Posted by: lizenhs | May 3, 2014

PRAMUKA: ARENA SIAGA ‘74 DI GUDEP 104 – 105 (KAMPUS ITB)

PRAMUKA: ARENA SIAGA ‘74 DI GUDEP 104 – 105 (KAMPUS ITB)
Oleh: Haslizen Hoesin

Kata Pengantar
Salam Pramuka

Siaga, Siiagaaa!!!! Itulah panggilan pemuka utama Siaga pada arena Siaga ‘74 di Bandung 14 Juli 1974, sekarang anda sudah besar-besar ya, ini sebuah cerita ringkas mengenai Arena Siaga ’74 sebagai pembuka ingatan untuk masa itu. Para siaga pasti mempunyai cerita kenangan masing-masing. Selamat bernostalgia dan membuat tulisan kesan/cerita ringkas sendiri. Mudah-mudahan tulisan ini menjadikan para siaga ingin bertemu kembali dan mengingat-ingat teman-teman siaga dulu, di arena Siaga ’74. Yanda dan bunda bertemu beberapa orang siaga di kampus ITB tgl 19 April 2014 lalu di acara Temu Alumni Pramuka ITB (TAPI). Wajah siaga sekarang sudah banyak berubah, gagah dan tampan dan cantik-cantik, manis-manis dan sulit dikenal (pangling). Selamat membaca tulisan berikut ini dan mengenang Arena Siaga ’74.

Pendahuluan
Pada tanggal 14 Juli 1974 diadakan Arena Siaga sekota Bandung. Diselenggarakan oleh Kwarcab Bandung bersama Pembina Siaga. Bertempat di Gugus Depan 104 – 105. Diperkirakan akan hadir 2000 orang. Berdasarkan data dipendaftaran, acara diikuti oleh 1512 Siaga putra-putri dari 62 Gugus Depan.

Sebelum membahas Arena Siaga, terlebih dahulu dipahami dulu apa yang dimaksud dengan “Arena”.
Dalam Webster’s Third New International Dictionary. Arena adalah:
1. The area in the central part a Roman amphitheatre where gladiatorial combats and other spectacles took place.
2. A central area or open space within an enclosure use for public entertainment.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diterbitkan Balai Pustaka 1997. Arena adalah: (n) Gelanggang. (ki) Bidang (yang menjadi tempat bersaing, berjuang, dsb).

Maka Arena Siaga dapat diartikan sebagai suatu pertunjukan kebolehan permainan dari Siaga-siaga kepada Siaga-siaga lain, Yanda, Bunda dan para pengunjung (orang tua) pada lapangan terbuka di samping bertanding.

Arena Siaga ‘74
Sekarang kembali ke Arena Siaga 1974. Apakah yang dilakukan dan dipertadingkan dalam bergembira-ria, selama arena berlangsung?
Sesudah Gudep-gudep mendaftarkan anggotanya, Gudep “penyelenggara” mempersilakan peserta mengambil (menempati) tempat yang telah ditentukan. Mendirikan tenda untuk menyimpan barang-barang. Kelihatanlah tenda-tenda pengikut Arena berjejer-jejer seolah Jambore Mini. Tenda-tenda tersusun rapi sesuai dengan kemampuan Siaga disamping menunjukkan kemahiran/kemampuan, juga merupakan suatu komunikasi kepada Gudep lain, siap untuk dinilai oleh team juri gabungan. Kemudian Siaga dibawa oleh Yanda dan Bunda ketempat acara pembukaan Arena Siaga.
Bila dilihat dari susunan acara yang dibagikan, secara keseluruhan menggambarkan tujuan Arena Siaga sebagai suatu latihan bersama dengan Gugus Depan lain se Kota (Madya) Bandung. Siaga-siaga digabung dalam prindukan baru dari 1512 Siaga. Pada perindukan baru ini Siaga diharapkan dapat berkenalan sebanyak-banyaknya dan bermain segembira mungkin (kalau bisa). Siaga-siaga pada perindukan baru ini dipimpin Yanda dan Bunda baru sesuai dengan warna Barung yang diberikan Panitia.
Dalam suatu pertemuan, acara adalah yang sangat menentukan, sebab dia akan memberikan efek mengembirakan atau membosankan. Pada acara ini secara umum dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu pembukaan dan acara pokok. Kedua acara inilah yang menentukan apakah akan menggembirakan, mengesankan atau sebaliknya.
Acara pembukaan.
Sebagaimana sudah tradisi, Siaga dipanggil oleh pemuka utama Siaga membentuk lingkaran. Bunda dan Yanda memasuki lingkaran, Yanda dan Bunda mengucapkan selamat datang di Arena Siaga, dilanjutkan dengan nyanyi bersama, “Disinilah, disini kita bertemu lagi”, suatu nyanian gembira dan dilanjutkan dengan senam masal, “senam semapur”, yaitu suatu paduan antara senam gerakan semapur dilatarbelakangi nyanyian. Senam semapur dibawakan oleh Siaga tuan rumah, kemudian dilanjutkan dengan pemberian bunga kepada para tamu dan Siaga tamu.
Gerakan semapur bila diterjemahkan berarti “Selamat Di Arena Siaga”. Senam semapur ini idenya cukup baik, disamping Siaga berlemah-gemulai, secara tidak disadari telah menghafal beberapa abjat semapur. Penampilan semapur untuk mengisi acara Arena Siaga dilatih yanda (kak) Kushandoyo (pelatih penggalang).
Acara Pokok (Jalan-jalan)
Selesai acara pembukaan, Siaga dibawa Yanda dan Bunda untuk mengikuti acara bermain sambil mencari teman baru dalam perindukan baru (perindukan campuran). Acara dilanjutkan dengan jalan-jalan menuju tempat tenda perindukan Siaga. Jalan yang ditempuh menuju tenda perindukan, dibagi beberapa pemberhentian (base). Tiap-tiap pemberhentian, Siaga mengikuti acara dengan topik-topik tersendiri. Pada perhentian pertama Siaga mendapat menjelaskan tentang gedung/bangunan sekitar pemberhentian seperti nama dan keiatan apa saja dilakukan dalam banguan tersebut. Perhentian kedua, Siaga menggambar kitri, perhentian ke tiga menggambar pemandangan dan seterusnya. Pada acara ini Yanda dan Bunda betul-betul diuji kemampuan untuk memimpin anak didiknya.
Kalau ditinjau acara cari teman, idenya baik, tapi mengkoordinir Siaga sebanyak 1512 orang ternyata mengalami kesulitan, walaupun Yanda dan Bunda telah dibantu Yanda dan Bunda lain. Seandainya jumlah perindukan tetap dipertahankan, sebaiknya perindukan dibagi dalam beberapa kelompok yang lebih kecil supaya pengarahan lebih baik. Lucu dan menarik acara ini bila diamati, seperti tingkah laku Siaga-siaga berkenalan satu sama lain. Mudah-mudahan teman baru itu dikenang sampai tua.
Kegiatan membuat gambar (kitri dan pemandangan). Mengambar berkaitan dengan bakat, oleh karena itu gambar menjadikan yanda dan bunda senyum dan ketawa melihat gambar-gambar para peserta.
Sistem Pemberhentian (Base)
Tujuan acara ini adalah berkenalan dengan tempat sekitar dimana berada, Siaga diberi pengetahuan baru untuk mengenal lingkungan yang mungkin berguna dikemudian hari, tapi bila ditinjau dari pelaksanaan yaitu pemberangkatan berdasarkan nomor urut, ini menimbulkan antrian dan terjadi kekosong kegiatan menunggu nomor urut didepan selesai, akibatnya sulit mengendalikan Siaga sampai ke perhentian terakhir.
Betul, untuk mengendalikan Siaga adalah kewajiban dan wibawa Yanda dan Bunda agar kekosongan kegiatan terisi dengan membuat acara tersendiri. Walau bagaimanapun sebagaimana diketahui, Siaga sekarang berada pada perindukan baru, teman baru dan Yanda/Bunda baru, membuat Siaga merasa asing, apalagi Siaga berada ditempat yang baru dengan membawa latar belakang tersendiri dari lingkungan keluarga dimana dibesarkan.
Seandainya Yanda/Bunda dapat membuat acara yang menarik di perhentian dengan kata lain Siaga memperhatikan apa yang disampaikan Yanda/Bunda kekosongan kegiatan abibat antrian tetap menggangu kesinambungan kegembiraan, rasa ingin tahu pada perhentian berikutnya akan mengecil.
Suatu perindukan yang diharapkan adalah perindukan dengan administrasi yang baik, kontak yang berkesinambungan dengan kwarcap dan latihan/pendidikan terarah. Benar itulah yang diharapkan, apalagi untuk memberikan penilaian. Mungkin inilah ketentuan baku (standard) yang dijadikan dasar untuk menilai, menetapkan Siaga Teladan.
Pada Arena Siaga 1974, suatu penilaian Siaga telah dilakukan. Muncullah Siaga teladan dengan penilaian relative lebih baik dari dari Siaga lain, berdasar beberapa peryaratan yang ditetapkan dewan juri.
Penilaian dengan persentase tertinggi pada Arena Siaga 1974 kelihatannya terletak pada administrasi gudep. Penilaian seperti ini memberikan kesan bahwa yang dinilai adalah Yanda/Bunda, bukan Siaga. Kalau demikian bukan berdasarkan kelincahan, kedisiplinan individu dan kelompok, militansi dan rasa kesosialan yang tinggi. Pada hal yang diharapkan dari pendidikan kepanduan Pramuka adalah kemandirian, percaya diri, penuh inisiatif dan kreatif karena akan menggantikan generasi sekarang.
Terlepas dari apa yang telah dipaparkan diatas, walau bagaipun, acara Arena Siaga adalah sesatu yang baru bagi Siaga dan Pembina, sebab setiap Arena Siaga, masalahnya berbeda-beda. Dalam Arena Siaga atau yang semacam ini idenya adalah pada: kemauan, kekompakan dan semangat kerja. Tidak ada tekat perpaduan antara kesemuanya itu, jalan kegiatan arena Siaga akan timpang dan tidak akan dapat diharapkan hasil yang memuaskan, disamping persiapan yang jatuh sebelumnya.
Sekilas Gudep 104-105
Gudep 104 – 105 diresmikan Hari Minggu tanggal 12 Maret 1972 pukul 9.00 oleh Rektor ITB. Prof. Dr. D. A. Tisna Amidjaja dengan upacara sederhana. Upacara ini disebut peresmian interen, agar aktifitas pramuka dapat berjalan. Setelah beraktifitas satu tahun, Pramuka Keluarga Besar ITB diresmikan tanggal 11 Maret 1973, oleh kakwarcap Kodya Bandung kak Adjat Sudradjat dengan Nomor Gudep 104 – 105 bertepatan dengan ulang tahun pertama gerakan Pramuka di Lingkungan ITB. Peresmian Gudep 104 – 105 dan Majelis pembimbing dilaksanakan di kampus ITB (dilapangan Aula Barat). Peresmian ditandai dengan: Penyematan Tanda Jabatan kepada Prof. Dr. D.A. Tisna Amidjaja (mewakili seluruh anggota Mabigus). Penyerahan bendera Gudep 104 kepada Pembina Gudep Putri Kak Parwati Soepangat. Selanjutnya penyerahan Bendera Gudep 105 kepada Pembina Gudep Putra Kak Benny Soepangat Soemarto. Peresmian Gudep disemarakkan dengan acara Persami, diikuti segenap anggota Pramuka 104 -105. Dilanjutkan dengan atraksi Tari Semapur oleh adik-adik Siaga. Pemutaran film di LFM ITB. Acara dihadiri pula oleh Pandu tamu dari Papua New Guinea.
Pelatih/pembina tahun Gudep 104 – 105 (1972 -1973)
Pelatih/pembina Siaga Putra Yanda Harun (Harun Halim), Badrus (Badruzzaman), Zen (Haslizen Hoesin), Mono (Sumono Budio) dan Nadjadji (Nadjadji Anwar).
Pelatih/Pembina Siaga Putri Bunda Umi (Umi Dahlan), Intan, Luky (Irma Luky Damayanti), Tini, Tati Soepardi, Yuyun (Yunani), Mamah (Marhamah), Yenny dan lain-lain.
Pelatih/pembina Penggalang Putra kak Suparno, kak Suparman, kak Kushandojo.
Pelatih/pembina Penggalang Putri Kak Tres (Tresnawati), Kak Djudju (Djuhairiah). Ibu Raras, ibu Anwari dan lain lain.
Dalam kegiatan sehari-hari Pramuka putra dan Putri bergabung dalam satu administrasi yang disebut sekretaris Gudep, sekretaris gudep (104-105) merupakan Pengurus Harian berfungsi mengadministrasi kegiatan seperti persiapan kegiatan, surat menyurat dan survei untuk tempat berkemah:
Baik didalam kampus
Kedalam (intern) di dalam kampus yaitu mengatur acara kegiatan per pekan yang telah dirancang satu semester. Menghubungi unit-unit kegiatan kemahasiswaan dilingkungan ITB, mengurus kunjungan ke laboratorium dilingkungan ITB, ke Rektor bidang kemahasiswaan sebagai suatu unit kegiatan mahasiswa, menghubungi pimpinan acara dan kepada orang tua anggota pramuka, kegiatan berkemah (persami) di dalam kampus.
Maupun diluar kampus
Keluar (ektern) seperti untuk mengurus perkemahan (persami) diluar kampus, survei kelokasi yang dituju atau kunjungan ketempat-tempat tertentu yang telah dirancang pada program latihan per semester (yaitu surat-menyurat, survei lokasi persami dan mengurus angkutan).
Terdapat juga struktur organisasi mengikuti ketentuan Kwarcap. Kelihatannya ada dua organisasi dalam tubuh Pramuka, sebenarnya tidak demikian, hanya pembagian tugas saja terutama administrasi kegiatan harian.
Pramuka ITB pada awalnya Gugus Depan (Gudep) 104-105 kemudian berubah menjadi 0605-0606 hingga akhirnya 06005-06006. Sekretariat (Sanggar) Pramuka, 4 (empat) kali berpindah tempat, mulai dari Ruang dibagian belakang Student Centre Barat (menghadap lapangan Basket) bersebelahan dengan kantor Pos ITB, pindah ke ruangan Selasar Aula Barat sebelah Selatan (menghadap lapangan Aula Barat), bersebelahan dengan kantor Berita ITB yang telah terlebih dahulu berada disana, pindah ke gedung Ex-BRT (Biro Rumah Tangga). Terakhir berada di Sunken Court ITB ruang W-02 bersama unit-unit kegiatan mahasiswa ITB. Mengenai pembentukan Gudep Pramuka ITB dapat dibaca lebih lengkap pada https://lizenhs.wordpress.com/2014/05/23/sejarah-pembentukan-kepanduan-di-kampus-itb-dan-kegiatan-latihan/
Bahan Penulisan
Hoesin, Haslizen. “Kesan-kesan Pada Arena Siaga 1974”. Bandung, 27 Juli (1974).
Kak Lili Bayyinah, komunikasi pribadi
Kak Badruzzaman, komunikasi pribadi
Laporan Pertanggungan Jawab Gudep 104-105 Periode 1974 – 1975. Bandung, 10 November (1975).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: