Posted by: lizenhs | December 14, 2011

MAMANFAATKAN TENAGA RADIASI MATAHARI LEWAT BIOKONVERSI

MAMANFAATKAN TENAGA RADIASI MATAHARI LEWAT BIOKONVERSI

Oleh Haslizen Hoesin

Makalah yang anda baca berikut ini adalah ringkasan dari tulisan  John Holway, penulis staf IPS yang dimuat pada Ilmu pengetahuan dan Teknologi no 1/IPT/76. Jakarta, 1 April 1976. U.S. Information Service. Jln Medan Merdeka Selatan 4 Jakarta.  Makalah ini bagus dan diringkas, dimuat pada Blog Bukik Ranah Ilmu.  Mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca dan disebar luaskan kepada teman-teman. Selamat membaca.

Semua energi yang digunakan manusia “baik makanan maupun bahan bakar” berasal dari radiasi (cahaya) matahari yang memberikan kehidupan, yang dipancar ke bumi. Sebagian dari energi itu berujud dalam tumbuh-tumbuhan melalui fotosintesis untuk dapat dimakan atau dibakar.  Sebagian lagi disimpan selama ratusan tahun dalam bumi sebagai batu bara atau minyak.

Tetapi sebagian besar energi itu “hampir 99 persen” terbuang sia-sia. Manusia sebenarnya hanya memanfaatkan sedikit saja dari seluruh potensi energi yang dipancarkan dari matahari, bintang paling dekat kebumi.

Para sarjana dari berbagai Negara bulan Maret berkumpul di Washington dalam suatu penelaahan besar-besaran yang pertama kali di dunia, mengenai bagaimana mengolah energi yang terbuang ini kedalam bentuk-bentuk yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.

Nama yang mereka berikan pada konperensi — dan gagasan — itu adalah biokonversi (bioconversion), satu istilah baru yang berarti secara kasar adalah merubah bahan organik yang kini tak terpakai di bumi menjadi bentuk-bentuk yang dapat dibakar atau dimakan manusia.

Bahan mentah yang akan mereka garap disebut  “biomass”, lagi-lagi istilah baru, yang artinya adalah bahan organik umumnya, tapi terutama sisa bahan yang terbuang dari kota-kota, industri, ladang dan hutan. Termasuk pula bentuk-bentuk baru bahan pangan dan bahan bakar yang dapat ditanam diladang pertanian — di darat atau di laut.

Dengan berbagai metoda,termauk pirolisis (pembakaran tanpa zat asam)dan proses pembusukan (micro action), seperti peragian (permentasi), bahan organik itu dirubah menjadi bahan bakar gas (metan), bahan bakar cair (alkohol), bahan bakar padat (batu bara), atau hasil-hasil lainnya seperti makanan hewan dan pupuk.

Inilah beberapa pokok dari konverensi dua hari itu:

George Huffman dari Badan Perlindungan Alam, Lingkungan Alam A.S (EPA) melaporkan, bahwa kota-kota, pabrik, ladang dan pertambangan di Amerika Serikat menghasilkan kira-kira 4.500 juta ton sampah padat setahun.  Sampah organik saja, katanya mengandung nilai energi yang sama dengan lebih dari 1 miljar barrel minyak atau kira-kira 70 persen dari seluruh minyak yang diimport A.S dalam tahun 1971.

Bumi menghasilkan kira-kira 150 milyar ton biomass setahun, demikian perkiraan Huffman.  Sebagian besar daripadanya dibiarkan begitu saja dan tak terkontrol oleh manusia. Jika dapat seperlima persen saja kita akan memperoleh energi yang sama banyaknya seluruh kebutuhan A.S untuk gas alam dan minyak.

Panen yang hanya sebanyak 125 milyar ton per hektar dari 5 persen  luas tanah pertanian saja, akan mengasilkan seluruh gas alam yang dibutuhkan  Amerika Serikat  demikian kata Huffmann.

John Quarles dari EPA mengatakan,pada tahun 1980 sepuluh persen rumah dan kantor di Amerika serikat mungkin dapat diterangi oleh listrik yang diperoleh dari sampah padat di kota, pada tahun 1990 angka itu mungkin jadi 100 persen.

Mike Nc Cormack, anggota kongres A.S., dia adalah seorang ahli ilmu pengetahuan sebelum terjun kedunia politik memperkirakan bahwa biokonversi pada tahun 2000 dapat menghasilkan energi senilai dengan 3 juta barrel minyak sehari.  Ia mengatakan bahwa pemerintah A.S. ingin meningkatkan proyeksi ini dan kongres akan dengan gembira mendukung gagasan itu.  Kongres telah menaikkn dua kalilipat dana untuk penelitian dan pengembangan.

Usaha mengembang-biakan tanaman bahan energi, –seperti eceng gondok (hyacinth) dan kayu–  dapat pula memberikan hampir 5 persen dari jumlah kebutuhan energi A.S. pada tahun 2005.  Demikian menurut laporan mengenai “Pertanian  Energi” oleh Richard Greely dan Peter Spewack.  Kedua penulis ini menambahkan bahwa  lumut air tawar (algae) yang tumbuh di selokan dapat  menghasilkan protein 100 kali lebih banyak  dari pada tanaman  satiap hektar dibandingkan dengan kacang kedele, 300 kali lebih banyak dibandingkan dengan jagung dan 500 kali lebih banyak dibandingkan dengan beras.  Lumut seperti ini akan merupakan makanan hewan yang baik, sambil sekaligus  membersihkan selokan.

Thomas Reed dari Massachussetts mengatakan, bahwa manusia kini membuang antara 50 sampai 90 persen dari tanaman dan pepohonan yang digunakannya.   Reed menganjurkan  digunakan pohon secara lengkap, memanfaatkan segalanya dari kayu tersebut seperti selain menjadi kertas, menjadi gula, gas metan, rayon, ammonia dan terpentin.  Dengan berbuat demikian, katanya akan mengakibatkan turun pula biaya kertas dan kayu sekarang secara berarti.  Kota-kota di A.S.  kini memnayar sampai 20 dollar untuk membuang satu ton sampah, kata Reed.  Namun sebetulnya sampah ini dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan energi negeri ini sampai 10 persen.

T.W. Edminister dari Departemen Pertanian A.S.  sependapat , bahwa dari hasil lading sekarang ini hanya dipetik separuh dari hasil energy yang tersimpan dalam tanaman.  Sisanya: tangkai, jerami, kulit dan tongkol, mengandung selulosa yang berguna dan dapat dirubah menjadi gula dan kemudian melalui peragiam menjadi alcohol.  Alkohol dicampur dengan bensin  akan menghasilkan bahan bakar bagus, katanya.

Suatu laporan yang paling menarik adalah dari Dr Howard Wilcox, yang sedang menanam lumut laut raksasa “kelp” di lepas pantai  California, untuk Perhimpunan Gas Amerika dan pemerintah A.S.

Lebih dari 70 persen permukan bumi adalah laut demikian ditegaskannya, maka lebih dari 70 persen energi matahari jatuh kesana.  Hanya sebagian kecil yang dinikmati manusia dalam bentuk ikan laut.  Sebagian besar energi matahari tenggelam kedasar laut yang dingin dan gelap.

Jika kita memanfaatkan dua persen saja dari energi matahari dari lautan, katanya dan mengalihkannya kedalam bentuk makanan hewan dengan efisiensi  hanya empat persen, maka satu hektar laut dapat  memberi makan 12 orang.

Dr. Wilcox telah membuktikan bahwa lumut laut kelp dapat tumbuh dengan kecepatan luar biasa “setengah merter sehari” dan domba yang memakannya akan menjadi cepat gemuk.  Tindakan yang akan dilakukan selanjutnya adalah menyiapkan dua ladang kecil, satu di Samudera Atlantik dan satu lagi di Pasifik.  Ia berharap dapat memproduksi secara komersil dalam waktu 10 sampai 15 tahun lagi.

Meskipun ada masalah-masalah hukum, alam, lingkungan dan teknis, ia yakin bahwa satu tempat pembiakan lumut laut seluas 640 000 km persegi, sanggup memberi makan pada 20 milyar manusia pada akhir abad mendatang, dibandingkan dengan penduduk dunia sekarang ini yang berjumlah 3 miljar jiwa. Bagaimana pengaruhnya yang dapat ditimbulkan secara internasional?

Padraig Mc Allister sarjana Irlandia dari Badan Tenaga Atom Interenasional, menegaskan kekawatiran terhadap azkibat-akibat biokonversi pada perdagangan hasil-hasil pangan dan energi dunia.  Ia bertanya, dapatkah hasil dari tanaman energi suatu ketika menggantikan  hasil pangan dari tumbuh yang di dunia kini sudah langka? Dan bagaimana pula dengan kerja sama dalam bidang penelitiannya?

James How dari Overseas development council (Dewan Pembangunan Seberang Lautan), suatu “badan pemikir” di Washington, mendesak adanya usaha penelitian biomass internasional, seperti halnya kemajuan-kemajuan dramatis yang telah dicapai dalam gandum, beras dan berbagai bahan pangan lainnya. Suatu jaringan yang terdiri dari 200 pusat riser kecilo di seluruh dunia dan tiap Negara tuan rumah membayar sebagian biayanya, akan lebih mempercepat kemungkinan dicapainya suatu kemajuan ilmiah yang luar biasa, katanya.

Dr. I. Usmani (dari Pakistan) dari Prgram Alam Lingkungan PBB (UNEP) mengatakan, bahwa dunia dewasa ini  bukan sedang meghadapi krisis energi, melainkan “krisis teknologi”.  Para ahli kita dalam mengalihkan energi tidak efisien, katanya; bahkan para ahli mengalihkan nuklir hanya memamfaatkan 10 persen dari bahan bakar itu dan mengalihknnya hanya 30 persen effisensi.

Ia mendesak adanya  serangkaian “pusat-pusat energi di pedesaan”  yang akan mengendalikan tenaga matahari, angin dan biomass di desa-desa terpencil.  Seluruh bidang biomass, katanya, akan berpengaruh terhadap harga minyak.

Dr. Usmani juga optimis, bahwa dana untuk penelitian akan dapat diperoleh dari negara-negara  pengekspor minyak, karena  biokonversi merupakan suatu cara menghemat cadangan minyak mereka di dalam tanah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: