Posted by: lizenhs | May 5, 2015

Gala dan Nama: Apakah Suatu Harapan, Kehormatan atau Hanya Sekehendak?

Gala dan Nama: Apakah Suatu Harapan,
Kehormatan atau Hanya Sekehendak?

Oleh: Haslizen Hoesin

Pengantar

Setiap tanggal 2 Mai diperingati sebahai hari bahasa di Indonesia, sedangkan tanggal 8 September dijadikan hari aksara, Hari Aksara Internasional (HAI), diperingati di seluruh dunia. Ternyata Minangkabau mempunyai aksara dan itu harus disosialiasikan kemasyarakat Minang di Sumbar dan di Parantauan. Bagaimana bnetuk aksara minang dapat ditelusutu dari berbagai media diantaranya pada: Uli Kozok, Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah atau http://hendrizalman.blogspot.com/2013/12/aksara-minangkabau-di-mana-di-mana-di.html
Bila berbicara mengenai bahasa (Gala dan Nama), bila dicermati memang Nama dan Gala sanak famili Ambo jo Dunsanak, memang Lucu, Aneh, Takberaturan, penuturannya merubah sejarah dan arti akibat dari penulisan dan bahkan membingungkan apalagi bila di Indonesia-kan. Bahasa daerah adalah satu dari beberapa budaya bangsa yang perlu dilestarikan. Tetapi belakangan ini penggunanya semakin hari semakin berkurang. Menurut beberapa ahli, hal ini dapat disebabkan oleh beragam factor. Di antara yang beragam itu adalah: Penuturnya berkurang, Penulisan nama dirubah. Perhatikanlah dengan pikiran yang tenang dan sistematis, dunsanak dan boleh diperdebatkan atau diseminarkan, hasil seminar dibukukan (diterbitkan) dan disosialisasikan sampai ke sekolah-sekolah dan ka Lapau-lapau.

Bila diperhatikan dengan saksama, nama diberikan keluarga (kesepatan ibu dan bapak) sesudah lahir, sedangkan gala adalah nama yang diberikan niniak-mamak kaum (suku) saat berubah status yaitu sesudah pernikahan.
Tulisan/paparan berikut ini hanya bagaian awal saja, atau sebagai bahan pemikiran awal. Meskipun ambo orang awam terhadap bahasa dan sejarah, tapi tetap peduli, kerena salah menuturkan dan menulis akan berubah arti, membingungkan bagi pendengar/pembaca. Ingat bahasa daerah adalah alat berkomunikasi antar penduduk/masyarakat lokal. Rusak bahasa (alat komunikasi) akan menghasilkan salah paham bagi yang mendengar (lawan bicara). Paling parah bisa terjadi pertengkaran berujung pada perkelahian, karena hal yang sepele yaitu salah paham, artinya rusaklah bangsa. Oleh karena itu bahasa daerah (lokal) mesti dilestarikan, …… bahasa daerah merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan nasional. Sekarang hal yang menarik atau menjadi trend, nama-mana tempat mengambil mana asing bagi lokasi setempat (lokal). Apa alasannya? Tentu beragam, yang jelas adalah bagian dari upaya memusnahkan bahasa local, secara jangka panjang tanpa terasa budaya akan musnah, itulah yang dikhawatirkan sebagian orang dan beberapa para ahli dibidangnya. Mudah-mudahan bermanfaat. Selamat membaca.

Pendahuluan
“Bahasa daerah mesti dilestarikan, …… bahasa daerah merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan nasional. Indonesia memiliki 731 bahasa daerah. Sebanyak 726 diantaranya masih digunakan dan lima lainnya telah mati”. (Republika 10 Desember 2006). Apakah bahasa Minang didaftarkan pada urutan ke enam atau ke sepuluh atau ……. untuk mati? Jawaban secara menyeluruh terletak pada Kepala Daerah (Provinsi, Kabupaten dan Kota), Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata (Provinsi, Kabupaten dan Kota), Ninik-mamak, Cadiak-pandai dan Alim-ulama dan masyarakat di Minangkabau.
Pada RUU Kebahasan pasal 18, terdapat kalimat “mengharuskan pemakaian bahasa Indonesia untuk, nama bangunan atau gedung, nama jalan, nama kompleks perumahan, nama kompleks perkantoran, nama komplek perdagangan, merek dagang, nama perusahaan Indonesia, lembaga pendidikan dan sejenisnya. Jika diperlukan terjemahannya dalam bahasa lain diizinkan”. (Republika 10 Desember 2006). Bila kata pada pasal 18 “bahasa Indonesia”, pada hal-hal tertentu untuk Sumbar diusulkan diubah dengan “bahasa Minang”. Apakah gagasan tersebut disambut, masyarakat Minang, Dinas Pendidikan dan Pemda (Provinsi, Kota dan Kabupaten) di Sumbar? Memang sekarang menjadi trend nama-mana tempat mengambil mana asing dilokasi setempat (local). Apa alasannya? Tentu beragam, yang jelas adalah bagian dari upaya memusnahkan bahasa local, itulah yang dikhawatirkan sebagian orang dan beberapa para ahli dibidangnya.
RUU kebahasaan bila dikaitkan dengan bahasa daerah (Minang) bila dibahas sebagian (parsial), satu diantara dari sisi “gala” (gelar) sebagai pembuka. Apakah ada keterkaitan bahasa dengan “gala” (gelar)? Sangat jelas, paling praktis dan sederhana adalah dalam bentuk penulisan dan pengucapan. Sisi lain, ternyata gala termasuk bagian kegiatan pariwisata yaitu upacara pemberian gala seperti “pasambahan”.
Di Minang, gala dan nama digandengkan dan dipatri dengan pepatah “katek banamo gadang bagala”. Ya, betapa dekat nama dengan gala. Dari mana asal gala? Belum terjawab dengan tuntas. Masyarakat Minang juga memberikan Gala Kehormatan. Bila dicermati cara penulisan dan penuturan gala sekarang, mengarah kepada kepunahan bahasa Minang. Hal ini tampaknya tak disadari.

Apalah sebuah Nama
Apalah sebuah nama (“What’s in name?”), sebuah prase dari seorang pujangga terkenal Shakespeare. Ya, Apa arti sebuah nama? Ya, ya …. ya banyak dari sebuah nama bisa diketahui, seperti jenis kelamin, marga (suku), kebangsaan, agama dll, atau memang tidak memberikan apa-apa, nama ya nama. Kenapa Shakespeare mengatakan seperti itu, mungkin karena kebebasan orang tua memberikan nama, tidak ada aturan yang baku, kecuali tentang nama dari Niniak- Mamak keluarga dari beberapa marga (suku).

Asal Usul Sebuah Nama
Nama adalah panggilan, pembeda seorang dengan orang lain. Selain itu nama yang diberikan orang tua mempunyai arti. Nama adalah harapan atau doa dari yang memberi nama. Tidak ada orang tua yang berniat jelek terhadap yang diberi nama. Berilah nama yang baik dan bagus, mudah-mudahan harapan yang terkandung pada nama terkabul. Namun, sebaik apapun nama tidak akan membawa pemilik nama menjadi baik, sebagaimana baiknya nama yang melekat pada diri yang diberi nama. Keadaan ini terjadi barangkali yang diberi nama tidak memahani dari hakekat nama yang diberikan atau keadaan lingkungan yang mempengaruhi penyandang nama. Nama yang buruk belum tentu yang menyandang nama akan berperilaku dan berkehidupan buruk.
Nama adalah susunan beberapa kata, ada yang disebut dasar nama kemudian dikembangkan atau ditambah. Sebagian orang cukup dengan nama dasar. Nama dasar ternyata berasal dari berbagai sumber, seperti waktu, urutan, kaba, cerita film, penyanyi, novel, agama, tanaman (bunga), burung, tatasurya, tempat, kenangan, orang terkenal dll.
Nama dasar berupa waktu, hari dan bulan: Fajar (saat matahari akan terbit), Kamisah (kamis), Ramdhani (Ramadhan), Januar (Januari), Apriliana (April), Agustinus (Agustus), Septi (September). Urutan: Aso, Ika, Dwi, dll. Bunga: Melati, Mawar, Mawardi, Angraini (Angrek) dll. Burung: Kaswari (Kasuari), Kinanti (ayam), Elang, Nuri, dll. Tempat atau daerah: Iriana, Irianto (Irian), Deli (Deliserdang), Aruni (Arun Aceh) dll. TNI: Adri, Abriwati dll. Orang terkenal: Sukarno, Hatta, Yusuf, Enstain, Diana, Isabel dll. Tatasurya: Suryadi, Suryani, Bintang, dll. Logam mulia: Ameh dll. Kenangan: Titian, Temu, Cintami dll. Kata sifat: Budi, Bagus, Elok, Cantika dll.
Nama dasar didapat pula muncul, diambil dari kedua orang tua seperti, Tora dari Toto dan Rara, Nada dari Nandan dan Rohaeda. Tato dari Anita dan Wianto. Dapat pula gabungan nama ibu, ayah, nenek dan inyiak seperti Annisa berasal dari Anabela (ibu), Nirwan (ayah), Salma (nenek), Ahmad (Inyiak), (ternyata nama surat di Al Qur’an). Ratuseba berasal dari Rahmat (ayah), Tursinah (ibu), Semiar (nenek), dan Badrus (Inyiak), (nama ratu zaman nabi Sulaieman)
Nama dasar ada pula disusun dari urutan aksara (Jawa). Setiap aksara memiliki nilai/bobot/angka. Angka ini kemudian digunakan untuk menghitung nilai total. Nilai total diproyeksikan pada lima unsur kecocokan atau ketidak cocokan suatu nama. (www.jokosuprianto.com/bloku/2006/02/08).
Pemberian nama bisa pula terjadi sebagai berikut. Suatu keluarga berkeinginan punyai anak perempuan, saat istri hamil, bapak dan ibu mempersiapkan nama dasar, misal Gina, ternyata anak lahir laki-laki, dan pada waktu itu bulan purnana. Nama dasar dikembangkan, menjadi Gina Purnomo. Teman sekantor memanggil Pak Gina, karena cepat “k” tidak terdengar, jadi terdengar pa gina, jadi nama tersebut tidak baik bagi laki-laki. Bagaimana bila perkiraan tepat, maka lahirlah perempuan purnomo menjadi wulan, maka terbentuklah nama Gina Wulandari.
Berikut, Nila Rahma, dipanggil Nila. Apakah arti nila, pepatah melukiskan “karano nila satitiak rusak susu sabalango”, jadi nila adalah unsur perusak. Bagaimana dengan Puti Nurlaela, panggilan Lala, pilihan huruf dari Nurlaela, Apa arti lala? Lebih jelas artinya bila di tabah awalan “ma” (“malala”). Bagaimana kalau Nur atau Puti, Nur sudah banyak, Puti kedaerahahan.
Lain lagi, Victor, Vivi, karena di Indonesia sulit menyebut V, berubah menjadi P atau F dan C menjadi K, Victor dituturkan Piktor atau Fiktor. Piktor kependekan dari Pikiran Kotor. Bagaimana pula dengan Robert, ternyata diplesetkan jadi Robek, teman-teman sebaya memanganggil “cabiak”. Vivi dituturkan jadi Pipi, sebutan bagian dari muka. Hernia, ternyata nama penyakit. Bagaimana dengan nama Cemerlang atau Cerdas, urang tua tidak mau dalam bahasa Indonesia, diganti dengan Bright (diambil dari bhs Inggris). Arwana ternyata nama ikan (negatif). Bagaimana kalau Angel (bahasa Inggris), “g” dalam bahasa Inggris, menjadi “j” di Indonesia, jadi dibaca “Anjel”. Karena di Indonesia tidak dipanggil Anjel tapi Angel. Kalau angel dalam bahasa Jawa artinya negatif. Karena era glonal nama John ada dimana-mana. Begitu pula Suharto, Robert, Upiak, Butet. Dll. Lain lagi dengan Neli diubah jadi Nelly, Hamdani diubah jadi Hamdhany, Leni diubah jadi Lenny, Sodiq diubah jadi Shoddyq dll.
Layaknya makhluk hidup, nama bisa lahir (muncul), tumbuh, dewasa (ngetren), menua dan mati (tengelam atau dikatakan kuno). Mati atau tengelam suatu nama karena tujuan atau maksud pemberian nama, atau zaman berubah. Padahal dari sisi arti, nama tersebut baik, bagus dan mendoakan. Disitu terlihat jelas pergeseran zaman, arti mendoakan tidak dipentingkan, yang penting enak didengar dan beda dengan yang lain. Tidak ada istilah kuno mengenai nama, yang ada adalah pergeseran pemahaman, maksud dan tujuan pemberian sebuah nama.
Yaa …. a, dari paparan diatas tergambarkan dengan jelas, begitu bebas dan bebasnya orang tua memberi nama kepada anak, baik nama dasar, pelengkap maupun panggilan. Kemudian begitu bebas pula merubah penulisannya karena ingin beda dan terpukau dengan istilah “kan moderen”. Begitu pula bebasnya teman-teman sepermainan merubah tutur. Walau bagaimanapun dan betapapun kebebasan yang dimiliki orang tua dan/atau keluarga untuk memberi nama anak, selalulah hati-hati, tinjaulah dulu baruk baiknya dari beberapa aspek, jangan sampai nama berkonotasi buruk. Ingat nama dipakai seumur hidup.
Bila nama dipandang dari sisi statistika, maka nama termasuk skala nominal. Skala nominal adalah skala yang memiliki ciri hanya sebagai pembeda. Ciri ini menjadikan nama harus berbeda. Nama dapat sama hanya nama dasar, kemudian ditambah suatu kata di depan atau di belakang kata/nama dasar sebagai pembeda (baik penulisan dan penyebutan), meskipun sidik jari, tanggal lahir dan alamat tinggal berbeda. Ketentuan ini sangat berguna dan membantu pada pencatatan kependudukan. Apa lagi bila pencatatan dengan komputer. Contoh, nama Hatta tidak cukup begitu saja harus di beri tambahan di depan atau di belakang. Jadi Hatta (nama dasar saja yang sama).
Orang tua yang arif adalah, setelah anak cukup berakal/berfikir memberi tahu apa arti atau maksud dari nama yang diberikan kepada anak. Pemberitahuan ini penting supaya anak memahami apa maksud dan harapan yang terkandung dari nama dia.

Nama Perempuan Sebelum Nikah
Nama perempuan sebelum nikah kalau dibaca dari kaba atau carita rakyat Minangkabau, tidak ditemukan ditambah nama orang tua (ayah). Perhatikan nama Puti Bungsu, Siti Nurbaya dan Sabai nan Aluih, pada zaman kemerdekaan Siti Manggopoh (Manggopoh adalah nama tempat), nama berdiri sendiri, tidak ditambah dengan nama oang tua. Atau karena di Minagkabau garis keturunan menurut ibu (wanita) atau suku dari pihak ibu, apakah itu sebagai penyebabnya? Itu suatu pertanyaan. Kalau demikian, perempuan Minang dahulu ditanamkan memiliki percaya diri, mandiri, memperlihatkan banyak inisiatif dan tetap teguh memakai nama yang diberikan dari kecil, Baik itu nama lengkap maupun nama panggilan. Nama ayah hanya disebut pada saat nikah dan/atau di batu nisan, misal Nur’ani binti Darlis (ini kerana menganut agama Islam).
Sekarang Perempuan Minang banyak mencantumkan nama orang tua (laki-laki) dibelakang namanya. Nama belakang, kadang kala selain nama orang tua dikaitkan dengan nama keluarga sebagai sub-ordinasi penerus tradisi keluarga.
Nama belakang membuat bagi sebagian orang tak biasa, menerangkan identitas diri secara mandiri. Orang melihat keberhasilan seseorang selalu dikaitkan dengan nama ayah dan/atau keluarga sehingga identitas diri sulit terlihat dan terwujut. Hal ini terjadi karena konstrusi sosial tidak memberi kesempatan dan ruang bagi kemandirian, yang banyak melahirkan inisiatif baru. Pada hal banyak perubahan sosial yang membawa dampak positif dalam masyarakat yang diawali oleh inisiatif dan kemadirian perorangan. Bagi bagian lain nama belakang itu penting, ini bersandar pada nama Barat dan Timur Tengah. Pemunculan nama belakang pada kedua bangsa tersebut dasarnya berbeda.
.
Nama Laki-laki Sebelum Nikah
Untuk anak laki-laki di Minangkabau nama yang diberikan orang tua itu disebut nama ketek (kaciak) sebagaimana kata pepatah “ketek (kaciak) banamo, gadang bagala”
Sama dengan nama perempuan dulu nama seorang anak laki-laki tidak disebutkan nama orang tua laki-laki (ayah). Perhatikan Malin Kundang, Pito Alam, Malin Deman, Cindua Mato, Buyuang Karuik, dll Kapan digandengkan nama orang tua laki-laki (ayah) tidak diketahui dengan pasti. Keberadaan nama orang tua hanya saat nikah dan di batu nisan, misal Samad bin Rijal. Jadi penambahan nama orang tua erat hubungannya dengan ketentuan agama Islam. Kenapa pada nama laki-laki tidak dicantumkan nama ayah. Diperkirakan karena garis keturunan di Minang adalah dari pihak ibu. Walaupun demikian nama sukupun tidak dicantumkan. Sekarang nama orang Minang dilengkapi dengan suku jalur Ibu, contoh Ibrahim Jambak, Malik Koto, dll.

Nama Perempuan Sesudah Nikah
Apa bila seorang perempuan telah menikah yang mencantumkan nama ayah, sebagian mengganti dengan nama suami. Kalau dibaca dari kaba atau carita rakyat tidak pernah ditemukan nama suami dibelakang nama istri.
Seorang perempuan di Minangkabau tidak disebut ibu Dahlan, ibu Nurdin Malin Sati, ibu Mukhlis Datuak Mangkudum. Tetapi disebut istri pak Dahlan, istri pak Nurdin Malin Sati, istri Datuak Mangkudun dll. Ada pula yang menulis nyonya Dahlan, nyonya Nurdin Malin Sati atau Nyonya Mukhlis Datuak Mangkudum.
Mungkin terpengaruh globalisasi nama ibu-ibu di Minangkabau sekarang ditambah dengan nama suami menggantikan nama orang tua (laki-laki). Kapan cara penulisan nama suami dilakukan menggantikan nama ayah tidak diketahui dengan jelas.
Bagi sebagian istri penulisan nama suami dibelakang namanya sesuatu yang sepele hanya pembeda, ada pula merupakan kebanggaan. Tapi bagi sebagian istri nama sesuatu yang sangat prinsipil, artinya menempelkan nama suami menyatakan kurang kemandirianya, karena apa yang didapat disangkut-pautkan dengan nama suami. Seolah-olah tanpa nama suami dia tidak diakui sebagai seorang yang berkarya. Kadang-kadang suami menjadi beban bagi istri misal suami adalah pemabuk berat atau melakukan pekerjaan yang melawan hukum (sering keluar masuk penjara), pada hal istri adalah orang yang taat menjalankan agama.

Arti Nama bagi Seseorang
Dari paparan diatas jelas tergambarkan bahwa “Nama menjadi begitu penting untuk menandai identitas. Nama bukan sekedar nama yang bisa begitu-begini diberikan. Nama menjadi bagian terkecil dari konstruksi sosial yang diterakan pada diri seseorang sejak dilahirkan ke dunia. Namalah yang kemudian membentuk cara orang seorang memandang dirinya, potensi dan posisinya dalam lingkungan sosial. Ketika seseorang menerakan nama keluarga atau nama suami bagi wanita, tanpa disadari telah membebani seseorang dengan beban sosial yang bisa menjadi, malah mengekang kemadirian untuk membentuk identitas diri”.
“Sebagian orang nama orang tua atau keluarga yang diterakan dibelakang nama, mendorong seorang menjadi berpikir positif, artinya meninggalkan kekurangan (yang negatif), mempertahankan yang sudah ada (positif) dan melebihi dari yang pernah ada (tentu yang positif)”.
“Baik atau buruk suatu nama tidak penentu atau menghalangi sesorang untuk berkarya dan berprestasi. Banyak yang tersimpan dari sebuah nama, ninimal bagus di dengar dan bermakna menurut pemberi saat nama itu disusun”.

Laki-laki Sesudah Nikah Bagala
Seorang laki-laki sesudah nikah diberi gala (gelar) oleh suku. Kenapa bagala (bergelar), dasar yang digunakan adalah pepatah “ketek (kaciak) banamo, gadang bagala”. Nama yang diberikan orang tua disebut nama ketek/kaciak. Gala diberikan oleh mamak kepada kamanakan saat akan menikah. Sebelum gala diberikan para mamak-mamak mengadakan pertemuan atau bermufakat menetapkan. Jadi gala tidak begitu saja ditetapkan. Gala adalah suatu kehormatan bila ditinjau dari arti yang terkandung. Gala dapat juga disebut sebagai nama, yaitu nama yang diberikan oleh keluarga (suku) kepada anak/kamanakan yang akan menikah.
Gala umumnya dua kata, satu kata dijadikan sebagai dasar. Gala dasar bersumber dari: Kekuatan alam; seperti sati, batuah, alam, lintang dll. Kerajaan/pemerintahan; seperti mantari, nagari, rajo, sutan, bandaro dll. Pergaulan; seperti pamenan dll. Batu, seperti “intan” dll, Peringkat, seperti “pamuncak” dll., Agama; seperti malin, kari, katik dll. Penggabungan gala dasar dengan gala, agama atau kekuatan alam atau dengan kerajaan ditujukan untuk memperkuat arti, bermakna lebih jelas dan/atau arti yang dalam, seperti Kari Batuah, Sutan Nagari dll. Gala bukan hanya sebagai pembeda apakah seorang sudah nikah atau belum dan berasal dari Minang. Kalau begitu, bila sesudah mamak memberi gala pada kemanakan, jelaskan arti yang terkandung dari gala.
Bagaimana proses penetapan gala oleh mamak, tidak jelas, apakah sebebas pemberian nama oleh orang tua? Apakah ada pembagian gala, misal suku A hanya memiliki gala ini saja, B yang itu dll.
Tahun berapa di mulai seorang laki-laki yang menikah diberi gala, kenapa diberi gala, belum jelas. Oleh karena itu diperlukan penelitian pemasalahan gala untuk menjelaskan dan meyakinkan bahwa gala itu penting dan mempunyai arti, baik bagi pemakai maupun si pemberi atau sebagai pembeda dengan suku/bangsa lain atu menunjukkan identitas.

Datuak (Gala Suku)
Selain gala yang diberikan kepada lelaki yang nikah, gala (gelar) diberikan untuk anak laki-laki sebagai pemimpin suku, disebut Datuak jangan Datuk (itu gelar penbeda dengan daerah lain). Datuk umumnya dari melayu (kadang dituturkan Atuk), Datuak dari Minangkabau. Gala Datuak tidak diberikan begitu saja kepada seseorang (kamanakan), tapi hasil mufakat mamak se Suku dan se Nagari untuk menetapkan siapa yang akan menggantikan datuak lama (meninggal) Datuak itu menurut pepatah adat, “didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang” Kalau demikian datuak adalah gala kehormatan, berpengetahuan lebih, penggerak dan pembangkit ide dan inisiatif kemanakan. Datuak adalah orang yang mengurus suku (keluarga dari pihak ibu, kamanakan) dan dilengakpi dengan “tungkek” (wakil bila berhalangan sebagai pendamping untuk bertukar pendapat dalam menyelesaikan masalah suku). Datuak adalah seorang pimpinan tertinggi ditingkat suku dan bijak dalam mengambil keputusan. Datuak tidak ada ditingkat kacamatan, kabupaten, kota atau provinsi.
Bila sesorang anggota keluarga (suku) lain mengejek datuak, berarti mengejek suku, kemenakan bangkit membela. Betapa tingginya kehormatan diberikan kepada seorang datuak. Bila demikian keadaannya sebutan gala tidak boleh dirubah, karena gala adalah unsur-unsur prinsipil dan penting.dalam bersuku dan kebudayaan Minangkabau. .
Menurut Suryadi dalam Kongkretisasi Tokoh-tokoh Kaba bahwa: “Dalam soal gala ini, saya kira, tradisi adat yang lazim harus diacu. Orang Minang sering latah dengan ungkapan adatnya “ sakali aia gadang, sakali tapian barubah”, “ kain dipakai usang, adat dipakai baru”. Interpretasi mereka terhadap ungkapan-ungkapan itu kadang-kadang liar dan semau gue. Bukan maksudnya semaunya perlu dan harus diubah: sejarah menunjukkan bahwa (suku) bangsa yang kuat adalah (suku) bangsa yang mempertahankan unsur-unsur yang prinsipil dan penting dalam kebudayaan mereka”. (Padang Ekspres 08 Oktober 2006)
“Datuk” bukan sebutan yang populer bagi masyarakat Minang karena seharusnya adalah “Datuak”. Datuk adalah panggilan dari melayu (Malaysia). Datuak tidak sama dengan Datuk. Jadi apa yang membedakan Datuk dengan Datuak? Itu pertanyaan besar yang harus dipahami dan dijelaskan secara tuntas. Yaaa itulah orang Minang yang kadang-kadang dia menyebut dia “Datuk”, lupa bahwa dia “Datuak”. Jangan berkata atau berprinsip “Datuak” sama dengan “Datuk”. Datuak merupakan identitas Minangkabau. Kalau Datuak sudah bersedia dipanggil atau menulis Datuk berarti menghapus identitas Minangkabau, apapun alasan yang dikemukakan. Kalau datuak sudak menghapus identitas jangan disalahkan anak dan kemanakan, melupakan identitas Minangkabau. Pertanyaan lain adalah bagaimana cara Datuak mengurus kemanakan sedangkan Datuak berada jauh (di rantua)?

Buya Gala Keagamaan
Buya adalah Gala bagi tokoh agama. Gala Buya ternyata gala tertinggi agama dan hanya ada di Minangkabau. Buya dapat menjadi tempat bertanya, panutan dan teladan masyarakat. Perhatikan Buya Hamka. Apakah gala Buya dapat setara dengan Dokor Penghargaan dan Kehormatan (Honoriskausa)? Kalau dapat begitu, tentu pemberian gala Buya harus memenuhi beberapa kriteria, artinya Buya tidak cukup dengan penguasaan Al Qur’an, Hadhis dan Fikih saja, harus terlihat pada pengamalan. Sebaiknya: Telah menulis buku agama (lebih dari satu) dan bedah buku yang isinya betul-betul buah pikiran sendiri. Pernah menjadi anggota perumus fatwa, ijmak dan qias. Teguh memegang prinsip agama (tidak tergoyahkan). Berani mengatakan sesuatu yang betul dan salah karena itu kebenaran agama meskipun pahit dan banyak yang tidak menyukai [seperti menetapkan awal dan akhir Ramadhan yang selalu pro-kontra, dapat menjelaskan berdasarkan cara/metoda yang benar dan betul sehingga hasilnya dapat dipertanggung-jawabkan, dapat menjelaskan secara logika sederhana dan ilmiah (ilmu dunia), sehingga dapat diterima dan percaya, baik oleh masyarakat awam (logika sederhana) dan ilmu falaq (astronomi) dll.]
Untuk menetapkan apa cirri-ciri Buya, selain sebagian ciri yang diusulkan diatas, dilakukan pertemuan para cadiak-pandai dan alim-ulama. Gala Buya dapat dipakai seseorang selagi pikirannya lurus dan jernih. Gala gugur bila pukun, pikiran tidak lurus dan jernih, bukan gala seumur hidup. Akhirnya seorang yang bagala “buya” betul-betul dapat menjadi tempat bertanya, memegang prinsip (konsisten), panutan, pikirannya logis (sistematis) dan teladan masyarakat, bukan sekehendak.

Arti Gadang Bagala dan Datuak
Apakah gala yang didapat dari mamak, dapat diselaraskan dengan kemapuan penerima gala? Mungkin bisa, mungkin tidak, tapi kalau gala itu tepat, bisa sejalan dengan kemampuan. Misal seseorang sering memberi khutbah dan ceramah agama, diberi gelar Katik atau Malin itu mungkin tepat. Kalau bekerja dikantor pemerintahan atau dokter gala Mantari mungkin tepat. Kalau petani atau tukang berdasi bagaimana? Adakah gala untuk itu? Kesemua pertanyaan ini bertujuan supaya gala yang menepel pada nama “ketek” memberi dorongan pada sipenerima dan mempertahankan makna yang terkandung dalam gala. Jadi jangan sekendak tanpa ada alasan. Bukan pula hanya sebagai pertanda bahwa dia orang Minang dan sudah nikah.
Gala (Gadang Bagala dan Datuak) dari paparan diatas jelas mempunyai arti yang dalam, karena “Gala menjadi begitu penting untuk menandai identitas asal. Gala bukan sekedar sebutan yang bisa begitu-begini diberikan. Gala menjadi bagian terkecil dari konstruksi social ba nagari yang diterakan pada diri perorangan sejak dia dinikahkan yang dikukuhkan dengan aturan Adat dan Agama. Begitu pula untuk gala Datuak. Datuak ditetapkan berdasarkan tatacara adat di Nagari Minangkabau. Galahlah yang kemudian membentuk cara orang seorang memandang dirinya, potensi dan posisinya dalam lingkungan sosial ba Nagari.
Ketika seseorang menerapkan gala yang diberikan mamak, tanpa disadari telah membebani seseorang dengan beban sosial yang bisa menjadi dan membentuk identitas diri dan mempertahankannya. Perhatikan dan pahami arti dari gala”.
Buya, gala pada sesorang tokoh agama di Minangkabau perlu dipopulerkan. Penetapan Buya tentu tidak sembarangan karena dia adalah tempat bertanya, panutan dan teladan.
Gala mempunyai arti yang mendalam bagi masyarakat Minang, pembada dengan daerah lain, paling tidak menunjukkan kekhasan Minang. Gala dapat pula disebut “nama”, karena tidak dapat dikatregorikan sebagai gelar keahlian tertentu, seperti Drs, Ir, ST, SPd, dr, SE, MS, MSi, MSc. MT, MM, Dr dll. Nama (gala) adalah pemberian dari niniak-mamak (suku). Banyak masyarakat Minang tetap memakai gala baik diforum nasional maupun internasional. Menurut mereka gala memberikan arti yang sangat mendalam. Tentu ada pula berpendapat sebaliknya, gala ya “gala”.
Batu, seperti “intan” dll, Peringkat, seperti “pamuncak” dll.,

Perubahan Sebutan (Penuturan), Penulisan Nama dan Gala
Perubahan penuturan dan penulisan gala sekarang sudah terasa, apalagi datuak bagi yang tinggal di perantauan, atau mungkin juga yang menetap di Ranah Minang. Sanak tersebut mengatakan itu tidak masalah, yang penting fungsi datuak tetap jalan. Kalau Datuak di rantau, apakah dapat menjalankan fungsinya, kan dia jauh dari Sanak famili?
Terlepapas dari itu semua, perhatikan pepatah “sakali aia gadang, sakali tapian barubah”, “ kain dipakai usang, adat dipakai baru”, atau alasan globalisasi penulisan dan sebutan gala berubah, inilah landasan yang dipakai.
Contoh. Saini Datuak Putiah di ubah menjadi Saini Datuk Putiah atau Datuk Putih selanjutnya berubah menjadi Saynny Datuk Putyh (“y” penganti “i”, apakah ini mengikuti aturan bahasa?). Soni Datuak Sati menjadi Sonny Datuk Sati, selanjutnya menjadi Sonnie Datuk Satty. Datuak Mulia Basa berubah menjadi Datuk Mulya Bessar. Basa berubah menjadi besar itu salah, fatal bila dilihat dari sisi arti. Yang lucu adalah Thessy Datuk Bandara Kaya diubah dari Tesi Datuak Bandaro Kayo, Bandaro berasal dari Bedahara, Bandara kependekan Bandar Udara, atau bandar arti negative seperti Bandar Judi, bandar adalah toke di pasar. Kaya adalah berkhayal. Siddieq Datuk Mulia Besar berasal dari Sidik Datuak Mulia Basa, “basa” berarti “agung”, bukan “besar”, jadi mulia dan agung lagi. Datuak Mulia Basa, tentu berbeda dengan Datuk Mulia Besar. Mangkuto = mahkota, jadi Datuak Mangkuto adalah Datuak Mahkota. Bagaimana dengan Ramdani Datuak Nan Kuniang berubah menjadi Ramdhanny Datuk yang Kuning. Dalam bahasa Minang rasanya janggal menuturkan Datuk Yang Kuning, atau Datuk nan Kuning. Apakah Datuak Majo Kayo sama artinya dengan Datuak Maja Kaya? Itulah beberapa contoh yang terjadi di masyarakat, diubah sekehendak tidak ada aturan. Bila ciri (perubahan) atau mengatakan moderen tentu sulit diterima. Sekarang timbul pertanyaan apakah moderen itu?
Perubahan itu juga terjadi pada gala sesudah nikah. Perhatikan berikut ini. Butarok Sutan Nagari dirubah menjadi Buttarok Sultan Nagary atau Buttarok Sultan Negeri atau Buttarok Sultan Negery. Arman Malin Kayo berubah menjadi Armann Malin Kaya. Berhati-hatilah merubah tulisan dan tuturan jangan-jangan berati “buruk” (menurut kamus bahasa nasional dan/atau daerah).
Gala dapat dikatakan aset dan kebanggan daerah. Kenapa dirubah penulisan dan sebutan sehingga merubah arti meskipun dengan alasan “moderen” dan/atau “kepraktisan”. Apakah benar pendapat bahwa gala sekarang “sakarek ula sakarek baluik” atau bak pepatah “ sakali aia gadang, sakali tapian barubah”, “ kain dipakai usang, adat dipakai baru” atau menggunakan arti “dima langik dijunjuan disitu bumi dipijak”, semuanya terpulang pada masyarakat Minang untuk berpendapat mengaburkan identitas. Apakah pepatah tersebut tepat dipakai disini? Atau kalau begitu dapat dibenarkan kalimat kutipan dari Suryadi diatas (Kongkretisasi Tokoh-tokoh Kaba). Atau benar tulisan A H Sikumbang (Sekarangkah Awal Kepunahan Bahasa Minang). Perubahan nama juga terjadi pada nama makanan, seperti Betis dari Batiah, Kerupuk atau Keripik dari Karupuak, Dadih dari Dadiah, Gula merah dari Saka dll. Perubahan penulisan dan sebutan, juga terjadi pada nama tempat tempat dan kota (Nama “Kampuang” dan “Kota” Lucu, Aneh, Tak beraturan, Merubah Arti dan Sejarah). Apakah itu yang dimaksud dinamika atau menghapus identitas Minangkabau?
“Untuk maju, harus ada pembakuan (standard), kemudian dijadikan pegangan dalam pelaksanaan. Tanpa ada yang baku, dijadikan dasar akan kacau dan sekehendak masing-masing. Perubahan itu harus ada, tapi dibagian mana perubahan itu dapat dilakukan. Merubah dapat berarti tidak menghargai si pemberi. Hati-hati merubah, bila berbeda nama di KTP dan/atau disurat-menyurat dengan akte, menyulitkan membuat surat berharga, melamar kerja dan/atau kependudukan tertama bila sudah komputerisasi”. “Sangat wajar dan masuk akal bila sebagian orang marah, bila namanya salah tulis dalam surat menyurat dan disuruh perbaiki”.

Pemeberian Gala Kepada Orang Sumando Bukan Keturunan Minang
Selain gala diberikan pada kemanakan asal Minangkabau, juga diberikan pada menantu orang Minang yang berasal bukan dari keturunan Minang. Menjadi pertanyaan, Apakah itu dimungkinkan? Pihak mana yang memberi gala? Kalau di Mandailing (Batak) jelas, bakal menantu diaku dulu oleh suatu marga lain (artinya dijadikan anggota marga), kemudian baru dinikahkan. Bagaimana aturan pemberian gala di Minangkabau untuk yang bukan keturunan Minang?

Pemeberian Gala Kehormatan
Supaya tidak terjadi polemik yang berkepanjangan bagaimana aturan pemberian gala kehormatan. Apakah dimungkinkan atau tidak. Gala apa saja yang bisa diberikan bila mungkin. Jangan terulang seperti pada Susulo Bambang Yudhoyono, (pro-kontra).
Tilatang Kamang juga memberikan gala untuk Prof Dr Jimly Asshiddiqie. Penetapan berdasarkan kesepakatan Majelis Sapuluah Suku Tilatang Kamang (Agam) (Surya Karya, Selasa 17 Oktober 2006).
Alangkah baiknya kerapatan adat serta cadiak-pandai menyusun suatu aturan atau posedur yang tertulis mengenai pemberian gala kehormatan, jangan hanya lisan saja. kemudian dibukukan di sosialisasikan. Penetapan dengan suatu ketentuan tertulis itulah satu dari beberapa ciri modern.

Penutup
 Banyak yang tersimpan dari sebuah nama, ninimal bagus di dengar, penuturan dan bermakna menurut pemberi nama. Perubahan penulisan menyulitkan pemilik nama membuat surat bergarga, surat-menyurat dan/atau kependudukan yang telah menerapkan komputerisasi.
 Gala adalah suatu kehormatan dan penunjuk identitas orang Minang, bila diubah penulisan dan penyebutan hilanglah identitas Minangkabau, atau memang ada kecendungan mengaburkan identitas dan arti.
 Bagaimana aturan pemberian gala untuk menantu bagi seorang laki-laki bukan keturunan Minang menyunting gadis minang, tidak ada ketentuan yang jelas.
 Bagaimana aturan pemberian gala kehormatan untuk sesorang, selain datuak dan gala nikah, tidak jelas prosedurnya, sering terjadi pro-kontra.
 Gala Buya pada sesorang tokoh agama perlu dipopulerkan, ditetapkan dengan persyaratan tertentu. Buya adalah sebagai tempat bertanya, konsisten, panutan dan teladan. Jangan asal digandengkan/pakai.
 Sebaiknya ada penelitian mengenai gala (gadang bagala, datuak dan kehormatan), kemudian dibukukan sehingga anak cucu memahami apa arti “gadang bagala”, “datuak”, “gala kehormatan” dan “Buya”, tidak hanya dalam bentuk lisan.

Tulisan ini terkait dengan Nama Tempat (“Kampuang” dan “Kota”) Ambo:Lucu, Aneh, Takberaturan, Merubah Arti dan Sejarah (Bagian pertama) https://lizenhs.wordpress.com/2015/05/04/nama-tempat-kampuang-dan-kota-ambo-lucu-aneh-takberaturan-merubah-arti-dan-sejarah-bagian-pertama/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: