Posted by: lizenhs | January 1, 2011

GELORA SALMAN MASJID ITB: Titipan Restu Ayah-bunda, Kutuk Kemalasan

GELORA SALMAN MASJID ITB: Titipan Restu Ayah-bunda, Kutuk Kemalasan

Gelora Salman bukanlah hal yang baru bagi Jama’ah Salman sekitar tahun 1969 – 1972. Gelora Salman adalah selebaran (sering juga disebut Buletin) yang diterbitkan oleh< ;Bidang Kerohanian Sie Islam DM-ITB. Selebaran ini diterbitkan sejak tahun 1964, setiap Jum’at. jama’ah Masjid Salman dapat memperoleh secara gratis saat memasuki masjid (diletakkan ditangga masuk) sebagai bahan bacaan/renungan sebelum khatib naik mimbar (Tidak boleh dibaca saat khatib telah khutbah).

Dari kumpulkan dan arsip Gelora Salman Ambo (Haslizen), terdapat beberapa tulisan yang bagus disebar luaskan lagi melalui blog “Bukik Ranah Ilmu”, untuk dibaca lagi sebagai bahan renungan. Tulisan kiranya ditujukan kepada seseorang atau bahkan semua yang termasuk kategoti mahasiswa sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi manapun, meskipun Gelora Salman tersebut mengarah kepada mahasiswa di ITB.

Dari sekian banyak selebaran itu, Tulisan yang ditampilkan pada Bukik Ranah Ilmu nomor 55/Th VII/1971, Jum’at 5 Februari 1970, ditulis Sakib Machmud, judul “Titipan Restu Ayah-Bunda” dan nomor 55/Th VII/1971, Jum’at 8 Januari 1971, ditulis Syamsir Alam, judul “Kutuk Kemalasan”. Selamat membaca dan meresapi.

Gelora Salman nomor 55/Th VII/1971, Jum’at 5 Februari 1970,
Titipan Restu Ayah-bunda

Ananda yang tercinta
Ayah-bunda sangat merasa bersyukur kepada Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita dengan berhasilnya ananda dapat meneruskan pelajaran di perguruan tinggi (Institut Teknologi Bandung).

Anak kuuuu
Ayah-bunda gembira sekali menerima berita bahwa ananda dapat menerusakan pelajaran ananda, titik air mata ayah-bunda membaca berita (surat) ananda. Ayah-bunda bisa memenuhi syarat yang diperlukan untuk diterimanya ananda, setelah membanting tulang lebih dahulu. Ayah bunda tidak mengenal capek dan tak putus asa menenuhi syarat-syarat tersebut walaupun rasanya agak berat.

Ananda, janganlah mensia-siakan keringat ayah bunda yang mengalir, urat-urat dan otot ayah bunda yang meregang. Dapatlah ananda memberi obat bagi ayah-bunda dengan ananda kembali nanti menemui ayah-bunda, penuh ilmu dan hati yang padat dengan keimanan. Itulah obat satu-satunya yang ayah-bunda harapkan.

Ananda, Institut Teknologi Bandung adalah kebanggaan Negara kita yang sudah banyak mengeluarkan sarjana yang berbakti kepada nusa dan bangsa.

Anakku harapan ayah-bunda
Ananda, janganlah ananda merasa puas dengan diterima di Perguruan Tinggi (ITB) atau dengan dapatnya ananda memakai tanda-tanda kemahasiswaan, tetapi ananda herus bertekat bahwa ananda akan menjaga nama baik sekolah ananda, mengantarkan tujuan Negara menjadi perguruan tinggi sebagai wadah pengembangan insani ilmiah yang berbakti dan taqwa kepada Ilahi.

Dapatnya ananda meneruskan pelajaran di Perguruan Tinggi setelah melalui bermacam-macam ujian lahir dan bathin, bukanlah ananda berarti sudah selesai dengan tugas ananda selama ini, melainkan ini adalah awal tugas baru, yang masih memerlukan tekad dan ketekunan belajar (membaca, menulis dan berhitung) dalam menuntut ilmu.

Ananda, sekarang ananda sudah jauh dari ayah-bunda dan sanak keluarga. Ananda sekarang hidup dalam lingkungan baru. Pesan ayah-bunda hendaknya ananda camkan : Jangan lupa pada pedoman hidup yang dikaruniakan Allah kepada kita; Al Qur’an dan sunnah Rasul. Di sekolah ananda diisi dengan ilmu pengetahuan yang cukup banyak, jangan lupa ananda mengisi hati dengan iman. Ananda akan gagal menjadi warganegara yang baik, seandainya ananda hanya penuh dengan ilmu pengetahuan saja, sedang hati dan jiwa kosong dengan keimanan. Kalau ananda menggunakan ilmu yang ananda dapatkan itu tanpa berpedoman kepada wahyukan Ilahi, yang merupakan rel dalam perjalanan hidup di dunia ini, besar sekali kemungkinan ilmu ananda akan membinasakan orang lain, walaupun ada kebaikannya kepada diri ananda sendiri. Ini bukan merupakan tujuan hidup sebagai seotrang muslim. Hidup di dunia ini hendaknya menjadi rahmat bagi alam sekeliling ananda berada. Kalau tidak bisa menjadi rahmat bagi alam dimana ananda berada, janganlah jadi perusaknya atau penyakit dalam masyarakat.

Ananda, pergunakanlah ilmu yang ananda dapat itu berdasarkan dan berpedoman kedapa ajaran-ajaran agama, selalu berjalan di atas rel yang dirdhai Allah. InsyaAllah ilmu yang ananda tuntut tidak akan sia-sia.

Anakku nan tercinta
Ananda, sekarang ananda menjadi harapan masyarakat, yang akan memabawa perubahan kepada lebih baik. Kelak ananda, setelah menjadi sarjana akan bergaul dengan masyarakat yang lebih luas, jadikanlah oleh ananda pergaulan sesama mahasiswa dan masyarakat sekeliling di tempat ananda berada menjadi pelajaran dan pengalaman untuk memasuki mayarakat yang lebih luas nantinya. Bergaullah dengan berpedoman kepada pedoman yang diberikan Allah: pandai-pandailah memilih yang baik dan yang buruk untuk dipakai, yang buruk untuk diperbaiki, kalau tak bisa diperbaiki, terus buang dan hindari. Jangan ananda sampai terperosok oleh hal-hal yang tidak baik, yang bertentangan dengan pedoman dan ajaran agama.

Sebelum ayah-bunda akhiri, baiklah ayah-bunda ulangi pesan ayah-bunda:
Ananda hidup bukan untuk diri sendiri, ananda hidup adalah untuk masyarakat dan alam sekelingnya.

Dalam hidup ananda janganlah lupa pedoman hidup yang diberikan Tuhan

Jadilah ananda warganegara yang berbakti kepada nusa dan bangsa, membawa kemajuan bagi Negara dengan penuh ketaqwaan.

Ingatlah pesan ayah-bunda ya ananda

Semoga ananda mendapat bimbingan dan lindungan dari Allah Subhanahu wa ta’ala dalam mencapai tujuan dan cita-cita ananda.

Dari Ayah-bunda

Gelora Salman nomor 55/Th VII/1971, Jum’at 8 Januari 1971
K u t u k   K e m a l a s a n

Jika anda malas, anda sedang menuju kepada keruntuhan. Di sana tidak banyak tempat-tempat perhentian sesungguhnya. Ini bukanlah jalan, akan tetapi turun yang meluncur kebawah (H. W. Beecher)

Setiap orang pasti pernah merasakan kepahitan-kepahitan akibat kemalasannya yang sering minimbulkan kegagalan-kegagalan yang sangat menyedihkan. Setelah itu hanyalah kenangan yang pahit belaka diiringai penyesalan kenapa tidak rajin saja sedikit lagi tentu berhasil.

Ya kenapa? Banyak orang sependapat dan merasakan betapa buruknya sifat tersebut. Untuk itulah setiap mereka yang pernah gagal akibat kemalasannya pasti berjanji pada diri untuk merubahnya pada masa yang akan datang. Tapi inipun biasanya untuk sementara pula dan selanjutnya ia kembali dalam kemalasannya itu. Siklus ini akan berulang kembali sampai benar-benar insaf dan meninggalkan yang tersela itu untuk selama-lamanya.

Seorang asing yang datang ke Indonesia pernah mengatakan pada suatu kali, bahwa bangsa kita adalah bangsa yang malas. Tentu saja ucapan seperti ini sangat menyinggung perasaan, tetapi bila dilihat buktinya pasti akan sepakat dengan dia dalam satu hal, bahwa ada diantara kita yang malas…….

Begitu pula halnya jika seorang teman mengatakan kamu malas, tanpa terasa telinga jadi merah dan siap-siap menerjangnya. Tapi bila dirasakan pula dan dilihat kegagalan hasil kerja, tentu benar apa yang dikatakannya.

Berbicara mengenai kemalasan baik diingat kata-kata Franklin bahwa: “Kemalasan menggerogoti bagaikan tahi besi, lebih cepat dari dari pada kerja yang dihasilkan”. Ditambah oleh nyonya Sigoney: “Malas dan menganggur adalah kuburan bagi manusia yang hidup. Kekayaan yang lenyap dapat bisa didapatkan kembali dengan kerajinan, pengetahuan yang terlupakan diingat kembali dengan belajar, akan tetapi tidak bisa memanggil kembali kesempatan yang sudah lewat”.

Appius Cresus pernah mengatakan bahwa: “Tiap orang adalah pembuat nasibnya sendiri”. Jadi tidak adalah dalam tempat dalam hati untuk membiarkan sifat malas itu bersemayam. Sifat ini haruslah dibuang jauh-jauh. Seorang penulis (?) pernah berkata bahwa: “Yang menguasai masyarakat adalah mereka yang kuat. Yang kuat adalah orang yang berkarya”. Bagaimana mungkin seorang yang malas akan berkarya dan mana pula mungkin ia akan bisa menguasai masyarakat karena ia hanya seorang yang lemah yang tiada artinya.

Mirebeau berkata: “Aku akan menemukan jalan. Kalau tidak ada akan membuatnya. Tak ada sesuatu yang mustahil bagi orang yang mau”. Maka Horace Mann berkesimpulan bahwa: “kita malu mati, sebelum kita memperoleh sesuatu kemenangan buat manusia”.
Semangat yang dirasakan oleh Horace Mann inilah yang dahulunya dimiliki oleh pejuang-pejuang Islam di zaman Nabi Muhammad Saw., memperkenalkan Islam kepada kita, tidak merasa takut dan enggan memperjuangkan Islam.

Sekarang bagaimana dengan keadaan diri sendiri. Dalam surat Al Kahfi [18]: 23, 24. Tuhan telah memperingatkan: “Janganlah engkau mengatakan bahwa aku akan mengerjaka besok, melainkan dengan alasan jika Tuhan menghendakinya”. Di ayat lain tuhan berfirman: “Bahwa yang ada jalan untuk dicela itu ialah orang-orang yang meminta dan orang-orang yang menujukkan keberatan-keberatannya kepadamu, pada hal mereka itu mampu, mereka lebih senang duduk bersama orang-orang yang tinggal dibelakang” An Nisaa [4]: 93.

Hal ini terasa bagi kita bahwa kadang-kadang lagi malas, maka berfikir, “Ah besok saja, kan masih banyak waktu”.

Tetapi waktu yang banyak itu hilang tampa bekas dalam sekejab mata sedangkan pekerjaan-pekerjaan lain telah muncul pula. Demikianlah biasanya timbul tumpukan-tumpukan kerja yang tidak terselesaikan, maka tak heranlah bila pekerjaan itu gagal akhirnya. Jika ini telah terjadi mungkin satu dari beberapa tudingan sebagai “kambing hitam” (pelarian) adalah tak punya waktu atau kerja saya terlalu banyak. Padahal persoalannya adalah sederhana saja, tidak bisa memanfaatkan waktu yang sedikit itu.
“Allah tidak memberatkan seseorang, melainkan sekedar terpikul olehmu”, Al Baqarah [2]: 286 dan “janganlah jatuhkan dirimu dengan tanganmu kepada kecelakaan…” Al Baqarah [2]: 195. Ya ….. janganlah sampai kemalasan membuat diri kita jatuh kepada kece;lakaan dan kegagalan.

Oleh karena itu “kemalasan harus dibuang jauh-jauh dari samping kita. Apa pesan Dorothea Brande dalam bukunya Wake up and Live: “Bertindaklah seakan-akan tidak mungkin gagal. Bangkitkanlah rasa optimis pada diri serta berusahalah untuk menang”.

penutup
Mudah-mudahan kedua tulisan diatas memberikan dorongan dan bermanfaat bagi pembaca untuk lebih bersemangat, tidak bemalas-malasan dan dapat menggembirakan orang tua, bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan rahmat bagi umat manusia. (Haslizen Hoesin)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: