Posted by: lizenhs | January 24, 2015

Rumah Gadang: Rancangan Pepatah Adat Nan Mancangangkan dan Bangga

Rumah Gadang: Rancangan Pepatah Adat Nan Mancangangkan dan Bangga

Oleh: Haslizen Hoesin.

1. Pengantar

Rumah gadang (sering juga disebut rumah adat) adalah rumah masyarakat Minangkabau (Sumatra Barat) yang dilintasi matahari (Khatulistiwa). Bila dicermati adalah rumah hemat energi dan dekat kealam dan menggunakan bahan local, disitulah letak keunggulannya. Diperkirakan dirancang dan diterapkan sudah lebih dari 300 tahun yang lalu. Rumah dibangun mengikuti tata ruang jorong (kampung). Rumah tidak boleh dibangun disembarang tempat, pepadah adat menggambarkannya. Selamat membaca semoga bermanfaat dan dapat dijadikan inovasi membangun rumah. Ingat bahwa Indonesia di daerah tropis, rancanglah bangunan bercirikan rumah tropis.

2. Pendahuluan
Kondisi geografis Sumatera Barat menjadikan penduduk belajar kepada alam. Hasil/ujud belajar dari alam, satu diantaranya adalah rancangan rumah bagonjong. Rancangan rumah bagonjong sungguh mencengangkan. Bila ditinjau dari sisi gempa, rancangan rumah tahan gempa. Bila ditinjau dari energi, rancangan hemat energi (pencahayaan, kenyamanan udara dan pendengaran. Wajarlah menjadi rumah kebanggan dan dijadikan lambang. Rumah Gadang sebaiknya ditirukembangkan, diteliti lebih mendalam, kemudian disebarluaskan dan direalisasikan untuk rancangan rumah tropis di Ranah Minang dan daerah lain. Dalam kata lain buat lagi rumah yang baru dengan ilmu yang terakhir tanpa meninggalkan keunggulan rumah gadang rancangan nenek-moyang dulu.

3. Geografi Sumatera Barat
Sumatra Barat terletak pada patahan dan gunung, pebukitan, berlembah-lembah dan ber iklim tropis. Patahan, gunung, bukit dan iklim sangat berpengaruh terhadap rancangan perumahan dan rumah Gadang. Minangkabau (Ranah Minang) sebagian beasar berada di wilayah provinsi Sumatra Barat (Sumbar).

I k l i m
Ranah Minang (Sumbar) berada digaris Khatulistiwa, beriklim tropis dengan suhu udara normal berkisar antara 220 – 330 C, kelembaban udara antara 36 – 75 %. Daerah barat dipengaruhi oleh angin laut, sehingga sepanjang tahun udara lembab. Daerah timur terutama bulan Juli-Agustus udara relatif kering. Secara umum curah hujan cukup tinggi berkisar antara 1.785 – 5.615 mm per tahun (www.geocities.com/rantaunet/news.).

Patahan
Ranah Minang berada di patahan Semangko dan Bukik Barisan yang memanjang dari teluk Semangka (Lampung) ke pulau Weh (Aceh).
Suatu yang khas di daerah patahan dan pebukitan itu, terdapat gunung, danau dan batang aia (sungai), lambah (lembah) dan air terjun (aia mancua (aia mancucua) atau sarasah), mato aia sejuk dan aia angek (air hangat), udara yang sejuk, hamparan sawah sempit nan subur susun bertingkat seperti tangga. Kekhasan tersebut merupakan perpaduan yang harmonis, indah dilihat, menarik untuk dikunjungi, ditelusuri dan didaki sampai kepuncak. Patahan dan sesar yang terkenal seperti Ngarai Sianok, Lambah Anai, Lambah Arau dll. Di samping lambah terdapat beberapa gunung dengan ketinggian melebihi 2000 meter, yaitu gunung Marapi, Singgalang, Tandikek, Talang, Talamau dan Sago (www.geocities.com/rantaunet/news.).
Patahan dan gunung yang aktif penyebab terjadi gempa vulkanik dan tektonik. Gempa dapat pula disebabkan lonsor, tanah runtuh diperbukitan atau gua-gua di daerah gunung kapur yang labil.

Gunung dan Gempa
Gunung-gunung di ranah Minang kebanyakan masih aktif (berakibat gempa). Gunung Marapi (ingat sahabat, bukan gunung Merapi, Gunung Merapi di Jawa Tengah. Jangan di Indonesia-kan nama-nama tempat, nanti berubah arti dan tempatnya berada). Dari catatan yang ada tahun 1807 – 1973 Gunung Marapi telah terjadi letusan sebanyak 46 kali (www.cimbuak.net). Bulan April 2001 (Kompas) dan Agustus 2005 (www.ranah-minang.com) gunung Marapi meletus kembali.
Gunung Tandikek pernah meletus 1889 dan 1914. Gunung Talang telah meletus beberapa kali, dari catatan diketahui pada tahun 1833, 1843, 1845, 1878, 1967 dan 1968. (www.vsi.esdm.go.id/gunungapi). Bulan April 2005 Talang meletus kembali (www.ranah-minang.com). Walaupun gunung-gunung tersebut aktif, tapi disaat-saat tertentu tidak aktif, menarik untuk dijelajahi dan didaki (wisata alam dan gunung). Gunung yang sering didaki juga adalah Gunung Singgalang, dipuncaknya terdapat Talago.
Selain gempa vulkanik, telah terjadi gempa tektonik tahun 1797 dan 1833 dengan pusat gempa didasar laut dan terjadi Tsunami di pantai Padang (www.iagi.or.id). Tanggal 12 dan 13 September 2007 getaran gempa yang berpusat di Bengkulu dan Jambi dirasakan di Sumatera Barat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono datang meninjau lokasi akibat gempa melalui udara dan jalan darat ke Pesisir Selatan.
Yaa…… gempa sering terjadi dan dirasakan di Sumatera Barat, apakah dalam skala tinggi atau rendah. Gempa tidak dapat dielakkan, tapi harus dihadapi dengan merencanakan bangunan yang tahan gempa. Kerugian akibat gempa dapat langsung dan tak langsung terhadap bangunan, tak langung berupa retakan karena kerentanan bangunan sebelum terjadi keruntuhan. Gempa dapat berakibat kejatuhan peralatan dalam bangunan, kebakaran, tsunami dan tanah longsor. Faktor kerentanan bangunan sangat erat berhubungan dengan perhitungan bencana gempa.
Iklim, perbukitan, gunung, lembah dan gempa menyebabkan penduduk Minang (setempat) berfikir keras, bila ingin bermukim di daerah tersebut dengan aman. Semua lokasi dan kejadian akan gempa yang dialami dijadikan pengalaman. Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Muncullah pepatah adat, yaitu alam takambang (sunnatullah) jadi guru.

4. Membangun Rumah Menurut Pepatah Adat
Kondisi geografis Ranah Minang sebagaimana digambarkan diatas, menghasilkan suatu konsep atau falsafah (dalam bentuk pepatah adat) yang mencengangkan, untuk pemukiman dan membangun rumah. Pepatah adat menyebutkan bahwa bila mendirikan rumah harus memperhatikan alua jo patuik dan lingkungan. Pepatah adat menekankan sekali belajar dari alam; Alam takambang jadi guru, Nan lereng tanami tabu, Nan rato kaparumahan, Kok munggu ka pakuburan, Nan bancah tanami padi (sawah). Nan gauang jadikan tebek. Pepatah adat tersebut tampak jelas mengenai keadaan lahan perumahan, gonjong, tunggak, sandi dan ukuran rumah

Pemanfaatan dan Pemilikan Lahan (Tata Ruang)
Alam takambang jadi guru benar-benar menjadi landasan rancangan pemanfaatan lahan untuk perumahan; Nan tunggang ditanami batuang. Nan lereng tanami padi. Nan gurun buek ka parak. Nan bancah jadikan sawah. Nan gauang ka tabek ikan. Nan rawang ranangan itiak. Nan padang tampek gubalo. Nan lacah kubangan kabau. Nan padek kaparumahan. Nan munggu kapandam pakuburan. Pemilikan hutan; “sakalian nego hutan tanah, baiakpun jirek nan sabatang, baiakpun rumpuik nan sahalai, baiakpun kasiak nan saincek, kabawah sampai kakasiak bulan, kaateh nyato kaambun jantan, pangkek pangulu punyo ulayat.
Pepatah adat memberikan pula arah untuk merancang rumah; Rumah gadang basandi batu. Sandi banamo alua adat. Tunggak banamo kasadaran. Tunggak gaharu lantai candano. Lantainyo data balantai kulik. Licinnyo balantai papan. Atok ijuak, dindiang baukia. Gonjong ampek bintang bakilek-an. Gonjong banamo rabuang mambacuik. Antiang-antiang disemba buruang. Tarali gadiang baririk. Bubungan burak katabang. Tuturan alang babega. Parabuang si ula gerang. Paran bagamba ula bagaluik. Anjuang batingkek baalun-alun. Pepatah adatpun memberi penjelasan lebih khusus tentang tunggak, sandi dan ukuran rumah.

Tunggak, Sandi dan Ukuran Rumah
Bahan kerangka rumah adalah kayu. Kayu yang dipilih dari hutan ulayat atau hutan nagari untuk rumah pepatah adat menegaskan; Nan kuek ka tunggak tuo, Nan luruih rusuak paran, Nan lantiak kabubungan.
Rumah menggunakan “Sandi”. Sandi sangat berperan pada sebuah rumah, pepatah menyebutkan; Kuek rumah karano basandi, Rusak sandi rumah binaso. dst.
Ukuran (panjang, lebar dan tinggi) rumah tidak ada yang baku (standard). Pepatah hanya memberikan tuntunan, yaitu mengikuti alua jo patuik (pantas dan harmonis) dan sesuai lingkungan sekitar.
Walaupun tersamar pepatah adat menyebutkan ukuran rumah: Rumah gadang salangko gadiang, Sapakiak budak maimbau, Sakijok kubin malayang, Sakuek kuaran tabang. Salanca kudo balari. Penggalan pepatah lain: Rumah gadang sambilan ruang. Rangkiang baririk dihalamannyo. dst

Penjelasan Selintas Pepatah Adat
Pepadah adat menekankan bahwa lahan untuk bermukim (parumahan) harus Nan rato dan Nan padek. Dua penggal kalimat pepatah itu membimbing perencana saat memilih lahan mendirikan rumah. Tafsiran pepatah untuk memilih tempat perumahan adalah pada tanah yang baik, tidak boleh didirikan pada tanah yang labil, basah, rendah, bancah, dan di tanah pertanian.
Bagonjong ampek, pepatah adat menyebut gonjong rumah. Bila terdapat mahligai dan paranginan, gonjong jadi enam. Selain bagonjong ampek terdapat pula bagonjong dua.
Bagonjong ampek ternyata suatu falsafah yang tinggi, menggambarkan kehidupan masyarakat Minang dalam ba nagari (dunia) dan keagamaan dinyatakan dalam empat kata yaitu cupak, adat, undang dan syarak. Apa yang tersimpan dalam kata-kata tersebut: cupak (suatu ukuran: panjang, berat, takaran (isi), waktu, dst), adat (sopan-santun dan etika dalam kehidupan sehari-hari), undang (ketentuan-ketentuan (aturan) banagari, berpemerintahan, dst) dan syarak (tata atau aturan hidup beragama).
Ukuran rumah kearah memanjang disebut ruang, kearah lebar disebut jalur/banja (labuah) sedangkan tinggi mengikuti pepatah adat alua jo patuik. Panjang rumah ditentukan oleh jumlah biliak (kamar). Ukuran biliak adalah ruang dan banja.
Jumlah ruang rumah gadang beragam. Hasil pengamatan menunjukkan berjumlah ganjil, yaitu 3, 5, 7 atau 9, sedangkan banja empat. Di beberapa tempat ada yang sampai 11 ruang. Bahkan terdapat pula rumah gonjong, tiga ruang dan tiga banja. Sandi sebagai landasan tunggak adalah batu yang rata pada bagian atasnya. Sekarang batu diganti dengan campuran semen-kerikil dan dirancang sesuai kebutuhan.
Jika diperhatikan secara keseluruhan anjuran pepatah adat diatas mengenai tempat bermukim dan hidup merupakan unsur/komponen yang saling berkait. Perumahan adalah bagian dan rumah sebagai bagian dari bagian perumahan. Jadi bukan berpikir sebagian-sebagian (parsial). Nenek moyang berpandangan jauh kedepan, sekarang dikenal secara sistem.

Umur Rumah Gadang
Kapan rumah gadang tradisional didirikan, tidak diketahui dengan pasti. Rumah gadang tradisional yang ditemui sekarang sudah sedikit. Dari yang sedikit, masih bertahan dan terawat diantaranya: 1). Milik Datuak Pangulu Basa, kabupaten Tanahdata (Tanahdatar). Rumah Gadang ini warisan keluarga dan yang bertanggung jawab mengurus adalah Datuak Pangulu Basa kelima. Rumah, didirikan oleh Datuak Pangulu Basa pertama. Datuak Pangulu Basa kelima memperkirakan rumah telah berumur 350 tahun (www.cumbuak.net). 2). Di Sulikaia terdapat rumah gadang 20 biliak (kamar) diperkirakan berumur 200 tahun (Myrtha Soeroto). 3). Di kanagarian Kotonanampek, Payokumbuah terdapat pula rumah gadang, diperkirakan berumur 250 tahun (Sumatera Ekspres, Juli 2005).
Kalau begitu, rumah-rumah gadang tradisional yang tersebar di ketiga luak dan rantau dakek (dekat) berumur ratusan tahun.
Sungguh mencengangkan rumah-rumah tersebut, karena dapat bertahan, padahal gempa telah berulang-kali (puluhan) terjadi di Sumatera Barat. Apakah itu karena alam takambang dijadikan guru? Mari sama-sama dicermati konstruksi secara mudah.

5. Tampilan Rumah
Rumah Gadang rancangan arsitek tradisional (Nan Kodoh Rajo), berupa rumah panggung batunggak (bertiang) banyak. Bentuk badan melengkung landai (menyerupai kapal) disebut “silek”. Tunggak rumah dari kayu ditegakkan di atas sandi. Tunggak pertama yang ditegakkan disebut “tunggak tuo”. Sandi merupakan alas tunggak dan merupakan perantara antara rumah dengan tanah. Bila tanah berberak datar, tiang (rumah) bergerak juga tapi tidak sekuat garakan tanah karena diredam sandi.
Atok (atap) rumah gadang, ijuak (ijuk). Atok melengkung arah memanjang dan lebar. Lengkungan arah memanjang disebut gonjong. Arah lebar, miring dan melengkung. Kemiringan mulai dari landai sampai hampir tegak lurus mendekati ujung gonjong. Sisi tegak gonjong ditutup dengan kayu berukir dan/atau anyaman batuang (bambu).
Dindiang (dinding) rumah Gadang bagian depan dan samping kiri-kanan dari kayu berukir. Bagian belakang, badindiang batuang belah berlapis dua, yaitu sasak bugih dan tadia. Irfin menuturkan, “sasak bugih adalah anyaman batuang belah yang tebal sedangkan tadia adalah anyaman batuang yang ditipiskan”. Anyaman tadia adalah campuran kulit dan daging batuang.
Pintu terletak di poros (tengah) rumah, sedangkan jendela hanya dibagian depan setiap ruang rumah. Menurut Pili (Fadli) “rumah gadang nan awak tampati, dulu indak bajendela dibulakang, tapi wakatu ambo ketek dibuek jendela”. Pintu dan jendela diukir.
Tata ruang rumah gadang terdiri dari ruang besar (3 banja) dan deretan biliak (kamar) di sisi belakang. Dari depan kebelakang berturut-turut, disebut banja bandua tapi, labuah gajah, labuah tangah dan biliak.
Masuk rumah digunakan janjang. Janjang terbuat dari kayu, anak janjang berjumlah ganjil. Sebagian rumah, janjang di atap (datar atau bagonjong). Tangga masuk berada di tengah dan terdapat serambi (beranda). Jumlah anak tangga biasanya ganjil bisa 5, 7, atau 9.
Rumah gadang dibangun menghadap/mengarah pada satu arah yang sama. Rumah-rumah lain sekitar rumah gadang, terdapat pula rumah “gaduang” (tidak bagonjong). Arah rumah-rumah tersebut tetap mengikuti arah menghadap rumah gadang.
Dikenal tiga jenis rumah gadang, yaitu Rumah gadang Gajah Maaram, Rajo Babandiang dan Bapaserek (serambi papek). Gajah Maaram terlihat gemuk seperti gajah duduk, Rajo Barbandiang atok lebih tinggi sedangkan Bapareset memiliki bagian yang diseret (www.propertyenet.com). Ketiga jenis rumah ini tersebar di luak nan tigo dan rantau dakek dan jauah (jauh) (Julius Dt. Malako Nan Putiah). Rumah bagonjong terdapat pula diperantauan, diluar rantau dakek dan jauah dan di negeri jiran (Negeri Sembilan Malaysia).
Antara rumah yang satu dengan yang lain tidak terdapat pembatas (pagar). Pagar hanya antara rumah dengan “parak” (kebun), yaitu pagar hidup. Ketetapan tanpa pagar antara rumah memperlihatkan tidak ada batas antar penghuni rumah. Pagar hidup menunjukan dekat kealam dan pekarangan terasa nyaman.
Menurut Djauhari Sumintardja dan Gebu Minang, bahwa rumah Gadang bukan hanya untuk tempat tinggal, tapi juga untuk Balai Adat. Bentuk Balai Adat persis sama dengan rumah gadang tapi tidak memiliki dinding. Balai untuk tempat musyawarah.
Bila berbicara mengenai konstruksi, menurut Yulheri Abas (yabas@vub.ac.be) kontruksi rumah Minangkabau tahan gempa
Kenapa rumah gadang membesar keatas, bersandi, atok ijuak dengan kemiringan mendekati tegak lurus, berjendela lebar, dindiang kayu dan batuang, anak tangga ganjil dan mengarah pada satu arah? Apa arti yang terkandung?

6. Konstruksi Rumah, Tinjauan Selintas
Konstruksi rumah gadang yang ditinjau adalah bentuk badan dan tunggak, sandi, gonjong dan atok, langik-langik, pintu dan jendela, dindiang, lantai dan kolong rumah, pasak dan janjang. Bertujuan sebagai pembangkitkan ingin tahu. Mudah-mudahan berkembang menjadi penelitian dan mengungkap lebih ilmiah.

Bentuk Badan dan Tunggak
Rumah gadang adalah rumah panggung batunggak (bertiang) banyak. Badan rumah gadang membesar keatas dengan kemiringan berkisar antara 910 – 940 arah tegak. Kemiringan juga mengambarkan kemiringan tunggak. Bahan utama kerangka rumah adalah kayu
Satu dari sekian tunggak rumah disebut tunggak tuo, bernama si Majolelo. Tunggak tuo, adalah tunggak utama dan pertama kali ditegakkan. Tunggak-tunggak lain bernama tunggak Tapi, tunggak Tamban, tunggak Tangah dan tunggak Saluik. Tunggak adalah kayu pilihan. Fadli (dari Salo-Joronglimo, Sumaniak) menuturkan: “tunggak rumah dari kayu, bilo tajadi gampo, bakicuik-kicuik (badariak-dariak) akibat bagoyang (ta-ayun), urang balarian kalua. Alhamdulillah rumah lai indak runtuah”
Kemiringan tunggak bila arah tegak diubah mendatar menjadi 840 – 890. Secara statika (fisika) karena tunggak miring, gaya berat rumah di setiap titik tumpu (sandi) akan terbentuk vektor dan terurai menjadi dua arah, yaitu arah datar (horizontal) dan menuju kepusat bumi. Pada tunggak-tunggak pojok, gaya beban akan terurai menjadi tiga arah, yaitu dua datar (panjang dan lebar) mengarah kedalam rumah dan satu kepusat bumi. Keadaan ini terjadi pada setiap tunggak pojok. Pada tunggak-tunggak depan, belakang dan sisi vektor beban terurai dua arah yaitu kepusat bumi dan arah datar (mengarah kedalam bangunan). Setiap tunggak yang miring, maka gaya akan terurai seperti diatas.
Bila dihitung secara trigonometri, kemiringan 960 maka pada: Arah memanjang, bila panjang rumah 23 m, vektor perpanjangan tunggak bertemu pada kedalaman 341 m. Arah lebar dengan lebar rumah 9.0 m, vektor perpanjangan tunggak akan bertemu pada kedalaman 129 m. Vektor beban rumah beserta perabot di titik temu, akan terjadi penjumlahan yang hanya mengarah kepusat bumi, sedang vektor mendatar dapat saling meniadakan. Bagaimana titik berat rumah? Menghitungnya cukup rumit.
Bila pada kapal terdapat gaya kepusat bumi menyebabkan posisi tegak kapal tetap terjaga selama diperjalanan. Analogi dengan kapal, maka pada rumah gadang gaya kepusat bumi mempertahankan rumah tetap berdiri tegak. Sungguh bagus rancangan tunggak rumah dan mencengangkan.

S a n d i
Sandi adalah batu yang cukup besar dan rata bagian atas. Sebagian Sandi terbenam kedalam tanah. Sandi adalah landasan tunggak ditegakkan, berfungsi sebagai perantara tunggak dengan tanah (bumi). Jadi tunggak tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Sandi berfungsi sebagai; 1) Menahan air tanah ke tunggak, sehingga tunggak tahan lama. 2) Memperlebar luas permukaan yang bersentuhan dengan tanah, berati memperkecil gaya berat persatuan luas yang diteruskan ketanah. 3) Goyangan (getaran) mendatar di tanah, tidak dipindahkan langsung ketunggak rumah.
Dari ketiga fungsi sandi tersebut, sungguh mencengangkan gagasan tersebut, telah dikemukakan dan diterapkan lebih dari 350 tahun yang lalu.

Gonjong dan Atok
Bentuk atok (atap) rumah gadang arah memanjang berbentuk lengkungan seperti tanduk kerbau disebut gonjong. Sekitar 50 cm kearah kedalam dari pinggir gonjong ditutup dengan tadia atau kayu berukir.
Atok rumah gadang adalah ijuak (ijuk). Kemiringan atok arah lebar, mulai dari lebih 200 menuju puncak gonjong mendekati 900. Karena atok melengkung dan miring arah memanjang dan lebar, maka terdapat rongga antara atap dengan langit-langit. Kemiringan yang melengkung, menyebabkan air hujan yang jatuh ke atap akan cepat mengalir, berarti atap cepat kering.
Sudut kemiringan melebihi dari 200 menyebabkan daya serap energi matahari mendekati minimal. Penyerapan radiasi maksimal terjadi pada kemiringan disekitar 200. Ijuk berwarna hitam menyerap energi matahari siang hari berbentuk gelombang pendek dan memancarkan kembali dalam bentuk gelombang panjang di malam hari ke ruang dalam rumah. Atok ijuak, sekarang diganti dengan seng atau sekarang ada dengan genteng. Hebat rancangan kemiringan atap rumah gadang yang telah diterapkan berates tahun yang lalu. Gonjong pakai anting-anting belimbing, labu-labu.

D i n d i a n g
Dindiang (dinding) bagian depan dan samping rumah Gadang dari kayu berukir. Belakang anyaman batuang (bambu) belah berlapis dua, sasak bugih dan tadia.
Anyaman batuang berlubang, berperan sebagai lubang udara segar dan 02 masuk (ventilasi). Bukaan jendela ataupun anyaman batuang menyebabkan gerakan udara dalam ruangan. Udara hangat dan CO2 terdorong keluar ruangan melalui celah didiang dan jenela. Itulah manfaat dindiang batuang, kayu dan jendela lebar dari sisi tata udara
Meskipun pada dindiang belakang tidak terdapat jendela, ruang biliak tetap akan cukup terang, karena cahaya dapat masuk melalui celah anyaman. Rancangan dinding demikian karena Minangkabau berada di Khatulistiwa, jadi banyak tersedia cahaya matahari dan lembab. Jadi karena ada gerakan udara dan radiasi matahari kelembaban ruang terjaga.
Dinding kayu dan batuang yang berlubang, mengurangi pantulan gelombang suara. Posisi miring, sifat kayu-batuang menyerap suara akan dan memantulkan sebagian suara tidak sejajar, akibatnya pada ruangan karena dinding tak sejajar, tidak terjadi gaung (pantulan gelombang suara yang berkali-kali). Itulah manfaat dindiang tadia, kayu dan miring keluar dari sisi tata cahaya, tata udara dan tata suara.

Langik-langik
Rumah gadang mempunyai langik-langik (langit-langit) dengan bahan tadia atau papan, berarti terdapat rongga. Rongga ini berperan sebagai peredam pancaran hangat (gelombang panjang) dari atap. Rongga di bawah atap berperan sebagai aliran udara, sehingga udara hangat siang hari akan bergerak keluar (ventilasi alamiah). Keadaan ini akan menyebabkan ruangan tengah rumah tetap sejuk.

Pintu dan Jendela
Pintu terletak di poros (tengah) rumah lebar sekitar 100 cm, sedangkan jendela berada disetiap ruang rumah dengan lebar berkisar antara 70 – 80 cm dan berdaun dua. Jendela ada disetiap ruang. Jendela membuka kedalam, namun yang dibangun sekarang membuka keluar.
Jendela yang lebar; 1) Akan diperoleh penerangan alami siang hari dan menghangatkan ruangan di pagi hari, jadi tidak diperlukan penerangan buatan disiang hari. Setiap ruang punya jendela. 2) Udara dapat bergerak bebas memasuki ruangan, sehingga dalam ruangan menjadi sejuk, jadi tidak diperlukan tata udara buatan. Rancangan jendela yang demikian, artinya memperhatikan posisi matahari dan lingkungan. Hebat rancangan jendela rumah gadang.

Lantai, Kolong Rumah dan Cucuran Atok
Rumah gadang adalah rumah panggung, berlantai papan. Ruang dibawah lantai disebut kolong. Antara papan-papan lantai terdapat celah, sehingga memudahkan gerakan udara masuk dan keluar ruangan. Sekeliling kolong disasak/ditutup dengan ruyuang. Ruyuang adalah bagian kulit yang keras pohon anau. Bila ditinjau dari sisi ketahanan terhadap air hujan, ruyuang lebih baik dari pada kayu atau batuang.
Cucuran atok ditanami rumput muto, bertujuan mengurangi percikan air hujan ke sasak kolong rumah. Kolong rumah untuk menyimpan alat-alat pertanian, tempat perempuan bertenun dan seluruh kolong ditutup dengan ruyung yeng berkisi-kisi jarang
.
Ruang Dalam
Bentuk ruang dalam persegi panjang dan lapang, dengan lebar tiga atau empat jalur (banja). Bila dicermati paparan mengenai: langik-langik, pintu dan jendela, dindiang dan lantai, bentuk atap dan bahan yang digunakan, dindiang (kayu dan batuang), jendela lebar dan lantai dari kayu, ternyata rancangan memperhatikan iklim dan posisi matahari. Terlihat jelas penerapan “alam takambang jadi guru”.
Rancangan ruang dalam seperti ini akan hemat energi dan meniadakan efek rumah kaca. Sungguh mencengangkan dan bagus rancangan rumah gadang.

P a s a k
Kerangka rumah seperti tiang, paran, jariau, rusuak, kerangka pintu dan jendela dll. diperkuat dengan pasak. Pasak terbuat dari kayu, batuang dan ruyuang. Bagian-bagian lain diikat, diantaranya dengan rotan dan tali ijuak. Kenapa di pasak atau diikat, banyak alasan, misal saat itu tidak ada paku. Alasan lain cukup kuat, sahati/sajinih (artinya semua dari pepohonan) dan lentur, jadi tahan terhadap goyangan. Benarlah apa yang dikatakan Pili (Fadli) bila terjagi gempa rumah bakicuik-kicuik atau badariak-dariak.

J a n j a n g
Janjang (tangga) rumah terbuat dari kayu, sekarang ada yang dibuat dari tembok. Anak janjang berjumlah ganjil. Ketentuan anak janjang berjumlah ganjil memberikan arti bila kaki kanan mulai menginjak di janjang pertama, maka kaki kanan pula memasuki rumah atau sebaliknya turun rumah.
Di Minang dianjurkan kaki kanan yang pertama diangkat bila akan bepergian. Anjuran ini direalisasikan pertama-tama dari rumah (janjang rumah). Artinya turun (meninggalkan) dan naik (memasuki) rumah menginjak anak janjang dimulai dengan kaki kanan. Ketentuan ini sesuai dengan syarak.
Anak janjang teratas dihadapan pintu masuk sebagian rumah dilebarkan. Pada janjang terbawah disebagian rumah terdapat parian batuang atau cerek/kumbuak berisi air. Bila seseorang akan kerumah, kaki dicuci terlebih dahulu, bagi yang tidak ba-tangkelek (alas kaki kayu).
Dijanjang ada serambi, jadi tamu dipersilakan duduk diserambi menunggu orang rumah yang ditemui datang.

Arah Bangunan
Bangunan rumah gadang merupakan banguan induk sejumlah bangunan (rumah) lain, mengarah atau menghadap pada arah yang sama dan jarak antar rumah (halaman) lapang. Arah yang sama dan jarak, memberikan banyak manfaat. Sebagai contoh, di Kanagarian Tilatang Kamang, menghadap ke gunung Marapi. Di Salo, Jorong Limo-Sungayang Batusangka, membelakangi gunung Marapi. Ketentuan arah menghadap ini mengakibatkan: 1) Arah rumah memperhatikan lintasan matahari. 2) Halaman depan rumah gadang dan rumah-rumah gaduang menjadi panjang mengikuti deret rumah dan lebar, memberi tempat untuk anak-anak bermain. 3) Halaman rumah yang lebar berhubungan dengan jalan utama jorong, seolah-olah merupakan cabang jalan utama jorong. Bendi atau kendaraan roda empat, roda dua dan roda satu (garabak/garobak) dapat masuk sampai kerumah terjauh dari jalan utama jorong. 4) Satu deretan rumah, kadang-kadang persis di belakangnya atau disamping terdapat jalan penghubung antar jorong, artinya pada tempat tertentu rumah tidak menghadap kepada jalan utama jorong.
Susunan rumah seperti ini tata ruang di suku dan jorong jadi rapi dan teratur. Tempat anak bermain jadi luas dan halaman sekaligus berfungsi pula sebagai jalan menuju rumah terjauh dari jalan utama. Penempatan rumah tempat tinggal di satu suku dan jorong menerapkan tata ruang seperti komplek perumahan (perumahan sekarang). Sungguh mencengangkan rancangan tata ruang anjuran pepatah adat, telah dilaksanakan sejak lebih dari 350 tahun yang lalu.

7. Museum dan Pariwisata
Rumah gadang sebagai meseum terdapat dibeberapa kota di Ranah Minang seperti: 1). Bundo Kanduang di Komplek Kebun Binatang di Bukittinggi, didrikan tahun 1935. Rumah tersebut adalah duplikat dari rumah gadang kenagarian Kubangputiah, Banuampu. 2). Musium Aditiawarman di Taman Budaya Padang, didirikan tahun 1976. 3) Pada Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau dan Perkampungan Minangkabau di Padangpanjang, didirikan 17 Desember 1990. 4). Rumah Gadang di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Rumah gadang sebagai museum harus menunjukkan keaslian (keotentikan), artinya menggambarkan rumah gadang tradisional (rumah panggung). Rumah Gadang museum adalah untuk tujuan pariwisata. Karena untuk wisatawan maka didalam rumah tidak ada kamar mandi dan jamban (WC – toilet). Bila tetap ada kamar mandi dan WC buat diluar rumah. Kalau begitu apa yang dapat dirubah? Yaa ….. tentu bagian-bagian yang tidak merubah keaslian, baik bentuk luar ataupun ruang dalam (interior) rumah. Tentu yang diinginkan adalah duplikat (sesuai dengan aslinya) baik bentuk maupun bahan.
Rumah gadang sebagai tujuan pariwisata harus diisi pula dengan peninggalan budaya, agama dan teknologi tradisional ranah Minang dan perkembangannya dalam bentuk maket. Sebaiknya dilengkapi pula dengan perpustakaan.
Teknologi pertanian seperti: Bajak sawah yang ditarik kerbau atau sapi, orang-orang penghalau burung, lasuang, alu, lasuang gonjak, kincia aia, tampian, sabik, dangau berbentuk ellip atau setenah lingkaran disangga/ditopang dengan batuang babalah ampek, beratap jerami bekas mairiak dll.
Teknologi transportasi: garabak randah, garabak jengki, garabak demo (tiga roda) dll. Bendi, Bendi bugih, Padati.
Teknologi perikanan: Tangguak, lukah, jariang, timbo aia dari tampian.
Mandi Cuci dan Kakus (luak mandi-cuci, jamban-tondeh di tabek).
Dapua (dapur masak pakai kayu): tungku, panggiliang lado, tempat menyimpan kayu untuk memasak dll.

8. Pengaruh Arsitek Mancanegara
Rumah gadang yang ada sekatang banyak mengalami perubahan misal ditambah barando (serambi) dan dapua (dapur). Barando terletak ditengah (poros) rumah bagian depan, diperkirakan pengembangan dari ruang tengah sebagai tempat tamu atau bagian yang lebar teratas. Keberadaan barando, dimaksudkan agar tamu tidak langsung masuk ruang tangah rumah. Dapur di bagian belakangkan, dilengkapi dengan penampungan air, kamar mandi dan jamban. Tambahan barando dan dapur menjadikan rumah tampak seimbang (simetris). Rumah yang seimbang ini diantaranya adalah rumah bekas Istana Sultan Kodech, di Kotonanampek.
Jendela juga dibuat pada dinding belakang, sehingga biliak (kamar) menjadi lebih terang dan aliran udarapun lebih baik. Dalam rumah sekarang terdapat pula kamar mandi dan jamban. Perlakuan seperti ini tentu membawa kearah positif.
Pengaruh lain dari arsitektur barat (moderen) adalah pembangunan rumah dalam berbagai bentuk dan arah sehingga. 1) Aturan arah menghadap tidak diperhatikan lagi. Arah mengadap tak sama berakibat pada halaman (menjadi kecil), ruang antara rumahpun sempit seperti deretan rumah di kota, tinggal hanya untuk jalan setapak. Halaman yang dulu dapat dijadikan jalan yang lebar, sekarang sudah tiada. Keadaan ini berakibat pada tata ruang (penempatan rumah) di jorong menjadi tak teratur (kacau). 2) Lubang udara tidak ada, akibatnya ruang jadi hangat, diperlukan kipas atau tata udara buatan untuk sirlukasi dan menurunkan suhu dalam ruangan. 3) Rumah yang berdekatan, cahaya matahari akan terbatas masuk, ruangan jadi gelap. Maka diperlukan pencahayaan buatan di siang hari, aliran udara terbatas, dalam ruang terasa hangat dan pengap sehingga rumah jadi boros energi.
Apakah rumah minang dan tata ruang rancangan lama itu sangat ilmuah (moderen) atau tidak, silakan anda analisis dan dalami sendiri. Lakukan survey dan penelitian lebih lanjut. Maka buat kesimpulan selanjutnya menurut hasil pengamatan anda, kemudian silakan buat sendiri baik cara mendirikan rumah, tata ruang di suku atau jorong/nagari.

9. Gonjong Sebagai Lambang dan Kebanggaan
Bagi masyarakat Minang bagonjong merupakan lambang masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat dan di perantauan. Gonjong banyak ditemukan pada rumah-rumah di ranah Minang ataupun diperantauan, meskipun hanya satu gonjong. Surau atau musajik ada yang bagonjong. Surau atau Musajik bagonjong menunjukkan perpaduan adat dan agama (pepatah adat menyebutkan adat basandi syarak). Perhatikan lambang provinsi, kabupaten/kota dll., rumah makan dll. Sekarang Surau dan Musajik yang dibangun baru tidak bergonjong, tapi berkubah. Kubah rancangan untuk masjid atau surau, sering terdapat lumut. Ingat masyarakat minang sekarang meninggalkan rancangan rumah tropis dan mengambil rumah model subtropis atau wilayah panas. Hebat rancangan bagunan dulu karena Minang berada di daerak tropis panas (khatulistiwa).
Perkantoran bergonjong dicanangkan oleh Harun Zain saat jadi gubernur Sumatra Barat. Bertujuan menjaga kelestarian arsitektur rumah bagonjong (www.kompas.com) Realisasi anjuran bagonjong terlihat pada kantor-kantor pemerintah seperti Gedung Gubernur, Gedung DPR, Gedung Rektorat Universitas Negeri Padang, Jambatan Limpapeh. Univeritas Andalas, bangunan utama meskipun tidak berbentuk gonjong sesuai dengan bentuk asli, tetap mencirikan bagonjong. Bandara Internasional Minangkabau di Katapiang kabupaten Padangpariaman juga bagonjong dan lain-lain.
Rumah gadang tidak hanya terdapat di Sumatera Barat, tapi ditemukan juga di kota lain. Kenapa demikian? Karena rumah gadang adalah satu dari beberapa ciri yang menunjukkan bahwa mereka berasal dari Minang, bahkan kebanggaan.
Rumah Gadang milik pribadi, di luar ranah Minang satu diantara sekian banyak adalah Rumah Gadang Dorce Gamalama (Dorce Ashadi) di Jatibening Bekasi, dibuat oleh tukang dari Solok (Seputar Indonesia. 24 Juni 2007).
Di Jawa Timur masyarakat Minang telah memiliki Rumah Gadang terletak di jalan Gayungkebonsari 64 Surabaya. Peletakan batu pertama oleh Ir Azwar Anas (www.surya.co.id). Di Bandung masyarakat Minang merencanakan pula membuat Rumah Gadang. Keinginan ini dituangkan dalam proposal pembangunan Rumah Gadang oleh Yayasan Rangkiang, 8 Februari 2004.
Yang mencengankan adalah rumah makan Padang, bukan disebut Minang. Satu pertanyaan, kenapa tidak menulis Minang? Minang (Minangkabau) akan mencirikan asal masakan. Padang adalah kota.
Sebutan rumah makan Padang sering mengaburkan tentang cita rasa dan pemilik. Di ranah Minang pun sudah ada rumah makan bertulisan masakan Padang. Barangkali itu adalah evolusi rumah makan yang berlabelkan Padang atau pengusaha pelanjut usaha tidak bangga lagi dengan cita rasa masakan usaha pendahulunya, atau sengaja diubah atau hanya sekedar nama atau menerapkan pepatah “dima bumi dipijak disitu langik dijunjuang” atau “labuah diubah dek urang nan lalu”. Mengandalkan trade mark atau brandid. Wallahu’alam.
Cita rasa masakan Minang harus dipertahankan. Perhatikan makanan dari daerah lain gudek, karedok, coto, rawon, ayam taliwang dll. memiliki cita rasa tersendiri. Kenapa cita rasa dan nama makanan dari Minang tidak dipatenkan? Misal dengan nama Randang Darek, Gulai kalio, Martabak Kubang, Karupuak Sanjai, Batiah, Gulo-gulo Tare, Saka Lawang, Katupek Pitalah, Dadiah, Pisang Basapik, Karupuak Jangek (bukan Kulit), Galamai, Sate Ajo, dll. Yang lucu sekarang karupuak disebut keripik, perubahan karupuak jadi keripik, dadaih jadi dadih, gulo-gulo tare menjadi permen, saka menjadi gula merah, Batiah menjadi betis, Karupuak Jangek menjadi keripik Kulit dll. perubahan itu semua menghilangkan identitas Minang bila ditinjau dari bahasa dan Pariwisata. Ingat bahwa bahasa adalah budaya. Bila bahasa hilang budayapun hilang [artinnya bila orang Minang baik di Minangkabau (Sumbar) maupun dirantau tidak mau menggunakan bahasanya, masyarakat Minang akan hilang. Benarkah itu? Silakan anda pikirkan/renungkan].
Rumah makan perantau Minang walaupun tidak bagonjong, sebagian masih terlihat dari susunan huruf bagonjong, maket rumah gadang (dibuat dari bungkus rokok, kotak korek api, kertas, triplek, sulaman atau bahan lain) dan ayat-ayat Al-Quran. Yang harus diperhatikan dalam membuat masakan adalah rasa, biarpun bernama ruah makan padang tapi rasa bukan rasa masakan minang, itu namanya merusak citra masakan dengan kata lain berbohong. Rasa itu tidak bisa dibohongi.
Bila berkunjung kerumah perantau Minang, sering pula ditemukan gambar dan/atau sket yang menandakan bahwa penghuni rumah berasal dari Minang.

10. Penutup
Bagonjong adalah ciri rumah Minang yang sudah hampir punah, dianggap tidak moderen dan gonjong hanya dijadikan lambang.
Rumah gadang memiliki tingkat kenyaman yang tinggi bila berada didalam [seperti pencahayaan, suhu, kelembaban dan suara (bunyi)] dan minimal dalam pemakaian energi (listrik), dekat ke alam dan meniadakan rumah kaca.
Banyak hal yang dapat ditirukembangkan dan dibanggakan dari konsep rumah gadang. Rumah masa depan adalah hemat energi, alamiah, bahan lokal dan dekat dengan alam. Kesalahan merancang rumah [akan berakibat pada pemakaian energi (yang boros)] akan ditanggung selama rumah tersebut dihuni. Rancangan/konsep rumah gadang telah diterapkan sejak ratusan tahun yang lalu. Ingat energi fosil akan habis kenapa tidak memanfaatkan yang disediakan alam secara grartis (energy baru dan terbarukan). Rancanglah rumah anda rumah yang hemat energi. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.
Terakhir sebagai penutup, ayo dunsanak, mari gali budaya local (Minang) dalam berbagai segi. Seperti menganalisis Ukiran Rumah dengan Matematika http://grhakreasigeometri.blogspot.com/2012/09/matematika-pada-ukiran-rumah-gadang.html Selamat menggali.
Baca Juga:
Teknologi Tepat Guna: Menaikan Air dengan Kincia Aia https://lizenhs.wordpress.com/2008/12/23/teknologi-tepat-guna-menaikan-air-dengan-kincia-aia/
Sir Thomas Stamford Raffles Di Pedalaman Minangkabau: Kincir Air, Bercocoktanam dan Penggilingan Tebu. https://lizenhs.wordpress.com/2013/09/11/sir-t-s-raffles-di-peralaman-minangkabau-kincir-air-bercocoktanam-dan-penggilingan-tebu/

Pustaka
Kamarwan. Sidharta S. (1993). Konstruksi Atap Bangunan Tradisional Indonesia Tidak Menggunakan Konstruksi Rangka Batang. Laporan penelitian. Universitas Indonesia.
Navis. A.A.(1986). “Alam takambang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau”. P.T. Pustaka Grafitipers, Jakarta.
Zoelverdi, Ed  (editor), (1993). “Minangkabau”. Yayasan Gebu Minang. Jakarta
Hoesin, Haslizen (1980) “Saling Keterkaitan Antara Bangunan, Lingkungan Hidup dengan Radiasi Matahari dan Konservasi Energi Dalam Bangunan”. Makalah, Simposium Sipil IV 1980. Bandung, 7 – 9 April 1980.
Hoesin, Haslizen. (1980). “Radiasi Matahari di Atmosfir dan di Permukaan Bumi. Proceedings Pendidikan dan Latihan Pemanfaatan Energi Matahari Untuk Pedesaan”. LIPI, Bandung, 7 – 11 Juli 1980.
Fisika Dasar untuk Perguruan Tinggi.
Beberapa pustaka tidak ditampilkan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: