Posted by: lizenhs | July 5, 2014

MASJID: TEKNOLOGI, TEKNIK, AKUSTIK dan TATASUARA

MASJID: TEKNOLOGI, TEKNIK, AKUSTIK dan TATASUARA

Oleh: Haslizen Hoesin

Ilmu Pengetahuan

Berawal dari “rasa ingin tahu (curiosity) manusia”, pengetahuan atau ilmu pengetahuan pun terus mengalami perkembangan.  Kemudian lahirlah “teknologi” sebagai upaya manusia untuk mempermudah kegiatan dan meningkatkan produktifitas-nya.  Dari “teknologi” menjadi “teknik”. Perhatikan perkembangan: Teknologi informasi/komunikasi. Teknologi konstruksi.  Teknologi: Tatasuara, Tataudara dan Tatacahaya, semuanya karena pengembangan Ilmupengetahuan dan teknologi dan teknik. Baca juga: Disiplin, Agama, Akal dan Merdeka. https://lizenhs.wordpress.com/2012/01/04/disiplin-agama-akal-dan-merdeka/

TEKNOLOGI

Apakah “teknologi….?”  Mengenai “teknologi” banyak definisi yang diajukan para pakar, sebagian sangat luas dan sebagian terlalu sempit.  Ada yang mengatakan bahwa teknologi berasal dari Bahasa Perancis, yaitu kata “La Teknique” diartikan dengan “Semua proses yang dilaksanakan dalam upaya untuk mewujudkan “sesuatu” secara rasional”.  Dimaksud dengan “sesuatu” itu dapat berupa benda atau konsep dan pembatasan cara secara rasional.  Hal ini penting dipahami karena pembuatan atau perwujudan “sesuatu” itu dapat dilaksanakan secara berulang (repetasi) dan dikembangkan.  Teknologi dalam arti itu dapat diketahui/dilihat melalui barang-barang, benda-benda, bangunan-bangunan atau alat-alat yang berhasil/dibuat manusia, untuk memudahkan realisasi hidup manusia di dunia, disuatu tempat dan dibuat lagi ditempat lain.  Ini memperlihatkan tentang wujud dari karya cipta dan karya seni (techne – Yunani) manusia selaku homo technicus.  Maka dari sinilah muncul istilah “teknologi”, berarti ilmu yang mempelajari tentang “techne” manusia. Tampak jelas bahwa teknologi sebenarnya lebih dari sekedar pembuatan barang, benda atau alat baru dari manusia selaku homo technicus atau homo faber. [Homo faber adalah sebuah konsep yang menggambarkan manusia sebagai pekerja. Pekerjaan adalah hal yang utama di dalam kehidupan mereka].

Teknologi merupakan suatu “sistem” atau “struktur” dalam eksistensi manusia. Sekarang teknologi bukan lagi hanya sekedar sebagai suatu hasil dari dayacipta (temuan) yang ada dalam kemampuan dan keunggulan manusia, tetapi dia telah menjadi suatu “daya pencipta” yang muncul dan mengikuti kemampuan manusia, pada gilirannya kemudian membentuk dan membuatsesuatu”.  Teknologi itu sebagian dikembangan dari yang pernah ada (warisan atau pinjaman).

Teknologi dapat berupa suatukonsep” yang memiliki “lebih dari satu definisi:

Pertama: Mengenai membuat/membangun: alat, mesin, bahan dan proses untuk menyelesaikan masalah .

Kedua: Mengenai memakai/penggunaan: alat, mesin, bahan dan proses, untuk memudahkan dalam menyelesaikan suatu masalah.

Berikut beberapa pengertian teknologi dari berbagai bidang:

Teknologi adalah terapan matematika, sains dan berbagai seni untuk kemanfaatan kehidupan seperti yang dikenal saat ini.  Contoh: Kebangkitan teknologi informasi/komunikasi, memperkecil hambatan interaksi sesama manusia.  Hasilnya, telah melahirkan sub-sub kebudayaan baru, bangkit budaya dunia maya yang berbasis pada Komputer dan Internet.

Teknologi adalah ilmu pengetahuan terapan atau seluruh sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.  Dengan demikian teknologi adalah “pengembangan dan aplikasi” dari alat, mesin, bahan (material) dan proses yang membantu manusia menyelesaikan masalahnya. Perhatikan perbuatan berikut:  Sistem menyalakan api dengan menggesekan dua batu, ini merupakan suatu teknologi pada zaman dahulu karena mempermudah manusia mengolah makanan.

Banyak pula orang beranggapan bahwa teknologi harus bercirikan mesin-mesin industri yang besar, seperti pesawat terbang, computer atau radio digital dll.  Anggapan tersebut ternyata tidaklah demikian, karena teknologi adalah “upaya manusia untuk membuat kehidupan lebih sejahtera, lebih baik, lebih enak dan lebih mudah.  Perhatikan kasus berikut ini:  Bila orang mengupas kelapa dengan gigi dan kemudian dengan kapak, berawal membuat mata kapak dari batu.  Berikut, mata kapak (batu) diberi tangkai.  Kejadian seperti ini termasuk kedalam teknologi.  Karena terdapat nilai pengembangan alat (proses) di sini, yaitu upaya manusia.

Kata “teknologi” juga digunakan untuk merujuk kepada kumpulan teknik. Dalam konteks ini, teknologi merupakan pengetahuan manusia tentang bagaimana menggabungkan sumber daya untuk: memproduksi produk yang diinginkan, memecahkan masalah, memenuhi kebutuhan, atau memenuhi keinginan, termasuk: metode, keterampilan, proses, teknik/cara, alat dan bahan bakuTeknologi dikombinasikan dengan istilah lain, perhatikan seperti “teknologi medis”, “teknologi transportasi”, “teknologi konstrusi bangunan”, “teknologi ruang angkasa”, “teknologi irigasi” dll. Itu semua mengacu pada status pengetahuan pada bidang dan alat masing-masing.

Teknologi dapat pula dilihat dari status pengetahuan saat itu dan hubungannya dengan barang yang akan diproduksi. Perhatikan berikut ini: Seorang “engineer” membuat alat baru atau barang atau bangunan dapat disebut teknologi. Seorang “farmasi” mampu meracik obat baru untuk pasien disebut teknologi.  Seorang “mikrobiologi” mampu merekayasa mikroba menjadi jenis baru yang memiliki fungsi baru disebut teknologi dan berbagai contoh lain.

Kata teknologi sering pula menggambarkan penemuan dan/atau alat yang menggunakan prinsip dan proses penemuan saintifik baru, sehingga muncul istilah “esensi teknologi.”  Apakah esensi itu? Esensi adalah inti/hakikat, bisa juga disebut sebagai “hal yang pokok” dari sesuatu. Maka esensi teknologi adalah suatu barang atau pekakas atau alat yang dibuat atas dasar ilmu pengetahuan,  tujuannya “untuk mempermudah pekerjaan manusia”.

Jika dilihat dari sisi “esensi teknologi,” teknologi bukan soal menghasilkan produk baru, tetapi menghasilkan sebuah “formula” dan/atau “cetak biru”. Dengan “formula” dan/atau “cetak biru” ditemukan perangkat baru untuk memecahkan masalah.  Oleh karena itu bukanlah hal yang penting mampu menemukan mendapatkan sesuatu, karena menemukan/mendapatkan sesuatu (produk baru) merupakan keahlian orang bengkel (dapat dilakukan oleh banyak orang). Persoalannya adalah bagaimana mengadaptasi dan memodifikasi “yang sudah ada” menjadi “yang baru”, itu adalah suatu hal untuk dipelajari dan dikembangkan.

Bagaimana konsepteknologi  menurut Islam? Teknologi menurut Islam merupakan interpretasi kreatif dari ayat sici.  Ini sangat berbeda dengan konsep Barat. Sebagai contoh teknologi tenaga angin.  Meskipun teknologi yang dikembangkan “sama”, pada teknologi Islam teknologi tenaga angin ini dikembangkan atas dasar konsep lain daripada teknologi alternative  “dalam hal jiwanya” sebagaimana yang dikemukakan Barat.   Di Barat teknologi alternartif yang bersifat reaktif, sedangkan di Islam bersifat interpretasi kreatif.  Perhatikan kincir angin pertama yang dibuat oleh Muslim dahulu, adalah interpretasi kreatif dari ayat suci dalam Al qur’an. Baca juga: “Energi Angin, Kincir Angin dan Prospeknya”.

Bagaimana teknologi dalam “sudut padang ekonomi?” Teknologi ternyata dilihat dari status pengetahuan saat itu dan hubungannya dengan barang yang akan diproduksi.

Bagaimana teknologi dalam “sudut pandang Budaya?”  Teknologi merupakan satu dari beberapa unsur budaya sebagai hasil penerapan praktis dari ilmu suatu pengetahuan.  Teknologi (techne = cara dan logos = pikiran) merupakan hasil dari proses berpikir manusia. Artinya teknologi merupakan hasil kebudayaan, yang dalam proses pembuatannya melibatkan ideologi, nilai-nilai dan pesan-pesan tertentu. Bahwa teknologi sebagai suatu kegiatan budaya, teknologi itu memangsa ilmu dan rekayasa, yang masing-masing memformalkan beberapa aspek kerja keras teknologis.  Oleh karena itu, teknologi dapat dipandang sebagai kegiatan yang membentuk atau mengubah kebudayaan.

Dari pengertian-pengertian diatas, teknologi adalah perkembangan media/alat yang dapat digunakan “lebih efisien” guna memproses serta mengendalikan suatu masalah. Atau teknologi adalah suatu metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis sebagai: (1). Ilmu pengetahuan terapan atau (2). Diterjemahkan sebagai keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang atau alat-alat yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. (3). Lebih berkembang lagi, bahwa teknologi adalah pengetahuan yang digunakan untuk membuat barang, menyediakan jasa serta meningkatkan cara dalam menangani sumber daya yang “penting” dan “terbatas”.

Saat sekarang teknologi, sepertinya sudah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan, terlebih untuk masyarakat urban.  Logikanya, “produktifitas” seseorang seharusnya meningkat seiring dengan melimpahnya teknologi yang menunjang kehidupan.  Kenapa demikian?  Perhatikan, mulai dari bangun tidur, sudah dibangunkan oleh alarm (jam weker, ponsel, smartphone, tablet, dan lainnya), aktifitas pekerjaan keseharian dari dan mau tidur lagi semuanya telah ditunjang oleh teknologi. Misal yang paling dekat yaitu ponsel terbaru tak hanya untuk membangunkan dari tidur, juga bisa berfungsi layaknya asisten pribadi yang mengingatkan agenda harian, berkomunikasi dengan orang lain, memotret, merekan pembicaraan, menyimpan data dll.

Sekarang terdapat istilah “State-of-the-art teknologi” (kemuta-akhir-an, sekaligus keter-canggih-an teknologi) merujuk pada teknologi tinggi yang “ada”/disediakan untuk manusia di ranah manapun. Baca juga: “Beberapa Pemikiran Tentang Perkembangan Teknologi Dan Masyarakat Terhadap Agama (1) dan (2)”.  Pada zaman Globalisasi ini, teknologi sangat digemari oleh semua kalangan, baik yang berjenis aplikasi maupun yang berbasis web.

Teknologi itu Netral, Tidak Tepat atau Tidak Tepat Guna

Jika “ditelusuri lebih dalam”, pastilah ada yang berkesimpulan bahwa teknologi itu hakikatnya adalah netral.  Pada dasarnya teknologi memiliki karakteristik obyektif dan netral. Dalam situasi tertentu ternyata teknologi “tidak netral” lagi, karena memiliki potensi untuk kekuasaan dan merusak.

Teknologi itu akan bermanfaat jika dipergunakan sesuai dengan fungsinya dan tidak akan atau hanya sedikit membawa manfaat, jika dipergunakan dengan tidak semestinya, malahan menunjukkan kebodohan bahkan ketololan pemilik/pemakai.  Sebagai contoh, sebuah Tablet PC tentu sangat bermanfaat jika digunakan untuk berkomunikasi, memperoleh informasi dll.  Namun apa jadinya jika “Tablet PC” digunakan untuk mengganjal jendela agar tetap terbuka, sehingga cahaya matahari (alami) dan angin (alami) berhembus sepoi masuk kedalam ruangan dengan leluasa (boleh kan!?, tentu!!). Terlihat jelas disini, bahwa penggunaan tablet “tidak tepat” bahkan “tidak tepat guna” kan!?  Meskipun tujuan penggunan Tablet untuk memperoleh serba alami (cahaya dan aliran udara gratis).  Perlakuan untuk memperoleh serba alami (gratis) tentu semua orang menyetujui/menyepakati, tapi sebagai alat pengganjal tidak semua orang menyepakati. Bahkan tampak kebodohan, ketololan pemilik tablet itu, karena menggunakannya tidak tepat, meskipun pemilik bersikiras dan berkata: “Kan punya saya sendiri, uang saya sendiri membelinya, kalau rusak, ya diganti dengan  yang baru. Saya cukup uang membelinya. Kok gutu dipermasalahkan”.  Ya, itulah manusia dengan segala kebebasan yang dimiliki.  Terlalu ekstrim contoh tersebut ya, namun filosofinya kurang lebih seperti itulah.

Sungguh mencengangkan, kenapa??  Karena tidak semua teknologi memperbaiki budaya dalam cara yang kreatif, teknologi malah membantu dan mempermudah penindasan politik, profokasi, membunuh dan berperang [yaitu berupa alat pembunuh sederhana sampai canggih (seperti tombak, golok, panah, pistol atau bedil, bom, peluru kendali dll.)].

Berikut, kasus lain. Sungguh disayangkan di sebagian masyarakat, bahwa pemahaman “teori” tidak sebanding dengan kenyataan, begitulah “nyatanya”.  Banyak dari orang yang menggunakan teknologi dengan tidak semestinyaContoh:  Laptop yang hanya digunakan untuk mainan atau hiburan semata, padahal laptop tersebut memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada apa yang telah dimaanfaatkan itu.

Teknologi, ternyata sudah dikenal sebelum sains dan teknik dengan tingkat kebermanfaatan-nya tergantung penggunaan.  Secara umum, teknologi dapat pula didefinisikan sebagai entitas benda maupun bukan benda yang dibuat secara terpadu melalui perbuatan dan pemikiran untuk mencapai suatu nilai, meskipun dalam penggunaan, teknologi itu tetap merujuk pada alat dan mesin yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah di dunia nyata.  Oleh karena itu teknologi adalah istilah yang mencakup banyak hal, meliputi alat-alat sederhana, seperti: linggis, sendok kayu, sedok tempurung kelapa atau pisau dapur sampai pada mesin-mesin yang rumit, seperti stasiun luar angkasa, teknologi mempercepat partikel, teknologi nano dll. Alat dan Mesin tidak mesti berwujud benda, teknologi virtual, dapat berupa perangkat lunak dan metode bisnis.

Perhatikan berikut ini, Teknologi bukan hanya sebagai alat saja, tetapi sebuah jalan membuka sesuatu, dari yang semula tidak nampak menjadi nampak, pembuka pikiran/kerangka pemikiran; memberi pemaknaan baru. Sebagai pembuka pikiran dari hal yang semula tidak nampak dengan mata telanjang menjadi nampak, hal ini bisa di-contoh-kan dengan penemuan mikroskop, sebagai alat untuk melihat benda yang sangat kecil dengan kaca pembesar dan pemodelan. Dengan ditemukan teleskop/alat teropong bintang, memungkinkan manusia melihat bintang. Begitu juga dengan ditemukan bentuk lintasan gerak benda langit, memungkinkan model-kan lintasan gerakan tersebut dalam bentuk model matematis. Dengan model matematis posisi (keberadaan) benda langit diperkirakan.  Dengan mudah diketahui (tampak jelas dengan model tersebut) posisi benda langit pada suatu saat yang diinginkan, tak perlu lagi dengan mata telanjang atau teleskop.  Cara tersebut telah dipergunakan dan diperbaharui terus, dipergunakan  menetapkan terjadi gerhana bulan/matahari, waktu shalat, awal masuk bulan dll. Teropong, Teleskop, Model matematis, semuanya adalah “alat” yang diperkembangkan untuk melihat, yang semula dengan mata telanjang sekarang dimudahkan dengan alat baru itu. Kalau begitu melihatpun berbagai cara yaitu dengan mata telanjang dan mata Ilmupengetahuan. Alat/cara melihat berkembang mengikuti perkembangan ilmupengetahuan dan teknologi dari yang sangat sederhana/praktis sampai yang rumit, tujuannya untuk memudahkan.  Misal dari tiang, jam matahari, model matematis dapat diketahui waktu shalat, malah sekarang divisualkan dengan elektronik, alat elektronik ini adalah hasil pengembangan teknologi, sudah banyak digunakan di masjid-masjid.

Sekarang teknologi adalah sebagai kegiatan manusia. Nyatanya tidak setiap kegiatan manusia adalah teknologi, melainkan hanyalah kegiatan yang mempunyai dua ciri pokok, yaitu: “effisien” dan “memiliki tujuan tertentu”.  Atau merupakan “perkembangan suatu media/alat” yang dapat digunakan dengan lebih efisien, guna memproses serta mengendalikan suatu masalah.  Kadang-kala teknologi itu memunculkan berbagai akibat dalam pemakaian/ penggunaan.  Masyarakat menyebut penerapan teknologi itu“tidak tepat” atau “malah menimbulkan masalah baru”.  Maka munculah pengertian “teknologi tepat” dan “teknologi tepat guna”Baca juga: Teknologi Tepat Guna: Apaaa …….. itu???? https://lizenhs.wordpress.com/2008/12/23/teknologi-tepat-guna-apaaa-itu/

Teknologi telah mempengaruhi masyarakat dan sekelilingnya dalam banyak cara. Di beberapa kelompok masyarakat, teknologi telah membantu memperbaiki ekonomi (termasuk ekonomi global masa kini). Tapi banyak proses teknologi menghasilkan produk sampingan yang tidak dikehendaki, yang disebut pencemar dan menguras sumber daya alam, merugikan dan merusak Bumi dan lingkungan.  Berbagai macam penerapan teknologi telah mempengaruhi nilai suatu masyarakat dan teknologi baru seringkali memunculkan pertanyaan-pertanyaan tentang etika. Contoh, meluasnya gagasan tentang efisiensi dalam konteks produktivitas manusia, suatu istilah yang pada awalnya hanya menjangkau permesinan, hingga sekarang teknologi merupakan tantangan bagi norma-norma tradisional.

Teknologi bila dilihat dari sisi jangka waktu, ternyata telah berumur sangat panjang dan merupakan suatu gejala kontemporer. Perhatikan, setiap zaman memiliki teknologi-teknologinya sendiri kemudain saling pinjam-meminjam, waris-mewarisi dan saling diperkembangkan menjadi suatu alat atau benda baru yang mencengangkan.

T E K N I K

Sahabat pembaca selain teknologi terdapat pula pengertian teknik.  Pengertian yang dekat dengan teknologi dan popular sekarang ialah “teknik”. Apa itu teknik? Teknik adalah suatu cara untuk menyelesaikan sesuatu.  Kata teknik sendiri berasal dari kata teknologi. Teknologi berasal dari bahasa Inggris, yaitu Technology.  Kata Technology diperluas maknanya menjadi Technique yang di serap ke bahasa Indonesia menjadi Teknik. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia: Teknik dapat diartikan sebagai pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri.  Bila diperluas, dapat pula diartikan sebagai kepandaian membuat suatu,[misal suatu rancangan konstrusi bangunan], memproduksi,dll.

Pendapat lain, istilah teknik digunakan tidak hanya untuk mesin, teknologi atau prosedur untuk memperoleh hasilnya, melainkan totalitas metode yang dicapai secara rasional dan mempunyai efisiensi (untuk memberikan tingkat perkembangan) dalam setiap bidang aktivitas manusia. Batasan ini bukan bentuk teoritis, melainkan perolehan dan aktivitas masing-masing dan observasi fakta dari apa yang disebut manusia modern dengan perlengkapan tekniknya. Jadi teknik adalah berbagai usaha, metode dan cara untuk memperoleh hasil yang sudah distandardisasi dan diperhitungkan sebelumnya.

Ayo sahabat-sahabat, manfaatkanlahilmupengetahuan”, “teknologi” dan “teknik” di sekitar sahabat (anda) dengan optimal (dengan kata lain yangtepat atau “tepat guna”). Ingat esensi teknologi, bahwa teknologi untuk meningkatkan produktifitas dan kemudahan pekerjaan sehari-hari. Sungguh sia-sia bahkan celaka jika teknologi yang ada di sekitar sahabat (anda) justru menjadikan aktifitas sahabat (anda) semakin “tidak produktif”, bahkan memunculkan “masalah baru”.  Tentu bukan itu tujuan keberadaan ilmupengtahuan, teknologi dan teknik, apa lagi dalam kegiatan ke-agama-an.

KEMAJUAN TEKNOLOGI

Dalam bentuk yang paling sederhana, kemajuan teknologi adalah hasil dari pengembangan cara-cara lama atau penemuan metode baru dari cara yang lama, dikembangkan untuk menyelesaikan tugas-tugas tradisionalKemajuan itu dapat dilihat diantaranya pada: bercocok tanam, membuat baju, menggergaji, membangun suatu bangunan (rumah dll.), mengautkan suara (tatasuara), tatacahaya, tataudara, tataair (irigasi) dll. Sehingga memberikan sesuatu yang lebih, memudahkan dan mensejahterakan dan jangan (tak boleh) dilupakan dimana membangun, yaitu letak geografis tempat teknologi ditempatkan dipermukaan Bumi.  Artinya penerapan teknologi [bercocok tanam, bangunan, tataair (irigasi), jalan dll.] disesuaikan dengan letak tempat dipermukaan bumi, jangan asal diterapkan saja akan berakibat merusak .

YANG PERNAH ADA, WARISAN DAN MEMINJAMAN

Dari paparan diatas jelaslah bahwa “teknologi” adalah: (1) Upaya manusia untuk membuat kehidupan: lebih sejahtera, lebih baik, lebih enak dan lebih mudah. (2) Dikembangkan dariyang pernah ada”untuk membuat hidup lebih baik, effisien dan mudah. (3) Digunakan untuk membuat barang, menyediakan jasa untuk meningkatkan “cara menangani suberdaya yang penting dan terbatas.

Istilah lain dari “yang pernah ada” itu adalah “warisan” (waris-mewarisi) atau bahkan “pinjaman” (pinjam-meminjam) baik bentuk fisik maupun ide (konsep), berupa wujud kebudayaan suatu komunitas dan kemudian peminjam atau pewarisan, mampu mengolah menjadi lebih baik, lebih mudah dan efisien.  Kadang-kala malahan “yang pernah ada” itu, telah ditinggalkan oleh penemu/perancang “pemula.  Pewaris/peminjam mengembangkan ditempat lain, melahirkan corak “fisik” yang lebih khas, menarik dan fungsinya bertambah (dari tidak ada menjadi ada) atau dulu hanya sebagai pemanis/penyeimbang sekarang menjadi sesuatu yang lebih. Bagipemula hanya tinggal cerita saja untuk dikenang, bahwa dari dialah rancangan awal idenya.

Dalam Islam yang harus diperhatikan dan dipahami tentang pinjaman/warisan tentu tidak menyalahi ketentuan dari Al Qur’an, Hadist dan pendapat para ulama, dimana teknologi itu ditempatkan dan dikembangkanBila menyalahi “tentu/pasti” dilarang keras dan harus ditinggalkan.  Sebagai contoh membangun Masjid, yang terpenting adalah tidak merubah akidah.  Bentuk-bentuk yang disetujui dan dikembangkan itu menjadi bentuk “yang khas” dan “menarik”, inilah yang selanjutnya menjadi suatu “ciri baruatau bentuk baru”, sehingga (bahkan) “dia” melebihi kemanfaatan dari bentuk lama dan/atau menjadi pembeda dari rancangan awal, baik mutu maupun bentuk dan seni.  Tentu jiwa bangunan dan kesuciannya sebagai rumah ibadah setelah dikembangkan dan diterapkan tidak merubah fungsinya sebagai masjid apalagi menggangu ke-khusu’-an saat melaksanakan ibadah atau menggoyahkan iman baik berada didalam ataupun diluar Masjid. Atau tidak merubah tata cara beribadah, aturan dan tataruang.  Contoh:  Bentangan Masjid dulu banyak “tiang, dengan meminjam/mengguna-kan/mengembangkan teknologi konstruksi, “tiang” dapat dikurangi (bahkan ditiadakan) untuk bentangan yang cukup panjang dan Mimbar dapat dibuat masuk dalam dinding qiblat atau berada seluruhnya di dalam mihrab. Artinya menggunakan teknologi konstrusi tidak lagi memutus shaf shalat berjama’ah yang sebelumnya terputus. Dengan demikian penggunaan teknologi kontruksi mengikuti (sesuai) Sunah Nabi tentang shaf shalat berjama’ah.

BENTUK BANGUNAN MASJID

Rancangan bangunan (Masjid) pada umumnya sangat dipengaruhi budaya, iklim/cuaca setempat dan teknologi yang digunakan.  Bentuk dasar fisik Masjid pada umumnya seperti: bujur sangkar, persegi panjang, segi enam, segi depalan, trapesium dll.  Bentuk-bentuk ini sangat menentukan (berpengaruh) terhadap sistem kenyamanan [tatasuara/akustik, tatacahaya dan tataudara]dalam Masjid. Bentuk fisik (bagian-bagian Masjid) baik bagian dalam (interior) maupun bagian luar (eksterior), kadang-kala di masyarakat terjadi pro dan kontra, bahkan sampai kepada perkataan “bid’ah”.  Bentuk Masjid yang baik tentu sesuai dengan fungsi dan ketentuan sebagai rumah ibadah, tidak boros bahan dalam membangun, hemat energi dan nyaman (pencahayaan, udara dan pendengaran) saat dipakai.

Dari sisi tatasuara, suara (kata perkata suatu kalimat) Imam, Khatib dan/atau pembicara jelas/jernih didengar sehingga dapat dimengerti. Dari sisi pencahayaan cukup terang untuk membaca dan menulis [tidak gelap (remang-remang)].  Dari sisi suhu udara (tidak hangat), terdapat aliran udara,sehingga sejuk (adem).  Penataan (tatasuara, tatacahaya dan tataudara) yang terbaik tentu yang alamiah, bukan buatan. Serba alamiah akan menghemat pemakaian energi listrik dalam bangunan.

T A T A S U A R A

Tak dapat dipungkiri bahwa tatasuara, tataudara dan tatacahaya erat berhubungan dengan bentuk bagian-bagian dalam bangunan.

Khusus untuk “tatasuara”  disuatu penelitian, ditemukan bahwa bagian-bagian bangunan mempengaruhi mutu suara.  Baik-buruk suara dalam ruangan, satu diantara beberapa cara untuk mengetahuinya adalah dengan dengung (waktu dengung).  Panjang (lama) waktu dengung suatu ruang, berarti buruk untuk percakapan ruang tersebut.  Bila waktu dengung pendek maka ruang itu dinyatakan baik untuk ruang percakapan.  Lama waktu dengung adalah lama bunyi terdengar sesudah sumber berhenti.  Sebagai acuan waktu dengung Ruang percakapan antara 0.7 – 1 detik.

Berkenaan dengan “waktu dengung ruang”,  Sabin merumuskan dalam bentuk “empirik”. [rumus empirik Sabin menyatakan bahwa waktu dengung dipengaruh oleh: volume ruang [v (m3)], luas permukaan [S (m2)], konstanta penyerapan media (m) dan koefisien penyerapan permukaan (@)[rata-rata]. Bagaimana penerapan rumus Sabin di bangunan ibadah (masjid)?  Baca:  Tata Suara (Akustik) Masjid: Kasus Masjid Salman ITB. https://lizenhs.wordpress.com/2010/03/22/tata-suara-akustik-masjid-kasus-masjid-salman-itb/ Tata suara Masjid yang dapat dijadikan contoh satu diantara sekian Masjid adalah Masjid Agung Kordoba di Spanyol.

Bunyi/Suara dan Gelombang Bunyi

Bunyi/suara adalah sebuah fenomena turut bergetarnya medium akibat getaran yang terjadi. Bunyi/suara adalah getaran (gelombang) yang menyebabkan perubahan tekanan di udara, di media cairan atau yang lain, yang dapat ditangkap telinga manusia.  Karena bunyi adalah gelombang, maka bunyi ada beberapa istilah seperti frekuwensi, amplitudo dan fasa.  Secara sederhana gelombang bunyi berbentuk gelombang sinusKecepatan bunyi dalam suatu media bergantung pada elastisitas medium.

Gelombang bunyi dapat merambat langsung melalui udara dari sumbernya ketelinga. Gelombang bunyi dipantulkan oleh permukaan (dapat beberapa kali), menembus atau merambat melalui struktur bangunan.  Perjalanan bunyi dari sumber keteliga akan sangat menentukan karakter (mutu) bunyi tersebut.  Ukuran ruangan, mempengaruhi tekanan suara.  Pada posisi yang cukup jauh dari sumber suara, terjadi penurunan.

Mendengar dan Berbicara Sebaiknya

Suara/bunyi yang muncul dari sumber (pembicara) yaitu suara yang didengar langsung (alami).  Sebaiknya tingkat kekerasan suara/bunyi tidak dikuatkan [dengan elektronik seperti pengeras suara (loudspeaker)], bila suara tersebut masih dapat didengar dengan baik (keadaan normal).  Karena bunyi/suara tanpa penguat/pengeras elektronik lebih baik didengar, kecuali bila kekerasan suara yang dihasilkan sumber tidak dapat didengar dengan baik, seperti jauh dari sumber baik dalam ruang maupun diruang terbuka.  Berbicara adalah satu dari beberapa ciri paling khas dari perkembangan manusia dan budaya.

Berbicara adalah mengeluarkan suara [menyampaikan pendapat, gagasan dari pikiran dan perasaan secara lisan] tentu dengan “artikulasi”Artikulasi (yaitu cara pengucapan kata demi kata dan tatabahasa dengan baik dan jelas) sehingga dapat dimengerti.  Bila pembicaraan tidak dapat didengar dengan baik, tidak jelas dan jernih, bahkan banyak istilah-istilah yang tidak dimengerti, maka yang disampaikan pembicara (berupa: pendapat, pikiran dan perasaan) tak dapat didengar dan disimak, sehingga tidak berguna dan bermanfaat, capek/penat saja, buang-buang waktu (umur) dan tenaga atau sia-sia saja. Bila di Indonesia berbicaralah dalam bahasa Indonesia dan menggunakan EYD, jangan berbahasa Asing, tentu sedikit manfaatnya atau bahkan tak bermanfaat sama sekali, karena tidak dimengerti banyak orang.  Bisa terjadi, pendengar mengantuk dan/atau tidur pulas.

Mendengar adalah satu dari beberapa hal yang paling penting dari kelangsungan hidup di dunia untuk mendapatkan informasi. Mendengar mempunyai makna dapat menangkap bunyi/suara dengan telinga. Mendengarkan adalah merespon atau menerima bunyi secara disengaja. Memperhatikan dengan baik apa yang dikatakan sesorang dan melibatkan unsur kejiwaan, berarti aktivitas mental sudah muncul. Mendengarkan sangat dekat dengan menyimak.  Karena menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan secara lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi serta interpretasi, untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang tidak disampaikan oleh si pembicara melalui bahasa lisan.

TATA SUARA (AKUSTIK) MASJID

Tata suara adalah suatu teknik/cara pengaturan penempatan peralatan penguat suara pada ruang ceramah (pertemuan), pertunjukan dan lain-lain.

Tata suara berperanan penting dalam suatu pembicaraan langsung dan menjadi bagian tak terpisahkan dari tata panggung dan bentuk interior (bangunan). Sistem tatasuara dan sound sistem adalah dua sistem yang saling menunjang.

Sistem tatasuara merupakan cara penempatan mikrofon dan loudspeaker, supaya suara dapat didengar pendengar dengan baik, jernih/jelas dan dimengerti.  Jadi sistem tatasuara erat kaitannya dengan pengaturan/penempatan loudspaker dan mikrofon, interior ruang, supaya tidak ada gema/gaung. Suara merata terdengar diposisi manapun pendengar berada.  Sistem tatasuara dapat dibedakan atas dua keadaan ruangan yaitu terbuka dan tertutup.

Sound system adalah sistem peralatan elektronik menguatkan suara meliputi: mikrofon, kabel, konsul mixer, audio recorder, signal prosessor, amplifier dan speaker sehingga diperoleh suara yang nyaman (tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu pelan dengan pengaturan volume mixer, ampli dll.).  Maka sound system adalah suatu sistem penguat, merupakan kumpulan dari beberapa peralatan elektronik yang saling berkait, didesain untuk memperkuat sinyal suara/ bunyi, dengan mengatur tombol volume.  Tidak terjadi menciut/mendenging (feedback) dari suara yang dikuatkan.  Feedback dapat disebabkan oleh beberapa keadaan, diantaranya: Cara penempatan/pemasangan mikrofon, loudspeaker, volume ampli/mixer dll.

Audio

Audio adalah suara/bunyi yang dihasilkan oleh getaran suatu benda. Agar dapat tertangkap telinga manusia, getaran tersebut harus cukup kuat yaitu minimal 20 kali per detik. Jika kurang dari itu, telinga manusia tidak akan mendengar. Getaran suatu benda diukur dengan satuan cycles per second (cps) [dikenal dengan Hertz (disingkat Hz)]. Daya tangkap pendengaran manusia secara teoritis dari 20 Hz sampai 20 kHz. Loudspeaker yang digunakan untuk mengeraskan bunyi/suara dengan harga yang mahal belum tentu cocok di suatu tempat (Masjid), karena kondisi dan karakteristik permukaan dinding serta geometri Masjid sangat berperan, selain lokasi Masjid.  Bila memungkinkan, dalam penetapan pemasangan tatasuara, pilih mikrofon dan luodspeaker yang paling bagus sesuai dengan budget yang ada, karena kunci sistem tata suara ada pada pemilihan mikrofon dan loudspeaker yang digunakan, bukan pada sistem antara (amplifier, mixer dll.)

Akustik dan Akustik Ruang

Akustik adalah gejala perubahan suara karena sifat pantul benda atau objek pasif dan media hantar dari alam, sedangkan ilmu akustik erat kaitannya dengan suara. Suara adalah sebuah fenomena turut bergetarnya medium akibat getaran yang terjadi.

Akustik ruang sangat berpengaruh dalam reproduksi suara yang dihasilkan pembicara, misalnya artikulasi (pengucapan kata demi kata yang baik dan jelas).  Akustik ruang tertutup banyak dikaitkan dengan empat hal, yaitu: 1). Perubahan suara karena pemantulan, 2). Bahan dalam suatu ruangan yang terkait dengan perubahan bunyi/suara, 3). Rancangan geometri bangunan ruang yang berpotensi menghasilkan (gema dan gaung) dan 4). Gangguan suara [suara tembus dari ruang lain atau sekitar (disebut juga bising (noise))].

Kejernihan/kejelasan “bunyi/suara” bagi penerima (pendengar) sangat diutamakan (penting), supaya kata/kalimat sumber bisa dimengerti, karena itulah yang menjadi tujuan sistem penguat suara.  Jadi kejernihan/kejelasansuara” dalam ruang tertutup berkaitan dengan bentuk geometri ruang, volume ruang dan faktor pantul permukaan (diding, lantai dan langit-langit) ruang.  Bila permukaan licin (mengkilap), pantulan akan besar.  Makin licin permukaan makin besar pantulan, akan muncul yang disebut dengan gema dan/atau gaung.  Makin kasar permukaan, makin kecil pantulan, artinya terjadi penyerapan suara, gema/gaung berkurang.

Gema, Gaung dan Bising

Gema

Apabila jarak sumber bunyi dibuat bertambah jauh terhadap pemantul, maka akan terdengar bunyi pantul yang utuh sesudah bunyi asli.  Bunyi pantul yang terdengar utuh sesudah bunyi asli dinamakan gema. Cara mengatasi gema satu diantaranya adalah dengan meniadakan pantulan.

Gaung

Proses terjadi gaung hampir sama proses gema. Perbedaan, pada gema jarak sumber bunyi dengan dinding pemantul dan waktu yang diperlukan gelombang bunyi dari sumber terdapat selisih waktu pendek.  Karena selisih waktu yang pendek dan pantulan terjadi beberapa kali, maka bunyi asli terdengar tidak jelas. Diperparah lagi apalagi permukaan berhadapan dan sejajar.  Kata yang diucapkan menjadi kabur (tak jelas).  Jadi gaung terjadi karena gerlombang bunyi/ suara dipantulan beberapa kali oleh permukaan ruang yang berhadapan (sejajar). Apalagi bila dikuatkan/dikeraskan memakai alat penguat elektronik [atau volume ampli atau mixer pada posisi besar], maka suara/bunyi (kata-perkata/perkalimat) akan lebih tidak jelas terdengar, sehingga apa yang diucapkan (kata/kalimat) tidak dimengerti, membingungkan, bahkan terasa sakit ditelinga.

Untuk mengatasi suara kabur [tak jelas dan dengung/gaung] dalam ruangan besar seperti Masjid dan gedung pertemuan, maka bahan bagian-bagian bangunan [dinding, lantai atau langit-langit dll.] gunakan bahan dengan pantulan kecil [artinya menyerap].  Sebaiknya saat perancangan bagian-bagian bangunan bahan (dinding, lantai dan langit-langit) ditetapkan, dimana saja dipasang pemantul dan penyerap suara.

Bising (noise)

Bising (noise) adalah suara yang tidak diharapkan akibat dari suatu kegiatan atau peralatan dalam tingkat (level) dan waktu tertentu, sehingga mengganggu pendengaran.  Bising adalah cabang dari ilmu akustik.  Bising dapat menimbulkan gangguan kepada kenyamanan lingkungan dan kesehatan manusia.

Memperkeras Suara/Bunyi

Pendengar yang berada sejauh tertentu dari sumber suara tidak dapat mendengar dengan baik, jelas/jernih.  Hal ini karena bunyi/suara yang merambat diserap oleh media penghantar, maka kekerasan (daya) suara tambah jauh dari sumber tambah menurun.  Apalagi ada bising lingkungan (noise). Memperkeras suara agar dapat didengar lebih jauh dari sumber dilakukan dengan berbagai cara:

Bila diruang terbuka, secara alami dikeraskan secara mudah (sederhana) adalah dengan kedua tangan membentuk corong ditempelkan dimulut sumber (suara), atau dirancang alat seperti corong.  Corong ditempelkan pada sumber dan berada ditempat yang lebih tinggi dari pendengar.

Bila diruang tertutup, secara alami dapat dikeraskan dengan: Pembicara berada pada tempat yang lebih tinggi dari pendengar. Merancang alat (dinding) pemantul suara ditempat-tempat tertentu awal bangunan dibuat.

Jadi sumber berdiri atau duduk di kursi ditempat yang lebih tinggi dari pendengar yang duduk (dilantai) lebih baik daripada sama-sama tinggi (duduk) [lebih jauh jangkauan terdengar]. Cara lain, sumber berada dilokasi dinding pemantul.  Bila pematulan sudah digunakan, sumber masih lemah (pelan), baru pengeras suara elektronik digunakan.

Perhatikan perlakuan berikut ini.  Bila penguat (speaker) di Masjid terdiri dari speaker corong ditempat yang tinggi (menara), speaker kotak atau kolom (array) dalam ruangan.  Pada suatu ceramah semua speaker dinyalakan, dimungkinkan suara terdengar tak jernih/jelas dalam ruangan.  Ini disebabkan karena telinga menerima suara seolah-olah dari beberapa sumber dengan berbeda waktu pada hal sumbernya satu.  Artinya penjalaran gelombang suara dari menara lebih lambat sampai ditelinga daripada speaker dalam ruangan. Diperparah lagi ada gema/gaung dan noise. Cara mengatasi hal ini adalah memadamkan speaker corong di menara. Cara ini tentu belum tuntas, karena masih ada gema dan noise, tapi sudah mengurangi perbedaan suara yang sampai ketelinga meskipun belum jernih/jelas.  Berikut mengurangi gema/gaung, caranya merancang dinding menyerap suara, bila masih tidak jelas hilangkan bising (noise). Noise dihilangkan mencegah sumbernya (bila dipinggir jalan tutup jalan saat acara dilaksanakan) Bila masih tidak jelas, artinya memang rancangan banguan itu tidak memperhatikan Akustik.

Jarak Jangkau Bunyi (Suara)

Hubungan sumber (bunyi/suara) terhadap pendengar bila dinyatakan dengan jarak [X (m)], menurut Sai and Wing (1986) bila sumber dengan tingkat kekerasan suara/bunyi antara 50 – 70 dBA maka: X sampai 15m. – released listening; X terletak antara 15m sampai 20m.  – good intelligibility; X terletak antara 20m sampai 25m. – satisfactory;  X  30 m. – limit of acceptabilitywithout electronic amplification.  Ketentuan ini tidak berlaku bila terdapat bising latar belakang (noise) dan tingkat kekerasan suara kurang dari 50 -70 dB.

Diatas, tulisan dB, Apakah dB itu? dB singkatan dari desibel. Desibel menyatakan satuan kekerasan (intensitas) bunyi. Bila masih bingung tentang tingkat kekerasan (intensitas) bunyi (suara), sebagai pengertian awal dan pembanding disekitar anda, penjelasannya sebagai berikut:

(1). Suara lemah (berbisik), 10 dB, (2). Bercakap-cakap, 40-50 dB, (3). Suara orang berbicara normal atau berbicara biasa, 60-70 dB, (4). Telepon berdering atau motor distarter, 80-85 dB, (5). Konser musik Rock, 100 dB – 120 dB, (6). Pengeboran perbaikan jalan raya, 115 dB, (7). Bunyi pesawat jet take off, 120-130 dB.  Itulah pengelompokan kekerasan suara sumber. Mudah-mudahan dapat membantu anda memahami tentang tingkat kekerasan suara.

Arti Batasan-Batasan Jarak Jangkau Bunyi/Suara

Perhatikan kembali ketentuan Sai and Wing [kekerasan suara sumber 50 – 70 dBA], maka: (1). Jarak sumber suara terhadap pendengar, kurang dari 25m, tidak diperlukan pengeras suara elektronik. (2). Jarak sumber suara dengan pendengar kurang dari 25 m yaitu 20 -25m, bila memakai penguat suara elektronik, apalagi pada jarak 15 m, berarti pemborosan energi listrik dan uang pembeli peralatan penguat elektronik mubazir. Untuk menambah kekerasan suara pada jangkauan sampai 25 m dari sumber suara, dapat gunakan dinding (bidang) pemantul berbentuk cekung atau tabung dibelah dua (setengah lingkaran atas dan bawah) atau cembung ditempat sumber suara berada. Masih tetap kurang jelas, atasi kebisingan luar, masih tetap kurang jelas, dilengkapi dengan pengeras elektronik, jadi penguat/pengeras suara elektronik adalah keputusan terakhir.

Bila masjid dengan ukuran 20 x 20 tak perlu penguat elektronik saat shalat dan khutbah/ceramah. Kecuali suara imam/khutbah lemah (kurang dari 50 – 70 dBA). Untuk Adzan tetap diperlukan penguat elektronik, apalagi radius hunian mencapai radius 1 km, volume ampli tidak perlu maksimal baik Subuh, Magrib maupun Isya. Untuk Lohor dan Ashar tentu agak besar karena ada noise.

Mikrofon, Amplifier dan Loudspaker

Berikut ini tentang speaker atau Loudspaker.  Teknologi di balik/belakang speaker, dapat dijelaskan secara sederhana sebagai berikut: Microphone (Bahasa Indonesia: Mikrofon) dipergunakan untuk mengubah sinyal suara menjadi sinyal analog.  Sinyal output mikrofon lemah, untuk dapat didengar oleh manusia, oleh karena itu sinyal tersebut diperkuat sesuai kebutuhan melalui tombol volume preamp-mikrofon dan amplifier (power Amplifier).  Sinyal yang telah diperkuat disalurkan melalui kabel ke speaker.  Speaker (loudspaker) merubah sinyal elektrik yang telah dikuatkan menjadi gerak mekanik sehingga diperoleh getaran pembangkit gelombang yang menyamai gelombang suara sumber agar dapat didengar manusia sampai jarak tertentu.

Kejernihan/kejelasan suara, sampai pada kejauhan tertentu di dalam ruang (masjid), itulah tujuan utama penguat suara. Jadi bukan asal dikuatkan saja dan/atau bukan pula peralatan penguat yang mahal.

Jangan dikatakan bila tidak memiliki pengeras suara, sesuai dengan Sunnah Rasul, bukan demikian dan/atau dikatakan kolot atau ketinggalan zaman (tidak modern). Itu penafsiran yang keliru.  Bila terjadi kejernihan/kejelasan suara secara alamiah bagi pendengar (jama’ah) sampai dikejauhan tertentu (misal dinding belakang masjid), kenapa harus pakai penguat suara elektronik, bila pakai penguat elektronik itu artinya pemborosan (alias mubazir). Gunakanlah penguat elektonik yang tepat guna, bukan tepat saja.  Dasar yang dijadikan “patokan/pegangan/ ukuranpemakaian penguat elektronik adalah: (1) Kejernihah/kejelasan, (2) Jangkauan kuat suara tertentu dipendengar (jama’ah) sampai keterjauh, (3) Menguatkan apa? Qamat, Takbir, Ceramah/khutbah atau adzan.

Menguatkan qamat, takbir, ceramah/khutbah dan adzan, masing-masing berbeda. Qamat, Takbir dan ceramah/Khutbah ditujukan untuk dalam MasjidAdzan ditujukan untuk luar masjid, maka dalam ruangan (bila adzan) cukup menerima dari menara saja, atau bila dinyalakan speaker dalam ruangan, tentu dengan kekerasan yang berbeda antara menara (luar) dengan dalam ruang. Jika dengan kekerasan sama, maka akan sakit telinga jama’ah yang berada dalam Masjid, atau terdengar kata/kalimat yang sama dengan waktu berbeda ditelinga sehingga tidak dimengerti.  Jadi sesuaikanlah dengan tujuan dan/atau fungsi penguatan, bila tidak sesuai akan terjadi yang tak diinginkan.

Loudspaker Kotak dan Kolom (Array)

Loudspaker (pengeras suara) dapat berbentuk corong atau kotak atau tersusun dalam kolom atau array [Bila butuh speaker kolom buat (rakit) saja sendiri, speaker kolom yaitu beberapa speaker dirangkai dalam bentuk rangkaian seri dan/atau parallel dalam kotak yang cukup panjang sesuai jumlah speaker yang disusun.  Silakan coba sahabat]. Merangkai sendiri, tujuannya agar tingkat kekerasan suara sesuai dengan kebutuhan, yaitu mengikuti keluaran ampli dan tingkat kekerasan suara yang nyaman pada bidang kerja, selamat mencoba sahabat.

Tujuan pengeras suara (loudspeaker) dan mikropon

Dari paparan diatas jelaslah bahwa tujuan menggunakan loudspeaker minimal empat: (1). Menguatkan/mengeraskan suara/bunyi, (2). Agar mutu (karakteristik) respons baik dan suara merata diseluruh titik, suara terdengar jernih/jelas, (3). Diharapkan lintasan datar, pendistribusian mencakup frekuensi audio dapat didengarkan dengan baik, (4). Keluaran rata-rata atau tingkat suara yang dihasilkan mencapai pendengar tak mengakibatkan osilasi berkelanjutan.

Bila penguat elektronik hanya untuk menguatkan/mengeraskan bunyi saja, maka akan terjadi suara/bunyi yang tidak jelas dan tidak dimengerti apa yang disampaikan.  Itu adalah perbuatan yang keliru/sangat salah ditinjau dari tujuan tatasuara.

Untuk optimalisasi sistem tatasuara dapat ditinjau dari dua sisi: mikrofon dan Loudspeaker.

Bila mikrofon dijadikan sebagai patokan, lakukan sebagai berikut:

(1). Mikrofon didekatkan pada pembicara, sehingga yang banyak ditangkap mikrofon adalah suara langsung pembicara.

(2). Mikrofon ditempatkan cukup jauh dari loudspeaker, sehingga pantulan suara langsung akan lemah kemikrofon, jadi tidak menjadi faktor pemicu terjadi umpan balik. Dalam hal ini posisi mikrofon terhadap loudspeaker sangat menentukan.

Bila loudspeaker dijadikan sebagai patokan, lakukan sebagai berikut:

1) Bila diperlukan pemusatan perhatian kepada sumber: (1) Letakkan speaker kotak atau kolom disekitar mimbar (mihrab) (diatas, kiri-kanan) mengarah ke pendengar (jama’ah). (2) Bila suara kurang memadai disuatu tempat maka tambahkan speaker yang ditujukan ketempat-tempat tersebut, tidak mengarah ke Mimbar (Mihrab), jadi arahnya dimiringkan kependengar dan menjauhi sumber suara.  Bila mengarah kesumber terjadi osilasi [berdenging, mencuit atau (umpan balik)].

2) Bila tidak diperlukan pemusatan perhatian kepada sumber (merata):  (1) speaker dapat ditempatkan tertentu di langit-langit mengarah kelantai. (2) Jumlah speaker sesuai dengan kerataan keras suara yang dibutuhkan.

3) Kekerasan bunyi/suara atur disesuaikan dengan kebutuhan (tidak lemah dan tidak terlalu kuat), enak/nyaman didengar.  Lakukan dengan mengatur tombol volume amplifier/mixer dll, baik untuk cara pemusatan perhatian ataupun merata.

Nah sahabat, anda sudah selesai membaca tulisan ini. Sahabatku, tulisan ini bersambung dengan dua tulisan lain yaitu:
Riwayat Ringkas Tatasuara (Pengeras Suara) dan Akustik Masjid: Dimasa Nabi, Sahabat, Khalifah dan Sekarang https://lizenhs.wordpress.com/2014/07/30/riwayat-ringkas-tatasuara-dan-akustik-masjid-dimasa-nabi-sahabat-khalifah-dan-sekarang/ dan
Riwayat Ringkas Bagian-bagian Bangunan Masjid: Dimasa Nabi, Sahabat, Khalifah dan sekarang.

https://lizenhs.wordpress.com/2014/07/07/riwayat-ringkas-bagian-bagian-bangunan-masjid-dimasa-nabi-sahabat-khalifah-dan-sekarang/   Selamat membaca dua tulisan itu, semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

Al Hasan, Ahmad Y. dan Donald R. Hill (1993). “Teknologi Dalam Sejarah Islam”. (alih bahasa Yuliani Liputo). Penerbit Mizan. Bandung

Orfali, Wasim. (2008) “Sound Sense: in the first of a series Featur, offers an Introduction to the architectural defelopment and acoustics of Mosque”.  Worship Audio Asia, Winter.

Sai-kwok Wong and Wing-yin Ho (Winnie), (1986).  Auditorium Acoustic Design: Hong Kong Academy for Performing Arts. Department of Architecture. University of Hong Kong.

Kinsler, Lawrence E and Frey. Austin R. (1962).  Fundamentals of Acoustics.  Second Edition.  John Wiley & Sons, INC.  New York.

Beberapa pustaka tidak ditampilkan.

Terima kasih atas kunjungan anda (sahabat)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: