Posted by: lizenhs | January 12, 2015

PRODUKTIFITAS: Beberapa Pengertian dan Pengukurannya

PRODUKTIFITAS:

Beberapa Pengertian dan Pengukurannya

Oleh: Haslizen Hoesin

Pengantar

Tulisan ini memaparkan Produktivitas juga beberapa pengerian yang terkait dengan produktivitas dan mengukurannya, yaitu tentang proses, input, output, efisiensi, efektifitas, hubungan produktivitas dengan laba, pengukuran produktivitas dan cara meningkatkan Produktivitas. Terimakasih atas kunjungan anda.  Selamat membaca, semoga bermanfaat. Bila anda (pembaca BRI) suka tulisan ini, beritahu teman anda.

Pendahuluan

Perkataan “produktivitas” muncul pertama kali pada tahun 1766 dalam makalah disusun sarjana Ekonomi Prancis bernama Quesnay.  Perkataan produkivitas tersebut sekarang telah berkembang dan banyak digunakan dalam berbagai bidang.  Bahkan produkivitas ada pula yang dikaitkan dengan sikap mental. Paparan produktivitas, didasarkan pada suatu sistem, sistem produksi secara sederhana sampai pada model Akunting.

Pengertian-pengertian Dasar

Konsep IPO

Input-Proses-Output (IPO) menjadi inti dari aktivitas manajemen. Setiap proses pasti memiliki input, output dan outcome. Input (masukan) dapat berupa material, bahan baku, komponen, bahan bakar, uang, tenaga kerja, jam orang, waktu atau sumber daya lainnya. Output (keluaran) merupakan hasil dari proses yang dicirikan dengan adanya nilai yang bertambah dari input yang diterima konsumen. Selain output terdapat pula outcome. Outcome adalah output yang dijadikan input (masukan) proses berikutnya dalam suatu sistem produksi, baik proses seri maupun bercabang.

Proses adalah kegiatan mengubah bahan baku [input (masukan)] menjadi produk setengahjadi atau produk jadi.  Proses dikatakan baik jika mampu memberi nilai tambah pada input yang diterima menjadi output. Terlepas apakah hasil aktivitas dan evaluasi terhadap proses menyatakan baik atau tidak, keberadaan indikator proses dapat menjadi pemicu aktivitas perbaikan. Hasil setiap proses diharapkan dapat menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih murah dan/atau lebih aman, sehat dan utuh.

Proses adalah kegiatan subsistem-subsistem organisasi yang mentransformasikan input menjadi output (produk). Produk merupakan hasil transformasi dari input yang masih berupa output tahap awal (produk setengahjadi), misal kerangka mobil pada sistem pabrik mobil. Output adalah produk jadi dan/atau hasil akhir dari proses, adalah mobil pada pabrik mobil.

Proses produksi merupakan kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan faktor-faktor yang ada seperti tenaga kerja, mesin, bahan baku dan dana agar lebih bermanfaat bagi kebutuhan manusia.

Proses produksi diartikan sebagai cara, metoda dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber (tenaga kerja, mesin, bahan dan dana) yang ada. Sistem produksi merupakan kumpulan beberapa sub sistem yang saling berinteraksi untuk mentransformasi input menjadi output

Proses produksi adalah urutan kegiatan yang harus dilaksanakan dalam usaha untuk menghasilkan barang maupun jasa. Agar proses produksi mencapai titik optimal, maka diperlukan adanya peningkatan efisiensi, efektifitas dan produktivitas, pada faktor-faktor produksi.

Indikator Proses

Indikator proses diturunkan dari tipikal kebutuhan industri: Quality, Cost, Safety dan Delivery/Responsif.

Quality menyatakan ukuran mutu yang dapat diterjemahkan sebagai upaya membuat produk dengan lebih baik dari kondisi sebelumnya atau lebih baik dalam pemenuhan spesifikasi.

Cost menyatakan ukuran biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu proses. Suatu proses makin baik bila memerlukan biaya lebih murah dengan output yang sama.

Delivery/responsif menyatakan kecepatan perusahaan mengantarkan barang dan jasa kepada pelanggan. Suatu proses makin baik jika dapat melakukannya lebih cepat. Termasuk ke dalam pengertian responsif adalah fleksibilitas perusahaan dalam membuat barang dan jasa yang dibutuhkan pelanggan.

Safety menyatakan tingkat keamanan dan keselamatan kerja bagi karyawan dan belakangan diperluas hingga keamanan dampak proses bagi lingkungan. Proses yang lebih aman harus terus diupayakan dalam perbaikan proses.

Semua yakin dan sadar, bahwa untuk menghasilkan suatu produk berbentuk barang ataupun jasa, harus terlebih dahulu menyediakan sarana serta sumber daya.  Dengan sarana dan sumber daya tersebut, dilakukan proses sedemikian rupa, sehingga diperoleh hasil yang diharapkan (Output) dari bahan baku masukan (input).  Uraian tersebut dapat disingkat dengan sebuah model bergaya sistem sebagaimana pada gambar 1.

           Masukan ->   Proses   ->   Keluaran

                              unpan balik

Gambar 1.  Hubungan Masukan dan Keluaran Pada Suatu Sistem

Keluaran (output) apa yang diinginkan, proses mana yang dipilih dan masukan (input) apa yang diperlukan, harus dipertimbangkan dengan seksama agar serasi dengan situasi dan kondisi yang memegang peranan dalam sistem tersebut. Pada sistem terdapat pula yang disebut umpan balik, berupa informasi yang diperoleh dari lingkungan sebagai bahan masukan kepada proses terhadap produk (output) yang dihasilkan sistem. Bila dilihat/ditinjau dari sistem produksi hubungannya dengan masukan dan keluaran dapat disusun seperti gambar 2.

Pengadaan -> Masukan -> Proses Transportasi -> Keluaran -> Distribusi -> Pengecer

Gambar  2.  Hubungan Masukan dan Keluaran Dalam Suatu Sistem Produksi

Untuk berproduksi, suatu sistem diawali dengan pengadaan terhadap berbagai jenis masukan yang diperlukan.  Hasil pengadaan di transformasikan dalam proses produksi yang menghasilkan keluaran, selanjutnya didistribusikan ke pengecer kemudian kepada konsumen atau pihak yang memerlukan.

Hubungan antara keluaran dan masukan bila dinyatakan dengan nisbah (perbandingan) disebut produktivitas.  Tapi bila ditinjau dari segi filosofis pengertian produktivitas adalah sikap (mental) manusia untuk membuat hari esok lebih baik dari hari ini (sekarang) dan membuat hari ini (sekarang) lebih baik dari hari kemaren.  Dalam konteks ini esensi pengertian produktivitas adalah sikap mental dan cara pandang tentang hari esok.

Dari penjelasan diatas pengertian produktivitas, baik secara teknis maupun secara sederhana dapat ditulis sebagai keluaran [O] per masukan [I] ditulis [O/I].  Kalau nisbah tersebut merupakan semua masukan yang dipakai untuk menghasilkan keluaran maka akan diperoleh konsep produktifitas yang disebut  Produktivitas Total.  Bila nisbah merupakan sebagian saja masukan yang dipakai maka diperoleh produktivitas disebut  Produktivitas Parsial.

Sistem adalah seperangkat komponen yang saling terkait dan tergantung satu sama lain hingga merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi (utuh) dan memiliki watak tertentu.  Setiap sistem apakah perusahaan atau organisasi selalu akan berupaya meningkatkan kinerja (Performance improvement) diantaranya melalui:  Produksi, Efisiensi, Efektivitas, Produktivitas, Inovasi, Mutu, Mutu Lingkungan dan Laba.

Berikut disampaikan pengertian beberapa istilah untuk membedakan  dan membandingkan dengan pengertian produktivitas.

Produksi

Produksi, dinyatakan dengan bilangan berdimensi/ukuran satu (bukan nisbah) adalah berupa Produk (barang dan jasa).

Efisiensi dan Efektivitas

Efisiensi, didefinisikan sebagai kehematan penggunaan sumber-sumber daya dalam suatu kegiatan usaha atau dalam kegiatan organisasi, seperti kehematan pemakaian bahan, energi (tenaga listrik, bahan baku), uang, tenaga kerja, waktu, ruang, air dan sebagainya.

Efisiensi, adalah suatu ukuran yang membandingkan rencana penggunaan masukan dengan realitas penggunaan.  Makin besar masukan yang dapat dihemat, makin tinggi tingkat efisiensinya.  Konsep ini tergantung pada masukan.

Efisiensi adalah ukuran tingkat penggunaan sumber daya dalam suatu proses. Semakin hemat/sedikit penggunaan sumber daya, maka prosesnya dikatakan semakin efisien. Proses yang efisien ditandai dengan perbaikan proses sehingga menjadi lebih murah dan lebih cepat.

Menurut Aroef (1986) dalam Prisma (LP3ES), bahwa: Efesiensi dapat dimengerti dengan kehematan menggunakan sumber-sumber dalam kegiatan produksi atau organisasi. Menurut Aroef (1986) dalam Prisma (LP3ES), bahwa: Efektif dapat dimengerti sebagai hasil kegiatan dengan menggunakan sumber sebanyak mungkin dan mutu sebaik mungkin.

Menurut Chapra (2001: 59-60), efisiensi adalah perbandingan pemanfaatan keluaran (usefuls output) terhadap keseluruhan keluaran (total output). Pada pendefinisian efisiensi Chapra memasukkan unsur/faktor moral, artinya adalah dalam pengertian usaha untuk melakukan yang terbaik. Chapra mengatakan: “Allah telah mewajibkan kamu untuk baik (ihsan) dalam segala hal” dan bahwa: “Allah menyukai orang yang melakukan pekerjaan, dia melakukannya dengan sempurna (itqan)”.

Konsep efisiensi menyatakan bahwa efisiensi berwawasan jangka pendek. Sedangkan produktivitas berwawasan jangka panjang.

Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (jumlah, mutu dan waktu) telah tercapai.  Makin besar prosentase target tercapai makin tinggi tingkat efektivitasnya.  Konsep ini orientasinya kepada keluaran.

Pengertian lain, bila hasil kegiatan menggunakan sumber-sumber sebanyak mungkin dan dengan mutu sebaik mungkin.  Ini berarti bahwa pekerjaan dilakukan dengan  efektifitas yang tinggi.

Efektivitas adalah “ukuran” tingkat pemenuhan output atau tujuan proses. Semakin tinggi pencapaian target atau tujuan proses maka dikatakan proses tersebut semakin efektif.  Proses yang efektif ditandai dengan perbaikan proses sehingga menjadi lebih baik dan lebih aman.

Mutu, adalah suatu “ukuran” yang menyatakan seberapa jauh telah dipenuhi berbagai persyaratan, spesifikasi dan/atau harapan produsen/konsumen. Konsep mutu orientasinya pada pemilihan masukan, pengawasan proses produksi, keluaran dan  distribusi, dari sisi pemakai atau konsumen.

Mutu Lingkungan,

Pengertian tentang mutu lingkungan sangatlah penting, karena merupakan dasar dan pedoman untuk mencapai tujuan pengelolaan lingkungan. Perbincangan tentang lingkungan pada dasarnya adalah perbincangan tentang mutu lingkungan.  Mutu  lingkungan hidup dibedakan berdasarkan biofisik, sosial ekonomi, dan budaya.  Kalau begitu dalam perbincangan mutu, apa yang dimaksud dengan mutu lingkungan sangat luas.  Sering dibicarakan,  mutu lingkungan hanyalah dikaitkan degan masalah lingkungan misalnya pencemaran, erosi, dan banjir.

Ya, mutu lingkungan sering kali pula diartikan dengan masalah lingkungan, artinya lingkungan harus dikelola dengan baik agar lingkungan nyaman dan betah tinggal di lingkungan tersebut. Maka dari itu  harus dijaga lingkungan semaksimal mungkin agar lingkungan tidak tercemar. Makin tinggi derajat mutu hidup dalam suatu lingkungan tertentu, makin tinggi pula derajat mutu lingkungan tersebut dan sebaliknya.

Walaupun  begitu, apa yang dimaksud dengan mutu lingkungan?

Mutu lingkungan sangat luas, walaupun begitu dicoba didefinisikan secara ringkas. Secara sederhana mutu lingkungan hidup diartikan sebagai keadaan lingkungan yang dapat memberikan daya dukung yang optimal bagi kelangsungan hidup manusia di suatu wilayah. Mutu lingkungan dicirikan antara lain dari suasana yang membuat orang betah/kerasan tinggal ditempatnya dia berada. Berbagai keperluan hidup terpenuhi dari kebutuhan dasar /fisik seperti makan minum, perumahan sampai kebutuhan rohani /spiritual seperti pendidikan, rasa aman, ibadah dan sebagainya.

Mengenai MUTU baca juga:

APAKAH MUTU dan BERMUTU ITU? https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/apakah-mutu-dan-bermutu-itu/ dan

Mutu Produk: HALAL dan ASUH. https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/mutu-produk-halal-dan-asuh/

Laba, adalah selisih antara penghasilan dan biaya.  Tingkat laba adalah perbandingan antara laba dengan modal yang dipakai.  Laba dimaknai sebagai imbalan atas upaya perusahaan menghasilkan barang dan jasa. Ini berarti laba merupakan kelebihan pendapatan diatas biaya (biaya total yang melekat kegiatan produksi dan penyerahan barang/jasa).

Beberapa jenis-jenis laba dalam hubungannya dengan “perhitungan” laba, yaitu:

1). Laba kotor adalah perbedaan antara pendapatan bersih dan penjualan dengan harga pokok penjualan. 2). Laba dari operasi adalah selisih antara laba kotor dengan total beban operasi. 3). Laba bersih adalah angka terakhir dalam perhitungan laba atau rugi dimana untuk mencarinya laba operasi ditambah pendapatan lain-lain dikurangi dengan beban lain-lain.

Dikalangan dunia usaha sering dipertanyakan apa manfaat suatu upaya peningkatan produktivitas, sebab pada mereka ada semacam anggapan bahwa yang lebih penting adalah laba bukan produktifitas.  Dunia usaha baru akan tertarik terhadap produktivitas kalau melalui laba dapat meningkat.

Hubungan Produktivitas dan Laba

Secara konsepsional hubungan produktivitas dan laba sebagaimana yang dikemukakan Elena Avedillo Cruz dalam “A Manual on Quick  Productivity Appraisal” dalam empat kejadian berikut: Catatan:  T = Tinggi dan R = Rendah

  • Kalau, Laba (T) dan Produktivitas (T). Berarti, Keuangan sehat dan stabil. Maka yang harus dilakukan pengusaha adalah Pertahankan dan tingkat produktivitas.
  • Kalau, Laba (T) dan Produktivitas (R). Berarti,  Dalam Jangka Panjang Produktivitas Rendah dan Akan Memakan Laba. Maka yang harus dilakukan pengusaha adalah Tingkatkan Produktivitas.
  • Kalau, Laba (R) dan Produktivitas (T). Berarti, Perusahaan Tidak Lama Lagi Akan Rugi dan Menjurus ke Bangkrut. Maka yang harus dilakukan pengusaha adalah Tingkatkan Laba Melalui Inovasi (Riset, Promosi dan Harga).
  • Kalau, Laba (R) dan Produktivitas (R). Berarti, Gulung Tikar dan Bangkrut. Maka yang harus dilakukan pengusaha adalah, Tingkatkan Produktivitas dan Perkuat Inovasi Pemasaran.

Sekarang bagaimana mengukur produktivitas? Paparan berikut dapat menjelaskannya dalam Pengertian-pengertian Teknis.

Pengertian-pengertian Teknis

Masyarakat  Indonesia sangat mengenal istilah peningkatan produksi.  Peningkatan prouksi adalah peningkatan hasil yang dilihat hanyalah berapa hasil yang diberikan oleh kegiatan produksi yang dilakukan.

Meningkatkan produksi tujuannya untuk mencapai target, tidak jarang efisiensi dikorbankan. Efisiensi berdasarkan pengertian  di atas dapat dijelaskan dan dimengerti  sebagai berikut, yaitu kehematan penggunaan sumber-sumber dalam kegiatan produksi dan dalam kegiatan organisasi, seperti kehematan pemakaian bahan, energi (listrik, air), uang, tenaga kerja, waktu, ruang dan sebagainya.

Hasil kegiatan dengan menggunakan sumber-sumber tadi sebayak  mungkin dan dengan mutu yang baik mungkin.  Ini berarti bahwa pekerjaan dilakukan dengan efektivitas yang tinggi.

Gabungan efisiensi dan efektifitas membentuk pengertian produktifitas Matthion Sreart merumuskannya sebagai suatu perbandingan (rasio).

Produktivitas = [Efektivitas pelaksanaan tugas mencapai tujuan]/[Effisiensi penggunaan sumber-sumber masukan]

Atau

Produktivitas = [Efektivitas menghasilkan keluaran]/[Efisiensi penggunaan sumber-sumber masukan]

Bagi suatu pabrik, keluaran adalah hasil produksi dan masukan adalah ongkos produksi, untuk sederhananya produktivitas itu disebut sebagai perbandingan “keluaran” dibagi dengan “masukan” ditulis.

Produktivitas = [Keluaran]/[masukan]

Pengukuran Produktivitas

Pengukuran  produktivitas  dapat dilakukan baik secara makro dan mikro.   Pendekatan secara mikro berarti pengukuran produktivitas perusahaan.  Bila demikian halnya, maka pengukuran produktivitas dilakukan dalam beberapa pendekatan:

  1. Pendekatan Enjinering (operasi).
  2. Pendekatan Akutansi.
  3. Pendekatan Tenaga Kerja.
  4. Pendekatan Total

 Pengukuran Produktivitas Model Enjinering

Model ini mengisyaratkan bahwa produktivitas perusahaan melalui waktu baku/standar untuk bukerja. Bertolak dari definisi keluaran per masukan  bentuk matematis sebagai berikut:

Produktivitas = = [(∑AO/m)/(∑RI/m)]/[∑(AO/b)/(RI/b)]

∑AO= jumlah keluaran agregat (keseluruhan), m = perioda pengukuran, ∑RI = jumlah masukan sumber-sumber dan b = prioda dasar

Bila waktu sebagai ukuran maka produktivitas dinyatakan  dalam pengukuran keluaran (earned hours) terhadap masukan (available hours), maka:

Produktivitas = (earned hours)/ (available hours)

Earned hours:  Waktu produksi yang dipakai untuk menghasilkan dikalikan dengan waktu standard (jam per unit).  Available hours :  Total waktu kerja langsung yang digunakan termasuk pertemuan, istirahat, pelatihan, tetapi tidak termasuk cuti, hari libur (kalender merah) dan libur.

Efesiensi = [Waktu Baku (standard) pengerjaan]/[waktu Aktual Pengerjaan] x 100%.

 Pengukuran Produktivitas Pelayanan Toko/waserda (koperasi).

Produktivitas Pelayanan Toko = [Jumlah Barang Terjual]/[Jumlah Barang Masuk (Pasok)] x 100%

Produktivitas Aktitas Anggota Koperasi ke Waserda = [Jumlah Anggota Aktif Berbelanja]/[Jumlah Anggota yang Aktif di Koperasi]x 100%.

Efektifitas Berbelanja di Toko = [Jumlah Belanjaan]/[Jumlah yang Direncanakan]x 100%.

Pengukuran Produktivitas Tenaga Kerja (PT)

PT = [Q]/[L+C+R+QT] x 100%

Q = Total Output (penjumlahan semua satuan yang dihasil dikali dengan harga); L = Masukan tenaga; C = Masukan Modal; R = Masukan bahan baku dan bagian-bagian pembelian masukan lain; QT = Masukan bermacam – macam barang dan factor pelayanan.

Pengukuran Produktivitas Total

Total Faktor Produktivity (TFP) = [(S + C + MP) – E]/{(W + B) + [(Kw +Kf) x Fb x Df)}x 100%.

S = Net adjusted sales; C = Iventori Change (Perubahan Perediaan); MP = Perencanaan Usaha; E = Bahan dan pelayanan pembelian; W = Gaji dan Upah; B = Semua  keuntungan; Kw = Modal Kerja; Kf = Modal tetap; Fd = Kontribusi Investor; Df = Defleksi Harga

Benuk-bentuk Produktivitas Lain

Bentuk-bentuk produktivitas lain adalah:  Produktivitas Factor Produksi, Pengukuran Produktivitas Aktual, yang Diharapkan Berdasarkan Waktu dan Pengukuran Produktivitas Model Akunting.

Produktivitas Factor Produksi

Pengukuran produktivitas faktor produksi dapat dikemukakan secara parsial, misal Joseph W. Roehal tahun 1940-an.  Joseph mengemukakan dalam bentuk ukuran unjuklaku (performance measures). Sekarang disebut sebagai bentuk ukuran produktivitas.

Unjuklaku Mesin = [Jumlah Jam Mesin Produksi Sebenarnya]/[Kapasitas Jam Mesin yang Tersedia]

Unjuklaku Mutu = [Jumlah Produk Yang Lolos Pemeriksaan]/[Jumlah produk yang dibuat]

Unjuklaku Pabrik = [Jumlah Rupih Penjualan]/[Jumlah Rupih Investasi]

Pengukuran Produktivitas Aktual, yang Diharapkan Berdasarkan Waktu

Model  Produktivitas  yang diharapkan dan actual sebagaimana dikemukakan oleh John L. Hradesky, bentuknya seagai berikut:

Produktivitas yang Diharapkan = [Keluaran yang Diharapkan]/[Sumberdaya yang Diharapkan Digunakan]

Produktivitas Aktual = [Keluaran Aktual]/[Sumberdaya Aktual yang Digunakan]

Bila dihubungkan dengan waktu, John S Oukland mengemukakan sebagai berikut:

Produktivitas = [Waktu yang Sesungguhnya]/[Waktu yang Tersedia]

Waktu yang sesungguhnya adalah waktu baku (standard) mulai membuat sampai produk jadi. Waktu yang tersedia adalah waktu kerja dalam pabrik (manufacture) termasuk waktu khusus, kerja tidak normal, tetapi tidak termasuk hari libur, hari besar dan keterlambatan.

Pengukuran Produktivitas Model Akunting

Model ini dikemukakan oleh Pospac yaitu suatu cara pengukuran dengan menggunakan akunting perusahaan.  Ukuran produktivitas berbentuk  parsial, bentuknya sebagai berikut:

Produktivitas Tenaga Kerja = [Keuntungan Kotor]/[Jumlah Upah/Gaji]

Produktivitas Modal = [Perputaran Modal]/[Jumlah Modal Yang Digunakan]

Produktivitas Produksi = [Tingkat Penggunaan Modal]

Produktivitas Penjualan = [Keuntungan Operasional]/[Jumlah Ongkon Pemasaran]

Wahana Peningkatan Produktivitas

Terdapat beberapa wahana untuk meningkatkan Produkivitas.  Dapat dilakukan dengan beberapa cara:

  1. Studi kerja atau penilaian kerja atau telaah kerja, terbagi atas: 1). Telaah metoda, untuk memperoleh metoda kerja yang efektif. 2). Pengukuran kerja, untuk memperoleh waktu kerja. 3). Sampel kegiatan, untuk memperoleh waktu produktivitas.
  2. Keselamatan kerja, berkenaan dengan situasi kerja.
  3. Kesehatan kerja, berkenaan dengan kondisi kerja.
  4. Keamanan lingkungan kerja, berkenaan dengan yang membahayakan pekerja.
  5. Ergonomi Berkaitan dengan: 1). Kemapuan dan kertersediaan manusia secara fisik maupun fsikologis. 2). Kebiasaan manusia berkomunikasi secara baik dengan mesin dan perkakas yang dipakai. 3). Kerjasama manusia secara baik dengan perabot dan perlengkapan yang digunakan. 4). Hidup aman, tenteram, selamat, sehat dan nyaman dalam ruang kerja.

Teladan Meningkatkan produktivitas: beberapa cara

Sebagai teladan, misal masukan (5000) dan keluaran (4000) maka:

Produkivitas = Ps = 4000/5000 = 0.80

Meningkatkan produktivitas dapat dilakukan dengan beberapa cara:

Cara pertama. Tingkatkan keluaran dari 4000 menjadi 4500.  Masukan tetap, maka:

Produkivitas = Ps = 4500/5000 = 0.90.  Produktivitas  naik dari 0.80 menjadi 0.90

Cara kedua. Keluaran tetap.  Masukan ditekan menjadi 4500, maka

Produkivitas = Ps = 4000/4500 = 0.89.  Produktivitas  naik dari 0.80 menjadi 0.89

Cara terbaik, adalah keluaran dinaikkan menjadi 4500 dan masukan diturunkan  menjadi 4500 maka,

Produkivitas = Ps = 4500/4500 = 1.00.  Produktivitas naik dari 0.89 menjadi 1.00

Keadaan khusus yaitu keadaan resesi, maka keluaran terpaksa turun 5%, masukan diturunkan lebih banyak umpamanya  10% maka:

Produkivitas = Ps = [4000 – (5% x 4000)]/[5000 – (10% x 5000) = [4000 – 200]/[5000 – 500].

Produkivitas  = 3800/4500 = 0.84

Jadi produktivitas sekarang  0.84.

Dari teladan ini dapat diketahui apa yang harus dilakukan pengusaha untuk meningkatkan produktivitas.

Penutup

Masih banyak lagi ukuran prodoktivitas lain, akan tetapi untuk keperluan ini cukup sebagaimana yang disampaikan diatas.  Mudah-mudahan tulisan ini dapat membuka wawasan berkenaan dengan produktivitas dan peningkatan produktivitas bagi pengusaha, sehingga usahanya lebih baik dan lebih maju.

Pustaka

Chapra (2001).  Masa Depan Ilmu Ekonomi: Sebuah Tinjauan Islam.  Alih bahasa Ikhwan Abidin Basri, Gema Islam. Jakarta.

Hoesin, Haslizen (1995).  PRODUKTIVITAS: Beberapa Pengertian.  Makalah pelatihan Supervisi dan Produktivitas, diselenggarakan Skills Developmen Project Jawa Barat.  Bandung.  7 November 1995

Hoesin, Haslizen (2000).  Pelayanan KSU (Waserda), Partisipasi Anggota, Produktivitas Usaha dan Karyawan.  Makalah Program Produktivitas yang diselenggarakan Biro Bina Perekonomian Daerah Provinsi DKI. Jakarta, 10 November 2000.

Hradesky, john L. (1988).  Productivity Quality Improvement: A Practical Guide to Implementing Statistical Process Control.  Singapore, Mc Grow Hill.

LP3ES (1986). Pengukuran Produktivitas Manusia Indonesia. Jakarta, Prisma Nopember 1986.

Oakland, Jhon S (1993). Total Quality Management. The rout to Improving Performance (Second  Edition).  London: Butterworth – Hcianemann.

Suyato  Sastrowinoto (1985). Meningkatkan Produktivitas Dengan Ergonomi.  IPPM. Jakarta.

Suzaki, Kiyoshi, (1987). The New Manufacturing Challenge: T echnique for Contronous Improvement. London. The Fee Press.

Beberapa pustaka tidak ditampilkan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: