Posted by: lizenhs | May 14, 2010

BELAJAR DAN SEKOLAH MASA DEPAN

BELAJAR DAN SEKOLAH MASA DEPAN

Oleh: Haslizen Hoesin

Dunia berubah begitu cepat dan cepat sekali. Melihat keadaan tersebut diperlukan suatu pemikiran sistem persekolahan baru, jika tidak tentu akan tertinggal. Kenapa ditekankan pada sekolah, karena satu di antara beberapa komponen penting pendidikan dan mendasar adalah pada sekolah. Yaa…, kita perlu mencari atau menggantikan model belajar yang terpusat pada guru dengan model aktif belajar mandiri berdasarkan prinsip-prinsip ilmu kognitif. Pada model ini keterlibatan dan kecintaan secara alami ditumbuhkan dalam diri setiap orang. Belajar tidak hanya di sekolah (ruang tertutup) saja, tapi dapat sekolah di alam terkembang (alam terbuka), karena alam adalah guru yang tertua. Sebagaimana sebuah pepatah “Alam Takambang Jadi Guru” (Alam Terkembang Jadi Guru)

Belajar
Semua orang tentu tahu, bahwa gaya belajar orang per orang (individu) berbeda satu sama lain. Sebagian ada yang belajar secara berkelompok, suka belajar duduk di kursi, bagian yang lain sambil berbaring atau lesehan di tikar, ada pula di alam terbuka.

Sebagian orang ada yang lebih mudah belajar dengan melihat gambar dan diagram secara langsung atau benda di laboratorium dan di alam terbuka, ini disebut cara belajar visual. Sebagian lagi suka mendengarkan, ini disebut auditorial. Sedangkan bagian lain dengan cara menggunakan indera perasa atau menggerakkan tubuh, ini disebut gaya belajar haptic/kinesthetic. Beberapa orang yang lain lebih senang pada teks tergeletak (membaca buku) dan yang lain belajar berkelompok yang saling berintegrasi. Sekolah masa depan mestinya dapat melayani gaya belajar orang per orang tersebut.

Kecerdasan dan Keuletan
Sekolah masa depan tentu tidak cukup lagi jika hanya mengolah dua jenis kecer-dasan, yaitu kecerdasan linguistik dan kecerdasan logis-matematis. Karena kecerdasan linguistik mencakup aspek-aspek kemampuan dalam berbicara, membaca dan menulis. Kecerdasan logis-matematis mencakup aspek-aspek kemampuan dalam logika, matematika dan sains. Kedua kecerdasan itu dikategorikan kedalam kecerdasan akademik. Tentu sistem evaluasi belajar (ujian) untuk kedua kategori tersebut terbatas pada kecerdasan akademik saja.

Sekarang perlu di mulai memasukan pelajaran yang mencakup kesadaran emosional, sebab dalam pengembangan pribadi yang utuh, kecerdasan emosional jauh lebih penting ketimbang kecerdasan akademis. Daniel Goleman dalam buku Emosional Intelligence mengatakan bahwa kontribusi IQ dalam mensukseskan hidup seseorang maksimal sekitar 20%, sedangkan 80% ditentukan oleh factor-faktor lain. Factor-faktor lain inilah yang termasuk dalam wilayah kecerdasan emosional.

Selain kecerdasan linguistik dan, logis-matematis, yang sering disebut kecerdasan intelektual, menurut Gardner dalam The Learning Revolution, ada kecerdasan lain yang belum banyak diberikan di sekolah:
Pertama, kecerdasan lingistik, kecerdasan ini adalah kecerdasan berkomunikasi yaitu menyampaikan sesuatu dalam lisan dan tulisan, kecerdasan ini berkembang seperti yang dimiliki penyair dan pengarang/penulis.
Kedua, kecerdasan musical, kecerdasan ini berkembang dengan baik pada komposer, konduktor dan musisi.
Ketiga, kecerdasan special dan visual, kecerdasan ini dimiliki oleh arsitek, pematung, pelukis, navigator dan pilot.
Keempat, kecerdasan kinestetik, kecerdasan bersifat fisik, berkembang pada atletik, penari, pesenam dan bisa juga pada ahli bedah.
Kelima, kecerdasan interpersonal, kecerdasan berhubungan dengan orang lain yaitu yang dimiliki oleh seorang penjual, motivator dan negosiator.
Keenam kecerdasan intrapersonal, kecerdasan ini bersifat introspektif, yaitu kemampuan untuk memiliki wawasan dan mengetahui jati diri sehingga bisa melahirkan intuisi yang luar biasa.
Armstrong dalam Sekolah Para Juara melengkapi menjadi tujuh kecerdasan, yaitu kecerdasan naturalistik, kecerdasan di alam, meliputi mengenal alam dan lingkungan (ekologi), melahirkan pencinta alam dan lingkungan.
Kedelapan kecerdasan spiritual, selain kecerdasan intelektual dan emosional, sebenarnya sekarang dikembangkan pula kecerdasan spiritual. Kecerdasan ini setingkat lebih tinggi di atas kecerdasan emosional, karena mampu membedakan perbuatan yang baik dan buruk. Kecerdasa spiritual akan memberikan pengertian akan norma-norma kehidupan, memupuk rasa bersyukur, puas, toleransi dan disiplin. Kecerdasan ini mengarah pada tanggungjawab individu sekaligus sebagai anggota masyarakat

Bukan hanya kecerdasan saja yang diperlukan, namun juga keuletan dan kerja keras. Artinya selain kecerdasan-kecerdasan diatas dibutuhkan pula keuletan dan kerja keras. Keuletan dan kerja keras ini akan membuat seseorang tidak cepat menyerah bila berhadapan dengan suatu masalah. Keuletan dan kerja keras secara mudah dapat diukur dengan menyelesaikan suatu masalah. Peserta didik bila diberi sebuah tugas (masalah), bila dia tidak mengetahui cara penyelesaian/membuat atau menemui kebuntuan dalam mengerjakan, langsung berhenti tidak ada usaha untuk bertanya kepada teman atau kakah kelas atau pada orang tua dirumah atau ke guru, tidak mau membaca buku, maka dia bukan seorang yang ulet dan kerja keras.

Selain ulet dan tangguh dimiliki anak, murid, pelajar dan siswa, mereka harus pula punya cita-cita atau mimpi yang akan menjadi kenyataan dikemudian hari. Inilah yang harus didorong oleh para guru setiap pertemuan di kelas.

Lengkaplah, sehingga peserta didik yang telah menyelesaikan pendidikan akan menjadi manusia yang seutuhnya.

Sekolah Masa Depan
Sekolah masa depan pada dasarnya sekolah yang mampu memberi bekal kepada anak didik berupa kemampuan dalam bertindak, belajar dan mengatur masa depannya sendiri secara aktif dan mandiri. Proses pembelajaran di sekolah masa depan memerlu-kan tujuan secara aktif menanggapi (merespons) perubahan dan arus teknologi, terutama teknologi informasi. Gordon Dryden dan Jeannette Vos dalam The Learning revolution menyebutkan tiga tujuan belajar. Pertama, mempelajari keterampilan pengetahuan tentang materi pelajaran spesifik. Kedua, mengembangkan konseptual umum, sehingga mampu belajar menerapkan konsep yang sama atau yang berkaitan dengan bidang-bidang yang lain yang berbeda. Ketiga, mengembangkan kemampuan dan sikap pribadi yang secara mudah dapat digunakan dalam segala hal.

Selain ketiga tujuan diatas, tujuan belajar yang tak kalah pentingnya, mungkin menempati urutan teratas yaitu mengembangkan orang per orang berakhlak (berbudi pekerti), beragama, bertindak tidak bertumpu pada kepentingan materi saja, tapi memper-hatikan norma-norma yang ada dan agama yang dianut. Bukan pula berdasarkan moral, karena moral selalu bergerak/bergeser. Tampak dan jelas sekali bahwa tujuan belajar di sekolah masa depan membentuk dan meningkatkan orang per orang menjadi percaya diri, berakhlak dan berprestasi menuju masyarakat madani.

Masyarakat madani, adalah masyarakat yang anggota-anggotanya menjadi well educated. Kondisi ini berhubungan timbal-balik dengan tindakan-tindakan yang rasional, terbuka (transparan), penuh estimasi, bermoral agama, berwawasan jauh kedepan. Tentu tidak mudah dihasut. Semoga apa yang diupayakan, mendorong lahirnya masyarakat suka belajar sejak dari ayunan sampai sakratul maut (seumur hidup). Sekolah masa depan bukan sekolah berdiri sendiri. Sekolah adalah bagian dari pendidikan dirumah atau sebaliknya, berarti peran orang tua muncul, yaa…ikut serta (secara totalitas). Insya Allah kerja sama ini bisa membangun kondisi yang efektif bagi lahirnya masyarakat madani yang dicita-citakan.

Penyampaian Lisan dan Tulisan
Selain kecerdasan-kecerdasan diatas, anak didik perlu pula dilengkapi atau dibulatkan pengetahuannya dengan kemampuan menyampaikan apa yang dilihat, diamati, diukur, dirasa dan yang ada di dalam pikiran.

Kemampuan yang dimaksud adalah: mampu melihat dan menuliskan permasalahan atau menemukan masalah yang actual; mampu cara mengamati dan/atau mengukur untuk memperoleh data; mampu mengolah dan menganalisis data; mampu memberi makna/interpretasi (fisik) dan; mampu membuat kesimpulan dan saran (gunalaksana) selanjutnya mampu menuliskan dalam bentuk laporan singkat. Kemampuan berikut adalah penyampaian, dapat dalam bentuk lisan (ceramah) dan/atau ditingkatkan menjadi karya tulis ilmiah. Ketrampilan ini akan merangsang peserta didik untuk meneliti dan menuliskannya.

Tak kalah pentingnya adalah keterampilan mengetik untuk penunjang penulisan karya tulis, yaitu kemapuan mengetik dengan sepuluh jari (istilah yang umum dipakai). Kemampuan ini sangat berguna setelah selasai pendidikan seperti kerja dikantor dsb.

Lisan adalah penyampaian hasil pikiran dan laporan di depan kelas atau diruang seminar dihadapan orang banyak dalam bentuk ceramah atau presentasi ilmiah.

Tulisan adalah realisasi dari hasil pikiran dalam kata-kata dan kalimat yang logis. Keunggulan tulisan dari lisan adalah dapat bertahan lama sampai rusak dan/atau dimusnahkan dan tidak dapat ditambah dan dikurangi oleh orang lain. Tulisan dapat pula membuka imajinasi dan ide/gagasan baru bagi pembaca yang tidak bertemu dengan penggagas. Tulisan harus enak dibaca dan mudah dimengerti. Dengan demikian aturan bahasa (EYD), spasi, tanda baca, pemenggalan dan tatatulis harus dipatuhi dan digunakan.

Bila seorang peserta didik telah mampu menulis laporan ringkas, bahkan membuat tulisan ilmiah dari hasil pengatannya. Kemapuan ini akan membantu peserta didik ditingkat pendidikan lebih tinggi dalam membuat laporan pengamatan atau menulis apa yang dibaca, bila dimulai di SD, maka di SMP dan SMA bahkan saat diperguruan tinggi dalam membuat skripsi/tugas akhir/proyek akhir tidak akan mengalami banyak masalah.

Mudah-mudahan hasil belajar dapat menjadikan peserta didik menjadi anak/orang yang dapat mengembangkan diri dan bermanfaat bagi orang lain

Penutup
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca, ibu/bapak guru, peserta didik (anak, murid, pelajar dan siswa, mungkin juga bagi mahasiswa) dan orang tua. Bandung, 7 Mai 2006

Tulisan ini pernah disampaikan kepada guru-guru pada yayasan pendidikan (membina TK, SD, SMP dan SMA) di Bandung, kemudian dimuat pada majalah sekolah tersebut. Karena perjalanan waktu, tulisan tersebut diedit dan ditambah beberapa pemikiran maka jadilah tulisan yang anda baca sekarang. Mudah-mudahan bermanfaat, selamat membaca.

Baca juga:
AYO……. CA-LIS-TUNG, BELAJAR DAN MENELITI https://lizenhs.wordpress.com/2008/12/23/ayo-ca-lis-tung-belajar-dan-meneliti/ Strategi Biaya Mutu Pendidikan   https://lizenhs.wordpress.com/2008/11/21/strategi-biaya-mutu-pendidikan/
HIDUP INI INDAH DENGAN MEMBACA, KEMUDIAN BUAT DAN SAMPAIKAN https://lizenhs.wordpress.com/2010/03/27/hidup-ini-indah-dengan-membaca-kemudian-buat-dan-sampaikan/
Suasana dan Semangat Belajar di Tahun Bagolak: Kasus Di Bukittinggi, https://lizenhs.wordpress.com/2010/10/31/suasana-dan-semangat-belajar-di-tahuh-bagolak-kasus-di-bukitinggi/
PERSIAPAN MASUK PERGURUAN TINGGI: PENGALAMAN ZULKIFLI TAHER, https://lizenhs.wordpress.com/2010/05/07/persiapan-masuk-perguruan-tinggi-pengalaman-zulkifli-taher/
Sejarah Kwepanduan di Kampus ITB dan Kegiatan Latihan https://lizenhs.wordpress.com/2014/05/23/sejarah-pembentukan-kepanduan-di-kampus-itb-dan-kegiatan-latihan/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: