Posted by: lizenhs | October 31, 2010

Suasana dan Semangat Belajar di Tahun Bagolak: Kasus Di Bukittinggi

Suasana dan Semangat Belajar di Tahun Bagolak: Kasus Di Bukittinggi

Oleh: Haslizen Hoesin

Tulisan yang sedang anda baca ini adalah kesan dan kenangan beberapa murid pelajar dan Siswa mengikuti pelajaran (sekolah) sekitar tahun 1957 sampai 1962 di Bukittinggi. Suasana Bukittinggi saat itu mereka sebut “bagolak” (suasana bagolak). Overste Ahmad Husien dengan kawan-kawan pada 10 Februari 1958 membentuk PRRI. Ahmad Husein, dikenal kehebatannya pada masa perang kemerdekaan melawan Belanda, dengan “Pasukan Harimau Kuranji”-nya (yang sangat ditakuti musuh). Sebelum penbentukan PRRI diawali dengan Dewan Banteng, Dewan Gajah dan Dewan Garuda.

PRRI dideklarasikan pada tanggal 15 Februari 1958 dengan keluarnya ultimatum dari Dewan Perjuangan yang dipimpin waktu itu oleh Letnan Kolonel Achmad Husien di kota Padang, provinsi Sumatera Barat, Selain PRRI ada Permesta di Sulawesi, mereka menginginkan pemerintah pusat memberikan otonomi kepada daerah, untuk membangun daerah. Sampai hari ini para pelaku peristiwa PRRI/Permesta tetap menolak dianggap sebagai pemberontak atas tindakan yang mereka lakukan. http://www.nagari.or.id/index.php?moda=menang/. http://id.wikipedia.org/wiki/Pemerintahan_Revolusioner_Republik_Indonesia.

Suasana Bukittinggi Penghujung Tahun 1957
Tahun 1957,Bukitinggi sangat menyenangkan, betapa tidak, hampir setiap hari pelajar dan/atau siswa berkeliling kota naik “kareangi” (sepeda – sekarang ada yang menyebut sepeda onta). Pada saa itu terdapat sepeda bermerek Hambler, Raleigh dan macam-macam lagi. Sebutan lain sepeda “badatiak-datiak”, sepeda “jengki”, sepeda “rem taromol” sepeda “spor”. Sepeda untuk laki-lagi berbeda dengan sepeda perempuan. Sepeda laki-laki batangnya lurus, perempuan melengkung.

Diantara pelajar dan/atau siswa yang bersepeda itu Masrur. Masrur pakai sepeda Raleigh berparsneleng (berdetik-detik bunyinya saat didayung). Penat bersepeda, mereka berkumpul di depan gerbang Pasaateh berhadapan dengan Jam Gadang. Sambil makan kacang goreng angek-angek (hangat) dari kambuik (bakul anyaman mensiang) mengobrol dan berdebat. Perdebatan itu bukan sembarangan, tapi mengenai pekerjaan rumah dari sekolah. “Rasonyo pe-er tu ado sajo tiok ari” (rasanya pe-er itu ada saja tiap hari).

Gerbang Pasa berpatung “arimau” (harimau) (“lambang airmau nan salapan”). Bila berada di Gerbang Pasa memandang ke Jam Gadang, disebelah kiri Jam Gadang terdapat kantor Polisi dan pompa bensi (BBM). Disekitar Jam gadang terdapat pula perhentian bus antar kota dalam provinsi dan antar kota antar provinsi. Juga terdapat perhentian bendi dan mangkal garabak randah (roda satu), garabak jengki (satu roda) dan garabak demo (roda tiga).

Lain lagi dengan Benny Chatib, Nilyardi Kahar, Agus Syam dll, sesudah belajar mengisi waktu dengan membuat klub basket bernama Ring Baske Club (RCB). Klub ini disegani di Bukitinggi saat itu dan pernah bertanding ke Padang dan Sawahlunto. Mereka bangga sekali dengan klub tersebut.

Pada hari-hari tertentu, mereka (pelajar dan siswa) menonon filem di bioskop Rex atau di bioskop didepan masjid Raya. Bila sekolah libur, pergi jalan-jalan keluar kota pakai keretangin, ada yang ke Ngalau Kamang, berkemah di Ngarai Sianok, jalan kaki melintasi Ngarai ke Kotogadang, Kototuo, Sarasah dekat Kotobaru, naik gunung Marapi, ke Puncak Lawang Matua, ke Sungai Janiah, ke Sungaitanang dll.

Suasana ke Sekolah
Para pelajar/siswa kesekolah baik dalam kota maupun sekitarnya seperti Padanglua, Tigobaleh, Tilatang, Tanjuangalam dll., bersepeda kesekolah. Ada pula naik bendi yang disewa per bulan untuk kesekolah, pulang jalan kaki. Selain pakai sepeda, terbanyak jalan kaki karena tinggal (menyewa kamar/paviliun) dekat sekolah, tapi ada pula yang jalan kaki melitasi Ngarai dari Kotogadang seperti Qamarus dll. Bahkan guru pun ada yang jalan kaki dari Kotogadang Seperti pak Sjaiful Jazan.

Pagi-pagi terlihatlah sepeda sudah berderet/berbaris di jalan menuju sekolah. Sambil mendayung sering juga saling bertanya mengenai mata pelajaran atau pe-er. Di trotoar pinggir jalan, ramai pelajar/ siswa, jalan terburu-buru menuju sekolah. Sambil berjalan mereka juga saling membahas mata pelajaran. Begitulah semangat mereka belajar. Ya, salut sama mereka.

Sekolah Darurat
Ketenangan di Bukitinggi mulai terganggu setelah tanggal 15 Februari 1958. Lebih terasa lagi lagi setelah RRI Bukitinggi yang berada di Sanjai di bom 20 Maret 1958. Sejak itu orang-orang mulai mengungsi keluar kota. Sebagian guru, siswa ikut mengungsi, ada pula yang ikut memanggul senjata. Walaupun suasana demikian sekolah-sekolah darurat bermunculan menampung pelajar dan siswa yang mengungsi. Semangat guru, orang tua dan anak-anak tetap tinggi untuk sekolah disekolah darurat, karena tidak berilmu akan ketinggalan apalagi ada yang ikut ujian akhir baik SR (SD), SMP dan SMA.

Murid/Pelajar/Siswa dipengungsian sekolah di sekolah darurat. Sekolah darurat yang banyak diselenggarakan adalah SMP. Masrul sekolah di Pasia Tanjuangalam, Qamaruz di Kotogadang, Asna Ahmad di Magek dan banyak lagi tempat-tempat lain. Sekolah di pengungsian tidak bayar (gratis). Keberadaan sekolah karena semangat gotong royong masyarakat. Mereka sadar kalau pendidikan terhenti anak-anak akan tertinggal berarti kerugian (kebodohan) apalagi anak akan menghadapi ujian akhir kelas 6 SR, kelas 3 SMP. Suasana perang tidak menghalangi untuk sekolah, begitu kata mereka.

Daerah sekitar Bukittinggi sering ditembak dengan mortir, Sekolah SR Batumandi bubungan atap kena mortir menjadi patah. Sekolah diselenggarakan dalam Masjid Batumandi. Masjid di batas-batas, kursi dan meja sekolah dipindahkan kedalam Masjid. Sekolah dekat perbatasan antara kekuasaan Pusat dan PRRI seperti SR Pakankamih di pidah ke Masjid Sungaituak. SMP Pakankamih pindah ka Bukareh. Untuk belajar meja kursi SR Pakankamih di dibawa ke Masjid, kemudian setelah aman semua kursi meja dikembalikan ke SR.

Dalam keadaan mengungsi letusan karaben, geren dan brend terdengar disiang hari. Malam hari mortir. Karena suasana perang, banyak penduduk membuat lubang persembunyian dibawah kolong rumah atau tidur dihamparan tanah beralaskan tikar di bawah rumah bagi rumah yang berdinding tembok. Dalam lubang (persembunyian) murid, pelajar dan siswa tetap belajar dan membuat pe-er dengan lampu minyak tanah.

Pelajar/siswa yang tidak mengungsi tetap sekolah sebagaimana biasa di Bukittinggi. Bagi pelajar/ siswa tersebut oleh pemerintak kota harus diskrening oleh kumando meliter kota (KMK) Bukittinggi. “Dinyatakan bersih bila kartu penduduk/pelajar bila telah ada cap/stempel KMK” kata Abdul Hadi.

Setelah Aman
Antara Bukittinggi daerah sekeliling sudah aman, artinya orang sudah bisa masuk dan keluar Bulittinggi, anak-anak Kotogadang, Tilatang,Tanjuangalam sebagian sekolah kembali ke Bukittinggi. Qamaruzzaman kembali ke SMP 2 dan ikut ujian akhir. Lain lagi dengan Asna. Asna Ahmad sekolah di SMP I Bukittinggi, sekolah darurat di Magek, ikut ujian akhir di Magek lulus, tapi tidak diakui, ujian lagi di SMP 1 syukur lulus. Qamaruz dan Asna dengan penuh kegembiraan melanjutkan pendidikan ke SMA.

Hebat mereka, meskipun sekolah disekolah darurat, belajar tidak nyaman tapi tetap lulus ujian nasional, sedangkan yang tidak lulus tidak protes baik anak-anak maupun orang tua, karena mereka sadar persiapan anak-anak kurang. Mereka yang tak lulus sekolah lagi dan ujian tahun depan. Sungguh sportif dan sadar mereka itu atas kemampuan masing-masing.

Menurut Asna dan Qamaruz, mereka belajar di SMA dengan semangat tinggi yaitu melakukan belajar bersama (kelompok) di sore hari baik di sekolah maupun ditempat tinggal. Kelompok yang satu dengan yang lain bersepakat saling memberi tahu. Pertemuan antar kelompok sering dilakukan di sekolah sore hari karena sekolah memberikan kesempatan untuk itu atau dirumah teman yang telah ditetapkan.

Pulang Dari Rimbo
Lain halnya dengan Benny Chatib, Nilyardi Kahar dan teman-teman lain kelas tiga SMA, pada saat peasawat AURI membom PRRI, mereka sedang mengikuti latihan ujian. Latihan tidak selesai, semua bubar. Sejak serangan itu siswa tidak kembali kesekolah. Sebagian bergabung dengan kelompok pemuda Bukittinggi dan akhir 1958 meninggalkan Kiktinggi ikut ke Rimbo.

Tiga tahun siswa-siswa di rimbo, tahun 1961 kembali ke Bukittinggi setelah mendapat “amnesty-abolisi”. Sebagian ada yang ingin menyelesaikan sekolah,artinya semangat tetap ada. Mereka kembali sekolah dan mendaftarkan kje SMA masing-masing. Lain lagi dengan Syafril, setelah menyerahkan senjata, tidak melanjutkan sekolah, pergi merantau.

Bagaimana dengan Benny, dulu SMA B maka mendaftarke SMA Landbouw. Kawan-kawan kelas tiga yang ingin melanjutkan sekolah digabung satu kelas. Siswa yang melapor 22 orang, yang datang mengikuti sekolah hanya 19 orang. “Kelas kami disebut kelas veteran oleh kelas-kelas lain” kata Benny. Qamaruz mengatakan: “Ada uda awak nan istimewa, uda ko dalam rombongan kol Zulkifli Lubis”. Dari cerita yang terdengar uda ini terlambat sampai di Bukitinggi, tidak mau (tak bersemangat) sekolah lagi. Tapi karena ajakan teman dan mendengar anak-anak yang mengobrol di “lapau” nasi sesudah makan, Nilyardi merasa lebih menguasai pelajaran dari anak-anak yang mendiskusikan pelajaran, timbul semangat kembali sekolah dan mendaftar ke SMA Landbouw. Meskipun tertinggal masuk dari teman yang lain Nilyardi belajar dengan semangat tinggi. Nilyadi bergabung dengan kelas veteran.

Kelas Veteran
Siswa kelas veteran setelah kegiatan belajar di kelas, terasa banyak kekurangan dan ketinggalan, karena sudah lama tidak buka buku, apalagi selama di rimbo tidak terpikir pelajaran. Untuk itu perlu kerja keras karena “alah bakarek” (sudah karatan) dan semangat ditingkatkan, bahkan mengulang pelajaran kelas satu. Ketua kelas klas Veteran diangkat Benny (ketua seumur hidup kata mereka). Ketua kelas mengajak teman-teman dalam dua hal: 1). Belajar bersama secara periodik. 2) Pertemuan rutin dua pekan sekali dirumah teman pada petang Sabtu dengan maksud melonggarkan ketegangan. Siswa perempuan menyiapkan makanan sedangkan yang laki-laki main musik, bridge, catur dll. Suasana sangat akrab dan gembira.

Belajar bersama secara periodik dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kesungguhan itu terlihat dari: Meskipun hari minggu atau hari libur tetap belajar bersama-sama sambil rekreasi. Pergi rekreasi dengan “karetangin” buku tetap berada di tas. Belajar dilakukan bila istirahat di tempat teduh. Pengajar adalah siswa, disebut “pengajar siswa” yang mengerti tentang suatu pelajaran. Pengajar itu diantaranya Nilyardi dan Benny.

Pada akhir tahun, kelas veteran mengikuti ujian akhir dengan dua materi yaitu pelengkap dan utama. Hasil ujian sangat mengembirakan siswa veteran lulus semua dengan nilai baik dan diterima di perguruan tinggi dan akademi yang dituju. “Tentu ini berkat kerja keras, belajar kelompok, pengajar siswa dan belajar ditempat wisata” kata ketua kelas seumur hidup. Suatu prestasi yang mencengangkan adalah Nilyardi kata ketua kelas veteran, nilainya tertinggi di Sumatera Barat, mungkin juga di Sumatera Tengah tahunitu (1962). “Nilai rata-rata Nilyardi 8.4” kata Qamaruz. Hebat mereka ya, belajar satu tahun ajar, materi dari kelas satu sampai tiga mereka pelajari.

Tidak Masuk Kelas Veteran
Syafri Martinus, asal Lubuakbasuang. Syafri tidak dapat ke Bukittinggi, karena bagolak. Syafri meningalkan Bukittinggi kelas dua (B), sekarang kembali kelas dua lagi ke SMA B. Lain lagi dengan Masri Saridam, sepulang dari rimbo datang ke kepala sekolah. Waktu bertemu terjadi dialog antara Masri dengan kepala sekolah. Kepala sekolah berkata: “Masri, kalau kamu setelah sekolah mau melanjutkan bekerja saya terima kamu kelas tiga. Kalau mau melanjutkan ke perguruan tinggi saya anjurkan masuk kelas dua”.

Masri berpikir sepekan, diputuskan masuk kelas dua, jadi tidak masuk kelas veteran. Nilai Masri untuk kimia dulu angka delapan “kuok” (angka tiga), tetapi dengan belajar keras dan meminjam buku sana sini, maka pelajaran kimia menjadi yang paling dikuasai dan melanjutkan pendidikan di jurusan kimia di Universitas tertua di Jogja.

Apa filosofi Masri dalam kegiatan belajar. “Kalau orang pintar belajar 6 jam, saya harus belajar 20 jam untuk mencapai nilai yang sama”. Terlihat sekali semangat yang tinggi dari Masri.

Selesai SMA
Benny dan Nilyardi selesai SMA sekolah di Bandung. Masri sekolah di Jogja, Syafri dan Qamaruz menuju Bandung, Asna ke Jakarta dan sekolah di Bogor, Abdul Hadi ke Jogja. Syafril tidak menyelesaikan sekolah, merantau ke Bengkalis, disana bekerja sebagai karyawan pelabuhan. Pada suatu pertemuan di reuni SMA sebagian dari datang mengikuti acara. Ternyata mereka berhasil menyelasaikan S1, bahkan S2, S3. Selesai sekolah, mencapai kedukukan baik dimana bekerja, Guru besar, Gubernur OPEC, Rektor di suatu Universitas Negeri, Direktur (PT Semen, Rumah sakit, Lembaga penelitian dll.) Pilot TNI AL dll.

Rupanya mereka mengambil hikmah dari perjalanan hidup. Sungguh hebat kegigihan dan perjuangan mereka. Baik dan perlu diteladani semangat dan cara mereka mecapai cita-cita. Mudah-mudahan pembaca dapat memetik sesuatu yang dapat pembaca lakukan pada diri pembaca dari kisah mereka ini.

Bahan tulisan
Paparan diatas adalah sebagian dari pengalaman murid/pelajar/siswa mengikuti pendidikan sertelah Bukittingi tenang kembali. Kisah orang tua mengadakan sekolah secara gotong royong dan guru menyelenggarakan sekolah. Bahan tulisaan, Masrur, Qamaruzzaman, Benny, Asna Ahmad, Abdul Hadi, Masri Saridam, para orang tua pelajar/siswa dan masyarakat.

Baca Juga
Pesan Pak Sjaiful Jazan di Tahun 73. https://lizenhs.wordpress.com/2010/04/16/pesan-pak-sjaiful-jazan-di-tahun-73/
Persiapan Masuk Perguruan Tinggi: Pengalaman Zulkifli Taher. https://lizenhs.wordpress.com/2010/05/07/persiapan-masuk-perguruan-tinggi-pengalaman-zulkifli-taher/
Keduanya berada pada kategori Jejak “Masa Lalu”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: