Posted by: lizenhs | March 31, 2010

SEKILAS PENDIDIKAN MENENGAH DI BUKITTINGGI

SEKILAS PENDIDIKAN MENENGAH DI BUKITTINGGI

Ditulis oleh Haslizen Hoesin

Mungkin para alumni siswa SMA Negeri di Bukittinggi tidak banyak yang mengetahui bahwa SMA I Lanbouw, SMA II Birugo dan SMA III Aua Kuniang, awal sejarahnya di mulai di gedung “rumah baca” yang terletak di samping jalan Panorama dan Kantor Asisten Residen. Gedung ini balenggek (berlantai dua). Lantai bawah ruangan untuk belajar, lantai atas digunakan untuk rapat oleh pemerintah Belanda (Zulqayyum). Sekolah itu disebut Normal School (Sekolah Normal).

Sekolah Normal (Normal School) di Bukittinggi di dirikan melalui “decrite” pemerintah Belanda pada tanggal 1 April 1856. Dalam bahasa Belanda Sekolah Normal sebut Kweekschool (Sekolah Guru). Asisten residen Solok, Van Ophuijzen dipindahkan ke Bukittinggi bertugas sebagai pengawas umum Sekolah Normal tersebut, termasuk kurikulumnya. Kegiatan sehari-hari sekolah diawasi oleh kepala sekolah bernama Abdul Latif berasal dari Kotogadang (Gaves dan Azizah). Sekolah Normal didirikan untuk mengatasi pegawai Belanda.

Bila disebut Van Ophuijzen, sebagian besar orang akan kenal nama tersebut. Lewat sekolah ini Ophuijzen di bantu Abdul Latif mengembangkan tradisi keilmuan di Ranah Minang. Masih ingatkan anda dengan ejaan Van Ophuijzen, disinilah ejaan itu di munculkan dan dikembangkan. Sekarang kita kenal adalah ejaan yang popular disebut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Pada tahun 1872, Asisten Inpektur Pendidikan untuk Bumi Putera J. J. van Limburg Brouwer berkunjung ke Sumatera Barat. Dia terkejut (kaget) melihat keadaan keadaan Sekolah Normal yang tidak memenuhi standar. Dia mempunyai alasan dan percaya mengapa Sekolah Normal tidak memenuhi standar. Ukuran yang digunakan adalah kurang bahan ajar, seperti peta, buku teks dll. Dia mendapatkan bahwa tak seorangpun diantara pejabat baik Belanda maupun Minangkabau cukup peduli terhadap sekolah, bahkan untuk menyediakan gedung permanenpun. Ruang-ruang sekolah masih menggunakan “balai adat” stempat (Grave).

Setelah melihat perkembangan Sekolah Normal selama 17 tahun dan pengamatan yang dilakukan J. J. van Limburg Brouwer, maka timbul niat pemerintah Belanda mengadakan perubahan-perubahan, yaitu betul-betul menerapkan program sekolah guru (Kweekschool). Tepatnya 1 Maret 1873, Guru kepala D. Gert diubah jadi Van Wijk (Grave).

Tahun 1873 dibangun kompleks Kweekschool di bagian selatan Bukittinggi (Birugo). Bangunan terdiri dari sebuah gedung untuk ruang belajar, terdiri dari beberapa lokal. Kompleks dilengkai dengan 50 kamar murid-murid (murid di asramakan). Tahun 1908 kamar mencapai 74 buah (Zulqayyim).

Murud-murid yang sekolah di Kweekschool di haruskan berpakaian rapi, baju dan celana putih, pakai peci dan daster, selempang dan sepatu. Mereka harus menjaga penampilan di tempat-tempat umum sehingga keberadaan mereka tampak berbeda dari lingkungannya. Semua murid harus mentaati peraturan yang telah ditetapkan sekolah. Walau bagaimanapun ketentuan ini menimbulkan kebanggaan tersendiri bagi murid-murid. Murid-murid adalah anak-anak yang berasal dari pejabat bumiputera, elit fradensurd dan orang kaya (ya, orang-orang pilihan). Selesai sekolah langsung dapat bekerja. Masyarakat menilai sekolah dengan perlakuan yang diberikan sedemikian, sebagaimana halnya sebagai anak raja, sehingga masyarakat menyebut “Sekolah Raja”. Murid-murid berasal dari Sumatera Utara bagian Selatan, Sumatera Tengah, Bengkulu dll (Grave).

Kedisiplinan sekolah yang diterapkan sekolah, menjadikan sekolah tersebut hebat, mutu pendidikan tinggi, murid yang bisa masuk adalah orang-orang pilihan dari kalangan atas dan berasal dari daerah yang dekat maupun jauh dari Bukittinggi. Sekolah sejenis ini hanya ada tiga, dua tempat lain yaitu di Bandung dan Surakarta. Melihat luas wilayah Hindia Belanda pada saat itu, betapa bergengsinya ketiga sekolah tersebut.

Sekolah Raja ditutup Belanda tahun 1933, sebagai pengganti didirikan MULO. Sekolah MULO menempati bangunan yang ditempati SMA Negeri II sekarang (Zulqayyim).

Sekolah Raja menempati dua lokasi yaitu gedung, gedung yang ditempati SMA II sekarang, sebagai tempat pelaksanaan proses belajar mengajar. Di hadapan gedung sekolah (di seberang jalan) gedung guru dan kepala sekolah. Bangunan tersebut ditempati oleh Markas Polisi, sekarang Mapolresta dan rumah Kapolsekta Bukittinggi.

Sekarang tahun 2010, sudah berapa tahun pendidikan di mulai di Bukittinggi. Bila dilihat dari Landbouw, SMA Negeri I/B Landbouw mulai dibangun 1957 dan dipakai tahun 1959, maka SMA I sudah 51 tahun. Bila sejak di Birugo, maka pendidikan di Bukittinggi sudah 154 tahun. Bila sejak di “rumah kaca” pendidikan di Bukittinggi sudah 194 tahuh.

Bila berbicara mengenai pendidikan di Bukittinggi, selain SMA banyak sekolah-sekolah lain baik yang negeri maupun swasta, kedinasan dll. Keadaan inilah yang menjadikan Bukitinggi disebut “Kota Pendidikan”.

Bagaimana cerita SMA I Lanbouw berawal dari Birugo? Itulah yang di paparkan (cerita) berikut ini.

Berawal dari cerita, di mulai dari perubahan nama SMA Negeri ABC menjadi SMA 1B dan SMA II AC. SMA negeri ABC, sebelumnya bernama Sekolah Menengah Tinggi (SMT) dipimpin oleh Dr A Roesma. Sekolah Menegah Tinggi di dirikan tahun 1946. SMA ABC adalah SMA yang memiliki jurusan A, B dan C. Jurusan A berkonotasi Ilmu Pangetahuan Sosial, B berkonotasi Ilmu Pengetahuan Alam dan C berkonotasi Budaya dan Sastra.

Pada saat agresi Belanda ke II sekitar tahun 1949, karena keadaan tidak menentu di Bukitinggi sekolah dibubarkan, sebab guru dan siswa mengungsi ke daerah di sekitar Bukittinggi. Kemudian pemerintah pendudukan Belanda, di sekolah yang dibubarkan itu memperbolehkan mendirikan sekolah menengah, saat itu dipimpin oleh Jaka Dt Sati dan dibantu oleh beberapa guru yang tidak ikut mengungsi.

Setelah penyerahan kedaulatan kepada Negara Republik Indonesia. Pada tahun 1950 SMT berubah menjadi SMA. Mulai dari tahun inilah sejarah SMA Negeri ABC Bukittinggi dimulai dengan A Manan St Pangulu sebagai kepala sekolah. Guru-guru yang mengajar di SMA merupakan gabungan antara guru-guru yang berasal dari luar (kembali dari pedalaman), dengan guru-guru yang menetap di Bukittinggi. Pada waktu itu dikenal dua kelompok guru, yaitu guru-guru republik dan guru-guru federal.

Sesudah kepemimpinan A Manan St Penghulu, kemudian terjadi beberapakali pertukaran pimpinan sekolah, pada tahun 1951 SMA dipimpin M. Nazir St. Mudo, yang sebelumnya adalah mantan Direktur SMA Negeri B Jogjakarta. Pada masa kepemimpinan M. Nazir St Mudo perkembangan siswa SMA Negeri mengalami peningkatan, dengan jumlah lokal seluruhnya 16 buah.

Siswa SMA Negeri ABC Bukittinggi umumnya berasal dari seluruh daerah yang ada di Sumatera Tengah. Coba bayangkan waktu itu, betapa bangga seorang anak atau orang tua bila anaknya sekolah di SMA Negeri ABC, karena siswanya murid SMP yang berasal dari seluruh Sumatera Tengah. Bukan itu saja, sekolah itu dulu adalah Sekolah Raja (Kweekschool), sekolah diminati anak-anak “saisuak”. Siswa saat itu berteman dengan orang rantau jauh dan dekat. Anak-anak itu sudah berpisah dengan orang tua. Mereka berlatih hidup mandiri dan bermasyarakat bahkan berusaha sendiri membiayai hidup disebabkan kiriman terlambat datang, “kan” komunikasi tidak semudah sekarang. Keadaan inilah yang menempa siswa SMA pada saat itu sehingga mereka jadi tangguh. Para alumni itu berkiprah di pemerintahan di swasta negeri dan asing bahkan menyebar kemancanegara.

Sesudah kepemimpinan Nazir St Mudo tahun 1954, SMA Negeri ABC Bukittinggi di pisah dua yaitu SMA II AC dan SMA I B. SMAII AC dipimpin oleh Adam Saleh sedangkan SMA I B oleh Sabirin St Rajo Ameh. Selanjutnya selama pergolakan SMA I B dipimpin berturut-turut oleh Bais St Sinaro (1959), Nazir Rajo Intan (1960) dan Muharsono (1960).

SMA II AC selanjutnya dipisah lagi menjadi SMA IIC dan SMA Teladan A, kemudian SMA Negeri II C diubah menjadi SMA Negeri II. SMA Teladan A dan SMA Negeri II menempati bangunan Sekolah Raja.

Tahun 1956, Indonesia dapat bantuan dari Amerika Serikat empat bangunan. Karena Vietnam dalam suasana perang, 4 bangunan untuk Vietnam dialihkan ke Indonesia. Kedelapan bangunan itu dengan tipe/gaya arsitektur sama. Bangunan-bangun tersebut terdapat di Medan, Bukittinggi, Palembang, Jakarta, Malang dan Bandung. Di Bandung bangunan tersebut berada di kampus ITB yaitu bangunan Kimia, Biologi dan Arsitektur lama. Bangunan Arsitektur ITB di bongkar di pindahkan ketempat lain dan dipasang kembali menjadi asrama mahasiswa.

Kedelapan Bangunan tersebut sebutan “prefabricated” yaitu dengan struktur baja yang siap pasang, artinya jendela, pintu, kerangka tempat pintu dan jendela di buat oleh pabrik, jadi tinggal memasang saja, setelah semua kerangka terpasang, kemudian di pasang dinding tembok, loteng, pembatas dll. Karena sifat bangunan “prefabricated”, pelaksanaan pembangunan sangat cepat. Pembuktian bahwa bangunan itu bongkar-pasang adalah bangunan asrama mahasiswa ITB yang berasal dari bangunan Arsitek.

Kalau anda pergi jalan-jalan sebagai seorang wisatawan, ke enam lokasi tersebut pasti mengatakan bahwa bangunan SMA dan di ITB itu bangunan kembar delapan. Sekarang dapat dikatakan bangunan tersebut (yang masih ada) telah menjadi bangunan langka atau “heritage” dan perlu dilestarikan.

Bangunan “prifabricated” seperti bangunan SMA I adalah yang pertama di Indonesia. Bangunan tersebut di Bukittinggi, berlokasi di Lanbouw. Tahun 1959 ditempati oleh SMA I B. SMA Negeri II AC tetap menempati gedung lama di Birugo. SMA Negeri I Lambouw di pimpin oleh Sunariaman Mustofa.

Bangunan SMA I Landbouw dibagian depan ditambah bangunan persegi dan diberi “bagonjong”. Kelihatan lucu dan mengurangi sifat bangunan langka (Heritage) yang disandangnya. Kalau anda ke Jakarta bangunan SMA III juga sudah dirubah bagian depannya.

Kepala sekolah SMA – B Negeri Dirugo dari tahun 1950 – 1959, berturut-turut Nasir St Mudo, Sabirin, M. Nasir St Rajo Intan dan Muharsono. Kepala sekolah SMA Negeri – 1 Landbouw dari tahun 1959 – 2010 adalah Sunariaman Mustafa, Azwar, Drs Muhammad Nasir, Usman Luthan, Amir Umar Dt Bunsu, Drs. Rusdi Marah, Drs H. Irman Zen, Drs Zulkifli Jonneva SH, Drs Persalide, M. Pd. dan Drs Taswar SE, M. Pd.

Bagi yang berminat/ingin mengetahui lebih banyak tentang SMA I Landbow dan alumninya, dapat dibaca pada buku “Lintas Limapuluh Tahun SMA 1 Landbouw Bukittinggi 1959 – 2009”.

Sumber: Zulqayyim, Benny Chatib, Qamaruzzaman, Elthaf, Efri, Elizabet E. Grave, Syaiful Abbas, Wahyudi (alumni SMA II Birugo), Suryadi (ranahminang.com), Republika, Kompas, Padang Ekspres, Rantau.net, Buku Lintas Limapuluh Tahun SMA 1 Landbouw Bukittinggi 1959 – 2009 dan penulis melihat lima dari delapan bangunan “prefabricated” tersebut.

Baca juga:
Pesan Pak Sjaiful Jazan di Tahun 73  https://lizenhs.wordpress.com/2010/04/16/pesan-pak-sjaiful-jazan-di-tahun-73/  dan
Suasana dan Semangat Belajar di Tahuh Bagolak: Kasus Di Bukittinggi https://lizenhs.wordpress.com/2010/10/31/suasana-dan-semangat-belajar-di-tahuh-bagolak-kasus-di-bukitinggi/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: