Posted by: lizenhs | May 23, 2014

SEJARAH PEMBENTUKAN KEPANDUAN DI KAMPUS ITB dan KEGIATAN LATIHAN

SEJARAH PEMBENTUKAN KEPANDUAN DI KAMPUS ITB dan KEGIATAN LATIHAN

Oleh: Haslizen Hoesin

 Prakata

Tulisan ini ditulis berdasarkan beberapa arsip Gudep 104-105, pembicaraan dengan beberapa pelatih/Pembina, buku-buku yang diterbitkan, laporan dan pengalaman penulis sebagai pelatih.  Tulisan penekanannya pada pembentukan dan kegiatan latihan diawal pembentukan dan beberapa tahun kemudian (setelah terbentuk).  Maaf yaaaa, kepada para, Pembina, Pembantu Pembina dan anggota Pramuka yang tak tertera namanya pada tulisan atau kurang/salah penulisan nama. Ini hanya sejarah/riwayat ringkas, pembangkit semangat kepanduan Pramuka dan/atau sebagai bahan atau bisa juga sebagai evaluasi kegiatan Pramuka. Selamat membaca dan bernostalgia, semoga (mudah-mudahan) bermanfaat dan diamalkan.

Salam Pramuka

Pramuka di kampus ITB telah berdiri dua kali:

Pertama diresmikan di Masjid Salman ITB.  Di Salman persemian dilakukan hari Selasa sore, 22 Juni 1965 bersamaan dengan peresmian menara masjid Salman, kemudian dilajutkan ceramah oleh Prof. T.M. Soelaiman dengan tema surat Al-Ashr. Hadir waktu itu diantaranya Wakil Gubernur Jawa Barat, Walikota Bandung, wakil Pangdam Siliwangi dan Panca Tunggal Jawa Barat.  Catatan aktifitas Pramuka Salman ITB belum ditemukan saat tulisan ini dimuat pada Blog Bukik Ranah Ilmu.

Kedua diresmikan di lapangan kecil yang terletak antara Gedung Aula Barat dengan dinding (tembok) jalan masuk (gerbang) kampus ITB (jalan Ganasha) [sebelah Timur gedung Aula Barat dan sebelah barat dinding (tembok) jalan masuk (Gerbang) kampus ITB].  Peresmian ini disebut peresmian interen, dilaksanakan pada tgl 12 Maret 1972 oleh Raktor ITB Prof Dr Dody Tisna Amijaya. Terkenal dengan Gugus Depan ITB.

Pembentukan Gudep di Kampus ITB

Pembentukan kepanduan Pramuka di kampus ITB dimulai dari suasana “kekeluargaan” dalam Keluarga Besar ITB.  Tahun 1970 suasana kekeluargan itu semakin terasa sejak didirikan Ikatan Wanita Keluarga Institut Teknologi Bandung (IWK ITB) dengan berbagai macam bentuk kegiatan.

Pada rapat pengurus IWK – ITB tanggal 17 Juni 1970 seksi “Kesibukan Anak-anak” yang diketuai oleh ibu Sri Raras (nyonya  Harsono) menyampaikan program kerja terdiri dari 6 kegiatan yaitu: 1). Hari anak-anak diadakan pada serangkaian perayaan 17 Agustus 1970, 2). Hasta karya anak-anak, 3). Membentuk Pramuka di ITB, 4). Film anak-anak/sulap/sandiwara anak-anak tiap 2 bulan sekali, 5). Piknik bersama atau bermain bersama dilapangan, 6). Pameran hasil hasta karya anak-anak sekali dalam 2 tahun.  Dari keenam kegiatan, rapat secara bulat menyetujui program ke tiga yaitu mendirikan Pramuka di ITB.  Pengurus IWK – ITB mengajukan persetujuan kepada Rektor ITB Prof Dr. Dody A. Tisna Amidjaja. Program IWK-ITB disetujui Rektor.  Sepekan setelah mengajukan permohonan diterima Rektor, pengurus IWK – ITB terdiri dari Ibu Dien [ibu Dien Sardinah (nyonya Dodi A Tisna Amidjaja)], ibu Yooce [Sekarningrum Wirakusumah (nyonya Wiranto)], ibu Ray Velentine Haksini (nyonya Sosrowinarto) dan ibu Sri Raras (nyonya Harsono) dimohon menghadap Rektor untuk mengkongkritkan program tersebut.  Saat penerimaan Ibu-ibu IWK, Rektor didampingi oleh pembantu rektor III Bapak Wiranto Arismunandar.  Dari pertemuan tersebut, Rektor mendukung sepenuhnya mendirikan kepanduan Pramuka di lingkungan ITB.  Dengan kata lain, ITB mendukung sepenuhnya usaha mendirikan kepanduan Pramuka dilingkungan ITB.

Dari beberapa informasi diketahui pula, bahwa di ITB terdapat tokoh-tokoh pandu/pramuka.  Sedangkan Ibu-ibu IWK: ibu Dien [Dien Sardinah (nyonya Dody), ibu Ray Valentine Haksini [nyonya Sosrowinarso], ibu Sekarningrum Wirakusumah (Yooce) [nyonya Wiranto Arismunansar], ibu Sri Raras [nyonya Harsono], adalah ibu-ibu penggerak awal berdiri Pramuka.

Pimpinan ITB maupun pengurus IWK menghubungi para tokoh-tokoh pandu/Pramuka. Pertama yang dihubungi adalah Ir Benny Soepangat Soemarto dan ibu Parwati Soepangat diminta kesediaan menjadi pengelola Gugus Depan. Keduanya bersedia dan menyanggupi.  Pak Benny Soepangat Soemarto pada saat itu aktif pula di Kwarcap Kodya Bandung, sehingga memudahkan hubungan dengan Kwartir Cabang untuk mempersiapkan penyelenggaraan Gugus Depan Persiapan ITB.

Bersamaan dengan Pimpinan ITB menghubungi para tokoh pandu/pramuka di ITB. Rektor ITB melalui pembantu rektor III (Ir. Wiranto Arismunandar, MSME), membuat Surat Pengumuman nomor, 858/Peng/PRM/ITB/’72, bertanggal 26 Februari 1972, berisi:

1). Mengajak para mahasiswa yang masih/pernah menjadi pramuka/pandu diharapkan untuk segera mencatatkan sebelum tgl 7 Maret 1972 ke kantor Dewan Mahasiswa ITB. Up Ketua I DM ITB.

2). Para staf Pengajar/karyawan non-dosen yang masih/pernah menjadi pramuka/pandu, diharapkan untuk segera mencatatkan diri sebelum tgl 7 Maret 1972 ke pembantu Rektor Urusan kesejahteraan mahasiswa Ir Wiranto Arismunandar MSME dan Ir Soepangat Soemarto M. Sc.

3). Kepada segenap anggota keluarga sivitas akademika ITB yang ber usia 8 – 16 tahun dan berminat untuk menjadi Pramuka diharapkan untuk mencatatkan diri sebelum tgl 7 Maret 1972 kepada pengurus IWK ITB.

Berdasarkan pengumuman tersebut para dosen, karyawan, ibu-ibu dan mahasiswa yang bersedia membantu gerakan kepanduan Pramuka diantaranya: Pak Harun Halim, Ibu Ummi Dahlan, Ibu Maemunah (nyonya Anwari), Ibu Ani (nyonya Tjipto Oetomo), kak Tatang Suparman.  Dikalangan mahasiswa diantaranya kak Soparno (Suparno Satira), kak Pudjo Purwanto, kak Intan dll.

Peresmian Kepanduan Pramuka ITB

Pada Tanggal 10 Maret 1972 Pembantu Rektor III mambuat surat kepada mereka yang bersedia menjadi Pembina/pelatih pramuka ITB yaitu surat no. 863/thd/PRM/ITB/72, isinya memohon hadir pada Hari Minggu, tgl 12 Maret 1972, pkl 9.00, pada peresmian kepanduan Pramuka ITB. Peresmian kepanduan Pramuka ITB dilakukan dilapangan kecil yang terletak antara gedung Aula Barat dengan dinding (tembok) jalan Gerbang Masuk Kampus. Acara peresmian kegitan ke kepanduan Pramuka Institut Teknologi Bandung  tgl 12 Maret 1972 dilakukan oleh Rektor ITB Prof. Dr. D.A. Tisna Amidjaja dengan upacara sederhana.  Upacara pesmian ini dilakukan, agar aktifitas kepanduan pramuka dapat berjalan. Peresmian ini terkenal dengan sebutan “peresmian intern”.

Peresmian intern dihadiri oleh 39 anggota (15 putra – 24 putri) pramuka yang merupakan putra-putri dosen dan karyawan ITB. Para Pembina terdiri dari karyawan, dosen, mahasiswa ITB dan orang tua anggota Pramuka. Peresmian intern kepanduan Pramuka ITB dipimpin kak Abdurrahman.  Dari foto pelantikan (foto tahun 1972) diketahui yang hadir pada acara pembukaan dari kiri-kekanan berturut-turut Badruzzaman (baju kotak-kotak) (FA 69),   Sutarno (TI), Pudjo Purwanto (FA 64), Suparno Satira (FI 68).  Dosen yang hadir: Pak Harun Halim (Kimia), Ibu Umi Dahlan (Seni Rupa).

Pada presmian internini para dosen, karyawan dan mahasiswa memakai pakaian biasa, belum berpakaian pramuka.  Beberapa pekan/bulan berjalan latihan setelah peresmian interen, satu persatu Pembina/pelatih ikut bergabung seperti Tres (Tresnawati), Luky (Irma Luky Damayanti), Zen (Haslizen Hoesin) kemudian Kushandoyo.  Berikutnya Yuyun (Yunani K), Barti (Barti Setiani), Masnah dan Yenny.

Setelah peresmian “interen”, sekretariat Pramuka menempati ruangan di Gedung Serba Guna (GSG) Barat berdampingan dengan kantor Pos ITB.

Setiap latihan, pembukaan dilakukan di lapangan Aula Barat.  Selain dilapangan kegiatan latihan dilakukan di selasar Aula Barat. Latihan pun berpindah-pindah diantaranya: lapangan selatan Senirupa, ditempat Ibu Umi bekerja, dilapangan sepak Bola ditengah kampus.

Karena latihan sering dilakukan di lapangan Gedung Aula Barat, ruang sekretariat (sanggar) diusulkan untuk dipindah ke ruang selasar Gedung Aula Barat bagian selatan, disebelah ruang Berita-Berita ITB (BB-ITB) ternyata disertujui. Ruang ini penuh dengan berbagai macam kertas bekas Fakultas Teknik UI Bandung (seperti kop surat Universitet Indonesia Fakultet Teknik Bandung) dan barang-barang alat tulis. Oleh karena itu, kakak Pelatih/Pembina dan adik-adik Pramuka didampingi kakak Mabigus, bergotong-royong membersihkan ruangan. Secara bertahap ruang diisi dengan meja-meja panjang, kursi dan kursi panjang, rak pustaka, rak tempat tas-tas anggota, lemari tempat peralatan kegiatan pramuka, rak tempat tiang bendera seperti bendera Indonesia, bendera Gudep, bendera Pramuka, bendera Regu, bendera Barung dan tongkat pramuka dll.

Sejak peresmian “interen” selama beberapa bulan latihan, belum mengenal pakaian seragam pramuka, juga belum dipisah pengalang dan siaga. Latihan dilaksanakan tiap hari Minggu pukul 8.00 sampai 10.00.  Kegiatan latihan hanya baru dipisah laki-laki dan perempuan. Setelah pemisahan Siaga dan Penggalang baru terlihat pakaian seragam pramuka meskipun model pakai belum seragam.  Pakaian seragam pramuka dipakai bila telah menenuhi beberapa persyaratan dan telah dilantik, persyaratan itu seperti: kehadiran dan keterampilan (tanda kecakapan), bagi yang kurang kehadiran dan sudah dilantik walaupun ketrampilan belum dimiliki, diperbolehkan memakai pakaian seragam, tapi belum lengkap. Kelengkapan pakaian dipakai juga bertahap seperti celana atau baju, ikat pinggang, topi, dasi dan tanda gudep. Urutan ini diikuti dengan keterampilan yang didapat. Dengan ketentuan ini terlihat keseriusan anggota (siaga dan penggalang) mengkuti latihan bahkan merasa bangga memakai pakaian pramuka karena telah dilantik dan telah memiliki tanda kecakapan (keterampilan).  Jadi artinya bila mereka sudah berpakain lengkap berarti sudah dilantik dan telah resmi jadi anggota Pramuka dan juga memiliki ketermpilan.

Nomor Gudep dan Sanggar

Gerakan kepanduan Pramuka ITB pada awal peresmikan Kwarcap dengan nomor Gudep 104-105 kemudian berubah menjadi 0605-0606, akhirnya 06005-06006.  Sekretariat (Sanggar) Pramuka berpindah-pindah, mulai dari Ruang dibagian belakang Student Centre Barat (menghadap lapangan Basket) bersebelahan dengan kantor Pos ITB, pindah ke ruangan Selasar Aula Barat sebelah Selatan (menghadap lapangan Aula Barat) bersebalahan dangan BB-ITB, pindah ke gedung Ex-BRT (Biro Rumah Tangga). Terakhir berada di Sunken Court ITB ruang W-02 bersama unit-unit kegiatan mahasiswa ITB jang lain.

Pelatih/Pembina

Setelah pemisahan laki-laki prempuan maka: Pelatih laki-laki: kak Benny Soepangat  Soemarto, kak Harun Halim, kak Suparno, kak Pudjo Purwanto, Kak Tatang, kak Badruzzaman kak Boni, kak Ajatsudradjat dan kak Abdurrahman.  Pelatih putri: Kak Parwati, kak Ummi Dahlan. kak Maemunah (nyonya Anwari), kak Ani (nyonya Tjipto Oetomo), kak Sri Raras (nyonya Harsono), kak Intan, kak Tini, Kak Taty Supardi dll. Pernah pula ikut melatih kak Adjat Sudaradjat, kak Abdurrahman, kak Mien, kak Anida Badar mereka itu adalah dari kwarcap Kodya bandung.

Setelah beberapa kali latihan, pada pramuka Putri ikut bergabung kak Djudju Djuhairiah dan Kak Tresnawati dan kak Irma Lucky Damayanti, sedangkan pada Pramuka Putra: kak Haslizen Hoesin, kak Koeshandoyo dan kak Mahjaranto.

Pelatih/Pembina Gudep ITB (1972 -1973)

Karena pelatih sudah memadai maka di bentuk pengalang putra dan putri, Siaga Putra dan Putri.

Pelatih/Pembina Siaga Putri: Bunda Parwati, Umi (Umi Dahlan), Intan, Luky (Irma Luky Damayanti), Tini, Tati Soepardi dan lain-lain.

Pelatih/pembina Siaga Putra: Yanda Harun (Harun Halim), Badrus (Badruzzaman), Zen (Haslizen Hoesin), Liliek Waloeyo Hadi. dll.

Penggalang Putri: kak Intan, kak Raras, kak Maemunah, Kak Tres (Tresnawati), kak Djudju (Djuhairiah) dll.

Penggalang Putra: Kak Suparno, kak Koeshandojo Ariono, kak Mahjaranto dan kak Tatang Suparman.

Tahun 1973 bergabung lagi, Agus Haryanto sebagai pelatih/Pembina penggalang Putra. Yuyun (Yunani K), Yulinah T sebagai pelatih/Pembina siaga Putri.  Kak Barti (Bartisetiani), Masnah dan Yenny sebagai pelatih/pembina penggalang Putri.

Setelah penerimaan Mahasiswa Baru, tahun 1973 dan tahun-tahun berikutnya bergabung Ridho, Irdam Adil, Nadjaji, Mono, Bangun Mulyo, Angeline, Yuniarso Ridwan, Jusnadi,  Hanny, Mamah (Marhamah), Machdum, Widjajakusuma, Soemantri Widagdo, Irawan Adisuko, Bety, Suwito Anggoro, Wiweko Tedjosoewono, Sukojo, Agus Irawanto, Djedi Widarto, Hendro Tjahjono, Anna Reani, Awal Nug, Johannes Tjandra Pramudito, Edi Gondowardojo, Setyo Utomo, Isnuwardianto dan Yudith Harijanto, Anto, Ismi Andayani dll.

Penegak, tgl 26 Agustus 1973 membentuk Ambalan dengan nama Sapta Tri Putra.  Setelah terbentuk Pandega, kekurangan pelatih dapat teratasi dan dirancanglah baju untuk pandega dan pelatih Putri.  Anggota penegak, ada yang akif : di Kwarcap, bergabung jadi pelatih seperti:

Angeline, Hanny, Mamah (Marhamah), dll. Pelatih Siaga Putri

Mono (Sumono Budio) dan Nadjadji Anwar, Yuniarso Ridwan, Agus Irawan, Yusnadi dll. Pelatih Siaga Putra.

Bety, Awal Nug dll. Pelatih Penggalang Putri.

Ridho, Irdam Adil, Suwito Anggoro, Wiweko Tedjosoewono dll. Pelatih Penggalang Putra.

Dari tahun-ketahun setelah penerimaan mahasiswa baru anggota Pramuka dari mahasiswa bertambah dan sesudah wisuda berkurang karena telah menyelesaikan pendidikan.  Demikian pula dari penggalang dan siaga, setiap tahun ajaran ada yang masuk dan keluar/pindah. Memang hal ini harus diakui, bahwa sebenarnya meraka bukan mengundurkan diri dari kepanduan, tapi adalah non aktif untuk sementara atau tidak aktif di Gudep ITB atau mungkin saja aktif (pindah) ketempat lain, sebab di kepanduan tidak ada istilah berhenti dan mengundurkan diri, yang ada adalah tak dapat aktif sepenuhnya dalam bentuk kegiatan harian.  Kepanduan adalah suatu kegiatan sepanjang hidup, bersifat sukarela dan sosial.

Peresmian Gudep oleh Kwarcap

Setelah beraktifitas satu tahun, tanggal 11 Maret 1973 gerakan kepanduan Pramuka ITB diresmikan oleh Kakwarcap Kodya Bandung kak Adjat Sudradjat, bertepatan dengan ulang tahun pertama gerakan kepanduan Pramuka ITB sebagai Gugus Depan Kodya Bandung.  Peresmian Gudep dan Majelis Pembimbing dan Pembina Gerakan Pramuka Gugus Depan ITB Kodya Bandung dilaksanakan di kampus ITB (dilapangan Aula Barat).  Inilah pengalaman pertama Gugus Depan menyelenggarakan kegiatan besar yang diikuti semua anggota, orang tua anggota dan dihadiri Pandu tamu dari Papua New Guinea.

Peresmian ditandai dengan:  Penyematan Tanda Jabatan kepada Prof. Dr. D.A. Tisna Amidjaja (mewakili seluruh anggota Mabigus).  Penyerahan bendera Gudep 104 kepada Pembina Gudep Putri Kak Parwati Soepangat.  Selanjutnya penyerahan Bendera Gudep 105 kepada Pembina Gudep Putra Kak Benny Soepangat Soemarto.  Peresmian Gudep disemarakkan  dengan acara Persami, diikuti segenap anggota Pramuka Gudep ITB.  Dilanjutkan dengan atraksi Tari Semapur oleh Siaga.  Pemutaran film di LFM ITB. Dengan pelantikan ini kepanduan Pramuka ITB resmi sebagai Gugus Depan Kodya Bandung dengan nomor 104 – 105, ketua Majelis Pembimbing Dan Pembina Gerakan Pramuka Gugus Depan Kodya Bandung adalah Rektor ITB bapak Prof. DR D.A. Tisna Amidjaja sebagai Ketua, dibantu dua Wakil ketua, dua Sekretaris, satu Bendahara dan tiga belas anggota, terdiri dari staf pengajar, karyawan dan mahasiswa.

Organisasi

Setelah dilantik oleh Kwarcap, Majelis Pembimbing Gerakan Pendidikan Kepanduan Praja Muda Karana Gugus Depan 104 -105 menerbitkan surat no. 08/MP/73, mengenai Susunan Pembina Gerakan Pramuka Gudep terdiri dari: Pembina Gugus Depan, Pembina Pembantu Gudep, Pembina Siaga, Pembantu Pembina Siaga, Pembina Penggalang dan Pembantu Pembina Penggalang.

Suatu hal yang khusus di ITB adalah ketidak kontinuan Pembina/Pembantu Pembina berada ditempat dan/atau melanjutkan pendidikan ke Manca Negara atau bertugas keluar kampus.  Mahasiswapun datang dan pergi (Mahasiawa baru dan/atau Mahasiswa lama praktek kerja).  Untuk kelancaran latihan seperti urusan administrasi, keuangan, perlengkapan dan perpustakaan, tanggal 14 April  1974 pada pertemuan harian dibentuklah Pengurus Harian, terdiri dari Ketua (tiga orang), Sekretaris (dua orang), Bendahara (dua orang), Acara (empat orang), Perlengkapan (dua orang), Perpustakaan (satu orang), Pengumpul iuran siaga (dua orang) dan penggalang (dua orang).  Jumlah tersebut untuk mengantisipasi ketidak hadiran pengurus dan kelancaran latihan.

Pada tanggal 14 Juli 1974 diadakan Arena Siaga sekota Bandung. Diselenggarakan oleh Kwarcab Bandung bersama Pembina Siaga. Bertempat di Gugus Depan 104 – 105. Diperkirakan akan hadir 2000 orang. Berdasarkan data dipendaftaran, diikuti oleh 1512 Siaga putra-putri dari 62 Gugus Depan. Inilah pengalaman kedua Gudep 104-105 menyelenggarakan kegiatan besar yang diikuti oleh peserta sekodya Bandung. Selengkapnya baca  PRAMUKA: ARENA SIAGA ‘74 DI GUDEP 104 – 105 (KAMPUS ITB). https://lizenhs.wordpress.com/2014/05/03/pramuka-arena-siaga-74-di-gudep-104-105-kampus-itb/

 Kegiatan Latihan

Cara penyampaian pendidikan (latihan) yang dilakukan dengan metoda pendidikan sambil permain atau belajar yang disampaikan dengan permainan baik untuk individu maupun kelompok (Barung/Regu).  Pendidikan yang disampaikan (dikemas) dalam bentuk permainan/bermain itu, bertujuan agar anggota: 1). Disiplin 2). Rapih dalam berpakaian, 3). Saling kasih-sayang, tolong-menolong dan hormat-menghormati sesama anggota, 4). Taat/patuh kepada aturan kepanduan Pramuka dan aturan/kesepakatan yang dibuat dalam barung/regu, 5). Bertangung jawab akan tugas yang diberikan, 6). Meningkat kemampuan perorangan (mandiri). 7). Meningkat kemapuan dalam kelompok (memimpin dan dipimpin), 8). Meningkat minat/kesukaan membaca sebagai bahan diskusi/debat dan 9). Menumbuhkan kesukaan menulis baik mengenai suatu karangan maupun laporan dari apa yang telah dikerjakan. Mengenai membaca dan menulis baca pada Ayo ca-lis-tung Belajar dan Menulis klik disini https://lizenhs.wordpress.com/2008/12/23/ayo-ca-lis-tung-belajar-dan-meneliti/ dan juga Hidup ini Indah dengan Membaca, kemudian buat dan sampaikan https://lizenhs.wordpress.com/2010/03/27/hidup-ini-indah-dengan-membaca-kemudian-buat-dan-sampaikan/

Permainan tersebut diwujutkan dan disusun dalam bentuk jadwal kegiatan latihan (pendidikan) rutin tiap Minggu agar tercapai tujuan dan dapat diukur.  Kegiatan latihan dikelompokkan dalam 3 jenis yaitu:

Kegiatan dalam Gudep diantaranya: tali-temali, semapur, morse, menara, menjahit, membaca arah (kompas), mengetahui arah angin, P3K, masak-memasak, diskusi/debat, mengunjungi laboratorium, berkemah satu hari, perkemahan Sabtu-Minggu (Persami) dll.

Kegiatan keluar Gudep diantaranya: latihan bersama dengan gudep lain.  Mengikuti acara yang diadakan oleh gudep lain.  Mengikuti acara yang diadakan organisasi lain atau organisasi kemasyarakatan (sosial).  Mengikuti acara Kwarcap, mengunjungi rumah Panti Asuhan dan/atau Panti Jompo.  Perjalanan dengan Kereta Api kesuatu tempat perkemahan satu hari (anggota ke Stasiun dari Gudep berangkat per barung/regu naik angkot dan antri membeli karcis) pulang dengan truk terbuka.  Membantu kegiatan ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha (panitia qurban membagikan daging) dll.

Acara khusus/kerjasama dalam lingkungan ITB seperti: ulang tahun Gudep, berpartisikasi dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan di lingkungan ITB seperti: Keluarga Donor Darah (KDD), Mahawarman, Bandar Karima, Orientasi Studi (OS), Keluarga Mahasiswa Seni Rupa (KMSR), TPB dll.

Materi latihan

Latihan dilaksanakan tiap Minggu dari pukul 08.00 sampai 10.00, anggota diharapkan hadir 15 menit sebelumnya dan bagi yang akan ujian disediakan waktu dari pukul 10.00 sampai 11.00.

Agar kegiatan latihan terarah maka disusun Jadwal latihan beserta materinya (disebut materi tetap) dan selingan, berikut pelatihnya.

Latihan tetap/rutin terdiri dari:

1). Acara Pembukaan terdiri dari: Persiapan upacara seperti: mengisi daftar hadir dan menyerahkan iuran, membersihkan ruang sanggar, pemeriksaan kebersihan dan kerapian seragam.  Pelaksanaan upacara terdiri dari pengibaran bendera, pembacaan janji dan do’a, menyanyikan lagu dilanjutkan dengan olah raga ringan dan pemeriksaan tugas.

2). Acara Pokok terdiri dari: Pelaksanaan dari kegiatan yang telah dirancang/ditetapkan satu semester sebagaimana yang telah dijadwalkan.  Ujian-ujian dan Pelantikan.

3). Acara Selingan: Merupakan acara untuk menghindarikan kebosanan atau menambah daya tarik latihan.

4). Acara Penutup terdiri dari: Penurunan Bendera.  Berdo’a.  Pengumunan pemenang dan tugas-tugas untuk latihan Minggu depan.

Dalam praktek, acara dilaksanakan dengan metoda: bermain sambil belajar, belajar sambil praktek dan kadang-kadang dilombakan baik perorangan maupun kelompok (barung/ regu).  Materi latihan disusun bukan seperti pelajaran dikelas.  Karena Pramuka adalah pendidikan diluar sekolah, dan anggota bukan pula dari satu sekolah.  Disinilah keunikan pendidikan kepanduan, anak didik (dari berbagai sekolah), sehingga pergaulan bertambah luas dari beragam keadaan dan latar belakang keluarga.  Apalagi ditingkat mahasiswa hal ini lebih terasa karena berasal dari berbagai Kampung, Kota, Provinsi dan Suku di Indonesia. Disinilah muncul peningkatan pemahaman beragam tapi satu, saling memberikan informasi dan mengetahui budaya masing daerah baik dalam cara bergaul dan intonasi/logat bicara/bahasa. Terasa sekali bahwa Indonesia itu kaya budaya dan saling menghormati.

Untuk mencapai tingkatan tertentu seorang anggota pramuka harus memenuhi beberapa syarat kecakapan umum dan khusus.  Untuk mencapaian tingkatan tertentu itu diadakan ujian-ujian. Kelulusan dalam ujian diutamakan pada: kemampuan menyampaikan pendapat, daya tangkap terhadap suatu masalah dan faktor usia.  Ujian dilakukan umumnya dalam bentuk lisan (Tanya-jawab langsung).

Agar latihan tetap menarik dan tidak membosankan maka selain dilapangan terbuka Gudep, sekali sebulan (dua bulan) dibawa mengunjungi laboratorium-laboratorium seperti: seni rupa, fisika, biologi, kimia, tambang, teknik penyehatan (lingkungan), Mesin, elektro arus kuat dan lemah, teropong bintang Bosca Lembang dll.

Untuk latihan kebersamaan dibawa keluar Gudep jarak dekat dan jauh.

Jarak dekat berjalan kaki pesawahan disekitar Dudep seperti ke lebak Siliwangi, jalan dipematang sawah, menemukan/melihat binatang dan ikan di sawah, menyeberang sungai (Cikapudung) dari lebak Siliwangi ke pemandian Cihampelas melintasi dalam air, melintas jembatan dari bambu atau tali, memanjat tebing, membuat tenda dilapangan terbuka (diperhentian terakhir perjalanan).

Jarak jauh pergi ke alam terbuka seperti: keperbukitan, perkebunan pemerintah (tanaman keras, teh) dan kebun petani (tanaman sayur mayur, ubi-ubian), Gua Alam dan Buatan, hutan lindung, ketelaga/situ dll.  Selama perjalanan dihutan diperkenalkan pohon, buah-buahan, sayur-sayuran, daun-daun yang bisa dimakan dan daun-daun obat-obatan.  Kepabrik, industri kecil dan rumahan, dll.

Bila latihan di Gudep seperti: 1). Berbagai kegiatan perorangan seperti: memasang kancing, membuat lubang kancing, menjahit kain, menggambar/melukis, kertas bekas dll. 2). Berbagai kegiatan bersama seperti: Menggunakan bola, tali dan tongkat. Memasak dengan kayu bakar, seperti: air minum, merebus sayur, merebus jagung/ubi, memasak nasi, menggoreng nasi, kacang hijau dan kolak.  Membuat gado-gado, membakar tape ubi kayu (membuat colenak), membakar ubi jalar/jagung dll. Setiap sesudah melakukan suatu kegiatan diadakan pameran dan diskusi/debat dalam barung/regu dan/atau antar barung/regu yang dipimpin oleh ketua barung atau regu didampingi pelatih/Pembina, yaitu membahas cara kerja membuat dan penyajian, supaya nanti akan lebih baik. Pada diskusi/perdebatan terjadi kegembiraan (ketawa) dan celotehan lucu-lucu mengenai rasa, cara memasak, penyajian dll.  Setelah selesai dipamerkan dan didiskusikan disantap bersama-sama, disinilah terlihat pemimpin dan dipimpin, saling hormat-menghormati, tolong-menolong, pembagian kerja dan saling-memberi (berbagi satu sama lain), saling menasehati dan mencoba makanan buatan kelompok lain. Selesai melakukan kegiatan bersama sebelum acara penutupan, anggota kelompok/barung/regu membersihkan tempat kegiatan dilakukan, sambil bernyanyi “Disini Senang Disana Senang”, suasana jadi gembira.  Setiap lomba, bagi yang terbaik (relative) dapat penghargaan/tanda kecakapan (berupa pita warna-warni yang dipasangkan pada bahu peserta atau tongkat regu/barung) berdampingan dengan tanda kecakapan yang diperoleh dari kwarcap.

Tanda kecakapan Gudep ini pernah jadi polemik dengan Kwarcap.  Gudep tetap bertahan dengan kebijakan yang ditetapkan, karena merupakan penghargaan akan prestasi yang didapat dari latihan dan juga daya tarik latihan.  Tanda penghargaan/kecakapan ini disepakati tidak boleh dibawa/dipakai bila ada latihan bersama yang diselenggarakan oleh Kwarcap.
Baca Juga: Belajar dan Sekolah Masa Depan https://lizenhs.wordpress.com/2010/05/14/belajar-dan-sekolah-masa-depan/

Bahan Penulisan

Kak Didi H Loeksmanto

Kak Suparno Satira, komunikasi pribadi

Kak Badruzzaman, komunikasi pribadi

Kak Lilik Bayyinah, komunikasi pribadi

“Laporan Pertanggungan Jawab Gudep 104-105 Periode 1974 – 1975”.  Bandung, 10 November (1975).

“Rencana Latihan Gugusdepan Kotamadya Bandung 104 – 105 tahun 1977- 1978”.

Muhammad Ridlo ‘Eisy (Editor), (1981). “Buku Petunjuk Penerapan Teknologi Tepat Guna Untuk Pramuka dan Generasi Muda”.  Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Soemantri Widagdo, Liliek Waloeyo Hadi dan Henny Trie [penyunting], (1982). “Sepuluh tahun Perjalanan Pramuka Gugus Depan Kodya Bandung 0605 – 0606”.  Gugus depan 0605 – 0606.

Sejarah Salman ITB http://salmanitb.com/profil/sejarah/

Terima kasih atas kunjungan anda.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: