Posted by: lizenhs | June 30, 2013

Fisika Bangunan: TATA UDARA ALAMI, TATA CAHAYA ALAMI DAN TATA SUARA ALAMI

Fisika Bangunan: TATA UDARA ALAMI, TATA CAHAYA ALAMI DAN TATA SUARA ALAMI

Oleh: Haslizen Hoesin

Setiap bangunan [baik rumah timpat tinggal, gedung sekolah (ruang kelas), bangunan kantor, Rumah tempat ibadah, maupun bangunan untuk pertemuan], harus nyaman. Artinya udara sejuk (tidak hangat), tidak terdapat tempat yang gelap/remang-remang dan suara (bunyi)/ucapan kata-kata (kalimat) harus jelas atau dapat didengar dan dipahami dengan kekerasan tertentu dan jernih. Paparan dibawah ini membahas fisika bangunan dari sisi serba alami, baik aliran udara, pencahayaan maupun bunyi (suara), dipaparkan juga radiasi matahari selintas, sebagai konsep energi. Selamat membaca, mudah-mudahan bermanfaat.

Radiasi Matahari
Radiasi matahari dapat dibedakan tiga komponen: langsung, pantul dan baur. Radiasi langsung dibedakan pula dengan radiasi langsung normal, vertical dan horizontal. Radiasi baur dibedakan dua komponen yaitu radiasi baur vertikal dan horizontal. Selain itu ada pula yang disebut dengan radiasi global (penjumlahan langsung, pantul dan baur). Dalam bentuk gelombang radiasi matahari dibedakan: (1) Ultra ungu (violet), (2) Cahaya tampak dan (3) Gelompang panjang (infra merah). Untuk menambah wawasan Baca juga: Energi Radiasi Matahari: Pemanfaatan Pada Pertanian, Perikanan, Bangunan dan Listrik. https://lizenhs.wordpress.com/2010/04/24/energi-radiasi-matahari-pemanfaatan-pada-pertanian-perikanan-bangunan-dan-listrik/ dan Cahaya Tampak: “Photosynthe- sis” Dan Penghematan Energi Dalam Bangunan   https://lizenhs.wordpress.com/2010/04/24/cahaya-tampak-%E2%80%9Cphotosynthesis%E2%80%9D-dan-penghematan-energi/ .
Matahari (Surya) adalah sumber energi utama yaitu radiasi matahari dan cahaya tampak yang diperlukan pada photosynthesis untuk kehidupan, menghangatkan permukaan bumi dan udara. Hal inilah yang menyebabkan pergerakan udara (angin), penguapan, hujan dll.
Dari paparan diatas jelaslah bahwa cahaya tampak bagian dari radiasi matahari. Sama dengan radiasi matahari, cahaya tampak dibedakan atas tiga komponen yaitu langsung, pantul dan baur. Cahaya langsung dibedakan dengan cahaya langsung normal, langsung vertical dan langsung horizontal. Cahaya baur dibedakan pula dengan cahaya baur vertikal dan baur horizontal. Selain itu ada pula yang disebut cahaya global (penjumlahan langsung, pantul dan baur).

Bangunan dan Iklim
Bangunan adalah tempat berlindung dari lingkungan sekitar/luar seperti iklim, radiasi matahari, binatang (berbisa, beracun, buas) dll. Dinding tegak (vertikal) bangunan perlu terlindung dari radiasi matahari langsung. Oleh karena itu dipakai tritis dan/atau pohon pelindung/peneduh. Atap bangunan dapat miring dan/atau horizontal. Didepan, samping dan belakang bangunan rumah ditanam pohon peneduh (berbuah) yang dapat dimakan (seperti mangga, jambu dll.). Seumpama tidak memiliki halaman yang luas, bisa menanam tanaman yang agak tinggi dan rindang dedaunan di pot. Pagar halaman sebaiknya pohon perdu, yang berfungsi meredam/menahan suara bising, debu dan menghasilkan Oksigen. Bila berpagar tembok dan/atau besi, dibalik pagar antara pagar dan dinding rumah ditanam tanaman hias seperti lidah mertua alias sansevieria, menurut penelitian tanaman ini penyerap CO2 terbaik, atau tanaman sayur seperti cabai besar, cabe keriting, cabe rawit, terong, tomat, bawang dll. Tanaman bumbu seperti jeruk nipis, jeruk purut, kapula, kunyit, serai, jahe, kencur, lengkuas, mangkokan (tapak leman), pandan, kemangi, ketumbar dll. Tanaman obat dll. Mengenai bangunan sebagai penambah pengertian.  Baca juga: Bangunan yang layak, sehat dan hemat energi, Rumah Apa … ituuuu?    https://lizenhs.wordpress.com/2013/02/04/rumah-yang-layak-sehat-dan-hemat-energi-apa-ituuuu/
Harus diingat bahwa Indonesia berada didaerah iklim tropis lembab (berada diantara 32.5 derajat lintang utara/selatan), banyak hujan dan radiasi/sinar matahari. Jadi rancangan bangunan iklim tropis berbeda dengan daerah iklim subtropis, iklim sedang dan iklim kutub. Jangan disamakan atau terkecoh dengan istilah-istilah rumah model lain, model rumah di Indonesia adalah model iklim tropis. Langit-langit rumah diperlukan untuk mengurangi panas dari radiasi matahari pada atap (sebagai meredam panas). Langit-langit diberi lubang udara agar ruangan menjadi sejuk dan lubang cahaya agar cahaya matahari masuk raungan. Apabila rumah bertingkat, sebaiknya hunian berada di lantai atas, dilengkapi dengan lubang udara dan cahaya yang memadai, sehingga tidak perlu dinyalakan lampu di siang hari dalam bangnan. Itulah konsep hemat energi dalam bangunan. Baca juga: Fisika Bangunan, Bangunan Apa….. Ituuu ???  https://lizenhs.wordpress.com/2011/11/26/fisika-bangunan-bangunan-apa-ituuu/.  Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat terutama bagi yang akan merancang rumah hunian, rumah tempat ibadah, ruang kelas, ruang pertemuan, dll.

Tata Udara Alami
Konsep tata udara alami adalah udara bebas masuk dan keluar bangunan sepanjang hari (24 jam) mulai dari Subuh, pagi, siang, sore dan malam, perlakuan untuk tataudara alami adalah membuat lubang (bukaan) udara (ventilasi) pada dinding dan langit-langit. Udara sejuk masuk ruang bangunan, kemudian keluar membawa udara hangat (tubuh, peralatan penghasil panas dan CO2) dari ruangan, secara alami yaitu dengan cara didorong oleh angin luar bangunan dan memanfaatkan sifat-sifat udara. Jadi tata udara alami adalah gerakan (sirkulasi) udara di dalam ruangan dengan memanfaatkan sifat-sifat udara dan dorongan (tekanan) gerakan udara luar melalui lubang udara (ventilasi). Lubang udara (ventilasi) yang baik, selain memperlancarkan sirkulasi (gerakan) udara, juga untuk memelihara kesehatan dalam ruangan.
Agar terjadi dorongan (tekanan) udara dari luar bangunan untuk menggerakkan udara dalam ruangan, rancangan rumah/bangunan terutama mengenai bukaan selain tata ruang atau kamar-kamar, harus memperhatikan arah dan besar/kuat angin di wilayah hunian. Data arah dan besar/kuat angin dapat diperoleh pada Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG). Jadi rancangan rumah tinggal/gedung-gedung tempat kegiatan manusia sebaiknya memperhatikan data besar dan arah angin, sehingga rumah menjadi nyaman tanpa menggunakan tata udara buatan. Bila dorongan udara luar lemah, langkah-langkah yang digunakan tentu menambah lubang angin (memperluas bukaan), bila masih kurang baru dibantu dengan Kipas Angin atau Air Conditioning (AC)
Terdapat beberapa cara penempatan ventilasi, diantaranya pada dinding di berbagai penjuru dan langit-langit. Lubang bukaan, sebaiknya ada di bagian bawah dan atas dinding suatu ruangan. Pada bagian atas yaitu di langit-langit (tentu bila ada langit-langit). Gerakan udara memanfaatkan sifat-sifat udara (udara hangat akan bergerak atau mengambang keatas) dan dorongan udara melalui bukaan (ventilasi dan/atau jendela). Bukaan bagian bawah untuk masuk udara sejuk, bagian atas untuk keluar udara hangat yang berasal dari penghuni, lampu yang nyala, peralatan listrik dan CO2.
Dinding pemisah ruangan sebaiknya terdapat celah yang lebar dan tinggi seperti pintu yang tidak memiliki daun, sebagai lubang udara, misalnya ruangan tamu dengan ruangan keluarga dan ruang makan yang di batasi dinding, sehingga memudahkan sirkulasi udara dalam bangunan. Pada ruang kamar tidur dengan ruang lain dapat berbentuk lubang secukupnya (kecil), tergantung dengan jumlah penghuni kamar tidur, sehingga mencukupi untuk mengalirkan (sirkulasi) udara pada kamar tersebut.
Di dapur selain bukaan ventilasi dan pintu buat juga jendela sebagai tempat masuk dan keluar udara. Untuk melancarkan gerakan udara hangat dari tungku (kompor) saat memasak bergerak keluar, ada lubang udara di bagian bawah, agar dipojok ruang dapur tidak lembab.

Manfat Bukaan udara (ventilasi)
Gerakan udara secara alami dalam ruangan bermanfaat membawa O2 dari luar apalagi dipekarangan terdapat pula tanaman hijau menghasilkan O2 dan membawa udara hangat dan CO2 keluar ruangan. Perlakuan demikian akan menghemat pemakaian energi.

Tata Cahaya alami
Konsep tata cahaya Alami (cahaya tampak) adalah memanfaatkan cahaya matahari untuk pencahayaan didalam ruangan melalui bukaan cahaya (jendela) sehingga cahaya optimal masuk mulai pagi sampai sore. Jadi manusia dalam ruangan mendapatkan cahaya matahari, bermanfaat untuk kesehatan tubuh dan sanitasi ruangan, sekaligus juga memperoleh pencahayaan yang cukup dan menghangatkan ruangan di pagi hari.
Bidang bangunan yang bisa dimanfaatkan untuk masuk cahaya alami ke dalam ruangan adalah dinding (bidang vertikal) dan atap (bidang miring/horizontal). Dinding, sudah lumrah sebagai bidang tempat jendela dan ventilasi. Jendela dan ventilasi dapat dirancang dengan berbagai model sedemikian rupa sesuai selera pemilik bangunan. Justru yang jarang diaplikasikan adalah bidang atap menjadi media pencahayaan. Dengan demikian pada pencahayaan alami yang berperan adalah kuat penerangan pada bidang vertical dan bidang miring. Baca juga: Cahaya Tampak: “Photosynthesis” Dan Penghematan Energi Dalam Bangunan   https://lizenhs.wordpress.com/2010/04/24/cahaya-tampak-%E2%80%9Cphotosynthesis%E2%80%9D-dan-penghematan-energi/
Apabila menggunakan pencahayaan alami siang, sebaiknya tidak mengambil panas matahari yang berlebihan ke dalam ruangan. Artinya memperhatikan lintasan gerak surya dan ukuran peneduh (tritis). Alat peneduh digunakan untuk meminimalisir panas dan juga untuk mengurangi silau cahaya. Pemilihan kaca juga harus kritis dalam memastikan pencahayaan alami siang dalam bangunan.
Radiasi matahari memiliki panjang gelombang dari ultra ungu sampai gelombang panjang yang sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh dan sanitasi ruangan. Cahaya alami yang masuk kedalam ruangan, menjadikan manusia yang beraktivitas di dalam ruangan akan terjaga mutu kesehatannya.
Cahaya matahari memiliki warna tertentu dan bisa menambah estetika ruang bangunan. Komponen-komponen cahaya dapat berupa langsung, pantulan dan baur, selain itu cahaya dapat pula diserap oleh permukaan. Pemantulan dan penyerapan tergantung pada warna permukaan benda. Semakin gelap warnanya, maka semakin tinggi koefisien serapnya. Hal ini juga dapat mempengaruhi estetika.
Cahaya matahari yang masuk melalui lubang cahaya (jendala), banyaknya ditentukan oleh bentuk dan luasan. Betuk/luas jendela perlu diperkirakan untuk mencukupi kebutuhan pencahayaan. Bentuk jendela memanjang keatas menyebabkan cahaya masuk cukup banyak, namun distribusi cahaya kurang baik.
Lubang cahaya bila panjang dua kali ukuran tinggi, disebut juga memanjang kesamping. Bentuk jendela memanjang kesamping lebih efektif (optimal) memberikan pencahayaan dalam ruangan.

Manfaat dari cahaya Alami
Cahaya alami siang hari (Daylighting) adalah suatu sumber cahaya dengan spektrum yang lebar dan sangat baik diadaptasi manusia. Studi yang terbaru menunjukkan bahwa pemanfaatan cahaya alami pada gedung dapat meningkatkan produktivitas, pengurangan waktu yang buruk, dan bahkan meningkat penjualan (sales). Cahaya alami dalam ruangan paling tidak mempunyai dua manfaat yang umum: 1) Menerangi ruangan didalam ruang, dan 2) Mengurangi pencahayaan buatan (elektrik) yang diperlukan, berarti hemat energi.
Lebih penting lagi, cahaya alami memberikan manfaat psikologis luar biasa kepada penghuni dalam bangunan; ini yang menjadi hal yang utama dari cahaya alami dibanding pencahayaan elektrik (buatan), bahkan dari suatu penelitian di Canadians memberitakan bahwa sebanyak 90 persen dari orang-orang yang waktunya dihabiskan didalam rumah, kesehatan yang baik adalah berkaitan langsung dengan menerima tingkat pencahaya yang bermutu.
Dengan pengintegrasian bangunan yang sesuai dan kendali pencahayaan buatan dan pencahayaan alami dengan mantap mengurangi kebutuhan akan tiruan pencahayaan.

Prinsip Dari Praktek Cahaya Alami
Tingkat (level) dan distribusi cahaya alami di dalam suatu ruang tergantung pada tiga faktor: (1) Geometri ruangan, (2) Penempatan dan orientasi dari lubang cahaya (jendela) dan (3) karakteristik dari permukaan dalam (internal) ruangan.
Desain lubang cahaya alami ditentukan oleh berbagai factor, diantaranya adalah disain di dalam ruang yang mengakomodasi faktor aktivitas dan estetika. Pola kegiatan tertentu memerlukan tingkat pencahayaan tertentu.
Bangunan kantor misalnya secara umum memerlukan cahaya yang dihasilkan dari suatu rencana (denah), yang secara relatif ditentukan oleh tinggi rendahnya jarak antara lantai dan plafon, sedangkan jendela pada umumnya berada sepanjang satu dinding.
Bangunan industri secara umum untuk menyediakan tingkat (level) tinggi dari berbagai-bagai arah (omnidirectional) cahaya kepada semua bagian-bagian dari ruang yang kebanyakan mempunyai volume ruang yang besar dan langit-langit yang relatif tinggi.
Bangunan hunian pada umumnya yang digunakan, secara relatif berukuran (volume) kecil dengan ekspose hanya satu atau dua arah, bertujuan untuk menyediakan tingkat pencahayaan yang cukup meskipun hanya satu jendela, sebagai contoh, yaitu menghadap/ mengarah atau membelakangi atau menyamping lintasan matahari.

Pencahayaan Buatan
Siang hari, bila pencahayaan alami kurang baru ditambah dengan pencahayaan buatan. Penambahan pencahaan tentu akibat dari rumah yang tidak memperhatikan lintasan matahari atau berada didaerah yang padat bangunan. Pada malam hari, tidak terdapat cahaya matahari, hanya ada cahaya bulan, tentu tidak cukup terang, Oleh karena itu, perlu cahaya buatan (lampu). Sebaiknya setiap ruangan diberikan lampu yang sedikit/tidak menghasilkan panas dan cahayanya tidak menyilaukan. Pada ruang kerja lampu ditempatkan didua tempat yaitu untuk penerangan ruangan dengan kuat penerangan secukupnya (tidak gelap dan tidak terlalu terang) dan di tempat kegiatan kerja (di meja) dengan tingkat penerangan yang sesuai dengan kebutuhan. Bila ruang kerja kecil cukup di meja kerja saja. Lampu ditempat (meja) kerja, cahaya (alami dan/atau buatan) datang dari sebelah kiri atau belakang, untuk menghidari silau/pantulan ke mata.

Tata Suara Alami
Akustika adalah ilmu tentang suara dan berkaitan dengan sumber (asal) suara baik dalam ruang terbuka atau ruang tertutup/ terisolasi. Frekuensi jangkauan pendengaran manusia berada sekitar 16 Hz sampai sekitar 20 000 Hz. Hz adalah satuan frekuensi, yang disebut Hertz (1 Hz berarti satu periode per detik). Gelombang suara dengan frekuensi di bawah kisaran pendengaran disebut Infrasonic Sounds, sedangkan di atas batas atas, yaitu, 20 000 Hz dikenal sebagai Ultrasonics sound. Sedangkan suara dengan frekuensi melebihi 1 gigahertz (= 100 Hz) disebut sebagai hypersound.
Pada frekuensi berapa telinga manusia mampu mendengar? Telinga manusia mampu mendengar pada frekuensi antara 16 – 20.000 Hz.
Desibel (Lambang Internasional = dB) adalah satuan untuk mengukur intensitas suara. Decibel (desibel) satuan ukuran untuk mengukur kekerasan suara; satuan ukuran untuk mengukur ketajaman pendengaran.
Pada paparan diatas, terdapat tulisan dB, apakah dB itu? dB singkatan dari desibel. Desibel menyatakan satuan kekerasan untuk bunyi. Jadi satuan kekerasan bunyi menggunakan satuan desibel dan bukan menggunakan meter, inchi atau kg. Bila masih bingung dengan satuan kekerasan dB, sebagai pengertian awal dan perbandingan, intensitas atau kekerasan bunyi disekitar berada, gambarannya sebagai berikut:
1) Suara lemah (berbisik) 10 dB, 2) bercakap-cakap 40-50 dB, 3) suara orang berbicara normal atau berbicara biasa 60-70 dB, 4) telepon berdering atau motor distarter sekitar 80-85 dB, 5) Konser musik Rock sekitar 100 dB sampai 120 dB, 6) pengeboran saat perbaikan jalan sekitar 115 dB, 7) bunyi pesawat jet take off sekitar 120-130 dB.
Telinga ternyata mempunyai ambang batas pendengaran yaitu 120 dB, angka 120 dB juga disebut dengan threshold of pain. Arti angka 120 dB adalah telinga akan mulai merasa sakit. Jadi bila terdengar bunyi misalkan sedang menonton sebuah konser atau latihan band disebuah lapangan atau studio rental, telinga pendengar merasakan sakit, berarti tingkat (level) bunyi di tempat tersebut mencapai angka 120 dB, keadaan seperti ini dikatakan bising. Bila mendengarkan suara rebut/gaduh, tidak jelas kata perkata, bercampur teriak-teriakan disebut bising. Disarankan janganlah berlama-lama ditempat itu, bila tidak ingin telinga menjadi rusak! Bila berlama-lama atau terus bertahan ditempat itu biasanya akan terjadi, telinga terasa sakit. Bunyi (sinyal) tersebut yaitu mulai merasakan suara ‘ngiiiiingngng’ setelah meninggalkan tempat tersebut. Sinyal (bunyi) nging ini bisa berlangsung berhari-hari tergantung kerusakan yang sudah terjadi pada gendang telinga. Oleh karena itu, lebih baik menghindar sebisa mungkin dari suara yang keras, apakah ketika latihan band atau pertunjukan meskipun menggunakan earphone, karena ternyata pengguna earphone yang tidak hati-hati juga dapat mengakibatkan kerusakan pada pendengaran.
Bedasarkan paparan diatas penataan bunyi harus diperhatikan untuk rumah hunian, ruang ceramah, rumah tempat ibadah agar tidak terjadi pemantulan suara, efek dengung dan terhindar dari bising. Dinding dan atap rumah dilengkapi dengan interior (dinding dan langit-langit) menyerap suara. Demikian pula untuk ruangan kerja, perlu suasana yang lebih tenang, maka dinding-dindingnya dilapisi bahan penyerap suara.
Ruang mengandalkan akustik alami, artinya ruangan tersebut tanpa melibatkan peralatan elektroakustik dalam pendistribusian penguatan suara (speaker), sehingga tiap elemen dalam ruang dirancang dengan pertimbangan akustik, seperti pantulan dan penyerapan suara sehingga suara merata dalm ruangan tersebut.
Pada ruang ceramah, rumah tempat ibadah, bioskop dan teater konfigurasi tempat sember suara (seperti panggung, pedium¬, pemantul, penyerap dll) berada di depan/tengah penonton/pendengar, hal ini dipilih untuk menghadirkan suara/bunyi penceramah/pemusik tidak terlalu berbeda dari aslinya, terutama bagi para penonton/pendengar yang berada jauh dari panggung, pedium, mimbar dll.,  sekaligus untuk mewujudkan kedekatan antara penceramah/ pemusik dengan pendengar/penonton.
Kekerasan dan kejernihan suara secara alami didengar pendengar bervariasi dengan jarak [X dalam meter (m)] dari sumber suara (bunyi). Menurut Sai and Wing (1986) jarak sumber terhadap pendengar dibagi empat kelompok sebagai berikut:
(1) X sampai 15m. – released listening, (2) X antara 15m sampai 20m. – good intelligibility, (3) X antara 20m sampai 25m. – satisfactory, (4) X 30 m. – limit of acceptability without electronic amplification.

Apa arti dari batasan-batasan tersebut?
Untuk ruangan bila jarak sumber suara terhadap pendengar, kurang dari 25m, berdasarkan ketentuan Wong dan Ho dengan tekanan suara sumber 50 – 70 dB tidak diperlukan pengeras suara elektronik. Bila pada ruangan, jarak sumber suara dengan pendengar kurang dari 25 m yaitu 20 -25m, tetap memakai penguat suara elektronik, apalagi pada jarak 15 m, itu berarti pemborosan energi listrik dan/atau perbuatan mubazir. Untuk menambah kekerasan suara pada jangkauan sampai 25 m dari sumber suara, gunakan dinding (bidang) pemantul seperti: berbentuk cembung atau cekung atau tabung dibelah dua (setengah lingkaran atas dan bawah) tempat sumber suara berada. Bila masih tetap kurang jelas, atasi kebisingan luar, masih tetap kurang jelas baru dilengkapi dengan pengeras elektronik, jadi penguat/pengeras suara elektronik adalah keputusan terakhir.

Tata Suara Buatan
Tata suara buatan adalah melibatkan peralatan elektroakustik dalam pendistribusian penguatan suara (speaker) baik di dinding maupun di plafon (langit-langit). Untuk Masjid, Baca juga: Tata Suara (Akustik) Masjid: Kasus Masjid Salman ITB https://lizenhs.wordpress.com/2010/03/22/tata-suara-akustik-masjid-kasus-masjid-salman-itb/

Tatasuara Alamiah, Tatacahaya Alamiah Dan Tata Udara Alamiah
Tatasuara, tatacahaya dan tataudara alamiah yang baik dipelajari dan dicontoh adalah “Masjid Agung Kordoba” Spanyol, walaupun saat ini (sekarang) hanya sebagai museum. Masjid ini memiliki arsitektur yang sangat indah, sekaligus memiliki fungsi akustik yang bagus. Meskipun pada saat itu belum ada alat pengeras suara elektronik. Suara khatib bisa terdengar jelas hingga ke pojok-pojok masjid yang cukup jauh. Tata ruang masjid juga ditambah dengan tatacahaya alami dan tata udara alami (ventilasi alamiah), yang menjamin kecukupan cahaya dan kesegaran udara dalam masjid secara alami.  Memang hebat rancangan masjid tersebut dan salut kita akan ilmu fisika bangunan orang-orang muslim saat itu, mungkin belum tertandingi oleh para sarjana sekarang.

Kepustakaan
Adhiwijogo M.U. (1969) “Selection of the “Design sky” for Indonesia Base on the Illumination Climate of Bandung”. Presented at the Symposium on Environmental Physics as Applied in tropical regions. Rorkee, India. February 1969.
Boutet, Terry S. (1987), “Controling Air Movement: A Manual for Architects and Building”. Mc Graw-hill Book Company. New York.
ISE Technical Report No 4. (1972). Daytime Lighting in Buildings. Second edition July 1972, York House, London SE1 7 UN
ISE Technical Report No 2. (1971). The Calculations of Utilization Factors the BZ Method. Revisied edition. February 1971, York House, London SE1
Sai-kwok Wong, Wing-yin Ho (Winnie) (1986) Auditorium Acoustic Design: Hong Kong Academy for Performing Arts . Department of Architecture. University of Hong Kong.
SK SNI T – 05 – 1989 – F, Tata Cara Perancangan Penerangan Alami Siang hari Untuk Rumah dan Gedung. Departemen Pekerjaan Umum. Yayasan LPMB, Bandung.
Hoesin, Haslizen (1978), “Penelitian & Studi Energi Radiasi Matahari Yang Menimpa Bangunan Dan Pengaruhnya Terhadap Pemakaian Energi Untuk Penerangan Di Siang Hari Dalam Bangunan”. (Tugas Akhir). Departemen Fisika Teknik. Institut Teknologi Bandung.
Beberapa Pustaka tidak ditampilkan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: