Posted by: lizenhs | November 4, 2010

KRISIS KETERSEDIAAN ENERGI ATAU KRISIS AKHLAK

KRISIS KETERSEDIAAN ENERGI ATAU KRISIS AKHLAK

Tulisan yang sedang pembaca baca adalah bahan (makalah) ceramah Kuliah Dhuha di Jamaah Masjid Salman ITB 29 Maret 1981. Dimaksud energi pada paparan ini adalah Radiasi Matahari dan Siklus Air. Kedua energi ini pangkal hidup dan kehidupan. Makalah diedit kembali oleh Haslizen. Judul semula adalah

Krisis Energi atau Krisis Akhlak

Disusun bersama oleh Iskandar Danusugondho dan Haslizen Hoesin.

Pendahuluan

Dewasa ini ramai dibicarakan mengenai krisis energi, terutama sekali diantara kalangan cendikiawan dan pejabat-pejabat yang bersangkutan dengan masalah energi. Betulkah sudah terjadi krisis energi? Apakah benar bahwa kita sudah siap-siap kerena dikhawatirkan bahwa krisis energi akan melanda Negara kita?

Terdapat sementara pendapat yang menyatakan bahwa sebenarnya yang banyak kita persoalkan dewasa ini adalah “kecemasan” terhadap kemungkinan akan terjadi krisis energi dinegara kita. Bukan masalah energinya sendiri.

Mari ditinjau sejenak akan kata “krisis”. Menurut kamus Webster, krisis dijabarkan sebagai “tahap penentuan dari sesuatu, atau saat di mana kejadian mencapai titik puncaknya (suatu titik-balik), yang akan segera diikuti dengan perubahan yang menurun”.

Benarkah energi di negeri ini sudah atau hampir titik balik, sehingga perlu dicemaskan? Mana yang dicemaskan, ketersediaan atau penggunaan. Sampai dimanakan usaha untuk selalu meningkatkan ketersediaan energi bagi masysrakat. Apakah bukan kebijaksanaan pemanfaatanya yang barangkali perlu ditinjau kembali.

Firman-Firman Allah

Mari ikuti beberapa firman Allah berikut: Al Jatsiyah [51]: “Dan Dia (Tuhan) menjadikan bagi kamu apa yang ada dilangit dan apa yang dibumi, kesemuanya adalah berasal daripada-Nya, seungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda bagi golongan yang berfikir” (13). Allah Swt berkata bahwa semua yang diciptakannya itu adalah bagi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Diserahkan-Nya semua di bawah pengelolaan manusia dan ditegaskan oleh Allah Swt, hendaknya memakmurkan bumi dengan pengelolaan yang sebaik-baiknya. Hud [11]: “Dia (Tuhan) menumbuhkan kamu (umat manusia) dari bumi dan menyuruh kamu memakmurkannya” (61). Tidak hanya itu, bahkan ditegaskan pula bahwa matahari, bulan dan bintang disediakan guna kepentingan manusia yang memahaminya [An Nahl [16]: 12]. Perhatikan kata memahami.

Sudah jelas, tidak mungkin manusia mampu memanfaatkannya secara optimal jika tidak menguasai “ilmu” tentang itu semua. Kemanfaatan itu, berarti juga mensyukuri nikmat Allah adalah tidak mungkin bagi mereka yang “tidak mau berfikir dan tidak mau berzikir, mengingat Allah Swt”. Mengingat Allah, maka akan disadari pula bahwa dalam menggunakan nikmat itu sekaligus terkandung “hak-hak” dan “kewajiban” yang sudah ditetapkan Allah bagi kesejahteraan, kebahagiaan dan kemuliaan manusia itu sendiri. Al a’raf [7]: “…makan dan minumlah, tetapi jangan melewati batas, sesunggunya Allah itu tidak suka kepada orang yang melewati batas” (31).

Tanpa memperhatikan batasan-batasan yang sudah ditentukan dalam memanfaatkan nikmat Allah, sejarah mengingatkan dan mengajarkan kepada manusia, krisis demi krisis yang melanda manusia dan kemanusiaan, baik krisis rohani (nilai-nilai, moral) maupun krisis pisik (makanan dan energi). Akhirnya bukan kemakmuran yang diperoleh, tetapi kerusakan dan kesengsaraan baik secara lokal maupun secara luas. Perhatikan ayat-ayat berikut.

Ar-rum [30]: “Telah timbul kerusakan di darat dan di laut dengan sebab usaha tangan-tangan manusia yang akhirnya Allah rasakan kepada mereka (ganjaran) dari sebagian yang mereka kerjakan, supaya mereka kembali” (41). Inilah sebabnya Al Qur’an Al Anbiya [21] menggariskan bahwa: “Sesunggunya bumi itu, yang patut mewarisinya, ialah hamba-hambaku yang shaleh” (105). Shaleh dalam arti mendasarkan setiap amal perbuatan pada hukum-hukum-Nya, baik hukum-hukum yang tertulis jelas dalam Al Qur’an maupun hukum-hukum-Nya yang tersebar disekitar dan pada diri sendiri (berupa fenomena alam).

Pada surat Ar Rahman [55]: “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia telah meletakkan neraca (keadilan)” (7), selanjutnya “Hai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat menembus (melintasi) nya, melainkan dengan kekuatan” (33).

Sungguh menarik kedua kedua pernyataan/firman Allah tersebut, yang pertama menekankan neraca, sedangkan yang kedua menyatakan perlunya kekuatan (tenaga, gaya, energi, yang mempunyai keunggulan). Sebagaimana diketahui dalam ilmu fisika, energi itu tetap, dapat berujud dalam berbagai bentuk seperti panas, gerakan angin, gerakan air (mengalir dan gelombang), perbedaan ketinggian, panas bumi, minyak bumi, batu bara, tenaga atom, radiasi, cahaya dll.). Secara garis besar semua pakar energi tahu dan membedakan energi atas dua kelompok besar yaitu – Energi baru terbarukan dan – Tak terbarukan (habis) disebut juga konvensional.

Energi, Krisis dan Cemas

Kembali kepada masalah energi. Biasanya dikaitkan dengan kata krisis. Suatu kata yang menyesakkan nafas, atau menimbulkan bermacam penafsiran yang negatif. Cemas terhadap sesuatu apakah itu terhadap energi, pangan dll., berpangkal dari perasaan diri sendiri akan tiadanya sesuatu yang dibutuhkan. Kapan krisis terjadi? Krisis energi akan terjadi apabila terdapat ketidak seimbangan antara ketersediaan vs kebutuhan akan energi. Krisis benar-benar terjadi, apabila: – kebutuhan akan energi jauh melebihi ketersediaan atau – ketersediaan energi jauh dibawah kebutuhan yang diperlukan.

Perasaan cemas sering mengundang perbuatan yang kurang/tidak baik atau barangkali memang karena kita ini aniaya atau bodoh. Mengapa harus cemas sedangkan Tuhan telah menyerahkan bumi kepada kita (manusia). Al Baqarah [2]: “Kamilah yang menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi meraka enggan menerimanya. Maka manusialah yang memikulnya, tatapi ia memang aniaya/zalim dan bodoh” (71).

Memang manusia dalam hidup dihadapkan pada bermacam-macam persoalan. Disisi lain manusia juga dilengkapi dengan kecerdasan yang sungguh serasi dan indah. Perhatikan surat At Tin [95]: “Kami ciptakan manusia dalam bentuk seindah-indahnya” (4). Selanjutnya ditambahkan “ Kemudian kami turunkan kembali ketingkat serendah-rendahnya” (5). Jelas manusia berada dalam suatu siklus (lingkaran). Bagaimana manusia menemukan diri dalam siklus ini, bila manusia makhluk yang gelisah dan cemas, hanyut kedalam pikiran-pikiran yang dapat menyesatkan diri dalam usaha mencari gerak ruang baru. Bukankah dengan kelemahan yang dimiliki manusia itu, masih lebih tinggi dari pada alam, karena manusia itu membawa rahmat dari Tuhan yang tidak ditemui oleh bumi dan gunung juga binatang.

Bukankah dengan kemauan yang keras, badan yang lemah ini ada dalam kenyataan hidup yang begitu kuat? Bukan seperti setangkai daun atau setangkai bunga yang tak berdaya. Demikianlah dalam ujudnya yang paling dalam seperti digambarkan Al Qur’an bahwa manusia adalah tenaga yang kreatif, roh/jiwa yang membumbung tinggi, dalam gerak majunya bangkit dari suatu keadaan kekeadaan lain, sebagaimana dapat di ikuti dalam Al Qur’an. Al Insyiqaaq [84]: “Bersumpah aku, demi tanda merah dilangit (16), Demi bulan bila sedang penuh (18), akan kalian laluilah, selapis demi selapis peristiwa (dalam kehidupan)” (19).

Memang kewajiban manusia turut mengambil bagian dalam mencapai cita-cita yang lebih tinggi dari alam sekitarnya dan alam itu sendiri turut juga nmenentukan dimana dia berada. Berikutnya, mengadapi tenaga-tenaga alam itu, perlu mengarah seluruh kekuatan supaya dapat mempergunakan tenaga itu, perlu mengarahkan seluruh kekuatan supaya dapat mempergunakan tenaga alam untuk tujuan-tujuan itu sendiri. Ini berarti “diperlukan inisiatif”. Untuk itu Tuhanpun bersedia bertindak sebagai sahabat/ teman terdekat asalkan manusia menyadari akan dirinya berada disamping Tuhan ban bahkan lebih dekat lagi sedekat batang lehernya.

Seandainya Tuhan tidak ikut mengambil inisiatif atau kalau Tuhan tak merasakan debaran batin untuk hidup lebih tinggi, maka jiwa yang ada dalam diri akan membeku, mengeras menjadi batu. Dia akan merosot menurun ketingkat benda mati. Pada hal hidup dan kemajuan itu tergantung dari terbentuknya hubungan yang akrab dari jiwa dengan kenyataan hidup yang dihadapi. Membentuk hubungan-hubungan demikian itu adalah “pengetahuan”. Pengetahuan adalah sesuatu yang diterima dari indera (cerahan indera) dan membaca, dipupuk dengan pengertian dan rasa cemas ditiadakan. Membaca itu adalah sumber ilmu pengetahuan sebagaimana Allah berfirman surat Al Alaq [96]: 1 – 5. (tentang membaca, baca Ayo ….. Ca-Lis-Tung, Belajar dan Meneliti pada kategori Yok! “Baca, Tulis, Hitung” Eeeeeuuy)

Hal ini lebih ditegaskan pada surat Al Baqarah [2]: 30 – 31, intisarinya. “Bahwa manusia itu telah dianugerahi dengan kecerdasan pikiran untuk menyebut nama-nama benda, artinya menyusun/membuat pengertian – pengertian tentang benda-benda dan dengan menyusun pengertian demikian dapat disimpulkan/dikuasai benda-benda tersebut. Mengetahui berarti mengambarkan sifat pengetahuan manusia yang konseptual dan dengan senjata pengetahuan yang konseptual inilah manusia berkenalan dengan konsep-konsep kebenaran, bukan kecemasan.

Kecemasan akan tiadanya daya atau energi apakah itu dalam bentuk energi riil atau turunannya (dervatnya). Bukanlah sebagaimana yang disebut-sebut dalam Al Qur’an manusia penerima amanah, sebab kecemasan akan membuahkan “pessimisme” yang akan menurun ketingkat benda mati. Cemas yang selalu menyelibungi manusia dan kehidupannya akan mengakibatkan suatu tindakan atau sikap berebut terhadap sesuatu. Rasa cemas tak lain ditimbulkan oleh manusia sendiri, akibat penyalahgunaan, pengahamburan, pengrusakan dan sikap acuh tak acuh. Sikap ini akan merupakan lingkaran/siklus baru dari kehidupannya dalam lingkungan.

Keadaan ini tampaknya erat hubungannya dengan Akhlak manusia. Manusia telah dianugerahi Tuhan kecerdasan pikiran, untuk memikirkan, memperoleh atau mencapai akhlak yang tinggi. Al Baqarah [2]: “Dan diantara manusia ada, orang yang ucapannya tentang kehidupan di dunia menarik hatimu dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi katanya, padahal ia adalah penantang yang paling keras” (204). Selanjutnya dikatakan “Dan apabila ia berpaling (dari mukamu) ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak” (205). Al An aam [6]: “Pada hal…binatang-binatang yang ada di bumi (darat dan laut) dan binatang-binatang yang berterbangan dengan kedua sayapnya adalah umat Tuhan seperti manusia itu sendiri” (38).

Neraca dan Spektral Radiasi

Kembali kepada persoalan neraca (keseimbangan). Pada Al Qur’an Ar Rahmaan [55] Allah menyatakan: “Allah telah meninggikan langit dan Dia telah meletakkan neraca (keadilan)” (7). Selanjutnya Nuh [21]: “Tidak kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat” (15). Berikutnya Al Jaatsyah [45]: 13, pada dasarnya menyebutkan: “Apa yang ada di langit dan di bumi atau diantara keduanya dijadikan dan tunduk kepada Tuhan untuk manusia dan merupakan suatu rahmat”. Suatu yang menarik diungkapkan pada surat Al Baqarah [2] bahwa langit merupakan atap, lengkanya berbunyi: “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap…..” (22)

Kalau bumi itu dipersamakan dengan bangunan dan langit merupakan atap. Atap merupakan pelindung dari gangguan yang datang dari sekitar teruma langit. Langit sebagai pelidung (atap) dapat ditafsirkan sebagai lapisan (selubung) yaitu berupa lapisan ozon. Ozon merupakan pelidung dari gangguan sinar-sinar benda langit yang memancarkan bermacam sinar, misal Ultra violet (sebagaimana diketahui ultraviolet ini dalam jumlah yang berlebihan dapat merusak jaringan kulit dan penyakit-panyakit lain). Apabila keseimbangan (neraca) ozon diganggu akan terjadi perubahan mutu spectral radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi dan ini tentu tidak diharapkan. Diantara langit dan bumi terdapat komponen/unsur atmosfir disebut “kandungan atmosfir”. Kandungan atmosfir itu seperti N, O2, H2O, Argon, CO, CO2 NOx, NH3, CxHx Aerosol dll. Apabila keseimbangan kandungan atmosfir (antara langit dan bumi) terganggu akan terjadi perubahan mutu spektral radiasi matahari. Apabila ozon dan kandungan atmosfir terganggu (berubah) maka mutu spectral radiasi matahari terganggu (rahmat akan berkurang atau mungkin menjadi bencana). Siapakah yang merusak keseimbangan ozon dan unsur kandungan atmosfir tersebut?

Siklus Air (Hidrologi)

Kembali pada persoalan rasa cemas yang diakibatkan oleh penyalahgunaan, pengrusakan dll. Ini jelas terlihat pada kebijakan manusia dalam memanfaatkan alam, merusak pepohonan, tanam-tanaman dan bunatang-binatang atau apakah manusia tidak mensyukuri lagi seperti yang dikatakan dalan Al A’raaf [7]: “Sungguhnya kami telah menetapkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan di muka bumi itu (sumber-sumber) penghidupan (tetapi) amat sedikitlah yang bersyukur” (10). Ayat lain yang erat hubungannya dengan alam atau siklus yang berperan penting dengan kehidupan adalah air yaitu Faathir [35]: “Dan Allah, dialah yang mengirim angin, lalu angin untuk menggerakkan awan, maka kami halau awan itu kesuatu negeri yang mati, lalu kami hidupkan setelah matinya dengan (huna0 yang turun dari awan itu. Demikianlah kebangkitan itu” (9). Taha [20]: “…maka kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam” (53).

Pada ayat tersebut di atas jelas diperlihatkan hubungan kehidupan dengan air, sedangkan air itu merupakan siklus hidrologi yang saling berkaitan energi (radiasi) matahari dan permukaan bumi, artinya: kurang hijau peremukaan bumi akan menyebabkan kurang penguapan yang disebabkan oleh radiasi matahari. Ini tentu sangat erat hubungannya dengan lapisan dan kandungan atmosfir. Bila lapisan dan kandungan ini rusak keseimbangannya, mutu atau spectral radiasi yang mencapai permukaan bumi akan berubah, berarti terjadi perubahan pada kehidupan, sebab setiap yang hidup membutuhkan radiasi matahari dan air. Mengenai air terkenal dengan siklus air (hidrologi) yaitu– penguapan – awan – hujan – aliran air (mengalir dan menguap dipermukan tanah dan dedaunan, mengalir dan meresap kedalam tanah kemudian keluar sebagai mata air), mengalir menuju danau dan/atau laut (mengalir deras bila tanah tidak hijau atau gersang, dia mengikis permukaan) kemudian menuap kembali ke angkasa di danau dan laut.

Bila dilihat sistem tata surya sebagai mana disebut dalam Ar Rahmaan [55]: (7), secara makro perusakan telah mulai terlihat, mengganggu kesetimbangan (neraca) di langit, antara langit dan bumi dan di permukaan bumi. Keadaan ini lebih terlihat lagi secara micro dipermukaan bumi terutama dalam bentuk iklim (micro climate), neraca tersebut tidak dapat dikatakan masih berada dalam batas-batas mengganggu. Tampak dengan jelas buah/hasil tangan manusia yaitu ceroboh, mumpung, boros, penyalahgunaan, perusakan dan acuh tak acuh, telah menunjukkan giginya yang ternyata sangat erat hubungannya dengan akhlak manusia itu sendiri. Dapat dikatakan pada saat itu akhlak manusia berada pada tingkat krisis melewati batas-batas yang dapat diterima akal sehat.

Demikiankah, mudah-mudahan (semoga) paparan kami, dapat menjadi pendorong untuk lebih merenungkan serta lebih tanggap terhadap masalah kita bersama dewasa ini. Terima kasih atas perhatian para Jamaah Salman, mudah-mudahan bermanfaat dan diterapkan dalam hidup dan kehidupan bermasyarakat dimana jamaah (anda) tinggal (menetap), Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Tulisan Terkait:

Konsumsi BBM Dibatasi. Radiasi Matahari: Data dan Informasi Energi https://lizenhs.wordpress.com/2009/01/19/konsumsi-bbm-dibatasi-radiasi-matahari-data-dan-informasi-energi/
Energi Radiasi Matahari: Pemanfaatan Pada Pertanian, Perikanan, Bangunan dan Listrik https://lizenhs.wordpress.com/2010/04/24/energi-radiasi-matahari-pemanfaatan-pada-pertanian-perikanan-bangunan-dan-listrik/
Cahaya Tampak: “Photosynthesis” Dan Penghematan Energi Dalam Bangunan https://lizenhs.wordpress.com/2010/04/24/cahaya-tampak-%E2%80%9Cphotosynthesis%E2%80%9D-dan-penghematan-energi/
Ketiganya pada ketegori Barukan, Hematkan “Energi”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: