Posted by: lizenhs | April 17, 2015

FORMALISASI SEKTOR INFORMAL menurut Herman Soewardi

FORMALISASI SEKTOR INFORMAL menurut Herman Soewardi

Kata Pengantar

Berikut ini para pembaca Bukik Ranah Ilmu (BRI) akan membaca tulisan DR. IR. Herman Soewardi. Berjudul FORMALISASI SEKTOR INFORMAL (dua tulisan/makalah). Tulisan pertama disampaikan pada pertemuan rutin Staf pengajar IKOPIN. Setelah diskusi Pak Herman menulis kembali dengan judul yang sama kemudian dimuat pada Jurnal Koperasi Indonesia Tahun XVII nomor: 1. Agustus 2002. Pak Herman Soewardi adalah Rektor IKOPIN http://www.ikopin.ac.id/ (pertama dua perioda). Pak Herman guru Besar IKOPIN dan UNPAD. Sekarang Pak Herman Soewardi sudah tiada (almarhum). Kedua tulisan/makalah tersebut merupakan peninggalan beliau, dari beberapa tulisan lain. Kedua tulisan tersebut menarik untuk dibaca, didiskusikan dan/ata dianalisis dan/atau sebagai bahan pemikiran bagi pengambil kebijakan pengembangan sektor Informal atau LSM pemerhati Usaha Kecil dan Menengah. Mudah-mudahan kedua tulisan tersebut bermanfaat, selamat membaca dan bermanfaat. Bila anda suka sampaikan kepada teman (terima kasih atas kunjungan anda) (Haslizen Hoesin)

Tulisan/makalah pertama

FORMALISASI SEKTOR INFORMAL

Oleh: Herman Soewadi

Terbanyak dari pelaku ekonomi kita hidup dalam sektot informal. Sektor informal bersifat “stagnan”, tidak berkembang, terus membengkok, melayani pegawai kecil sector formal, kaitan kedepan dan kebelakang terbatas, tidak bankable, tercengkram lintah darat, dan sebagainya. Namun inilah tempat perekonomian kita mengambang dan persifat “plastis”. Dalam keadaan kekalutan ekonomi, sektor informal masik dapat tumbuh 1% pertahun. Sektor informal merupakan “asset nasional” dan kita perlu meningkatkan dinamikanya, melalui “formalisasi”.

I. SIFAT MASYARAKAT KITA
1. Teori adab – Karsa
Secara “ideal-type”, masyarakat diseluruh dunia dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) golongan:
A: Adab Tinggi – Karsa Kuat
B: Adab Rendah – Karsa Kuat
C: Adab Rendah – Karsa Lemah
D: Adab Rendah – Karsa Lemah
Indonesia termasuk D, atau “Chaos”
2. Terjadinya
Suatu “Kesialan Sejarah”, merupakan titik defleksi dari Kuat ke Lemah pada jaman Mataram, sebagai pengaruh dari Islam Gujarat, serat dengan mistis Hindu. Maka terjadilah masyarakat kita , masyarakat Paternalistik budaya bisnis lenyap, budaya organisasi lenyap, ekonomi pasar lenyap. Kita menjadi LEMAH KARSA.
3. Sifat – sifat Lemah Karsa
1. Tidak ada orientasi kedepan
2. Tidak ada “growth philosophy”
3. Cepat menyerah, tak ada “strive for excellence”
4. Berpaling keakhirat
5. Lamban atau Inertia
Ini pada umumnya masyarakat kita.

II. TERJADINYA SEKTOR INFORMAL
1. Diseluruh kota-kota besar di dunia terdapat SEKTOR INFORMAL, yang mulai tahun delapanpuluhan menjadi sangat membengkak, umumnya di negara berkembang.
2. Hal ini disebabkan karena “gagalnya” Teori Bisektoral, sebagai berikut:
Desa / Pertanian (menciut) –> Kota/ Industri (membengkak)
Hal ini terjadi, karena adanya “UNCOUPLING”,
• Antara sektor Primer dan sektor sekunder
• Tentang penyerapan tenaga kerja di sector Industri sendiri.
3. Barangkali ini sifat ekspansi sistem
Ekonomi Kapitalis (center) yang menghimpit “hinterland” (periphery). [ini merupakan pandangan teori Keterbelakangan, teori ketergantungan dan Teori Sistem Dunia].
Maka tenaga kerja memenuhi sektor informal.

III. PEMBERDAYAAN SEKTOR INFORMAL
1. Proses formalisasi
.                                  Informal                         Formal
a. Tujuan.                 “Hidup”                           “Untung”
b. Satuan Usaha         Keluarga                       Perusahaan
c. Manajemen            Berbaur                          Terpisah
d. Modal                    Stagnan                       Berkembang
e. Ekonomi                Terkotak-kotak                Bejana Berhubungan
f. Bank                      Tak Bankable                   Bankable
g. Rasinalitas             Takhyul                           Rasional
h. Dinamika.             “Bcwd bndg Sply curve”.   “Berkembang terus”

Keterangan: Bcwd = Backward
Sply = Supply
bndg = bending

2. Dapat dicapai melalui
Pengkopersian, seperti Koperasi Pasar, Koperasi Produsen, Koperasi Pemasaran baca Koperasi Produsen Apa itu https://lizenhs.wordpress.com/2009/09/02/koperasi-produsen-apa-itu%E2%80%A6%E2%80%A6/ dan Koperasi Produksi (Industri) https://lizenhs.wordpress.com/2009/11/11/koperasi-produksi-industri/

3. Bangkitkan jaringan Koperasi !!

Tulisan/makalah kedua

FORMALISASI SEKTOR INFORMAL 

Oleh: Herman Soewadi

1. Perkonomian Indonesia dalam keadaan kucar kacir. Kapan perekonomian ini akan kembali? Tak seorangpun yang tahu. Bahkan dirasakan, perekonomian Indonesia menuju kehancuran total. Mungkin sekali kehancuran total ini sudah diambang pintu. Apa hal ini merisaukan? Tak perlu. Kita malah harus bergembira. Sudah sejak jaman penjajahan, perkonomian Indonesia sudah merupakan perekonomian Dualisme (Boeke, 1905). Bila ini hancu total, kita akan mempunyai perekonomian yang sehat, yaitu satu, yang berlaku seluruh negeri. Kita tak perlu risau dan sebaliknya.
2. Ternyata perekonomian “lapis atas” atau “elit” inilah yang bersifat kapitalistik. Semoga ini cepat hancur, maka tinggal kita memiliki “perekonomian rakyat” yang kini biasa disebut Sektor Informal. Inilah yang akan menolong seluruh bangsa Indonesia. Namun terlebih dahulu perekonomian rakyat ini harus dibangkitkan, harus diberi kehidupan yang dinamis, yang tumbuh secara cepat dan limintu. Inilah upaya yang perlu kita lakukan, atau suatu upaya yang dapat kita sebut “formalisasi sektor informal”
3. Sector Informal berada dalam taraf “bertahan dalam kesulitan”, atau “treading water” (Geetz), artinya berusha agar tidak tenggelam lebih dalam lagi. Memang ada pertumbuhan (growth), tapi hanya sekitar satu (1%) pertahun, tidak signifikan tetapi lebih besar dari stagnan. Hal ini perlu dikemasi, sehingga mampu menyerap tenaga kerja dengan pertumbuhan yang terus-menerus. Hal ini tak lain bahwa kita harus mengupayakan “formalisasi” sector informal: kuat, ulet, tertib dan lumintu. Inilah sifat-sifat yang bisa disebut sebagai “the protestant ethic”
4. Keadaan sector informal kita bila diibaratkan seperti listrik, adalah tidak utuh jaringan listriknya dan lemah pula arusnya. Jadi jaringannya harus diutuhkan, juga arusnya dikuatkan. Bisakah itu dicapai?
5. Tentu kita memerlukan suatu uraian yang sangat terperinci, namun pada dasarnya adalah sebagai berikut:

…………………….Asal Informal.                         Menjadi Formal
Karsa         Lemah: “bertahan dlm kslt.      Kuat: Keluar dari Kslt
Kontak        Hubungan biasa                     Hubungan kontak (“pamrih”)
Bentuk        Usaha (“living”)                      Perusahaan (“profit”)
Manaj.        Berbaur dengan RT.               Terpisah dari RT
Jaringan.     Pmsr,Modal,Tknlg Terputus.    Pmsr,Modal,Tknlg bersambung
Bank          Tidak Bankable.                     Bankable
Perjanjian   Tidak lima tepat                     Lima tepat
SDM           Seadanya                             Profesional

Keterangan: Manaj = Manajemen
Kslt = Kesulitan
RT = Rumah Tangga
dng = dengan
Pmsr = Pemasaran
Tknlg = Teknologi

6. Tentu hal-hal itu lebih mudah dikatakan ketimbang dilakukan. Untuk ini Usaha Kecil, Menengah dan Koperasi dapat digembleng di dalam “inkobator bisnis”, sehingga bias berhasil dan timbullah kembali “business culture”. Indonesia, terutama di Jawa sudah kehilangan business culture selama lebih kurang 4 abad. Maka perekonomian Indonesia hanya satu, tidak ada lagi “dualism”. Bahan mentah diperoleh dari dalam, diproses dan tanpa terlalu bergantung kepada luar negeri.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: