Posted by: lizenhs | July 7, 2014

Riwayat Ringkas Bagian-bagian Bangunan Masjid: Dimasa Nabi, Sahabat, Khalifah dan Sekarang

Riwayat Ringkas Bagian-bagian Bangunan Masjid: Dimasa Nabi, Sahabat, Khalifah dan Sekarang
Oleh: Haslizen Hoesin

PENGANTAR

Dari pengamatan penulis, bahwa: buku-buku yang banyak ditemui mengenai Masjid adalah arsitektur Masjid, yaitu tulisan beranjak dari fungsi-fungsi fisik [interior (dalam) dan eksterior (luar)] ke keindahan dan kemewahan.  [Sebelum melanjutkan membaca, sebaiknya baca terlebih dahulu; MASJID: TEKNOLOGI/TEKNIK, AKUSTIK dan TATASUARA, https://lizenhs.wordpress.com/2014/07/05/masjid-teknologi-teknik-akustik-dan-tatasuara/ sebagai pembuka wawasan, selamat membaca.]

Kadang-kadang arsitektur Masjid lebih menonjolkan keindahan dan kemewahan, bahkan ada yang berpendapat perbuatan itu berlebihan atau mubazir. Memang  keindahan diperlukan, tapi bukan kemewahan.  Bila tidak berlebihan tentu akan membantu menghemat bahan bangunan, biaya pembangunan dan biaya energi. Oleh karena itu muncul beberapa pendapat bahwa bila fungsi interior dan eksterior Masjid dikembangkan kearah fungsi utamanya tanpa mengurangi keindahan, maka tentu akan membantu menghemat bahan bangunan, biaya pembangunan, pemakaian energi (biaya listrik yang ditanggung pengelola selama bangunan itu dipakai) dan biaya pemeliharaan, yang utama dari bangunan Masjid adalah kenyamanan melaksanakan ibadah.  Benarlah pendapat sebagian orang bahwa perbuatan itu berlebihan dan/atau mubazir.  Menanggapi pendapat mengenai hemat energi di Masjid, baik juga dibaca: “Masjid: Fisika Bangunan, Hemat Energi dan Tanpa Percikan Air” https://lizenhs.wordpress.com/2012/01/07/masjid-fisika-bangunan-hemat-energi-dan-tanpa-percikan-air/  dan “Fisika Bangunan: Tata Udara Alami, Tata Cahaya Alami dan Tata Suara Alami” https://lizenhs.wordpress.com/2013/06/30/fisika-bangunan-tata-udara-alami-tata-cahaya-alami-dan-tata-suara-alami/  .

Terdapat pula sebagian orang berpendapat bahwa bila berada di Masjid:  Sebaiknya terasa nyaman baik pencahayaan, suhu udara (hangat) maupun suara (Pendengaran) [dalam kata lain nyaman Tatacahaya, Tataudara dan Tatasuara ].  Bila dicermati Kenyamanan dalam Masjid, itu berkaitan bagian-bagian Masjid.  Dimaklumi, bahwa bentuk fisik bagian-bagian Masjid adalah perkembangan teknologi bangunan, hal ini ternyata telah di mulai sejak Masjid mulai ada (dibangun/digunakan Nabi).  Selamat membaca dan merenungkan, semoga bermanfaat dan kemudian diamalkan.

Bagian-bagian bangunan Masjid yang dimaksud adalah diding, (yaitu: diding depan, kanan, kiri dan belakang), lantai dan langit-langit (plafon).

Bila dicermati dengan pikiran yang tenang, bentuk fisik Masjid, sebenarnya adalah sebagai bagian dari perkembangan teknologi konstruksi bangunan, ternyata telah diterapkan sejak mulai keberadaan Masjid dan berkembang sampai sekarang, sesuai dengan kebutuhan (jumlah pengunjung/jama’ah), perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan.

BANGUNAN MASJID DAN RIWAYAT N Y A

M a s j i d

Beberapa orang bertanya tentang Masjid, untuk menjawab pertanyaan itu, mungkin ini adalah satu diantara beberapa jawaban, disini diambil dari Lajnah Da’imah (Lembaga Tetap Fatwa Saudi Arabia). Lajnah Da’imah menjelaskan bahwa Masjid didefinisi dalam dua, yaitu secara bahasa dan syar’i.  Secara bahasa adalah tempat sujud.  Secara syar’i adalah tempat yang dipersiapkan untuk digunakan sebagai tempat shalat lima waktu secara berjamaah.

Akan tetapi, Masjid mempunyai arti yang lebih luas dari itu. Karena, tempat yang dijadikan oleh seseorang untuk melaksanakan selain shalat berjama’ah adalah shalat  sunnah (sering juga disebut shalat sunat).  Shalat wajib dapat juga dilaksanakan di rumah masing-masing karena tidak mampu ke Masjid, orang-orang mendirikan shalat berjamaah di dalam rumahnya, rumah dapat pula dinamakan Masjid. Sekarang di beberapa Masjid dilaksankan pesta pernikahan.

Masjid adalah tempat/bangunan untuk sujud, yaitu mendirikan ibadah shalat sendiri/berjama’ah. Masjid adalah tempat bertemu dan mempererat hubungan (silaturrahim), terutama sesama Muslim, seperti: Bertemu pandang dan saling berpapasan/berjabat tangan, menanyakan keadaan masing-masing, mendengar ceramah dan berdiskusi untuk meningkatkan pemahaman mengenai agama dan pelaksanaan (pengamalan) dalam keseharian.  Kenapa demikian?  Karena shalat dapat dilakukan dimana saja dimuka bumi sedirian seperti dilapangan terbuka dikeadaan cuaca baik. Shahih Muslim: 315 dan Bukhari 323, menyatakan syarat tempat Shalat: bersih (suci) dari kotoran dan najis, menghadap Qiblat, masuk waktu shalat dan tidak diatas kubur. Jelaslah bahwa Masjid adalah suatu tempat [bangunan (ruang besar)] untuk melaksanakan ibadah (shalat) berjama’ah, mendengarkan ceramah (pengetahuan) tentang agama dan khutbah Jum’at. Agama itu untuk dipelajari, diyakini dengan hati, diamalkan dengan perbuatan, bukan hanya untuk dipelajari.  Bila “hanya” dipelajari saja, orang mengatakan bahwa “mereka” (orang-orang itu) adalah ahli kitab, ya mereka hanya seorang ahli yang digunakan untuk diskusi (berdebat) dll.  Pengetahuan Agama itu adalah untuk diamalkan.

Di antara beberapa dalil tentang Masjid, dari beberapa hadist satu diantaranya, yaitu yang diriwayatkan Bukhari [323]: Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelumku: …………, bumi dijadikan bagiku sebagai Masjid dan suci, siapa pun dari umatku yang menjumpai waktu shalat maka shalatlah.”

Jadi Masjid adalah untuk melaksanakan sujud dan tempat mendirikan shalat berjama’ah.  Selain itu banarlah pendapat  bahwa Masjid tempat mempertemukan dan mempererat hubungan antar manusia (silaturrahim), khusus sesama Muslim, seperti: bertemu pandang, saling berpapasan dan berjabat tangan, berdiskusi mengenai agama untuk meningkatkan pemahaman  dan pelaksanaannya dalam keseharian, karena banyak sekali hal-hal khilafiah, ini tentu membutuhkan pemahaman yang  bersumber dari aslinya, kenapa demikian?  Karena shalat dapat dilakukan dimana saja dimuka bumi (Shahih Muslim: 315 dan Bukhari 323) dengan syarat tempat shalat adalah: bersih (suci) dari kotoran dan najis, tidak diatas kubur, menghadap Qiblat dan masuk waktu shalat.  Jelaslah bahwa Masjid adalah suatu bangunan (ruang besar) tempat untuk mendirikan ibadah (shalat) secara berjama’ah, mendengarkan khutbah Jum’at  dan ceramah (pengetahuan) tentang agama.  Karena shalat dapat juga dilakukan dilapangan terbuka dikeadaan cuaca baik.

Masjid, Karya Budaya Islam di Bidang Teknologi

Masjid adalah bangunan suci tempat umat Islam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Dalam sejarah Islam, mendirikan masjid dikaitkan dengan perluasan wilayah hunian penduduk yang beragama Islam dan pembangunan kota-kota baru berpenduduk mayoritas Muslim. Sejarah mencatat bahwa pada masa permulaan perkembangan Islam ke berbagai negeri, umat Islam ketika menetap di suatu daerah baru, membangun rumah tempat shalat berjama’ah (Masjid) yang merupakan satu dari beberapa sarana untuk kepentingan umum.  Oleh karena itu Masjid adalah satu dari beberapa karya budaya umat Islam di bidang teknologi konstruksi dan tatasuara yang telah dirintis sejak masa permulaan dan menjadi ciri khas dari suatu negeri atau kota Islam. Beberapa masjid di dunia merupakan bangunan yang mempunyai “nilai sejarah” sekaligus “mempunyai keistimewaan dari segi arsitektur, tatasuara, tataudara dan tatacahaya.”

Jelaslah dari paparan tersebut bahwa bangunan masjid berkaitan erat dengan teknologi konstruksi dan nilai sejarah. Lain lagi sekarang, ada kecendrungan dari sebagian orang, bentuk fisik masjid disamakan, sehinnga hilang ke-khas-an suatu negeri atau kota Islam.  Padahal ciri utama Masjid adalah: mengarah Qiblat, ada tempat adzan, ada tempat imam memimpin shalat, ada tempat Khutbah dan memberi ceramah, tempat wudhu’ [bersih (suci)], dengan bagian-bagian pendukungnya yang harus mengikuti ketentuan tertentu, sehingga siapa saja (pengunjung) yang datang ke Masjid dan dari mana saja, terasa“nyaman” untuk beribadah, mendengar khutbah dan ceramah.

Masjid di Indonesia

Tempat melaksanakan shalat berjama’ah di Indonesia disebut Masjid kemudian diikuti nama, Masjid raya …………  Dibeberapa tempat di Indonesia, tempat ibadah shalat disebut: Mesjid, Musajik, Masjid Jami’, Masjid Agung, Surau, Meunasah, Langgar dan Musalla (Mushalla).  Bentuk Masjid dimasa Nabi, masa Khalifah, sesudah khalifah dan sekarang, menerima warisan konsep bangunan setempat, dapat dikatakan pinjam-meminjan/waris-mewarisi. Pinjam-meminjam/waris-mewarisi bentuk fisik, merupakan wujud dari bangunan, komunitas, kebiasaan dan kebudayaan daerah setempat, yang diolahkembangkan tanpa merubah akidah jama’ah dan jiwa sebagai rumah tempat ibadah, telah diterapkan oleh kaum Muslimin, dilakukan tanpa ragu-ragu sejak masa Khalifah.  Bentuk-bentuk tersebut mengikuti tiga hal yaitu:  iklim/cuaca setempat, perkembangan teknologi/teknik dan ilmupengetahuan setempat saat itu.

Riwayat Bagian-bagian Bangunan dan Dinding Masjid

Diketahui dan disadari, bahwa bentuk bagian-bagian Masjid merupakan perkembangan teknologi konstruksi bangunan dan perkembangan teknologi sistem peralatan tatasuara/ akustik.  Teknologi konstruksi bangunan dan sistem tatasuara telah diterapkan sejak Masjid dibangun Nabi SAW.

Bagian-bagian bangunan Masjid yang dimaksud adalah: Dinding Qiblat, Mihrab, Mimbar, Dinding kiri-kanan dan belakang, Bagian dalam Kubah, Langit-langit (plafon) dan Menara.  Paparan mengenai ini dimulai dari Masjid Quba (Masjid pertama dibangun Rasulullah), masa Khalifah, berlanjut sampai pada Masjid-masjid sekarang (kini), nyatanya telah mengalami perubahan mengikuti perkembangan jumlah jama’ah dan ilmu pengetahuan.  Walaupun demikian beberapa bagian-bagian bangunan Masjid yang ada, sebagian orang mengatakan “bid’ah”, padahal bagian-bagian itu semua adalah perkemdangan jumlah jamaah mengunjungi masjid, perkemabangan teknologi/ilmu pengetahuan untuk memperoleh kenyamanan berada dalam masjid dan letak secara geografis dipermukaan bumi.

Dinding-dinding Masjid

Agar terdapat kesamaan pemahaman antara pembaca dan penulis, maka pada tulisan ini, dinding-dinding Masjid diberi nama:  1). Dinding barat disebut juga dinding depan atau dinding Qiblat. Pada dinding depan terdapat Ceruk disebut Mihrab.  2). Dinding timur disebut dinding belakang berhadapan dengan dinding Qiblat bila berada dalam masjid.  3). Dinding kanan dan kiri.  Bila menghadap ke barat atau Qiblat.  Dinding utara adalah dinding kanan.  Dinding selatan adalah Dinding kiri.  Penamaan dinding depan (barat), belakang (timur), utara dan selatan hanya berlaku untuk masjid yang berada dibelahan bumi timur Ka’bah seperti Negara-negara: Asia Selatan, Asean, Timur Leste, Papua Nugini, Tiongkok, Korea, Jepang, Australia, New Zealand dll. Untuk tempat-tempat sebelah barat, utara dan selatan Ka’bah tentu akan berbeda.  Tapi untuk dinding Qiblat tidak berubah yaitu dinding tempat imam memimpin shalat dan khutbah, tapi dinding belakang yaitu dinding yang berhadapan dengan dinding qiblat.  Dinding dan langit-langit sangat berperan terhadap kenyamanan dalam masjid, karena pada dinding dapat dibuat bukaan untuk cahaya alamiah dan aliran udara alamiah.

Jelaslah dari pengertian ini bahwa bangunan masjid berkaitan erat dengan teknologi konstruksi dan teknologi kenyamanan. Tapi sekarang ada kecendrungan dari sebagian orang, bentuk fisik masjid disamakan.  Padahal ciri/ketentuan utama sebuah masjid adalah mengarah Qiblat, arah tempat wudhu’/WC.  Tempat wudhu’ dan WC harus bersih (suci). Arah WC  tidak boleh menghadap atau membelakangi qiblat (itu menurut hadist).  Di dalam masjid ada tempat imam memimpin shalat dan tempat khutbah/ceramah dengan bagian-bagian pendukung lain yang harus mengikuti ketentuan tertentu, sehingga pengunjung (jama’ah) nyaman berada didalam masjid untuk melaksanakan ibadah, mendengar ceramah/khutbah, diskusi kelompok kecil, menulis/membaca dll.

Masa Nabi, Masjid Quba dan Nabawi

Masjid pertama dibangun Nabi, adalah Masjid Quba, dibangun 8 Rabiul Awal (23 September 622 M). Bentuk fisik Masjid Quba: persegi panjang, dengan ukuran dasar 70 x 60 hasta (dalam satuan metrik, 39 x 26 m), tidak bertikar (shajadah), berdinding pagar batu gurun yang cukup tinggi (8 hasta = 4 m) jadi ukuran Masjid ( 39 x 26 x 4) meter. Tiang-tiang Masjid dari batang kurma, atap dari pelepah daun kurma.  Masjid tidak diatap seluruhnya.  Di dalam Masjid terdapat “halaman dalam” (tanah lapang) disebut “Shaan”, tempat shalat disebut “Liwan” dan “sumur” untuk air wudhu’.  Nabi khutbah/ceramah berdiri disamping potongan batang kurma, bila istirahat sejenak sedang ceramah/khutbah duduk pada undukan tanah liat, tempat ini disebut Mimbar (Orfali, 2008).  Pola-pola ini semua mengarah pada bentuk  fungsional.  Boleh dikatakan tidak ada yang bersifat berlebihan. Itulah Masjid dan teknologi yang digunakan (ada) saat itu.  Walaupun bentuk Masjid dan teknologi (sederhana) demikian, suasana ukhuwah Islamiah tetap terasa dan demokratis (keakraban).

Di Masjid Quba ini pulalah pertama kali diadakan shalat berjama’ah secara terang-terangan. Tahun 623 M, di sisi Masjid didirikan dua kamar untuk tempat tinggal keluarga Nabi (Orfali, 2008).  Qiblat Masjid tahun 624 M dirubah dari menghadap ke Baitul Maqdis (Yerusalem) ke Masjidil Haram (Baitullah) Makkah.  Beberapa literatur menjelaskan bahwa pintu belakang saat Qiblat mengarah ke Yerusalem, dijadikan Mihrab ketika qiblat mengarak ke Makkah.

Sesudah membangun Masjid Quba, Nabi membangun Masjid Nabawi. Bentuk bujursangkar dengan rusuk 100 hasta (50 meter) (Fanani, 2009: 146 – 147).  Arsitektur Masjid Nabawi awal dibuat, bentuk dasarnya sama dengan Masjid Quba.

Masa Khalifan: Masjid Kuffah dan masjid Agung Kordoba

Masa khalifah dikenal juga dengan sebutan Khulafaur Rasyidin, bagian Masjid bertambah, disebut “Riwaqs” atau “selasar”. Bentuk ini terlihat pada Masjid Kuffah, dibangun pada tahun 639 M. Masjid tersebut tidak lagi dibatasi oleh dinding batu atau tanah liat yang tinggi sebagaimana Masjid-Masjid terdahulu, masjid dibatasi dengan kolam air.  Belum terlihat bagian-bagian yang berlebihan, bagian-bagian  Masjid tetap menunjukkan pada fungsi utama (Fanani: 2009)

Masjid yang menakjubkan dibangun di masa Khalifah adalah Masjid Agung Kordoba di Spanyol, saat sekarang ini ditempati umat Kristen (sebagian literatur menyebutnya museum).  Masjid Agung Kordoba tidak hanya memiliki arsitektur bagian-bagian yang indah, tapi sekaligus memiliki fungsi tatasuara, tataudara dan tatacahaya yang baik.  Artinya tata ruang (bagian-bagian) Masjid juga dilengkapi dengan pola ventilasi (alami) dan lubang cahaya yang luar biasa, yaitu menjamin masuk udara segar leluasa dan juga kecukupan cahaya (alami) mencapai (bidang kerja).  Masjid Agung Korboba ini, adalah bangunan Masjid, memadukan rancangan arsitektur dengan fisika bangunan, belum ada bandingannya, kata pengamat arsitektur Masjid.  Apalagi dibangun ditahun kekhalifahan (masa lalu).

Masjid Awal Islam di Indonesia (disebut Juga Masjid Kuno)

Tempat melaksanakan shalat di Indonesia (bahasa Indonesia) disebut Masjid diikuti dengan nama khusus dan daerah asal.  Dibeberapa tempat di Indonesia tempat shalat tersebut, disebut: Masjid, Mesjid, Masjid Jamik, Masjid Agung, Musajik, Surau, Meunasah, Langgar dan Musalla (Mushalla).  Bentuk Masjid masa Khalifah, sesudahnya dan sekarang sebagai sebuah rumah ibadah, menerima warisan konsep bangunan setempat, dapat dikatakan pinjam-meminjan/waris-mewarisi. Pinjam-meminjam/waris-mewarisi bentuk fisik merupakan wujud dari kebiasaan kebudayaan suatu komunitas/daerah setempat.  Meminjam/mewarisi tentu sepanjang mampu diolah tanpa merubah akidah jama’ah dan jiwa Masjid sebagai rumah tempat beribadah tidak berubah.  Bentuk-bentuk ini telah diterapkan oleh kaum Muslimin dan dilakukan tanpa ragu-ragu mulai masa Khalifah.  Hal ini diterapkan adalah sebagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dimasa itu.   Fanani (2009: 32) menyatakan semuanya telah tertuang dalam Al Qur’an, Al Hujarat [49:13].

Berikut perhatikanlah bangunan Masjid tua-kuno di Indonesia dari beberapa bagian bangunan yaitu atap, dinding, lantai dan tempat adzan:

1). Dari Sisi Atap

Aceh, Masjid Jami Indrapuri, atap bentuk Piramit Beringkat Tiga. Sumut, Masjid Labuan Medan, atap ber Qubah.  Riau, Masjid Alam (Nur Alam atau Masjid Besar atau Masjid Raya Pakanbaru), atap pakai qubah.  Kepulauan Riau, Masjid Penyengat, atap ruang utama Masjid sangat unik, dan menunjukkan adanya pengaruh India. Keunikan itu berupa deretan melintang dan membujur dari kubah-kubah.  Kubah berbentuk bawang, berbaris empat mengarah qiblat dan berbaris tiga dengan arah melintang. Sumbar, Surau Lubuak Bauak, nagari Batipuah Baruah, Masjid Sa’adah dan Masjid Limo Kaum, bercorak piramit lancip (disebut bagonjong) dll.   Jambi, Masjid Keramat Kerinci, atap berbentuk limas.  Ditengah Masjid terdapat tiang besar (tiang utama). Tiang utama dihubungkan dengan tiang kiri-kanan seperti jembatan. Semsel, Masjid Agung Palembang, atap berbentuk limas bertingkat tiga.  Bengkulu, Masjid Syuhada, atap bercorak trapesium dan terdapat bubungan diatasnya. Lampung, Masjid Jami Al Anwar, atap bercorak piramid dan terdapat qubah diatasnya, atap berbentuk piramit, memiliki empat jendela di masing-masing sisi atap piramid.  Banten, Masjid Agung Banten, atap berbentuk trapesium bertingkat bersusun lima mengecil keatas.  DKI, Masjid Jami’ Al-Atiq, bentuk atap bersusun becorak piramid. Jawabarat, Masjid Agung Sang Ciptarasa, Cerebon. Bangunan induk Masjid ini berukuran 20 x 20 m dengan atap limas berususun tiga sama persis seperti Masjid Agung Demak, tapi bangunan dan atap empat persegi panjang. Jawa Tengah, Masjid Agung Demak, atap berbentuk piramid bersusun. Arsitektur Masjid Agung Demak dipengaruhi oleh arsitektur Jawa Kuno pada masa kerajaan Hindu.  Contoh lain Masjid Saka Tunggal, Kabupaten Banyumas, Nama resmi masjid ini ialah masjid Saka Tunggal Baitussalam, lebih populer dengan nama masjid Saka tunggal karena memang Masjid ini hanya mempunyai saka tunggal (tiang penyangga tunggal). Masjid berukuran 12 x 18 meter, masjid beratapkan ijuk. DIY, Masjid Besar Kauman, atap berbentuk limas bersusun tiga. Jawa Timur, Masjid Sunan Ampel, atap piramid bersusun tiga.  Kalimantan Selatan, Masjid Sultan Suriansyah, atap tumpang tindih, merupakan Masjid bergaya tradisional Banjar. Masjid ini dibangun di tepi sungai di Kecamatan Kesehatan.  Bali, Masjid Salafinatus dan Salam Masjid Kuno.  Masjid Salafinatus Salam, atap bercorak piramit (arsitektur bangunan Jawa).  Bali (Masjid Kuno), dulu terletak di daerah yang sebelumnya adalah hutan dan semak belukar.  Waktu semak belukar dibersihkan warga, ditemukan bangunan segi empat berukuran 15 x 15 meter dan memiliki empat tiang dari pohon kelapa. Pada bangunan terdapat Mimbar dan Mihrab. Karena terdapat Mimbar, maka bangunan itu disepakati sebuah Masjid.  Jadi Mimbar dan Mihrab dapat dikatakan sebagai sebuah ciri bahwa bangunan itu adalah masjid.  Sayang, bangunan itu tak diketahui pasti siapa yang membangunnya.  Nusatenggara, Masjid Sultan Suriansyah, merupakan pola ruang dari arsitektur Masjid Agung Demak. Lombok, Masjid Kuno Bayan Beleq terletak di Desa Bayan, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Masjid mempunyai atap dua tingkat, berbentuk limas (meru) dan memiliki mahkota pada bagian puncaknya.  Sulawesi, Masjid Tua Palopo, atap bercorak piramida tumpang tiga dan di puncaknya terdapat tempayan keramik. Maluku, Masjid Tua Ternate, bangunan induk mempunyai atap tumpang susun lima, atap dari rumbia. Pada tingkat teratas yang berbentuk kerucut, pada ke empat sisinya terdapat lubang angin empat persegi panjang.

2). Dari Sisi dinding

Kepri, Masjid Al Muhajirin Lagoi, masjid ini hanya memiliki dinding qiblat (mihrab) saja. Kalau angin berembus terasa adem. Untuk jama’ah yang mau duduk bersandar bisa menumpangkan punggung ke pagar kayu yang mengelilingi ruangan masjid. Pagar kayu berbentuk barisan tiang itu tingginya sekitar setengah meter. Sumsel, Masjid Agung Puyang Awak, Masjid ini beratapkan seng tanpa dinding dan sekelilingnya dipagar, bangunan seluas 13 x 20 m. Dari jauh mesjid ini berbentuk padepokan, sebuah bangunan yang sering ada pada bangunan pesantren.  Jawa Tengah, Masjid Saka Tunggal, Kabupaten Banyumas, Masjid sebagian dindingnya dari anyaman bambu.  Yogyakarta, Langgar Kuno Mangir, Dusun Mangir Tengah.  Langgar,  Langgar ini terbuat dari kayu dan bambu serta berdinding gedhek (anyaman bambu).  Umumnya dikerjakan secara sederhana, justru menampilkan kebersahajaan yang khas Dibalik itu, langgar ternyata cukup nyaman untuk digunakan.  Bali, Masjid Agung Jami’ Singaraja, Bangunannya tak berdinding hanya terdiri dari empat tiang yang menopang atapnya. Masjid dipagar dengan tembok.

3). Dari Sisi lantai

Bali, Masjid Agung Jami’ Singaraja, Bangunannya berlantai jang hanya ditutupi batu kerikil-kerikil. Masjid berpagar tembok.  Kepri, Masjid Al Muhajirin Lagoi. Seluruh bangunan terbuat dari kayu dan masjid ini berbentuk rumah panggung. Tiang panggung dari beton. Masuk ke masjid ada tiga buah tangga masing-masing di sebelah kiri, kanan dan belakang.

4). Dari Sisi Tampat Adzan

Tempat adzan dapat dibedakan atas tiga yaitu dipuncak atap dan menara khusus disisi bangunan masjid dan diatas Mihrab

Sumbar, Surau Lubuak Bauak, Nagari Batipuah Baruah, Masjid Sa’adah dan Masjid Limo Kaum, bercorak piramit lancip (disebut bagonjong), di pucuk gonjong terdapat ruangan (serambi) untuk adzan. Beberapa masjid lain tempat adzan dibuatkan menara di luar bangunan masjid seperti Masjid Bingkudu, di jorong Bingkudu Canduang Kab. Agam.  Terdapat pula serambi tempat adzan di atas Mihrab seperti pada Masjid Syuhada Pasa Usang Padang.  Jambi, Masjid Keramat Kerinci.  Ditengah Masjid terdapat tiang besar (tiang utama). Tiang utama dihubungkan dengan tiang kiri-kanan seperti jembatan.  Dijembatan ini mu’adzin mengumandangkan adzan.  Sumsel, Masjid agung Sultan Machmud Badaruddin, Masjid Besar Al Mahmudiyah dll. menara disisi/luar bangunan masjid. Bengkulu, Masjid Syuhada, terdapat bubungan diatas atap untuk adzan. Banten, Masjid Agung Banten, menara disisi bangunan Masjid.  Jawa Tengah, Masjid jami’ Kudus Masjid Al Aqsha Kudus dll, menara disisi luar masjid.

Masjid di Indonesia Masa sekarang

Ahmad Nu’man adalah seorang perancang beberapa Masjid Indonesia, satu diantara karya beliau adalah Masjid Salman ITB, beliau menyatakan bahwa landasan mendirikan Masjid berpegang pada ayat Al Qur’an yaitu: Surat Al Baqarah [2] ayat 170 dan Al Isra’ [17] ayat 27.  Surat Al Baqarah [2] ayat 170, intinya “menyatakan tidak akan mengikuti apa yang telah didapati dari nenek-moyang” dan Surat Al Isra [17] ayat 27, intinya “menyatakan tidak berboros-boros, penekanannya pada fungsi”. Ahmad Nu’man menjelaskan, bahwa pada Al-Qur’an maupun hadist Rasul tak mensyaratkan kubah dalam bangunan masjid. Masjid pun tak harus dibangun dengan mewah atau demi bentuk, melainkan harus efisien dan efektif untuk beribadah. Dalam arti kata disesuaikan dengan dana yang tersedia.  Bila dana banyak, baik digunakan untuk membuat poliklinik, perpustakaan beserta buku-buku, rumah singgah (asrama) bagi mushafir, Sekolah Usia Dini, Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, SLTA, Perguruan Tinggi, Pelatihan dan seterusnya.

Selain berkubah terdapat berbagai jenis bentuk atap Masjid.  Masjid di Indonesia sekarang, ada yang beratap rata dan bagonjong. Contoh: (1). Masjid Salman ITB, tidak ada kubah (atap rata), lantai tidak keramik, tidak ada tiang penyangga atap ditengah ruang utama Masjid dan tidak ada sajadah panjang, berpintu lebar. Masjid lain yang tak berkubah adalah Masjid Istiqamah taman Citarum Bandung. Masjid Al Irsyad Kota Baru Parahiyangan (Padalarang -Jawa Barat).  Masjid Al Irsyad seperti kotak (ka’bah) atap rata.  Tidak ada tiang penyangga atap di tengah ruang utama.  Didalam masjid terasa sejuk secara alami. Dinding memiliki lubang, bila siang masuk cahaya dari luar dan bila malam keluar sinar lampu dari dinding terlihat kalimat Shahadat, menakjubkan. (2). Masjid Raya Sumatera Barat Bagonjong (Bergonjong) Empat di kota Padang menunjukkan identitas Minang. (3). Masjid Raya Pondok Indah dindingnya terbuka. Sirkulasi udara bebas keluar masuk. Bila diperhatikan landasan yang dijadikan arsitek merancang bangunan Masjid adalah budaya local, cuaca/iklim.

Jadi tidak ada keharusan berqubah [berbetuk “bawang”], yang penting harus sesuai dengan bangunan daerah khatulistiwa (tropis).  Bangunan daerah tropis beda dengan subtropis, dingin dan panas.  Barangkali itulah pegangan utama rancangan Masjid, selain itu hemat bahan bangunan saat dibangun dan hemat pemakaian energi setelah masjid dipakai/ditempati.

Pemahaman Pengelola Masjid (DKM) Terhadap Bagian-bagian Masjid, Akustik dan Tatasuara

Masjid sebagai bangunan tempat ibadah, yaitu untuk: 1). Shalat berjama’ah, 2). Mendengarkan khutbah Jum’at,  3). Mendengarkan Ceramah tentang (pengetahuan) agama.  Dari ketiga hal tersebut, maka masjid digolongkan kedalam ruangan dirancang untuk percakapan (speech), berarti berhubungan dengan akustik dan tatasuara ruang tertutup dan/atau terbuka.  Selain untuk ruang percakapan didalam Masjid tentu tidak terasa hangat berarti berhubungan dengan tataudara.  Artinya terdapat lubang bukaan aliran udara.  Dapat membaca dan menulisan berarti berhubungan dengan tatacahaya.  Artinya ada lubang bukaan cahaya matahari.  Seharusnya, pada saat awal merancang Masjid, rancangan: tatasuara, tataudara dan tatacahaya telah diikutkan/dimasukkan, tidak boleh dikesampingkan (diabaikan).

Masjid bila ditinjau sebagai “bangunan suci”, terdapat pula kebutuhan: 1). “Ketersediaan air”,   2). “Bersih” (tempat Wudhu’ dan WC) dan 3). “Keindahan”.  Untuk memenuhinya, para perancang (arsitektur) Masjid menggunakan bahan bagian-bagian [baik mengenai interior (seperti: mihrab, dinding, lantai dan langit-langit atau bagian dalam kubah) maupun eksterior] memilih/menggunakan bahan-bahan (material) yang memiliki permukaan keras, seperti: marmer, granit, keramik dsb. Pilihan material dan penempatan/pemasangan bahan tersebut, dari sisi akustik berpotensi penyebab terjadi cacat akustik seperti: gema, gaung, dan pemusantan (sound focusing), yang pada akhirnya akan mengganggu “intelligibility” (kejelasan/kejernihan mendengar suara).

Pada perencanaan Masjid sekarang paling tidak terdapat tiga hal yang digabungkan yaitu mengenai: (1). Kenyaman (tatasuara, tataudara dan tatacahaya), (2). Keindahan, kebersihan [meliputi: ruang masjid, tempat wudhu’ dan jamban (WC) bersih dan tidak ada percikan air], (3). Tataletak letak ruang [meliputi: arah bangunan (arah kiblat), mihrab, mimbar dan tempat peralatan sound system, penempatan loudspeaker, arah tempat wudhu’, tidak terjadi percikan air wudhu’ dan arah jamban (WC)].  Ketiga hal tersebut merupakan suatu hal yang harus, bahkan wajib dijadikan dasar/pusat perhatian, bagi perancang (arsitektur) dan pengelola Masjid (DKM), bila hendak mendirikan/membangun Masjid.  Profesionalitas arsitek disini diuji tentang bangunan Masjid dan juga pemahaman Pengelola Masjid (DKM) terhadap fungsi Masjid untuk syi’ar agama.  Harus diingat dan diperhatikan, bahwa jama’ah pergi ke Masjid minimal ada dua tujuan utam yaitu: 1). Untuk beribadah secara berjama’ah dan 2). Mendengarkan ceramah dan/atau khutbah sebagai tambahan pengetahuan tentang agama untuk dibawa pulang, diingat dan diamalkan.  Berkaitan dengan suara Imam, ceramah dan/atau khutbah, tentu kejelasan/ kejernihan suara [imam, khutbah dan/atau ceramah] yang diperlukan yaitu akustik/tatasuara, bukan pada indahnya.  Ini harus disadari para Arsitek dan Penegelola Masjid (DKM).

Rancangan bangunan Masjid umumnya dipengaruhi budaya dan iklim/cuaca setempat, hal ini harus diterima, karena cuaca/iklim mempengaruhi kenyaman berada dalam masjid. Bentuk dasar fisik Masjidpun bervariasi, dapat berupa bujur sangkar, empat persegi panjang, segi enam, segi depalan, trapesium dll.  Bentuk-bentuk tersebut sangat mempengaruhi sistem tata udara, tatacahaya dan tatasuara. Bentuk juga dipengaruhi perkembangan teknologi/teknik dan ilmupengetahuan [“Apakah sahabat (anda) tidak menyaadari, bahwa Yang Maha Pencipta telah menugaskan manusia untuk mempelajari ilmu pengetahuan dunia dan tentu diterapkan di Masjid.  Banyak ayat-ayat dalam Al Qur’an dan hadist Nabi agar umat Islam disuruh menuntut ilmu/pengetahuan, (termasuk teknologi/teknik”)].  Teknologi/teknik adalah ilmu didunia yang diterapkan dalam kehidupan, diantaranya pada bangunan Masjid, sebagai sarana/jalan menuju kemuliaan didunia dan di akhirat.

Masjid Tempat Shalat Berjama’ah, Mendengarkan Khutbah/Ceramah dan Keindahan

Masjid sebagai bangunan tempat untuk Shalat berjama’ah, mendengarkan khutbah Jum’at dan ceramah tentang (pengetahuan) agama, maka bangunan digolongkan kedalam ruangan yang dirancang untuk percakapan (speech), berarti berhubungan dengan akustik atau tatasuara ruang. Mengenai tatasuara Masjid baca juga:  Riwayat Ringkas Tatasuara (Pengeras Suara) dan Akustik Masjid: Dimasa Nabi, Sahabat, Khalifah dan Sekarang  https://lizenhs.wordpress.com/2014/07/30/riwayat-ringkas-tatasuara-dan-akustik-masjid-dimasa-nabi-sahabat-khalifah-dan-sekarang/   dan Tata Suara (Akustik) Masjid: Kasus Masjid Salman ITB https://lizenhs.wordpress.com/2010/03/22/tata-suara-akustik-masjid-kasus-masjid-salman-itb/  Seharusnya, pada saat awal merancang bangunan Masjid, rancangan akustik telah diikutkan/dimasukkan, tidak boleh dikesampingkan (tidak diperhatikan/ diabaikan).  Mengenai hal-hal yang umum berkaitan dengan parameter desain akustik Masjid yang baik harus dipenuhi.  Sebagai pengetahuan (dan wawasan) awal tentang akustik, yayasan pengelola Masjid atau DKM tentu baik juga membaca tulisan (artikel) tentang akustik untuk ruang percakapan atau bertanya kepada yang memahami/ahli tatasuara Masjid.  Pengetahuan dasar tatasuara dan peralatan tatasuara perlu diketahui/dipahami pengelola Masjid (DKM) dan perancang (arsitek) Masjid.  Artinya bahwa “dua” dari beberapa tujuan lain jama’ah ke Masjid adalah mendengarkan khutbah dan/atau ceramah dan shalat berjama’ah dapat dipenuhi/tercapai.

Pada perencanaan Masjid paling tidak terdapat 4 (empat) hal yang digabungkan yaitu mengenai: (1) Kenyaman (meliputi: tatasuara, tataudara dan tatacahaya), (2) Keindahan, (3) kebersihan dan (4) Tataletak ruang [meliputi: arah bangunan (arah kiblat), mihrab dan mimbar, ruang tempat sound system, tempat dan arah loudspeaker, tempat dan arah tempat wudhu’, percikan air wudhu’ dan tempat arah dan jamban (WC), percikan air seni].  Keempat hal tersebut merupakan suatu hal yang harus, bahkan wajib dijadikan dasar pemikiran, bagi perancang (arsitektur) dan pengelola Masjid (DKM).  Bila membangun Masjid, karena berhubungan dengan syarat sah shalat, maka profesionalitas arsitek disini diuji dalam bangunan Masjid dan juga pemahaman pengelola Masjid (DKM) terhadap fungsi Masjid untuk syi’ar agama.  Sekarang bertambah yaitu untuk tempat upacara pernikahan.  Untuk upacara perkawinan bukan dalam masjid, tentu ditempat lain disekitar Masjid (dipekarangan Masjid).

Masalah utama akustik Masjid saat ini adalah pada sistem tata suara dan sound system.  Harus dipahami bahwa sound system (yaitu mikrofon, loudspeaker, amplifier dan kelengkapannya) adalah alat bantu untuk menciptakan pendengaran yang lebih baik, bukan untuk memperbaiki akustik ruangan dan bukan pula untuk menjadikan jamaah jadi rusak pendengaran (tuli) sesudah keluar Masjid. Bila ruangan Masjid memiliki cacat akustik (gema, gaung, pemusatan dan dengung berlebihan), maka sebagus, secanggih dan semahal apapun sistem tata suara (alat pengeras suara) yang dipasang tidak akan bisa memperbaiki cacat akustik. Oleh karena itu bila Pengelola Masjid (DKM) mendirikan Masjid, rancanglah Masjid tanpa gema, gaung dan pemusatan suara yang berlebihan, kemudian nyaman udara(suhu) dan cahaya.  Kriteria, itulah yang disampaikan kepada perancang (Arsitek) sebagai bahan masukan rancangan Masjid tanpa mengabaikan keindahan.

PENUTUP

Ketentuan dapat mendengarkan khutbah dan ceramah dengan jernih dan jelas hal yang utama (diperhatikan), selain rumah ibadah yang bersih/suci.  Bila suara tidak jernih dan jelas, jama’ah pulang tidak akan memperoleh apa-apa, karena tidak dapat mendengarkan/menangkap isi ceramah dan/atau khutbah, meskipun disampaikan khatib dan/atau penceramah dengan bersemangat, berapi-api dan dengan contoh-contoh yang dapat diterima akal serta aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.  “Sia-sia” lah waktu (umur) penceramah karena tidak didengar dengan baik oleh jama’ah.  Juga sia-sia waktu (umur) jama’ah pergi ke Masjid, karena tak ada tambahan pengetahuan baginya.  Sungguh-sungguh disayangkan kegiatan tersebut kan…??!!

Di masa sekarang rancangan Masjid sebelum dibangun, sebaiknya terdapat kesepakatan antara Yayasan Pengelola Masjid (DKM) dengan perancang (arsitek).  Disinilah terlihat kepiawaian seorang perencana (arsitek) Masjid, menggabungkan ketentuan dasar dengan teknologi yang ada pada masanya.  Dengan kata lain perancang mengusulkan rancangan, yayasan pengelola atau DKM ikut berpartisipasi dalam menanggapi gagasan/ide rancangan. Kemudian menyetujui secara bersama.  Jadi pengelola (DKM) tidak akan menerima saja apa yang dikemukakan perancang (arsitek) demikian pula sebaliknya, artinya terjadi diskusi.

Yayasan/pengelola (DKM) bisa saja menolak rancangan yang dikemukakan perancang bila tidak sesuai dengan ketentuan dasar rumah Ibadah baik interior dan eksterior, seperti tempat berwudhu, tempat dan arah Jamban (buang air seni dan besar) maupun kebersihan.

Disekitar Masjid terdapat berbagai ruang seperti:  Sekolah (PAUD, TK, SD, SLTP, SLTA, Perguruan Tinggi dan pelatihan atau seminar), Perpustakaan dengan bukunya, Poliklinik, Inkubator Bisnis, Ruang pelatihan keterampilan (Pertanian, Peternakan, Perikanan, Perdagangan, Kerajinan-tangan, Masak-memasak, Jahit-menjahit, ruang konsultasi elektronik dan tatasura masjid, penyewaan (elektronik dan perlengkapan pesta), Bengkel kendaraan, Ruang kesenian dll), Kelompok penulis dan penterjemah, Percetakan, Tempat Penyembelihan Hewan, Ruang upacara pernikahan dan resepsi.  Resepsi pernikaan bukan dalam masjid, tapi pada ruang tersendiri atau dilapangan rumput sekitar Masjid dll., ingat sahabatku bahwa ruang masjid khusus untuk kegiatan ibadah dan ceramah. Bila ruang-ruang menyenangkam dan kegiatan-kegiatan  di masjid  mengkuti syari’at, maka masjid akan makmur.  Jama’ah akan datang.  Masjid seperti inilah sebagai sumber inspirasi  jama’ah (umat) dan membawa kesejahteraan masyarakat. Masjid adalah Kampus untuk persiapan ke akhirat.  Aamiin.  Jadi bangunan masjid dan sekitarnya bisa dengan luas paling kurang 3 ha. Yayasan (DKM) dapat bertanya (berkonsultasi) kepada orang-orang yang ahli dibidangnya tentang kelengkapan Masjid sebelum rancangan disetujui untuk dibangun.  Surau, Musalla, Langgar boleh saja adalah bangunan kecil sebagai tempat melaksanakan ibadah, tapi bila Masjid bukan seperti itu.

Agar lengkap pemahaman anda mengenai Riwayat Masjid: Dimasa  Nabi, Sahabat, Khalifa dan Sekarang. Baca juga Riwayat Ringkas Tatasuara dan Akustik masjid: Dimasa Nabi, Sahabat, Khalifah dan Sekarang. https://lizenhs.wordpress.com/2014/07/30/riwayat-ringkas-tatasuara-dan-akustik-masjid-dimasa-nabi-sahabat-khalifah-dan-sekarang/
Kemudian baca juga:
MENGENANG Ir. ACHMAD NOE’MAN, ARSITEK MASJID SALMAN https://lizenhs.wordpress.com/2016/05/04/mengenang-ir-ahmad-noeman-arsitek-masjid-salman/
MASJID, MUSAJIK, SURAU, MUSHALLA, LANGGAR DAN MEUNASAH https://lizenhs.wordpress.com/2009/08/26/masjid-musajik-surau-mushalla-langgar-dan-meunasah/
MASJID: FISIKA BANGUNAN, HEMAT ENERGI DAN TANPA PERCIKAN AIR https://lizenhs.wordpress.com/2012/01/07/masjid-fisika-bangunan-hemat-energi-dan-tanpa-percikan-air/
Terimakasih atas kunjungan anda (sahabat) semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

“Ahmad Noe’man Dari Salman Hingga Sarajevo” http://ahlulbaitindonesia.org/berita/index.php/ahmad-noeman-dari-salman-hingga-sarajevo/

Achmad Noe’man, “Masjid pada umumnya memiliki ciri khas.”   http://katalamsyah.blogspot.com/2009/07/Masjid-pada-umumnya-memiliki-ciri-khas.html

Fanani. Ahmad (2009). “Arsitektur Masjid.” Penerbit Bentang, Yogyakarta.

Gazalba. Sidi (1994).  “Masjid: Pusat Ibadah dan Kebuayaan Islam”. Cetakan ke enam. Pustaka Al Husna.  Jakarta

“Hadist Shahih Muslim”. (1993) Cetakan ke tiga. Alih bahasa Ma’mur Daud.  Penerbit Widjaja Jakarta.

Hadist Shahih Bukhari. (1992) Cetakan ke tiga belas, Terjemahan Zainuddin Hamidy dkk. Penerbit Widjaja Jakarta.

Prof. H. Achmad Noe’man. http://katalamsyah.blogspot.com/2009/07/Masjid-pada-umumnya-memiliki-ciri-khas.html

Orfali. Wasim. (2008) “Sound Sense: in the first of a series Featur, offers an Introduction to the architectural defelopment and acoustics of Mosque”.  Worship Audio Asia, Winter.

Utaberta. Nangkula. “Rekonstrusi Pemikiran, Filosofi dan Perancangan Arsitektur Islam Berbasis Al Qur’an dan Sunnah” paper PAPA Aceh, 26 Desember 2006: http://www.academia.edu/2004823/paper_papa_aceh_26_desember_2006_rekonstruksi pemikiran_filosofi_dan_perancangan_arsitektur_islam_berbasiskanal-quran_dan_sunnah

Wanili. Khairuddin (2010). “Ensiklopedi Masjid: Hukum, Adab dan Bid’ahnya.”  Cetakan kedua (Alih bahasa Darwis).  Darus Sunnah Press. Jakarta Timur

Zein, Abdul Baqir. (1999). “Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia.” (Cetakan Pertama),  Gema Insani Press. Jakarta.

Beberapa pustaka tidak ditampilkan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: