Posted by: lizenhs | December 20, 2014

PERSEPSI KONSUMEN TERHADAP MUTU PRODUK

PERSEPSI KONSUMEN TERHADAP MUTU PRODUK

Oleh:  Haslizen Hoesin

Pengantar

Para pembaca Bukik Ranah Ilmu yang terhormat.

Berikut ini anda akan membaca tulisan mengenai Persepsi Konsumen terhadap mutu Produk.  Tulisan diawali dengan pengertian Persepsi kemudian persepsi terhadap Mutu Produk.  Mudah-mudahan tulisan ini mengilhami anda (pengusaha) mempertahankan dan/atau meningkatkan mutu produk usaha anda baik dalam bentuk barang dan/atau jasa. Juga bagi anda yang akan memulai usaha, ataupun hanya pembaca saja. Selamat membaca semoga bermanfaat.  Bila anda suka sebarkan pada yang lain, selamat membaca. Sebelum membaca tulisan ini baik juga dibaca sebagai pemahaman awal yaitu Apakah Mutu dan Bermutu itu https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/apakah-mutu-dan-bermutu-itu/ dan Mutu Produk: HALAL dan ASUH https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/mutu-produk-halal-dan-asuh/ Terima kasih atas perhatian anda (Lizen).

Pendahuluan

Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia, Persepi (n) adalah: 1. Tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu, 2. Proses seseorang mengetahui beberapa hal memalui pancainderanya.
Persepsi (dari bahasa Latin perceptio, percipio) adalah tindakan menyusun, mengenali dan menafsirkan informasi dari sensor (organ indera) guna memberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan.
Persepsi itu meliputi semua sinyal dalam sistem saraf, yang merupakan hasil dari stimulasi fisik atau kimia dari organ pengindra. Yaitu: penglihatan, pencium dan pendengaran. Penglihatan, yang merupakan cahaya mengenai retina pada mata; Pencium yang memakai media molekul bau (aroma) dan Pendengaran yang melibatkan gelombang suara.
Jadi persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu suatu stimulus (dorongan dan ransangan) yang diterima oleh individu melalui alat reseptor (ujung syaraf yang peka terhadap rangsangan) yaitu indera. Indera merupakan alat penghubung antara individu dengan dunia luarnya.
Persepsi bukanlah penerimaan isyarat secara pasif saja, tetapi dapat juga dibentuk oleh pembelajaran, ingatan, harapan dan perhatian. Kalau begitu persepsi bukan bergantung pada fungsi kompleks sistem saraf saja, tetapi kadang-kadang tidak kelihatan, karena terjadi di luar kesadaran.
Dari paparan diatas maka Persepsi merupakan stimulus yang diindera oleh individu, diorganisasikan kemudian diinterpretasikan sehingga individu menyadari dan mengerti tentang apa yang diindera.
Jadi, persepsi dapat diartikan sebagai “pengalaman” tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan dari informasi tersebut. Atau dengan kata lain persepsi merupakan proses memberikan makna pada stimuli yang ditangkap oleh inderawi. Dalam hal ini, stimulus (dorongan, ransangan) yang mengenai inderawi individu itu kemudian diorganisasikan, diinterprestasikan, sehingga individu menyadari tentang apa yang diinderakannya itu. Proses inilah yang dimaksud dengan persepsi. Jadi stimulus diterima oleh alat indera, kemudian proses yang dilakukan diindera sesuatu yang berarti setelah itu diorganisasikan dan diinterpestasikan. Bahkan, persepsi juga dianggap sebagai proses yang integrated dari individu terhadap stimulus yang diterimanya. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa persepsi itu merupakan proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti, yang merupakan aktivitas integrated dalam diri individu. Karena merupakan aktivitas yang integrated, maka seluruh pribadi, atau seluruh apa yang ada dalam diri individu ikut aktif berperan dalam proses persepsi.
Itulah beberapa pengertian mengenai persepsi, berikutnya apa factor-faktor yang mempengaruhi persepsi.
Faktor-faktor yang memengaruhi persepsi
Faktor-faktor yang memengaruhi persepsi bisa terletak: dalam diri pembentuk persepsi, dalam objek atau target yang diartikan atau dalam konteks situasi di mana persepsi tersebut dibangun dalam beberapa asumsi: Pengalaman Masa Lalu, Faktor Internal dan Eksternal.
a. Asumsi Yang Didasarkan Pada Pengalaman Masa Lalu
Persepsi dipengaruhi oleh asumsi–asumsi yang didasarkan pada pengalaman masa lalu disebut dengan pandangan transaksional (transactional view). Konsep ini pada dasarnya menjelaskan bahwa pengamat dan dunia sekitar, merupakan partisipan aktif dalam tindakan persepsi.
Faktor yang mempengaruhi persepsi dari yang lain adalah: Harapan pengalaman masa lalu dan merupakan keadaan psikologis, yang menciptakan kumpulan perseptual. Selain hal tersebut masih ada beberapa hal yang mempengaruhi persepsi “asumsi yang didasarkan pada pengalaman masa lalu” yaitu: perhatian, stumulus dan situasi. Penjelasannya sebagai berikut:
Perhatian. Perhatianlah yang paling berpengaruh terhadap persepsi, karena perhatian adalah proses mental ketika stimulus atau rangkaian stimulus menjadi menonjol dalam kesadaran, pada saat stimulus lainnya melemah. Stimulus mempunyai sifat-sifat yang menonjol, antara lain intensitas dan pengulangan, dalam diri orang yang membentuk persepsi itu sendiri. Apabila seseorang melihat sesuatu dan berusaha memberikan interpretasi tentang apa yang dilihatnya itu, ia dipengauhi oleh karateristik individual yang turut berpengaruh seperti sikap kepentingan, minat, kebutuhan, pengalaman, harapan dan kepribadian.
Stimulus. Stimulus (dorongan, ransangan) yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu. Stimulus yang dimaksud mungkin berupa orang, benda atau peristiwa. Sifat-sifat sasaran itu biasanya berpengaruh terhadap persepsi orang yang melihatnya.
Faktor situasi. Faktor situasi, dimana pembentukan persepsi itu terjadi, baik pada tempat, waktu, maupun suasana dan lain-lain.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi yaitu: Faktor Internal dan Faktor Eksternal.
Faktor Internal. Factor internal yang mempengaruhi persepsi, yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu, yang mencakup beberapa hal, diantaranya Fisiologis, Perhatian Minat, Kebutuhan yang searah, Pengalaman dan Ingatan dan Suasana hati.
Fisiologis. Informasi masuk melalui alat indera, selanjutnya informasi yang diperoleh ini akan mempengaruhi dan melengkapi usaha untuk memberikan arti terhadap lingkungan sekitarnya. Kapasitas indera untuk mempersepsi pada tiap orang berbeda-beda sehingga interpretasi terhadap lingkungan juga dapat berbeda.
Perhatian. Individu memerlukan sejumlah energi yang dikeluarkan untuk memperhatikan atau memfokuskan pada bentuk fisik dan fasilitas mental yang ada pada suatu obyek. Energi tiap orang berbeda-beda sehingga perhatian seseorang terhadap obyek juga berbeda dan hal ini akan mempengaruhi persepsi terhadap suatu obyek.
Minat. Persepsi terhadap suatu obyek bervariasi tergantung pada seberapa banyak energi atau perceptual vigilance yang digerakkan untuk mempersepsi. Perceptual vigilance merupakan kecenderungan seseorang untuk memperhatikan tipe tertentu dari stimulus atau dapat dikatakan sebagai minat.
Kebutuhan yang searah. Faktor ini dapat dilihat dari bagaimana kuatnya seseorang individu mencari obyek-obyek atau pesan yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan dirinya.
Pengalaman dan ingatan. Pengalaman dapat dikatakan tergantung pada ingatan dalam arti sejauh mana seseorang dapat mengingat kejadian-kejadian lampau untuk mengetahui suatu rangsang dalam pengertian luas.
Suasana hati. Keadaan emosi mempengaruhi perilaku seseorang, mood ini menunjukkan bagaimana perasaan seseorang pada waktu yang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang dalam menerima, bereaksi dan mengingat.
Faktor Eksternal . Faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi, merupakan karakteristik dari lingkungan dan obyek-obyek yang terlibat didalamnya. Elemen-elemen tersebut dapat mengubah sudut pandang seseorang terhadap dunia sekitarnya dan mempengaruhi bagaimana seseorang merasakan atau menerimanya. Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi adalah:
1). Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus. Faktor ini menyatakan bahwa semakin besrnya hubungan suatu obyek, maka semakin mudah untuk dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi persepsi individu dan dengan melihat bentuk ukuran suatu obyek individu akan mudah untuk perhatian pada gilirannya membentuk persepsi.
2). Warna dari obyek-obyek. Obyek-obyek yang mempunyai cahaya lebih banyak, akan lebih mudah dipahami (to be perceived) dibandingkan dengan yang sedikit.
3). Keunikan dan kekontrasan stimulus. Stimulus luar yang penampilannya dengan latarbelakang dan sekelilingnya yang sama sekali di luar sangkaan individu yang lain akan banyak menarik perhatian.
4). Intensitas dan kekuatan dari stimulus. Stimulus dari luar akan memberi makna lebih bila lebih sering diperhatikan dibandingkan dengan yang hanya sekali dilihat. Kekuatan dari stimulus merupakan daya dari suatu obyek yang bisa mempengaruhi persepsi.
5). Motion atau gerakan. Individu akan banyak memberikan perhatian terhadap obyek yang memberikan gerakan dalam jangkauan pandangan dibandingkan obyek yang diam.
Sejak ditemukannya psikologi eksperimen pada abad ke-19, pemahaman psikologi terhadap persepsi berkembang melalui penggabungan berbagai teknik.
Dalam bidang psikofisika, dijelaskan secara kuantitatif, hubungan antara sifat-sifat fisika dari suatu rangsangan dan persepsi.
Ilmu saraf sensoris mempelajari tentang mekanisme otak yang mendasari persepsi dalam bentuk sistem. Sistem persepsi bisa dipelajari melalui komputasi, dari informasi yang diproses oleh sistem tersebut.
Persepsi dalam filosofi adalah sejauh mana unsur-unsur sensori seperti suara, aroma atau warna ada dalam realitas objektif, bukan dalam pikiran per-septor.
Jadi persepsi konsumen terhadap suatu produk adalah tanggapan (penerimaan) konsumen langsung terhadap isyarat dari kriteria (karakteristik) produk, atau proses seseorang mengetahui beberapa hal (isyarat) langsung melalui panca indera terhadap kriteria (karakteristik) suatu produk.
Dari paparan diatas maka: Persepsi dalam arti sempit adalah: penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu, sedangkan Persepsi dalam arti luas ialah: pandangan atau pengertian, yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu.
Berdasar paparan diatas maka dirumuskan Persepsi Konsumen Terhadap Mutu Produk dalam bentuk: Persepsi Relatif, Isyarat Mutu, Kekonstanan Persepsi dan Persepsi Konsumen atas Resiko.

Persepsi Konsumen Terhadap Mutu Produk

Persepi Relatif
Persepsi relative konsumen terhadap mutu dapat dianggap sebagai penilaian yang menyeluruh dari suatu produk. Konsumen dapat menilai suatu produk dari mulai sangat buruk sampai sangat bagus.
Persepsi mutu yang dilakukan konsumen terjadi dalam 2 (dua) tahap:
Tahap pertama, sewaktu konsumen hendak membeli produk, konsumen mempunyai harapan atas produk (Quality Expectation) yaitu untuk dapat memenuhi keinginannya (beserta anggota keluarga) sewaktu mengkonsumsi/memakai.
Tahap kedua, adalah tahap setelah mengkonsumsi atau memakai produk. Dalam tahap ini konsumen mencoba atau mengkonsumsi produk yang dibelinya, sehingga mampu menilai mutu produk berdasarkan penilaian nyatanya (Quality Experience).
Kedua tahap tersebut dipaparkan lebih rinci sebagai berikut:

Tahap pertama.
Pada Tahap pertama, sewaktu konsumen hendak membeli produk, konsumen mempunyai harapan atas mutu produk tersebut (Quality Expectation) yaitu untuk dapat memenuhi keinginannya (beserta anggota keluarga) sewaktu mengkonsumsi /memakai.
Pada tahap Quality Expectation, konsumen akan mempunyai kesan tertentu atas mutu produk yang ditawarkan. Harapan atas mutu produk tersebut dapat terdiri dari satu atau lebih Isyarat Mutu (Quality Cue).

Isyarat Mutu
Isyarat mutu atau Qual Cue dapat didefinisikan sebagai informasi awal bagi konsumen yang digunakan dalam menilai mutu produk pada saat pembelian. Isyarat mutu dibedakan atas “Isyarat Dari Luar Produk” dan “Isyarat Yang Melekat Pada Produk
Isyarat Dari Luar Produk tidak dapat dipisahkan dengan produk tersebut, tetapi bukan termasuk kedalam bentuk pisik produk. Misalnya: merek, kemasan, harga, Negara pembuat, toko penjual, label halal, waktu kadarluasa komposisi dan lain-lain.

Isyarat yang Melekat Pada Produk adalah bagian dari penampilan fisik suatu produk, mereka tidak bisa dirubah tanpa merubah fisik produk itu sendiri. Misalnya: warna dan bau pada makanan; model pada baju; bentuk pada mobil dll.
Isyarat yang Melekat Pada Poduk, terkait erat dengan karaktristik fisik suatu produk, sementara isyarat dari luar produk, ditentukan secara dominan oleh kebijakan pemasaran Industri. Konsumen mengintegraikan persepsi produk, dari beberapa isyarat mutu dari luar produk dan isyarat yang melekat pada produk dalam mementukan kesan dan harapan dan atas mutu yang ditawarkan.

Tahap kedua
Pada Tahap kedua, yaitu setelah mengkonsumsi produk, konsumen barulah mampu memberikan penilaian atas mutu produk yang sebenarnya. Penilaian ini ditentukan berdasarkan atas persepsi terhadap beberapa mutu sifat produk. Sifat suatu produk tidak dapat dinilai tanpa mencoba suatu produk. Sifat produk adalah manfaat yang dapat diberikan produk atas kegunaan yang didapat dari suatu produk, baik yang terukur dan rasa, maupun yang berupa nilai ideal dan tak terukur. Misalnya, sifat produk yang terukur atau terasa adalah bahan baju memberikan perasaan adem, rasa sangat enak pada kue, sedangkan sifat ideal yang tidak terukur yaitu minuman air putih meman-jangkan umur seseorang dll. Tahap ini disebut juga tahap Quality Experience
Pada tahap Quality Experience, setelah mengkonsumsi produk, konsumen barulah mampu memberikan penilaian atas mutu poduk berdasarkan mutu produk sebenarnya. Penilaian ini ditentukan atas persepi terhadap beberapa “sifat mutu suatu produk”. “Sifat mutu suatu produk” tidak dapat dinilai tanpa mencoba suatu produk.

Kekonstanan Persepsi
Di dalam pembelajaran persepsi, perlu juga dikenal tentang kekonstanan persepsi (konsistensi), yaitu persepsi bersifat tetap yang dipengaruhi oleh pengalaman. Kekonstanan persepsi tersebut meliputi bentuk, ukuran dan warna.
Sebagai contoh kekonstanan persepsi adalah: ketika meminum susu ditempat yang gelap maka susu tidak akan disebut berwarna hitam, warna susu tetap disebut putih, meski di dalam kegelapan warna putih sebenarnya tidak tampak.
Contoh berikut adalah, saat melihat uang logam dari arah samping, tetap akan disebut uang logam berbentuk bundar. Pada hal apabila dilihat dari samping, sebenarnya uang logam tersebut terlihat berbentuk pipih. Itulah yang disebut dengan kekonstanan persepsi, yaitu tetap memberikan persepsi terhadap suatu obyek berdasarkan pengala-man yang diperoleh sebelumnya.

Persepsi Konsumen atas Resiko
Selain sikap terhadap terhadap mutu, selama proses penilaian untuk membeli produk, konsumen memiliki persepsi terhadap berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi jika membeli produk. Kemungkinan produk yang akan terjadi setelah pembelian produk adalah:
1. Ketidak pastian yang timbul disebabkan oleh terdapat kesalahan dalam membeli produk. Kesalahan ini timbul karena salah menaksir mutu produk.
2. Keuangan, mutu produk dan sosial yang timbul karena salah membeli.

Kesadaran Mutu Yang Dimiliki Konsumen
Ada sebagian konsumen yang memperhatikan mutu poduk lebih dari yang lain. Kesadaran konsumen akan mutu adalah kecenderungan seseorang untuk secara konsistem memperhatikan berbagai aspek yang terkait dengan mutu produk. Kesadaran ini adalah hasil proses belajar dan inilah yang mempengaruhi perilaku konsumen. Mengenai Kesadaran Mutu tentang produk baca lebih rinci pada Kesadaran Mutu Produk.

Kepustakaan
Hoesin, Haslizen (1999). Pengenalan Mutu Produk . Makalah Training Wirausaha IKA IAIN Gunung Jati. Bandung. 2 – 7 Agustus.
Hoesin, Haslizen (1989). Manajemen Mutu (Diktat Kuliah). Program Studi Manajemen Produksi, IKOPIN.
Beberapa pustaka lain tidak ditampilkan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: