Posted by: lizenhs | October 28, 2011

KIKTINGGI KOTA WISATA JANJANG

KIKTINGGI KOTA WISATA JANJANG

Oleh : Haslizen Hoesin

Kiktinggi, Bukik, Gaduang dan Pasa sebutan lain dari Bukittinggi dan dapat pula disebut “kota Janjang” (tanggga, jenjang), karena di mana-mana terdapat janjang, yang menghubungkan jalan-jalan di punggung, pinggang dan yang mengelingkar di kaki bukit. Janjang–janjang tersebut juga sebagai penghubung antara pasa (pasar) dengan pasa. Janjang juga terdapat di perumahan penduduk dan ke bawah (dasar) ngarai.
Ngarai panjangnya sekitar 15 Km sebagian berada di wilayah kota Bukittinggi dan sebagian lagi di Kabupaten Agam.
Janjang-janjang ini pasti memiliki kenangan bagi siswa SLTA (SMA Birugo, SMA Landbouw, STM, SMEA,) pelajar SLTP (SMP dan ST) dll., karena mereka pergi kesekolah sering melewati janjang. Janjang-janjang terdapat selain di “tengah kota” juga “naik/turun ke” dasar Ngarai, turun ke dasar Lubang Japang ( Bukan Goa Jepang) yang berada di Panorama dan di Kebun Binatang..
“Janjang-janjang yang berada ditengah kota” diantaranya adalah: Janjang Ampekpuluah, Janjang Gantuang, Janjang Loihdagiang, Janjang Loihmaco, Janjang Balakangpasa, Janjang Suraugonjong, Janjang Gudang, Janjang Minang, Janjang Kampuangcino, Janjang Parakkopi dll. Janjang lain adalah Janjang turun ke Ngarai Sianok, yaitu di Balakangbalok, Bukikapik, Panoramabaru, Kotokaciak dll.,
Janjang Ampekpuluah. Jumlah anak janjang sebenarnya lebih dari seratus. Dasar sebutan diambil dari sisi yang paling curam dan anak janjangnya pendek, yaitu 40 buah janjang, itulah yang menjadi sebutan (nama) Janjang Ampekpuluah (Tangga Empatpuluh). Janjang ini menghubungkan Pasabanto ke Pasaateh. Di sekitar Janjang Ampekpuluah sekarang terdapat Surau yang megah. Janjang Ampekpuluah dibuat tahun 1898 masa Westeenek menjadi Asisten Agam.
Janjang Gantuang. Janjang ini bersandar/bersatu dengan jembatan penyeberangan jalan dari Pasalereng ke Pasabawah atau sebaliknya. Masyarakat Bukittingi dan sekitarnya (Agamtuo) menyebut Janjanggantuang. Tidak diketahui kenapa dinamai janjang gantuang padahal janjang tersebut merupakan jembatan penyeberangan. Janjanggantuang dibuat tahun 1932 sewaktu W. J. Cator sebagai Countoleur Agam Tuo. Janjang berfungsi sebagai jembatan penyebarangan dari Pasalereng ke Pasabawah. Tidak disadari, mungkin jembatan ini cikal bakal “viaduck”, jembatan di kota-kota besar sekarang. Disamping Janjanggantuan terdapat pula janjang turun kejalan, sekarang sudah tidak ada. Selain Janjanggantuang terdapat pula jembatan yang menghubungkan Kabun Binatang dengan Benteng melitasi jalan yang terdapat di Kampuangcino. Jembatan ini diberi nama Limpapeh diresmikan 3 Maret 1992 oleh Susilosudarman (MenParpostel).
Janjang Loihdagiang. Janjang yang berada di lereng bukit, menghubungkan Janjanggantuang dengan Loihmaco. Janjang ini berada dekat Loihdagiang. Jalan didepan Loihdaging ini dulu digunakan sebagai latarbelakang berfoto-foto bila pasa sudah usai (lengang).
Janjang Loihmaco. Janjang yang mengubungkan Pasalereng dengan Pasaateh, berada disamping Loihmaco.
Janjang Balakangpasa. Janjang yang menghubungkan Pasalereng dengan Jalan Saudaga Balakangpasa Pasaateh. Janjangnya sempit dan curam. Janjang ini merupakan jalan pintas bila tidak mau melewati Janjangloihmaco ke Pasalereng. Janjang ini sebagian orang menyebutnya janjang seksi.
Janjang Suraugonjong. Janjang ini dari Pasalereng menuju Suraugonjong. Surau Gonjong ini sekarang telah dibongkar dan diganti dengan masjid baru (tidak bagonjong lagi). Sepertinya tidak ada lagi surau yang ”bergonjong” di Bukittinggi, yang mencirikan kota berada di Agamtuo, sebenarnya harus dilestarikan. Bila ingin membangun Masjid alangkah sebaiknya dibangun di sampingnya atau masjid tersebut cukup dipugar saja. Tidak tahu apa alasan di bongkar.
Janjang Gudang. Janjang ini berada di Selatan Pasaateh dan sebelah timur Jam Gadang. Janjang menghubungkan Pasaateh dengan jalan “Kompementslaam” depan Rumah Panjaro. Di sisi janjang dibangun pemerintah Belanda Gudang Kopi, maka janjang itu disebut Janjang Gudang.
Janjang Minang. Janjang yang menghubungkan jalan Minangkabau dengan kampuang Cino
Janjang Kampuangcino. Janjang yang menghubungkan jalan Minangkabau dengan kampuang Cino. Berada di samping kebun Binatang.
Janjang Parakkopi. Janjang dari bioskop Sovia ke Panorama menelusuri rumah penduduk Parakkopi, populer dengan PARKOP. Penduduk daerah itu masih banyak (didominan) orang Kurai (asli). Janjang ini temapt lewat siswa yang bertempat tinggal di Kotogadang dan Ngaraisianok.
Janjang dari Museum (Panorama) ke bioskop Sovia, janjang ini berada di perumahan. Museum yang dimaksud adalah museum yang dihalaman depan bangunan terdapat kapal terbang, di samping museum terdapat jalan ke atas sampai lah kita di bioskop Sovia, dulu di seberang jalan (didepan Sovia) terdapat SD 5, SD 6 dan Korem 032.
Janjang dari sisi bioskop Irian depan Manjid Raya dan janjang di depan pintu masuk Kebunbinatang ke arah Pasabanto menelusuri (melintasi) rumah tinggal penduduk Bawahpasa.
Janjang sampik, yang menghubungkan benteng dengan kampuang Cino dibawah jembatan Limpapeh. Jembatan Limpapeh diresmikan Susilosudarman (Men Parpostel) 3 Maret 1992. Janjang ini sekarang sudah ditutup karena langsung masuk ke daerah wisata benteng.
Janjang ke Wisata Benteng dulu ada dua janjang sampik yaitu yang turun kearah jalan dari rumah sakit kearah tugu Iman Bonjol sekarang sudah ditutup karena ada hotel Primas, janjang sampik dibawah jembatan Limpapeh dan janjang melewati Kampuangjaolamo.
Janjang di Kampuangjaolamo, janjang yang berada di Kampuangjaolamo menuju Benteng bila berangkat didekat Masjid Nurul Haq di Kampuangcino atau sebaliknya. Janjang ini cukup landai. Daerah sekitar ini (simpang) mempunyai kenangan pula, yaitu pas dibelokan kearah Jam Gadang dari jalan Luruih, disitu ada tempat jual martabak di warung Kaka (di depan masjid Nurul Haq). Disini A Karim di baringkan sesudah kena tembak sebelum di semayamkan di SMA Landbouw dan dimakamkan di halaman Surau Al Akram sekarang. Kerangka A Karim menurut cerita dipindahkan ke Taman Pahlawan, jauh sebelum surau itu dibangun.
Janjang-janjang di Bukittinggi sebagian diberi pembatas di tengah. Janjang-janjang itu adalah Janjangampekpuluah, Janjangloihmaco, Janjangloihdagiang, Janjanggantuang dan Janjangminang. Janjang yang paling terkenal adalah Janjang Ampekpuluah, Janjang Gudang dan Janjang Gantuang.
Di beberapa janjang seperti Janjanggantuang, Janjangloihdagiang dan Janjangampekpuluah orang mengelar galeh (dagangan). Janjang-janjang ini sempit dilewati dan orang basalingkik-salingkik (berdesak-desakan), bila hari Pakan (Rabaa dan Satu) karena dipenuhi orang manggaleh. Panggaleh (penjual) menghampar dagangan diatas tampian, katidiang, kibang, atau di daun pisang dll. Anehnya tiada yang menggerutu, kata orang sekarang tidak ada yang komplen. Semua berlapang dada, semua mencari untung serupiah dua rupiah.
Ngarai Sianok keindahannya dapat dinikmati dari beberapa tempat yaitu di Panorama, Bukikapik, Balakangbalok dan Panoramabaru. Bila ingin melihat keindahan ngarai dari dasar ngarai, maka turun ke dasar ngarai dapat dilakukan melalui janjang dari Panorama, Bukikapik, Balakangbalok dan Panoramabaru kemudian naik di tempat lain misal turun di Balakang balok, berjalan di dasar Ngarai melalui Ngaraisampik kemudian naik di Panorama atau di Bukikapik.
Pamorama, adalah nama suatu tempat sebelah selatan Bukitting. Tempat melihat keindahan ngarai. Di Panorama dapat melihat keindahan ngarai ketiga arah, yaitu kearah Balakangbalok, Kotogadang dan Jorong Sianok. Di Panorama dapat pula duduk-duduk bersantai memandang ke dinding ngarai yang curam tegak lurus, berwarna putih kekuning-kuningan, kadang-kadang memancarakan sinar bila diterpa sang surya di petang hari. Di Panorama sekarang pengunjung masuk lokasi membayar dan dapat berbelanja barang bawaan (souvenir). Menurut Mak Ngah (rantau-net) taman di Panorama ini dulu bernama “Taman Pelipur Lara”.
Dulu, masuk Panorama tidak perlu membayar kata Abdul Hadi dan Firman Rasyid. Orang-orang Bukittinggi selesai berjualan atau kerja, pulang kerumah tidur atau istirahat sejenak, kemudian ke Panorama duduk berleha-leha (santai) menghirup udara segar sambil minum-minum. Sebagian ada yang minum “aia kawa” dengan “rebus gabelo jalar” atau minum “kopi O” (tidak pakai gula) dengan roti. Di Panorama selain melihat keindahan Ngarai dapat pula masuk ke Lubang Japang. Lubang peninggalan Jepang. Janjang turun ke dasar Lubang Japang sebanyak 132 anak janjang. Tempat bersantai seperti di Panorama dapat pula dinikmati di Benteng Bukikjirek.
Kalau dari Kotogadang ke dasar Ngarai turun janjang di Baliakkoto, janjang ini adalah penghubung  (jalan pintas) bagi masyarakat Kotogadang ke Bukittinggi, menurut cerita janjang ini dibuat secara gotongroyong  tahun 1814. Anak janjang dari tanah dan diberi bambu sebagai panahan tanah anak janjang.  Janjang ini memberikan cerita tersendiri bagi masyarakat Kotogadang, terutama bagi para pelajar, guru dan pedagang yang belajar, mengajar atau berdagang di Bukittinggi.  Janjang dengan jarak pendek terdapat di Kebun Binatang (sekarang Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan) .
Bukikapik adalah nama jorong di bagian barat Bukittinggi. Di Bukikapik ada janjang (tangga) menuju ke dasar Ngaraisianok. Janjang selain menghubungkan Kampung Sianok juga digunakan untuk olah raga jalan kaki. Janjang itu disebut Janjangsaribu. Pada pagi hari Akaik (Ahad-Minggu) tempat ini ramai dikunjungi orang baik muda maupun tua, untuk olah raga jalan kaki menuruni janjang ke dasar ngarai kemudian naik di Panorama atau ke Kotogadang atau ke Bukikapik. Menurut cerita Pak Sebeng tinggal di Bukikapik, sedangkan Mak Tjampin tinggal di dasar Ngarai, kedua mereka adalah orang dikenal secara luas di Bukittinggi.
Balakangbalok adalah tempat di bagian utara lain untuk melihat Ngarai Sianok dan dapat pula turun kebawah. Untuk turun terdapat sebagian janjang sudah ditembok dengan anak tangga sebanyak 485 buah. Sampai anak tangga ke 90 dari bawah agak rata. Tangga ini dibetulkan untuk keperluan pemeliharaan PDAM yang ditempatkan di Balakangbalok. Lokasi pompa menaikan air di pertemuan dua aliran yaitu dari Sungaitanang dan Birugo.
Di Balakangbalok pernah tinggal alumni SMA Landbouw di antaranya Erita Z. Dulu beberapa siswa yang pernah tinggal di Balakangbalok seperti Nova Diana Yosa. Nova Diana Yosa kesukaannya olahraga basket. Nova bersama teman-teman diantaranya Eni, Andi, Reni Ramon, Ifrizal, main basket di lapangan Basket Atehngarai pada hari Akaik. Bila pulang menuruni Ngarai dan melewati Ngaraisampik melintasi air berbasah-basah ke Balakangbalok. Bila turun ke Ngarai pagi-pagi dari Balakangbalok, besar kemungkinan melihat gerombolan kerbau liar sedang makan rumput dengan anak-anaknya.
Panoramabaru adalah tempat lain untuk melihat Ngarai Sianok. Di Panoramabaru, pelancong/wisatawan dapat melihat sampai ke kejauhan liku-liku ngarai yang mungkin pula bagi seseorang yang melihat akan lebih indah dari pada di Panorama. Lokasi Panoramabaru terletak di kampuang Panganak, sekitar dua km dari rumah Sakit Umum Bukittinggi. Di Ngarai bila dilihat dari Panoramabaru arah Barat, di dasar terdapat seolah-olah sebuah pulau, karena batang Sianok bercabang dua di daerah ini dan kemudian bersatu lagi dibagian lain. Di pulau ini menurut penduduk sekitar Panoramanaru sering terlihat kerbau liar yang sedang berkubang.
Dari Panoramabaru dapat pula turun ke dasar ngarai turun ke/naik dari dasar ngarai melalui janjang. Orang yang naik/turun itu adalah dari kampuang Sawahdangka, Sumpu, Matuakatiak dan Linjau. Bila jalan santai dari Panoramabaru ke kampung tersebut sekitar dua jam. Orang Sawahdangka, Sumpu, Matuakatiak dan Linjau membawa hasil bumi selain melalui Panoramabaru dapat pula melalui Sitingkai.
Berkaitan dengan janjang, bila anda ingin uji kemampuan olah-raga lintas janjang, silakan uji kemempuan anda di Bukittinggi, buat rekor nasional atau internasional. Barangkali Pemda baik juga mengadakan lomba ini, sediakan piala taraf Nasional dan Internasional. Bila perlombaan ini dapat dilaksanakan sekali setahun, kota Bukittinggi pasti akan ramai.
Kalau diperhatikan nama Janjang ternyata mengikuti nama lokasi janjang berada. Itulah cara penamaan janjang di Bukitinggi. Bukan itu saja, kalau diperhatikan nama-nama tempat di Minangkabau ada arti dan/atau sejarahnya. Begitulah orang dulu member nama tempat, sehingga mudah dikenal. Mereka tak mau mengambil nama dari nama asing. Jadi nama-nama tersebut jangan di Indonesiakan, bisa terjadi berubah artinya, bahkan lucu disebutkan dan tak dimengerti masyarakat setempat, terutama sekali waktu mencari alamat tinggal seseorang. Contoh mencari orang di yang menetap di jalan “Pintukebun”, yang seharusnya disebutkan secara lisan Pintukabun, atau di “Biruga” seharusnya Birugo atau di “Kampungtionghoa”, seharusnya Kampuangcino

Berkaitan dengan Ngarai sebaiknya dilakukan penelitian tentang binatang melata, memanjat, burung dan jenis tubuh-tumbuhan apa saja yang masih ada di dalam Ngarai dilengkapi dengan peta dan foto-foto ngarai, kemudian hasil penelitian berupa buku disimpan di perpustakaan dan yang berbentuk mudah dipahami masyarakat umum (pelancong) dapat diperoleh (dibeli) di pintu gerbang masuk Panorama dan/atau Ngarai. Bagi pelancong sebagai panduan bila ingin menelusuri dasar Ngarai dari hulu ke hilir Batang Sianok atau dari Sungaitanang ke Palupuah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: