Posted by: lizenhs | May 4, 2015

Nama Tempat (“Kampuang” dan “Kota”) Ambo: Lucu, Aneh, Takberaturan, Merubah Arti dan Sejarah (Bagian pertama)

Nama Tempat (“Kampuang” dan “Kota”) Ambo:
Lucu, Aneh, Takberaturan, Merubah Arti dan Sejarah
(Bagian pertama)

oleh: Haslizen Hoesin

Pengantar
Setiap tanggal 2 Mai diperingati sebagai hari bahasa di Indonesia, sedangkan tanggal 8 September dijadikan hari aksara, Hari Aksara Internasional (HAI) diperingati di seluruh dunia. Ternyata Minangkabau mempunyai aksara dan itu harus disosialiasikan kemasyarakat Minang di Sumbar dan di Parantauan. Bila berbicara mengenai bahasa (nama Tempat), ternyata bila dicermati memang Nama “Kampuang” dan “Kota” (tempat) Ambo jo Dunsanak, Lucu, Aneh, Takberaturan, penuturannya merubah sejarah dan arti akibat dari penulisan dan bahkan membingungkan di Minang (Sumbar) apalagi bila di Indonesia-kan. Bahasa daerah adalah satu dari beberapa budaya bangsa yang perlu dilestarikan. Tetapi belakangan ini penggunanya semakin hari semakin berkurang. Menurut beberapa ahli, hal ini dapat disebabkan oleh beragam factor. Di antara yang beragam itu adalah: Penuturnya berkurang, Penulisan nama dirubah. Perhatikanlah dengan pikiran yang tenang dan sistematis, dunsanak dan boleh diperdebatkan atau diseminarkan. Tulisan/paparan berikut ini hanya sebagai awal saja, atau sebagai bahan pemikiran awal. Meskipun ambo orang awam terhadap bahasa, tapi peduli, kerena salah menuturkan akan berubah arti atau membingungkan bagi pendengar. Ingat bahasa adalah alat berkomunikasi antar penduduk/masyarakat. Rusak bahasa (komunikasi) akan menghasilkan salah paham dan paling parah terjadi pertengkaran, artinya rusaklah bangsa itu. Mudah-mudahan bermanfaat. Selamat membaca.

Apalah Sebuah Nama Itu?
Apalah sebuah nama (“What’s in name?”), sebuah prase dari seorang pujangga terkenal Shakespeare. Ya, hal itu terjadi ketika kedekatan menjadi begitu mengikat, saat pikiran telah menyatu, sebuah embel-embel nama menjadi tak begitu penting.

Bila berbicara tentang bahasa tercermin dari nama seperti nama tempat, terdapat pula pendapat bahwa bila bahasa rasak maka rusaklah bangsa itu, bahasa adalah cerminan budaya, bila masyarakat lokal/penduduk/bangsa tidak menggunakan (menuturkan) bahasanya maka punahlah bahasa tersebut maka akan diikuti pula akan masyarakat/penduduk/bangsa tersebut akan punah. Hanya orangnya saja yang masih ada dan mengaku bahwa mereka memiliki/menyatakan bersuku/berbangsa ini, itu dan sebagaingya, tapi budayanya tidak ada, karena tidak bisa menjalankan budaya. Bahkan bisa terjadi penduduk setempat belajar kepada orang asing yang lebih memahaminya, karena yang dia mempelajari/ menggunakannya. Itulah gejala yang terjadi sekarang karena masyarakat suatu daerah (setempat) telah meninggalkan bahasa/budayanya sendiri.
Bila nama tempat dikaitkan dengan bahasa (penuturan) jelas kecendrungan itu telah terasa misal: nama orang dan nama tempat yang sudah ada jang diganti atau dirubah atau penuturan sudah ditinggalkan/tidak digunakan maka hilanglah bangsa (suku) atau bahasa local. Benarlah pendapat bahwa kepunahan suatu bahasa karena penuturnya berkurang. Pendapat lain adalah hilang bahasa, hilang bangsa. Bahasa daerah adalah salah satu budaya bangsa yang perlu dilestarikan melalui berbagai cara. Itulah pendapat para ahli. Selain kepunahan bahasa, terdapat pula kelahiran bahasa. Ya, kapan ya, kelahiran bahasa Indonesia.

Asal usul nama Tempat
Kadang-kadang saat sendirian, terfikir tentang asal nama sebuah tempat, atau mengapa tempat itu dinamakan begutu. Beberapa para ahli memperkirakan bahwa, pemilihan nama-nama tempat dimulai sejak manusia mulai menggunakan bahasa dan kemudian mengenal tulisan,sehingga nama sesuatu tempat tersebut dapat diucapkan dan kemudian dituliskan.
Biasanya penamaan suatu tempat mengacu kepada sesuatu hal yang lebih mudah diingat, misalnya ditempat tersebut banyak ditemukan jenis buah, pohon, hewan, orang yang banyak tinggal [berdomisili] dan kemudian juga biasanya keadaan demografi suatu tempat, nama seseorang yang punya ”keistimewaan” juga terkadang para imigran lain dari wilayah tertentu juga memberi nama dari wilayah mereka walau itu bukan tempat mereka dll, misalnya di USA ada nama kota Washington, Boston, ini asalnya dari orang orang Inggris yang memberi nama, kalau imigran Prancis lain lagi kota”New Orleans” karena Orleans adalah nama sebuah kota di Prancis. [kata ”ton” dalam achiran sebuah tempat artinya ”tanah berpagar” kalau ada achiran ”ham” artinya ”rumah yang ber pekarangan” contoh ”Birming” “Ham”, “Welling” “Ton”, “Washing” ”Ton” dll. [istilah Inggris umumnya]. Perhatikan pula di Minang kampuang Cino, kampuang Jao, Tangah Sawah, Pintu Kabun, Parak laweh, Kapau, Lubuak Bagaluang, Gaduik, Bukik Marapalam, Tunggua Itam, Aia Tawa, Pincuran, Pincuran Tujuah, Maninjau, Matua, Andaleh dll

Kapan kelahiran bahasa Indonesia?
Bila didekati bahasa lokal dengan bahasa pemersatu, maka bahasa pemersatu di Indonesia (bahasa Indonesia), ternyata pencanangan bahasa Indonesia disampaikan pada tanggal 2 Mei 1926, dalam Kongres Pemuda I, dimana M. Tabrani mengusulkan untuk mengganti istilah “bahasa Melayu” dalam rancangan sumpah kesetiaan yang diajukan M. Yamin menjadi “bahasa Indonesia”. Disinilah saat pertama “bahasa Indonesia” dikenal secara luas dan digunakan untuk dirujuk menjadi bahasa persatuan yang dipakai oleh orang Indonesia. Karena itu, Prof. Dr. Harimurti Kridalaksana menganjurkan untuk menetapkan tanggal ini sebagai hari kelahiran bahasa Indonesia melalui makalahnya yang berjudul “Sejarah Kelahiran Bahasa Indonesia” yang disampaikan dalam seminar bahasa yang diselenggarakan di FIB UI pada 2 Mei 2007. http://tanja.portalbahasa.com/mengapa-tanggal-2-mei-diperingati-sebagai-hari-kelahiran-bahasa-indonesia/
Sejarah kelahiran Bahasa Indonesia belum mendapat tempat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan, hari kelahiran Bahasa Indonesia tanggal 2 Mei juga belum diketahui secara luas. Untuk itu: “Kami sudah meminta kepada Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional untuk bisa meresmikan hari kelahiran Bahasa Indonesia setiap tanggal 2 Mei, bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional. Sebab, dalam kajian memang kelahiran Bahasa Indonesia pada tanggal tersebut,” kata Hermina Sutami, Kepala Laboratorium Leksikologi dan Leksikografi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, di Depok, Senin (3/5/2010), KOMPAS.com.
Sekarang bagaimana nama atau penamaan tempat di Minang (Sumbar)? Mari, ikuti paparan dibawah berikut.

Arti sebuah nama
Bila bercermin kepada sejarah, maka nama bukan saja sebagai hal yang penting, bahkan sangat penting, karena bagian yang bisa dikenang adalah nama. Nama di sini jadi sangat berarti dan terlihat perannya, karena dari nama yang dikenang maka langsung teringat di mana tempat itu berada di permukaan bumi. Kalau begitu jelaslah, nama menjadi suatu yang sangat penting dan utama, karena dia adalah: a) Identitas, b) Kekhasan daerah, c) Petunjuk lokasi, d) Memudahkan mengenal daerah asal nama dan e) Mengandung suatu harapan (sering disebut doa).

Beberapa pendapat mengenai nama tempat
Mengenai nama tempat di Minang (Sumatra Barat) menurut Zuriati dan Ivan Adilla terdapat beberapa kategori, yaitu: 1) Berdasarkan topografis atau keadaan permukaan bumi, 2) Nama tumbuh-tumbuhan, 3) Bentuk atau posisi daerah, 4) Sejarah, 5) Gabungan topografi dan sifat manusia, 6) Suku penduduk, 7) Fungsi daerah dan 8) Profesi penduduk. (padangekspres.com/mod, 22-01-2006).

Pembicaraan mengenai nama tempat, di Ranah Minang ternyata talah lama diperbincangkan, seperti pembincaraan antara sanak Bandaro Labiah, Badrul Mustafa, Mulyadi, Nofendri T. Lare, Muhammad Dafiq Saib, Zul Amri Piliang, Darul dll. Menurut sanak Badrul Mustafa, tahun 1967 dan 1996 telah menulis dikoran, Sanak Bandrul mencontohkan nama tempat, seperti “Bulaan Kamba” menjadi “Bulaan Kambar”. “Bulaan” adalah “mata air” sedangkan “kamba” adalah “kembar”. Kenapa “kamba” dirubah menjadi “kambar”? “Padang Laweh” menjadi “Padang Lawas”, “Lawas” artinya “lusuh, sudah tua”. Dunsanak Badrul tidak menyetujui di”Indonesia”kan karena merubah arti. Lain lagi sanak Alam Lembang, beliau membuat cerita mengenai “berburu” dan “tersesat jalan” yang di “Indonesia” kan. Sanak-sanak tersebut saling tanya-jawab dan berkomentar. Bila sanak sempat membaca tulisan tsb. mungkin tersenyum karena “sakuduang ula sakuduang baluik”, lucu, aneh dan janggal. Beda lagi dengan Sanak Mulyadi, sanak ini bangga dengan sebutan Sulikaia, bukan sulit Air bahkan, sanak Mulyadi berseloroh menukar Sulik Air menjadi “Difficult Water”. Pembicaraan secara lengkap dapat dibaca di R@ntau-net. Re: [banuanet “Keanehan Nama Kampung” 31 Maret sampai 3 April 2004. ] mudah-mudahan belum dihapus (masih ada) selamat membaca, (Lizenhs).

Sanak Suryadi dalam, “Historiografi Bahasa Minangkabau”, pada alinea terakhir menulis bahwa, “jauh sebelum Bahasa Indonesia secara resmi diikrarkan ….. orang Minang sudah menuliskan nama-nama kampung dan nagari tertentu dengan cara berbeda antara yang dilisankan dengan ragam tulis. Itu sudah merupakan bagian dari sejarah Bahasa Minangkabau. ……. Kita tidak perlu khawatir atas kemungkinan pergeseran makna akibat sistem penulisan yang berbeda dengan bentuk lisannya. Orang Minang tetap mengerti bahwa “Bandar Berkali itu maksudnya “Banda Bakali (lisan) asal jangan ditulis “Bandar Ber x” saja. (Ranah-minang.com, tulisan/282.3/htm 03-08-2006).

Tentu ada pula dunsanak lain berpendapat peng”Indonesia”an mencirikan moderen, atau suatu keharusan. Dunsanak tersebut risih bila tidak di”Indonesia”kan dan rasa ada sesuatu yang kurang. Mereka mengatakan kenapa harus dipermasalahkan perubahan tersebut. Itu kan soal bahasa. Silang pendapat ini sering muncul baik di Sumbar maupun di rantau. Yaaa, terjadi pro dan kontra.

Senada dengan pendapat diatas ada pula dunsanak yang menyatakan, bahwa kita sekarang hidup di zaman global. Berbicara sehari-hari sudah tidak ada yang asli, sudah terjadi campuran. Kenapa harus menggunakan sebutan nama tempat mengikuti bahasa lisan daerah tak perlulah, toh orang akan mengetahui juga nantinya. Sekali lagi terjadi pro dan kontra

Penulisan Nama Tempat menurut UNGEGN
Menulis nama tempat ternyata tidak semudah mengucapkannya, ada kalangan tertentu karena tugas diemban menyiapkan sejumlah kaidah dan cara menuliskan. Jika hanya menjadi urusan setempat atau nasional, masalahnya tidak akan terlalu besar. Namun ternyata cara penulisan itu melibatkan dunia, antar bangsa, bahkan PBB membentuk lembaga khusus untuk urusan nama pulau yaitu United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN). Resolusi no 4/1967 UNGEGN dipakai sebagai pedoman penetapan nama-nama georafis. Selain itu UNGEGN memintak kepada setiap negara membentuk “Lembaga Otoritas Nasional Mengenai Nama Unsur Geografis” (National Authority on Geographical Name) (cdc.eng.ui.ac.id/article/articleview/1560/1/2)

Tatacara penulisan geografis ternyata telah dibahas pula dalam pertemuan Redaktur Bahasa Mendiamassa dengan Bakosurtanal tahun 1993. Kemudian dilanjutkan pada tanggal 13 – 14 Juni 1994 yang dielenggarakan oleh Lembaga Pers Dr Soetomo. Acuan penulisan nama geografis di Indonesia telah ada yaitu Surat Keputusan Pemerintah no 50 (www.penerbit.net/modules.php?op) dan Badan Koordinasi Survei dan pemetaan Nasional (Bakosurtanal). Hasil pertmuan menuliskan tatacara penamaan Pulau dan Tempat di Indonesia sebagai berikut.

Penamaan Pulau dan Tempat di Darat
Untuk menanggapi komentar-komentar tersebut, ada baiknya mengetahui aturan UNGEGN, SKP, Bakosurtanal dan ketentuan bahasa mengenai nama. Perlu dicermati, karena terkait dengan pemetaan. Mari sama-sama kita simak.

1) Penamaan Pulau
Sumatra Barat pada bagian barat memiliki gugus pulau. Oleh karena itu perlu juga mengetahui tatacara penilisan nama pulau, teluk, tanjung, selat dan sungai untuk diberi nama baik pulau kecil maupun besar meskipun tidak ada penghuni ataupun berpenghuni, belum bernama dan/atau belum terdaftar di gesiter. Jadi tatacara penamaan diperlukan Pemda.

Kutipan berikut adalah mengenai penamaan Pulau nenurut UNGEGN. Pertama. Nama pulau hanya dapat diberikan oleh penduduk setempat, minimal tiga orang, yang dianggap mengetahui sejarah pulau tersebut. Kedua. Dicatat posisi geografis, luas, dan wilayah administrasi pulau tersebut, Ketiga. Ucapan (fonetik) local dari nama pulau tersebut direkam dalam tape dan ejaan penulisan nama dikonsultasikan dengan masyarakat setempat, Keempat. Hasil survei secara keseluruhan disampaikan kepada masyarakat dan aparat setempat untuk mendapat persetujuan.

Hal lain yang penting tentang nama suatu tempat/pulau adalah jangan menggunakan bahasa asing, seperti yang terjadi pada pulau Miagas (dalam bahasa Spanyol pulau Las Palmas). Amerika serikat mengklaim pulau itu. Komisi Senat Amerika datang kepulau Las Palmas tahun 1927 (setelah Amerika menang perang atas Spanyol dan memperoleh tanah jajahan baru Pilipina, Amerika mengira bahwa pulau Miagas adalah milik Spanyol). Setelah mendarat tenyata, mereka melihat sudah terdapat administrasi pemerintahan Belanda yang efektif di pulau tersebut. Amerika kemudian melepaskan klaimnya terhadap pulau yang dikiranya milik Spanyol. Pilipina pun menghapus pulau itu dalam UU Dasarnya. (kompas.com/kompas-cetak/0504/11/opini/1673402.htm)

Jelaslah dari apa yang terkandung dalam ketentuan tersebut. a) Sangat menekankan pada penamaan melalui survei. b) Sangat menghargai bahasa, fonetik, budaya dan kearifan local. Artinya masyarakat setempat maupun meraka yang tinggal dan berada disekitar mendapat perioritas utama untuk memberi nama. Sehingga mereka mempunyai rasa memiliki yang kuat dan dengan sendirinya akan terus memelihara apa yang tersimpan pada nama tersebut sejak pemberian nama dilakukan.

2) Penamaan Tempat di Darat
Bagaimana untuk nama tempat di daratan. Ketentuan penamaan pulau, tetap berlaku, dengan beberapa tambahan. Berikut muncul pertanyaan. Bagaimana suatu tempat ada yang telah diberi nama oleh masyarakat/penduduk setempat dan yang belum. Apakah nama tersebut dapat dibakukan, konsisten, dibuat dan digunakan dalam surat-surat dokumen?

Pedoman untuk pemberian nama ternyata sudah ada aturannya, yaitu aturan UNGEGN, Bakosurtanal dan SKP no 50. Ketentuan tersebut menyebutkan bahwa nama tidak dapat diubah begitu saja, begitu juga tentang fonetiknya (dipertahankan). Menjadi ganjil terdengar oleh masyarakat/penduduk setempat dan bahkan tidak menghargai mereka (setempat). Bila dirubah fonetiknya dimungkinkan penduduk setempat tidak mengenal dan/atau mentertawakan yang menyebut. Jadi unsur daerah harus dipertahankan.

Diharapkan dengan menggunakan aturan UNGEGN, SKP dan Bakosurtanal, nama-nama geografis pada peta dan/atau dokumen-dokumen menjadi konsisten, baik lisan (penuturan) maupun penuulisan.

Tatacara penulisan nama geografis itu mudah dan cukup sederhana. Pertama. Nama umum ditulis dengan tidak dipisahkan seperti seperi nama danau, sungai, teluk, tanjung dan gunung. Kedua: Nama tempat–kota dirangkai satu kata, betapapun panjangnya (contoh nama terpanjang 85 huruf terdapat di teluk Hawke, Selandia Baru). Ketiga. Mengubah/mengganti, berpotensi merubah makna sebenarnya. Keempat. Perubahan nama berpotensi menghilangkan nilai sejarah (historis), yang seharusnya dipertahankan. Kelima. Diharamkan penulisan nama tempat memakai angka, sebab dapat berbenturan dengan angka dalam peta yang dihasilkan. Lambang angka digunakan pada peta untuk menunjukan ketinggian suatu tempat, koordinat atau hal lainnya. (Pikiran Rakyat 8 Juni 2003, Kompas 7 Oktober 2005 dan http://www.penerbit.net/modules.hph?op).

Ketentuan Berdasarkan Bahasa Indonesia
Bahasa digunakan sehari-hari di Ranah Minang dekat dengan Melayu, yang menjadi dasar bahasa persatuan Indonesia (Bahasa Indonesia). Dua hal yang yang terjadi bila menggunakan bahasa Indonesia dalam penulisan nama tempat di Minangkabau. Pertama ditulis sebagaimana adanya, tidak di”Indonesia”kan. Kedua. Bila di”Indonesia”kan dapat terjadi: a) Tidak merubah arti, b) Merubah arti, c) Lucu, janggal dan bahan tertawaan. Perhatikan ketentuan menurut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) huruf tidak perlu di ubah seperti: “oe” tidak perlu menjadi “u”, “tj” (“c”), “dj” (“j”) dan demikian pula “j” tidak perlu menjadi “y” Contoh UNAND “Menudju Kedjajaan Bangsa” tidak perlu diubah menjadi “Menuju Kejayaan Bangsa”.

Pada bahasa Indonesia apa yang ditulis itu dibaca. Bahasa Minang sama dengan bahasa Indonesia. Apa yang dituturkan (lisan), itu yang ditulis. Apa yang ditulis, itu yang dibaca (dituturkan). Bila menengok ke mancanegara sebagai pembanding, sama dengan bahasa Jerman (apa yang tertulis, itu yang dibaca, atau sebaliknya). Ketentuan-ketentuan lain, selengkapnya baca dari buku mengenai bahasa Indonsia mengenai aturan EYD.

Pada paparan berikut, istilah kata di”Indonesia”kan tidak digunakan, diganti dengan “dirubah menjadi”, sebab bila menggunakan di”Indonesia”kan bararti aturan EYD diterapkan. http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Pedoman_penamaan/Lokasi_geografis
Paparan selanjutnya baca bagian kedua https://lizenhs.wordpress.com/2015/05/04/nama-tempat-kampuang-dan-kota-ambo-lucu-aneh-takberaturan-merubah-arti-dan-sejarah-bagian-kedua/#more-2645

sumber
[R@ntau-Net] Re: [banuanet] Keanehan Nama Kampung. Bandaro Labiah Thu, 01 Apr 2004 17:44:07 -0800. https://www.mail-archive.com/rantau-net@groups.or.id/msg02572.html
Re: [R@ntau-Net] Re: [banuanet] Keanehan Nama Kampung Muhammad Dafiq Saib Fri, 02 Apr 2004 18:13:53 -0800. https://www.mail-archive.com/rantau-net@groups.or.id/msg02610.html
Re: [R@ntau-Net] Re: [banuanet] Keanehan Nama Kampung
zul amri Fri, 02 Apr 2004 18:53:00 -0800 https://www.mail-archive.com/rantau-net@groups.or.id/msg02613.html
http://nasional.sindonews.com/read/838060/15/50-bahasa-daerah-terancam-punah-1392983397
http://word-dialect.blogspot.com/2013/07/bahasa-yang-terancam-punah-di-indonesia.html
Harian Singgalang, Minggu, 25 & 30 April 2006


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: