Posted by: lizenhs | July 30, 2014

Riwayat Ringkas Tatasuara dan Akustik Masjid: Dimasa Nabi, Sahabat, Khalifah dan Sekarang

Riwayat Ringkas Tatasuara dan Akustik Masjid: Dimasa Nabi, Sahabat, Khalifah dan Sekarang

 Oleh: Haslizen Hoesin

Pendahuluan

Dari pengamatan penulis: 1). Pembahasan, makalah atau buku-buku yang banyak ditemui toko buku mengenai Masjid adalah arsitektur Masjid, tulisan beranjak dari fungsi-fungsi bangunan [interior (dalam) dan eksterior (luar)] ke keindahan dan kemewahan.  2). Mengikuti Shalat Jum’at dibeberapa Masjid di Bandung, Jakarta, Jogja, Padang, Padangpanjang, Bukittinggi dan Payakumbuh, suara khatib tak jelas/jernih terdengar saat khutbah, sehingga sulit dimengerti apa yang disampaikan, padahal Masjid-Masjid itu bagus dan mewah. Pengelola Masjid (DKM) harus menyadari bahwa Masjid adalah ruang untuk percakapan (speech) [Suara Imam, khutbah dan ceramah], bukan hanya untuk Shalat sendirian tapi berjama’ah. [Sebelum pembaca melanjutkan membaca tulisan ini, sebagai pembuka wawasan, terlebih dahulu baca; Masjid: Teknologi/Teknik, Akustik Dan Tatasuara, https://lizenhs.wordpress.com/2014/07/05/masjid-teknologi-teknik-akustik-dan-tatasuara/ ]. Selamat membaca.

Terdapat pula sebagian orang pendapat bahwa tatasuara itu “pelengkap” dari rancangan Masjid, tak perlu diperhatikan.  Bagi yang berpendapat seperti itu, ke Masjid “mungkin”:  1). Hanya untuk Shalat (sendirian), bukan untuk Shalat berjama’ah.  2). Bukan untuk mendapatkan pengetahuan tentang agama dengan cara mendengarkan khutbah dan/atau ceramah, malah mengantuk/istirahat, karena suara khatib/penceramah tidak jelas didengar sehingga tak dimengerti.  3). Mengunjungi Masjid karena ingin melihat keindahan rancangan arsitektur dan terpesona/terpukau.

Mudah-mudahan pengunjung (jama’ah) tidak terpesona karena keindahan, tapi kenyamanan untuk menunaikan ibadah, mendengarkan khutbah/ceramah dan tidak mengantuk.  Memang keindahan diperlukan, hanya untuk membangkitkan semangat datang ke Masjid, jangan berhenti disitu saja.  Keutaman ke Masjid adalah melaksanakan Shalat berjama’ah, mendengarkan khutbah Jum’at dan ceramah.  Dianjurkan setelah anda masuk, sebelum duduk, lakukan shalat tahyatul masjid terlebih dahulu.

Bila berpendapat bahwa ke Masjid untuk: 1). Shalat berjama’ah dan 2). Mendengarkan ceramah, khutbah dan mendapatkan pengetahuan tentang agama.  Maka tatasuara/akustik Masjid harus diperhatikan dan ditata sebaik mungkin.  Alasan-alasan lain yang menambah kuat keinginan menulis adalah, setelah mengamati bagian-bagian [dinding, lantai dan langit-langit (plafon)] bangunan Masjid dan penempatan loudspeaker.

Sekarang, sudah banyak jama’ah menyadari dan menginginkan kenyaman pendengaran (kejelasan dan kejernihan suara) khatib/penceramah/imam memimpin Shalat disamping kenyamanan lain, karena menyadari tujuan datang dan berada di Masjid. Pada paparan ini penekanan pada Tatasuara (penataan penguat suara) dan akustik Masjid dalam bentuk Riwayat ringkas: Dimasa Nabi, Sahabat, Khalifah dan Sekarang.  Semoga bermanfaat

HASIL SURVEI AKUSTIK MASJID

Sesuatu yang me-“ngaget”-kan adalah hasil survei yang dilakukan Pak Soegijanto dan pendapat Ketua DMI Pusat mengenai tatasuara dan akustik Masjid:

1). Prof. Dr. RM Soegijanto berkata: “Selama tiga tahun saya melakukan survei Masjid-Masjid di Bandung dan Jakarta.”  Dari survei diketahui, bahwa: Hampir 90% tatasuara Masjid dinyatakan buruk. Akibat tatasuara yang “buruk”, jama’ah menerima informasi tidak lengkap dari khatib/penceramah sehingga ceramah/khutbah susah dimengerti.

2). Pendapat Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Pusat, disampaikan pada acara pelantikan pengurus DMI Kalsel di Banjarmasin. Ketua DMI berkata: “Bahwa saat ini sekitar 70 % dari 250 ribu Masjid di Indonesia alat pengeras suaranya kurang berfungsi dengan baik.  Tidak sedikit pengeras suara Masjid sering mendengung, apalagi Masjid yang baru dibangun dengan lantai marmer dan dinding kaca, maka suara memantul.  Kondisi tersebut, membuat isi ceramah/khutbah Jum’at yang disampaikan, tidak bisa didengar dengan baik. Karena pengeras suara yang tidak baik, isi ceramah para ulama di Masjid hanya bisa diserap jama’ah “sekitar 20 %”.

Dari kedua hal diatas, jelas sedikit manfaat dari ceramah dan khutbah yang disampaikan, dengan kata lain ceramah dan khutbah kurang berbekas terhadap pendengar sebab tak jelas kata demi kata jadinya tak dimengerti, karena tatasuara yang kurang (tidak) baik.  Ya, apa hendak dikata, itulah kenyataannya, Khatib/Penceramah, memberikan ceramah/khutbah penuh semangat.  Penceramah /Khatib berbicara dibidangnya.  Pendengar (jama’ah), tak mendapatkan apa-apa dari ceramah/khutbah yang disampaikan, “Tak banyak manfaat” kedatangan mereka, baik yang datang dari dekat maupun jauh, penat dan buang-buang waktu (umur) saja. Penceramah/khatibpun sia-sia usahanya menjelaskan/menyampaikan pendapat dan gagasan dari pikiran dan perasaan secara lisan karena tidak dapat didengar dengan baik atau tidak dimengerti atau dengan kata lain tidak bermanfaat. Terdpat pula beberapa masjid suara speaker terlalu keras, bahkan ada jamaah/pendengar ceramah yang menutup telinga di dalam Masjid. Hal ini perlu disampaikan dalam ditulisan ini, meskipun mungkin tidak dapat diterima oleh sebagian orang dan pengelola masjid (DKM).

BAGIAN-BAGIAN BANGUNAN MASJID

Diketahui dan disadari, bahwa bagian-bagian Masjid berkembang sesuai kebutuhan, juga  perkembangan teknologi konstruksi bangunan dan teknologi sistem peralatan tatasuara dan akustik.  Kedua teknologi tersebut telah diterapkan sejak Masjid dibangun Nabi SAW, yaitu mengikuti Iptek dizamannya.

Suatu penelitian tentang akustik, ditemukan bahwa bagian-bagian bangunan mempengaruhi mutu suara.  Baik-buruk mutu suara dalam ruangan dapat diketahui dengan beberapa cara, satu diantaranya dengan dengung (waktu dengung).

Bagian-bagian bangunan Masjid yang berhubungan dengan tatasuara adalah: Mimbar, Mihrab, Dinding Qiblat dan Dinding belakang, Dinding samping kiri-kanan, Bagian Dalam Kubah dan/atau Langit-langit (Plafon, lantai dan Menara. Sesuai dengan perkembangan Iptek, bagian-bagian Masjid terlihat jelas telah banyak mengalami perubahan.  Bagian-bagian Masjid oleh sebagian orang dikatakan “bid’ah”. [Mudah-mudahan, setelah membaca tulisan ini secara tuntas, bagian-bagian yang dikategorikan bid’ah (pro-kontra dapat berkurang), sehingga baik bagi yang pro maupun yang kontra mendapat pencerahan].

Paparan yang anda baca ini hanya dari sisi teknologi, karena bagian-bagain tersebut berada pada ranah teknologi/teknik konstruksi atau alat bantu yang diterapkan di Masjid supaya lebih terasa nyaman pendengaran. Kenyamanan pendengaran bertujuan agar ceramah dapat didengar jernih/jelas sehingga dimengerti.

Bila ditanya jama’ah, memang terdapat yang tak memberi komentar dan/atau tak mengeluh, walaupun begitu sebagian jama’ah ada yang mengeluh, bahwa: 1). Tatasuara Masjid tidak nyaman (berdengung, menciut, tak jelas isi khutbah/ceramah dan sulit dimengerti) dan 2). Tatasuara telah beralih dari alamiah ke elektronik yang belum tentu dibutuhkan: Itu kata mereka.

Yaaa…. itulah, memang suatu yang menarik, bahwa suara secara alamiah masih memenuhi persyaratan, entah apa alasan ditambah atau diganti dengan eletronik, kadang-kala malah menjadi tidak nyaman (cacat akustik). Cacat akustik itu adalah: gema (pantulan suara), dengung (suara yang dipantulkan berkai-kali), pemusantan suara (sound focusing), dan feedback (mendenging dan menciut).  

Bila dicermati dengan pikiran yang tenang, bahwa bagian-bagian Masjid dan alat tatasuara/akustik, adalah perkembangan Ilmupengtahuan dan teknologi (Iptek) yaitu Teknologi: Konstruksi bangunan Masjid, Sound system dan Sistem tatasuara. Teknologi konstruksi dan sistem tatasuara tampaknya telah diterapkan sejak Masjid Quba dan berkembang sampai sekarang, sesuai dengan “kebutuhan” dan  perkembanganilmu pengetahuan dan teknologi(Iptek).

Ditinjau dari tatasuara, Masjid termasuk pada ruang percakapan (speech) maka “waktu dengung” sebaiknya (0.7–1 detik) dan tingkat kekerasan suara merata setinggi duduk 40 – 50 dB.

Kejernihan/Kejelasan Suara dan Jarak Pendengar dari Sumber Suara

Tingkat kekerasan dan kejernihan suara didengar berubah (menurun) terhadap jarak [X] dari sumber suara.  Sai and Wing (1986) menyatakan bila kekerasan suara sumber [suara alamiah] antara 50 -70 dB (dBA), kejelasan/kejernihan suara terdengar oleh pendengar yang berada pada jarak [X meter] tertentu, dikelompokkan dalam batasan-batasan sebagai berikut: X sampai 15m.released listening; X terletak antara 15m sampai 20m. – good intelligibility; X terletak antara 20m sampai 25m. – satisfactory; X 30 m. – limit of acceptability without electronic amplification. Ketentuan ini tidak berlaku bila terdapat bising latar belakang (noise) dan tingkat kekerasan sumber suara kurang dari 50 -70 dBApa arti dB dan apa arti batasan-batasan jarak jangkau bunyi/suara? Baca pada Masjid: Teknologi, Teknik, Akustik Dan Tatasuara. https://lizenhs.wordpress.com/2014/07/05/masjid-teknologi-teknik-akustik-dan-tatasuara/

BANGUNAN MASJID DAN RIWAYAT PENATAAN PENGERAS SUARA

1). M  a  s  j  i  d

Shalat dapat dimana saja dimuka bumi sedirian/berjama’ah seperti dilapangan terbuka bila keadaan cuaca baik, dengan Syarat, tempat tersebut: Bersih (suci) dari kotoran dan najis.  Tidak diatas kubur.  Menghadap Qiblat dan Masuk waktu Shalat (Shahih Muslim: 315 dan Bukhari 323). Bila cuaca tak bersahabat Masjidlah tempat Shalat berjama’ah dan kegiatan lain-lian.

Beberapa orang bertanya tentang Masjid, untuk menjawab pertanyaan itu diantara sekian banyak jawaban, diambil dari Lajnah Da’imah (Lembaga Tetap Fatwa Saudi Arabia). Lajnah Da’imah menjelaskan bahwa Masjid didefinisikan secara bahasa dan syar’i.  Secara bahasa, Masjid adalah tempat untuk melakukan sujud. Secara  syar’i, Masjid adalah tempat yang dipersiapkan untuk tempat Shalat lima waktu secara berjama’ah.

2). Masjid, Karya Budaya Islam di Bidang Teknologi dan Tatasuara

Masjid tempat (bangunan) suci umat Islam melaksanakan ibadah kepada Allah SWTMasjid adalah satu dari beberapa karya budaya umat Islam di bidang teknologi konstruksi dan tatasuara, tatadara dan tata cahaya, yang telah dirintis sejak masa permulaan, menjadi ciri khas dari suatu negeri atau kota Islam. Beberapa Masjid di dunia merupakan bangunan yang mempunyai “nilai sejarah” sekaligus “mempunyai keistimewaan dari segi arsitektur dan tatasuata, tataudara dan tata cahaya”.

Masa Nabi: Masjid Quba dan Nabawi

Masjid pertama dibangun Nabi, adalah Masjid Quba.  Fisik Masjid Quba: persegi panjang, [70 x 60 hasta (dalam metrik, 39 x 26 m), dinding batu gurun yang cukup tinggi (8 hasta= 4 m) merupakan pagar].  Masjid beratap pelepah daun kurma dan tidak beratap seluruhnya (hanya sebagian).  Nabi saat khutbah/ceramah berdiri dan bersandar pada batang kurma, bila istirahat sejenak antara dua khutbah atau caramah, duduk pada undukan tanah liat.  Tempat Nabi berdiri dan duduk saat khutbah, disebut Mimbar (Orfali, 2008).  Pola-pola ini semua mengarah pada bentuk fungsional.  Boleh dikatakan tidak ada yang bersifat berlebihan.  Itulah teknologi membangun Masjid saat itu.  Berdasarkan keadaan tersebut, diperkirakan tidak ada cacat akustik pada Masjid.

Sesudah membangun Masjid Quba. Nabi SAW membangun Masjid Nabawi. Bentuk Masjid Nabawi bujur sangkar, sisi 100 hasta (50 meter), (Fanani, 2009: 146 – 147).

Masa Khalifan: Masjid Kuffah dan Masjid Agung Kordoba

Masa Khalifah, bagian Masjid bertambah, yaitu “Riwaqs” (selasar).  Bentuk ini terlihat pada Masjid Kuffah, dibangun tahun 639 M. Masjid.  Belum terlihat bagian-bagian yang berlebihan. Masih tetap menunjukkan pada fungsi utama [Fanani: 2009].

Masjid yang menakjubkan dibangun di masa Khalifah, adalah  Masjid Agung Kordoba Spanyol, saat sekarang ini ditempati umat Kristen. Masjid tidak hanya memiliki bagian-bagian arsitektur yang indah, juga memiliki fungsi tatasuara yang baik, pencahayaan dan aliran udara.  Meskipun saat itu belum ada alat pengeras suara (elektronik), suara khatib/penceramah bisa terdengar jelas sampai kepojok-pojok Masjid. Itulah teknologi para ilmuwan Islam pada masa Khalifah, ijtihad yang mengagumkan.

3). Kenyamanan Suara di Masjid

Masjid adalah bangunan tempat untuk Shalat berjama’ah, mendengarkan khutbah Jum’at dan ceramah (pengetahuan), dapat digolongkan sebagai ruangan yang didesain untuk percakapan (speech), berarti berhubungan dengan akustik dan/atau tatasuara.

Masjid sebagai “bangunan tempat ibadah”, terdapat beberapa hal yang harus dipenuhi dan tidak dapat dipungkiri, seperti “keindahan”, “tataletak ruang (peralatan dan kegiatan)” dan “bersih”.  Bagian-bagian Masjid yang mendapat perhatian utama di bagian interior  adalah: mihrab, dinding, lantai dan langit-langit atau bagian bawah kubah. Para perancang (arsitek) pada umumnya sekarang memilih bahan-bahan (material) permukaan keras dan mengkilat, terkesan bersih, seperti: marmer, granit, keramik dsb.  Pilihan material dan penempatan/pemasangan bahan tersebut, dari sisi akustik berpotensi cacat akustik, yang akhirnya mengganggu “intelligibility” (kejelasan/ kejernihan suara).  Agar kejelasan/kejernihan suara tercapai, maka pada rancangan bagian-bagian interior Masjid selain Mihrab, (seperti: dinding, lantai dan langit-langit atau bagian bawah kubah) dihindari menggunakan bahan-bahan (material) yang memiliki permukaan keras dan mengkilat, karena berpotensi memantulkan suara.  Bila tak bisa menghidari bahan keras dan mengkilap rancanglah dengan mengkombinasikan pemantul dan penyerap suara.

Dari paparan diatas jelaslah bahwa dari satu dari tiga macam kenyamanan yang dikehendaki dalam Masjid adalah “kenyamanan pendengaran” sesuatu yang harus, bahkan wajib dijadikan dasar pemikiran/perhatian, dalam rancangan Masjid.  Arsitek diuji profesionalitas dan pengetahuannya tentang bentuk bangunan Masjid yang memenuhi kenyamanan pendengaran.  Untuk apa? Agar fungsi Masjid sebagai sarana syi’ar agama tercapai.  Pengunjung (jama’ah) datang ke dan berada di Masjid minimal mempunyai dua tujuan, yaitu: 1). Untuk beribadah (Shalat berjama’ah ) dengan khusu’dan 2). Mendengarkan ceramah dan/atau khutbah sebagai tambahan pengetahuan tentang agama dibawa pulang, diingat dan disampaikan kepada sanak keluarga untuk diamalkan.  Berkaitan dengan suara [imam, ceramah dan/atau khutbah], yang dibutuhkan adalah jelas dan jernih sehingga ceramah/khutbah dapat dimengerti, bukan kekerasannya. Ini harus disadari oleh Penegelola Masjid (DKM).

Masalah utama untuk pendengaran pada Masjid adalah pada sound system dan sistem tata suara. Pemasangan sistem tatasuara sebaiknya (boleh) dilakukan apabila kondisi akustik alamiah tak memadai (tidak tercapai).  Perlu dipahami, terdapat tiga hal tentang suara yang harus diperhatikan yaitu: 1). Sound System (mikrofon, mixer, signal processor, amplifier, loudspeaker dan kelengkapannya) adalah alat bantu untuk menciptakan kondisi pendengaran yang lebih baik (nyaman), bukan untuk memperbaiki akustik ruangan, 2). Sistem Tata Suara [pengaturan mikrofon dan penempatan loudspeaker (pengeras suara)] adalah alat untuk memperoleh tingkat kekerasan suara relative merata dan 3). Perhatian!!! Bila ruangan Masjid sudah memiliki “cacat akustik”.  Sebagus, secanggih dan semahal apapun alat pengeras suara yang dipasang tidak akan bisa memperbaiki “cacat akustik”.

Pengelola Masjid (DKM) dan teknisi, sebaiknya memiliki pengetahuan (wawasan) tentang: akustik, alat pengeras suara dan tatasuara.  Caranya mudah sekali, yaitu:  Membaca tulisan (artikel) tentang akustik ruang percakapan atau, bila malas membaca.  Bertanya kepada yang memahami tatasuara Masjid atau fisika bangunan.  Bila malas membaca dan bertanya atau tak dapat dilakukan, cara berikut adalah beberapa DKM bergabung, bersama-sama mencari/ mengundang penceramah akustik/tatasuara untuk mendapat pengetahuan praktis tentang Akustik dan Tatasuara. Mengenai tatasuara masjid yaitu penempatan loudspeaker satu dari beberapa cara penempatan sebagai contoh baca Tatasuara (akustik) Masjid: Kasus Masjid Salman ITB  https://lizenhs.wordpress.com/2010/03/22/tata-suara-akustik-masjid-kasus-masjid-salman-itb/

Dengan pengetahuan awal itu, pengurus/pengelola Masjid (DKM) mengelola kenyamanan pendengaran, atau mengatur ulang penempatan pengeras suara, atau merenovasi Masjid, atau bila akan mendirikan Masjid, bahaslah rancangan Masjid anda (sahabat) dengan arsitek mengenai penataan pengeras suara (loudspeaker) dan bahan (material) bagian-bagian Masjid sehingga tidak terjadi “cacat akustik”.

Sahabat pembaca. Rancangan Masjid, dipengaruhi iklim/cuaca dan budaya setempat. Bentuk dasar Masjidpun bervariasi, dapat berupa bujur sangkar, persegi panjang, segi enam, segi depalan, trapesium dll., demikian pula bentuk-bentuk atap.  Bentuk-bentuk tersebut sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi/teknik, juga mempengaruhi: tatasuara/akustik, pencahayaan dan kesejukan dan pemakaian energi dalam Masjid. [“Apakah “sahabat”(anda) tidak menyadari, bahwa Yang Maha Pencipta (Allah) telah menyuruh manusia untuk mempelajari ilmu pengetahuan dunia dan diterapkan (di Masjid).  Perhatikanlah, betapa banyak ayat-ayat dalam Al Qur’an dan hadist Nabi agar umat Islam mempelajari ilmu, termasuk teknologi/teknik”)].

Teknologi/teknik adalah ilmu didunia, untuk diterapkan dalam kehidupan, sebagai sarana/jalan menuju kebahagiaan didunia dan diakhirat (surga).  Memang benar, bahwa penerapan teknologi dapat mengundang atau menghasilkan “kemarahan” dan “perdebatan” (pro-kontra) sebagian orang tentang keberadaan bagian-bagian Masjid dan peralatan elektronik (tatasuara/akustik) di Masjid. Hal ini terjadi karena penerapan teknologi (tatasuara/akustik) yang “tidak tepat” bahkan “tidak tepat guna”.

Ketidak tepat gunaan penerapan peralatan akustik elektronik inilah yang menghasilkan pro-kontra di masyarakat, hal ini terjadi karena kurang memahani fungsi utama peralatan tersebut.  Mungkin dikatakan modern bila pakai elektronik, dinyalakan dengan tekanan suara yang keras. Atau memasang speaker corong banyak, misal enam atau delapan supaya terdengar sampai jauh, pada hal radius hunian cuma 500 – 800 meter.  Penghuni dekat masjid akan terganggu pendengrannya karena tingkat tekanan suara terlalu keras.  Dalam ruang dipasang speaker kolom empat di kiri kanan dinding masjid, padahal masjidnya berukuran 20 x 20 m.  Sakit telinga jama’ah berada dalam masjid.  Akibatnya jama’ah malas datang ke Masjid, berarti pengeras suara satu dari beberapa penyebab penurunan mamakmurkan Masjid.

Perlu diperhatikan, apa saja yang harus disampaikan melalui peralatan elektronik tsb, kapan waktunya tentu harus ada landasan pikir atau dalilnya dan radius hunian.  Berapa kekerasan suara didalam Masjid?  Tentu jangan melebihi 50 – 60 dB.  Berapa kekerasan suara diluar sekitar masjid yang tepat?  Jangan sampai 80 -100 dB atau lebih.  Baca kembali Masjid: Teknologi, Teknik, Akustik Dan Tatasuara pada Jarak Jangkau Bunyi (Suara) tentang Tingkat Kekerasan (Intensitas) Bunyi (Suara). Jangan pula menyalakan atau meng-on-kan semua speaker dalam masjid dan dimenara dengan volume besar, berlebihan atau maksimal.

4). Gambaran Ringkas Perkembangan Tatasuara di Masjid

Apa saja yang berhubungan dengan tatauara/akustik di Masjid?  Adalah Takbir, Imam,  Khutbah, Ceramah, Mimbar, Adzan dan Tempat yang Tinggi (Menara).  Pada awal semuanya, secara alamiah dengan suara lantang/nyaring, untuk imam dikuatkan dengan pemantulan, khutbah dilakukan ditempat yang tinggikan (mimbar), Adzan tempat yang tinggi.  Karena jama’ah bertambah dan masjid diperluas, bagian dalam masjid dilengkapi dengan mihrab dan mimbar dipertinggi, bahkan ada mimbar yang ditempatkan agak ketengah ruang masjid, mengulang suara imam dengan dikeraskan (tabligh). Adzan dua kali sebelum khatib naik mimbar dll.  Di masa sekarang Masjid diperluas dipakai penguat elektronik.  Penguat elektronikpun berkembang dari satu mikrofon menjadi tiga, kemudian kembali ke satu.  Speaker awalnya corong, berkembang menjadi bentuk kotak, kolom (array) dan gabungan corong, kotak dan kolom dll.

5). Riwayat Penataan Penguat Suara Dan Tempat Sumber Suara

(1). Menguatkan Takbir

Memulai Shalat dengan Takbir, (“Allahu Akbar”).  Dalam Shalat berjama’ah menguatkan Takbir adalah tugas Imam (yaitu nyaring dan lantang).  Jadi Ma’mum tidak boleh menguatkan takbir disemua gerakan Shalat saat mengkuti imam.

Dimasa Nabi

Dimasa Nabi SWT penguat suara itu adalah Dinding Qiblat dan Suara Abu Bakar. Nabi SWT, menyeru Shalat, Nabi berdiri didepan dinding Qiblat, Jama’ah berbaris dibelakang dengan rapi dan rapat (bersinggungan bahu, bahu kiri dengan  kanan dst.).  Nabi mengucapkan takbir dengan suara keras. Dinding Qiblat berfungsi memantulkan suara kebelakang. Dinding Qiblat sebagai pemantul  (penguat suara alamiah pertama) tatasuara Masjid. Rasulullah memimpin Shalat berdiri ditengah, berhadapan dengan dinding qiblat (tempat sumber suara pertama) tatasuara Masjid.  Bila Rasulullah SAW berkhutbah beliau berdiri. Tempat khutbah disebut MimbarMimbar (penguat suara alamiah kedua) tatasuara Masjid. Mimbar tempat yang tinggi dan (tempat sumber suara kedua).

Saat Nabi sakit, suara Nabi lemah mimimpin Shalat, Abu Bakar mengeraskan takbir imam yang berada dibelakang Nabi sebagaimana yang dikemukakan hadist berikut.  Hadist Shahih Muslim no 366:  “Dari Jabir ra. Rasulullah SAW sakit. Karena itu beliau Shalat sambil duduk dan kami Shalat dibelakang beliau sabil berdiri, sedangkan Abu Bakar mengeraskan suaranya takbir menyambung suara Nabi, supaya kedengaran oleh orang banyak …….. dst”.  Terdapat beberapa hadist tentang mengeraskan suara, tapi yang dikemukakan disini hanya satu.  Dari hadist tsb., diketahui bahwa, jika suara imam lemah tidak dapat didengar oleh ma’mum, maka seorang dari ma’mum menirukan suara imam mengucapkannya dengan keras setelah imam.  [Abu Bakar berdiri dibelakang Nabi (tempat sumber suara ketiga)]Suara Abu Bakar (penguat suara alamiah ketiga) tatasuara Masjid. [Bila dianalogikan, maka telinga analog dengan mikrofon, manusia analog dengan power amplifier (amplifier) dan mulut analog loudspeaker. Sekarang apa yang dilakukan Abubakar diganti dengan elektronik]. Abu Bakar adalah model amplifier pertama yang diterapkan dimasa penguat elektronik belum ada. Apa yang dilakukan Abu Bakar itu, populer disebut Tabligh

Dimasa Khalifah

Tabligh

Menirukan suara imam yang lemah, sebagaimana dilakukan Abu Bakar, perbuatan ini disebut Tabligh.  Secara harfiah, kata Tabligh dalam bahasa Arab berasal dari akar kata balagha, maknanya menyampaikan.  Sedangkan dalam terminologi syari’ah, Tabligh adalah menyampaikan (menirukan) suara imam dengan suara yang keras kepada para ma’mum yang tidak mendengar. Sebelum tahun 60-an, pada Masjid-Masjid Jami’ (ukuran besar) menggunakan “Tabligh” untuk menguatkan suara imam, meskipun imam berada didepan dinding Qiblat dan/atau Mihrab memimpin Shalat. Tabligh disebagian Masjid terutama Masjid Jami’ di masa sekarang masih tetap diperdengarkan, meskipun penguat elektronik dipakai.  Tabligh (penguat suara alamiah kelima) tatasuara Masjid.

Tabligh digunakan karena suara imam yang dipantulkan dinding Qilat/Mihrab tak dapat menjangkau jama’ah terjauh, hal ini terjadi karena ukuran Masjid melebihi ukuran 70 x 60 hasta (39 x 26 m).

Dimasa Sekarang

Mikrofon dan Speaker

Sebelum tahun 60-an beberapa Masjid berukuran besar telah memakai penguat elektronik (mikrofon, amplifier dan speaker) untuk menguatkan suara imam, sebagai pengganti “tabligh”.

Sekitar awal tahun 60-an sampai 70-an menguatkan suara Imam disebagian Masjid tidak lagi menggunakan Tabligh, diganti dengan penguat elektronik (mikrofon, ampli dan speaker).  Mikrofon hanya satu, diletakkan dekat khatib khutbah, kemudian dipindah ke dekat imam saat imam memimpin Shalat (setinggi imam).  Saat ruku’ dan sujud suara imam kurang kuat, maka suara tabligh diperdengarkan memperkuat suara imam. Saat ini sering terjadi feedback. Loudspeaker pun satu berbentuk corong atau kotak (satu speaker).

Karena perkembangan teknologi audio, muncul mixer, maka mikrofon dapat lebih dari satu. Artinya  mikrofon dapat diletakkan didekat imam tiga (3) buah: setinggi berdiri, rukuk dan duduk dan sujud. Saat itu masih terjadi feedback (mendenging atau menciut).

Walaupun penguat elektronik telah digunakan sebanyak tiga buah atau mikrofon kondensor.  Sebagian Masjid sekarang tetap saja tabligh dikumandangkan (terlihat disini alat penguat suara yaitu Tabligh dengan elektronik menjadi tumpang tindih).  Tabligh dan penguat eletronik digunakan bersamaan.  Cara  penguat gabungan ini, bagi sebagian jama’ah berkomentar  terganggu konsentrasinya saat shalat.

Mulai pertengahan tahun 70-an, dikenal wireless. Sekitar akhir tahun 1990 awal tahun 2000, mikrofon kondensor (kapasitor) banyak digunakan pengganti wireless dan tabligh tidak diperdengarkan.  Feedback dapat ditanggulangi (menjadi berkurang).  Mikrofon Kondensor (kapasitor) dijepitkan pada baju dibawah dagu, cara ini akan menghasilkan suara yang relatif stabil dibanding tiga mikrofon disamping imam, karena mikrofon kondensor mengikuti gerak imam.

(2). Mimbar

Pengertian Mimbar

Kata “mimbar” (الِمنبَرُ) berasal dari kata ungkapan نَبَرَ الشَّيئَ yang artinya mengangkat atau meninggikan sesuatu.  Ia dinamakan “mimbar” karena letaknya yang tinggi. Mimbar dari sisi akustik adalah sarana/alat tatasuara untuk menambah jangkauan suara khutbah atau ceramah. (penguat suara alamiah kedua) tatasuara masjid.

Dimasa Nabi

Awal keberadaan Mimbar adalah tempat Rasulullah SAW berdiri, terdapat sebatang pohon kurma dan gundukan tanah liat.  Saat berkhutbah Nabi saw bersandar kepada batang pohon tersebut dan duduk sebentar pada gundukan tanah liat.

Mimbar Kayu

Suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabat. Hal ini dilihat oleh seseorang yang baru (asing) menetap di kota Madinah (tidak dikenal Rasulullah).

Orang asing itu berkata kepada sahabat yang berada di dekat rasul. “Jika aku ketahui bahwa Muhammad SAW menyenangiku ….  akan kubuatkan untuk beliau sebuah mimbar di mana Nabi dapat duduk ataupun berdiri sekehendak hati. ….Panggil orang itu!” Nabi menyuruh membuat mimbar dengan 3 (tiga) anak tangga.  Kejadian ini terjadi tahun ke 8 (delapan) atau ke 9 (Sembilan) Hijrah.  Disepakati pula mimbar dibuat dari kayu jenis Thorfa.  Nabi khutbah pada tingkat yang kedua dan duduk pada tingkat yang ketiga.  Hal ini didasarkan pada hadits yang panjang dari Anas bin Malik ra, dalam riwayat itu disebutkan: “Maka dibuatkanlah untuk beliau sebuah mimbar dengan 3 (tiga) anak tangga. Beliau duduk pada anak tangga ketiga… ” (diringkas) (HR. Ad-Darimi dalam Sunannya (I/19) dan Abu Ya’la dalam Musnadnya (I/19).  Apa yang dapat dipetik dari ukuran mimbar Nabi, bahwa khutbah disampaikan dengan suara lantang dan berada di tempat yang lebih tinggi dari pendengar (jama’ah).

Ukuran Mimbar

Ibnu An-Najjar menyebutkan bahwa panjang mimbar Rasulullah SAW adalah 2 (dua) hasta, 1 (satu) jengkal dan 3 (tiga) jari, lebarnya 1 hasta”. Mimbar memiliki sandaran (Akhbaar Madiinatir Rasuul, 82).  Bila diubah ke satuan metrik sbb: Tinggi mimbar 2 hasta, 1 jengkal, 3 jari = 125 cm. Tinggi anak tangga 1 jengkal (ada yang mengatakan sepertiga hasta) = 18 – 25 cm.  Lebar anak tangga 1 jengkal = 18 – 25 cm.

Dimasa Khalifah

Ketika Mu`awiyah Radiyallahu`anhu menjadi khalifah dan disaat haji, beliau menambahkan anak tangga ke arah bawah hingga mimbar mempunyai 9 anak tangga.  Para khalifah berkhutbah dan duduk pada anak tangga ke-7 yang merupakan anak tangga pertama mimbar Nabi SAW.  Bentuk mimbar ini menjorok keluar sehingga memotong shaf.

Mimbar ini terus dipertahankan hingga Masjid Nabawi terbakar pada tahun 654 H/1256 M, lalu diganti dengan mimbar yang dibuat oleh raja Yaman Al-Muzhaffar.  Mimbar, mengalami pergantian beberapa kali. Terakhir mimbar hadiah khalifah Utsmani, dikirim oleh Sulthan Murad III pada tahun 998 H. Mimbar ini indah dan dibuat dengan tingkat ketelitian yang tinggi dan sampai sekarang masih ada.  Mimbar ini termasuk satu dari beberapa keajaiban dunia.

Dimasa Sekarang

Dibeberapa Masjid, Mimbar berada didinding Qiblat menyerupi jendela/pintu yang memiliki teras, diketinggian tertentu, bentuk seperti ini tidak memotong shaf.  Khatib ke Mimbar melalui tangga dari Mihrab.  Sebagian Masjid, Mimbar berada di diluar Mihrab, tinggi dan panjang, mengarah kedinding belakang sehingga memotong shaf (Orfali: 2008).

Disebagian Masjid, selain Mimbar terdapat pula PodiumPodium digunakan sebagai tempat penceramah.  Podium (tempat sumber suara kesebelas tatasuara Masjid).  Penempatan Podium beragam, ditengah ruang Masjid, merapat kedinding dan ditengah.   Bila diMasjid tersebut ada pembatas jama’ah laki-laki dan perempuan, Podium ditempatkan tepat dipembatas jama’ah.  Selesai ceramah Podium digeser merapat kedinding Masjid supaya shaf Shalat tidak terputus.

Mimbar dapat dikatakan sebagai sebuah ciri suatu bangunan Masjid, kenapa demikian?  Karena mimbar hanya ada di Masjid, sebagaimana kejadian di Bali.  Karena terdapat mimbar didalam bangunan yang ditemukan maka penduduk, penduduk menyebut Masjid Kuno. Kisahnya sebagai berikut:

Masjid Kuno itu dianggap keramat oleh penduduk setempat (kampung Kajanan Buleleng- Bali).  Warga keturunan Muslim kampung Kajanan menemukan bangunan pada tahun 1654 dan pasca perpindahan umat muslim dari Pelabuhan Buleleng ke kampung tersebut.  Daerah (kampung) ini sebelumnya hutan semak belukar.  Saat dibersihkan warga, ditemukan sebuah bangunan segi empat berukuran 15 x 15 meter dan memiliki empat tiang dari pohon kelapa.  Di dalam bangunan terdapat sebuah Mimbar yang diukir dari ornamen khas Bali, karena mimbar itu penduduk berkesimpulan bangunan ini adalah Masjid.  Sayang, bangunan itu tak diketahui pasti siapa yang membangunnya.

(3). Mihrab

Bila memasuki sebuah Masjid atau Musalla atau Surau atau Meunasah orang mengarahkan pandangannya ke arah Barat [bila Masjid berada dibagian Timur Ka’bah (seperti Indonesia) akan terlihat lekuk (rongga) masuk dinding/tembok qiblat, lekuk ini disebut “ceruk”].  Ceruk ini di Masjid populer disebut “Mihrab”. Di Mihrab ini imam memimpin Shalat.  Mihrab  (tempat sumber suara kesembilan dan alat penguat suara alamiah keenam tatasuara Masjid).

Dimasa Nabi

Bila bertitik-tolah pada Hadist, Masjid Quba awal didirikan, Mihrab belum ada.  Imam (Nabi) memimpin Shalat berdiri ditengah didepan dinding Qiblat.  Dinding inilah berfungsi memantulkan suara imam.

Mengenai keberadaan Mihrab, menurut berapa sumber, bahwa Mihrab Masjid Quba dibuat pertama kali setelah Rasulullah SAW menerima perintah dari Allah SWT memindahkan arah kiblat dari Baitul Maqdis (Yerusalem) ke Ka’bah (Mekah).

Dimasa Khalifah

Sejarawan Islam banyak mengemukakan bahwa Mihrab baru muncul di zaman dinasti Umayyah.  Pernyataan ini ditemukan dalam Ensiklopedi Hukum Islam, bahwa Mihrab baru dibangun pada masa Umar bin Abdul Aziz, di bawah pemerintahan khalifah al-Walid. Pendapat lain menyatakan bahwa pembangunan Mihrab muncul sejak Muawiyah bin Abu Sufyan, khalifah pertama dinasti Umayyah.  Mu’awiyah membuat peraturan bahwa bangunan Mihrab harus ada di dalam Masjid.

Bentuk dan gaya Mihrab, sejak dulu sampai sekarangpun mengalami inovasi (perubahan). Menurut sejarawan al-Maqrizi, seorang gubernur di masa pemerintahan Muawiyah, Qurra’ bin Syarik, memerintahkan pembuatan Mihrab dengan bentuk atap melengkung (Mihrab Mujawaf) dalam Masjid-Masjid di Mesir. Mihrab model ini pertama kali diperkenalkan oleh Maslam bin Mukhallad atau Abdul Aziz bin Marwan.

Terlepas dari kapan Mihrap itu mulai dibuat.  Menurut Orfali (2008) dan beberapa sumber lain menyatakan, bahwa bentuk Mihrab di awal rancangan (dimasa khalifah), bagian dasar dan atas berbentuk setengah lingkaran sampai pada tinggi tertentuArtinya: Bagian atas (langit-langit) mihrab melengkung berbentuk setengah bola [terlihat seperti bambu dibelah dua ditegakkan, bagian buku (sebelah atas) tidak dibuang].

Fungsi Mihrab

Mihrab tempat imam memimpin Shalat, berbentuk lengkung, fungsi utamanya adalah untuk pemantul suara atau menambah jauh jarak jangkauan suara Imam. Hal ini dilakukan karena Masjid bertambah luas atau jama’ah bertambah banyak, bentuk dasar Mihrab setegah lingkaran dan langi-langit berbentuk setengah bola merupakan pengembangan dari bentuk dinding Qiblat yang rata. Kuat pantulan alamiah Mihrab melengkung (setengah lingkaran) lebih baik dengan dinding rata (dinding qiblat).  Imam berdiri dipusat lingkaran, sedangkan pada dinding Qiblat (bidang datar), imam berada ditengah antara dinding kiri dan kanan.  Pembuatan mihrab melengkung ini adalah ijtihad para Khalifah (penasehat teknis khalifah saat itu).  Ijtihad dilakukan karena jama’ah bertambah banyak dan ruang Masjid bertambah luas.  Wajarlah mihrab tidak ada awal Masjid Quba dibangun karena bangunannya masih kecil, cukup dengan pantulan dinding Qiblat.  Bila diamati secara cermat, Mihrab hanya anda temukan di Masjid, Musajik, Mushala, Langgar, Meunasah atau Surau. Tanpa Mihrab tentu jama’ah yang ingin Shalat akan kebingungan menentukan arah kiblat yang tepat dan benar.

Masa Sekarang

Pada masa-masa berikutnya Mihrab itu kebanyakan berbentuk segi empat pada bagian dasar sampai atas [seperti kotak/balok], tidak lagi setengah lingkaran, bahkan terdapat pula Mihrab tidak berdinding depannya, terbuka seolah-olah seperti pintu yang lebar tanpa daun, dapat memandang keluar dengan leluasa.  Mihrab seperti itu fungsinya bukan lagi sebagai pemantul suara, lebih menonjolkan keindahan, ini mungkin karena penguat elektronik sudah ada menggantikan penguat alamiah.  Suatu hal yang aneh sekarang adalah Masjid dengan ukuran kecilpun pakai penguat elektronik, pada hal sudah cukup dengan Mihrab bentuk melengkung.  Perhatikan kembali hasil penelitian Sai and Wing.  Disebagian Masjid, di Mihrab ditempatkan Mimbar.  Jadi Mihrab tidak hanya tempat imam memimpin Shalat tapi juga tempat Khutbah.

Mihrab diawal keberadaannya adalah alat penguat suara imam (ijtihad khalifah dan para sahabat), Tabligh yang telah ada (sejak Nabi).  Itulah teknologi penguat suara saat itu. Sekarang Mihrab bergeser kepada keindahan interior meninggalkan fungsi utamanya.

Untuk bangunan ibadah (Mushala, Langgar, Meunasah, Surau, Musajik atau Masjid) ukuran kecil (seperti 20 x 20 atau 39 x 26 m), Mihrab berbentuk setengah lingkaran sebagai pemantul (penguat suara alamiah) itulah yang terbaik, bukan berbentuk persegi.  Bila Mihrab setengah lingkaran (melengkung) sudah ada, tak perlu lagi alat pengeras suara elektronik pada pelaksanaan Shalat berjama’ah.  Bila ukuran Masjid melebihi 39 x 26 dan jama’ah hanya dua shaf lebih, penguat elektronik belum diperlukan, kecuali jama’ah penuh.  Ingat persyaratan imam dua diantara sekian ketentuan adalah suara nyaring dan lantang.  Perhatikan kembali hasil penelitian Sai and Wing (1986).

Tentang keberadaan Mihrab, terdapat berbagai pendapat (pro dan kontra).  Walaupun begitu, berikut ini satu dari beberapa pendapat tentang Mihrab, yaitu fatwa Lajnah Daimah mengenai Mihrab.  Fatwa Lajnah Daimah mengenai Mihrab 6/252-253 terbitan Dar Balansiah, Riyadh KSA cetakan ketiga 1421 H. tentang keberadaan Mihrab di Masjid.  Boleh saja yang lain memilih pendapat berbeda dengan pendapat yang termuat dalam fatwa ini. Namun pendapat yang dipilih ini bukan satu-satunya pendapat ulama ahli Sunnah.  Ingat kembali fungsi utama mihrab melengkung adalah untuk memantulkan suara karena ukuran masjid dan jama’ah bertambah.

Lajnah Daimah mengatakan, “Kaum muslimin senantiasa membuat Mihrab di dalam Masjid sejak tiga masa emas (baca: shahabat, tabiin dan tabi’ tabiin) dan masa-masa sesudahnya dikarenakan adanya manfaat besar bagi kaum muslimin dengan adanya Mihrab. Di antara manfaat tersebut adalah menjadi alat bantu untuk mengetahui kiblat dan alat penjelas bahwa tempat tersebut adalah Masjid.”  Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz sebagai ketua Lajnah Daimah, Abdurrazzaq Afifi sebagai wakil ketua dan Abdullah bin Ghadayan sebagai anggota. Terlepas dari fatwa diatas.

(4). Cara Memanggil Untuk Shalat (Adzan) Dan Menara

Adzan terkait kuat dengan tempat mengumandangkannya yaitu: tempat yang tinggi, kenyaring dan kelantang suara. Adzan ditempat yang tinggi dengan suara nyaring dan lantang dapat terdengar dengan baik mencapai 500 meter, bila tidak ada bising bisa mencapai 800 meter, bahkan lebih mengikuti arah angin.

Dimasa Nabi

Pada masa awal masa ke-Nabi-an Muhammad SAW, belum ada syariat adzan, muadzin menyeru kaum Muslimin yang telah berada dalam Masjid dan sekitarnya untuk Shalat dengan mengucapkan: Ash-Shalatu jami’ah (Mari Shalat berjemaah)!  Kaum Muslimin pun segera berkumpul.  Jadi Masjid saat itu belum memiliki menara atau sejenisnya.

Mengenai waktu pelaksanaan Shalat Rasulullah hanya memberitahu teknik/caranya saja yaitu dengan banyangan tongkat dan warna di langit (cara ini sangat sederhana dan praktis, tak perlu ilmu yang tinggi). Walaupun sederhana dan praktis, tetap saja ada yang kurang pandai mengamati/mengira-ngira, sehingga terlambat sampai di Masjid untuk Shalat berjamaah, kendala pada bayangan tongkat adalah bila matahari tertutup awan.

Hal itulah yang membuat Rasulullah berpikir, bagaimana caranya mengumpulkan orang untuk melaksanakan Shalat berjamaah, tanpa setiap orang memperkirakan waktu Shalat, cukup diberi tahu oleh satu orang saja. Rasulullah mengumpulkan beberapa orang sahabat, guna mencari penyelesaian, secara praktis dan mudah memberitahu bahwa waktu Shalat telah tiba, sekaligus berkumpul guna melaksanakan Shalat berjamaah. Saat itu, kaum Muslimin mengusulkan berbagai cara/media, guna menyeru orang-orang untuk Shalat berjama’ah. Sebagian mengusulkan terompet, yang lain menyarankan api dan lonceng, semua usul ditolak Nabi. (Sejarah Adzan:  Ensiklopedia Islam).

Berdasarkan suatu riwayatkan, Abdullah bin Zaid menceritakan mimpinya yang mengandung lafaz-lafaz memanggil Shalat kepada Rasulullah SAW.  Nabi mengatakan kepada Abdullah bin Zaid, “Mimpimu itu adalah mimpi yang benar, insya Allah. Bangkitlah engkau bersama Bilal, sampaikan padanya apa yang kau dapatkan dalam mimpimu agar dia mengumandangkannya, karena dia lebih lantang suaranya darimu.” ( HR Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah, dan Tirmizi ).  Bilal adalah penguat suara alamiah keempat dari tatasuara Masjid, karena suara Bilal lantang .

Bilal pun menerima perintah Rasulullah.  Rasulullah menyuruh mencari tempat yang tinggi agar suaranya didengar umat Islam di Madinah.  [Tempat yang tinggi adalah konsep dasar tempat sumber suara dan penguat suara alamiah tatasuara Masjid]. Ketika Bilal mengumandangkan adzan, Umar bin Khathab mendengar seruan itu di rumahnya. Umar pun segera menemui Rasulullah.  Umar berkata, “Wahai Nabi Allah, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar, aku telah bermimpi seperti mimpi yang dialami Abdullah bin Zaid Al-Khazraji.”  Mendengar itu, rasulullah berkata, “Segala puji bagi Allah, hal itu lebih menguatkan.”  Lafaz memanggil Shalat itu sekarang terkenal dengan sebutan Adzan.  Kejadian hadits tersebut, di Madinah tahun pertama Hijriah atau 622 M.  Syariat adzan mulai diperintahkan pada tahun kedua (2) Hijriah, ketika arah kiblat dipindah ke Ka’bah.  Pada tahun kedua hijrah dasar-dasar tempat adzan diletakkan, yaitu diatas tempat yang tinggi. Tempat yang tinggi berkembang menjadi sebuah menara. Jelaslah menara tidak ada diawal Masjid Quba dibangun karena adzan disyari’atkan tahun kedua hijriyah. Jadi tahun ke dua hijrah adalah tahun konsep (gagasan) menara diletakkan, sampai sekarang menjadi pro-kontra.

Berkenaan dengan tempat mengumandangkan adzan. Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Urwah bin al-Zubair ra dari seorang wanita dari Bani Najjar, berkata, “Rumahku adalah rumah yang paling tinggi di antara rumah yang lain di sekitar Masjid dan Bilal mengumandangkan azan Subuh di atasnya sudah melihat fajar.” (HR Abu Dawud ). Rumah Bani Najjar (paling tinggi disekitar Masjid) adalah tempat sumber suara keempat

Riwayat lain adalah yang tertulis dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam 4: Pemikiran dan Peradaban.  Disebutkan bahwa; Dimasa Rasulullah SAW hidup, panggilan untuk Shalat dikumandangkan dari atap rumahnya di Madinah.  Diatas atap rumah Nabi adalah tempat sumber suara kelima.

Selain dirumah wanita Bani Najjar, Para ahli sejarah menyebutkan bahwa Bilal pernah adzan di atas tiang di rumah Abdullah bin Umar.  Bilal naik ke tangga ketujuh tiang itu. Dari atas tiang itu Adzan dikumandangkan sehingga bisa terdengar sampai jauh.  Konon, tiang itu masih berdiri hingga abad ke-10 Hijriyah. Adzan ditempat yang tinggi telah dimulai sejak adzan itu dijadikan sebagai pemanggil Shalat (di masa Nabi masih hidup). Inilah cikal bakal menara (bangunan yang tinggi). Bangunan yang terpisah dengan bangunan Masjid, hal ini dapat dilihat sekarang dibeberapa Masjid tua di Indonesia. Diatas tiang dirumah Abdullah bin Umar (tempat sumber suara keenam).

Pada saat dan sesudah Adzan dikumandangkan setiap waktu Shalat, orang datang (sudah berada) ke Masjid, setelah orang berada di Masjid diberitahu pelaksanaan Shalat dengan Qamat yang sebelumnya digunakan “Ash-Shalatu jami’ah (mari Shalat berjemaah).”  Kaum Muslimin pun segera berbaris dibelakang (Imam) pimpinan Shalat, berbaris lurus kekiri-kanan dan merapikan, yaitu dirapatkan dengan cara bersiggungan antara bahu dengan bahu.  Jadi sesudah “qamat” tak perlu lagi diucapkan “Ash-Shalatu jami’ah.

Masa Khalifah

Pada era kepemimpinan Khulafa ar-Rasyidin, papar Creswell, Masjid-Masjid yang dibangun belum dilengkapi dengan menara. Hanya saja ada semacam ruang kecil (serambi) di puncak teras Masjid sebagai tempat muadzin mengumandangkan adzan. Inilah yang menjadi dasar keberadaan menara berada di atas bangunan Masjid. Ini tentu adalah ijtihad Khalifah dan sahabat Nabi.  Serambi atau yang sejenisnya dapat dilihat dibeberapa Masjid tua di Indonesia. Tempat yang tinggi ini berubah menjadi menara dan berkembang (beragam) sesuai dengan ilmupengtahuan dan teknologi, ada yang dasarnya lingkaran, segi empat, segi enam, segidelapan dsbnya.  Jadi menara adalah bangunan (alat/teknologi) untuk mengumandangkan adzan.  ruang kecil (Serambi) diatas teras Masjid adalah tempat sumber suara ketujuh  tatasuara Masjid.

(5). Menara

Namun menurut Creswell, jejak menara di dunia Islam pertama kali ditemukan di Damaskus mulai tahun 673 M. ”Menara pertama kali berdiri di samping Masjid 41 tahun setelah Nabi Muhammad SAW tutup usia.”  Creswell menyatakan: keberadaan fisik menara seperti sekarang sesudah Nabi meninggal. Betul pendapat tersebut, bahwa bentuk menara seperti sekarang belum ada di awal Masjid dibuat. Walau bagaimanapun Nabi SAW, telah meletakkan dasar-dasar keberadaan menara, awalnya dirumah yang tinggi, berikut: di atas atap, di atas tiang dan berikutnya di masa Khalifah ruang kecil (serambi) dipuncak teras Masjid.

Menara adalah tempat sumber suara kesepuluh tatasuara Masjid.  Bila ditelusuri bentuk-bentuk Menara sejak awal sampai sekarang, sangat beragam dan mencengangkan teknologi konstuksinya. Masjid tidak memilik Menara diterapkan kembali oleh pengikut Wahabiyyah sesuai Masjid pada masa Nabi SWT.  Mereka melarang pembangunan menara dalam kompleks Masjid.

(6). Adzan Shalat Jum’at

Di masa Nabi

Adzan Jum’at dilakukan ketika Imam duduk di atas mimbar.

Masa Khalifah

Adzan Jum’at dilakukan ketika Imam duduk di atas mimbar.  Kemudian berkembang menjadi dua kali yaitu di az Zaura’.  Al Imam az Zuhri Rahimahullah berkata, “As Sa-ib bin Yazid meriwayatkan kepadaku: Sesungguhnya adzan pada hari Jum’at pada awalnya ketika Imam duduk di atas mimbar pada hari Jum’at, yaitu pada masa Rasulullah, Abu Bakar dan Umar. Pada masa khalifah Utsman -“ketika jumlah jama’ah semakin banyak”- Khalifah memerintahkan untuk mengumandangkan adzan ketiga pada hari Jum’at (yakni adzan tambahan).

Di masa Utsman memerintah, Utsman menyuruh mengumandangkan adzan dari atas az Zaura’ (az Zaura’ adalah sebuah rumah yang berada di dalam pasar), lalu hal itu terus berlangsung dan tidak ada seorang pun mencelanya. Mereka mengkritiknya ketika dia menyempurnakan Shalat di Mina” (HR. al Bukhari no. 916, Abu Dawud no. 1087, at Tirmidzi no. 516, an Nasai III/101 dan Ibnu Majah no. 1135).Al-Qurthubi mengatakan bahwa Utsman ra memerintahkan adzan dikumandangkan di suatu rumah yang disebut Zaura. Karena Khalifah memandang perlu dilakukan pemanggilan kaum muslimin sesaat sebelum Shalat atau khutbah Jumat dilaksanakan.

Bila dicermati pelasanaan Adzan, yaitu tempat tertinggi disekitar Masjid, tentu kurang terdengar dipasar, apalagi pasar jauh dari Masjid dan pasti pasar bising.  Adzan di az Zaura’ ijtihad khalifah, dengan kata lain itulah teknologi tatasuara alamiah yang digagas khalifah. Adzan di az Zaura’ adalah tempat sumber suara kedelapan dan penguat suara alamiah ketujuh tatasuara Masjid.

(7). Tempat Adzan Diawal Kedatangan Islam di Indonesia

Masjid di Indonesia dibangun diawal kedatangan Islam (disebut juga Masjid kuno).  Sebagian Masjid melakukan (tempat) Adzan di puncak atap atau di puncak tiang utama Masjid. Di serambi dipuncak atap Masjid atau di puncak tiang utama Masjid terdapat tempat yang datar. Serambi dipuncak gonjong adalah tempat sumber suara keduabelas tatasuara Masjid.  Tempat yang datar ditiang utama Masjid adalah tempat sumber suara ketigabelas tatasuara Masjid.  Serambi diatas mihrab adalah tempat sumber suara keempatbelas tatasuara Masjid.

Perkembangan bentuk-bentuk menara telah terjadi sampai sekarang, perubahan bentuk tersebut adalah ijtihad: para sahabat, para khalifah, pendiri (penggagas) Masjid dan arsitek.  Dulu muadzin adzan naik kepuncak menara, sekarang cukup loudspeaker(corong) saja diletakkan dipuncak menara, muadzin adzan mengarah kepala kekanan dan kekiri, sekarang ditempatkan dua loudspeaker pengganti mengarah kekiri-kekanan. 

Malahan ada yang menempatkan empat loudspeaker corong dipuncak menara, bahkan lebih.  Ini adalah penerapan ilmupengetahuan dan teknologi dilingkungan Masjid, yang kadang-kadang berlebihan ditinjau dari sisi tatasuara.

8). Penutup

Urutan perubahan cara mengajak/menyeru Shalat karena jama’ah bertambah adalah sebagai berikut: 1). Mengcapkan “Ash-Shalatu jami’ah (mari Shalat berjemaah)!” 2). Adzan, memberi arti banyak:  Penanda pemberitahuan masuk waktu Shalat; Mengajak Shalat berjama’ah di Masjid, 3). Adzan dilakukan ditempat yang tinggi, supaya jangkauwannya jauh4) Qamat, Memberitahu pelaksanaan Shalat berjamaah setelah jamaah berkumpul di Masjid.

Tempat yang tinggi adalah konsep dasar penguat suara dan tempat sumber suara, mengajak Shalat. Dari sinilah muncul ide menara dengan berbagai bentuknya, dimulai dari dirumah yang tinggi, ditiang, diatas teras Masjid sebagaimana tampak sekarang dll. Bentuk dan penempatan menara adalah ijtihad dari inisiator (penggagas), ahli konstruksi atau arsitek.

Tatasuara di masjid alamiah, dapat dirincikan atas dua, yaitu tempat dan penguat maka:

Tempat Sumber Suara  Alamiah (TSSA)

TSSA adalah tempat imam, khatib, penceramah dan adzan dikumandangkan.

1). Ditengah dihadapan dinding Qiblat,  2). Mimbar (meninggikan),  3). Abu Bakar berdiri dibelakang Nabi, 4). Dirumah Bani Najjar (bangunan paling tinggi disekitar Masjid), 5). Diatas atap rumah Nabi di Madinah, 6). Diatas tiang, dirumah Abdullah bin Umar, 7). Ruang kecil, diatas teras Masjid,  8). Az Zaura’, 9). Mihrab (dinding bentuk melengkung), 10). Menara, 11). Podium, 12). Serambi dipuncak gonjong, 13). Tempat yang datar di tiang utama Masjid, 14) Serambi diatas Mihrab.

Alat Penguat Suara Alamiah (APSA)

APSA adalah alat untuk menguatkan suara supaya terdengar lebih jauh.

1). Dinding Qiblat (pemantul datar),  2). Mimbar (Tempat yang Tinggi),  3). Suara Abu Bakar (mengeraskan suara Nabi saat sakit memimpin shalat),  4). Billal (suara lantang/nyaring),  5).Tabligh (mengulang suara imam),  6).Mihrab (pemantul melengkungan setengah lingkaran), 7). Az Zaura’ (tempat adzan pertama hari Jum’at dipasar).  

Alat Penguat Suara Elektronik (APSE)

Riwayat alat penguat suara elektronik Masjid ditinjau dari Mikrofon dan Loudspeaker

Mikrofon. 1). Satu mikrofon (berdiri) dan Tabligh, 2).  Tiga mikrofon (sujud, duduk dan rukuk dan berdiri), 3). Wireless dan 4). Mikrofon kondensor.

Loudspeker. 1). Louspeaker corong, 2). Loudspeaker kotak, 3). Loudspeaker kolom (array) dan 4), Gabungan Louspeaker: kotak, kolom dan corong.

Tulisan ini terkait langsung dengan  Riwayat ringkas Bagian-bagian Masjid: Dimasa Nabi, Sahabat, Khalifah dan sekarang.
https://lizenhs.wordpress.com/2014/07/07/riwayat-ringkas-bagian-bagian-bangunan-masjid-dimasa-nabi-sahabat-khalifah-dan-sekarang/

Daftar Pustaka

Brilly El-Rasheed.  “Hukum Tabligh dalam Shalat Berjama’ah” |© 1431 | www.thaybah.or.id

DMI (2007), DMI Siap Perbaiki 100 ribu Pengera Suara Masjidhttp://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/05/07/n56dwl-dmi-siap-perbaiki-100-ribu-pengeras-suara-Masjid

Hadist Shahih Muslim”. (1993) (cetakan ke tiga), Alih bahasa Ma’mur Daud.  Penerbit Widjaja Jakarta.

Hadist Shahih Bukhari”. (1992) (cetakan ke tiga belas), Alih bahasa Zainuddin Hamidy dkk. Penerbit Widjaja Jakarta.

Orfali. Wasim, (2008). “Sound Sense: in the first of a series Featur, offers an Introduction to the architectural defelopment and acoustics of Mosque”.  Workshop Audio Asia, Winter.

Sai-kwok, Wong and Wing-yin Ho (Winnie), (1986). “Auditorium Acoustic Design: Hong Kong Academy for Performing Arts”. Department of Architecture. University of Hong Kong.

Wanili. Khairuddin, (2010). “Ensiklopedi Masjid: Hukum, Adab dan Bid’ahnya.” [cetakan kedua] (Alih bahasa, Darwis).  Darus Sunnah Press. Jakarta Timur

Soegijanto RM, “Peduli Tata Suara Masjid”.  http://kliksosok.blogspot.com/2007/07/prof-dr-soegijanto-peduli-tata-suara.html

Beberapa pustaka tidak ditampilkan.  Terimakasih atas kunjungan Anda. Semoga bermanfaat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: