Posted by: lizenhs | March 15, 2014

Tarusankamang: Wisata Alam dan Ilmiah, Lindungi Biota air dan Ekologi Danau

Tarusankamang: Wisata Alam dan Ilmiah, Lindungi Biota air dan Ekologi Danau

Oleh: Haslizen Hoesin

PENDAHULUAN

Tarusan kamang adalah sebuah genangan air, sekarang disebut Danau, jadi terkenal dengan nama Danau Tarusankamang.  Terdapat beberapa sebutan mengenai Tarusankamang yaitu: 1). Danau Dua Muka yaitu tergenang dan kering. 2). Danau Ajaib, karena tiba-tiba air surut dan naik penuh tergenang.   3). Danau Mini Ajaib, karena luas hamparan air danau relative kecil.  4). Danau Unik (tidak punya kesamaan dengan yang lain), 5). Danau Keajaiban Alam, karena (1) Hanya berisi air pada musim-musim tertentu, terisi penuh padahal saat itu musim kemarau (panas) dan kering dimusim hujan. (2) Suatu waktu terlihat begitu luas dan indah, di bagian tengah danau ada semacam tumpukan tanah yang tidak terbenam air tumbuh pohon Baringin (beringin), penduduk menyebut Padangdoto (saat terisi air – disebut danau).  Tetapi dalam waktu yang tidak bisa diperkirakan, danau berubah menjadi hamparan padangrumput nan hijau dan taman-taman ikan (saat kering).  6). Danau Bejana Berhubungan dan 7). Danau Krast. http://www.esi.utexas.edu/outreach/caves/karst.php

Danau Tarusankamang tidak hanya memiliki potensi alam seperti Alam yang indah dan unik saja, tapi terdapat juga fenomena: Fotografi, Terbang-layang dan bermain anak-anak di Padangdoto. Diharapkan dengan ke tiga dimensi (Alam, Fotografi dan Terbanglayang) bagi Masyarakat Agam, khusus masyarakat Kamangmudiak dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi (economic growth), karena ekspedisi, informasi dan promosi, dari berbagai media para pelancong/pengunjung baik lokal maupun mancanegara akan datang kesini” :papar Bupati Agam dengan penuh keyakinan.  Pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari pelancong saja, melainkan juga berasal dari para pakar Geologi, pakar-pakar keilmuan lain dan peneliti muda (mahasiswa).  Menurut Andang Bachtiar (pakar Geologi) kawasan danau baik dijadikan “laboratorium bumi.”  Di sekitar danau para geolog bisa melakukan penelitian mengenai rahasia alam yang tersimpan di dalam bumi Tarusankamang.  Bukan bagi geolog saja sebagai tempat meneliti, penelitian lain seperti Pariwisata, Ekologi, biota air, Perikanan, pertanian, peternakan, pengembangan wilayah, Lingkungan hidup, pendidikan dan kependudukan, semangat anak sekolah mencari penghasilan untuk sekolah, peningkatan pendapatan penduduk atau pendapatan daerah dll.  Itulah beberapa  topik dan/atau judul penelitian/menulis skripsi atau tugas akhir bagi mahasiswa dalam rangka menyelesaikan pendidikan.  Agar lebih bermanfaat judul dapat gabungan/keterkaitan dua atau lebih topik. Selamat membaca semoga bermanfaat.

Selamat datang para peneliti senior dan peneliti muda di Tarusankamang.  Tentu hasil penelitian anda (para pakar dan mahasiswa) dipublikasikan sampai kemasyarakat terbawah (penduduk/ masyarakat sekitar danau) dengan bahasa sederhana (mudah dipahami), sehingga lebih terasa manfaatnya, bukan hanya untuk mengisi rak perpustakaan dan/atau menambah kum peneliti saja.

Tarusan Kamang memang menjanjikan sejuta keajaiban: Nikmati alam yang khas. Nikmati pula perpaduan yang serasi antara alam dengan kesederhanaan masyarakat di sekitarnya.  Itik-itik (bebek-bebek) yang berenang bebas, kerbau-kerbau yang berlarian, peduduk yang menangkap ikan dengan pasok, jalo dan/atau memancing di atas rakit bambu, semuanya berjalan dengan alurnya sendiri-sendiri.

Menurut Bupati Agam Indra Catri:  Danau ajaib Tarusankamang dapat diberdayakan untuk berbagai keperluan, seperti: objek wisata, olahraga paralayang, serta tempat pembibitan ikan. Bahkan untuk wisata Ilmiah bagi mahasiswa, siswa, pelajar dan murid sekolah. Hal ini mungkin belum pernah ada ditempat wisata lain. 

ASAL USUL NAMA TARUSAN

Dari mana asal nama Tarusankamang?  Tak ada yang tahu pasti asal usul penamaan.  Penduduk (generasi) sekarang umumnya menerima begitu saja tentang nama genangan air tersebut, yang diketahui hanyalah adalah air keluar atau “luluih taruih” dan berputar (pusaran)” diujung Timur, kedua kata tersebut disebut dalam satu “tarusan” (bahasa local).  Tapi sekarang, berbagai pendapat dan teori muncul, tentang penamaan genangan air itu, seperti perbincangan di rantaunet:  “Tarusan” mungkin berasal dari kata “taruih” atau “pusaran” atau “pusa-pusa” mungkin juga berasal dari kata “putar”.  Pendapat lain memakai ide gabungan kata taruih dan pusaran diambil sebagian-sebagian dari dua, yaitu air luluih yang berputar kelihatan berbentuk pusaran di permukaan air di pupuk-an saat air menyusut (mengering), karena tak enak didengar Taruihpusaran, maka sebagian huruf yang diucapan dari gabungan kata taruihpusaran, yang diucapkan hanya: taru-s-an (tarusan). ihpu-ar tak diucapkan.  Mungkin ada pendapat lain, tak tahulah, silakan ajukan. Contoh lainmenganai penamaan tempat. Perhatikan nama kampuang bukareh diperkirakan berasal dari buah kareh, ah tidak diucapkan (dikampung itu dulu ada pohon yang buahnya keras).  Satu lagi aia mancua berasal dari kata aia mancucua, yaitu air yang berasal dari tempat tertentu dan jatuh pada tempat tertentu pula.  Mancucua tidak enak disebut dan didengar, “cu” pertama tidak disebut jadi mancau (aia mancua).  Aia mancua jangan di Indonesiakan jadi “air mancur”, berubah artinya sebab bersal dari air jatuh menjadi menyemprot seperti di bundaran HI.

Kembali ke genangan air, keajaiban alam Kamangmudiak, awalnya dinamai Tarusan, karena berada Kamang disebut Tarusankamang.  Semenjak ekspedisi DR Andang yang didampingi bupati Agam Indra Catri ditambah kata “danau”, jadi Danau Tarusankamang.

KEUNIKAN DAN KEANEHAN DANAU TARUSANKAMANG

Keunikan Danau, Keunikan Alam Kamangmudiak, Alam Minangkabau

Menurut penduduk danau Tarusankamang, memiliki keajaiban, memiliki siklus  (kadang berisi air terjadilah danau dan kadang air kering terjadilah padangrumput, fenomena itu silih berganti).  Air bisa saja penuh padahal musim kemarau atau kering padahal musim hujan kata penduduk.  Terdapat pula yang berpendapat atau memperkirakan bahwa Danau seperti ini, tidak terdapat didaerah lain di Indonesia, di Asia Tenggara, bahkan di Asia. Danau seperti ini tidak banyak di dunia.  Andang berkata: “Saya secara peribadi sangat kagum dan belum pernah melihat Danau seperti ini didunia, Meskipun sama, tapi tidak serupa yaitu Danau Karsl yang terdapat di Italia”.

Keajaiban alam di Tarusan ini sudah berlangsung sejak dulu kala.  Jangka waktu danau terisi air kadangkala 5 bulan hingga 2 tahun atau lebih, tak pasti lamanya.  Cerita orang tua-tua yang lain, sebelum tahun 1970-an, ketika hutan-hutan Bukikbarisan masih terpelihara, air tergenang bisa selama 4 sampai 5 tahun.  Jangla waktu air tergenang yang lama menyebabkan ikan menjadi besar dan banyak.  Ikan menjadi banyak karena terjadi siklus, ikan dewasa, bertelur, telur menetas, anak ikan, ikan dewasa dan bertelur, menetas dst.  Jangka waktu siklus ikan lebih pendek dibandingkan dengan jangka waktu air tergenang.

Menurut Sukri: “Saat danau akan terisi air, biasa terdengar seperti letusan di kaki bukit.  Terkadang terdengar suara di beberapa tempat seperti bunyi ketel sedang memasak air (bunyi gluk – gluk), tiga hari kemudian air mengalir dari lubang – lubang batu kapur di kaki bukit, padangrumput berubah jadi genangan air (terjadilah danau)”.  Danau terlihat begitu luas, indah dan cantik dengan alam sekitar danau.  Namun pada suatu waktu, tiba – tiba air menjadi surut (danau jadi kering) dan dalam jangka waktu sepekan terjadilah hamparan padangrumput nan hijau.  Kedua kejadian ini memang pantas disebut keunikan alam Kamangmudiak.  Menurut cerita penduduk tempat muncul dan menghilang air “luluih air” disebut “Pupuk-an” yaitu lubang-lubang dicelah batu di dasar sebanyak 9 lubang pintu air dibagian Timur, tempat keluar air (aia luluih) dan muncul di sela-sela tebing/batu Bukikbarisan.  Menurut penduduk lubang-lubang tersebut berdiameter sekitar 50 cm.  “Air itu hilang” atau “luluih” ke perut bumi berputar: kata mereka.  Air menyusut menurut penduduk, biasanya diawali dengan bunyi seperti letusan, “badantuang cando bunyi Mariam” kata penduduk (berdentum seperti bunyi Meriam).  Letusan sering terjadi malam hari,  pagi air Tarusan mulai surut dan hanya beberapa hari Tarusan kering.  Tampaklah tabek-tabek kaciak (kolam-kolam kecil) didasar danau, penduduk menamakan Taman.  Ikan-ikan yang mengisi danau terperangkap dalam tabek-tabek (kolam-kolam, tambak-tambak) yang dibuat penduduk.  Penduduk beramai-ramai mengambil ikan yang terjebak di taman-taman tersebut. Suatu hal yang menarik lagi adalah ikan danau sangat banyak, tidak diketahui dengan pasti darimana asal-muasalnya.  Apalagi pada waktu dulu pemerintahan Nagari memberlakukan sistim larangan, dengan memasang bendera putih di batang (pohon) baringin (beringin) yang berada ditengah-tengah Tarusan.  Apabila air telah menyusut dan sudah sejajar dengan pohon baringin, bendera putih (tanda larangan) dilepas/dicabut. Tanda larangan dicabut, masyarakat dibolehkan menangkap ikan, baik laki-laki atau perempuan, tua muda, (dewasa maupun anak–anak), semua tumpah-ruah dengan berbagai macam peralatan tangkap ikan dan penuh kegembiraan.

Danau Tarusankamang saat air penuh dimanfaatkan warga untuk budi daya ikan, memancing, pacu rakit dan mandi/berenang.  Beragam jenis ikan terdapat didanau. Keunikan Tarusan lain adalah saat penuh air bersamaan dengan itu ikan dan udang muncul yang tak diketahui asalnya secara pasti kata penduduk.

Keanehan danau Tarusankamang

Tarusan Kamang memiliki banyak keanehan/keajaiban menurut penduduk dan pelancong.  Penduduk memberikan beberapa sebutan bahwa Tarusan memiliki lidah aia, talingo, Pupuk-an, lubuak yang belum bisa diduga dalamnya, “batu manggigia” di Pupuk-an.  Di tengah tarusan terdapat sebuah pulau dan tumbuh sebatang Baringin (Beringin), akar pohon baringin itu tidak pernah terendam saat tarusan berisi air.  Tanpa menunggu hujan berkepanjangan, cukup “rinai” (gerimis), tarusan bisa memiliki air yang berlimpah-limpah walaupun tidak memiliki sumber mata air sendiri, air bisa menggenangi jalan pemukiman di sekitar tarusan juga jembatan jalan melintas dihulunya tergenang.  Air yang mengalir ke Tarusan tidak berasal dari batang aia (sungai), hanya terdapat banda-banda (selokan-selokan) kecil yang melintas di antara persawahan dan tabek (kolam) penduduk.  Sumber air dari banda-banda yang terletak pada bagian Barat tarusan disebut “lidah air.”  “Yang paling aneh menurut penduduk adalah kering dan penuhnya air tarusan tidak tergantung musim hujan atau kemarau”.  Pada musim kemarau (panas) bisa saja air tarusan penuh. Pada musim hujan tidak jarang air telaga kering. Talingo tarusan terletak dilereng bukit barisan dekat Pupuk- an dimana setiap tarusan akan tergenang talingo tarusan meletus memancarkan air.  Di Pupuk-an ini terdapat pula yang disebut lubuak yaitu cekungan atau lekukan yang dalam.

Saat air menggenang, ikan-ikan kecil dan udang bermunculan entah dari mana datang mereka. (ikan – ikan kecil disebut Pantau, karena diambil dari tarusan disebut Pantautarusan)

Yang menjadi tanda-tanya penduduk sampai kini, mengapa saat air Tarusan penuh, tidak mengalir keluar melalui Pupuk-an, atau tempat air menghilang seperti Tarusan “mengeringkan dirinya”.  Padahal lubang terowongan Pupuk-an itu cukup lebar sebanyak 9 buah kata penduduk.  Pupuk-an itu bagaikan klep, punya sistem buka-tutup.  Bila klep terbuka, air tarusan akan mengalir ke luar, lalu kering. Lantas siapa yang membuka dan menutup klep Pupuk-an tersebut. “Hanya Allah yang mengetahuinya.”  : kata Datuak Kiraiang.

Andang Bachtiar mengatakan, secara ke-ilmuan, danau Tarusankamang adalah Danau Karst.  Danau membentuk “depresi” di bawah muka air sungai bawah tanah.  Dari dinamika “subteranean river” (sungai bawah tanah) umum terdapat di “topografi karst” maka pada waktu tertentu, terjadi recharge yang besar di daerah “hulu” maka permukaan air sungai bawah tanah naik.  Tinggi rendah permukaan air tidak tergantung pada curah hujan dilokasi danau. Tetapi pada jumlah (ketinggian) air pada sungai bawah tanah yang berada diperbukitan mengelilingi danau.  Jangan heran apabila sewaktu-waktu air danau menjadi kering.  Hal ini disebabkan ketinggian air pada sungai bawah tanah menurun.

Disaat talago mengering, lahan disekitar talago dijadikan sawah dan tanah yang rata jadi tempat anak-anak bermain bola dan ternak-ternak gembala berkeliaran.  Saat kering, Taman-taman dipenuhi ikan, penduduk (tua-muda, anak-anak, laki-laki dan perempuan) sibuk mengambil ikan dan diselingi istirahat dan makan bersama.

Jaga Keunikan Danau

Tarusankamang adalah sebuah genangan air (umum disebut telaga atau danau) yang unik (tidak ada persamaannya dengan telaga lain) yaitu:  1) Tidak ada sumber air yang berarti mengisi tarusan, hanya banda-banda (saluran) kecil yang melintasi sawah dan tabek penduduk sekitar tarusan bermuara.  2) Tidak memiliki pelepasan (pembuangan) air yang tampak dilihat secara langsung sebagai hulu sungai sebagaimana pada telaga atau danau umumnya bila air penuh dan melimpah.  Keadaan genangan air yang tidak memiliki saluran buang inilah yang menyebabkan ekologi tarusan dan biota air berbeda dengan ekologi dan biota air telaga/danau lain.

Karena keunikan danau, maka ekologi danau dan biota air perlu disurvey/diamati/diteliti agar diketahui daya dukung danau, sehingga perlakuan terhadap danau tidak melebihi daya dukung.  Bila melebihi daya dukung mungkin air danau jadi keruh, bau seperti menyengat dan akan berpengaruh kepada biota air danau.  Apalagi didanau akan disebar bibit ikan dan dijadikan daerah wisata yang diharapkan akan meningkatkan perekonomian penduduk.  Pengunjung tentu tidak boleh sesuka hati (dimana saja) membuang sampah (kantong plastik atau kertas pembungkus makanan/permen atau sisa makanan dll).  Bila pengunjung berbuat sesuka hati, perlakuan seperti ini akan berpengaruh terhadap ekologi dan biota air danau.  Jadi penduduk dan pengunjung harus secara bersama-sama menjaga Tarusan dan saling mengingatkan/menegur bila ada penduduk dan/atau pengunjung membuang sampah sesuka hati apalagi kedalam danau. Pemerintah setempat sebaiknya menyusun tatacara memelihara danau yang dijadikan tuntunan  penduduk dan pengunjung/pelancong.

Terbentuk Danau Tarusankamang

Menurut Masyarakat

Menurut H. Buchari Datuak Kiraiang, Tarusan Kamang diyakini warga berasal dari “tanah turun.” Maksudnya, tanah lokasi tarusan itu duhulu rata dengan daratan di sekitar.  Karena, peristiwa alam, tanah turun (anjlog) disebut cekungan.  Cekungan yang terbentuk oleh peristiwa alam itu, kemudian digenangi air.

Survei/penelitian dan ekspedisi

Mengenai Tarusankamang pernah dilakukan:  1) Survei (diteliti) oleh Orang Asing (Jerman) sekitar tahun 1980 kata pemuka Kamangmudiak   H. Buchari Datuak Kiraiang (71) dan,  2) Ekspedisi tahun 2013 bulan Februari oleh DR. Andang Bachtiar (ahli Goelogi) bersama geolog lain.  Pada ekspedisi tersebut bupati Agam Indra Catri ikut mendampingi DR Andang Bachtiar.

Peneliti Jerman

Tarusankamang menyimpan misteri, yang sampai kini belum terpecahkan. Misteri tersebut menarik perhatian peneliti dari kebangsaan Jerman, seperti diungkapkan Pemuka Kamangmudiak, Datuak Kiraiang.  Menurut hasil penelitian kebangsaan Jerman itu, Tarusankamang memiliki telaga di bawahnya. Namun tidak pernah dikaji lebih lanjut, tak ada penjelasan.

Ekspedisi Danau Tarusankamang

Catatan Singkat dari DR. Andang Bachtiar (pakar geologi).  Catatan ini merupakan awal ekspedisi danau Tarusankamang yang dilakukan 23 Feb 2013, hasil ekspedisi sebagai berikut:

Dari tracking kasar sepanjang tepi danau didapatkan luas badan air Tarusankamang yaitu 38 Ha atau 0.38 Km2.  Bentuk danau memanjang Barat-Timur dengan sisi Timur mengarah Baratlaut-Tenggara.  Pada sisi Timur didapat bukti patahan aktif yaitu tebing dan runtuhan patahan dengan bekas-bekas  slicken side (gores garis) pada bidang patahan yang arah geraknya ke Selatan (N350E).  Bukti lain didapat juga bahwa, dataran tepian danau berumput hijau adalah suatu Kipas Alluvial, merupakan ciri dari morfologi patahan normal aktif.  Patahan Baratlaut – Tenggara merupakan bagian dari Patahan Sumatra berpasangan dengan patahan Barat-Timur membatasi bagian selatan danau.  Bukti kehadiran patahan Barat-Timur ini adalah arah bidang-bidan rekah pada batugamping dan kipas aluvial dengan dimensi lebih kecil. Pada pengeplotan hasil tracking ke peta SRTM, didapat bukti penunjang morfologi yg menguatkan dugaan bahwa danau Tarusan Kamang ini selain punya sifat Danau Karst juga punya komponen Danau Tektonik Pisah Regang.  Selain ditemukan dominasi batu gamping kristalin termarmer- terekahkan (xtallin marbleized fractured limestone) preliminary expedition juga ditemukan lapisan-lapisan Filit melapuk di dinding-dinding dan bongkah-bongkah kwarsit di pulau beringin di tengah danau. Jenis-jenis batuan tersebut termasuk kedalam kelompok formasi Kuantan yg berumur sama tuanya dengan batu gamping xtallin.  Sampel-sampel batuan dan sedimen danau modern juga harus diambil sebagai bahan untuk dianalisis dilaboratorium petrografi dan palinologi untuk menentukan sifat dan umur batuan maupun umur pembentukan danau.

DR. Andang Bachtiar mengatakan bahwa fenomena kering – terisi danau Tarusankamang adalah fenomena “bejana berhubungan” antara “sungai-sungai bawah tanah” yg ada di kedalaman tebing dan punggung gunung batugamping di bagian Timur dan Selatan danau dengan rendahan/cekungan yang dibentuk oleh patahan-patahan.  Ketika muka air sungai bawah tanah surut sampai level lebih rendah dari dasar danau maka danaupun mengering.  Jika muka air sungai bawah tanah menaik maka air danaupun terisi.  Keadaan danau pada saat survei berlangsung terisi air, maka tidak memungkinkan untuk memeriksa batuan dasar danau terutama di daerah yang disebut sebagai daerah Batu Manggigia (batu menggigil – bergetar).  Batu Manggigia pada suatu ketika bergetar dengan sendirinya.  Kejadian itu pada umumnya terjadi pada saat air tarusan penuh.

Ekspedisi 23 Feb 2013 merupakan pembuka rangkaian penelitian-penelitian multi-disiplin kebumian selanjutnya, yaitu untuk mengurai fenomena Tarusankamang yang menakjubkan ini. Ide pak Bupati untuk mengembangkan Tarusan Kamang jadi daerah Integrated multi-dicipline scientific research & tourism patut disambut dengan kunjungan riset selanjutnya.  InsyaAllah dibulan Juni/Juli rombongan saintis ahli karbonat dari Afrika mengunjungi batu-batu gamping di Indonesia, mudah-mudahan seorang dari mereka tertarik dengan fenomena Danau Karst Tarusan Kamang dan Bupati Agam akan mendampingi.

Menurut Andang:  Pebukitan karst di Danau Tarusan Kamang usianya jauh lebih tua dari pada karst di Jawa. Karst di Kamang diperkirakan sudah berusia 400 – 300 juta tahun lalu karenanya pepohonan di atas bukit tumbuh subur.

Sebagai danau karst, ketika air sungai bawah tanah naik, maka lorong-lorong di bawah bukit batu gamping akan menyemburkan air dan menutupi padang rumput.  Danau tampak luas dan terlihat indah.  Sebaliknya, ketika air sungai bawah tanah turun, air tersedot maka atan tampak padangrumput dan kolam-kolam (taman-taman).  “Banyak danau karst yang terdapat di daerah lain, tetapi hanya Danau Tarusan Kamang ini yang punya hubungan langsung dengan sungai di bawah tanah sehingga muncul fenomena unik.”  :  kata Andang Bachtiar.

Selain Danau Tarusankamang, disekitar danau banyak terdapat gua aktif di bawah bukit karst atau batu gamping, sungai bawah tanah dan danau bawah tanah.  Hingga kini belum pernah diteliti.  Untuk penggemar wisata penelusuran gua, tempat ini amat menarik karena guanya masih aktif.  Selain itu belum ada pemetaan gua dan pemetaan sungai bawah tanah di Danau Tarusankamang.

Objek Wisata dan Studi Ilmiah (Wisata Ilmiah)

Selain danau menarik untuk objek wisata alam, juga dapat sebagai objek studi ilmiah (wisata ilmiah).  Hal ini disebabkan karena kawasan danau yang indah juga punya peluang untuk objek studi planologi, morfologi, kegempaan, geologi, geografi, vegetasi air, biota air, ekologi danau dll .  Menurut Andang kawasan danau baik dijadikan “laboratorium bumi.” Di sana para geolog bisa melakukan penelitian mengenai rahasia alam yang tersimpan di dalam bumi Tarusan Kamang.  Bila danau dijadi obyek wisata, maka perhatian tertuju kepada jalan-jalan menuju Tarusan. Tentu jalan harus baik (mulus) dan penduduk harus mempersiapkan diri baik secara berkelompok maupun perorangan berperan sebagai penerima tamu yang baik (ramah) dan tegas dalam memelihara danau, demikan pula pedagang di pasar tradisional dilokasi danau, sopir angdes/angkot dan tempat parker menjadi orang yang ramah.  Jangan ada pemalak dikendaraan (angkot/angdes), di jalan menuju lokasi dan di tempat parkir.  Bila tidak dilakukan pembenahan, harapan akan tinggal harapan saja. Pelancong datang sekali saja, tidak akan datang untuk kedua kali, bahkan dia akan menyebar berita yang tak baik bahkan menyarankan supaya jangan datang, karena pelayanan masyarakat buruk.

Keanehan/keunikan mulai terjawab

Keanehan dan keunikan danau tarusan dengan survei 23 Feb 2013 mulai terjawab secara bertahap, apalagi penelitian ini akan berlanjut.  Fenomena-fenomena alam dapat dijelaskan kepada penduduk dan pelancong dengan bahasa yang sederhana (mudah dimengerti awam) sehingga pengunjung tambah tertarik untuk datang.  Hasil survei selain menjelaskan fenomena diharapkan akan lahir aturan atau langkah-langkah apa yang harus dilakukan penduduk setempat dari pemerintah untuk memelihara keajaiban/keunikan danau, sehingga kelangsungan danau seperti keindahan alam, ekologi danau dan biota air seperti ikan-ikan danau dapat dipertahankan.

Lokasi Danau Tarusankamang

Tarusankamang, merupakan genangan air seluas 38 Ha dan suatu keajaiban alam, terletak di dua jorong yaitu jorong Babukik dan Halalang, di kaki bukit Barisan, kanagarian Kamangmudiak, dulu berada dikecamatan Tilatangkamang (sekarang kecamatan Kamangmagek), kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat.  Bila kota Bukittinggi sebagai patokan, Tarusankamang berada sebelah utara Bukittinggi.

Cara Mencapai DanauTarusan Kamang

Bila anda berkunjung atau berjalan-jalan ke Ranah Minangkabau, jangan lupa mampir ke Danau Turusankamang, yaa?!!  Baik saat kering maupun tergenang air.  Bila Bukittinggi anda dijadikan home base , danau Tarusankamang berjarak lebih kurang 17 km atau 15 menit dengan kendaraan bermotor.  Ke danau Tarusankamang dapat digunakan kendaraan pribadi dan kedaraan umum Angdes (angkutan desa) atau menyewa rental mobil/ojek atau bersepeda.

Bila anda telah berada di Bukittinggi agar leluasa melihat berbagai objek wisata menarik di Kamang Mudiak dan Kamangilia sewa ojek atau rental mobil.  Bisa juga dengan angkutan pedesaan dari terminal Auakuniang dengan kode K 01 atau K 03.

Terdapat tiga jalan menuju Danau Tarusankamang dari Bukitinggi.  Pertama melewati Simpanglimau. Kedua Simpang di Tanjuanalam dan Ketiga melewati kanagarian Gaduik.

Bila anda dari kota Padang, anda naik bus jurusan Bukittinggi dan dilanjutkan dengan Angdes  arah (tujuan) Pakan Sinayan Kamangmudiak kode K 01.  Angdes no K-01 di Pasabawah tujuan Kamangmudiak-Pakan Sinayan ngetem di seberang RKBH (Rumah Kelahiran Bung Hatta).

Dua keadaan Tarusan

Bila anda sampai di Tarusankamang, terdapat dua keadaan yaitu saat kering atau tergenang air.

Bila anda sampai di Tarusankamang air habis (kering), maka akan melihat hamparan padangrumput dan kolam-kolam (taman) yang membentang dari bagian hulu ke hilir Tarusan (pupuk-an) air luluih.  Disepanjang pinggir Tarusan berjajar pemukiman penduduk. Sehingga menambah keasrian dan kealamian Tarusan.

Bila anda sampai di Tarusankamang air menggenang, anda akan melihat pemandangan alam yang indah dan mempesona, melihat itik berenang, orang memancing, menjalo ikan dan menangguak dengan pasok diatas rakit dll.

Saat Danau Kering

Jika anda ke Danau Tarusan ternyata waktu danau kering (apakah itu saat hujan atau panas), anda akan mendapati padang rumput (savana) yang luas dengan pemandangan yang membuat kagum. Di padang rumput yang luas itu kita akan melihat banyak ternak kerbau dan sapi lepas bebas menikmati rumput-rumput yang hijau dan segar, diiringi hembusan angin sepoi dari pegunungan akan menyejukkan tubuh dan membuat anda lupa bahwa pada musim itu musin panas. Dilain sisi anda akan mendapati anak-anak yang sedang bermain bola, layang-layang dan sebagainya.  Dibagian lain didasar danau masyarakat ramai mengambil ikan,di Taman.  Taman-taman tersebut menurut penduduk adalah milik suku (kaum-marga). Di Taman ikan-ikan yang terperangkap adalah ikan kecil dan besar.  Bila anda berjalan ke (hilir) danau kearah Pupuk-an tempat air keluar-masuk danau, anda akan melihat kolam-kolam (taman-taman) ikan. Di Pupuk-an anda akan melihat batu yang disebut penduduk batu Manggigia (menggigil – bergetar).

Sepanjang perjalanan menjuju Pupuk-an anda akan melihat Taman yang sedang dikeringkan penduduk dengan ditimba atau disedot dengan pompa secara bersama-sama.  Pada waktu makan tiba penduduk makan bersama. Sebelum sampai ke Pupuk-an anda akan menemukan pula tempat berteduh melepaskan penat atau makan bawaan bagi penduduk saat mencari ikan, yaitu batu mempunyai lekukan kedalam bukit (seperti halte bus kota) atau melengkung menyerupai huruf ( f ), tempat ini dijadikan pos penjagaan, sekalian tempat beristirahat atau tidur-tiduran.  Selama diperjalanan, anda melihat peralatan penangkap ikan penduduk seperti tangguak, lukah (seperti bubu), daua, jalo dll. Lukah: terbuat sari bambu atau lidi daun kelapa berbentuk tabung dan memiliki pintu seperti kerucut.  Daua:  timbo (timba) dari tampian (nyiru).  Pasok: alat untuk menangkap ikan terbuat dari rajut benang yang berbingkai bujursangkar digantung pada tangkai panjang untuk mengangkat.  Tangguak: alat untuk menangkap ikan terbuat dari rajut benang yang diberi bingkai dari rotan atau bambu dibelah berbentuk lingkaran. Jalo (Jala): terbuat dari benang atau nilon digunakan dengan cara mengayunkan (melemparkan) maka terbentuklah lingkaran, dll. Dalam perjalanan menuju Pupuk-an jangan lewatkan begitu saja tanpa memotret (memoto) ditempat-tempat yang berkesan bagi anda. Tahun 2010 tanggal 29 November, saya (lizen) berkunjung ke Tarusankamang, waktu itu saat kering, berkesempatan melihat penduduk mengambil ikan di Taman, melihat pupuk-an dan lokasi batu manggigia.  Sebelum pulang tak lupa membeli pantau yang sedang dipanen penduduk dari Taman.  Sesampai dirumah sebagian dipalai dan sebagian lagi digoreng balado (cabai) merah atau hijau, aduh sedap rasanya, “indak nampak mintuo lalu” bak lirik lagu Elli Kasim.

Saat Danau Terisi Air

Namun jika anda kesana pada saat danau tergenang air (kadang kala hujan kadangkala panas),  Nah anda akan menemukan di lokasi yang sama, sebuah danau yang sangat indah. Anda akan melihat muda-mudi bermain rakit, memancing, dan aktivitas di air yang sangat menyenangkan. Andapun bisa mencobanya. Danau ini relatif dangkal, cukup aman untuk orang yang tidak pandai berenang sekalipun.  Di sore, menjelang terbenam matahari, tampak indah perpaduan warna jingga mentari dan hijaunya danau membuat anda betah duduk berlama-lama di pinggir danau.

Pada musim air mengenang ini, padangrumput yang hijau terjaga sendiri keindahannya tanpa banyak campur tangan masyarakat memotong atau merapikannya.  Dipadangrumput itu kita bisa berkumpul bersama keluarga untuk menikmati ketenangan danau Tarusankamang.  Melepas lelah sejenak bersama teman-teman atau anak-anak bagi yang berkeluarga sambil bercerita dan bercanda tentu akan sangat menyenangkan.

Saat terjadi danau, anak – anak dapat pula berenang dan warga mencari ikan, pacu rakik, dan berperahu-perahu.

Tarusankamang hingga kini masih tetap mempesona meskipun jumlah ikan sudah tidak lagi seperti dulu, baik masa tergenang air maupun kering.  Sekarang ini menurut penduduk setempat lama danau tergenang air atau menjadi danau kadang tidak sampai setahun atau kadang mengikuti musim.  Sistem larangan pun sudah tidak diberlakukan lagi, akibatnya baru saja menjadi danau masyarakat sudah menangkap ikan-ikan sampai tak bersisa. Ikan terkecilpun disapu bersih tanpa menunggu besar dan berkembang dulu. “abih tandeh” (bahasa Minang).

Kalau dengan jala hanya ikan nila dan mujair yg bisa tertangkap.  Pantau tidak bisa pakai jala karena kecil-kecil.  Alat yang dipakai adalah tangguak, lukah atau pasok rapat.

Dulu warga boleh menangkap ikan hanya dengan pancing. Tidak boleh menggunakan alat tangkap selain pancing. Kondisi itu menyebabkan ikan selalu tersedia dengan jumlah yang sangat banyak.  Sejak era reformasi, warga sudah menggunakan beragam alat tangkap, seperti pasok, jalo (jala), lukah dan lainnya.  Penggunaan peralatan tangkap sangat berpengaruh terhadap populasi ikan.   Walaupun demikian, keberadaan Tarusan tetap menjadi sawah-ladang penduduk setempat.  Oleh karena itu peliharalah lingkungan sekitar danau dan cara menagkap ikan.

Ikan-ikan Danau Tarusankamang

Tarusan Kamang dihuni beragam ikan lokal dan ikan nila. Ikan lokal disebut warga sebagai ikan asli. Ikan asli antara lain: ikan Rayo, Mujair, Puyu, Udang, Paweh, Rutiang (gabus), kalang-kalang (lele) [ada juga yang menyebut kangkalang] dan pantau.  Ikan yang paling populer adalah Pantau selengkapnya disebut Pantautarusan. Uniknya lagi, Ikan pantau ini hanya ada di Tarusankamang ini saja. Semua ikan-ikan itu bebas siapa yang mau mengambil tanpa ada yang melarang.  Di Tarusan ada dua istilah pantau yaitu pantau paruik buncik (perut gendut) dan pantau paruik ramping (Pantautarusan).  Pantau yang ada di Tarusan, disebut juga Pantau Bana oleh penduduk.  Pantau buncik tidak ada.  Ikan Nila dan ikan Masmajalaya berasal dari benih ikan yang ditebarkan kemudian.  Namun perkembangan ikan nila sangat pesat.

 Arti Tarusan Bagi Penduduk

Manangguak, Manjalo dan Malukah Marintang Ari Manjalang Sanjo   

Di Tarusan Kamang, terdapat tradisi Paso [menangkap ikan-ikan kecil (Pantau)] dan manjalo.  Bocah kecil (anak remaja) pun mampu menjala ikan.  Para pelajar di Jorong Halalang, bisa memperoleh uang untuk berbelanja sendiri.  Mereka cukup menangkap udang kecil di pinggir Tarusan saat terisi air, kata Erita (46) (pejual makanan dan minuman di pinggir danau) dan Jusar St. Rajo Basa (76).  Para pelajar tersebut menangkap udang menggunakan lukah (bubu).  Pada sore hari lukah dipasang dipinggir tarusan caranya membendung perairan di pinggir danau dengan tanah bercampur material lainnya.  Pagi hari, lukah diangkat dan di dalamnya sudah terperangkap sejumlah udang.

Udang dijual kepada pengumpul, dengan harga Rp1.500/kemasan air mineral gelas. Hasil usaha tersebut lumayan, ada yang memperoleh uang per hari dari usaha tersebut Rp 6.000 sampai Rp 15.000.  Pantau hasil tangkapan mereka dijual sekitar Rp 8.000/gelas bekas kemasan air mineral. “Mereka yang rajin akan memperoleh rezeki.” :kata Erita sebagai penampung tangkapan.  Pelanggan Erita adalah para pemancing dan penangkap ikan di Tarusan, serta para pelancong yang datang dari luar Kamangmudiak.  Menurut Erita, setiap hari ada saja pendatang berkunjung ke Tarusan.  Ada yang hanya sekedar rekreasi, juga banyak yang memancing ikan.  Pengunjung dikutip bayaran. Hasilnya untuk merawat dan memperbaiki jalan menuju danau.

Peliharalah Lingkungan (Ekologi) dan Biota Air Danau

Pelihara hutan disekeliling danau dari penebangan.  Apa kata penduduk tentang lama genangan air di danau Tarusan.  Jangka waktu danau terisi air sekarang kadangkala 5 bulan hingga 2 tahun, tak pasti lamanya.   Menurut cerita orang tua-tua, sebelum tahun 1970-an, ketika hutan-hutan Bukitbarisan masih terpelihara, air tergenang bisa selama 4 sampai 5 tahun.  Pengamatan penduduk tersebut dapat dijadikan bahan atau indikasi untuk memelihara lingkungan sekitar danau.  Agar kelangsungan keindahan danau dan ikan dapat bertahan, pemerintah daerah (setempat) jangan membiarkan:  1). Masyarakat merusak lingkungan (bukit) sekitar Tarusan dan 2). Memelihara ikan dengan “karamba jaring terapung (KJT)”, karena perlakuan itu diperkirakan akan merusak ekologi danau dan biota air danau, seperti: air danau menjadi kotor, bauk dan mungkin keruh, hal ini bisa mematikan ikan lokal, terutama Pantautarusan yang hanya satu-satunya ada disini.  Artinya keuntungan dari pemeliharaan ikan hanya sesaat, lingkungan Tarusan akan rusak, akibatnya harapan peningkatan pendapatan akan hilang.  Perhatikanlah dan belajarlah dari danau-danau dan bendungan dimana disana terdapat pemeliharaan ikan dengan KJT dan hutan sekitar ditebang.  Kejadian itu tak boleh terjadi di danau Tarusankamang.  Apalagi danau Tarusan tidak mempunyai pelepasan (pembuangan) air sebagaimana telaga/danau pada umumnya.  Danau/bendungan yang ada pelepasan air saja terjadi polusi diair.  Bila terjadi polusi diair (air berubah warna atau kotor dan bauk tak sedap, ikan local akan tercemar), tarusan tidak akan bisa lagi digunakan untuk berenang, palancong (wisata) tak akan mau datang lagi.

Pembuatan KJT di Tarusan juga dilarang oleh Bupati Agam H. Indra Catri Dt. Malako Nan Putiah, bertujuan untuk melindungi keberadaan ikan yang ada dalam Tarusan, serta kelestarian lingkungan genangan air Tarusan yang selalu bening.  Akhirnya tentu sangat diharapkan kerja sama semua pihak (pemerintah, ulama, kerapatan adat, penduduk dan pelancong) agar keunikan Tarusankamang tidak hilang atau rusak oleh tangan-tangan manusia yang tak bertanggungjawab dan/atau oleh orang-orang yang hanya untuk kepentingan (keuntungan) sesaat.

Baca Juga

Kiktinggi Kota Wisata Sejarah   https://lizenhs.wordpress.com/2008/11/22/kiktinggi-kota-wisata-sejarah/

Siapa Dibelakang Great Wall of Koto Gadang   https://lizenhs.wordpress.com/2013/04/26/siapa-dibelakang-great-wall-of-koto-gadang-gwokg/

Sumber:

Hanif Hoesin Datuak Panduko Nan Gadang ,

EJK fotografie (foto-foto Tarusan).

Rantau net.

Beberapa Media elektronik dan Koran tidak ditampilkan.

http://www.esi.utexas.edu/outreach/caves/karst.php

http://unik.kompasiana.com/2013/01/28/tarusan-kamang-keajaiban-alam-minangkabau-523348.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: