Posted by: lizenhs | May 16, 2010

KABA BAGALAU KABA RANG SAISUAK DI BUKIKTINGGI

KABA BAGALAU KABA RANG SAISUAK DI BUKIKTINGGI

Ditulis Oleh Haslizen Hoesin

Untuk melepas kenangan, ini ada beberapa catatan singkat “kaba bagalau” di Bukiktinggi dengan sakitarnya. Banyak sekali yang dikenang di Bukittinggi. Misal kanangan antara tahun 60-an sampai 70-an. Kenangan yang lebih jauh pun mengharukan yaitu peninggalan Jepang. Kedua kenangan itu sulit memisahkannya, berpadu. Selamat membaca, mengenang dan menikmati.

Masyarakat Bukittinggi mencatat tiga orang “saisuak” yaitu pak Datuak Dalu (manggaleh ubek), Mak Tjampin (tukang Kodak), pak Sebeng (panggaleh kue jo garobak dorong). Selain yang tiga orang itu ada satu orang yang perlu dikenang yaitu Hirotada Honjyo. .

Pak Datuak Dalu pasti dikenal dan tasabuik-sabuik oleh siswa-siswa dan pelajar di Bukittinggi. Pak Datuak Dalu berprofesi sebagai seorang “panggaleh ubek” (penjual Obat). Pak Datuak Dalu memulai galeh ubek nya dengan membentangkan plastic tanpa gambar (seperti gambar mata, saluran darah, jaringan syaraf saluran makanan dll.). Suaranya parau, postur sedang, kulit hitam dan rambut hitam lurus. Menguasai sedikit beberapa bahasa asing. Konon kabar angin pernah memandu wisatawan asing.

Pak Datuak Dalu berasal dari Pakandangan Padang. Datuak Dalu sangat baik dalam olah seni berbicara. Kepintaran inilah yang menjadikan pak Datuak jadi orang yang tasabuik-sabuik di Bukittinggi. Datuak Dalu sering pula dipanggil ancle DD.

Tempat Pak Datuak Dalu manggaleh di samping pangguang Irian (bioskop kata orang sekarang, tapi bukan pula teater) Pasaateh. Obat apa yang dijual tidaklah penting. Pada saat berjualan mulutnya berseleparan, Kadang-kadang membuat atraksi seperti tukang sulap. Berkerumunlah orang menonton dalam sebuah lingkaran besar. Pak Datuak beraksi di tengah-tengah, berjalan hili-mudik sambil mulut tak henti-henti berceloteh. Obat yang dijual “pencahar”. Obat ini untuk orang yang bermasalah dan sulit kebelakang.

Kalau sudah memakan obat Pak Datuak Dalu: “puuut bunyi kantuik, ceeeer kecek biadi, isi paruik menyemprot sampai tigo meter”. Petunjuk memakan obat menurut Datuak Dalu: “Sabalun makan ubek ko, bagi angku-angku nan ba agamo Islam, baco Bismillah. Bagi angku nan ba agamo Kristen buek tando salib. Bagi angku-angku nan ba agamo …………baco …. Bagi angku-angku nan indak ba agamo tasarah angku-angku se lah, ka ba “rock and roll” atau ka badisko, ka malompek-lompek atau ka baguliang-guliang”. Meskipun yang berkerumun melingkar berbilang puluhan, yang membeli hanya empat, lima orang, tidaklah penting bagi Datuak Dalu. Pak Datuak waktu berceloteh sering pula menggunakan bahasa asing seperti Inggris, Belanda dan Jerman, tambah tertawalah yang mendengarkan.

Pada saat bercerita itulah, siswa seperti Januarsjaff, Firman Rasyid, Bujang (Datuak Nan Kuniang ), Widgapuak (Coraek) dan masyarakat berhenti sejenak atau datang khusus untuk mendengar cerita pak Datuak sambil ketawa-ketawa, menghilangkan penat dan stress.

Datuak Dalu adalah favorit saya kata Fes. Setiap ada kesempatan saya selalu hadir, duduk paling depan. Fes menjadi terheran-heran, orang terpaku mendengarkannya, pada hal sambil berdiri, kepanasan, urusan banyak, kok sempat-sempatnya nonton Datuak Dalu. Zaman itu Fes tidak tahu apa itu retorika, intonasi, ekspresi dll., bekal tukang pidato, tapi semua sudah dipraktekkan oleh datuak Dalu. “Kalau boleh dikatakan, Datuak Dalu adalah gubernurnya tukang obat”, kata Fes. Kalau dia tampil, tukang-tukang obat lain “putiah” dan biasanya tukang obat lain tidak mau bentrok jadwal dengan Datuak Dalu.

Kalau mau nonton jual obat, kakak saya kata Fes selalu pesan. “Hati-hati tukang copet”, katanya. Saya jawab: “InsyaAllah aman, kan sudah pernah ke Jawa”, lalu kakak saya jawab lagi: “Nan di Jawa tu baru murik-muriknyo tumah!, Nan di Pasaatehko gurunyo.

Mak Tjampin berprofesi sebagai tukang “Kodak” keliling. Mak Tjampin bertubuh tinggi, rambut rada ikal, pakai kacamata hitam/reben. Kodak selalu tergantung di leher. Mak Tjampin ketempat kegiatan mangodak menggunakan koretangin, belakangan ini menggunakan sepeda motor . Mak Tjampin tinggal di Bawahngarai. Karena sering tampil ditempat ramai dengan Kodak di leher, Mak Tjampin termasuk orang dikenal di Bukittinggi.

Mak Tjampin dahulunya adalah seorang pemain bola sebagai gelandang tengah (centre full) PSA (Persatuan Sepakbola Agam) dengan baju kaus merah. Sesudah mengantungkan sepatu bola, mak Tjampin menjadi tukang Kodak yang satu profesi dengan Yus Parmato Intan, Alfa Mike Charlie alias Am Chipuick. Mak Tjampin sewaktu pemain bola di sebut tukang “kilik” sejak tergantung Kodak jadi tukang “klick”. Baliau tukang kilik di lapangan Atehngarai.

Mak Tjampin sebagai tukang klick (Kodak) sering beraksi di Benteng, Panorama, Kebun binatang dan di mana ada keramaian seperti pawai, perpisahan sekolah atau acara keramaian lain Mak Tjapin sudah ada di tempat. Mak Tjampin menawarkan untuk di Kodak. Setelah membidik seorang atau sekerumunan orang yang memintaknya untuk di Kodak dengan latar belakang kegiatan yang sedang berlangsung. Sesudah di Kodak mak Tjampin memberikan secarik kertas di mana hasil kodat itu diambil.

Munadir Syah pernah pula bakodak bersama dua orang anaknya dengan Mak Tjampin. Kenang Munadir sambil memperlihatkan kodak tersebut.

Abonponado pernah ditawari Mak Tjampin untuak di Kodak. Mak Tjampin berkata: “Ang ka di kodak ndak, beko diantaan ka rumah ang, asianyo”. “Mak Tjampin tau jo rumah dan gaek ambo, dek karanotulah baliau namuah maantakan” kata Abonponado

Pak Sebeng berprofesi sebagai manggaleh kue keliling dengan “garabak dorong”. Pak Sebeng ko baabuak karitiang, “sunguik taba”, iduang gadang. Nama asli pak Sebeng adalah Rudsi Habib. Pak Sebeng tingga di Tabektuua Bukikapik. Sering pakai baju kemeja, celana kepar, sandal jepit, topi pak tani. Pak Sebeng sering berbicara porno dan batu cicin besar-besar diseluruh jari tangan, malahan ada yang tiga pada satu jari. Cincin itu ada pada kedua tangannya. Kata pak Sebeng: “Masing-masing batu cincin ini ada khasiatnya”. Celana pak Sebeng juga digantungkan batu cincin pada bagian belakang, bahkan dompetpun digantungkan batu cincin.

Pak sebeng mengistilahkan barang dagangannya dengan istilah yang aneh-aneh. Setiap barang dagangan ada nama knusus. Misal jagung, di sebut “nan tagantuang ciek”, jarang menyebut jagung. Selain itu juga kue kecil dengan namanya sendiri-sendiri. Pak Sebeng bila menjual makanan sering “ma adu-aduan batu cicncin yang ada di tangan suok jo kida sehingga berbunyi “kretek, tek, tek”, yang menurut beliau untuk memanggil orang/anak-anak yang akan berbelanja.

Pak Sebeng ber operasi di sekolah-sekolah SD, SMP dan SMA. Pak Sebeng memulai berjualan dengan bercerita yang menarik. Datanglah anak-anak (pelanggan) untuk membeli makanan ke garobak jualannya. Pak Sebeng sudah ada di tempat bila anak-anak istirahat, saat akan masuk atau pulang sekolah. Beliau berjualan pindah-pindah dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain. Pak Sebeng begitu dekat dengan langganaanya, bila ketemu baik jarak jauh atau dekat, pelanggan melambaikan tangannya den dibalas oleh pak Sebeng dengan gembira. Keakraban dengan pembeli dan berbagai nama makanan inilah yang menjadikan pak Sebeng termasuk orang dikenal di Bukittinggi.

Abonponado sering berbelanja makanan pada Pak Sebeng saat istirahat sekolah dan bahkan pernah pula ditinju karena uang yang disodorkan uang “nilai besar” padahal yang dibeli hanya satu makanan saja.

Hirotada Honjyo. Dia adalah seorang Jepang dan bercerita tentang pembuatan lubang. “Tak Ada Kerja Paksa membuat lubang”: kata Hirotada Honjyo. Lubang itu “Lubang Perlindungan Jepang”, tidak merupakan benteng pertahanan, tapi hanyalah lubang untuk malindungi diri, supaya tahindar dari serangan bahaya udara.

Konstruksi mulai dikerjakan bulan Maret 1944, dan selesai pada awal Juni 1944. “Hal ini tidak bisa saya lupakan, karena sampai sekarang ada album kenang-kenangan yang saya simpan,” kata Hirotada. Pembuatan terowongan dikerjakan di bawah pimpinan tiga ahli tambang batubara, dikirim dari perusahaan Hokkaido — Tanko Kisen Co. Perusahaan tambang batu bara terkenal di Hokkaido ini selama pendudukan balatentera Jepang, juga mengerjakan tambang batubara Ombilin.

Ketiga ahli terowongan itu adalah Ir. Toshihiko Kubota, sebagai ketua, Ir. Ichizo Kudo dan Ir. Uhei Koasa. Mereka semua sudah meninggal. Selain dari orang-orang Jepang, ada juga beberapa orang Indonesia yang bekerja di tambang batubara Ombilin diperbantukan mengerjakan “lubang perlindungan” ini.

Konstruksi lubang perlindungan tersebut tidak rahasia dan tidak ada yang perlu dijaga. Untuk bisa menahan getaran letusan bom di atas 500kg, perlu penggalian sedalam 40-meter dari permukaan bumi atau 20-m dari ujung penggalian jurang tebing. Untuk menguatkan dan kokohnya dinding lubang, dibuat bentuk “torii-gumi” menyerupai pintu depan lambang agama Shinto, yaitu bagian bawah lebih besar daripada bagian atas.

Tiap ruangan dihubungankan dengan jalan udara dari ujung jurang tebing yang agak besar sampai ke ujung yang lebih kecil. Sehingga udara segar bisa leluasa bergerak di dalamnya.

Kapasitas lubang tersebut direncanakan untuk 500 orang. Ditambah dengan k pegawai kantor bisa mencapai 1000 orang dalam keadaan darurat. Di dalam lubang perlindungan tersebut tidak ada dapur. Sebab kalau memasak, akan mengurangi zat asam, mengeluarkan asap yang mengusik oksigen, dengan kata lain menurunkan kadar Oksigan di udara dalam lubang, dengan demikian bisa lemas didalam lubang atau kekurangan oksigen bisa merusah otak.

Hebat sekali rancangan lubang itu. Pertama sampai-sampai mamikirkan aliran udara sacara alamiah. Aliran udara itulah yang menjadikan diding lubang tikak basah. Bila diplester maka air akan menggenang pada plester, lama-kelamaan tanah basah dan daya ikat tanah berkurang. Kedua, dinding tindak rata, maka tidak ada gema. Kata para pakar tatasuara (akustik) waktu dengungnya dekat nol (tidak ada). Mengenai tata suara, baik juga dibaca “Tata Suara (Akustik) Masjid: Kasus Masjid Salman ITB” kategori “Rumah”

Mana yang benar membuat lubang Japang? Versi Hirotada Honjyo atau Kerja paksa yang mengorbankan banyak orang, perlu penelitian supaya masyarakat tidak binguang dan “bagalau”.

Dari pengamatan dilapangan, lubang Japang yang terkenal hanyalah yang terdapat di Panorama, sebenarnya lubang terdapat juga di tebing ngarai Bulakangbalok, tebing Bukikapik dan dibawah Kabun Binatang di Pasajawi. Menurut cerita orang, di Istana Bung Hatta pun ada Lubang Japang. Lubang Japang jangan disebut Lobang Jepang atau Gua Jepang. Sabutan itu merubah arti dan membingungkan apalagi dari sisi Pariwisata. Lubang dan Lobang buatan manusia. Gua terjadi secara alamiah di gunung batu kapur.

Kaba bagalau ini bersambung dengan Kaba Bagalau Kaba Rang Saisuak Di Kiktinggi   https://lizenhs.wordpress.com/2010/05/16/kaba-bagalau-kaba-rang-saisuak-di-kiktinggi/

Bahan penulisan “Kaba Bagalau Kaba Rang Saisuak di Bukitingi”, diceritakan Wahyudi, Syaiful Abbas, Munadir Syah, Firman Rasjid, Tarmizi Firdaus, Abonpornado, Helmon (Datuak Nan Kuniang), Januarsjaff, Djas Winata, Tarmizi Firdaus dan Ed Zoelverdi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: