Posted by: lizenhs | July 28, 2014

Pemanfaatan Metode Statistika Pada Pengendalian Mutu

PEMANFAATAN METODE STATISTIKA PADA PENGENDALIAN MUTU

Oleh: Haslizen Hoesin

PENGANTAR

Orang banyak bertanya, bagaimana meningkatkan mutu produk (makanan, minuman, pakaian, industri, Agro industri dll.) dari kegiatan usaha yang sedang berjalan (dikelola) ?? Para pengusaha dalam menjalankan usaha perlu pula memahami metoda statistika untuk mengendalikan proses produksi agar diperoleh mutu produk yang baik. Kenapa demikian?? Jawaban pertanyaan itu: Secara garis besar terdapat dua. Langkah PERTAMA. Harus memahami ketidak sempurnaan manusia.   Langkah KEDUA. Mengurangi kerusakan pada kegiatan proses produksi. Berikut tentang  LANGAH-LANGKAH PERBAIKAN MENUJU PRODUK BERMUTU dan  PEMANFAATAN METODE STATISTIKA PADA PENGENDALIAN MUTU Penjelasannya ikuti paparan dibawah ini.

PENDAHULUAN

Sebagaimana disebutkan diatas bahwa terdapat beberapa langkah untuk meningkatkan mutu produk. PERTAMA, Harus memahami selengkapnya ketidak sempurnaan manusia.  KEDUA, Harus pula dimahami, bahwa pengetahuan yang ditangani sekarang tidak lebih dari dasar untuk hipotesis/hipotesa kegiatan selanjutnya.  Setelah memahami metoda berpikir demikian, digunakan untuk lebih mendalami/memahami kegiatan proses produksi, kemudian lakukan cara untuk memperbaiki mutu. Kenapa pada proses Produksi? Karena perbaikan terbaik itu dilakukan pada proses, bukan pada hasil.  

Apakah Hipotesis/hipotesa itu?? Hipotesis/hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Untuk pembuktian diperlukan data (yaitu hasil pengukuran).  Bila yang dibahas adalah perbaikan mutu produk menuju bermutu.  Ternyata Mutu itu, secara menyeluruh meliputi: Sistem, Manusia dan Manajemen.

Sistem

Apakah sistem itu?  Sistem adalah saling keterkaitan antar komponen sistem. Sebagai Sistem mutu, maka mutu itu adalah: kerangka kerja, konsistensi, ketentuan baku (standard) dan spesifikasi.  Maka disini yang saling terkait itu adalah kerangka kerja, konsistensi, ketentuan baku (standard) dan spesifikasi.

kerangka/ke•rang•ka/ menurut KBBI; n; garis besar; rancangan: pelukis itu menyempurnakan — lukisannya;  — acuan; 1 sistem dari prinsip dasar, konsep, atau nilai yang lazimnya merupakan ciri khas suatu kelompok atau kebudayaan; 2 Fis, sistem koordinat yang dipakai untuk menentukan letak benda atau sistem di dalam ruang dan waktu.

konsisten/kon•sis•ten/konsistén/ menurut KBBI; a: 1 tetap (tidak berubah-ubah); taat azaz; ajek: 2 selaras; sesuai: perbuatan hendaknya — dengan ucapan.

spesifikasi/spe•si•fi•ka•si/spésifikasi/ menurut KBBI; n 1 proses, cara, perbuatan melakukan pemilihan (perincian); 2 perincian (tentang rencana, proposal, dan   sebagainya).  Untuk memahami mutu lebih terperinci baca: Apakah Mutu dan Bermutu Itu? https://lizenhs.wordpress.com/2011/05/07/apakah-mutu-dan-bermutu-itu/.

Manusia

Manusia adalah pelaku proses, baik sebagai pemilik (manejer/manajemen) atau pun pekerja pada kegiatan usaha.  Manusialah penggerak usaha dan merupakan faktor produksi.

Manajemen

Mengenai manajemen, dalam pengendalian mutu, itu berkaitan dengan: Siklus PDCA (Plan, Do, Check dan Action); Gugus Kendali dan Kriteria Mutu.

Setelah mengenal sistem, manusia dan manajemen. Berikutnya lakukan LANGKAH-LANGKAH PERBAIKAN MENUJU PRODUK BERMUTU.  Apa saja langkah-langkah perbaikan itu? Ikuti paparan berikut.

Bila perbaikan terhadap kerusakan, dilakukan berdasarkan pengetahuan penyebab  “kerusakan (yang tidak benar). Usaha tersebut merupakan usaha sis-sia.  Kenapa sia-sia? Karena bersifat praduga. Kalau begitu apa yang harus dilakukan? Lakukanlah dengan mencari penyebab.  Bagaimana mencari penyebab? Ikuti langkah langkah berikut.

Langkah Pertama.  Menemukan penyebab “yang betul”.

Dalam menemukan penyebab “yang betul” dilakukan dengan pengamatan yang seksama terhadap fenomena/gejala.  Apakah Fenomena dan Gejala itu?

Fenomena/fe•no•me•na/fénoména/ menurut KBBI; n.  Hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah (seperti fenomena alam).  Pengertian lain Fenomena adalah rangkaian peristiwa serta bentuk keadaan yang dapat diamati dan dinilai lewat kaca mata ilmiah atau lewat disiplin ilmu tertentu. Fenomena terjadi di semua tempat dan yang bisa diamati oleh manusia.

Gejala

Gejala/ge•ja•la/ menurut KBBI; n. 1). Perihal (keadaan, peristiwa, dan sebagainya) yang tidak biasa dan patut diperhatikan (ada kalanya menandakan akan terjadi sesuatu); 2). Keadaan yang menjadi tanda-tanda akan timbul (terjadi, berjangkit) sesuatu; Contoh: — erosi pertanda yang menunjukkan akan terjadi tanah longsor. Gejala adalah tanda/ petunjuk terjadinya suatu masalah.

Setelah pengamatan yang seksama dilakukan terhadap gejala, maka penyebab akan muncul/ditemukan. Jadi fenomena dan gajala dapat diamati (dihitung dan/atau diukur)

Dihitung menghasilkan bilangan bulat: 1, 2, 3, …….. dst.  1 buah Papaya, 10 buah Mangga; yang tercela dll. Misal, sebuah papaya bisa dua atau lebih tercela (cacat) yaitu: 2 memar, 3 bintik bintik hitam dst. Dalam Statistika disebut data Atribut.

Diukur menghasilkan bilangan bulat atau pecahan: 5; 10; 100; 1.31;  10,1; …. dst. Didapat dengan alat ukur, misal: Panjang, Lebar dengan mistar: 5 cm; 10.25 cm; 1,30 cm; …. dst. Berat dengan timbangan: 5,10 gram; 12,5 kg, 10 grm ….. dst. Berikut dapat pula berbentuk ukuran-ukuran lain. Dalam Statistika disebut data Variabel.

Langkah KEDUA.   Mengurangi kerusakan pada kegiatan proses produksi.

Kegiatan mengurangi kerusakan pada kegiatan proses produksi, disebut juga mengen-dalikan penyebab kerusakan yang akan terjadi atau upaya menemukan penyebab.  Pekerjaan itu sebenarnya adalah mengurangi/meniadakan kerusakan pada proses produksi. Kegiatan itu disebut juga “Mengendalikan Mutu Produk.” Mengendalikan mutu produk terhadap kerusakan dapat dilakukan berbagai cara, dua diantara dari berbagai cara itu adalah: (1). Mencari langsung penyebab Dilakukan; (2). Menemukan penyebab saat akan dipasarkan (dijual).

(1). Mencari langsung penyebab, ini merupakan pendekatan lurus dan secara sepintas kelihatannya efisien”.  Tetapi dalam banyak hal, penyebab yang didapat dengan cara pendekatan tersebut, tidak benar.  Kenapa tidak benar? Penjelasannya sebagai mana paparan dibawah ini.

(2) Menemukan penyebab saat akan dipasarkan (dijual), satu dari beberapa caranya adalah mengambil yang rusak (cacat), cara ini juga tidak menyelesaikan masalah. Kenapa tidak menyelesaikan masalah? Penjelasannya sebagai mana paparan dibawah ini.

Dari kedua cara yang dikemukakan itu, sebenarnya yang harus dilakukan adalah mencari apa penyebab “kerusakan”.  Artinya “Kerusakan” dapat dihindari bila ditemukanpenyebab dan “penyebab itu dihilangkan/ditiadakan itulah “gagasannya.  Jadi penyebab itu dapat dimati (artinya dapat diukur atau dihitung).

Berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menemukan penyebab kerusakan.  Satu diantaranya dengan “intuisi pekerja”, cara “ini”,  sangat tergantung pada pengalaman dan keahlian. Untuk mendapatkan pengalaman dan keahlian, ternyata butuh waktu yang cukup lama.

Setelah “kerusakandiamati, ternyata kerusakan itubanyakdan bervariasi”, dengan kata lain penyebab itu banyak.  Temuan penyebab “kerusakan” (setelah dicatat) ternyata terdiri dari sejumlah faktor.   Kegiatan/pekerjaan menemukan sejumlah faktor itu disebut “diagnosis proses.

Sebagaimana disebutkan diatas, bahwa kerusakan itu “banyak,bervariasi” dan di ketahui pula “penyebab itu banyak”.  Temuan dari penyebab “kerusakan” (setelah dicatat) kemudian diamati ulang, ditemukanlah sejumlah faktorCatatan kerusakan yang banyak dan bervariasi itu disebut data” kerusakan.

Dari sekumpulan “data” kerusakan yang diperoleh, dicari yang dominan.  Cara untuk menemukan penyebab kerusakan yang dominan dari sekumpulan data disebut analisis statistik.  Alat untuk menemukan yang dominan adalah Diagram Pareto kemudian menemukan penyebab digunakan Diagram Sebab-akibat.

Jadi untuk mencari penyebab yang dominan dari sekumpulan data itu, “alat yang banyak di-gunakan orang saat ini adalah metode statistika [dua diantaranya dikenal dengan Pareto dan Sebab-akibat, selanjutnya disebut sebagai metode berfikir secara statisika].

Kenapa menggunakan metode berpikir secara statistika? Karena statistika dalam hal ini adalah sebagai alat (alat untuk berfikir).  Ini berarti mengarah kepada “keobyektifitas dan “ketelitian pengamatan.  Kalau begitu…… Apa Keuntungan Berpikir Secara Statisika?

Keuntungan Berpikir Secara Statistika adalah:

1.Memberitahu bahwa tingkat kepentingan yang tinggi terletak pada fakta dari pada konsep abstrak (baik, bagus, tak bagus/buruk dll); 2.Tidak mengekspresikan fakta dalam istilah rasa (perasaan) dan ide; 3.Gambaran/ekpresi keadaan, diturunkan dari hasil pengamatan spesifik; 4.Dari hasil pengamatan akan ditemukan secara bersama-sama tentang kesalahan dan variasi, yang merupakan bagian dari sesuatu yang tersembunyiMenemukan bagian yang tersembunyi itulah tujuan puncak (utama) dari pengamatan/ pengukuran; 5.Menemukan kecendrungan teratur yang muncul. Dalam sejumlah pengamatan/pengukuran, diperoleh/muncul kecendrungan yang teratur, itu adalah informasi yang Andal.  [Andal adalah dapat dipercaya atau memberikan hasil yang sama, pada uji atau percobaan yang dilakukan berulang]. Jadi “informasi yang andal” adalah informasi  yang dapat dipercaya atau memberikan hasil yang sama, pada uji atau percobaan yang dilakukan berulang

Berdasarkan paparan diatas, maka dibawah ini dikemukakan metode statistika yang terkait langsung dengan pengendalian mutu.  Tulisan ini adalah sebagai pengenalan awal tentang Metode Statistika Untuk Pengendalian Mutu.  Metode ini memberi tahu bahwa Statistika dapat digunakan dalam upaya memingkatkan mutu produk. Sebagai informasi saja kepada anda (pembaca) bahwa “Metode Statistika Untuk Pengendalian Mutu” telah digunakan di berbagai Negara.  Oleh karena itu sewajarnyalah para pembaca Manajemen Mutu Terpadu mengenal (selintas), tentang Metode Statistika Untuk Pengendalian Mutu, agar tidak canggung dan kaget bahwa Metoda Statistika telah digunakan dalam pengendalian mutu (pada proses produksi) sejak lama dan selanjutnya bila anda (pembaca) terniat untuk memperdalam. Bila anda telah mengenal Statistika, artinya proses produksi dapat dikendalikan dan berjalan tanpa terdapat yang rusak/buruk (tak bermutu) dan usaha terus berkembang, produk laris dipasar, biaya produksi rendah.

Berkenaan dengan Statistika, “berpikirlah” dengan tenang dan jangankecut” bila mendengar kata statistika dan jangan pula statistika  dijadikan sebagai “momok”atau “hantu” yang mengerikan dan menakutkan, ingat bahwa dia” (Metoda Statistika) adalah alat,  ya…… hanya “alat” untuk pengolah data, berbentuk rumus yang memiliki prosedur dan langkah-langkah tertentu (sudah baku), tak lebih dari ituIkuti prosedur dan langkah-langkah rumus tersebut, lakukan berulang kali sampai mahirBila telah mahir, berarti Anda bisa,hantu” akan hilang seketika.  Kenapa takut pada rumus-rumus statistika buatan/karangan manusia??  Sekarang kan ada kalkulator dan komputer sudah memuat rumus tersebut, tinggal anda mengoperasikan saja, yakinlah anda pasti bisa!!

Mudah-mudahan tulisan dibawah ini dapat membuka wawasan awal atau sebagai pengantar untuk memahami “alat pengolah data untuk mengendalikan proses produksi agar produk yang dihasilkan bermutu.  Dasar pengolahan data secara garis besar atau selintas dipaparkan pada tulisan berjudul: PEMANFAATAN METODE STATISTIKA PADA PENGENDALIAN MUTU.  Selamat membaca, semoga bermanfaat.

PEMANFAATAN METODE STATISTIKA PADA PENGENDALIAN MUTU

Oleh: Haslizen Hoesin

  1. PENDAHULUAN

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam Pengendalian Mutu secara Statistika, tentang data adalah: 1). Dalam setiap kerja ada penyebaran (dispersi) data. 2). Data tanpa penyebaran adalah palsu. 3). Tanpa analisis statistika (analisis mutu dan proses) tidak akan ada pengendalian yang efektif. 4). Kendali mutu dimulai dengan diagram Kendali dan berakhir dengan diagram Kendali. 5). Stratifikasi, tanpa stratifikasi tidak akan ada analisis maupun Kendali.

Sembilan puluh lima persen (95%) masalah mutu dalam perusahaan dapat diselesaikan dengan tujuh alat Kendali mutu.

Jadi metode statistika harus menjadi akal sehat atau pengetahuan bersama bagi semua insinyur dan teknisi dalam pengendalian mutu.

  1. TIGA KATEGORI DISUSUN MENURUT TINGKAT KESULITAN

Metode statistika dalam pelaksanaan pengendalian mutu, dibagi kedalam tiga kategori menurut tingkat kesulitan. Ishikawa mengatakan: “Satu dari tiga kategori tersebut harus dimiliki insinyur dan teknisi yaitu Metode Statistika Dasar”.

2.1.  METODE STATISTIKA DASAR (dikenal juga dengan sebutan “TUJUH ALAT”).

Menurut Ishikawa metoda statistika kendali mutu itu adalah:  1. Diagram Pareto,  2. Diagram Sebab-Akibat, 3. Stratifikasi,  4. Lembar Periksa, 5. Histogram,  6. Diagram Penyebaran, 7. Grafik Dan Diagram Pengendalian.

Metoda yang tercantum diatas tersebut, Ishikawa menyebut “tujuh alat”.  Tujuh alat itu sangat diperlukan dalam pengendali mutu dan digunakan oleh setiap orang dalam perusahaan, sepeti: direktur utama, direktur, manajemen madya, mandor dan pekerja lini :kata Ishikawa. Alat-alat itu juga digunakan dalam berbagai divisi, tidak hanya divisi pembuatan, tetapi juga pada devisi perencanaan, desain, pemasaran, pembelian dan teknologi.

Berdasarkan pengalaman Ishikawa (di Jepang), sebanyak 95% dari seluruh masalah di dalam perusahaan dapat dipecahkan dengan menggunakan alat-alat (tujuh alat) tersebut. Ketujuh alat yang tidak dapat diabaikan begitu saja, kadang-kadang dinamakan juga tujuh alat bengkel.

Jika seseorang tidak dilatih untuk menggunakan ketujuh alat elementer yang sederhana ini, ia (karyawan/pekerja pengendalain mutu) tidak akan dapat diharapkan menguasai metode-metode yang lebih sulit dalam pengendalian mutu.

“Di Jepang, pada kenyataannya manajemen puncak hingga pekerja lini, dapat menggunakan alat yang cukup penting ini. Tingkat pemanfaatannya barangkali paling baik di dunia.  Lebih dari 99.9 % orang Jepang lulus dari sekolah menengah, 92-93% lulus dari sekolah menengah tingkat atas, mereka tidak akan menemukan kesulitan dalam menggunakan alat-alat yang sederhana ini (tujuh alat)”: kata Ishikawa.

Selanjutnya Ishikawa Berkata:  “Bersamaan melatih para pekerja menggunakan alat Kendali (tujuh alat) ini, mereka juga dilatih dalam masalah-masalah dasar berikut ini”, yaitu: Konsep mutu; Prinsip dan pelaksanaan mengenai manajemen dan perbaikan; Cara berpikir  secara statistika. Lebih terperinci sebagai berikut: 1). Konsep mutu – yaitu: Menghargai konsumen, percaya pada fakta bahwa proses berikut-nya adalah pelanggan dan mereka merasa ada jaminan terhadap mutu. 2). Prinsip dan pelaksanaan mengenai manajemen dan perbaikan – yaitu: Gugus Kendali, siklus PDCA (Plan, Do, Check dan Action) dan kriteria Mutu (Kendali Mutu). 3). Cara berpikir  secara statistika – yaitu: Data mempunyai distribusi sendiri dan menyebar.

Dengan mengetahui ketiga hal tersebut, para pekerja tentu menggunakan data, untuk membuat suatu perkiraan statistik dan mengambil keputusan terhadap tindakan apa yang harus diambil atau merencanakan pengujian statistik yang sesuai dan sebagainya.

2.2. METODE STATISTIKA TINGKAT MENEGAH

Metode ini meliputi: 1). Teori sampling; 2). Statistik pemeriksaan sampling; 3).Berbagai metode membuat perkiraan dan pengujian statistik. 4). Metode penggunaan pengujian indera (sensory test). 5). Metode desain percobaan (experimental design method).

Metode-metode ini diajarkan kepada insinyur dan anggota-anggota divisi promosi kendali mutu.  Menurut Ishikawa metode-metode ini telah digunakan secara efektif di Jepang.

2.3 METODE STATISTIKA TINGKAT LANJUT (SEKALIGUS MENGGUNAKAN KOMPUTER).

Metode ini mencakup: 1). Metode Desain Percobaan tingkat lanjut. 2). Analisis Multivariat. 3). Berbagai Metode Riset Operasional (Operation Research – OR)

Hanya para insinyur dan teknisi dalam jumlah terbatas dididik mengenai metode statistik tingkat lanjut ini, yaitu untuk menangani analisis proses dan analisis mutu yang amat rumit.  Metode tingkat lanjut ini menjadi dasar dalam menetapkan teknologi tinggi dan juga bagi ekspor teknologi.

  1. MASALAH-MASALAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMANFAATAN METODE STATISTIKA

Ishikawa berkata: “Lebih dari 30 tahun sejak pertamakali mulai menggunakan metode statistika dalam Industri.  Selama periode itu telah ditemui sejumlah masalah”.

Dalam mempromosikan Kendali mutu statistika digunakan selogan “marilah berbicara dengan data” (“marilah memanfaatkan metode statistika”).

Walau telah diusahakan, masih ada saja masalah yang tidak terpecahkan.  Masalah-masalah itu adalah:

1). Data Palsu dan Data yang Tidak Konsisten dengan Fakta

Dua hal yang berbeda yaitu data dan fakta.  Pertama terjadi jika data diciptakan atau di revisi secara palsu.  Kedua terjadi jika data yang salah dihasilkan karena mengabaikan metode statistika.

Mengapa orang dengan sengaja membuat data palsu atau merevisi data?  Hal ini sering terjadi di perusahaan-perusahaan yang sentralisasinya tinggi dan yang manajemen puncaknya terbiasa memberikan perintah.  Data palsu dibuat jika orang-orang pada manaje men puncak tidak mempunyai pengertian tentang penyebaran (dispersi) dalam statistika.

2). Metode yang Jelek Mengenai Pengumpulan Data

Menurut  Ishikawa, Dia sering menemukan data yang diubah sehingga menyimpang.  Hal ini diakibatkan oleh kenyataan bahwa metode sampling, metode pendefisian dan metode analisis pengukuran yang tidak memadai.

Jika terdapat kesalahan dalam data, kita tidak dapat menentukan apakah tujuan perlindungan lingkungan dapat bebar-benar dicapai atau tidak.  Sayangnya peraturan-peraturan yang dikeluarkan pemerintah sering tidak memperhitungkan kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam mengumpulkan data statistik.

3). Nilai Abnormal

Data di masyarakat pada umumnya di industri sering data kotor, maksudnya mengandung nilai-nilai abnormal:  kata Ishikawa.  Ini disebabkan oleh masalah-masalah 1 dan 2 diatas.  Apakah data itu harus digunakan atau tidak?  Apakah data yang mengandung abnormal itu akan dipertahankan atau tidak.  Merupakan suatu persoalan yang harus ditentukan dengan mempertimbangkan, untuk apa data itu dan tindakan apa yang harus diambil berdasarkan data itu.

4). Penerapan Metode yang Salah

Orang-orang yang kurang pengalaman sering membuat kesalahan dalam menggunakan metode statistika.  Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengertian tentang teori statistika dan model-model struktur.  Untuk mengatasi masalah ini adalah carilah spesialis-spesialis yang berpengalaman untuk mengawasi tugas para pemula.

Berikut dibahas METODE STATISTIKA DASAR (dikenal dengan sebutan “TUJUH ALAT”). Tujuh alat ini minimal harus dikuasai/dimiliki oleh pekerja pada perusahaan untuk mengendalikan mutu produk pada proses produksi.

Tujuh alat Kendali mutu itu adalah:  1. Diagram Pareto,  2. Diagram Sebab-Akibat,    3. Stratifikasi,  4. Lembar Periksa, 5. Histogram,  6. Diagram Penyebaran, 7. Grafik Dan Diagram Pengendalian.

Penjelasan lebih terperinci sebagai berikut:

1). Diagram Pareto:  Prinsip Pareto terkenal dengan selogan “Prinsip vital few, trivial many” (sedikit yang penting, banyak yang sepele). Sering juka dikatakan Analisis Pareto, Analsis pareto menghitung penyebab masalah mutu. Dari perhitungan ini akan ditemukan apa penyebab terbesar yang menyebabkan masalah mutu.

2). Diagram sebab-akibat, [(Diagram ini bukan benar-benar statistik), disebut juga diagram tulang ikan (Fishbone Diagram) atau diagram pohon atau diagram sungai] digunakan untuk mengidentifikasi sebab].  Diagram ini menunjukkan hubungan antara karakteristik mutu dengan faktor.  Diagram Sebab-akibat menjelaskan hal-hal apa yang menjadi penyebab dari suatu dampak tertentu.

3).  Stratifikasi [mengidentifikasikan sumber variasi dari kumpulan data, mengiden-tifikasi data sesuai dengan bermacam-macam faktor], Stratifikasi merupakan teknik pengelompokan data kedalam kategori-kategori tertentu, agar data dapat menggam barkan permasalahan secara jelas, sehingga kesimpulan dapat lebih mudah diambil.

4)   Lembar periksa (Check sheet) [formulir berisikan item yang perlu diperiksa sehingga data dapat dikumpulkan dengan mudah dan singkat], Chek sheet merupakan suatu ceklist dalam bentuk matrik yang mengambarkan apa saja yang bisa menyebabkan masalah mutu.

5). Histogram [sebuah diagram, terdiri dari sumbu datar (horizontal) yaitu sumbu in-terval (kelas) dan sumbu tegak (verikal) yaitu sumbu frekuwensi]. Histogram adalah diagram batang mengenai masalah mutu. frekuensi dan pesentase terjadi masalah .

6). Diagram penyebaran disebut juga Scatter Diagram (Diagram Pencar). Diagram scatter memperlihatkan relasi dua variable untuk melihat pola masalah mutu. [analisis korelasi melalui penentuan median; dalam beberapa hal penggunaan kemungkinan binomial].

7). Grafik dan Diagram Pengendalian [diagram pengendalian Shewhart]. atau Statistical Process Control Chart (Peta Kendali).  Statistical Process Control Chart menampilkan data apakah berada diantara kendali (batas atas dan batas bawah). Jika data berada antara batas atas dan batas bawah, berarti pengendalian mutu berjalan dengan baik (terkendali).

Jika terdapat data berada diatas batas atas dan/atau dibawah batas bawah, berarti pengendalian mutu berjalan tidak baik (tidak terkendali).

Tujuh Alat Kendali” sangat diperlukan dalam pengendali mutu dan digunakan oleh setiap orang dalam perusahaan: Direktur Utama, Direktur, Manajemen Madya, Mandor dan Pekerja Lini.  Alat-alat itu juga digunakan dalam berbagai divisi, tidak hanya divisi pembuatan, tetapi juga pada devisi perencanaan, desain, pemasaran, pembelian dan teknologi.

Selain ketujuh alat tersebut, perlu juga dipahami Process Flowchart.  Process Flowchart akan mengambarkan tugas dan proses atau dalam bahasa Inggris adalah job dan operation. Terutama dipergunakan dalam pelaksanaan manajemen

Berdasarkan pengalaman Ishikawa (di Jepang), sebanyak 95% dari seluruh masalah di dalam perusahaan dapat dipecahkan dengan menggunakan tujuh alat tersebut. Ketujuh alat tersebut tidak dapat diabaikan begitu saja. Ketujuh alat kadang-kadang dinamakan juga “tujuh alat bengkel”.

Jika seseorang tidak dilatih untuk menggunakan ketujuh alat elementer yang sederhana ini (tujuh alat bengkel), ia tidak akan dapat diharapkan menguasai metode-metode yang lebih tinggi pada pengendalian mutu yang rumit.

Di Jepang, pada kenyataannya manajemen puncak hingga pekerja lini, dapat menggunakan alat yang cukup penting ini. Tingkat pemanfaatannya barangkali paling baik di dunia.  Lebih dari 99.9 % orang Jepang lulus dari sekolah menengah, 92-93% lulus dari sekolah menengah tingkat atas, mereka tidak akan menemukan kesulitan dalam menggunakan alat-alat yang sederhana ini (tujuh alat)”: kata Ishikawa.

Selanjutnya Ishikawa Berkata:  “Bersamaan melatih para pekerja menggunakan alat Kendali (tujuh alat) ini, mereka juga dilatih dalam masalah-masalah dasar sebagai berikut” yaitu: Konsep Mutu, Prinsip dan Pelaksanaan Mengenai Manajemen dan Perbaikan dan Cara Berpikir Menurut Statistika, penjelasan secara terperinci sebagai berikut:

1). Konsep mutu – menghargai konsumen, percaya pada fakta bahwa proses berikutnya adalah pelanggan dan mereka merasa ada jaminan terhadap mutu.

2). Prinsip dan pelaksanaan mengenai manajemen dan perbaikan – gugus Kendali, siklus PDCA (Plan, Do, Check dan Action) dan kriteria Kendali mutu.

3). Cara berpikir menurut statistika – Data mempunyai distribusi sendiri dan menyebar.

Dengan mengetahui ketiga hal tersebut, para pekerja dapat menggunakan data untuk membuat suatu perkiraan statistik dan mengambil keputusan terhadap tindakan apa yang harus diambil atau merencanakan pengujian statistik yang sesuai dan sebagainya.

  1. ANALISIS STATISTIKA

Dalam industri, metode statistika adalah metode yang paling sering digunakan sebagai alat untuk analisis.  Dalam analisis terdapat dua kategori.  Pertama adalah analisis mutuKedua adalah analisis proses.

1). Analisis mutu

Analisis mutu adalah analisis dengan bantuan data dan metode statistika, untuk menentukan hubungan antara karakteristik mutu sebenarnya dan karakteristik mutu pengganti.

Analisis mutu diantaranya adalah Diagram Pareto; Diagram Fishbone (“Tulang Ikan”)

DIAGRAM PARETO

Diagram Pareto adalah sebuah diagram dengan dua sumbu tegak (vertikal) [(tentang  jumlah dan persentase) tercela/cacat] dan satu sumbu datar (horizontal) [tentang kate-gori tercela/cacat].  Berikut dikemukakan Prinsip Diagram Pareto dan Fungsi Diagram Pareto

Prinsip Diagram Pareto

Prinsip Diagram Pareto terkenal dengan selogan “Prinsip vital few, trivial many” (sedikit yang penting, banyak yang sepele) [Diagram Pareto adalah sebuah diagram dengan dua sumbu tegak (vertikal) dan satu sumbu datar (horizontal)].  Prinsip Pareto (bahasa Inggris: The Pareto principle). Dikenal juga “aturan 80 – 20” yang menyatakan bahwa untuk banyak kejadian, sekitar 80% akibat/efek, disebabkan oleh 20% penyebab. Prinsip ini diajukan oleh pemikir Manajemen Bisnis Joseph M. Juran, menamakannya berdasarkan ekonom Italia Vilfredo Pareto (15 July 1848 – 19 August 1923), pada 1906 mengamati bahwa 80% dari pendapatan di Italia dimiliki oleh 20% dari jumlah populasi.

Fungsi Diagram Pareto 

Fungsi dari Diagram Pareto adalah untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi tipe-tipe/jenis-jenis Non Conformance.  [Non Conformance (Ketidaksesuaian) adalah tidak terpenuhi suatu persyaratan atau ketentuan-ketentuan lain yang telah ditetapkan].  Fungsi-fungsi DiagramPareto lebih terperinci adalah sebagai berikut:

Pada dasarnya fungsi diagram Pareto adalah sebagai alat interpretasi sebagai untuk:

  1. Untuk Menentukan Frekuensi Relatif Dan Urutan Pentingnya masalah-masalah atau penyebab-penyebab dari masalah yang ada.
  2. Untuk Memfokuskan Perhatian Pada Isu-isu Kritis Dan Penting melalui ranking terhadap masalah-masalah atau penyebab-penyebab dari masalah itu dalam bentuk yang sangat berarti (signifikan).

[Apakah yang dimaksud dengan Isu? (Menurut Barry Jones & Chase. isu adalah sebuah masalah yang belum terpecahkan yang siap diambil keputusannya. Isu merepresenta-sikan suatu kesenjangan antara praktek korporat dengan harapan-harapan para stakeholder.)  [Pengertian lain tentang IsuIsu (bahasa inggris: Issue).  Issue (isu) berarti, persoalan, terbitan, pengeluaran, nomor, pemberian.  Isu adalah suatu peristiwa atau kejadian yang dapat diperkirakan terjadi atau tidak terjadi pada masa mendatang, yang menyangkut ekonomi, moneter, sosial, politik, hukum, pembangunan nasi- onal, bencana alam, ataupun tentang krisis. Isu juga sering disebut rumor, kabar burung dan gosipContoh Isu, misal mengenai artis, baru-baru ini sering berita Isu perceraian suatu keluarga artis. Sebelum terbukti atau sebelum benar-benar bercerai maka hal itu nama nya Isu.]

Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa diagram Pareto adalah suatu metode untuk mengidentifikasikan hal-hal atau kejadian-kejadian penting.

Bila diterperincikan ternyata diagram Pareto terdiri dari dua jenis, yaitu: 1). Diagram Pareto mengenai Fenomena dan 2). Diagram Pareto mengenai Penyebab.

1). Digram Pareto mengenai fenomena.

Diagram ini berkaitan dengan hasil-hasil yang tidak diinginkan dan untuk mengetahui masalah utama yang ada.

Contoh fenomena:

  1. Mutu: kerusakan, keluhan, kegagalan, item-item yang dikembalikan, perbaikan, dan lain-lain; 2. Biaya: jumlah kerugian, ongkos pengeluaran, dan lain-lain; 3. Penyerahan (delivery): penundaan penyerahan, keterlambatan pembayaran, kekurangan stok, dan lain-lain. 4. Keamanan: kecelakaan, kesalahan, gangguan, dan lain-lain
  2. )  Diagram Pareto mengenai penyebab.

Diagram ini berkaitan dengan penyebab dalam proses dan dipergunakan untuk mengetahui penyebab utama dari masalah yang ada. Contoh penyebab Dalam Proses yaitu: Operator, Mesin, Bahan Baku dan Metode operasi.

  1. Operator: umur, pengalaman, ketrampilan, sifat individual, pergantian kerja (shift), dan lain-lain; 2. Mesin: peralatan, mesin instrumen, dan lain-lain; 3. Bahan baku: pembuatan bahan baku, jenis bahan baku, pabrik bahan baku, dan lain-lain; 4. Metode operasi: kondisi operasi, metode kerja, sistem pengaturan dan lain-lain.

Diagram Pareto adalah diagram untuk pemecahan masalah, perhatikan sebagai berikut:

Diagram Pareto digunakan untuk melakukan prioritas terhadap masalah-masalah yang harus ditangani dengan aturan pengelompokan 80-20, 20% dari tercela (kecacatan) akan menyebabkan 80% masalah.

2). Analisis Proses

Analisis proses adalah analisis yang menjelaskan hubungan antara faktor-faktor penyebab dalam proses dan pengaruhnya terhadap:  mutu, biaya, produktivitas dan sebagainya. Pengendalian proses yang dilakukan adalah mencoba menemukan faktor-faktor penyebab yang menghalangi kelancaran fungsi proses pembuatan.  Oleh karena itu diperlukan kerja keras untuk dapat menemukan teknologi yang dapat digunakan dalam pengendalian pencegahan.  Pada analisis ini diperlukan diagram Proses

Harus diingat bahwa Mutu, Biaya dan Produktivitas adalah akibat atau hasil dari pengendalian proses.  Sembilan puluh lima persen dari analisis proses dapat dilaksanakan melalui pemakaian ke-tujuh alat  pengendalian mutu.  Akan tetapi dalam proses yang rumit diperlukan teknik yang lebih maju yaitu pemanfaatan computer, ini merupakan keharusan.

Apa yang dimaksud dengan faktor penyebabFaktor penyebab secara praktis diperlihatkan dalam Diagram Fishbone (Tulang Ikan).

Diagram Fishbone (Tulang Ikan) 

Diagram Fishbone mengidentifikasi berbagai sebab potensial dari satu efek atau masalah dan menganalisis masalah tersebut melalui sesi brainstorming. Masalah akan dipecah menjadi sejumlah kategori yang berkaitan, mencakup: Manusia, Material, Mesin, Prosedur, Kebijakan dan sebagainya.  Setiap kategori mempunyai sebab-sebab yang perlu diuraikan melalui sesi brainstorming.

Jadi diagram Fishbone digunakan ketika ingin mengidentifikasi kemungkinan penyebab masalah dan terutama ketika sebuah team cenderung jatuh pada berpikir rutinitas.

Suatu tindakan dan langkah perbaikan/penyempurnaan (improvement) akan lebih mudah dilakukan jika masalah dan akar penyebab masalah sudah ditemukan. Jelaslah sekarang bahwa manfaat diagram fishbone dapat menolong untuk menemukan akar penyebab masalah secara mudah [peralatan yang mudah digunakan dan disukai orang-orang di industri manufaktur pada suatu proses, di sana terkenal memiliki banyak ragam variabel yang berpotensi menyebabkan munculnya permasalahan].

Faktor penyebab dalam industri manufaktur diantaranya adalah Machine (mesin atau teknologi), Method (metode atau proses), Material (termasuk raw material, consumption dan informasi), Man Power (tenaga kerja atau pekerjaan fisik) dll.

Jelaslah bahwa untuk analisis sebab digunakan diagram tulang ikan.  Secara visual di-agram fishbone seperti “tulang ikan”.  Diagram tulang ikan terdiri dari garis horizontal (datar) utama, dari garis horizontal dibuat garis diagonal yang menjadi “cabang”.  Seti-ap cabang mewakili “sebab utama” dari beberapa masalah yang ditulis.  Jadi dari “sebab” inilah diinterpretasikan permasalahan (mutu).

Faktor penyebab utama secara lebih terperinci dapat dikenali yaitu dengan mengorga-nisasikan sebab, sedemikian rupa sehingga masuk akal dengan situasi, hal ini sering dinyatakan dalam bentuk kategori.  Dari sekian banyak kategori, Kategori yang  dikenal diantaranya: Kategori 6M; Kategori 8P dan Kategori 5S.

Kategori 6M yang biasa digunakan dalam industri manufaktur:

1). Machine (mesin atau teknologi), 2). Method (metode atau proses), 3). Material (termasuk raw material, consumption, dan informasi), 4). Man Power (tenaga  kerja atau pekerjaan fisik)/Mind Power (pekerjaan pikiran: Kaizen, Saran dan sebagainya), 5). Measurement (pengukuran atau inspeksi) dan 6). Milieu/Mother Nature (lingkungan).

Kategori ini yang sering digunakan sampai nomor urut 4

Kategori 8P yang biasa digunakan dalam industri jasa:

1). Product (produk/jasa), 2). Price (harga), 3). Place (tempat), 4). Promotion (promosi atau hiburan), 5). People (orang), 6). Process (proses), 7). Physical Evidence (bukti fisik), dan 8). Productivity & Quality (produktivitas dan mutu).

Kategori 5S yang biasa digunakan dalam industri jasa:

1). Surroundings (lingkungan), 2). Suppliers (pemasok), 3). Systems (sistem), 4). Skills (keterampilan), dan 5).Safety (keselamatan).

Analisis Sebab-akibat dipergunakan:  1). Untuk mengenal sebab yang penting; 2).    Untuk memahami semua akibat dan penyebab; 3). Untuk membandingkan prosedur kerja; 4). Untuk menemukan pemecahan yang tepat; 5). Untuk memecahkan hal apa yang harus dilakukan; 6). Untuk mengembangkan proses.

Kategori sering juga disebut faktor penyebab, umumnya dalam manufaktur digunakan 4 sampai 6.  Bila 4 (empat) yang dipakai yaitu: Method [metode atau proses]; Machine [mesin/peralatan]; Material [termasuk raw material]; Man Power [karakteristik tenaga kerja atau pekerjaan fisik].  Bila 5 (lima) kategori yaitu: Method [metode atau proses]; Machine [mesin/peralatan]; Material [termasuk raw material]; Man Power [karakteristik tenaga kerja atau pekerjaan fisik] dan Lingkungan [lingkungan tempat kerja, suasana kerja, pencahayaan, udara (suhu), kebisingan,  dll].

  1. PENGENDALIAN SECARA STATISTIKA

Dalam berbagai macam tindakan pengendalian seperti siklus PDCA (Plan, Do, Check dan Action), timbul satu masalah yaitu: Bagaimana memeriksa hasil yang baik. Bila segala sesuatu berjalan dengan baik.  Pemeriksaan, sesungguhnya tidak diperlukan.  Namun, jika terjadi hal yang tidak biasa, tanpa pengecualian, semua tindakan pengendalian harus dilakukan (diperiksa).  Kenapa?? Karena hasil pemeriksaan untuk memberikan dasar bagi pengambil keputusan.

Harus diingat bahwa sebab-sebab yang mempengaruhi proses pembuatan suatu produk dan semua jenis pekerjaan (yang membentuk suatu proses) tidak terbatas.  Artinya hasil dari semua jenis pekerjaan akan berbentuk sebaran.  Dengan kata lain akan selalu ada distribusi statistik.  Oleh karena itu, pemeriksa harus berpedoman pada konsep distribusi (sering disebut Distribusi Frekuensi).  Apa yang dimaksud Distribusi FrekuensiDistribusi frekuensi adalah daftar nilai data (bisa nilai individual atau yang sudah di-kelompok-kan kedalam selang interval tertentu) disertai dengan nilai frekuensi yang sesuai.

Peng-kelompok-kan data kedalam beberapa kelas dimaksudkan agar ciri-ciri penting data dapat segera terlihat. Daftar frekuensi ini akan memberikan gambaran yang khas tentang bagaimana keragaman data. Sifat keragaman data sangat penting untuk diketahui, karena dalam pengujian-pengujian statistik selanjutnya harus selalu diperhatikan sifat dari keragaman data. Tanpa memperhatikan sifat keragaman data, penarikan kesimpulan pada umumnya tidaklah sah [atau sering tidak memberikan gambaran keadaan nyata (lapangan)].

Alat kendali ke tujuh adalah berbentuk Grafik dan diagram pengendalian [diagram pengendalian Shewhart].

Alat kendali yang paling mudah untuk tujuan pengendalian mutu pada proses adalah Grafik sering juga disebut diagram pengendalian [diagram pengendalian Shewhart]. Atau diagram Kendali Sigma yang ditemukan Dr. W. A. Shewhart.  Di Jepang cara ini digunakan secara luas dalam pengendalian mutu (statistika).

Alat atau Diagram Kendali Shewhart yang sering digunakan dalam “Pengendalian Secara Statistika” adalah: 1). diagram Kendali X-R; 2). diagram Kendali X-s; 3). diagram Kendali p; 4). diagram Kendali np; 5). diagram Kendali c dan 6). diagram Kendali u.  Peta/Peta kendali itu sering pula disebut Control Chart

Tentu saja, diagram-diagram Kendali itu dapat diperbaiki, walau bagaimanapun penggunaan ke 6 (enam) diagram Kendali Shewhart, telah cukup banyak memberikan keuntungan dalam peningkatan mutu produk (industri).

Pengertian Control Chart (Peta Kendali)

Pengertian dari Control Chart (Peta Kendali) – Control chart atau Peta Kendali merupakan satu dari alat QC yaitu QC 7 tools (tujuh alat pengendalian Mutu) yang berbentuk grafik dan di pergunakan untuk memonitor atau memantau stabilitas dari suatu proses serta mempelajari perubahan proses dari waktu ke waktu.

Garis-garis pada Control Chart (Peta Kendali)

Control Chart (Peta Kendali) memiliki beberapa yaitu Upper Line (garis atas) line (garis bawah)  dan  Central Line (garis tengah).   Dalam bentuk kata lain adalah Upper Control Limit (Batas Kendali atas), Lower Lower control limit (Batas control terendah) dan Central Line (garis tengah) untuk Rata-rata (Average). Pada peta kendali diletakkan sejumlah titik-titik kelompok (group) pengukuranTitik-titik tersebut adalah yang mewakili kelompok (group) pengukuran.  Artinya satu titik adalah wakil satu kelompok pengukuran.

Data yang berupa titik-titik itu kemudian dihubungkan dengan garis lurus yang patah-patah memperlihatkan sebuah grafik.

Kapan digunakan Control Chart?

1). Saat ingin mengendalikan proses yang sedang berlangsung dengan menemukan dan memperbaiki masalah yang terjadi; 2). Saat ingin memprediksi atau mendapatkan kisaran (range) dari hasil suatu proses; 3). Saat ingin mengetahui apakah proses yang dipelajari, apakah stabil diamati dengan Statistict control atau Kendali Statistika); 4). Saat ingin menganalisis pola variasi proses apakah dari penyebab khusus (penyebab yang tidak sering terjadi atau tidak rutin terjadi) atau penyebab umum yang sering terjadi diproses. 5). Saat ingin menentukan apakah proyek peningkatan mutu harus membidik kepada pencegahan pada masalah tertentu atau harus melakukan perubahan yang mendasar pada proses.

Tujuan utama dari penggunaan Control Chart adalah:

1). Untuk mengendalikan proses produksi sehingga dapat menghasilkan mutu yang unggul dengan cara mendeteksi penyebab variasi yang tidak alami (Penyebab Spesial, Penyebab yang tidak Natural) atau disebut dengan process shift (terjadinya penggeseran proses) serta 2). Untuk mengurangi variasi yang terdapat dalam proses sehingga menghasilkan proses yang stabil. Yang dimaksud dengan Proses Stabil adalah proses yang memiliki Distribusi Normal yang sama pada setiap saat. Perlu diketahui, bahwa proses stabil dimaksud tetap memiliki variasi, tetapi variasinya sangat kecil dan dapat dikendalikan.

Diagram Peta Kendali dibahas lebih terperinci pada PENGENDALIAN MUTU STATISTIKA

  1. METODE STATISTIKA DAN KEMAJUAN TEKNOLOGI

Penggunaan metode statistika, termasuk metode yang paling canggih, telah berakar kuat di Jepang.  Akan tetapi, tidak boleh dilupakan ketujuh alat yang sederhana ituArtinya, jika seseorang belum menguasai ketujuh alat itu, maka dia tidak dapat diharap kan menggunakan alat-alat yang lebih canggih.  “Mengurangi kerusakan-kerusakan, memperbaiki proses produksi dan peningkatan produktivitas tidak dapat dipisahkan dari penggunaan metode statistika”: kata Kume.  “Melalui penerapan metode statistikalah tingkat mutu bertambah tinggi, keandalan meningkat dan biaya turun”: kata Ishikawa.  Selanjutnya Ishikawa berkata:  “Kunci keberhasilan adalah ketekunan dalam menggunakan analisis proses dan analisis mutu tanpa gembar-gembor dalam jangka waktu lama. Hal itu telah menghasilkan perbaikan teknologi”.

Beberapa orang lain berpendapat bahwa teknologi rekayasa meningkatkan teknologi dan teknologi manajemen memeliharanya.  Ishikawa tidak menganut pendapat tersebut.  Ishikawa tidak dapat melihat perbedaan antara teknologi rekayasa dengan teknologi manajemen.

Yang disebut teknik pengendalian merupakan bagian dari teknik yang benar (proses technique).  Semua teknologi yang ada harus dimanfaatkan untuk berusaha menuju peningkatan mutu dan efisiensi. Ishikawa mengatakan:  “Sesudah perang dunia II Jepang banyak mengimpor teknologi baru dari Barat.  Sekarang ini Jepang dapat mengekspor teknologinya ke barat”.

Dalam skala besar, hal ini merupakan hasil penerapan Kendali mutu statistika dan penggunaan: Analisis statistika, Analisis proses dan Analisis mutu.

Lebih dari dua puluh tahun lalu, Ishikawa menulis:  “Kami mencari hal-hal berikut bagi gerakan Kendali mutu yang baru.  Kami mengharapkan dapat memproduksi produk-produk yang baik dan murah dalam jumlah yang besar untuk diekspor dan melalui pencapaian tujuan itu memperkuat pondasi ekonomi Jepang, memantapkan teknologi industri dan menciptakan pelu-ang untuk mengekspor teknologi. Bila ekonomi nasional telah mempunyai pondasi yang kuat, dapat diharapkan perusahaan swasta membagi kesejahteraannya kepada tiga golongan yaitu para konsumen, para pekerja dan para pemodal.  Bagi negara secara keseluruhan, adalah mencari peningkatan standar hidup secara terus-menerus”.  Ternyata sedikit demi sedikit tujuan itu terwujud.

Tentu saja masih banyak masalah yang belum terpecahkan dan selalu ada kesempatan bagi perbaikan terutama mengenai penggunaan metode statistika.

Jika metode statistika dapat menemukan jalannya ke bidang-bidang lain selain industri, barangkali Negara secara keseluruhan akan menjadi baik.

  1. PENUTUP

Bila Indonesia bila ingin kuat, berarti menguatkan perekonomian rakyat dan itu artinya mengurangi pengangguran.  Jadilah Indonesia Negara produsen baik manufaktur maupun pertainan/perikanan/peternakan/kehutanan [artinya olah dulu (sendiri), mutu dikendalikan, ini akan meningkatkan pendapatan, ketimbang mengirim bahan  mentah].  Jadi bukan sebagai negara pembeli (konsumen).  Bila negara konsemen maka Indonesia akan jadi tempat memasarkan produk Negara penghasil (produsen), maka akan dikendalikan oleh negara produsen (penghasil).  Tak apa-apa diawal mutu produk olahan sendiri rendah (memang demikian diawalnya), secara bertahap ditingkatkan melalui pengalaman, pelatihan dan pendidikan.  Perhatikan Jepang, produk mereka dulu juga buruk, karena dibuat sendiri bisa dilakukan perbaikan, artinya ilmu dan pengalaman milik Jepang. Jadilah Indonesia Negara penghasil (produsen atau memproduksi). Itu semua tergantung pada keinginan dan niat DPR dan kebijakan pemerintah.  Apakah anda (DPR dan pemerintah) ingin Indonesia Negara produsen atau konsumen?  Ayo pengusaha: Pemerintah, Swasta, Industri Kecil dan Menengah, anda bergabunglah dalam suatu sistem, artinya sebagian penduduk digalakkan berwirausaha (produsen), bukan sebagai memproduksi sendiri-sendiri, sebagian lagi wirausaha penjual (perantara).  Produsen, penjual dan konsumen bergabung dalam suatu organisasi yang saling menguntungkan (dalam suatu sistem).

Bila anda bergerak di bidang pertanian, perkebunan, peternakan dan nelayan.  Jadilah anda pengusaha, bila petani jadilah pengusaha tani [kata pengusaha adalah julukan yang diberikan Amran Nur (Walikota Sawahlunto) kepada para petani Sawahlunto].  Bila jadi Pengusaha mereka harus memahami mutu produk, bukan petani tradisionl atau nelayan tradisional yang dikendalikan tengkulak atau petani/nelayan berdasi, bukan pula sebagai petani penggarap ditanah sendiri atau petani ijon.  Ayo para petani (ayo para nelayan) lakukan peningkatan mutu produk anda dengan cara bertani/ nelayan yang baik, misal lakukan grading.  Para nelayan jangan jual ikan anda selagi ditengah laut.

Ayo para konsumen Indonesia gunakanlah/pakailah produk hasil kerja (usaha) penduduk Indonesia dengan kata lain (siapa tahu itukan sahabat anda sendiri), berarti anda mengurangi pengangguran.  Mereka (produsen itu) mungkin: Anak anda sendiri, Anak-anak keluarga dekat anda, Sahabat anda atau karib kerabat anda, bila mutu produk mereka kurang memuaskan anda,  jangan berpikir pindah keproduk luar, dengan kata lain membeli produk luar, bersama-samalah menasehati mereka (produsen) melalui latihan, pendidikan dan pengalaman, supaya mutu produksi mereka menjadi baik/meningkat [sesuai dengan (mutu) keinginan anda atau mutu internasional] dan itu semua adalah milik Indonesia [baik produsen, produk, ilmu, maupun pengalaman untuk meningkatkan/menambah nilai produks].

Disinilah diuji rasa kebersamaan memajukan bangsa dan rasa bangga akan usaha (produksi) dalam negeri sebagai orang Indonesia.  Bila diolah dalam negeri, berarti menyerap tenaga kerja dan memanfaatkan sumberdaya manusia sendiri [anak-anak anda, sahabat anda, karib kerabat anda dan didalam bumi sendiri untuk Indonesia Jaya].  Bila menggunakan tenaga mancanegara (luar) mereka bekerja (digaji) oleh perusahaan Indonesia dan ilmunya bukan dimiliki perusahaan Indonesia. Seharusnya gaji untuk penduduk Indonesia, ilmu dan pengalamanpun milik Indonesia.  Orang-orang Indonesia kan banyak yang pintar-pintar. Percayakah anda itu?? Bisakah ini dilakukan?  Tentu saja bisa. Asal dengan niat yang tulus  dan kemauan perusahaan.

  1. Daftar pustaka

Banks. Jerry (1989). “Principles of Quality Control.” John Willey & Sons. Singapore.

Feigenboum, Armand V. (1986).  “Total Quality Control.”  (Third Edition).  Mc Grawhill Book Company. Singapore.

Hoesin, Haslizen (1989). “Petunjuk Praktikum Statistika I (Statistika Parametrik).”  Laboratori-um Statistika IKOPIN. Penerbit  IKOPIN, Jatinangor.

Hoesin. Haslizen (1994). “Petunjuk Praktikum Pengendalian Mutu”.  Laboratorium Manajemen Produksi.  Fakultas Manajemen Produksi dan Pemasaran.  IKOPIN. Jatinangor.

Hoesin. Haslizen (Tanpa Tahun).  “Petunjuk Praktikum Pengendalian Mutu”.  Laboratorium Manajemen Mutu.  Fakultas Teknik. Universitas ARS Internasional. Bandung

Hoesin Haslizen (Tanpa Tahun).  “Petunjuk Tugas Manajemen Mutu”.  Fakultas Ekonomi. Universitas ARS Internasional. Bandung

Ishikawa. Kauro dan Lu. David J (1989). “Pengendalian Mutu Terpadu.”  (alih bahasa H.W. Budi Santoso).  Remadja Karya. Bandung.

Kume. Hitoshi (1989). “Metode Statisik Untuk Peningkatan Mutu.”  (alih bahasa Ir. Cornel Naibaho dan Ir. Nawolo Widodo). Mediyatama Srana Perkasa. Jakarta.

Beberapa pustaka lain tidak ditampilkan

Terima Kasih atas Kunjungan anda.  Bila anda suka beritahu yang lain.  Semoga bermanfaat dan diamalkan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: