaksanaan pendidikan/pengajaran {seperti: Prasekolah (RA, Paud dan TK), Pendidikan Dasar dan Menengah [(SD, MI, SLTP (MTs, SMP), SLTA (MA, SMA, MAK, SMK)], Perguruan Tinggi [(Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Akademi dan Politeknik)].
Bentuk-bentuk perguruan itu diantaranya adalah Perguruan Taman Siswa, Perguruan Muhammadiyyah, Perguruan Diniah Padangpanjang, Perguruan Kayutanam, Pondok Pesantren Gontor, Perguruan Darul Hikam, Perguruan Al Azhar, Perguruan Tinggi dll.
Sebuah perguruan biasanya dikelola oleh yayasan. Pada suatu yayasan, dapat terdapat hanya RA, PAUD dan/atau TK dan/atau SD dan/atau SLTP dan/atau SLTA dan/atau Perguruan Tinggi saja. Sering pula sebuah perguruan kumpulan dari kegiatan Prasekolah, Sekolah Dasar, Menengah dan Perguruan Tinggi.

Pesantren, Madrasah, Sekolah dan Perguruan Tinggi
Pesantren merupakan induk dari pendidikan Islam di Indonesia, atau lembaga pendidikan keagamaan yang mempunyai kekhasan tersendiri dan berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya, timbul serta diakui masyarakat sekitar. Pendidikan di pesantren meliputi pendidikan Islam, dakwah, pengembangan kemasyarakatan dan pendidikan lainnya yang sejenis. Pesantren didirikan karena tuntutan dan kebutuhan zaman dan hal ini dilihat dari perjalanan sejarah. Peserta didik pada pesantren disebut santri yang umumnya menetap di pesantren. Pendidikan diselenggarakan dengan sistem asrama disebut mondok. Tempat para santri menetap, di lingkungan pesantren, disebut dengan istilah pondok. Dari sinilah timbul istilah pondok pesantren. Pesantren sangat terkenal dengan sebutan Pondok pesantren. Istilah pondok, diperkirakan berasal dari kata funduk (bahasa Arab), berarti rumah penginapan.
Istilah pesantren secara etimologis asalnya pesantrian yang berarti tempat santri. Pesantren di Indonesia, khususnya pulau Jawa, lebih mirip dengan padepokan, yaitu perumahan sederhana yang dipetak-petak dalam bentuk kamar-kamar yang merupakan asrama bagi peserta didik. Santri-santri menerima pendidikan agama memalui sistem pengajian atau madrasah yang sepenuhnya berada di bawah kedaulatan dari Leadership seorang atau beberapa orang Kyai, dengan ciri-ciri khas yang bersifat kharismatik serta independent dalam segala hal. Selain Pesantren terdapat juga Madrasah.
Madrasah merupakan sebuah kata dalam bahasa Arab yang artinya sekolah. Asal katanya yaitu darasa yang artinya belajar. Di Indonesia, madrasah dikhususkan sebagai sekolah (umum) yang kurikulumnya terdapat pelajaran-pelajaran tentang keislaman. Madrasah itu berjenjang yaitu: Madrasah Ibtidaiyah (MI) setara Sekolah Dasar (SD), Madrasah Tsanawiyah (MTs) setara SMP dan Madrasah Aliyah (MA) setara SMA.
Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk mengajar peserta didik yaitu: Anak, Murid, Pelajar, atau Siswa, di bawah pengawasan guru. Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib. Dalam sistem ini, kemajuan siswa melalui serangkaian kegiatan sekolah. Nama-nama untuk sekolah-sekolah ini bervariasi menurut negara, tetapi umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak-anak muda dan sekolah menengah untuk remaja yang telah menyelesaikan pendidikan dasar.
Perguruan Tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi, lanjutan dari SLTA, dapat berbentuk: Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Akademi atau Politeknik.

Mendidik Dan Pendidikan
Mendidik” dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan baik secara jasmani maupun rohani. Mendidik adalah mengajak (memotivasi, mendukung, membantu, menginspirasi, dsb) orang lain untuk melakukan tindakan positif yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain (lingkungan). Oleh karena itu “Mendidik” dikatakan sebagai upaya pembinaan pribadi, sikap mental dan akhlak peserta didik. “Mendidik” tidak sekedar “transfer of knowledge”, tetapi juga “transfer of values”. “Mendidik” diartikan secara utuh, baik kognitif, psikomotorik maupun afektif, agar tumbuh sebagai manusia yang berpribadi.
Pendidikan” pada hakekatnya adalah suatu proses pembentukan perilaku manusia secara intelektual untuk menguasai ilmu pengetahuan, secara emosional untuk menguasai diri dan secara moral sebagai pendalaman dan penghayatan nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang di masyarakat.
Dengan demikian Pendidikan adalah keseluruhan proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku yang bernilai positif dalam masyarakat di mana dia hidup, serta proses sosial dimana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkendali, sehingga ia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimal. Inti urusan pendidikan terletak pada “upaya sosialisasi norma-norma yang dijunjung tinggi dan akan diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya”.
Secara etimologi, “pendidikan” berasal dari kata “educare” dalam bahasa latin yang bermakna melatih atau mengajarkan. Educare berasal dari kata ex dan ducare, yang berarti memimpin. Jadi pendidikan adalah suatu proses pelatihan, dimana terdapat dua subyek yang saling berhubungan, yaitu yang memimpin dan yang dipimpin.
Pendidikan adalah kegiatan “kemanusiaan” atau kegiatan “memanusiakan manusia”, disebut sebagai kegiatan manusiawi, karena pendidikan membuat manusia membuka diri terhadap dunia. Bahkan lebih dari itu, bahwa pendidikan merupakan suatu proses humanisasi yang berarti bahwa pendidikan manusia akan membawa manusia lebih bermartabat, berkarakter, berketerampilan, yang memiliki tanggung jawab terhadap sistem sosial sehingga akan lebih baik, aman dan nyaman.
Secara sederhana pendidikan diartikan pula sebagai satu usaha manusia dalam upaya untuk membina kepribadiannya sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat. Pendidikan itu sendiri dapat diartikan sebagai usaha yang dijalankan atau dilaksanakan oleh individu atau kelompok orang untuk menjadi dewasa dan mencapai taraf hidup yang lebih tinggi dan terarah.
Pendidikan secara umum, dapat dikategorikan menjadi pendidikan formal dan non-formal. Pendidikan formal dilaksanakan melalui institusi formal, sedangkan non-formal melalui institusi non-formal. Dalam zaman yang semakin kompleks, tuntutan akan pentingnya pendidikan semakin besar mengingat arus perkembangan dunia yang semakin cepat. Bahkan ada yang mengatakan bahwa jika pendidikan berhenti, maka berhentilah dunia ini. Artinya, selama dunia masih ada, maka pendidikan akan selalu berlangsung. Jelaslah bahwa pendidikan diperlukan karena merupakan tuntutan kehidupan yang selalu berubah dan membutuhkan tanggapan yang cermat dalam mencerdaskan bangsa sehingga mampu menghadapi tuntutan global.

Konsep Belajar Menurut Islam dan Pepatah Lama
Dalam Islam “Belajar dimulai sejak lahir sampai meninggal” (alhadist). …….Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat ……. 58 Almaidah ayat 11. Pepatah lama mengatakan: “segala sesuatu itu ada ilmunya”.Mengenai belajar baca juga AYO……. CA-LIS-TUNG, BELAJAR DAN MENELITI https://lizenhs.wordpress.com/2008/12/23/ayo-ca-lis-tung-belajar-dan-meneliti/ dan Hidup Ini Indah Dengan Membaca, Kemudian Buat dan sampaikan, https://lizenhs.wordpress.com/2010/03/27/hidup-ini-indah-dengan-membaca-kemudian-buat-dan-sampaikan/

Belajar – Mengajar
Belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam bahasa Inggeris: ”Learning is a Change In the individual due to intruction of that individual and his environment, which fells a need and makes him more capable of dealing adequately with his environment” (W.H Burton, dalam buku The Guidance of Learning Activites, 1984).
Pengertian mengajar sebagaimana dikemukakan oleh para pakar pendidikan, satu diantaranya sebagai berikut:”Mengajar itu adalah menyajikan ide, problem dan/atau pengetahuan dalam bentuk yang “sederhana”, sehingga dapat dipahami oleh setiap peserta didik”.
Teknik untuk me-“nyederhana”-kan (men-“sederhana”-kan) bahan yang akan disajikan (diajarkan) itulah yang diperlukan, sebagaimana yang dikemukakan Bruner yaitu dengan Teknik (cara) enactive, iconic dan symbolic.
Teknik enactive adalah penyajian suatu bahan pelajaran dalam bentuk gerak atau dalam bentuk psikomotor. Cara penyajian ini amat sederhana, kongkret, bahkan dapat di katakan primitif.
Teknik iconic adalah penyajian suatu bahan pelajaran dalam bentuk grafik dalam penyampaian suatu ide, objek atau prinsip. Cara penyajian ini lebih abstrak bila dibandingkan dengan penyajian enactive.
Teknik symbolic adalah penyajian suatu bahan pelajaran dalam bentuk enggunakan bahasa dan mengikuti perkembangan jiwa peserta didik.
Mengajar sama pentingnya dengan belajar. Karena tanpa ada yang mengajar, belajarpun tidak akan maksimal, walaupun ada yang berpendapat bahwa dapat belajar tanpa seorang pengajar (belajar otodidak).

Lembaga dan Yayasan
Lembaga menurut KBBI, ialah asal mula, bentuk asli, suatu badan keilmuan. Lembaga dalam bahasa Inggris disebut institute, yakni sarana ataupun organisasi untuk mencapai sebuah tujuan tertentu.
Bila lembaga dikaitkan dengan pendidikan terjadi Lembaga Pendidikan. maka, Lembaga Pendidikan adalah suatu tempat atau wadah, dimana proses pendidikan berlangsung yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengubah tingkah laku seseorang ke arah yang lebih baik, menambah wawasan dan pengetahuan yang diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan sekitar. Lingkungan pendidikan antara lain pendidikan formal (sekolah), informal (keluarga) dan non formal (masyarakat). Lingkungan pendidikan itu sangat urgen dalam sebuah proses pendidikan karena fungsinya sangat menunjang PBM yang tertib dan nyaman.
Lembaga pendidikan merupakan suatu lembaga yang mengurusi atau menangani masalah proses sosialisasi, yang bertujuan untuk mengantarkan seseorang pada satu kebudayaan yang dinamis sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan yang kompleks.
Dalam proses sosialisasi, diharapkan warga masyarakat memiliki pengertian, kemampuan dan sikap yang diharapkan oleh masyarakat yang bersangkutan. Proses sosialisasi terdiri dari tiga tahap yaitu: Tahap Persiapan (Preparatory Stage), Tahap Meniru (Play Stage), Tahap Siap Bertindak (Game Stage) dan Penerimaan Norma Kolektif (Generalized Stage). Dengan demikian, lembaga pendidikan memiliki peranan yang besar dalam menentukan keberhasilan tujuan pendidikan secara substansial.
Yayasan pada dasarnya adalah suatu badan hukum yang mempunyai maksud dan tujuan yang bersifat sosial, keagamaan dan kemanusiaan. Didirikan dengan memperhatikan persyaratan formal yang ditentukan dalam undang-undang.
Pengertian lain tentang yayasan adalah suatu badan yang melakukan berbagai kegiatan yang bersifat sosial dan mempunyai tujuan idiil. Yayasan merupakan suatu badan usaha, lazim bergerak di bidang sosial dan bukan menjadi tujuannya untuk mencari keuntungan, melainkan bertujuan untuk melakukan usaha yang bersifat sosial.
Bila yayasan itu mengelola pendidikan, maka pada dasarnya merupakan badan sosial yang bergerak di bidang pendidikan. Tujuan yayasan pendidikan adalah meningkatkan mutu pendidikan dan pengetahuan peserta didik. Keberadaan yayasan pendidikan harus diatur menurut aturan hukum yang berlaku sebagaimana dengan bentuk yayasan lainnya. Dalam pelaksanaan operasional kegiatan yayasan pendidikan perlu untuk memberikan perlindungan dan jaminan terhadap tercapainya tujuan pendidikan terhadap peserta didik, selain itu yayasan pendidikan juga harus mampu memberikan jaminan kenyamanan dan keamanan bagi peserta didik dalam melaksanakan kegiatan pendidikan.
Bila pembahasan pada lembaga pendidikan, berarti menitikberatkan pada proses sosialisasi yang intinya mengantarkan seseorang kepada suatu kebudayaan. Dalam lembaga proses sosialisasi dilakukan diperoleh dari jenis lembaga pendidikan yang ada, yaitu menyangkut hal-hal sebagai berikut: Lingkungan pendidikan informal; Lingkungan pendidikan masyarakat di luar lingkungan keluarga; dan Lingkungan pendidikan formal disekolah.
Perguruan dapat didekati dengan Sistem. Sebelum membahas sistem pada perguruan, terlebih dahulu dijelaskan apa itu sistem.

Sistem dan Model
Terdapat beberapa definisi tentang sistem, diataranya 1). Sistem adalah kesatuan yang utuh (entity) yang terdiri dari sejumlah bagian yang saling berkaitan dengan masing-masing memiliki kontribusi dalam membentuk karakteristik yang unik dari sistem tersebut. 2). Karakteristik sistem ditunjukkan oleh fungsi yang dapat dilaksanakan 3). Sistem adalah suatu set/gugus komponen yang sebagai suatu keseluruhan, bebekerja sama untuk nencapai tujuan menyeluruh yang dikehendaki sistem. Dimaksud dengan keseluruhan adalah suatu kesatuan, dapat berupa sistem–sistem yang lebih kecil (subsistem-subsistem) sebaliknya sistem juga dapat dipandang sebagai subsistem dari yang lebih besar. Jadi sistem adalah suatu kesatuan dari komponen-komponen yang satu sama lain saling berkaitan dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan.
Jika diterapkan konsep sistem pada organisasi, akan didapat suatu pengertian yang menyatakan bahwa sistem terdiri dari komponen-komponen yang direncanakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan suatu organisai.
Dari paparan diatas definisi sistem dapat dibagi tiga bagian, yang bermakna:
Pertama. Terdapat suatu maksud atau tujuan dengan dibentuknya sistem tersebut.
Kedua. Terdapat perencanakan atau satu bangunan dari komponen-kompenen yang teratur dan
Ketiga. Masuknya informasi, energi dan bahan-bahan yang dialokasikan untuk menjalankan rencana.
Dari definisi/pengertian diatas dapat diperinci sebagai berikut:
1. Sistem terdiri dari subsistem-subsistem, dapat menjadi subsitem yang lebih besar.
2. Dalam sistem terdapat interaksi atau saling ketergantungan antara subsistem, sehingga mereka dapat atau saling berintegrasi. Hubungan ini dinyatakan dengan masukan dan keluaran dari masing-masing subsistem. Keluaran suatu subsistem menjadi masukan subsistem berikutnya.
3. Sistem pada dasarnya bersifat dinamis, artinya selalu berubah sepanjang waktu.
4. Sistem sebagai satu kesatuan, dipsahkan dari lingkungan sekitar dalam bentuk batas (boundry) terhadap sistem lain. Hubungan antara sistem dengan lingkungan dinyatakan dengan masukan dan keluaran. Masukan adalah segala sesuatu yang berasal dari lingkungan yang mempengaruhi sistem, sedangkan keluaran adalah segala sesuatu yang berasal dari sistem menuju lingkungan. Outcome adalah keluaran suatu sistem menjadi masukan sistem lain
5. Suatu sistem dapat berupa sistem lingkaran tertutup (close-loop), atau lingkaran terbuka (open-loop). Sistem lingkaran tertutup artinya menerima masukan selain dari lingkungan, juga dari keluarannya yang dikembalikan kesistem yang disebut unpan balik (feedback). Jadi keluaran dari sistem selain mempengaruhi lingkungan juga mempengaruhi proses dalam sistem itu sendiri.
6. Sistem biasanya diambil dari keadaan nyata, yang sedang berlangsung dalam kehidupan, yang dijadikan titik perhatian dan dipermasalahkan.
Sistem dapat di-model-kan, pada umumnya literatur-literatur tentang model mendefinisikan model sebagai suatu gambaran atau formulasi dalam bentuk bahasa tertentu. Untuk pemahaman awal tentang Pemodelan. Baca juga PEMODELAN: APAA ???? ………… ITU https://lizenhs.wordpress.com/2009/01/05/pemodelan-apaa-itu/
Model dapat membantu memecahkan masalah yang sederhana ataupun yang kompleks baik dalam bidang manajemen ataupun suatu alat/peralatan dengan memperhatikan beberapa bagian atau ciri utama dari semua sistem nyata.
Model, tidak mungkin berisi semua aspek sistem nyata, karena banyak karakteristik – karakteristik sistem nyata atau tidak semua factor atau fariabel yang dianalisis. Karena itu dalam membentuk model terjadi penyederhanaan dan yang akan muncul adalah variable yang relevan dan berdampak besar terhadap pengambil keputusan.

Himpunan dan Irisan
Himpunan
Konsep himpunan dapat diterapkan pada perguruan. Untuk menjelaskannya, pada perguruan terdapat beberapa mata ajar yang saling dipakai/digunakan. Dalam matematika dijelaskan bahwa, himpunan adalah segala koleksi benda-benda tertentu yang dianggap sebagai satu kesatuan. Walaupun hal itu merupakan ide yang sederhana.
Notasi: {x|syarat yang harus dipenuhi oleh x}
Contoh
(i) A adalah himpunan bilangan bulat positif yang kecil dari 5 ditulis dalam bentuk matematis sbb.
A = {x | x adalah bilangan bulat positif lebih kecil dari 5} atau
(ii) L = {x | x adalah mahapeserta didik yang mengambil kuliah matematika}
(iii) M = {x | x adalah matakuliah yang terdapat pada Program studi A}
(iv) N = {x | x adalah matakuliah yang terdapat pada Program studi B}
Irisan
Irisan antara himpunan L dan M. Operasi irisan L ∩ M setara dengan L dan M. Irisan merupakan himpunan baru yang anggotanya terdiri dari anggota yang dimiliki bersama, antara dua atau lebih himpunan yang terhubung.
Jika L ∩ M = ∅, maka L dan M dapat dikatakan disjoint (terpisah). Irisan himpunan L dan M adalah suatu himpunan yang anggotanya merupakan anggota himpunan L dan sekaligus merupakan anggota himpunan M.
Contoh:
{1, 2, 3} ∩ {1, 2, 3} = {1, 2, 3}.
{1, 2, 3} ∩ {2, 3, 4} = {2, 3}.
{Budi, Cici} ∩ {Dani, Cici} = {Cici}.
{Budi} ∩ {Dani} = ∅.

Perguruan Sebagai Sistem dan Sub – sistem
Berdasarkan pengertian diatas sebuah perguruan adalah sistem, karena memiliki elemen-elemen/unit-unit yang saling terkait, seperti Prasekolah (Paud, TK), SD, SLTP (SMP), SLTA (SMA dan SMK) dan Perg. Tinggi (Universitas, Sekolah Tinggi, Akademi, Politeknik).
Dengan demikian Universitas dan/atau Institut adalah, karena didalamnya terdapat unit-unit seperti rektorat, program studi (DI, DII, DIII, DIV, S1, S2 dan S3), Studio dan Laboratorium. Dipandang dari sisi lain, Perguruan Tinggi terdiri dari bangunan/ fasilitas fisik, staf pengajar dan staf administrasi pendidikan, peserta didik (mahasiswa), alumni dll. Demikian juga halnya dengan Sekolah Tinggi dan/atau Fakultas dan/atau Akademi dan/atau Politeknik.
Sebuah Perguruan dan/atau Perguruan Tinggi dapat pula dipandang sebagai subsistim dari sistem pendidikan nasional. Selanjutnya sistem nasional dapat dipandang sebagai sub-sistem dari sistem: budaya, sosial, politik dan ekonomi. Jadi perguruan jelas merupakan subsistem dari sistem yang lebih luas (besar). Bila perguruan sebagai sistem dan/atau sub-sistem, maka batas-batas sistem/sub-sistem dapat diketahui/ ditentukan.
Karena perguruan dikatakan sebagai suatu sistem/subsistem dan melakukan proses, masukan dan menghasilkan keluaran (alumni) ke lingkungan.
Perguruan bila dipandang dari segi kegiatan, maka kegiatannya meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Karena perguruan sebagai sistem pendidikan, maka akan terdapat subsistem pendidikan seperti antara sekolah dengan sekolah, dan/atau akademi dengan akademi dan/atau program studi pada sekolah tinggi atau fakultas dan/atau fakultas-fakultas pada universitas, maka akan terdapat “perpotongan” materi pengajaran yang sama. Perpotongan disebut juga irisan dalam teori himpunan (matematika).
Untuk melihat subsistem pada perguruan tinggi dapat diambil beberapa pandangan yaitu: menurut Organisasi dan Kegiatan
Menurut organisasi maka subsistem dari fakultas, program studi (program S1, S2 S3, DI, DII, DIII dan D IV), laboratorium, studio dll.
Menurut kegiatan maka subsistem adalah Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Kepada Masysrakat. Diantara subsistem-subsistem terjadi perpotongan (irisan).
Pengertian irisan (perpotongan) pada Perguruan Tinggi adalah terdapat kesamaan komponen atau unsur dalam subsistem. Misal: 1) Pada Perguruan memiliki bangunan berada pada suatu tempat, banguan (ruang kelas) dipakai secara bersama oleh program studi dengan cara menyusun jadwal pemakaian ruangan. 2) Pada Perguruan menyelenggarakan program studi A, B dan C. Pada program studi A, B dan C itu terdapat matakuliah yang sama misal Matematika dan/atau Statistika, dan/atau pengantar ekonomi, dan/atau bahasa Indonesia dan/atau bahasa Inggeris dan/atau laboratorium dll., artinya matakuliah dengan silabi yang sama. Inilah yang disebut irisan pada kasus ini.
Bila sistem itu adalah fakultas, maka subsistemnya adalah program studi, laboratorium, dll. Bila sistem telah diketahui kemudian dicari/ditentukan, masukan-keluarannya, sistem melakukan proses. Konsep ini akan memperlihatkan kaitan antara subsistem dan sistem yang lebih besar (luas), juga akan mempunyai masukan dan keluaran. Dalam sistem suatu subsistem dengan subsistem akan terjadi pula masukan dan keluaran. Keluaran suatu subsistem akan menjadi masukan subsistem lain (berikutnya). Keluaran sistem bila digunakan/dijadikan sebagai masukan kesistem lain, keluaran ini disebut Outcome.

Pengelola Perguruan
Pengelola perguruan adalah yayasan. Dengan konsep sistem, mengelola perguruan dapat dinyatakan sebagai sistem atau subsistem dari sistem yang lebih luas (besar). Jadi bila sistem yang luas berubah maka subsistem harus mengikuti perubahan tersebut. Bila perguruan (sistem pendidikan) dikaitkan dengan link and match. Maka link and match itu menyatakan berkaitan dengan kurikulum yaitu lingkungan luar dari sistem perguruan, sebagai pemakai output (lapangan kerja). Pustaka lihat pada tulisan Bagian kedua.
Selanjutnya anda baca pada bagian kedua klik ini https://lizenhs.wordpress.com/2015/06/03/sistem-proses-dan-mutu-perguruan-bagian-kedua/ Selamat membaca, semoga bermanfaat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: