Posted by: lizenhs | November 12, 2009

Model Organisasi Koperasi Sebagai Sistem Sosio-Produksi

Model Organisasi Koperasi Sebagai Sistem Sosio-Produksi

Oleh : Haslizen Hoesin

Sistem Koperasi Produktif (Produksi)
Untuk menyusun model koperasi priduksi, terlebih dahulu harus didefinisikan sistem koperasi. Sistem tersebut sangat penting dirumuskan, karena titik tolak perumusan model koperasi produktif dari situ.
Sistem koperasi produktif, dirumuskan bertitik tolak dari definisi koperasi dan pengertian sistem. Definisi koperasi penghasil (produktif) yang ada pada beberapa literatur beragam. Pada makalah ini, dasar perumusan koperasi produktif yang dipilih adalah rumusan ICA (1995) dan Undang-undang Republik Indonesia no 25 tahun 1992 (tentang Perkoperasian). Dari kedua definisi koperasi dan pengertian sistem, dan bila koperasi dinyatakan sebagai sistem, maka sistem koperasi penghasil (produktif) adalah.
“Himpunan orang (anggota) yang saling berhubungan dan/atau saling berkaitan satu sama lain secara sukarela, melakukan suatu kegiatan atau menyusun suatu skema tatacara melakukan suatu pemrosesan untuk mencapai satu atau beberapa tujuan dalam memenuhi kebutuhan utama dibidang ekonomi, sosial dan budaya dan dilakukan dengan cara mengolah data dan/atau bahan (materi) dan/atau energi dan/atau informasi dalam jangka waktu tertentu untuk menghasilkan informasi dan/atau materi dan /atau energi dan menyalurkan aspirasi melalui usaha milik bersama dan diawasi secara demokrasi”.
Definisi sistem koperasi penghasil (produktif) yang dirumuskan diatas digunakan sebagai dasar sistem koperasi produksi. Juga sebagai dasar perumusan model koperasi produktif.
Koperasi produksi adalah organisasi yang berada dalam suatu lingkungan, jadi koperasi produksi adalah sistem terbuka. dengan lingkungan luar dalam bentuk masukan – keluaran. Masukan pada koperasi produktif adalah faktor – faktor produksi atau dalam bahasa ekonomi disebut sumber daya ekonomi. Keluaran dari koperasi adalah kesejahteraan anggota atau dalam bahasa produksi disebut daya guna produk atau dalam bahasa ekonomi dinyatakan sebagai nilai tambah, dalam pengertian ekonomi rumah tangga adalah daya beli dan/atau pendapatan anggota secara perorangan.
Menurut Aldy Anwar (1992: 75) masukan pada koperasi adalah: “materi, energi, informasi dan nilai, keluaran adalah materi, energi, informasi dan nilai sebagai fungsi dari ruang dan waktu”. Dengan demikian masukan itu berupa materi, energi, informasi dan nilai, dan keluaran berupa peningkatan kesejahteraan anggota, dapat berbentuk materi, energi, informasi dan nilai sebagai fungsi dari ruang dan waktu.

Model Koperasi Produksi
Menurut Aldy Anwar (1992: 78) model koperasi yang dirumuskan dan dikembangkan itu yang baik adalah dengan pendekatan inovatif-kreatif yaitu “rumusan model dengan pandangan jauh kedepan, bertolak dari Al-Quran dan As-sunnah sebagai sumber nilai luhur, dan dari sejarah dan sosio-ekologi masyarakat kita sebagai suatu kenyataan obyektif, dengan memanfaatkan semua ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan perkoperasian dunia”.
Bertolak dari pengertian sistem koperasi penghasil (produktif), pemikiran inovatif–kreatif dan, disusun/dirumuskan model sket sistem koperasi produksi.
Dalam menyusun model, prinsip-prinsip yang digunakan adalah: 1). Konsep koperasi penghasil, 2). Konsep koperasi produktif, 3). Pengertian keanggotaan, 4). Pendekatan inovatif-kreatif, 5). Konsep sistem, 6). Organisasi koperasi sebagai sistem sosio-ekonomi (identas ganda dan promosi anggota), 7). Konsep masukan-keluaran, 8). Konsep ge-rakan aliran bahan/barang setegah jadi/jadi, 9). Prinsip manajemen operasi 10). Prinsip manajemen mutu terpadu dan 11). Model koperasi produsen (Haslizen 2001).
Unsur-unsur utama pembentuk sistem koperasi produksi adalah anggota (perajin/pekerja), kelompok anggota, pengurus, pimpinan, perusahaan koperasi, tatacara dan faktor-faktor produksi, dan ini pulalah yang menjadi pembatas model.
Beberapa para perajin/pekerja yang bergabung dalam suatu organisasi produksi, mempunyai tujuan yang sama dan membentuk suatu koperasi disebut koperasi produksi. Perajin/pekerja disebut anggota koperasi produksi. Kegiatan anggota (perajin/pekerja) dilakukan pada stasiun kerja atau unit kerja atau departemen selanjutnya disebut stasiun kerja sebagaimana adanya pada sebuah pabrik, yaitu berada dalam satu atap dan/atau pada lokasi yang berdekatan. Kegiatan menghasilkan barang (memproduksi) pada masing-masing stasiun kerja dapat sama dan/atau berbeda, tergantung dari keahlian anggota (pekerja) dan peralatan yang dipakai.
Jadi bila ditinjau dari masukan dan keluaran dari suatu sistem pabrik, maka pada masing-masing stasiun kerja dapat terjadi: (1) Masukan sistem dilakukan bagian depan (gudang) perusahaan koperasi menjadi masukan stasiun-stasiun kerja, (2) Keluaran suatu stasiun kerja menjadi masukan suatu stasiun kerja lain dan/atau perusahaan koperasi, keluaran suatu stasiun kerja lain menjadi masukan stasiun kerja pemberi masukan, kemudian menjadi masukan bagian belakang (gudang) perusahaan koperasi, (3) Keluaran stasiun-stasiun kerja menjadi masukan bagian belakang perusahaan koperasi (gudang), kemudian menjadi keluaran sistem Dari luar sistem muncul unpan balik sebagai akibat dari cara dan hasil kerja sistem.
Dari uraian diatas fungsi utama dari perusahaan koperasi sebagai sub-sistem dapat sebagai menerima dan/atau memberikan masukan ke stasiun kerja layaknya sebuah pabrik, perencanaan, pengendalian dan/ atau koordinasi. Sistem yang dikemukakan di atas disebut Organisasi Koperasi Sebagai Sistem Sosio-Produksi.
Organisasi Koperasi Sebagai Sistem Sosio-Produksi bila di model dalam bentuk “model sket” (lihat gambar 1), (Haslizen: 2001). Model menggambarkan bahwa terdapat 3 (tiga) kegiatan utama pada koperasi: (1) Kegiatan perusahaan koperasi menerima masukan dari luar sistem kemudian disalurkan ke stasiun kerja untuk dikerjakan. (2) Kegiatan anggota (pekerja) sesuai dengan keahlian dan peralatan yang dioperasikan untuk menghasilkan barang setengah jadi/jadi. (3) Kegiatan perusahaan koperasi menerima keluaran anggota (pekerja) menjadi keluaran sistem.
Selain menjelaskan masukan-keluaran dalam sistem, model mengambarkan pula: a) mengenai promosi anggota oleh perusahaan koperasi berupa peningkatan kesejahteraan anggota melalui penetapan gaji yang memihak pada anggota, b) mengenai hubungan “pemilik bersama”, “kepemilikan”, “pekerja” dan “aset perusahaan” koperasi. (c) mengenai unpan balik dalam sistem koperasi yang merupakan informasi kepada anggota mengenai kegiatan mengerjakan produk dari perusahaan koperasi. (d) mengenai unpan balik dari luar sistem koperasi yang merupakan informasi pada perusahaan koperasi mengenai produk yang dihasilkan.Model koperasi produksi yang dirumuskan, meskipun kegiatannya sama dengan manufaktur tapi terdapat perbedaan yang mendasar, yaitu pada status pekerja, pemilik peralatan/mesin produksi dan sistem penggajian/pengupahan. Lebih rinci adalah sebagai berikut: 1) Pada koperasi produksi, pekerja adalah anggota koperasi yang bekerja pada pabrik milik sendiri. Pada pabrik, pekerja adalah hanya sebagai buruh perusahaan, (2) Pada koperasi produksi, pekerja (anggota) bekerja dengan peralatan/alat produksi sendiri, sedangkan pada pabrik pekerja bekerja dengan peralatan milik perusahaan. (3) Pada koperasi produksi, kesejahteraan anggota (yang pada perusahaan disebut gaji) ditetapkan dengan melibatkan anggota, dapat berdasarkan ketentuan tertentu dan/atau aktifitas/kontribusi pekerja dalam bekerja. Gaji anggota (pekerja) pada koperasi produksi tidak dimasukan dalam biaya variabel. Sedangkan pada perusahaan bukan koperasi gaji dimasukkan pada biaya variabel.
Model lain selain model sket yang dirumuskan adalah model matematis partisipasi dan pelayanan, model matematis kesejahteraan anggota, dan model matematis manfaat koperasi. Ke empat model tersebut dirumuskan secara parsial untuk mendukung model sket sistem koperasi produksi.

Masukan – Keluaran dan Kegiatan Sub-sistem
Dari model Organisasi Koperasi Sebagai Sistem Sosio-Produksi (model I), dirumuskan kegiatan proses dalam sistem koperasi, masukan-keluaran dan unpan balik.
Proses produksi pada koperasi produksi, pada perusahaan koperasi. Anggota (pekerja) melakukan kegiatan produksi pada unit kerja/stasiun kerja/departemen perusahaan koperasi. Peralatan/mesin milik mereka, dibeli anggota bersama-sama atau dibawa oleh masing-masing anggota sebagai kontribusi model, kemudian dihitung nilainya dalam rupiah. Modal untuk membeli dapat juga diperoleh dengan cara mengumpulkan modal dari anggota atau meminjam dari bank secara bersamasama melalui koperasi. Pinjaman itu dipertanggungjawabkan oleh anggota sesuai dengan modal yang dipinjam untuk membeli mesin/peralatan. Mesin/peralatan ditempatkan pada koperasi sesuai dengan aliran proses produksi dan aturan tataletak. Anggota memelihara peralatan tersebut dalam keseharian pekerjaan. Anggota pulalah yang mengetahui secara rinci peralatan yang dipakai/dipegang, bila diganti komponennya, apakah dapat diperbaiki sendiri atau dikerjakan oleh orang lain (diupahkan). Ketidak hadiran anggota dalam melakukan kegiatan produksi seperti mangkir atau sakit, tidak bekerja/keluar/berhenti, sama artinya sebuah mesin/peralatan tidak beroperasi/diperbaiki/rusak, atau bekerja dengan tidak baik artinya mutu produk akan rendah. Anggota adalah pelaku utama dalam melaksanakan kegiatan proses produksi. Maju mundur koperasi terletak ditangan anggota.
Karena koperasi dinyatakan sebagai sistem pabrik, maka manaje-men operasi/operasional diterapkan sebagaimana mestinya kecuali penggajian.
Bila di dekati dengan masukan, proses dan keluaran, maka: (1) Masukan adalah materi, energi, informasi dan nilai (secara rinci lihat kembali pada koperasi produsen), (2) Proses, kegiatan mentransformasikan masukan menjadi keluaran. Kegiatan itu dilakukan pada unit-kerja/stasiun-kerja/departemen pada peruisahaan koperasi oleh anggota, (3) Keluaran, adalah materi, informasi dan nilai/budaya berkoperasi, (4) Unpan balik, adalah informasi mengenai mutu, harga dan jumlah produk yang dihasilkan dari masyarakat/konsumen.
Pada koperasi produksi, penyelengaraan pendidikan/pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan/pemahaman anggota mengenai perkoperasian dan manajemen operasi/operasinal, pemahaman tentang mutu produk, waktu kerja standar, dan lain-lain, tetap dilakukan sebagaimana pada koperasi produsen.
Kegiatan tersebut tentu harus ditunjang dengan kepengurusan yang berpengetahuan luas dan profesional. Bila kepengurusan tidak memenuhi ketentuan itu organisasi koperasi akan lamban gerakannya atau jalan di tempat, bahkan mati.


Baca Juga Sendi Dasar Kopereasi Produksi pada kategori Ber “usaha” Yok dan Sendi dasar Koperasi Produsen pada kategori Ber “usaha” Yok

Daftar Pustaka
A. Aldy Anwar, (1992). “Ethos Koperasi Pemukiman Tepat Nilai”. Infokop (11) IX: 75-90. (Mei)
Anonim, (1992). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. Jatinangor: UPT-Penerbit dan KKBM IKOPIN
Haslizen Hoesin, (2001). Model Koperasi Produsen dan Produksi. Makalah pada “Seminar Pengkajian Dosen IKOPIN”, diseleggarakan oleh P3EM–IKOPIN (Maret)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: