Posted by: lizenhs | March 14, 2015

KENYAMANAN PENGLIHATAN, SUASANA YANG SERING DILUPAKAN

KENYAMANAN PENGLIHATAN, SUASANA YANG SERING DILUPAKAN

Oleh: Haslizen Hoesin

Kerusakan mata atau penuruman adaptasi mata, dapat disebabkan oleh banyak hal. Satu diantaranya adalah pengaruh besar kecil cahaya yang dihadapi/diterima mata dalam berakomosi selama selang waktu yang tidak tertentu.

Sumber cahaya untuk penerangan dibedakan atas dua, yaitu cahaya alami dan buatan. Cahaya alami yaitu dari radisi matahari yang disebut cahaya tampak sedangkan cahaya buatan yaitu cahaya yang berasal dari lampu listrik dan lampu bersumbu (sering juga disebut lampu templok atau lampu minyak tanah). Berkenaan dengan kenyamanan penglihatan berkait juga dengan Ergonomika.

Berkenan dengan kerusakan mata, sering timbul karena disebabkan oleh kurangnya pengertian akan kuat (besar) cahaya pada bidang kerja dan letak sumber cahaya atau arah datang cahaya yang dibutuhkan mata.  Hasil survey di ITB thn 1979, diketahui bahwa sekitar 20% mahasiswa ITB berkaca mata, lebih dari sepertiganya mulai berkaca mata sejak dimakan oleh pelajaran di ITB. Jangan dilupakan pula yang berkacamata ini setiap tahun diperkirakan bertambah minusnya.

Bila ditinjau radiasi matahari, spectrumnya yang sampai dipermukaan bumi mencakup: Ultra ungu dan yang dibawahnya, cahaya tampak diatas dan dibawahnya dan inframerah.  Dalam hal radiasi matahari sebagai sumber cahaya (yang disebut cahaya tampak), spektrumnya terletak antara 380 –760 nanometer, mencakup: warna ungu, biru, hijau, kuning, jingga dan merah.  Penerangan dari cahaya matahari dibidang kerja disuatu tempat, disebut penerangan alami siang hari.

Selain cahaya matahari sebagai sumber cahaya dibidang kerja adalah cahaya buatan.  Cahaya buatan diperoleh dari lampu. Secara umum lampu, dibedakan dalam dua jenis yaitu lampu pijar dan lampu pelepas listrik (lampu fluorisen dan lampu berisi gas yang bertekanan tinggi).

Lampu pijar

Cahaya lampu pijar bersumber dari filament yang terdapat di dalam lampu.  Lampu pijar memancarkan cahaya terutama dalam spectrum tampak, warnanya lebih merah.   Jika suhu filament relative rendah, radisinya dominan dalam daerah inframerah.  Makin tinggi suhu, makin bergeser radiasinya kearah gelombang yang lebih rendah, sehingga warna cahayanya tarlihat lebih putih.  Cahaya merah lampu akan terlihat bila tegangan (voltase) relative rendah dari yang dibutuhkan.

Lampu pelepasan listrik

Lampu pelepasan listrik, dapat dibedakan dalan dua jenis yaitu: bertekanan rendah (0.00008 atm) dan bertekanan lebih tinggi.  Lampu bertekanan rendah diisi dengan gas fluorisen.  Setelah pengaturan campurannya, diperoleh 20% dari input watt diubah menjadi cahaya dalam spectrum tampak.  Lampu pelepasan bertekanan lebih tinggi diantaranya argon, sodium dan neon.  Lampu ini menghasilkan cahaya mendekati cahaya tampak (matahari).  Misal, lampu yang diisi mercury cahayanya biru-hijau keputihan.  Lampu ini sangat peka terhadap penyimpangan voltase.

Faktor kenyamanan

Suatu factor yang perlu diperhatikan untuk melihat sesuatu adalah kepekaan mata terhadap cahaya.  Sedangkan untuk mampu yang diperuntukkan mengamati sesutu benda diperlukan daya lihat (visual performance).  Daya lihat akan terasa lebih membaik sesuai dengan membesarnya penerangan (illuminasi).  Daya lihat juga ditentukan oleh ukuran obyek yang dilihat, kontras warna dan illuminasi terhadap lingkungan dan jaraknya kemata.  Berkdenaan dengan kontras, terutama dalam illuminasi, merupakan masalah yang sangat penting dalam persoalan kenyamanan penglihatan dan suasana santai bagi mata, karena kontras akan menyebabkan kelelahan.  Berdasarkan pengertian inilah meja-meja sekolah/kantor, mesin, alat-alat kantor, tegel lantai dan dinding dianjurkan berwarna muda agar kontras lingkungan bekurang.  Suasana santai mata juga terganggu oleh silauSilau ini ditentukan oleh ukuran out-put cahaya serta pembauran dari sumber/cahaya, jarak, sudut penglihatan, tingkat illuminasi, ukuran ruangan, jenis tugas visual, lama adaptasi mata, kepekaan & reaksi psikologi individu. Silau akan terasa sekali gangguannya, kalau berasal dari sumber cahaya yang berada dalam daerah sudut antara 45 – 85 derajat dari atas/depan mata (diukur dari vertical di atas mata).  Kesilauan akan mengurangi kemampuan untuk melihat dengan jelas dan melaksanakan pekerjaan/tugas dengan baik dan cepat, disamping menimbulkan rasa tidak aman.

Ukuran cahaya

Indra penglihatan karena fluksi cahaya seperti apa yang telah dipaparkan di atas, mempunyai 3 ciri yaitu warna, kejenuhan dan terang cahaya.  Jelaslah bahwa watt bukan merupakan satuan yang baik untuk pengukuran fluk cahaya.  Satuan untuk menunjukkan kesanggupan radiasi/cahaya yang menyatakan terang cahaya adalah lumen.

Aspek lain yang perlu dipertimbangkan mengenai cahaya lampu adalah mutu warna.  Warna ini erat sekalu hubungnnya dengan iluminasi (Lumen per meter kwadrat) dan kenyamana penglihatan.  Untuk memperoleh penerangan yang baik, terutama di siang hari dalam bangunan/ruangan disarankan menggunakan penerangan alami siang hari baur, (bukan cahaya langsung), karena hampir memenuhi semua persyaratan kenyamanan penglihatan, juga menghemat energi komersial untuk penerangan.  Untuk itu perlu pemikiran dan perencanaan bangunan, ukuran ruangan dan luas bukaan jendela dengan memperhatikan posisi (lintasan) matahari.  Kenyamanan ini sering pula dikaitkan dengan Ergonomika.

Dalam upaya memanfaatkan penerangan alami siang hari dalam bangunan/ruangan di Indonesia (dipetik dari standard penerangan buatan di dalam gedung-gedung diterbitkan DPMB 1978), antara lain untuk: Ruang belajar, illuminasinya 200 -300 lux warna cahaya sedang.  Di laborium dan bidang kerja horizontal (meja tulis-baca), illuminasinya 300 lux, warna sejuk atau sedang atau hangat.

Cara Penempatan Sumber Cahaya Buatan

Agar mata tidak cepat capek dan nyaman saat membaca dan/atau menulis, mengerjakan sesuatu, maka cahaya datang dari kiri atau belakang, dengan kata lain sumber cahaya berada disamping kiri atau dibelakang, sehingga cahaya yang jatuh pada bidang kerja dan dipantulkan, tidak mengenai mata.  Jadi sangat tidak baik bila cahaya datang dari arah depan (sumber cahaya berada didepan), sebab pantulan cahaya akan mengenai mata dan akan terjadi silau.

Ergonomika

Berikut dipaparkan selintas menegnai Ergonomika atau (sering juga disebut ergonomi) bahwa Ergonomika adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara manusia dengan elemen-elemen lain dalam suatu sistem, serta profesi yang mempraktekkan teori,  prinsip, data, dan metode dalam perancangan untuk mengoptimalkan sistem agar sesuai dengan kebutuhan, kelemahan, dan keterampilan manusia.

Pengertian lain, Ergonomika (ergonomi) adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara manusia dengan elemen-elemen lain dalam suatu sistem, serta profesi yang mempraktekkan teori, prinsip, data dan metode dalam perancangan untuk mengoptimalkan sistem agar sesuai dengan kebutuhan, kelemahan dan keterampilan manusia. Pengertian lain Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia bertujuan untuk menurunkan stress yang dihadapi dalam melakukan pekerjaan, yaitu cara menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh, pengaturan suhu, cahaya dan kelembaban, betujuan agar sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia agar tidak melelahkan.

Terdapat beberapa prinsip dasar dalam ergonomi yaitu :

1). Meningkatkan faktor kenyamanan.

Yaitu dengan menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, membuat agar display dan contoh mudah dimengerti supaya para pekerja dalam melaksanakan tugasnya (bekerja) dengan nyaman terhapap panas (suhu), penerangan (cahaya) dan kelembaban (RH).

2). Meningkatkan keselamatan kerja

Yaitu membuat standard operasional produksi (SOP) yang mengutamakan keselamatan para pekerja dalam bekerja dengan memperhatikan jarak ruang, menempatkan peralatan agar selalu berada dalam jangkauan, mengurangi beban berlebih, dan bekerja sesuai dengan ketinggian dimensi tubuh pekerja.

3). Memperhatikan kesehatan kerja

Yaitu menciptakan suasana bekerja yang sehat dengan cara bekerja dalam posisi atau postur normal, mengurangi gerakan berulang dan berlebihan, melakukan gerakan, olahraga, dan peregangan saat bekerja.

Pustaka

Departemen Pekerjaan Umum (1989).  “Tata cara Perancangan Penerangan Alami Siang Hari”. Yayasan LPMB, Bandung.

Departemen Pekerjaan Umum (1978).  “Standard Penerangan Buatan di Dalam Gedung-gedung”. Yayasan LPMB, Bandung

Haslizen, (1979). “Kenyamanan Penglihatan, Suasana yang Sering Dilupakan”. Berita ITB, 15 Agustus, no 18 tahun XVIII.

Lynes, J. A. (1986). “Principles of Natural Lighting”.  Elsevier Publishing Company.  Amsterdam.

Diktat kuliah Ergonomi dan Tata cara Kerja IKOPIN 2015

Beberapa pustaka tidak  ditampilkan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: