Posted by: lizenhs | January 4, 2012

DISIPLIN, AGAMA, AKAL dan MERDEKA

DISIPLIN, AGAMA, AKAL dan MERDEKA
Pada suatu diskusi kelompok kecil, kami membahas Agama, Akal dan Kemerdekaan Diri. Berbagai tulisan dikumpulkan sebagai bahan diskusi, satu diantara tulisan-tulisan itu adalah tulisan Nilyardi Kahar yang terdapat pada majalah bulanan APRESIASI (nomor 7, tahun kedua, November 1971, yang disponsori YPM Salman ITB). Nilyardi Kahar adalah alumni Jurusan Fisika- ITB, menyelesaikan program S3 di Leeds Inggris, beliau bekerja di LFN LIPI, Deputi Bidang Teknik LIPI. (Sekarang sudah meninggal (Almarhum), semoga Amal Ibadahnya diterima Allah, Amin). Makalah sebagai kenangan (yang ditinggalkan) beliau pada majalah bulanan APRESIASI berjudul DISIPLIN AGAMA PADA AKAL MERDEKA, mudah-mudahan bermanfaat (Haslizen Hoesin).

DISIPLIN AGAMA PADA AKAL MERDEKA

Oleh: Nilyadi Kahar

Seorang akan disebut orang mukmin, orang yang ber Iman bila dia mempunyai kepercayaan kepada Allah, Malaikat, kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah dan Rasul-rasul Nya, seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah 285: “Mereka (orang-orang mukmin) percaya kepada Allah, malaikat-malaikat kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah dan rasul-rasul Nya”.
Iman itu penting sekali karena merupakan dasar-dasar untuk segala gerak hidup dan kehidupan seorang mukmin dalam usaha-usahanya untuk menjadi lebih maju dan menjadi lebih baik dalam hidupnya.
Untuk dapat hidup lebih baik dan selamat sampai kepada tujuan hidup yang digariskan oleh ayat-ayat Al Qur’an dijadikan petunjuk dan pembimbing. Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 2:
“Kitab itu, tiada ada hal-hal yang diragukan didalamnya, menjadi petunjuk bagi orang-orang yang taqwa”.
Petunjuk-petunjuk yang ada di dalam Al Qur’an, merupakan petunjuk-petujuk yang lengkap dan sempurna dan akan menjamin manusia yang mengikutinya, memahaminya dan meng-eksploitirnya pada jalan keselamatan. Dengan turunnya ayat yang terakhir, sempurnalah isi Al Quran. Al Maidah ayat 3: “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu dan Aku telah cukupkan nikmatku atasmu dan Aku ridha Islam itu sebagai agamamu”.
Al Qur’an penuh dengan ”konsep-konsep” yang merupakan petunjuk dan pembimbing. Konsep-konsep dan perunjuk ini tidak akan dapat membawa arti dalam kehidupan, karena “konsep-konsep” itu sendiri hanyalah merupakan untaian huruf-huruf yang menjadi kata dan kalimat. Arti dari kata dan kalimat itu sangat tergantung kepada siapa dan dengan cara bagaimana orang itu membaca-nya. (Mengenai peran membaca, baca juga Ayo Ca-lis-tung-belajar dan Meneliti https://lizenhs.wordpress.com/2008/12/23/ayo-ca-lis-tung-belajar-dan-meneliti/)
Kita tinjau sejenak suatu ilustrasi yang terjadi dalam Ilmu Alam: Dalam ilmu Alam, Hukum Newton yang jumlahnya tiga merupakan dasar-dasar titik tolak dari mekanika klasik. Setiap orang yang mengerti membaca huruf, pastilah akan dapat membaca Hukum Newton. Untuk memahani hukum ini saja haruslah sipembaca meng-eksploitir akal pikirannya untuk menguraikan hukum tersebut. Apabila sudah dipahami, masihlah belum ada artinya hukum tersebut salain dari pengertian untuk diri sendiri. Baru setelah melalui pemerasan otak dan tenaga lebih lanjut, melakukan kerja-kerja nyata menerapkan hukum tersebut dapat dilihat dan dirasakan arti hukum tsb. Tanpa dasar konsep kukum Newton, tak mungkin orang bisa sampai ke bulan dan sebaliknya dengan hukum Newton saja juga tak mungkinlah orang bisa sampai ke bulan.
Kembali kita pada Al Qur’an. Konsep-konsep dan petunjuknya tiadalah artinya bagi seseorang kalau tidak bisa tercermin pada amal dan perbuatan orang tersebut. Untuk itu dibutuhkan kerja keras seseorang. Kerja keras meng-eksploitir akal pikirannya untuk mencapai pemahaman yang dilanjutkan dengan usaha-usaha penerapan. Akal dan pikiran yang bekerja adalah proses yang bertolak dari konsep-konsep dasar yang dijalani dan barakhir pada amal perbuatan yang nyata.
Al qur’an memang menghendaki eksploitasi akal pikiran manusia semaksimal mungkin. Banyak ayat-ayat yang menggugah akal. Allah tidak menghendaki manusia terbelenggu pada buah pikiran orang yang dia sendiri tidak memahaminya. Perhatikan surat Bani Israil 36:
“Dan janganlah engkau turut-turut saja didalam hal dimana engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sebab sesungguhnya pendengaran, penglihatan serta hati, semuanya akan ditanya tentang hal tersebut”.
Islam menghendaki akal manusia bebas merdeka dan islampun memberi batas-batas bagi kebebasan akal ini. Batas-batas ini bukan merupakan hambatan untuk kemajuan akal, tetapi merupakan petunjuk jalan untuk menyalurkan gerak perkembangan akal supaya lebih efisien menuju pada keridaan Tuhan. Islam memberikan batas-batas untuk daerah-daerah yang tidak ada gunanya akal berjalan di sana; membuang umur dan membuang energi tanpa hasil kemajuan yang bisa dicapai di daerah tersebut.
Tentang kebebasan akal ini Rasulullah dalam haditsnya berkata:
“ Berpikirlah kamu tentang makhluk Allah dan jangan berpikir tentang Zatnya” . “Jika ada urusan agamamu, serahkanlah kepada ku. Jika ada urusan keduniaanmu, maka kamu lebih mengetahui akan urusan keduniaan itu”.
Batas-batas diadakan oleh Allah pencipta Alam dan akal itu sendiri bukanlah untuk membelenggu akal kepada kemajuan. Batas-batas diberikan karena Pencipta tahu persis didaerah mana akal hasil ciptaan nya tidak akan berdaya sama sekali.
Bagi kita umat Islam yang memiliki Iman masalah batas-batas ini tentulah tidak menjadi problem. Kita percaya penuh pada Al Qur’an dan sunnah Rasul sebagai tuntunan kepada kemajuan dan keselamatan. Kita percaya penuh bahwa Iman dan Amal merupakan hal yang tak dapat dipisahkan untuk menuju kepada keridhaan Tuhan.
Suatu kenyataan yang dihadapi sekarang, umat yang mengakui memilih Al Qur’an dan sunnah Rasul berada dalam keadaan terbelakang dibidang apa yang popular disebut dengan rasio sekarang ini. Macam-macam sinyalemen yang dilontarkan oleh orang-orang non muslim atupun orang ragu-ragu. Ada yang mengatakan bahwa Al Qur’an dan sunnah merupakan penghambat rasio, karena belum apa-apa sudah kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah dsb. dsbnya. Apakah betul Al Qur’an dan sunnah menghambat rasio kita dan bila tidak bagaiman seharusnya? Hal ini baiklah menjadi renungan kita bersama. Mudah-mudahan dengan proses berpikir dalam renungan kita yang dilandasi oleh jiwa penuh Iman kepada Tuhannya, sampailah kita pada suatu Amal nyata yang bisa membuktikan bagaimana seharusnya.
Rasulullah dalam menjalankan tugasnya sebagai pembawa risalah Allah, tidak henti-hentinya mengalami berbagai cobaan. Satu dari berbagai ujian yang dialami beliau adalah perang Badr. Perang ini konon menurut sejarah adalah perang yang merupakan titik penentuan bagi umat islam waktu itu.
Disaat-saat yang genting dalam perang tersebut , Rasulullah melihat musuh yang berlipat-ganda dengan alat perang yang serba lengkap sedangkan tentara muslim hanya sedikit, itupun dengan alat perang yang sederhana kecuali Iman yang penuh di dada.
Timbullah kecemasan dalam hati Rasulullah sebagai pimpinan umat, cemas bukan jiwa melayang, tetapi cemas melihat tanggung jawab berat yang dipikul Nya. Apa akibatnya jika nanti umat yang dibawanya hancur? Apakah dapat dipertanggung-jawabkannya?
Kalau kita tinjau, kecemasan yang timbul adalah wajar, karena secara rasional obyektif tidaklah mungkin bisa menang. Justru kecemasan ini pulalah menjadi tanda bahwa Rasulullah selalu berpikir secara rasional menggunakan akalnya. Tidak pernah terlintas dalam pikiran Rasulullah bahwa apapun yang dihadapi sudah pasti dijalan Allah akan sukses. Beliau selalu menggunakan akalnya dan berusaha sekuat tenaga.
Timbul perjuangan batin pada diri beliau. Antara perhitungan rasionya dengan perasaan Imannya: Dalam waktu itu Rasulullah berdoa kepada allah Swt: “Ya Rabbi, aku cemas wahai Tuhanku, andai kata umat yang kecil ini, jamaahyang kecil ini hancur, tak ada lagi yang akan menyembahMu”. Iman beliau mengalahkan rasio pada waktu itu. Tetapi setelah Rasul mengambil putusan maka tidaklah beliau lalu berserah diri begitu saja pada Allah menunggu hal-hal yang ajaib. Dikerahkannya akal dan pikiran menyusun taktik dan strategi. Diperas tenaga habis-habisan. Sehinnga akhirnya perang dapat dimenangkan setelah melalui korban yang cukup besar. Perang dimenagkan dengan keunggulan taktik dan strategi Rasulullah Saw. Dengan bantuan Tuhan dibelakang itu semua. Tidak pernah terlintas dalam pikiran bahwa kemenangan itu sudah dipastikan Tuhan, tetapi harus diusahakan dengan perasan otak dan cucuran keringat.
Dalam peristiwa tersebut dapatlah kira-kira kita menggambarkan bagaimana dan bilamana proporsi Iman-Ilmu dan Amal itu bekerja pada diri Rasul.
Setelah Akal dan Amal membawa diri kepada kesuksesan, maka Allah memerintahkan kita kembali kepada Allah: Kembali kepada konsep-konsepNya dan mulailah kembali proses berpikir sampai pada Amal. Perhatikan Surat An Nashr 1, 2 dan 3:
Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan.
Dan engkau lihat manusia berduyun-duyun masuk ke agama Allah. Maka hendaklah engkau berbakti dan memuji Tuhanmu.
Dan Hendaklah engkau mohon ampun kepadaNya, karena sesungguhnya Ia itu sangat pengampun.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: