Posted by: lizenhs | December 18, 2010

NASEHAT PELUKIS “MOOI INDIE” KETURUNAN SEMARANG DAN KARYANYA TENTANG ALAM MINANG

NASEHAT PELUKIS “MOOI INDIE” KETURUNAN SEMARANG DAN KARYANYA TENTANG ALAM MINANG

Ditulis Haslizen Hoesin dan Tarmizi Firdaus

Pribadi Yang Unik
Pada suatu hari di jalan Paseban (sekarang Jln Perintis Kemerdekaan), berhadapan dengan bioskop Eri (sebelunya bernama Rex) dan kantor Kehutanan, dihadapan bangunan lama, seorang anak kecil tertabrak sepeda. Orang-orang ramai berkerumun, mereka menyalahkan si pengendara sepeda, gara-gara anak kecil tertabrak. Ada yang menuding-nuding, ada yang memaki. Si pengendara sepeda lebih banyak diam. Bagaimana dia mau membela diri, orang sebegitu banyak. Biasanya, kalau ada anak kecil tertabrak, pastilah orang dewasa yang disalahkan. Bagaimana menyalahkan anak kecil yang belum mengerti apa-apa? Wajah penabrak semakin pucat, keringatnya mengalir.

Tiba-tiba, di tengah orang banyak itu muncul orang tua. Orang tua itu membawa sebuah gelas berisi air minum. Disodorkan air minum kepada pengendara sepeda, sambil berkata: “Saudara pasti haus, minum dulu, istirahat dulu”. Orang-orang yang berkerumun terheran-heran, mengapa orang tua itu baik benar. Lebih heran lagi, yang tertabrak itu adalah cucunya sendiri! Seharusnya, dialah yang paling galak kepada si pengendara sepeda. Tetapi tidak! Bahkan sempat-sempatnya dia menawarkan air minum dan menenangkan penabrak itu.

Siapakah orang itu? Orang tua itu bernama Wakidi. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Wakidi adalah pribadi yang unik. Beliau sangat sederhana dan bersahaja.

Masa Kecil, Sekolah Dan Mengajar
Wakidi lahir di Plaju Palembang Sumatera Selatan, menurut beberapa teman menyebutkan pada tahun 1889. Orang tua dari Wakidi berasal dari Semarang. Wakidi meninggal di Bukittinggi 1979 dan meninggalkan dua istri dan 12 anak. Putra pak Wakidi yang mengikuti jejak adalah Irdan. Irdan tamatan Seni Rupa IKIP (sekarang UNP-Padang) dan kini mengabdikan diri di almamaternya. Karya-karya Irdan tidak jauh berbeda dengan bapaknya, Wakidi.

Wakidi mulai melukis sejak usia 10 tahun. Semasa kecil senang menggambar ulang karya-karya Raden Saleh Bustaman yang diperoleh melalui buku-buku, majalah atau foto-foto. Inilah yang menyebabkannya akrab dengan dunia seni lukis. Wakidi mendapat pendidikan seni lukis di Kweekshool Bukittinggi (terkenal juga dengan Sekolah Normal atau Sekolah Raja) dan sempat belajar dengan pelukis Belanda bernama Van Dick di sekolah tersebut. Setelah selesai, kemudian menjadi guru di almamaternya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Wakidi). Pernah pula menetap dan mengajar di INS Kayutanam pimpinan Mohammad Syafei. Sesudah kemerdekaan mengajar di SMA Landbouw dan SMA Birugo Bukittinggi.

Lukisan Wakidi
Dalam catatan seorang mahasiswa senirupa, karya-karya lukisan Wakidi mengambil tema-tema pemandangan alam Ranah Minang, telah dimulai sejak pelukis ini menggali ilmu di Kweekshool. Banyak muncul lukisan-lukisan pemandangan saat itu khas Minangkabau. Oleh karena itulah pada masa tersebut, Wakidi lebih dikenal sebagai pelukis Mooi Indie (Hindia Molek), yang memiliki kecendrungan untuk mengungkap obyek karya pada hal-hal yang romantik dengan alam. Wakidi tidak sendirian dengan corak Mooi Indie. Dia adalah satu diantara tiga pelukis Naturalistik Indonesia yang terkemuka di zamannya. Pelukis lain itu adalah Abdullah Surio Subroto (1879-1941) (ayah dari Basuki Abdullah) dan Pirngadie (1875-1936). (http://id.wikipedia.org/wiki/Wakidi.)

Lukisan Wakidi dibuat dari berbagai media seperti cat minyak, cat air dan sketsa tinta “cina”. Lukisan yang cukup terkenal diantara lukisan-lukisannya adalah cat minyak berjudul “Baralek” dan “Ngarai Sianok”, cat air seperti “Mahat”, “Pemandangan di Payokumbuah”, “Kehidupan Di Kaki Gunung Marapi”, “Danau Maninjau” dan “Rumah Bagonjong” yang begitu rinci dan menawan. (Muharyadi, 2005. SMKN 4 Padang)

Beliau banyak berkarya, hampir semuanya dikoleksi orang, sehingga Wakidi tidak pernah mengadakan pameran lukisan. Karya-karya beliau banyak dikoleksi oleh istana keperesidenan dan sejumlah tokoh penting seperti wakil presiden Indonesia, bung Hatta dan Adam Malik. Pertama kali karya Wakidi dikenal luas oleh masyarakat (publik) penikmat seni di Sumatera Barat, manakala pelukis ini pertama kali memamerkan tidak kurang dari 15 karya tahun 1920 di Bukittinggi.

Dibalik pro-konta kehadiran Wakidi di zamannya, kehadiran Wakidi dalam peta sejarah seni lukis di tanah air, sebenarnya tidak dapat disingkirkan begitu saja. Beliau merupakan penggalan sejarah seni lukis modern di Indonesia setelah era Raden Saleh Bustamam. Bahkan tidak sedikit pendapat pengamat seni di tanah air menyebutkan bahwa karya-karya lukis di zaman Hidia Belanda, termasuk Wakidi di dalamnya yang memulai dan menstimulasi lahir generasi S Soedjono, Hendra Genawan, Affandi dll.

Tentang lukisan Wakidi, mahasiswa senirupa (Fes), berkata: “Alangkah bahagianya, ketika suatu kali saya menonton lukisan internasional di Jakarta, saya melihat lukisan Wakidi dipajang dalam satu ruang dengan Picasso dan pelukis-pelukis kelas dunia lainnya. Bahagia dan senang!”

Menetap Di Daerah
Saat perang kemerdekaan berkecamuk di Ranah Minang, Wakidi memilih menetap di INS Kayutanam, pimpinan Mohammad Syafei. Setelah kemerdekaan RI banyak tawaran yang datang kepada Wakidi. Di antaranya dari Abu Hanifah sebagai Menteri Pendidikan dan Pengajaran menawari menjadi kepala Jawabatan Kebudayaan, bahkan Presiden RI Soekarno pernah menawarkan kepada Wakidi sebagai pelukis Istana. Semua di tolak secara halus dengan alasan banyak menyita waktu untuk melukis. (Muharyadi, 2005. SMKN 4 Padang)

Wakidi yang lebih suka menetap di daerah, tidak seperti pelukis lain lebih suka di Jawa, pantas untuk dikenang sebagai tokoh, bahkan maestro dalam konstelasi seni rupa Sumatera Barat. Wakidi telah menciptakan sejarah sendiri di ranah kebudayaan Minang bahkan di Indonesia. Dalam konteks seni lukis dengan corak naturalistik yang menggali alam Minang. Hal ini lah yang menjadikan Wakidi sangat membumi dengan lukisan-lukisannya. Maka Wakidi dan alam tidak bisa dipisahkan karena alam adalah kehidupannya.

Keunikan Di Kelas
Bagaimana cara mengajar dalam kelas? Tak kalah uniknya. Siswa-siswa sudah hafal. Kalau membuat lingkaran tak pernah pakai jangka. Cukup mengeluarkan seutas tali dari kantongnya. Lalu, sambil memegang kapur dan tali itu, terukirlah sebuah lingkaran yang indah di papan tulis. Terkadang, kalau lupa membawa tali, beliau pakai sapu tangan. Perhatikan dari cara beliau mengambar dengan benang dan mistar kayu tanpa skala, menggambar proyeksi dan menggambar dengan tinta “cino”. Sungguh unik!

Pesan yang beliau sampaikan kepada siswa yang tak tertulis. Dari beberapa tafsiran yang muncul, di antaranya untuk (1) “Menggambar pakai benang dan mistar tanpa skala” dimaksudkan, tidak ada peralatan, lakukan dengan apa adanya, jangan tergantung pada peralatan, berarti menyuruh kita kreatif. (2) Menggambar proyeksi dan menggambar dengan “tinta cino” sambungan harus tepat, maksudnya harus bekerja teliti. (3) Beliau mengajarkan kepada siswa. Jangan manja. Jangan tergantung peralatan. Dalam keadaan darurat, benda-benda sederhana bisa jadi peralatan. (4) Mahasiswa Seni Rupa ITB (Fes), mengenang pak Wakidi berkata: “Ilmu warisan dari pak Wakidi itu sangat bermanfaat. Kalau ketinggalan mistar, cukup dengan melipat kertas, penggaris alami sudah siap. Jadi tidak bergantung kepada peralatan”.

Idealisme Beliau
Yang menarik, idealisme pak Wakidi yang luar biasa. Pada suatu hari, pernah pak Wakidi marah kepada muridnya yang bernama Yazid. Yazid adalah seorang dari beberapa murid pak Wakidi yang paling berhasil meniru warna-warna Wakidi. Prinsip Wakidi adalah, berusaha melukis sebaik mungkin, dengan semua kemampuan yang ada. Rata-rata beliau membutuhkan dua pekan untuk satu lukisan. Tidak bisa dikebut dan beliau tidak mau menyelesaikan lukisan dengan terburu-buru. Pada suatu hari Yazid mengatakan: “Awak buek sapakan, haragonyo sakitu. Awak buek tigo hari, haragonyo sakitu juo, ancaklah awak buek tigo hari”. (Saya buat sepekan harganya segitu. Saya buat tiga hari harganya segitu juga, biarlah saya buat tiga hari). Demikian kata Yazid dengan polos.

Ternyata Wakidi marah besar. Berhari-hari Yazid tidak ditegur. Rupanya Wakidi tidak sepaham. Bahkan pernah terjadi, sebuah lukisan sudah selesai, tapi Wakidi mengatakan belum. Walaupun orang yang datang itu sudah membawa segepok duit. Wakidi tidak tergiur. Rupanya dia lebih suka memandang lukisannya itu berlama-lama. Seolah melepas rindu, sebelum diserahkan ke orang lain.

Cerita Seorang Siswa
Bila diingat-ingat, pertama kali belajar menggambar di kelas satu, saat itu siswa masih baru, semua duduk dengan rapih dan tenang lengkap dengan buku gambar telah terletak diatas meja masing-masing beserta peralatan gambar. Mulailah bapak bercerita kesana-kesini tentang lukisan dan menggambar.

Sesudah bercerita tentang lukisan, bapak tersebut merogo kantong celana (celana model 45-an), mengeluarkan tali dan kapur yang dibungkus dengan kertas. Beliau memegang ujung tali dengan tangan kiri dan memegang bagian tali dan kapur di tangan kanan. Tangan kiri diam sedangkan tangan kanan diputarkan, terjadilah lingkaran, maka siswa ditugaskan mengambar lingkaran dengan jangka. Pertemuan berikutnya dengan tali dan mistar tanpa skala, jadilah segitiga, jajaran genjang, garis sejajar, maka ditugaskanlah siswa menggambar.

Cerita Siswa Lain
Selain disekolah, beberapa siswa belajar dirumah beliau. Menggambar dengan pinsil, konte, cat air dan kanvas. Kalau sudah sampai cat air, berarti sudah agak tinggi. Kalau sudah sampai cat minyak, itu sudah paling top. Untuk sampai ke cat minyak, itu perlu waktu bertahun-tahun.

Pada suatu hari, seorang siswa menggotong sebuah lukisan besar kerumah pak Wakidi, panjangnya kira-kira satu meter dua puluh senti, digotong lewat jalan kereta api. Lukisan itu adalah pengembangan skets di Payakumbuh, di daerah berbukit-bukit, yang ada sungainya. Zaman itu potret-memotret cukup mahal, jadi benar-benar hanya mengandalkan pinsil dan daya ingat. Wakidi melihat lukisan itu dengan antusias. Padahal lukisan itu lebih banyak mengandalkan semangat dari pada bakat.

“Pakai apo waang malukis? Apo kwasnyo?” (Pakai apa kamu melukis? Apa kwasnya?”), kata beliau. Siswa menjawab dengan jujur: “Pakai sendok . Habis, bagaimana lagi? Mau melukis pakai kwas, tak punya. Mau melukis pakai pisau palet, tak punya. Hasrat menggebu-gebu, peralatan minim”.

Pak Wakidi geleng-geleng kepala, melukis kok pakai sendok? Dia masuk kedalam kamar, lalu keluar membawa dua buah kwas buatan luar negeri. Murid juga diberi beberapa cat yang tidak baru lagi. Bukan main senangnya ini hati. Bahkan kwas itu di bawa tidur. Bertahun-tahun kami belajar dengan pak Wakidi, tak sesenpun kami pernah membayar. Beliau bukanlah orang yang tergila-gila dengan materi. Sungguh jauh dari itu. Sudah tidak tahu berapa banyak orang yang belajar kepadanya. Baik belajar formal di bangku SMA, maupun belajar melukis dirumah. Namun, tak satupun yang membayar.

Kesan Emi dan Djas
Pelajaran menggambar dari pak Wakidi sangat berkesan bagi Emi, karena kalau manggambar proyeksi salalu salah nol dari pak Wakidi. Memang Emi telah terlatih sebagai siswa yang teliti disamping rajin.

Lain lagi bagi Djas. Djas ditampar oleh pak Wakidi karena dikira ikut rebut, padahal dia tidak ikut rebut. Djas memang siswa yang pendiam dan tak suka ribut dikelas. Beberapa menit sebelum pelajaran menggambar selesai pak Wakidi mendekati Djas. Pak Wakidi bertanya: Apo waang lah punyo pomle? (Apa kamu sudah punya pacar?). Alun Pak (belum pak) jawab Djas. Ibo den caliak ang alum juo pomle (kasihan saya melihat kamu belum punya pacar). Hal yang tidak disangka, beberapa tahun kemudian ternyata Djas mempersunting anak pak Wakidi. Sayang pak Wakidi sudah meninggal, tidak melihat pernikahan siswa yang pernah ditampar dengan anaknya.

Kesan dan Pesan Kepada Fes
Biasanya sore hari beliau bermain piano di ruang belakang. Piano itu sudah tua, tutsnya beberapa sudah bolong. Tetapi tidak menghalanginya memainkan piano dengan indah. Seolah tuts itu lengkap. Atau, barangkali dia bisa memilih lagu yang pas dengan jumlah tuts yang ada, wallaahu a’lam.

Setelah selesai mengajar lukis, kami berbincang-bincang tentang kehidupan. Disitulah, pada usia yang masih sangat muda, Fes belajar tentang filosofi kehidupan. Bertahun-tahun kemudian, nasihat-nasihat Wakidi tentang mencari kehidupan yang tenteram dan damai, menemukan padanannya ketika belajar agama.

Sebetulnya apa yang dicari dalam hidup ini? Ketika seorang siswa bertanya: “Kenapa Opa tak punya mobil?” Yang dipanggil Opa itu menyahut: “Kaa tu oto? Kok dibali oto, diasabnyo awak. Mintak pulonyo dibuean rumah. Labiah elok awak tagak sajo di muko rumah. Agiah sajo kode jo jari. Baranti oto, sudah tu awak naiak. Batanyo urang oto tu ka awak, kama pak? “Ka Padang, kecek awak”. (“Untuk apa mobil? Kalau dibeli mobil, diazabnya kita. Mintak pula dia dibikinkan rumah. Lebih baik berdiri kita di depan rumah. Beri saja kode dengan jari, berhenti mobil, sudah itu saya naik. Bertanya orang kepada kita, kemana Pak? Ke Padang kata kita”).

Wakidi juga mengajarkan tentang kehidupan. Itulah yang sangat berharga, seperti mencari jodoh. Ketika datang masanya nanti mencari jodoh, Wakidi memberikan nasihat yang berharga. “Pakai sajo tarompa Japang. Baju nan agak lusuah saketek. Kok dapek diang anak gadih, anak gadih setia tumah. (“Pakai saja sandal Jepang. Baju yang agak lusuh sedikit. Kalau dapat olehmu anak gadis, anak gadis setia itu).

Prinsip Wakidi, sering berlawanan dengan anak muda zaman sekarang, seperti ini. “Kalau apel malam minggu basalang jaket ka kawan. Minyak rambuik Erasmic tu, agak taba pulo saketek, buliah talen”. (Kalau perlu apel malam Minggu di pinjam jaket kepada teman. Minyak rambut Erasmic, agak tebal pula sedikit, supaya keren”). Kalau perempuan didatangi, lama menunggu, karena bersolek dulu. Jarang yang keluar seadanya. Kalau keluar seadanya maka itu adalah kecantikan yang asli, alamiah. Kecantikan asli/alamiah itulah yang akan dilihat sehari-hari nantinya.

“Itulah dialog-dialog sederhana yang terus membekali ketika merantau ke tanah Jawa”. kata Fes. Boleh jadi dialog itu tak lagi relevan dengan zaman sekarang. Tapi yang jelas, Wakidi tak hanya mengajarkan teori warna, perspektif, gambar proyeksi dan lainnya.

Keunikan di Landbouw
Dilain waktu, SMA Landbouw Bukittinggi mengadakan acara. Diadakanlah hiburan, ada tarian, nyanyian, band, pokoknya meriah. Juga ada acara makan-makan. Maka dibagikanlah makanan. Siswa-siswa yang masih dalam masa pertumbuhan, tentu saja tak sungkan-sungkan lagi. “Dibaelah makan gadang” (Disantaplah makan besar). Tapi ada satu orang yang menolak, tidak ikut makan. Alasannya sangatlah unik. Dia tidak ikut makan, dengan alasan ini bukan jam makannya. Alangkah anehnya! Berapa banyak orang, kalau sudah ada makanan, apalagi makanan yang seru, lupa dengan jam makannya. Itulah dia pak Wakidi. Tidak heran kalau kesehatannya termasuk luar biasa. Bahkan konon, meninggalnya dalam usia 90 tahun.

Mudah-mudahan kesan terhadap Pak Wakidi dan pesan beliau mengilhami para pembaca untuk melakukan berbagai kegiatan, termasuk memilih teman hidup.

Bahan tulisan:
– Wawancara ke beberapa Siswa SMA Bukittinggi
– Buku Lintas Limapuluh Tahun SMA 1 Lamdbouw Bukittinggi 1959-2009. Juni 2009
– Muharyadi, (2005). “Peristiwa Budaya Dalam Rekaman Seni Lukis Sumbar”. SMKN 4 Padang
– An Totis (2005) “MENGENANG SANG MAESTRO BAPAK WAKIDI”
http://alumnippspikippdg.multiply.com/journal/item/4 Dec 26, ’05
– (http://id.wikipedia.org/wiki/Wakidi.)

Baca juga
Pesan Pak Sjaiful Jasan Di Tahun 73 https://lizenhs.wordpress.com/2010/04/16/pesan-pak-sjaiful-jazan-di-tahun-73/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: