Posted by: lizenhs | June 23, 2010

MASJID IMPIAN: Tempat Sarana Ibadah, Nyaman, Hemat Energi Dan Belajar-Mengajar

MASJID IMPIAN: Tempat Sarana Ibadah, Nyaman, Hemat Energi Dan Belajar-Mengajar

Oleh: Haslizen Hoesin

Pendahuluan
Masjid merupakan bangunan (rumah) tempat pembinaan di bidang mental dan spiritual. Untuk itu, diperlukan sebuah kompleks peribadatan terpadu yang dapat dijadikan sebagai pusat kegiatan keagamaan.

Tujuan sebuah masjid dibangun adalah untuk menyediakan sarana peribadatan, yang dapat menampung berbagai kegiatan umat Islam dalam hal keagamaan, pendidikan, kegiatan sosial (termasuk satu dari sekian banyak tempat melaksanakan Qurban), kegiatan kebudayaan, pariwisata dan upacara pernikahan. Selain sebagai simbol kejayaan umat Islam, masjid ini juga telah ditetapkan sebagai satu dari beberapa destinasi pariwisata. Semua fasilitas itu adalah untuk menyemarakkan syi’ar Islam. Masjid harus pula hemat energy, nyaman di dalamnya sehingga orang jadi betah didalam sampai akhir acara.

Di balik kemegahan bangunan Masjid, yang merupakan gabungan dari dua bentuk dasar, yaitu:
1. bujur sangkar atau persegi panjang (sebagai tubuhn bangunan) dan
2. kubah [setengah bola melengkung kebawah atau keatas atau kerujut dengan dasar lingkaran, limas atau piramit lancip keatas dengan dasar persegi empat dan bentuk-bentuk lain yang sejenis (sebagai kepala bangunan)], tentu mengandung filosofis yang dalam.

Bentuk bujur sangkar atau segi empat dari bangunan dasar menyatakan kekokohan dan mengerucut ke atas, dianggap sebagai simbol hubungan manusia dengan Tuhannya. Secara matematis dan konstruksi, bentuk bujur sangkar dianggap lebih kuat, sehingga mampu menopang bagian bangunan lain di atasnya. Selain itu, kekokohan badan bangunan yang berbentuk bujur sangkar itu juga merupakan simbol keimanan umat Islam yang kuat.

Kubah dengan berbagai bentuk, semua merupakan simbol perjalanan hidup manusia dalam tiga alam yang berbeda, yaitu alam rahim, dunia, dan akhirat.

Pada sebuah masjid juga dapat dilihat dari bagian-bagian masjid yang melengkapi bagian utama masjid itu sendiri. Pelengkap itu di antaranya adalah hamparan shalat dan plataran kurban sebagai tempat bermain anak-anak saat kegiatan tersebut tidak dilaksanakan, selasar masjid, menara dll.

Plataran shalat
Plataran shalat adalah halaman utama masjid. Plataran shalat berfungsi sebagai hamparan perluasan ruang masjid ketika ruang utama tidak lagi mampu menampung jumlah jamaah yang melebihi kapasitas. Agar penyelenggaraan shalat dapat berjalan secara tertib, dibuat garis-garis shaf yang dapat memandu jamaah shalat untuk membentuk barisan yang lurus.

Plataran shalat ini untuk memberikan kesempatan pada pengunjung beristirahat sejenak sebelum naik menuju masjid (ruang utama shalat) atau sesudah shalat. Pada hamparan ini disediakan tempat wudhu. Di sepanjang hamparan shalat juga terdapat pot-pot tanaman, lampu-lampu taman, dan deretan pohon-pohon yang berperan sebagai penuruan suhu lingkunan dan sumber O2. Keseluruhan elemen ini diharapkan membuat suasana plataran shalat menjadi lebih nyaman, lebih indah dan berwibawa.

Selasar Tertutup
Selasar tertutup yaitu selasar beratap yang berfungsi sebagai ruang pembatas antara hamparan shalat dengan ruang utama masjid atau tempat istirahat sebelum dan sesudah shalat. Tempat ini juga dapat dijadikan tempat diskusi ringan/santai bagi para pengunjung tentang pelaksanaan agama di masyarakat dalam bentuk diskusi santai.

Plataran Qurban
Bila masjid dikaitkan dengan kegiatan qurban atau syiar Islam dengan pelasanaan qurban. Perencanaan masjid harus mengikutsertakan perencanaan plataran qurban. Artinya hamparan ini harus ada. Hamparan qurban merupakan bagian masjid yang berfungi sebagai tempat penyembelihan hewan kurban. Paltaran qurban tidak hanya digunakan untuk setiap melaksanakan qurban di hari Idul Adha dan Tasriq, tapi mungkin juga untuk acara aqiqah, perkawinan dan acara lain-lain. Di hari-hari lain dapat pula sebagai halaman tempat bermain sambil belajar bagi anak-anak tentang agama khusus kegiatan masjid, sedangkan orang tua mereka mengikuti kegiatan masjid (ceramah dll) atau istirahat menunggu jadwal shalat.

Plataran qurban dirancang sedemikian rupa sehingga waktu pelaksanaan qurban yang yang rutin tiap tahun dilengkapi dengan tempat penampungan limbah qurban (darah isi jeroan) dan saluran air limbah. Plataran qurban dibuat/disediakan dengan bentuk tersebut, diharapkan lingkungan masjid akan tetap bersih dan nyaman terutama pada hari-hari menjelang dan saat hari raya Idul Adha. Fasilitas ini akan menggambarkan pelaksanaan qurban yang aman sehat (higeanis) utuh dan terjamin ke-halal-annya. Pelaksanaan (proses) Qurban harus menggunakan “sitem” yaitu sistem qurban dan “manajemen mutu terpadu”.

Risalah sederhana tentang berqurban, hendaklah orang yang berqurban melaksanakan qurban karena Allah semata. Jadi niatnya haruslah ikhlas lillahi ta’ala, yang lahir dari ketaqwaan yang mendalam dalam dada terutatama peserta qurban. Bukan berqurban karena riya` agar dipuji-puji sebagai orang kaya, orang dermawan, atau politisi yang peduli rakyat dan sebagainya. Sesungguhnya yang sampai kepada Allah SWT adalah ketaqwaan, bukan daging dan darah qurban. Allah SWT berfirman Al-Hajj [22]: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan daripada kamulah yang mencapainya” (37).

Menara
Menara berfungsi sebagai tempat meletakkan alat pengeras suara agar lantunan adzan dapat terdengar jelas pada jarak yang jauh, bukan bersaing kuat-kuatan (keras) bunyinya. Di lihat dari sisi arsitektural, menara berfungsi sebagai penanda atau “eye catcher” bagi lingkungan sekitar masjid. Dilihat dari fungsi Masjid dengan adzan suara alamiah dan pengeras suara bentuk (desain) nya berbeda.  Bila suara alamiah tentu harus ada tempat pembawa adzan (orang) berdiri melantunkan adzan dan tangga menuju puncak menara. Bila pengeras suara elektronik (speaker) ada tempat speaker yang mengarak ketempat tertentu, berdasarkan lokasi masjid ditempat tinggal penduduk. Bila Masjid ditengah tempat tinggal penduduk tentu mengarah ke empat penjuru supaya terdengar merata.

Hemat Energi
Selain hamparan shalat, hamparan qurban, menara, interior masjid dan fasitas-fasilitas lain yang menjadikan kemegahan Masjid. Masjid harus dirancangan hemat energi. Bangunan masjid yang hemat energy, ini dapat menjadi teladan bagi pengunjung untuk diterapkan pada rancangan rumah mereka dan dalam kehidupan sehari-hari keluarga.
Rancangan bangunan (masjid) yang tidak hemat eneregi akan menjadi beban biaya yang ditanggung pengelola masjid, selama masjid itu berdiri (dipakai). Biaya energi yang ditanggung pengelola masjid diantaranya: untuk tata cahaya, tata udara dan tata suara.
1) Rancangan dengan tata cahaya (pencahayaan) yang tak hemat energi, ditandai dengan sedikit memanfaatkan energi cahaya tampak alami (penerangan alami siang hari) dalam ruangan. Ini disebabkan tidak ada rancangan bukaan jendela yang memadai untuk memanfaatkan cahaya tampak alami siang hari, sehingga diperlukan cahaya buatan dalam ruangan. Bila bukaan jendela lebar, tetapi tetap kurang pencahayaan baru diadakan perangan buatan di siang hari sebagai tambahan. Penempatan lampu harus memperhatikan arah datang intensitas cahaya alamiah dalam ruangan, artinya lampu yang pertama dinyalakan bila ruangan gelap adalah bagian yang jauh dari jendela, kemudian berurut kearah bukaan cahaya (jendela dan pintu).
2) Rancangan dengan tata udara (aliran udara) yang tak hemat energi, ditandai dengan sedikit memanfaatkan aliran udara alamiah dalam ruangan. Ini disebabkan rancangan bukaan lubang udara (ventilasi) yang tak memadai, sehingga diperlukan kipas atau yang sejenis untuk menggerakkan udara dalam ruangan. Bila bukaan sudah lebar ternyata ruangan tetap tidak nyaman (hangat, panas) baru di lengkapi dengan kipas atau yang sejenis, sebagai tambahan.
3) Rancangan dengan tata suara (akustik) yang tidak hemat energi ditandai dengan terjadi suara yang lemah (daerah tuli) atau keras melewati ambang batas pendengaran, gaung atau dengung. Gaung dan dengung artinya terdengar suatu kata satu lebih dari satu dan/atau dua, bahkan tiga kali atau lebih di dalam ruangan. Ini disebabkan perencaraan tatasuara dijadikan hanya sebagai pelengkap, tidak dirancang dari awal. Harus diingat orang datang kemasjid bukan hanya untuk shalat saja, tapi juga mendengar khutbah Jum’at dan ceramah agama. Ketiga kegiatan tersebut saling menunjang. Bila tata suara tidak baik, apa yang disampaikan lewat pengeras suara tidak dipahami dan/atau didengar tidak jelas. Jama’ah akan berkata tak banyak manfaat saya shalat Jum’at atau mendengar ceramah di mesjid ini walaupun mesjidnya megah, karena tidak dapat menangkap kata-kata yang diucapkan.

Suatu yang ironis, masjid berada ditempat ketinggian (di pinggang bukit atau di lantai atas bangunan beringkat) dan jauh dari keramaian. Suhu udara dalam bangunan masjid tidak nyaman, karena lampu dinyalakan siang hari dan lubang (ventilasi) aliran udara kecil (tidak ada), berarti hangat. Bil jauh dari keramaian tapi Masjid terasa bising dari lingkungan sekitar, berarti rancangan tata suara bangunan tak baik.

Aliran udara dibantu dengan kipas, suara khutbah dan ceramah tidak jelas (tidak nyaman), itu berakibat kipas dan lampu dinyalakan disiang hari. Sungguh hal yang tidak masuk akal, berarti pemborosan.

Ketidak nyamanan terjadi, berarti perencanaan masjid tidak memperhatikan tujuan utama, yaitu betah dan nyaman (tiga kenyamanan yaitu suara, suhu dan cahaya) selama berada dalam masjid.

Wisata Agama
Lingkungan masjid yang nyaman, indah dan berwibawa menjadikan pengunjung betah dan menjadi pengunjung yang setia, (istilah pemasaran pelanggan setia bukan pembeli). Pengunjung setia tidak hanya untuk mendengar ceramah dan shalat jum’at, tapi juga shalat lima waktu, termasuk juga sebagai sarana wisata agama (religy).

Fasilitas Sekitar Masjid
1) Di kompleks masjid terdapat minimal kelompok bermain anak-anak dan/atau TK (taman kanak-kanak). Bila memungkinkan Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Sekolah Menegah Atas, bahkan bila memingkinkan Perguruan Tinggi.
2) Di kompleks Masjid harus pula dirancang fasilitas-fasilitas penunjang kegiatan masjid, seperti lahan parkir yang luas (dapat menampung semua jenis kendaraan: bus, mobil, sepeda motor, dan sepeda), kantor informasi, kamar mandi dan klinik kesehatan.
3) Masjid sebagai pusat pendidikan diluar sekolah (non formal) seperti belajar Hadits, Al-Qur‘an, tukar pendapat (diskusi) dan sarana memperoleh pengetahuan yang menyangkut agama. Masjid dilengkapi dengan perpustakaan dan pemancar radio dan televisi.
4) Dikompleks masjid terdapat ruang ceramah/ruang sebaguna, ruang rekam acara untuk disiarkan di radio dan televisi,
5) Masjid juga dilengkapi dengan fasilitas bagi penyandang cacat, berupa lintasan khusus kursi roda menuju ruang utama masjid dan tempat wudu. Selain itu, masjid ini juga menyediakan toilet khusus untuk penyandang cacat yang dibedakan antara pria dan wanita.
6) Di sekitar masjid ini juga terdapat fasilitas dan sarana akomodasi seperti: tempat inap musyafir, restoran, poliklinik (rumah sakit), Bank/ATM, tempat berbelanja, Wartel dan Warnet, bila memungkinkan bengkel Sepeda motor dan/atau mobil dan lain-lain.
7) Disediakan sarana bermain untuk anak-anak terutama balita, sehingga masjid mempunyai daya tarik untuk anak-anak.  Orang tua ke Masjid, anak-anak yang ikut betah bermain di sekitar Masjid, sehingga anak-anak tidak mengganggu kegiatan orang tua mengikuti acara yang diselenggrakan Masjid..  Jadi Masjid mempunyai kesan menyenangkan (tidak membosankan) bagi anak-anak.
8) Untuk melaksanakan semua kegiatan ihi, masjid tentu harus dikelola dengan manajemen yang baik termasuk tataletak bangunan (lingkungan).

Penutup
Rancangan masjid-masjid masa depan harus memiliki fasiltas-fasilitas sebagaimana dipaparkan di atas, sehingga masjid betul-betul menjadi pusat kegiatan dan sarana informasi. Masjid yang nyaman baik suhu, cahaya maupun pendengaran pada saat shalat dan mendengar ceramah, menjadikan masjid sebagai model rancangan bangunan hemat energi. Masjid menjadi yang bergengsi, berwibawa dan tempat yang menyenangkan di masyarakat, sehingga disebut-sebut atau dibicarakan dimasyarakat luas.

Kepada para perancang Masjid, selamat dan bangga bagi anda yang merancang masjid sebagai sarana tempat ibadan dan belajar-mengajar, memperhatikan tiga kenyamanan dan hemat energi. Hasil rancangan anda diseminarkan dan/atau dipublikasikan dilengkapi dengan tanggapan pengunjung baik saat pembangunan maupun setelah dipakai, supaya masyarakat mengetahuinya.
Amiin

Baca juga:
Tata Suara (akustik) Masjid: Kasus Masjid Salman ITB; https://lizenhs.wordpress.com/2010/03/22/tata-suara-akustik-masjid-kasus-masjid-salman-itb/
Masjid, Musajik, Surau, Langgar dan Meunasah; https://lizenhs.wordpress.com/2009/08/26/masjid-musajik-surau-mushalla-langgar-dan-meunasah/
pada kategori Rumah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: