Posted by: lizenhs | March 19, 2012

RIWAYAT RINGKAS GEDUNG WANITA JAKARTA

RIWAYAT RINGKAS GEDUNG WANITA JAKARTA

Oleh Haslizen Hoesin

Gedung wanita ada di Jogja, terdapat pula di Bandung jln Riau (sekarang R. E. Martadinata).  Berikut riwayat ringkas kegiatan mendirikan Gedung Wanita Jakarta.  Di kutip dari Buku Peringatan 30 Tahun Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia 22 Desembar 1928 – 22 Desembar 1958.  Selamat membaca semoga bermanfaat

 Ide tercetus

    1. Pada kongres Wanita Indonesia 1954 di Jogja timbul ide untuk mendirikan gedung wanita di Jakarta.  Ide datang dari nyonya Walandouw,
    2. Ketika itu nyonya Walanfouw bendahari  kongres Wanita Indonesia.

Penyampaian ide

  1. Nyonya Walandouw mendatangi nyonya Soediro ketua Badan Penghubung Organisasi Wanita Jakarta Raya.
  2. Ide ini disambut dengan gembira oleh ketua Badan Penghubung Organisasi-organisasi Wanita  (BPOW) Jakarta.  Karena keberadaan gedung Badan Penghubung Organisasi-organisasi Wanita, akan mempunyai tempat tetap.
  3. Gedung ini nanti akan digunakan untuk rapat dan kegitan lain-lain, di mana selama ini rapat-rapat Badan Penghubung Organisasi-organisasi Wanita Jakarta dilaksanakan di rumah Nyonya Soediro.

Semangat Membangun Gedung

  1. Usaha pertama yang dilakukan mengumpulkan uang untuk membangun Gedung Badan Penghubung adalah dengan turut serta dalam pameran Pekan Raya Ekonomi Internasional (PREI) 1954 selama 55 hari dengan mengadakan: (1) Paviliun kanak-kanak. (2) Pekan kebudayaan. (3) Pekan masak-masakan daerah. (4) Pekan perkebunan.  (5) Pameran buku, lukisan dan (6) Perlombaan fotografi.
  2. Upaya mendirikan gedung (partisipasi) sangat besar, terlihat dari keikut sertaan daerah pada  PREI.  Hal ini ditunjukkan dengan kedatangan daerah tanpa di mintak ganti rugi.  Mereka datang sendiri-sendiri.  Kotapraja Jakarta hanya menyediakan akomodasi  di Jakarta saja.
  3. (Lima puluh lima hari siang dan malam wanita-wanita tersebut mencari uang untuk mewujutkan cita-cita mendirikan Gedung Wanita.
  4. Melihat kegiatan tersebut, timbul simpati beberapa wartawan ibukota, mereka membantu kekurangan uang yang terkumpul untuk mendirikan sebuah Gedung Wanita.  Uang terkumpul sebanyak 1 (satu) juta rupiah.
  5. Ibu-ibu yang memegang peranan adalah Ny D. Walandouw, Ny. S. Soediro, Ny. Wuwungan dan Ny Rusman.  Organisasi-organisasi wanita yang ada di Jakarta pun aktif membantu.
  6. Gedung wanita didirikan tidak dilakukan peletakan batu pertama, seperti pada umumnya mendirikan bangunan, tetapi dengan Kerja Bakti hari Kartini 1954.  Sebelum hari Kartini, Wanita Jakarta Raya melalui RRI mengundang wanita Jakarta untuk Kerja Bakti.  Sehinnga halaman gedung penuh dengan wanita dari segala lapisan dan penjuru Jakarta.  Tampak hadir Ibu Fatmawati,  Ny. Natsir, Ny. Hatta, dan ibu-ibu Kongres Wanita.  Ibu Rahmawati menumbuk batu dan Ny Hatta mengarit rumput.
  7. Rancangan bangunan Gedung Wanita dilakukan oleh Ir. Surjomihardjo, insinyur tertua di Jakarja.
  8. Pada hari Kartin tahun 1956 Gedung wanita Jakarta belum selesai, tetapi sudah dapat dilakukan peringatan Hari kartini.  Undangan dilakukan melalui RRI.  Gedung penuh sesak dengan wanita.  Tampak hadir waktu itu waktu itu Ibu Fatmawati, Ibu Rahmi, Ny Wali kota, ibu Soediro dan ibu-ibu Kongres Wanita.
  9. Gedung Wanita diresmikan pada hari Ibu tanggal 22 Desember 1956.  Sekarang Jakarta Raya telah telah memiliki Gedung Wanita.  Mereka sangat bangga karena telah memiliki Gedung Wanita di jalan Diponegoro no. 26.
  10. Sumbangan-sumbangan terus mengalir untuk mengisi perabot gedung.
  11. Pada tanggal 12 November 1956, didirikan badan hukum “Jajasan Kegiatan Wanita”, yang berkedudukan di Djakarta.  Maksud dan tujuan yayasan adalah mempertinggi kedudukan dan derajat wanita khususnya dalam lapangan pendidikan dan kebudayaan.
  12. Usaha-usaha yang diselenggarakan:
  • Kursus-kursus pengetahuan dan kecantikan
  • Biro konsultasi kesejahteraan ibu dan anak
  • Mempelajari dan mempertinggi kebudayaan Indonesia dengan mengadakan pelajaran seni tari, seni lukis, seni pahat dll.
  • Perpustakaan
  • Tempat pertemuan wanita, rapat, kongres, resepsi, pertunjukan, pameran dll.

Usaha-usaha yang diselenggarakan di Gedung Wanita tidak boleh melanggar Kesusilaan Timur

13.  Dewan Pengurus Jajasan dan Pimpinan dipegang oleh Dewan Pengurus, terdiri dari wakil-wakil     organisasi yang tergabung dalam Badan Penghubung Organisasi-0rganisasai Djakarta Raja.

14.  Dewan Pengurus Jajasan Kegiatan Wanita

Dewan harian terdiri dari:

(1)   Ketua dan wakil ketua

a.  Penulis

b.  Bendahari

(2)   Bagian perlengkapan

(3)   Bagian perpustakaan

(4)   Bagian kursus-kursus dan bagian keahlian

(5)   Kebudayaan dan kesenian

Melihat akan semangat membangun gedung wanita ini, perlu dipikirkan gedung ini dikembalikan kepada pemilik dan fungsi semula, mengingat ide-ide dan cita-cita awal pendiri.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: