Posted by: lizenhs | November 7, 2010

KEMARAHAN ORANG MINANG KEPADA MARINGGIH DAN KACAK

KEMARAHAN ORANG MINANG KEPADA MARINGGIH DAN KACAK

Masih ingatkah para pembaca kemarahan orang Minang saat sinetron Sitti Nurbaya (SN) ditayangkan demikian pula Sengsara Membawa Nikmat (SMN). Saat saya (Haslizen) bersilaturahim kerumah buk Nang Sam (Syahlinar Udin) bulan Juli 2010, kami terlibat pembicaraan sinetron dalam Televisi, sampailah pembahasan pada sinetron “Sitti Nurbaya” dan “Sengsara Membawa Nikmat”. Sinetron Sitti Nurbaya (SN) dan Sengsara Membawa Nikmat (SMN) adalah kasus, untuk menambah wawasan pembaca mengenai cerita sastra yang diangkat ke layar kaca. Berkenaan dengan cerita sastra diangkat ke sinetron buk Nang pernah menulisnya dalam bentuk makalah. Makalah tersebut hanya beredar dalam kalangan terbatas, ada baiknya di muat pada blog “Bukik Ranah Ilmu”. Makalah buk Nang Sam, berjudul.

Mengenal Minangkabau Melalui
Sinetron Sitti Nurbaya dan Sengsara Membawa Nikmat

Oleh: Syahlinar Udin.

Pendahuluan
Orang minang amat marah pada datuak Maringgih. Mengapa? Karena penampilannya dalam sinetron “Sitti Nurbaya” membuat orang Minang tersinggung, karena datuaknya ditampilkan serakah, jelek dan licik.

Ketika sinetron “Sengasara Membawa Nikmat” ditayangkan menyusul penayangan pertama, protes muncul lagi. Kali ini Kacak menjadi sasaran, kerena kesewanang-wenangannya telah mensengsarakan Midun.

Sebenarnya orang minang tidak perlu marah. Karana tokoh yang ada dalam sinetron itu adalah rekaan. “Jangan membicarakannya seperti memandang cerita kepahlawanan atau sejarah”, kata A. A. Navis. Lagi pula “Sitti Nurbaya sama sekali tidak bisa dikatakan menggambarkan budaya dan adat masysrakat Minangkabau”, tegas Prof. Dr. Umar Junus.

Apakah yang terjadi? Sebenarnya adalah, pemirsa dikejutkan oleh sinetron itu. Kenyataan dalam sinetron membuat mereka ingat kembali kepada nilai-nilai yang selama ini mungkin telah mulai luntur atau hilang.

Keberadaan interaksi antara sinetron dengan pemirsa, itulah fokus pembicaraan. Tentu saja dengan harapan ada manfaatnya.

Kaya atau Tingkah Laku
Kedua sinetron itu menarik karena tingginya relevansi sosialnya dengan masyarakat (Minangkabau) masa kini. Di dalam sinetron digambarkan serangkaian suasana dan serangkaian perbuatan yang dirasakan telah menyentuh persoalan masa kini. Oleh karena itu timbullah reaksi.

Protes ditujukan pada tingkah dan pikiran Datuak Maringgih yang tidak wajar, sebenarnya bertujuan untuk menemukan kembali suatu profil yang ideal. Tampilnya Datuak Maringgih seakan telah membuka rahasia yang ada dalam masyarakat, yang selama ini tetap disembunyikan atau sengaja tidak dipersoalkan.

Datuak Maringgih boleh kaya, boleh tertarik kepada Nurbaya yang muda dan cantik, boleh beristri banyak. Semua dianggap masih wajar karena kondisi memungkinkan. Pemirsa terkejut adalah sisi tidak wajar dari Datuak maringgih, yaitu cara mendapatkan apa yang diinginkannya. Kacak ditolak bukan kerana ia anak tuanku Lareh. Tetapi tingkah laku Kacak dan faktor yang menyengsarakan orang lain.

Penolakan terhadap tingkah laku dan pemikiran tokoh yang tidak wajar ini dapat dijadikan pertanda bahwa sinetron ini telah berhasil menyentuh sisi paling dalam dari manusia, yaitu hati nurani. Pertanda bahwa rasa kemanusiaan pemirsa masih sehat.

Midun tidak Berubah
Berikut yang ingin dipetanyakan adalah sejauh mana kedua sinetron ini mampu menampilkan Minangkabau dengan berbagai permasalahannya. Uraian berikut ini mencapba memberi jawabannya.

Sinetron “Sengsara Membawa Nikmat” (SMN) lebih terasa Minang dibandingkan dengan “Sitti Nurbaya” (SN). Terdapat dua indicator dalam SMN yang tidak ditemui dalam SN. Pertama dalam sosok anak muda dan kedua dalam sosok kaum tua.

Midun yang siak (alim), teguh, bersahabat dan berani, melambangkan anak muda Minang yang ideal. Ia dipertentangkan dengan Kacak yang jahat, tidak alim dan pantang kerendahan.

Semua kelebihan Midun diperolehnya melalui kehidupan khas anak muda Minang, di surau, di sasaran silat, dibawah bimbingan Pandeka Sutan dan Haji Abbas. Bahkan penjara pun dijadikan Midun tempat untuk menuntut ilmu.

Ketika kedudukan Midun sudah bergeser seratus delapan puluh derajat, kepribadiannya masih tetap tidak berubah. Dia masih juga Midun yang baik dan alim.

Persoalan yang menyangkut hubungan mamak dan kemenakan merupakan ciri ke Minang-an yang lain dalam SMN. Persoalan ini lebih banyak melibatkan kaum tua.

Tuntutan kemenakan mengenai warisan, keterlibatan mamak dalam soal perkawinan serta tuntutan kemenakan untuk membawa mamak yang sedang sakit ke dalam lingkungan kaunnya semua adalah khas Minang. Ditambah dengan “setting” yang berciri Minang lain seperti pacu kuda, gotong royong, mengerjakan sawah dan meramaikan surau, membuat rasa Minang itu makin kuat.

Dalam SN kedua sosok ini pun tampil. Sosok anak muda dalam hal ini Sitti Nurbaya dan Samsulbahri berciri anak muda telah tersentuh “budaja maju”. Ciri Minang kurang terlihat.

Begitu pula penampikan kaum tua. Ayah Nurbaya tidak melibatkan mamak dalam pengambilan keputusan nasib anak perempuannya. Sutan Mahmud pun tidak memperhatikan kemenakannya.

Ke Minang an pada SN hanya terlihat pada nama tokoh, lokasi cerita (latar tempat) dan masuknya seni berdendang sebagai pengantar adagan dalam usaha pengambilan kode sastra ke dalam sinetron. Sandainya semua unsur terakhir diganti, cerita masih tetap bisa jalan. Hal yang sama tidak bisa diberlakukan pada SMN.

Kedudukan Wanita
Dalam makalah (diskusi) ini, ingin pula dibicarakan tokoh wanita dari kedua sinetron tersebut. Berdasarkan judul terkesan bahwa Sitti Nurbaya adalah tokoh utama. Tetapi dalam cerita ternyata tidak demikian. Ia hanya merupakan tanaga penggerak untuk terjadi konflik antara Samsulbahri dengan Datuak Maringgih. Samsulbahri dimotivasi oleh cintanya kepada Sitti Nurbaya, sedangakan Datuak Maringgih karena nafsunya.

Wanita-wanita dalam SMN memang tidak dipersiapkan untuk menjadi tokoh utama. Jadi peran merekapun tidak terasa penting. Perjuangan Midun bukan tersebab kehadiran Halimah. Bahkan juga bukan karena adik perempuan ataupun ibunya.

Karena wanita dalam kedua sinetron itu tidak berada dalam posisi yang sama, maka tidak mungkin diperbandingkan. Mungkin yang masih bisa dikatakan hanyalah soal nasib para wanita tersebut.

Sitti Nurbaya dalam SN beruntung karena hidup dalam lingkungan maju. Sehingga ia dapat sekolah bersama Samsulbahri, serta diberi kesempatan untuk merancang masa depan berdua.

Juriah beruntung karena ia berada dalam lingkungan mamaknya. Perkawinan dengan Maun, meskipun tidak didahului dengan pacaran, merupakan perkawinan yang seimbang, setidaknya dalam usia.

Kedudukan wanita sebagai istri dalam kedua sinetron itu tidak pula istimewa. Baik ibu Nurbaya maupun ibu Juriah hanya pelengkap, katanya tidak didengar.
Pemafaatan Sastra dan Panorama Sumbar

Keputusan untuk mengangkat karya sastra kedalam bentuk sinetron patut didukung dan perlu dilanjutkan.

Meskipun ada cetusan tidak puan pada hasil akhir setelah dialih kodekan, kenyataan kedua sinetron kenyataan kedua sinetron ini berhasil menyita begitu banyak perhatian pemirsa. Kitapun tahu bahwa siaran YVRI telah menjangkau sudut-sudut terpencil tanah air tercinta ini.

Kondisi ini jelas menguntungkan bagi dunia sastra. Meskipun tidak ada jaminan bahwa setelah penayangan sinetron, orang akan bertambah banyak membaca karya sastra atau meskipun sastra tidak sampai secara utuh lewat sinetron, setidaknya lewat usaha pemirsa, telah dapat mengenal berbagai masalah yang terangkat dan sekaligus dapat mengenal latar cerita dan beragam budaya.

Bertolak dari pemikiran demikian, pemanfaatan sastra dalam pembuatan sinetron perlu dilanjutkan. Berkenaan dengan ini tentu saja dibutuhkan karya sastra yang cocok, penulis scenario yang handal, sutradara dan artis yang tepat. Apakah Sumbar siap untuk mendukung dan mewujudkan gagasan itu?

Dilihat dari segi materi cerita, Sumbar memilkiki koleksi ytang melimpah. Baik koleksi sastra lisan maupun sastra baru. Seperti “Sabai Nan Aluih” dari koleksi kaba, menyentuh adat ada “Warisan” karya Chairul Harun. Kalau Minang selama ini diindentikkan dengan Islam, mengapa tidak dicoba dengan “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis.

Keindahan panorama Sumbar pun siap untuk menampung kegiatan itu. Artis yang kuatpun ada, seperti BHR. Terasa kurang barangkali penulis scenario, sutradara dan yang paling penting dana.

Akhirnya, semua terpulang kepada kita.
Terima kasih.

Padang, 10 Desember 1991.
Dra. Syahlinar Udin,
FPBS IKIP Padang (sekarang UNP).
Baca Juga: SENI TEATER SEBAGAI PEMBANGKIT KREATIFITAS, DISIPLIN DAN TANGGUNGJAWAB, https://lizenhs.wordpress.com/2011/12/30/seni-teater-sebagai-pembangkit-kreatifitas-disiplin-dan-tanggungjawab/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: