Posted by: lizenhs | January 19, 2009

BERAGAM MANFAAT, PENGEMBANGAN DAN KENDALA KINCIA-AIA

BERAGAM MANFAAT, PENGEMBANGAN DAN KENDALA KINCIA-AIA

 Oleh: Haslizen Hoesin

DJANTERO, KANCUA DAN KINCIA

Soewarno Darsoprajitno (dosen Sekolah Tinggi Manajemen Pariwisata ARS Internasional) mengatakan “roda berputar” menaikkan air dan mengangkat alu, ada sebutan selain kincir. Ada betulnya pendapat tersebut, Kamus Indonesia Ketjik ditulis E. ST. Harahap terbitan 1943, menulis “roda berputar” mengangkat alu dan menaikan air disebut “djentera” (jentera), kantjur (kancur) selain kintjir (kincir). Kata tersebut juga terdapat pada Niew Maliesch-Nederlandsch Zakwoordenbook ditulis H. C. Klinkert, diterbitkan 1910, Leiden. Djentera dan kancur tidak sepopuler kincir mungkin karena lafal kincir lebih disebarluaskan melalui buku bacaan sekolah “Matahari Terbit” HIS. Djantero, kancua dan kincia adalah lafal Minang dari jentera, kancur dan kincir.

Bila kata jentera (roda berputar) pada buku kamus terbitan tahun 1910, berarti roda berputar digerakkan oleh air sudah ada jauh sebelum tahun 1910. Ada yang berpendapat bahwa ide jantero (kancur, kincir) di ranah Minang diprakarsai dan dikembangkan oleh para penyebar agama sepulang dari belajar agama dari Timur Tengah atau haji. Mereka mengembangkan jantero berdasarkan semangat kata falsafahalam takambang jadi guru.

Falsafah alam takambang jadi guru betul-betul mendorong masyarakat Minang memanfaatkan potensi air, sebagai sumber tenaga penggerak alat/peralatan. Masyarakat Minang berguru pada apa yang dilihat dari alam dan pengalaman, kemudian memunculkan ide dan gagasan baru. Gagasan, ide dan berpikir mengembangkan kincia (jentera, kancua) sangat beragam, seperti beragam pemakaian kincia seperti menaikan air, mengangkat alu, pemutar kukuran dan pemecah batu, dan ternyata tak berhenti disitu bahkan pernah dikembangkan sebagai pembangkit tenaga listrik.

Pertanyaan sering muncul. Pertama, kincia mana yang lebih dahulu dirancang dan dibuat, apakah kincia untuk menaikan air atau pengangkat alu atau pemutar pangua atau pemecah batu? Untuk sementara kicia penumbuk dikembangkan dari menaikan air. Itulah pertanyaan yang belum terjawab. Kedua, apakah kincia adalah sebutan dari alat yang sama dibeberapa tempat yang berbeda? Kalau ya. Dimana saja daerah itu? Juga belum terjawab. Sebagai pembanding perhatikan sauak-sauak dan galuak-galuak. Sauak-sauak populer di Bukitinggi dan sekitar, sedangkan galuak-galuak populer di Katapiang, Padang dan sekitar.

Bila ditinjau dari cara air memasuki roda kincia maka: Kincia-aia menaikan air adalah kincia aliran bawah (Under Waterweel). Kincir-aia pengangkat alu, pemutar kukuran, dan pemecah batu adalah kincia-aia aliran tangah (Breastshot Waterweel). Di Eropa dan Amerika kincia-aia aliran tengah dikembangkan menjadi turbin sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Mikro (PLTM).

Kenapa kicia-aia di Ranah Minangkabau (Sumatra Barat) yang dibahas? Berdasarkan pengamatan, kicia aia pertama dibuat dan dikembangkan di Ranah Minang kemudian menyebar dikepulauan Indonesia. Anggapan ini diperkuat beberapa anggapan lain: Pertama. Terdapat kosakata “djentera” (jentera), kantjur (kancur) selain kintjir (kincir) pada kamus Niew Maliesch-Nederlandsch Zakwoordenbook ditulis H. C. Klinkert dan Kamus Indonesia Ketjik ditulis E. ST. Harahap. Kedua. Pemanfaatan kincia sangat beragam di Minangkabau diketahui dari foto, buku Perkampungan Minang Padangpanjang dan video jangka pendek. Ketiga. Kincia-aia merupakan satu judul pada buku “Matahari Terbit” bacaan di HIS. Keempat. Pendapat Soewarno Darsoprajitno bahwa, “Kicia-aia di buat dan dikembangkan di Minangkabau untuk kepentingan pengairan pertanian perikanan oleh penduduk, sedangkan bendungan dibuat dan dikembangkan di pulau Jawa untuk pengairan sawah oleh Belanda karena keadaan geografis pulau Jawa relatif rata”.

Kincia yang dibahas berikut adalah kincia-aia aliran tangah (Breastshot Waterweel).

BERKEMBANGAN MENUJU KINCIA DAN KEJAYAANNYA

Lasuang Ke Kincia

Lasuang adalah peralatan pasca panen yang populer diranah Minang, untuk penumbuk padi (gabah) di ranah Minang. Pangua (kukuran) peralatan yang pasti ada disetiap rumah untuk memarut karambia di Ranah Minang. Kedua alat ini dalam perjalanan pemanfatannya, dari masa kemasa menunjukkan perkembangan yang mencengagkan. Pengembangan peralat tersebut didasarkan pada falsafah alam takambang jadi guru, begitu kata yang merancang dan membuat. Perhatikan paparan berikut:

Lasuang. Alat tempat menumbuak yang populer di ranah Minang sampai tahun 60an adalah lasuang (lesung). Pasangan lasuang adalah alu. Lasuang dibuat dari batu hitam yang diambil dalam tanah. Batu hitam yang baru diangkat dari tanah dilubangi dengan pahat sampai kedalaman tertentu. Lubang lasuang menyerupai kerucut tumpul dengan diameter bagian bawah (tumpul) 9 – 12 cm dan bagian atas 20 – 30 cm dan kedalaman 20 – 30 cm. Alu adalah alat untuk memumbuak (dihentakan, dipukulkan) kelubang lasuang. Alu berbentuk batang dengan panjang 2 – 2,5 meter dan diameter 7 – 10 cm.

Menumbuak dilakukan dengan cara mengangkat alu setinggi jangkauan tangan kemudian ditumbukkan ke lasuang yang telah diisi (padi atau beras dll) sekitar ¾ dari ke dalaman. Manumbuak dapat dilakukan oleh dua orang masing-masing memegang satu alu. Ada pula dilakukan lebih dari dua orang dengan satu alu yang digunakan secara bergilir. Perpindahan alu ketangan orang lain saat alu berada dilasung dan begitulah selanjutnya.

Karena berat mengangkat dan tenaga menghentakkan alu, alat penumbuak dikembangkan menjadi lasuang gonjak. Lasuang gonjak mirip gunjak-gunjik disekolah TK Lasuang gonjak adalah lasuang dengan alu yang dipasang pada ujung sebatang balok, bagian lain tempat kaki menginjak untuk mengungkit. Antara alu dengan tempat penginjak terdapat penyangga dengan ketinggian tertentu. Bila tempat injakan di injak, alu terangkat, injakan dilepas alu jatuh bebas dengan gaya berat (gaya tarik bumi).

Karena dibutuhkan beras yang banyak dan waktu yang relatif pendek, lasuang gonjak dikembangkan dengan memanfaatkan energi (tenaga) aia yaitu tenaga putar kincia-aia.

Gerakan alu lasuang gonjak, naik dan turun secara bebas, memberikan inspirasi dalam memanfaatkan daya putar kincia untuk panumbuak padi dan beras. Pada kincia penumbuk, alu memiliki tuia-tuia. Tuia-tuia alu diangkat oleh angkek-angkek yang dipasang pada sumbu poros yang berputar searah dengan putaran roda sauak-sauak. Pada ketinggian tertentu alu jatuh bebas sama seperti alu lasuang gonjak. Jadi cara mengangkat alu pada kincia-aia berbeda dengan lasuang gonjak.

Pangua Ke Kincia

Pangua (Kukuran), alat untuk pemarut karambia disebut pangua (kukuran). Pangua terdiri dari kayu dan besi. Bentuk pangua menyerupai bangku-bangku (tempat duduk tanpa sandaran) terbuat dari kayu. Dibagian ujung banku dipasang besi tipis (pipih) ketebalan 0,2 – 0,3 cm berbentuk lingkaran bermata gerigi, tegak mirip seekor ular akan mematuk mangsanya. Pangua ini disebut “pangua duduak” (“kukuran duduak”). Karambia yang akan dipangua dipotomg dua. Mamangua (memarut) dilakukan dengan cara potongan karambia dengan bagian daging digosok-gosokkan naik-turun sambil ditekan sejarak setengah diameter karambia pada bagian yang bergerigi (kepala) dan secara bertahap digeser berputar.

Karena kapasitas pangua duduk rendah, muncul gagasan, kepada pangua yang digerakan. Karena kepala pangua dimasukkan kedalam potongan karambia, bentuk kepala pangua berubah menjadi bulat lonjong. Bagian leher berubah bentuk menjadi bulat panjang. Bentuk keseluruhan seperti pemukul bola kasti atau softboll. Bagian kepala dilengkapi dengan gerigi. Bagian bulat panjang berfungsi sebagai sumbu dan tempat lilitan tali (satu atau dua lilit).

Bagian pangua yang berputar ditempatkan dalam posisi datar dan berputar saat tali yang melilit tertarik kebawah dan keatas. Ujung tali diikatkan kepada batuang tegak dengan kemiringan tertentu, berperan sebagai per karena sifatnya yang lentur. Ujung yang lain diikatkan pada papan atau batuang yang terletak dilantai dengan kemiringan tertentu tempat injakan kaki. Bila papan diinjak tali tertarik kebawah, bambu merunduk, pemarut berputar. Bila papan injak dilepaskan (dikendorkan), maka bambu kembali keposisi semula dan pangua berputar berlawanan arah. Pangua model ini disebut “pangua garejoh”.

Memangua dengan pangua garejoh, karambia dipotong dua. Saat garejoh berputar bolak-balik bagian daging karambia di tekankan kepada bagian bulat pangua yang bergrigi. Garejoh banyak digunakan dirumah makan.

Pangua garejoh ternyata kemampuannya rendah bila digunakan untuk industri minyak goreng karambia (minyak kelapa). Bola lonjong bergerigi dirubah kebentuk silider. Bagian silinder dipasang seperti gerigi dan berputar satu arah. Karambia yang dipotong dua, sekarang dicongkel dari tempurungnya, kemudian baru di “kukua”. Pangua seperti ini sekarang dalam bentuk kecil digerakkan dengan motor. Pagua yang digerakkan dengan motor diyakini ide dasarnya bersumber dari pangua kincia-aia. Alat pemarut yang baru ini disebut teknologi tepat guna pemarut kelapa.

Gerakan bolak balik pangua berubah menjadi searah bila menggunakan kincia. Kecepatan putar roda sauak-sauak dirubah roda perubah kecepatan panjang dan sudut, sehingga didapat kecepatan tertentu silinder pangua.

TEMPAT KINCIA DAN BEKAS KEJAYAAN KINCIA

Kincia-aia umumnya terdapat pada dua kriteria lokasi, yaitu daerah landai dan miring:

Daerah Landai. Kincia umumnya berada dekat ampangan (baramban, bendungan) daerah persawahan. Ampangan batang aia, selain berfungsi untuk mengalirkan air ke banda (cabang batang-aia) sawah, sebagian dimanfaatkan untuk memutar roda kincia. Beda ketinggian permukaan air untuk kincia-aia aliran tengah cukup 2 – 3 meter.

Daerah Miring. Kincia selain didaerah yang relatif rata, terdapat di lokasi dengan tingkat kemiringan yang tinggi misal melebihi 20%. Lokasi itu seperti di kampuang Gonjong di pinggir Jalan Padangpanjang-Bukittinggi, Kab. Tanahdata (www.tanahdatar.go.id/). Di Halaban Payakumbuah dan lain-lain.

Ditempat-tempat daerah kemiringan, umumnya banda tidak di ampang, hanya dialihkan saja sebagian aliran air.

Bekas-bekas Kejayaan Kincia. Kincia untuk panumbuak banyak terdapat di ranah Minang. Kincia, beroperasi sesuai dengan keberadaan aliran air yang memadai selama 24 jam. Kincia berada di batang-aia dari hulu ke hilir. Itulah masa-masa jaya kincia. Pondok kincia sekarang banyak tinggal pondoknya saja. Keadaan ini terlihat diantaranya di Paraklaweh Tilatang Kab. Agam, di Katapiang jalan ke Limaumanih Padang dll. Bahkan hanya bekas bangunan, karena sudah roboh seperti di Jambatanbasi, Tilatang. Keadaan yang sama terdapat pula di Ampekangkek-Canduang, di Saribulan Lawang-Matua, di Halaban Kab. Limopuluahkoto dll.

Pondok kincia memarut karambia dulu berjajar di banda depan SMP Lubuakbasuang antara Pasa dan Lapautalang. Pondok kincia adalah bagian dari pabrik pengolahan santan karambia menjadi minyak goreng. Dibelakang pabrik terasa bau busuk ampas karambia.

KOMPONEN, BAHAN DAN PONDOK KINCIA-AIA

Komponen Kincia-aia.

Komponen utama kincia-aia aliran tengah adalah roda kincia dan sumbu poros. Roda kincia terdiri dari beberapa daun sauak-sauak (galuak-galuak). Diameter roda kincia aliran tengah ditentukan oleh ketinggian muka air saluran masukan (intake), antara 2 – 3 meter. Daun sauak-sauak membentuk sudut tertentu terhadap arah jari-jari. Sauak-sauak berfungsi untuk menerima tekanan kecepatan air yang mengalir dan penampung air sehingga diperoleh gaya berat air. Saluran pengarah berbentuk empat persegi menyempit menyerupai trapesium sama kaki kearah sauak-sauak, terbuat dari kayu atau tembok.

Sumbu poros berbentuk batang bulat dengan diameter antara 40 – 50 cm. Sumbu poros berfungsi meneruskan gerak putar roda kincia untuk dimanfaatkan selanjutnya. Pada ujung-ujung sumbu poros dipasang klahar, berfungsi untuk meniadakan (memperkecil) gesekan putar.

Bahan kincia.

Bahan utama kincia-aia aliran tengah (tradisional) umumnya adalah kayu. Sauak-sauak atau galuak-galuak (timbo, timba, sudu-sudu) dan jari-jari dari Surian. Poros sumbu (tempat angkek-angkek) dari Rasak atau Cubadak. Angkek-angkek (tumpu-tumpu) dari Laban. Alu dari Rasak. Tuia-tuia dari Rasak atau Surian. Tempat alu bergerak keatas-bawah disebut “paran-paran” dari Cubadak.

Semua kayu yang digunakan untuk membuat komponen kincia ternyata pada tingkat keawetan, kekuatan dan kekerasan tinggi. Umur kayu yang kena air dan kering dapat mencapai 10 sampai 15 tahun. (dalam buku Mengenal Sifat-sifat Kayu Indonesia dan Penggunaannya).

Pondok (Rumah) Kincia.

Rumah tempat kincia aliran tengah disebut“pondok kincia” (rumah kincir). Roda kincia berada diluar pondok, sedangkan poros sumbu, alu dan lasuang berada dalamnya. Beberapa kincia memiliki “kisuik” (ayak) berbentuk silinder, bahan kasa halus.


MODEL-MODEL KINCIA-AIA

Hasil pengamatan dilapangan dan kepustakaan, ditemukan beberapa model kincia di Ranah Minang. Model tersebut ternyata perbedaan didasarkan pada kegunaan, yaitu: Bentuk Umum, Golong-golong Pasaman, Kincia Dt Radjo Ameh, Kincia Pembangkit Tenaga Listrik Zamrisyaf dan Kincia Eza-Wandri.

Bentuk Umum

Untuk mendapatkan energi aliran air yang memadai banda di ampang (di bendung). Aliran air masuk sauak-sauak langsung dari banda. Saluran air ke sauak-sauak merupakan perpanjangan banda (saluran terbuka) dengan kemiringan tertentu kebawah dan segaris dengan kemiringan daun sauak-sauak.

Putaran yang dihasilkan roda kincir: (1) langung digunakan mengangkat alu, jadi poros sumbu, tegak lurus terhadap arah roda kincia. (2) memutar pangua pemarut karambia. Kincia-aia pamarut karambia disebut kincia model 1.

Kincia model I dimanfaatkan diantaranya, (1) Penumbuk padi, milik Yusniwar (Katapiang jalan ke Limaumanih, Padang, sekarang sudah tidak beroperasi karena air kurang mamadai ), Ermawati (kampuang Gonjong, Padangpanjang, masih beroperasi) dll. (2) Penumbuk padi atau beras masih banyak ditemukan seperti di Kabupaten Tanahdata kincia-aia (www.tanahdata.go.id). (3) Untuk mamangua karambia pada industri minyak karambia (dulu banyak terdapat di banda dari pasa ka Lapautalang Lubuakbasuang) dll.

Golong-golong Pasaman

Golong-golong termasuk kincia-aia, karena roda kincia golong-golong sama bentuknya dengan roda kincia. Pada golong-golong poros sumbu dihubungkan langsung dengan tabung yang berbentuk silinder dari baja. Tabung baja inilah yang disebut masyarakat golong-golong. Fungsi golong-golong adalah untuk menghancurkan batu-batu hasil penambangan yang diperkirakan mengandung biji emas, kemudian dicari dan dipisahkan, sehingga ditemukan biji-biji emas. (Dept. Pend. Nasiaonal. Budaya Masyarakat Suku Bangsa Minangkabau di Kabupaten Pariaman). Golong-golong disebut kicia model II.

Golong-golong ternyata gagasan yang mengagumkan dan cerdas dari masyarakat Pasaman, untuk menghancurkan/mengolah batu. diperkirakan mengandung emas. Kekagunan ini seiring dengan pemanfaatan energi lokal (tenaga air). Artinya mereka melakukan kegiatan mencari emas walaupun sederhana tapi mengurangi ketergantungan pada peralatan luar, meskipun bila ditinjau dari sisi efisiensi termasuk rendah. Ini usaha yang membanggakan karena menggunakan bahan lokal dan ternyata meningkatkan percaya diri.

Kincia Dt Radjo Ameh

Banda di ampang hanya untuk mengarahkan aliran air. Air ditampung pada sebuah bak berbentuk bulat telur dengan kedalaman, lebar dan panjang sekitar 1.3 m, 2 m dan 5 m. Air dari bak disalurkan melalui lubang persegi panjang (panjang 30 cm dan lebar 25 cm) ke sauak-sauak dengan beda ketinggian sekitar 90 cm.

Lubang persegi (saluran tertutup) dibuat dengan kemiringan tertentu, tegak lurus terhadap posisi daun sauak-sauak. Diameter total roda 180 cm. Roda kincia, berada dalam posisi sejajar dengan sumbu poros. Putaran yang dihasilkan roda sauak-sauak memutar sumbu poros angkek-angkek dihubungkan dengan roda gigi (diferensial), kopling dan pengatur kecepatan (transmisi), sehingga kecepatan sumbu poros dapat diatur. Kincia ini suatu kreatifitas yang cemerlang dan ide mencengangkan (sezamannya), karena kecepatan putar mengangkat alu dapat diatur. Kincia-aia Dt Radjo Ameh disebut kincia model III.

Menurut pengamatan dan catatan Dedi Rinaldi, kincia model Dt Rajo Ameh (kampuang Gonjong, Padangpanjang) jauh lebih baik dari kincia model I dalam memanfaatkan energi air. Baik bendungan air, saluran air memasuki roda kincia, sauak-sauak, sumbu poros, maupun transmisi, suatu gagasan/ide kreatif yang mengagumkan dari Dt Rajo Ameh.

Kincia-aia Pembangkit Tenaga Listrik Zamrisyaf

Gagasan memanfaatkan kincia-aia memutar generator adalah gagasan yang cemerlang. Kenapa demikian? Kincia yang selama ini digunakan untuk menumbuk padi (gabah) dialih fungsikan (dikembangkan) pemutar generator. Ide ini digagas dan dilaksanakan Zamrisyaf. Kincia-aia yang dikembangkan Zamrisyaf mampu menghasilkan daya listrik untuk menerangi 20 rumah selama 24 jam. Kincia-aia pembangkit tenaga listrik sebut kincia model IV. Nama Zamrisyaf menghias beberapa koran daerah dan nasional karena kejadian itu (Media Indonesia 30/07/2006).

Kreasi Zamrisyaf itu pada tahun 1983, karena untuk mematri (menyolder) membutuhkan tenaga listrik, untuk memperbaiki peralatan elektronik, sedangkan listrik ditempat Zamrisyaf tinggal tidak ada. Gagasan meningkatkan pemanfaatan kincia-aia yang telah ada, merupakan kreatif-inovatif yang mengagumkan.

Kreatifitas Zamrisyah sekarang terhenti, tidak ada lagi kejutan didaerah lain. Itu berarti usaha pengembangan pembangkit listrik skala kecil jalan ditempat bahkan dapat dikatakan kemunduran dalam pengembangan ilmu dan pembangunan karena tidak ada lagi ide dalam pergerakan waktu. Kenapa terjadi demikian, perlu pertanyakan.

Kincia Eza-Wandri

Sebenarnya kreasi Eza-Wandri tidak dapat dikatakan murni kincia, bila didasarkan pada pengertian kincia-aia, karena untuk memutar sumbu poros dengan motor disel. Tapi ide mengganti roda kincia dengan motor disel, suatu yang mengagumkan. Ide ini muncul dari Eza dan Wandri sekitar tahun 1998, karena aliran air tidak dapat memutar roda kincia. Kincia aia Eza-Wandri disebut kincia model IV. Alasan tetap menggunakan alu dan lasuang menumbuk beras untuk memperoleh tepung, karena tepung beras hasil ditumbuk dengan alu lebih kembang sebagai bahan kulit goreng pisang, rakik kacang dan maco, lapek nagosari, bubua palito, pinukuik dll.

Uji coba mengubah kecepatan dilakukan berkali-kali, sehingga didapatkan putaran yang pas mengangkat alu sebagaimana kecepatan putaran sumbu poros yang dihasilkan roda kincai dengan aliran air. Uji coba yang dilakukan adalah upaya menurunkan putaran yang dihasilkan motor disel menjadi rendah pada sumbu poros. Penurunan dilakukan dengan merubah-rubah diameter beberapa roda penghubung perubah kecepatan panjang dan sudut. “Pekerjaan ini cukuk melelahkan”: kata Eza. Hasil yang diperoleh mengembirakan sehingga usaha mereka hidup kembali sebagai penghasil dan penjual tepung beras. Uji coba yang dilakukan Eza dan Wandri suatu kreasi membanggakan.


CARA KERJA KINCIA-AIA

Air mengalir melalui banda (saluran terbuka) dengan kecepatan tertentu kemudian masuk saluran pengarah, mengarah kebawah (miring) dan menyempit seperti trapesium samakaki, ke sauak-sauak roda kincia. Saluran pengarah berada pada posisi tengah (sekitar tinggi sumbu poros).

Kemiringan saluran pengarah (intake) dan kemiringan daun sauak-sauak diatur sedemikian rupa, sehingga tidak terdengan bunyi plak-plak air (ini cara pengaturan kemiringan secara tradisional). Tidak ada plak-plak itu berarti daun sauak-sauak segaris dengan kemiringan saluran pengarah saat air masuk. Pada saat segaris, berarti kecepatan air masuk sauak-sauak dapat optimal dan menghasilkan daya dorong. Daya dorong air ditambah gaya berat air yang berada dalam sauak-sauak sehingga menghasilkan puratan roda kincia-aia maksimal.

Sumbu poros sebagai penerus putaran dibedakan atas tiga yaitu: a) putaran sumbu poros digunakan langsung tanpa merubah kecepatan seperti memutar golong-golong pemecah batu, b) putaran diubah menjadi daya angkat oleh angkek-angkek (ungkik-ungkik) untuk mengangkat alu (bantuan tuia-tuia), dan c) putaran diubah melalui roda peubah kecepatan panjang dan sudut, memutar alat lain (pagua, kipeh atau pembangkit listrik karena terdapat roda perubah kecepatan panjang dan sudut).

TEORI DASAR KINCIA-AIA

Pada pembahasan berikut, dikenalkan dua konsep menentukan daya P kinci-aia yaitu mekanika dan empirik. Kedua konsep ini ditampilkan agar mudah dimengerti, gaya-gaya apa saja yang berperan memutar roda kincia.

Konsep mekanika memperkenalkan bahwa pada roda kincia (sauak-sauak) bekerja dua gaya secara bersamaan yaitu gaya berat (grafitasi) dan impuls. Teori mekanika ini memperlihatkan daya (power) P yang dihasilkan kincia-aia aliran tengah berbanding lurus dengan luas penampang saluran A, beda ketinggian air masuk sauak-sauak dengan permukaan air bagian hilir kincia h, kecepatan aliran air v masuk sauak-sauak, bobot jenis airdan grafitasi g. Dalam bentuk persamaan ditulis P = gAhv (persamaan 1). (http://www.jcc.ctcs.edu/kteam/ph171/chapter6/).

Persamaan (1) memperlihatkan bahwa daya P yang dihasilkan kincia-aia akan bertambah bila luas penampang A ditambah atau dikurangi, beda ketinggian h ditambah dan kecepatan air mengalir v dipercepat atau lambat.

Konsep empirik mengambarkan bahwa, daya P yang dihasilkan kincia-aia ditentukan oleh Diameter roda “D”. Kapasitas kerja sauak-sauak “B” dengan total kapasitas sauak-sauak 0,7 B. Jumlah sauak-sauak “Bno”, putaran permenit “rpm”. Faktor efesiensi 0,65 dan faktor konversi daya kW 708 (Dermot McGuigan, 1978 Small Scale Water Power). Dalam bentuk persamaan ditulis daya P(kW)=(DBBnorpm0.65)/708 (persamaan 2).

Persamaan (2) memperlihatkan bahwa daya P yang dihasilkan kincia-aia akan berubah bila diameter roda kincia diperpanjang atau diperpendek. Perubahan diameter akan merubah jumlah dan kapasitas sauak-sauak.


MERANCANG KINCIA-AIA ALIRAN TENGAH

Merancang Daya

Dalam merancang kincia persamaan daya P = gAhv alat membantu merancang komponen kincia seperti penampang A, beda ketinggian h dan kecepatan air mengalir v. Mengubah-ubah A, h dan v ,maka daya P yang dihasilkan kincia-aia akan berubah pula.

Persamaan daya P(kW)=(DBBnorpm0.65)/708 memperlihatkan bahwa bila diameter roda sauak-sauak D bertambah panjang mengakibatkan jumlah dan kapasitas sauak-sauak bertambah maka daya P yang dihasilkan kincia-aia akan bertambah. Jadi dalam perancangan kicia unsur-unsur (variabel bebas) itulah yang diperhatikan dalam pengembangan kincia-aia.

Kedua rumus memberikan arah dalam perencanaan kincia-aia, apa saja yang dapat diubah untuk meningkatkan daya kincia. Unsur (variabel) mana yang akan diubah sangat ditentukan oleh keadaan setempat atau potensi yang disediakan alam.

Merancang Sumbu Poros

Pada kincia penumbuk yang diperlukan adalah daya yang besar untuk mengangkat alu. Daya putar diubah menjadi gaya angkat, untuk mengangkat alu.

Bila mengangkat alu ada tiga gaya yang melawan gaya angkat yaitu: Pertama gaya gesek angkek-angkek dengan tuia-tuia, Kedua gaya gesek alu dengan lubang alu di paran paran dan. Ketiga gaya berat alu.

Bila untuk memutar roda perubah kecepatan adalah gaya momen puntir. Roda peubah kecepatan panjang dan sudut dapat lebih dari satu, sehingga didapat kecepatan yang diinginkan

MENGEMBANGKAN KEGUNAAN KINCIA

Kincia aia dapat pula dikembangkan untuk keperluan seperti: kipeh dadak, kisuik (ayak), kilang tabu, mesin giliang, pembangkit tenaga listrik dll. Keberadaan pembangkit tenaga energi/tenaga air (kincia-aia dan turbin) akan membantu pelestarian hutan atau lingkungan hidup.

Kipeh Dadak dan Kisuik

Pada kincia penumbuak padi dapat dilengkapi dengan “kipeh” (kipas). Kipeh digunakan untuk mengganti “tampian” (nyiru). Bentuk kipeh dapat dimodifikasi dari kipeh pemisah padi dengan yang hampa sesudah di “iriak” (Iriak adalah cara memisahkan padi dari tangkainya). Jadi di pondok kincia kisuik “tabuang karucuik” (silinder kerucut) untuk pemisah beras dengan “atah” (butiran padi yang masih ada sesudah ditumbuk) dan kipeh pemisah beras dengan dadak.

Kisuik silinder dapat pula dirancang untuk memisahkan beras dari tepungnya. Kisuik diputar dengan roda perubah kecepatan yang ditempatkan pada poros sumbu. Cara ini dapat juga digunakan untuk beras. Selain kisuik tabuang karucuik dapat pula dirancang kisuik maju mundur. Kisuik silinder telah digunakan pada kincia Mawardi kampuang Gonjong.

Mesin Giliang

Mesin giliang padi (gabah) diputar dengan mesin disel dengan kecepatan tinggi. Mesin disel ini dapat diganti dengan kincia dengan daya besar dan kecepatan tinggi. Cara yang dapat dilakukan dengan membuat roda pengubah kecepatan panjang dan sudut kincia rendah ke putaran tinggi. Bila suatu daerah terdapat banda dengan perbedaan ketinggian yang relatif tinggi kincia-aia dapat menggantikan mesin disel. Perubahan dapat dilakukan pada luas penampang saluran A dan kevepatan air v, atau A dan H, atau diameter roda D sauak-sauak dan rpm.

Kilang Tabu

Tabu biasanya diperas dengan “kilang tabu” yang digerakkan dengan binatang peliharaan (kerbau atau sapi). Binatang dapat diganti dengan kincia-aia pada tempat-tempat di mana parak tabu berdekatan dengan batang aia atau banda. Kincia dibutuhkan di sisini adalah untuk mendapatkan daya putar dengan memanfaatkan energi air yang tersedia gratis.

Pembangkit Tenaga Listrik

Kincia yang digunakan untuk menumbuk padi dapat dialih fungsikan (dikembangkan) pemutar generator. Untuk mendapatkan putaran tinggi, lakukan dengan membuat roda pengubah kecepatan panjang dan sudut. Perubahan kecepatan dilakukan untuk mendapatkan putaran sepesifik (Ns) yang dikehendaki pembangkit (generator).

Konsep kincia-aia aliran tengah dapat pula dikembangkan menjadi turbin banki. Turbin banki lebih efisien dari pada kincia aliran tengah. Dalam merancang turbin perlu diketahui putaran spesifik Ns. Putaran spesifik ditentukan oleh putaran turbin N (rpm), beda ketinggian permukaan air h, dan daya turbin w. Rumus putaran spesifik Ns=N(W1/2)/h5/4.

Pemanfatan tenaga air melalui kincia-aia atau turbin Banki sebagai pembangkit tenaga listrik sangat diperlukan: a) sebagai alternatif pembangkit energi, b) mengurangi ketergantungan pada energi BBM, minimal untuk penerangan. Keberadaan kincia-aia dan turbin Banki penggerak pembangkit listrik sangat diperlukan di kampuang/jorong yang jauh dari jangkauan PLN. Dalam jangkauan PLN tetap dapat dibuat karena terdapat banda dengan kecepatan alirann air yang memadai. Pengelolaan pemeliharaan pembangkit listrik diserahkan kepada masyarakat setempat, PLN sebagai pembina, bukan ikut mengelola atau hanya sebagai tempat berkonsultasi.


SUMBER TENAGA KINCIA-AIA DAN PERMASALAHANNYA

Sumber tenaga/energi Kincia-aia, sudah pasti dari tenaga/energi air. Berarti yang dibahas adalah siklus air, lebih menyeluruh dan luas lagi adalah sistem air. Tenaga/daya yang dihasilkan kincia, pasti tergantung pada keteresediaan air yang mengalir.

Keadaan permukaan yang sangat mempengaruhi ketersediaan air, yaitu pelestarian hutan dan tatacara bercocok-tanam. Pelestarian hutan tidak hanya terkait dengan pepohon dan sumber air (siklus air), tapi yang lebih mendalam lagi adalah pada komponen-komponen yang terkait dengan air dan sendi-sendi kehidupan di muka bumi, yaitu sistem tata air (hydrologi) dan ketersediaan oksigen (O2). Dengan demikian jangan sesuka hati membuka hutan dan menutup permukaan tanah dengan pengeras dan tidak memperhatikan persentase lahan terbuka.

Kalau begitu sumber energi air harus dilestarikan, bukan hanya untuk keperluan kincia, tapi yang libih utama adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup (minum, memasak, mandi-cuci dan jamban (tondeh, kakauih), pertanian, peternakan, perikanan dll).

Diperlukan pemikiran mendalam dan tidak tergesa-gesa, tentang kegunaan air dan aliran air. Karena tanpa disadari, sekarang telah terjadi perebutan sumber air (mato aia) untuk keperluan pengarian pertanian (bendungan mengairi hamparan sawah dan memutar kincir menaikkan air didaerah tertentu) dengan PDAM, pengolah air minum kemas dan PLTA. Kedepan tampak lebih kentara perebutan itu. Tambah banyak diberikan izin mengambil air untuk air kemas dari mata air akan berkibat langsung pada penyediaan air untuk kincia, sawah, PDAM dan mungkin PLTA. Penguasaan mata air oleh perorangan bertentangan dan/atau melanggar UUD-45 pasal 33 ayat 3, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

Di Sumatra Barat kegiatan penduduk terbesar di nagari/jorong dengan kegiatan pertanian. Pendapatan penduduk sampai saat ini masih didominasi oleh hasil pertanian, jadi butuh air. Ujung kesediaan air adalah pelesterian lingkungan, hutan sebagai sumber daya air dan mata air sebagai hulu batangaia. Suatu keuntungan dari energi air yang digunakan memutar kincia-aia aliran tengah selain pelestarian lingkungan dapat memutar roda kincia di hulu dan dihilir dengan syarat telah terjadi perbedaan ketinggian permukaan air minimal ¾ (tiga perempat) diameter roda kincia. Itulah keunikan kincia aia aliran tengah. Cara berpikir demikian dikatakan berpikir sistem, jauh kedepan, bukan dalam waktu tiga atau empat tahun kedepan.


PENUTUP

Kreasi, inovasi model kincia-aia model I sampai IV harus dilakukan terus, selanjutnya alat yang memakai tenaga kincia-aia. Kegiatan ini ternyata dapat meningkatkan efisiensi kincia, sehingga muncul model-model kincia-aia baru. Sungguh mencengangkan mereka semua, melakukan pengembangan kincia, padahal pendidikan mereka paling tinggi SLTA.

Kegiatan mereka memanfaatkan sumberdaya lokal dengan bahan lokal menghasilkan produk yang mengurangi ketergantungan dari luar.

Bila melihat kedepan, karena keterbatasan BBM, maka pemanfaatan energi/tenaga air harus menjadi prioritas, sebagai alat pengganti pembangkit energi.

Kedepan diperkirakan akan terjadi perebutan pemanfaatan energi air antara kincia, pengairan pertanian, PDAM, MCK penduduk dengan air minum kemas.

Pengembangan alat-alat pemanfaatan energi air harus dilakukan seoptimal mungkin, sehingga diperoleh efisiensi yang tinggi.

Sumber energi air harus dilestarikan, bukan hanya untuk keperluan kincia, tapi juga untuk memenuhi kebutuhan hidup (minum, memasak, mandi-cuci dan jamban (tondeh), pertanian, peternakan, perikanan dll).

Keberadaan pembangkit energi/tenaga dari air (kincia-aia dan turbin) akan membantu pelestarian hutan atau lingkungan hidup di mana pembangkit itu berada.

Selamat mengembangkan alat pemanfaatan energi baru dan terbarukan (air) yang disediakan gratis oleh alam.


Responses

  1. Assalam
    bagus ulasannya…semoga bermanfaat bagi yg laen..amin
    wassalam

    • Terim kasih Herman
      Mudah-mudahan apa yang anda harapkan sama dengan harapan saya.
      Salam
      Haslizen


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: