Posted by: lizenhs | December 16, 2013

Teknologi Tepat: Pemanfaatan Tenaga Radiasi Matahari, Pemukiman dan Lingkungan Hidup

Teknologi Tepat: Pemanfaatan Tenaga Radiasi Matahari, Pemukiman dan Lingkungan Hidup

Tulisan yang akan pembaca Bukik Ranah Ilmu baca berikut ini adalah satu dari beberapa tulisan Bang Aldy (Aldy Anwar alm), membahas tenaga radiasi matahari dalam berbagai kaitan seperti  “Teknologi, Pemukiman dan Lingkungan Hidup”, “Lingkungan Pemukiman Swasembada”, “Tenaga Matahari”, “Tenaga Radiasi Matahari”,“Manfaat Tenaga Radiasi Matahari”, “Teknologi Tepat dan Tenaga Radiasi Matahari”.  Tulisan ini pernah dimuat pada  Majalah Pustaka diterbitkan oleh YPM Salman ITB, nomor 10 tahun ke II, tahun 1978,  dengan judul “Teknologi Tepat dan Pemanfaatan Tenaga Radiasi Matahari”.  Tulisan tersebut diterbitkan kembali di Bukik Ranah Ilmu, mengingat isinya masih relevan dan merupakan awal untuk memahami tenaga radiasi matahari dan lingkungan. Selain itu masih sedikit tulisan tentang “tenaga matahari”.  Semoga bermanfaat.  Selamat membaca (Haslizen Hoesin).

Teknologi Tepat dan Pemanfaatan Tenaga Radiasi Matahari 

Oleh Aldy Anwar

Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang hidup dan jadi khalifah di muka bumi.  Maka muka bumi telah ditetapkan dan disiapkan sebagai lingkungan hidup dan tempat bermukim bagi manusia. Di muka bumi telah terkandung sumber daya alam bagi segala keperluan materi dan energi yang termasuk kebutuhan pokok hidup manusia. Udara segar, air tawar, bahan gizi, bahan bangunan, bahan bakar, cahaya penerangan dan iklim nyaman, misalnya, telah tersedia cukup dan bebas di alam lingkungan hidup manusia.

Tetapi perkembangan kepadatan penduduk, pemusatan pemukiman dan peradaban serba benda yang berpola kehidupan boros materi dan energi, menyebabkan timbul masalah yang gawat bagi manusia dan alam lingkungannya.  Yaitu sumber daya alam lingkungan setempat tidak lagi memadai untuk menyediakan segala kebutuhan pokok hidup manusia dalam jumlah dan mutu yang dikehendaki di tempat dan waktu yang diperlukan.  Artinya kebutuhan hidup manusia telah melebihi daya dukung alam lingkungan hidup setempatnya.

Untuk mengatasi keterbatasan itu manusia manampilkan teknologi [baca Beberapa Pemikiran Tentang Perkembangan Teknologi Dan Masyarakat Terhadap Agama (1) dan (2)] https://lizenhs.wordpress.com/2012/07/14/1053/  .  Dengan teknologi, manusia mampu mengurus sumber daya alam lingkungan setempatnya jauh melampaui dukungan yang sebenarnya.  Dengan teknologi itu manusia mampu pula untuk mendatangkan sumber daya baru dari lingkungan alam lingkungan lain di luar tempat pemukimannya. Untuk keperluan ini diperkembangkanlah industri.

Teknologi, Pemukiman dan Lingkungan Hidup

Teknologi adalah sistem yang jadi perantara bagi manusia dengan alam lingkungan hidupnya.  Teknologi dapat mendekatkan atau menjauhkan manusia dari alam lingkungannya.  Dalam kehidupan masyarakat agraris di desa, manusia lebih dekat dengan alam lingkungannya. Sebagian besar kebutuhan pokok hidupnya masih diperoleh langsung dari alam lingkungan setempatnya dengan sedikit perantaraan teknologi.  Udara segar, air tawar, bahan gizi, bahan bangunan, bahan bakar dan cahaya penerangan siang hari masih dapat diperoleh dari alam bebas dilingkungan pemukiman setempat, secara langsung ataupun dengan bantuan teknologi sederhana saja.

Tetapi dalam kehidupan masyarakat industri, lingkungan sebagai yang lazim terdapat di kota, manusia semakin jauh terpisah dari alam lingkungan setempatnya.  Di sini manusia memperoleh hampir semua kebutuhan pokok hidupnya melalui industri yang mengolah dan menghasilkannya dengan matarantai teknologi yang semakin panjang, sedangkan sumber daya yang terpakai umumnya didatangkan dari alam lingkungan lain yang termasuk wilayah, daerah atau negara lain.  Misalnya air minum, diperoleh dari pusat penjernihan di luar kota, beras diimpor dari luar negari, semen didatangkan dari tanah seberang, minyak tanah juga diimpor dari luar negeri dan listrik untuk alat tata udara (AC) dan lampu penerangan (termasuk waktu siang hari) dari pusat pembangkit listrik luar kota.  Jadi semua memakai teknologi industri yang tergantung pada sumberdaya yang harus didatangkan dari luar lingkungan pemukiman setempat, yaitu dari pedesaan di sekitar kota, dari kota-kota lain atau dari luar negeri.

Dengan menggantungkan segala keperluan hidupnya dari industri yang mengolah sumber daya alam lingkungan lain itu masyarakat kota mengabaikan sumberdaya alam lingkungan setempat, misalnya yang terdapat dalam pekarangan dan atap rumah sendiri (tanaman pekarangan, air tanah, curah hujan, angin, sinar matahari dll). Selain itu dihasilkan limbah, sampah dan pencemaran yang melampaui daya serap alam lingkungan setempat.  Demikianlah di setiap kota kita dapat menyaksikan semakin bertebaran, menumpuk dan menggunung sampah yang sangat mengganggu kesehatan masyarakat dan merusak keseimbangan alam lingkungan.

Kemajuan industri cendrung memperpanjang mata raintai teknologi yang terdapat diantara sumber daya alam dan manusia sebagai pemakai akhirnya.  Misalnya cahaya penerangan siang hari dalam rumah diperoleh dari lampu yang memakai arus listrik yang didatangkan dari pusat pembangkit listrik tenaga air.  Tenaga air berupa air terjun diperoleh dari curah hujan di pegunungan.  Hujan berasal dari awan yang terjadi dari penguapan air laut yang menyerap panas sinar matahari.  Jadi asal usul energi untuk cahaya penerangan siang hari dalam rumah adalah sinar matahari di lautan yang jauh dari tempat pemakai akhirnya.  Padahal sinar matahari sebagai sumber cahaya penerangan alamiah terdapat melimpah di luar rumah. Tetapi ini tidak dimanfaatkan, lebih-lebih arsitektur rumah itu sejak semula mengabaikan iklim dan penyinaran matahari setempat.

Begitu pula halnya dengan keperluan akan air tawar di kota. Pemakaian air dirumah untuk kepeluan minum, masak, mandi, cuci, membersihkan mobil, menyiram kebun, mengairi kolam, membuat air mancur dan menyiram dan membersihkan kakus, semuanya memakai jenis air yang sama, yaitu air saluran (ledeng) yang bermutu air minum.  Pusat penjernihan ini mengambil dan membersihkan air sungai yang keruh dan kotor.  Sementara air hujan yang tertadah oleh atap dan halaman rumah tidak dimanfaatkan dan dibiarkan mengalir keluar halaman yang tidak memiliki daya serap karena pemukimannya telah dilapisi beton, semen atau aspal.  Air hujan yang meninggalkan halaman rumah itu memenuhi saluran pembuangan air ditepi jalan atau menggenang dipermukaan jalan dan ini menjadi sumbangan banjir yang selalu terjadi di kota-kota pada musim hujan.  Air banjir kota ini ikut mengeruhkan dan mengotorkan air sungai yang kemudian diambil dan dijernihkan oleh perusahaan air minum untuk selanjutnya disalurkan kerumah-rumah para langganannya.  Jadi air hujan yang sama jugalah yang akhirnya dipakai di rumah, tapi setelah melakukan perjalanan keliling kota dan industri penjernihan air.

Demikianlah, apabila lingkungan pemukiman, dengan rumah tinggal sebagai satuan terkecilnya, tidak dirancang sebagai sistem pengadaan kebutuhan pokok hidup yang memanfaatkan sumber daya lingkungan setempatnya, maka kita akan terikat sepenuhnya pada industri yang membuat kita tergantung pada sumber pengadaan kebutuhan pokok hidup yang ada diluar lingkungan pemukiman.  Keadaan ini jelas tidak mantap sebab kita tidak dapat mengendalikan dan menjamin sumber dan saluran pengadaan kebutuhan pokok hidup kita itu.

Lingkungan Pemukiman Swasembada

Dengan teknologi tepat dapatlah diperkembangkan lingkungan pemukiman yang swasembada dalam pemenuhan kebutuhan pokok hidup para pemukimnya.  Yaitu dengan membuat setiap rumah tinggal sebagai suatu sistem pengadaan kebutuah pokok hidup bagi penghuninya yang memanfaatkan sumberdaya alam lingkungn pekarangannya. Artinya, cahaya dan panas matahari, udara dan angin, air hujan dan air tanah, tanah dan pasir, pepohonan dan semak- belukar dan semua hasil alam yang dapat diperoleh dalam batas-batas pekarangan itu perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meniadakan ketergantungan pada industri dan sumber daya alam lingkungan luar.

Dengan membuat lingkungan pemukiman yang swasembada (otonom, berdikari), maka dipersingkatlah jarak antara sumberdaya alam yang tersedia untuk dimanfaatkan dan pemakaian akhirnya dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia.  Ini berarti pula mempersingkat dan disederhanakannya matarantai teknologi yang jadi perantara sumberdaya alam lingkungan dengan manusia pemakai akhirnya. Semakin singkat dan sederhana teknologi, semakin hemat pula pemakaian sumberdaya alam lingkungan dan semakin sedikit dihasilkn pencemaran lingkungan.

Lingkungan pemukiman yang swasembada memanfaatkan sebaik-baiknya sumberdaya alam  lingkungan setempatnya, teristimewa tenaga matahari.  Tenaga matahari merupakan sumber daya alam lingkungan bumi. Bahkan tenaga matahari, khususnya tenaga radiasi matahari (sinar matahari), merupakan sumberdaya awal bagi sebagian terbesar sumberdaya alam lingkungan hidup kita, termasuk yang ada dalam batas pekarangan rumah tinggal kita. Oleh karena itu untuk dapat memperkembangkan teknologi tepat itu kita perlu mamahami tenaga matahari, teristimewa tenaga radiasi matahari, selanjutnya Memanfaatkan Tenaga Radiasi Matahari dan Teknologi Tepat nya

Tenaga Matahari   

Tenaga matahari terdapat dimuka bumi dalam berbagai wujud dan penampilan yang bermanfaat bagi umat manusia dan alam lingkungan hidupnya.  Tenaga radiasi matahari atau  helioenergi  dapat digolongkan menurut wujudnya, yaitu: (1) yang alamiah, disebut tenaga alam matahari (helioeko-energi), terdapat dialam bebas dan (2) yang buatan, disebut tenaga teknik matahari (heliotekno-energi), diperoleh melalui pengubahan (konversi) secara teknik.

Tenaga Alam Matahari (helioeko-energi) terdapat dialam lingkungan hidup, dalam berbagai bentuk dan penampilan, yaitu: (1) bentuk asal, berupa tenaga radiasi matahari (pyrhelio-energi), ialah yang dipancarkan oleh matahari melewati atmosfir bumi dengan menjalani proses proses perpindahan radiatif, sampai kepermukan bumi dan (2) bentuk turunan, yaitu: (a) tenaga bumi matahari (heliogeo-energi), berasal dari tenaga matahari yang diserap oleh atmosfir dan permukaan bumi, menjalani proses termodinamik dan hidrodinamik, muncul sebagai : (i) tenaga radiasi matahari (radiasi atmosfir, radiasi permukaan bumi), (ii) tenaga termal (panas permukaan darat, panas permukaan air laut), (iii) tenaga mekanik (gerakan – angin, potensial – air terjun) dan (b) tenaga hayati matahari (heliobio-energi), berasal dari tenaga radiasi matahari yang melalui serangkaian proses kompleks fotosintetik dan bioenergetik berubah wujud menjadi: (i) tenaga nabati (kayu bakar, minyak nabati) dan (ii) Tenaga hewani (tenaga kuda, susu sapi).

Tenaga teknik matahari (helio-tekno-energi) dapat dibedakan menurut asalnya, yaitu: (1) tenaga teknik radiasi matahari (pyrhelio-tekno-energi) (2) Tenaga teknik bumi matahari (heliogeotekno-energi) dan (3) Tenaga teknik hayati matahari (heliobiotekno-energi).

Tenaga teknik matahari (helio-tekno-energi) dapat pula digolongkan menurut penampilan akhirnya, yaitu yang tersimpan atau dibangkitkan sebagai: (a) tenaga radiasi (cahaya penerangan lampu), (b) tenaga termal (panas air pemasak, panas udara pengering), (c) tenaga mekanik (penggerak pompa air, gerakan mesin uap), (d) tenaga listrik (arus listrik photovoltaic, arus listrik termoelektrik) dan (e) tenaga kimia (zat kimia penyimpan energi, biogas).

Teanaga Radiasi Matahari

Diantara berbagai jenis tenaga matahari yang ada di muka bumi ini, yang dalam wujud asalnya itulah yang terpenting, yaitu tenaga radiasi matahari (pyrhelio-energi).  Tetapi radiasi matahari merupakan sumberdaya awal bagi segala macam tenaga lainnya. Penelitian, pengendalian, pemanfaatan dan pelestarian tenaga radiasi matahari dimuka bumi pada umumnya dan dalam lingkungan hidup setempat pada khuusnya itulah yang paling utama harus dilakukan dalam rangka usaha kita akan memanfaatkan tenaga matahari secara teknologi tepat untuk kepentingan kehidupan manusia.

Tenaga radiasi matahari terbentuk sebagai hasil proses fusi termonuklir di pusat matahari, menjalani proses perpindahan radiatif melewati lapisan-lapisan atmosfir matahari, dipancarkan kesegala penjuru antariksa dan sebagian kecil diantaranya mencapai bumi yang beredar mengelilingi matahari.  Tenaga radiasi matahari itu berwujud arus photon dan gelombang elektromagnetik, dengan daerah panjang gelombang yang meliputi sinar gamma, sinar X. radiasi optik, gelombang mikro dan gelombang radio.  Sebagian terbesar energi terpusat pada daerah panjang gelombang yang termasuk radiasi optik, yaitu dari 10 pangkat min (-) 3 mikrometer sampai 10 pangkat 3 mikrometer (1 mikrometer = 10 pangkat – (min) 3 milimeter).

Radiasi optik terdiri atas radiasi ultraviolet (10 pangkat min 3 mikrometer sampai 0.38 mikrometer), radiasi tampak (0.38 mikrometer sampai 0.78 mikrometer) dan inframerah (0.78 mikrometer sampai 10 pangkat 3 mikrometer).  Di luar atmosfir bumi 7.0% energi terkandung dalam radiasi ultraviolet, 47.3%  dalam radiasi tampak dan 45.7%  dalam radiasi inframerah.  Di luar atmosfir, pada jarak rata-rata matahari-bumi, pada permukan yang tegak lurus berkas radiasi diperoleh daya 1353 Watt/meter kwadrat (konstanta radiasi surya).

Tenaga radiasi matahari dalam perjalanannya dari luar atmosfir bumi sampai kepermukaan bumi melewati atmosfir bumi menjalani serangkaian proses radiatif, seperti transmisi, pantulan, pembauran, penyerapan dan pemancaran, sehingga mengalami perubahan daya (arus energi dalam satuan waktu), panjang gelombang, arah dan polarisasi.  Dalam keadaan atmosfir bening ( langit cerah tak berawan), yang sampai kepermukaan bumi (pada ketinggian permukaan laut) pada waktun tengah hari (matahari pada kedudukan tertinggi) hanya sekitar 75% dari tenaga radiasi matahari yang tiba ditepi atmosfir bumi.  Sisanya yang 25 % itu sebagian dipantulkan kembali keangkasa luar dan sebagian lagi diserap atmosfir, pada panjang gelombang kurang dari 0.29 mikrometer diserap habis oleh gas ozon (O3) dilapisan atmosir atas dan pada panjang gelombang lebih dari 5 mikrometer diserap habis oleh uap air dan karbon dioksida (CO2).  Maka  yang sampai kepermukaan bumi hanyalah 0.29 mikrometer sampai 5 mikrometer.  Oleh karena itu lazim disebut radiasi gelombang pendek yang terdiri atas dua komponen, radiasi langsung dan radiasi baur.  Dalam keadaan atmosfir bening, radiasi baur besarnya sekitar 11% dari radiasi gelombang pendek, suatu jumlah yang tidak bisa diabaikan.  Dalam keadaan atmosfir berawan, radiasi baur mengambil bagian yang lebih besar dan mencapai 100% kalau matahari terlindung dibalik lapisan awan. Oleh karena itu radiasi baur merupakan bagian tenaga radiasi matahari yang perlu diperhatikan di samping radiasi langsung. Lebih-lebih di daerah beriklim tropis lembab yang lazim berawan banyak seperti pada umumnya tempat-tempat di Indonesia.  Gabungan radiasi langsung dan radiasi baur yang biasanya diukur dan ditadah sekaligus pada permukan datar disebut juga radiasi global.

Di samping radiasi gelombang pendek (radiasi Global), terdapat pula radiasi gelombang panjang, dengan daerah panjang gelombang 5 mikrometer sampai 100 mikrometer. Terdiri dari atas radiasi atmosfir dan radiasi permukaan bumi. Ini berasal dari tenaga matahari yang diserap oleh atmosfir dan permukaan bumi, dipancarkan kembali sebaga radiasi dengan daya yang lebih rendah, panjang gelombang bergeser ke arah inframerah.  Gabungan radiasi gelombang pendek dan gadiasi gelombang panjang disebut radiasi purna gelombang, dengan daerah panjang gelombang yang dapat diambil dari 0.2 mikrometer sampai 100 mikrometer.

Jadi di permukan bumi terdapat tenaga radiasi matahari (phyrhelio-energi) yang bergelombang pendek  dan tenaga radiasi bumi (pyrheliogeo-energi) yang bergelombang panjang, yang sering sukar dipisah-pisahkan kehadiran dan pengaruh-pengaruhnya dalam lingkungan hidup manusia.  Gabungan keduanya itu disebut tenaga radiasi matahari lingkungan (pyrhelio-energi), yang perlu mendapat perhatian khusus dalam setiap usaha penelitian, pemanfaatan dan pelestarian sumber daya alam lingkungan hidup manusia.

Manfaat Tenaga Radiasi Matahari

Tenaga radiasi di muka bumi punya aneka ragam manfaat yang dapat dibedakan tapi sukar dipisah-pisahkan.  Manfaatnya itu ialah sebagai: (1) sumberdaya materi lingkungan, (2) sumberdaya energi lingkungan, (3) sumberdaya informasi lingkungan dan (4) sumberdaya negentropi lingkungan.

Sebagai sumberdaya materi lingkungan, tenaga radiasi matahari adalah pembentuk unsur-unsur dasar lingkungan hidup manusia, yaitu: (a) udara segar, (b) air tawar, (c) tanah subur (humus) dan (d) tumbuh-tumbuhan hijau (vegatasi) yang kesemuanya tidak mungkin terbentuk dan berfungsi tanpa interaksi dengan tenaga radiasi matahari.

Sebagai sumber energi lingkungan, tenaga radiasi matahari menggerakkan segala proses  alamiah (fisis, biologis, ekologis) dengan penampilan wujud: (a) energi radiasi, (b) energi termal, (c) energi mekanik, (d) energi listrik, (e) energi kimia, (f) energi nabati dan (g) energi hewani.

Sebagai sumberdaya informasi lingkungan, tenaga radiasi matahari melalui perubahan jumlah (daya) dan mutu (spektrum) serta arah dan polarisasi menurut tempat dan waktu itu memberikan keterangan tentang: (a) matahari, (b) benda-benda langit (bulan, planit), (c) atmosfir bumi. (d) permukaan bumi (daratan, perairan, vegetasi) dan (e) radiasi matahari itu sendiri (radiasi ultraviolet, radiasi tampak, radiasi inframerah).

Akhirnya sebagai sumberdaya negentropi lingkungan. Tenaga radiasi matahari memungkinkan alam lingkungan di muka bumi memiliki: (a) keanekaragaman, (b) keteraturan, (c) perkembangan (d) kelestarian dan (e) kehidupan.

Segala manfaat tenaga radiasi matahari itu dapat diproleh dengan dua jalan, yaitu: (1) secara alamiah (ekologis) dan (2) secara teknologi.  Pemanfaatan secara alami dapat dilakukan dengan mengambil manfaat:

(a) proses-proses alam lingkungan (fisis, biologis, ekologis), termasuk (i) siklus materi (air, karbon, nitrogen), (ii) arus energi (radiatif, termodinamik, hidrodinamik, fotokimia, fotosintetik, bioenergetik), (iii) arus informasi (penglihatan, pemandangan, komunikasi) dan (iv) arus negentropi (kehidupan nabati, kehidupan hewani).

(b) hasil-hasil alam lingkungan termasuk (i) bahan materi lingkungan (udara segar, air tawar, tanah subur, bahan gizi, bahan sandang, bahan bangunan, bahan kerajinan), (ii) energi lingkungan (cahaya, panas, gerakan, potensial, bahan bakar, tegangan listrik), (iii) informasi lingkungan (terkam, sesaat, ramalan), dan

(c) mutu alam lingkungan, termasuk: (i) kondisi lingkungan (cuaca, iklim, vegetasi) dan (ii) mutu lingkungan hidup (kesehatan, daya dukung, kelestarian).

Teknologi Tepat dan Tenaga Radiasi Matahari

Pengendalian dan pemanfaatan tenaga raiasi matahari yang memperhatikan satu segi manfaatnya saja, missal sumberdaya energi, akan menurunkan manfaat lainnya yang dapat diperoleh langsung secara alamiah maupun tidak langsung secara teknologis.  Bahkan pemanfaatan tenaga rmatahari secara teknologi tidak tepat dapat pula menimbulkan pencemaran lingkungan termasuk pencemaran radiasi matahari.  Pencemaran radiasi matahari radiasi matahari ialah apabila terjadi perubahan jumlah (daya) dan mutu (spectrum) radiasi matahari sedemikianrupa sehingga mengganggu dan mengurangi manfaatnya yang beraneka ragam itu.  Misal radiasi gelombang penek yang diserap dan dipancarkan kembali sebagai radiasi gelombang panjang yang tidak dikehendaki dan kutrang bermanfaat.  Ini terjadi apabila permukaan tanah yang semula subur berlapiskan tumbuh-tumbuhan hijau (vegetasi) berubah menjadi gundul dan gersang atau dilapisi permukaan beton, semen dan aspal.  Demikian pula halnya apabila pemanfaatan tenaga radiasi matahari mengutamakan pendekatan teknologi yang lazim dan tidak tepat, yaitu memakai alat-alat penadah datar maupun konsentrator yang bertebaran menutupi permukaan bumi yang luas, yang akibatnya sama dengan penggundulan hutan dan penggersangan tanah.

Pemanfaatan tenaga rdiasi matahari yang sebaik-baiknya ialah secara alamiah (ekologis), yang berarti pertama-tama menghijaukan permukaan daratan bumi dan membeningkan permukaan perairan bumi.  Daratan yang hijau dan perairan yang bening mempunyai efisiensi pemanfaatan tenaga radiasi matahari yang tertinggi dan amat memperkaya sumberdaya alam lingkungan hidup manusia. Dengan penghijauan permukaan daratan bumi, erosi dan pencemaran lingkungan dapat dikendalikan sehingga pembeningan perairan dan laut serta atmosfir sekaligus dapat tercapai dan demikian daya dukung alam lingkungan bumi secara keseluruhan meningkat.

Teknologi tidak tepat cenderung menguras sumberdaya dan menurunkan daya dukung alam lingkungan. Sebaliknyalah yang dicapai dengan teknologi tepat, ialah memperkaya sumber daya dan meningkatkan daya dukung alam lingkungan hidup setempat.  Selanjutnya teknologi tidak tepat cenderung menggantikan dan mengabaikan kemampuan pribadi manusia. Tetapi teknologi tepat justru meningkatkan kemampuan pribadi manusia dalam mengatasi keterbatasan tubuh, pancaindra dan otaknya.  Teknologi tidak tepat cenderung pula tidak memperhatikan pola ketersediaan sumberdaya alam lingkungan setempat maupun pola pemakaian akhir dalam memenuhi kebutuhan pokok hidup manusia.  Maka teknologi tepat ialah yang berhasil menyelaraskan pola ketersediaan sumberdaya dan pola pemakaian akhirnya.

Selama ketiga syarat tersebut belum terpenuhi, belumlah kita dapat menyebut suatu teknologi sebagai teknologi tepat, walaupun kita telah memanfaatkan tenaga radiasi matahari sebagai sumber daya energi sekalipun.  Karena sebagai yang dikemukakan diatas, pemanfaatan tenaga radiasi matahari secara teknologi dapat pula menimbulkan pencemaran lingkungan, yaitu berupa polusi radiasi gelombang panjang dan polusi termal dengan segala akibatnya yang mngganggu keseimbangan ekologis alam lingkungan hidup.

Pendekatan teknologi tepat tidak bermula dari pengembangan alat-peralatan teknologi (“hardware”), tetapi bertolak dari penentuan secara terperinci pola pemakaian akhir, kebutuhan hidup pokok dan mutu lingkungan hidup manusia disatu pihak dan pola ketersediaan sumberdaya, dayadukung alam lingkungan dan mutu lingkungan hidup dilain pihak.  Setelah itu baru dapat dipilih alternative metoda dan disain yang paling tepat untuik alat-peralatam (“hardware”) yang dapat menjamin keselarasan antara pola ketersediaan sumberdaya dan pola pemakaian akhirnya.

Dalam usaha memanfaatkan tenaga radiasi matahari yang jumlah (daya), mutu (spectrum), arah dan polarisasinya berubah-ubah menurut tempat dan waktu, memenuhi syarat-syarat teknologi tepat itu bukanlah yang mudah.  Tetapi tanpa memperhatikan dan memanfaatkan tenaga radiasi matahari yang tersedia di alam lingkungan hidup setempat kita, tidak mungkin pula kita memperoleh teknologi tepat. Demikianlah, teknologi tepat dan tanaga radiasi matahari tidak dapat dipisah-pisahkan.

Marilah kita perkembangkan teknologi tepat yang memanfaatkan tenaga radiasi matahari itu untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Bandung, 6 November 1978.

 Baca Juga:

Energi Matahari Mencemarkan lingkungan …. ???? https://lizenhs.wordpress.com/2013/04/30/energi-matahari-mencemarkan-lingkungan/

Radiasi matahari, lingkungan dan Energi Dalam Bangunan  https://lizenhs.wordpress.com/2011/11/11/radiasi-matahari-lingkungan-dan-energi-dalam-bangunan/

Rumah yang Layak, Sehat dan Hemat Energi: Apa ituuu ….?    https://lizenhs.wordpress.com/2013/02/04/rumah-yang-layak-sehat-dan-hemat-energi-apa-ituuuu/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: