Posted by: lizenhs | December 23, 2008

AYO……. CA-LIS-TUNG, BELAJAR DAN MENELITI

AYO……. CA-LIS-TUNG, BELAJAR DAN MENELITI


Oleh Haslizen Hoesin

1.Pendahuluan

Pepatah Adat Minangkabau menyebutkan “Alam takambang jadi Guru”.Guru adalah orang yang mendorong seseorang (baik anak, murid, pelajar, siswa, mahasiswa maupun masyarakat) membaca, belajar dan menulis dari yang terdapat disekitar (alam takambang).Membaca, belajar dan menulislah yang menyebabkan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi berkembang, seperti adanya sekarang.Sehingga memungkinkan siapapun memperoleh informasi yang maksimal, cepat dan mudah dari berbagai sumber dibelahan dunia.

Seseorang, berhak memiliki kemampuan memperoleh, memilih dan mengelola informasi.Kemampuan untuk memperoleh informasi, tidak ada cara yang lebih baik dari mem-baca. Kemampuan tentang informasi, ternyata membutuhkan pemikiran kritis, logis, kreatif dan kerja sama yang efektif.

Apakah yang dimaksud ca-lis-tung?Ca (membaca), lis (menulis) dan tung (berhitung).Keterampilan/kemampuan membaca dan menulis adalah dua dari tiga keterampilan/kemampuan dasar yang harus dikuasai sesorang bila ingin berhasil (sukses).Keterampilan/kekampuan ketiga adalah berhitung (aritmatika). Membaca adalah jendela dunia, jadi bila sesorang banyak membaca berati dia akan banyak mengetahui perkembangan dunia.Membaca dapat dibedakan atas membaca tersurat dan tersirat. Menulisadalah memberikan pengalaman (hasil pengamatan/penelitian) kepada orang lain dalam bentuk tulisan. Jadi bila pengalaman ditulis, ilmu akan berkembang. Berhitung (logika, aritmatika)adalah tempat berlatih kritis, logis dan kreatif. Seorang akan kritis, logis dan kreatif bila logika dan/atau berhitung digunakan sebagai alat

Para pakar sepakat, bila ketiga keterampilan dasar tersebut dimiliki seseorang, akan memperlancar menuju kearah sukses di bidang yang ditekuni.Kemampuan berhitung tidak dibahas pada tulisan ini.

Membacadan menulis tidak dapat dipisahkan. Sudah dipastikan, bila seseorang bisa membaca, bisa menulis, sebaliknya orang yang tidak bisa membaca pasti tidak bisa menulis.Baca-tulis adalah kunci hidup masa kini dan kedepan. Setiap orang percaya bahwa bila banyak membaca akan muncul ide, gagasan baru dan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu yang dalam menimbulkan ingin mengamati dan/atau meneliti.Hasil rasa ingin tahu kemudian ditulis, agar dapat diketahui orang lain. Sungguh menyedihkan dan merugi bila seseorang tidak memiliki dua keterampilan utama itu.

Perlu disadari bahwa, orang yang banyak membaca tapi tidak disampaikan (baik dalam bentuk lisan atau tertulis) merupakan pekerjaan yang mubazir alias tadak banyak bermanfaat.Bila seseorang banyak bicara tapi kurang membaca, ada kecendrungan yang di bicarakan dan ditulis itu dangkal, atau yang disampaikan itu-itu saja sehingga membosankan. Kegiatan membaca dan menulis akan memperlambat pikun.

Bila ditinjau dari sisi suruh (perintah), maka membaca, belajar dan menulis merupakan kewajiban bagi setiap orang, khusus umat Islam, perhatikan surat Al-‘Alaq.

2.Surat Al-‘Alaq

Surat Al-‘Alaq ayat 1 sampai 5 adalah surat pertama yang diturunkan Allah melalui wahyu kepada Muhammad SAW di guha Hira.Surat Al-‘Alaq menjadi pusat (fokus) pembahasan. Terjemahan Al-‘Alaq sebagai berikut:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan (1).Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2). Bacalah dan Tuhan-mulah Maha Pemurah (3). Yang telah mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam (pena) (4)Dia mengajarkan manusia tentang apa yang tiada diketahuinya”(5)

Kata-kata kunci surat Al-‘Alaq adalah bacalah, mengajarkan dan pena.

Hal yang menarik dari kata-kata kunci surat Al-‘Alaq itu adalah urutan dan frekuensi muncul (jumlah).Perhatikanlah berikut ini:

1)Bila urutan kata-kata kunci mengikuti turun ayat;susunan urutan adalah bacalah, bacalah, mengajarkan, penadan mengajarkan.

2)Bila jumlah pemunculan yang menjadi perhatian;bacalah muncul dua kali, mengajarkan dua kali dan pena satu kali.

3)Kalau jumlah pemunculan dinyatakan dalam perbandingan;bacalah :belajar :pena adalah 2 : 2 : 1.

4)Bila keutamaan/kepentingan urutan turunayat dijadikan patokan;bacalahyang menjadi urutan pertama, urutan kedua mengajarkan dan yang ketiga pena.

Apa pengertian dasar pada kata bacalah, mengajarkan dan pena?Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan Balai Pustaka, cetakan ke sembilan tahun 1997 menjelaskan sebagai berikut:

·Baca (v), membaca (v), melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis.Bacalah adalah kata perintah, berarti peritah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis.

·Mengajarkan (v), memberikan pelajaran kepada.Kata dasar mengajar adalah ajar (n), petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut).Belajar (v), berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih

·Pena (n), alat untuk menulis dengan tinta.

Catatan: (n) kata benda,(v) kata kerja.

3.Bacalah, Mengajarkan dan Pena

Penafsiran membaca, belajar dan menulis surat Al-‘Alaq adalah sebagai berikut:

Ayat pertama, Allah memerintah membaca (bacalah).Terlihat bacalah adalah kosakata yang menjadi sangat penting. Perhatikan, bila seorang kurang membaca, maka seperti membaca shahadat, mengerjakan shalat, puasa, zakat dan haji, dilakukan berdasarkan mendengar, berdasarkan kebiasaan, bukan karena didapat dari membaca. Bila berdasarkan mendengar dan kebiasaan (bukan dari membaca), dia tidak akan mengerti lebih dalam tentang maksud dan tujuan membaca shahadat, mengerjakan shalat dan puasa, membayar zakat dan pergi ke Mekah (haji). Akibatnya, bila ada orang yang membantah atau menanyakan mengapa kegiatan tersebut dilakukan dan dilaksanakan. Orang tersebut, akan kebingungan atau bimbang, tidak dapat berkata banyak alias membisu. Walaupun terjadi diskusi, tidak akan beranjak dari debat kusir

Ayat ke dua, menciptakan dan segumpal darah adalah sebuah pernyataan. Pernyataan ini harus dibaca, dilanjutkan dengan dipelajari kemudian ditulis.Pernyataan ini dijadikan suatu pertanyaan besar yang harus dijawab. Dalam bahasa penelitian disebut permasalahan, selanjutnya diidentifikasi kemudian dijadikan hipotesis.

Ayat ke tiga, perintah membaca dilanjutkan dengan Tuhan Maha Pemurah.Pemurah, diperlihatkan dalam bentuk ciptaan dunia (dengan alam terkembang, manusia, binatang, tumbuhan, gunung dan langit, laut dan daratan, bintang dll) untuk manusia, sebagai tempat belajar dan mengembangkan diri dalam menyusun ilmu yang diperoleh secara bertahap.

Ayat ke empat, mengajarkan diikuti pena. Allah mengajarkan, bagi manusia tentu sebaliknya, yaitu belajar.Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Bila seseorang tidak belajar tentu akan ketinggalan atau kekurangan pengetahuan, baik mengenai dunia (di langit dan di bumi)maupun agama (dunia-akhirat). Allah mengajarkan dengan perantaraan pena (alat menulis dengan tinta).Pena diartikanmengajarkan menulis.Sangat menarik isi ayat ke empat ini, tidak mempermasalahkan bentuk tulisan dan alat tulis yang digunakan.Menulis, ditulis dan tulisan, menunjukkan pandangan jauh kedepan. Hasil menulis adalah tulisan, dapat disimpan bertahun-tahun bahkan berabad-abad, juga dapat menjadi bukti keotentikan (inilah yang dimaksud jauh kedepan). Kalau pada ayat ini mengatakan lisan maka akan mudah diubah-ubah, tidak bertahan lama karena tergantung pada daya ingat.

Ayat ke lima, terdapat kembali kata mengajarkandan tidak diketahui.Ayat ini menegaskan untuk belajar yang belum diketahui. Untuk mengetahui dapat dilakukan dengan mengamati/meneliti. Jadi digalakkan melakukan pengamatan/penelitian, supaya diketahui apa yang sesunggunya, sehingga akan lebih meyakinkan tentang keberadaannya..

Membaca dan belajar dapat dilakukan secara mandiri (otodidak) atau melalui orang lain (guru). Guru adalah orang yang mengajarkan.Kita sebaliknya, belajar dari guru. Bila sedikit guru dan/atau tidak ada guru, ilmu pengetahuan lambat berkembang. Yaa….. guru, besar sekali perannya dalam menyebarluaskan, mencerdaskan dan pengembangan ilmu.

Dari paparan di atas jelaslah isi surat Al-‘Alaq, menegaskan bahwa: perintahpertama dan utama dari Allah adalah membaca, belajar dan menulis, bukan melaksanakanshalat, puasa, zakat maupun haji dll. Tentu ada rahasia yang terkandung di dalamnya.

4.Analisis Pareto

Membaca, belajar dan menulis berikut ini dibahas dan dianalisis dengan diagram Pareto. Analisis Pareto menggunakan diagram batang dan persentase, sehingga analisis dapat secara mudah mengetahui dominan suatu kriteria dari sekumpulan kriteria. Analisis Pareto di sini akan melihat mana yang lebih dominan antara membaca, belajar dan menulis. Hasil analisis ditujukan untuk lebih meyakinkan keutamaan membaca daripada belajar dan menulis dalam lima ayat Al-‘Alaq.

Setelah bacalah, belajer dan menulis disajikan pada diagram Pareto, diketahui bahwa bacalah (membaca), dan belajar (mengajarkan) berada pada tingkat dominan yang sama, dan lebih tinggi dari pada menulis (pena). Dalam Persentase bacalah, belajar dan pena berturut-turut 40%, 40% dan 20%. Berarti bahwa membaca dan belajar memiliki tingkat penting yang sama.Bila urutan turun ayat yang dijadikan dasar, maka membaca (bacalah) berada pada urutan pertama, kemudian diikuti belajar dan terakhir menulis.

Kesimpulan:  Membaca adalah kegiatan pertama sebaiknya dilakukan, apakah membaca tersurat, tersirat atau dari pengalaman, selanjutnya dipelajari, kemudian ditulis.

Yaa…, sekarang masalahnya adalah kenapa harus membaca, belajar dan menulis?? Apa yang mesti dibaca, dipelajari dan ditulis?? Jawaban pertanyaan tersebut, paparan dibawah ini/berikut adalah langkah awal, selanjutnya dikembangkan.

5.Bacalah dan Mengajarkan

Bacalah adalah perintah membaca kepada manusia. Mengajarkan berati memberikan pelajaran kepada manusia, sebaliknya manusia belajar. Bila dicermati belajar adalah bentuk yang lebih dalam dari membaca, banyak orang berpendapat belajar dimulai dari membaca.Membaca ber ulang-ulang, timbul rasa ingin mengamati, ingin tahu lebih dalam dan meneliti.

Pada membaca dan belajar, terdapat tiga hal yaitu membaca dan belajar tentang yang tersurat, tersirat dan penagalaman:

1)Membaca dan belajar hal-hal yang tersurat, yang dimaksud adalah berkaitan dengan membaca dan belajar terhadap ilmu pengetahuan yang telah ditulis pendahulu.Orang yang banyak membaca dan belajar akan berakibat terjadi tibunan, tumpukan, akumulasi ilmu.

2)Membaca dan balajar hal-hal yang tersirat, yang dimaksud adalah membaca dan belajar terhadap alam terkembang (sunnatullah), “alam terkembang jadi guru”.Maksudnya adalah membaca dan mempelajari yang tersirat tentang proses yang terjadi di bumi (di darat, di laut dan di dalam perut bumi) dan di langit: seperti proses kehidupan flora dan fauna, kehidupan bawah laut, dan biota laut, kejadian di atmosfir bumi dan di atasnya. Membaca dan mempelajari yang tersirat adalah kegiatan melakukan pengamatan/penelitian, pengkajian dan analisis berdasarkan pada fakta dan data, kemudian memberi arti atau makna sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan. Untuk apa kita membaca dan mempelajari hal-hal yang tersirat? Tentu agar kita dapat lebih mensyukuri nikmat Allah yang telah dikaruniakan dan untuk menambah keimanan kepada keberadaan Yang Maha Esa.

3)Membaca dan belajar dari pengalaman. Pengalaman adalah guru yang tebaik, begitu bunyi pepatah.Setiap pengalaman akan memberi pembelajaran kepada kita, jangan kita mengulang kesalahan yang sama dilain waktu. Pengalamandapat berupa penagalaman pribadi sendiri, orang lain dan sejarah. Pengalaman tersebut dibaca dan dipelajari. Setiap pengalaman baik pengalaman sendiri atau orang lain (sejarah), dievaluasi dan dikaji ulang (pelajari), ambil hikmahnya (yakini), laksanakan (amalkan) dan sampaikan pada orang lain (lisan dan/atau tulisan). Jangan sampai terjadi keledai terperosok dalam lubang yang sama.

Sungguh beruntung orang yang suka membaca dan belajar dengan penuh semangat dan kesadaran, orang tersebut akan banyak memiliki ilmu. Perhatikan:

·Buya Hamka, tak pernah duduk di perguruan tinggi, tapi keilmuannya tinggi.Ketinggian ilmu yang dimiliki diperoleh karena semangat yang tinggi untuk membaca dan belajar sendiri (otodidak).Ilmu yang dimiliki diakui berbagai pihak di dalam negeri dan mancanegara.

·Haji Agus Salim, Muhammad Natsir, Adam Malik dan banyak lagi nama-nama lain yang terkenal karena otodidaknya.

·Masyarakat Jepang, maju karena suka dan rajin membaca dan belajar, dimana saja dan kapan saja ada waktu senggang, mereka membaca, apakah di kereta api, di bis di stasiun dll. Mereka rajin belajar baik dalam negeri dan bahkan sampai kemancanegar.Demikian pula masysrakat negara maju lainnya.

Jadi membaca dan belajar menjadikan seseorang keilmuannya meningkat. Kalau ingin berilmu dan maju, harus banyak membaca dan belajar.

6.Manfaat Membaca

Orang yang suka membaca hal-hal yang tersurat, akan menjadikan orang kaya akan ilmu pengetahuan. Kegiatan tersebut merupakan pengembangan diri dan ilmu pengetahuanyang bersumber dari ilmu pengetahuan (teori) terdahulu melalui logika (secara deduksi)

Orang yang suka membaca hal-hal yang tersirat, akan cenderung mengarah pada peneliti fenomena-fenomena di alam terkembang (sunnatullah). Orang tersebut akan menemukan sesuatu berdasarkan data empirik (secara induksi), metoda percobaan (eksperimen), pemodelan dan simulasi.

Orang yang suka membaca pengalaman orang lain atau sejarah akan mengarah menjadi seorang pengingat atau penasehat kepada orang lain.Sejarah menunjukkan suatu kejadian berkecenderungan berulang di masa depan, baik dalam versi lama atau modus baru. Pembaca mengingatkan akan hal-hal yang tidak baik supaya dihindari/dijauhi dan yang baik dapat dicontoh atau diteruskan dan dikembangkan dalam bentuk lisan dan/atau tulisan. Sebaiknya yang diberi ingat membaca buku agar memahami lebih dalam.

Bila ingin merubah pola pikir secara mandiri, lakukanlah dengan membaca, kemudian baru pada nara sumber.

7.Pena dan Menulis

Pena (kalam) ditafsirkan adalah menulis, karena pena adalah alat untuk menulis.Hasil dari menulis adalah tulisan.

Menyampaikan sesuatu ide/gagasan selain dalam bentuk tulisan dapat dilakukan dengan lisan dan/atau diskusi.Lisan adalah penyampaian dengan kata-kata seperti ceramah dan pidato. Diskusi adalah pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah. Tulisan adalah penyampaian ide/gagasan dalam bantuk karangan (fiksi atau ilmiah).Tulisan adalah upaya menyampaikan ide/gagasan. Tulisan jauh lebih baik dari lisan karena tulisan lebih lama keberadaannya dibandingkan dengan lisan. Lisan mungkin tertinggal di otak dalam hitungan jam atau hari sesudah didengarkan. Tulisan akan hilang apabila terhapus, hancur atau terbakar

Sama dengan membaca dan belajar, pada tulisan terdapat pula tiga hal yaitu menulis yang tersurat, tersirat dan penagalaman hasil dari membaca dan belajar.

1)Menulis hal-hal yang tersurat, adalah menuliskan hasil membaca dan belajar dari ilmu pengetahuan atau apa yang telah ditulis pendahulu.Orang yang banyak membaca dan belajar akan membuat ringkasan/rangkuman atau kutipan, kemudian disusunkedalam bentuk tulisam/karangan

2)Menulis hal-hal yang tersirat, adalah menuliskan hasil membaca alam terkembang (sunnatullah). Menuliskan hasil membaca dan belajar (dikaji dan dianalisis berdasarkan data dan fakta) terhadap proses yang terjadi di bumi dan di langit, kehidupan flora dan fauna, kehidupan bawah laut dan biota laut.

3)Menulis pengalaman, adalah memberi pembelajaran kepada orang lain atas pengalanan yang didapat. Bertujuan agar orang lain tidak mengulang kesalahan yang sama dilain waktu. Pengalaman dapat berupa hasil perjalanan, pengamatan dan penelitian.Setiap pengalaman yang ditulis dapat dievaluasi dan kaji ulang.

Jadi menulis adalah kegiatan untuk menghasilkan tulisan dari membaca dan mempelajari, yang tersurat, tersirat dan pengalaman.Akibat tulisan pengetahuan akan bertambah/berkembang. Perhatikan negara maju, mereka banyak menulis baik tulisan sendiri atau alih bahasa.Mereka menjadi terdepan dalam pengembangan ilmu.Kalau begitu bila ingin berilmu, harus membaca dan belajar, krmudian ditulis.

Bila hasil membaca dan belajar dari hal-hal yang terurat dan tersirat tidak ditulis maka pekerjaan membaca dan belajar akan mubazir, karena ilmu yang diperoleh hanya terpendam dalam diri sendiri.Bila ditulis, tentu orang lain akan dapat pula mengetahui apa yang telah diketahui dan temukan penulis. Selain itu akan menambah keyakinan dan percaya diri, keimanan penulis meningkat. Orang yang banyak menulis akan dikenal, sering disebut-sebut dan/atau dikenang, mungkin pula dikutip buah pikirannya.

Sesedikit atau sekecil apapun tulisan yang ditulis/dimuat pada media cetak dan/atau elekronik, akan membekas pada pembaca (seseorang dan masyarakat). Pendapat atau tulisan yang ditulis itu mungkin akan menjadi bahan pemikiran atau dikutip, menjadi pangkal pikir dan dikembangkan atau dijelaskan kembali dengan kalimat yang baru atau pengertian baru. Kutipan dan/atau kalimat atau pengeritan baru itu akan memperkaya pengertian yang berasal dari ide/gagasan aslinya, bahkan mungkin akan lebih mudah dimengerti/dipahami dan enak dibaca. Pengembangan ide, gagasan dan pendapat bisa saja terjadi tidak saat tulisan disebar luaskan, mungkin setahun atau puluhan tahun kemudian baru dibaca, dipelajari atau dibahas.

Betapa beruntungnya orang yang suka menulis, apa lagi tulisan itu penuh kejujuran, membangkitkan semangat dan kesadaran. Keberuntungan itu terlihat dari ilmu yang dimiliki dan tulisan yang tersebar. Perhatikan:

·Moh. Hatta bukan hanya terkenal sebagai wakil presiden RI tapi juga karena banyak menulis. Sesibuk itu Hatta mengurus negara dia tetap menulis.Gagasan atau ide Moh. Hattayang terkenal adalah tulisan-tulisan mengenai koperasi, sehingga dikukuhkan sebagai bapak Koperasi

·Buya Hamka, sangat banyak tulisannya baik yang dimuat di majalah, koran dan buku sehingga diberi gelar Dr. dan Prof . kehormatan. Hamka pernah dipenjara, selama di penjara menghasilkan yang sangat berharga yaitu Tafsir Al-Azhar. Karya Hamka mengisi rumah dan perpustakaan tidak hanya dalam negeri tapi juga di mancanegara.

·Chairil Anwar, meskipun umurnya pendek, tapi dia terkenal karena tulisan (sanjak dan puisi). Syahrir, M. Yamin, Muhammad Yunus, Tan Malaka, A. A. Nafis, Rohana Kudus, Deliar Noer, Aldi Anwar dan lai-lain. Mereka menjadi dikenal karena ide/gagasan yang dicetuskan dalam tulisan.

·Masyarakat Jepang, mereka maju karena penduduknya banyak menulis dan alih bahasa buku lain ke bahasanya sendiri. Jepang menjadi negara maju.

Jadi menuliskan hasil membaca dan belajar (mengamati/meneliti) bagi sesorang keilmuan meningkat, negaranya menjadi maju dan terdepan dalam pengembangan ilmu.

Agar tulisan mudah dipahami dan enak dibaca tentu harus mengikuti aturan tertentu (tatabahasa), struktur kata, pemenggalan kata, memperhatihan tanda baca, spasi antar kata dan antar baris, struktur kalimat, alinea, anak kalimat dan pemenggalan kalimat. Jadi agar tulisan mudah dipahami dan enak dibaca, ikuti aturan yang terdapat pada EYD.

8.Manfaat Menulis

Bila hasil membaca dan belajar dari hal-hal yang tersurat dan tersirat tidak ditulis, maka pekerjaan membaca dan belajar akan mubazir, karena ilmu yamh diperoleh terpendam dalam diri sendiri. Selain itu menulis akan menambah keyakinan dan percaya diri meningkat.

Menurut Pramoedya Ananta Toer. “Menulislah, selama engkau tak menulis engkau akan hilang dari dalam masyarakat dan pusaran sejarah”.Kata pepatah klasik, Kekuatan pena lebih dahsyat daripada kekuatan satu batalyon tentara.Kekuatan pena juga mampu membuat spasi perenungan buat para pembaca.Tak jarang buah dari renungan tersebut mampu menggerakkan seseorang untuk berbuat sesuatu, selain tentunya mengetahui apa yang sedang terjadi dibalik peristiwa.

Bila ingin merubah pola pikir orang dan masyarakat menulislah.Agar tulisan midah dipahami dan enak di baca parapembaca, ikutilah aturan yang terdapat pada EYD.

9.Baca-tulis, Buta huruf dan Buta hati

Bila berbicara mengenai membaca dan menulis (baca-tulis), terdapat istilah buta huruf dan buta hati.Buta huruf, karena tidak kenal akan huruf, maka tidak bisa membaca dan menulis.Buta hati, tidak dapat memetik isi/makna yang dibaca dan dipelajari, tidak dilaksanakan dalam hidup bermayarakat, yang dibaca hanya seperti angin lewat saja.

Memang sangat malang orang yang tidak dapat membaca dan dinyakan sebagai orang buta huruf dan buta hati.Perhatikanlah orang buta (mata), tidak dapat berjalan dengan cepat.Analogi dengan buta mata, orang buta huruf tertimggal dari perkembangan ilmu pengetahuan.Orang buta huruf akan mendapat ilmu atas balas kasihan penyampai.Bila tidak ada yang menyampaikan tidak akan tahu.Bila ada yang menyampaikan, bisa jadi tidak selengkap bila dibaca sendiri.

Bagaimana dengan orang buta hati.Bagi mereka ini, sesuatu yang dibaca hanya sekadar dibaca, tidak untuk disampaikan pada orang lain.Kegiatan membaca yang dilaksanakan tidak dirasakan mamfaatnya atau tidak berbekas pada tingkah laku.Orang itu tak ubahnya sebagai saluran atau pipa.Coba lihat kasus berikut: tertulis tidak boleh berhenti, malah berhenti disitu. Dilarang merokok di ruangan ini, malahan dengan bangga mengatakan:“saya merokok sejak SD, kalau disambung-sambungkan mungkin sama panjangnya dengan rel kereta-api Surabaya-Jakarta”  kata seorang teman medok dengan bahasa daerahnya.

Orang yang kurang atau malas membaca dan/atau orang buta huruf, mereka hanya menerima penjelasan dari orang lain.Akan mendapat informasi terputus-putus dan kadang-kala menyesatkan karena ditambah dan/atau dikurangi oleh penyampai, sesuai dengan kepentingan yang dibawa. Orang yang hanya membaca dari yang tersurat, tapi tidak membaca yang tersirat (alam terkembang) juga akan tertinggal.

10.MembacaMenulis dan Pengajar

Membaca berkaitan erat dengan pengajar dan proses belajar-mengajar di sekolah dan perguruan tinggi.Pengajar bila akan mengajar pasti membaca terlebih dahulu kemudian dicatat, sebelum disampaikan di kelas.Bila seorang pengajar tidak membaca sebelum diajarkan, dikatakan kurang persiapan atau yang diajarkan dari tahun ketahun tidak ada perubahan terutama dalam memberikan contoh atau ilustrasi.

Pengajar atau orang yang kurang membaca ada kecendrungan tidak menerima pendapat orang lain.Pengajar atau orang tersebut akan berpengang pada apa yang pernah didapat/dibaca dulu.Bila ada orang lain mengajukan metoda/cara lain untuk menyelesaikan masalah atau persoalan, pengajar atau orang tersebut akan bertahan pada apa yang telah didapat sebelumnya dengan ngotot atau otot.Apa yang harus dilakukan agar orang lain dapat menangkap dengan mudah atau mengerti, dari yang akan disampaikan pengajar.Herman Ebbinghaus menyarankan: Agar mengerti dan menyampaikan dengan baik dari suatu buku, baca 8 kali.

11.Berhitung

Membaca memang menghasilkan sesuatu.Selain untuk mengetahui secara kuali-tatif lebih dalam, ingin pula mengetahui kearah kuantitatif.Keinginan mengetahui yang bersifat kuantitatif inilah yang membangkitkan ilmu berhitung (aritmatika).Lihat ke ma-sa lalu, kegiatan membaca dan membaca, membaca dan belajar lebih dalam tentang tulis-an Allah (alam terbentang) yang membangkitkan ketahuan Muhammad bin Ahmad, lebih dalam lagi sehingga dia menemukan angka 0 (nol).Perhatikan apa yang terjadi bila tidak ada angka nol, ilmu-ilmu akan terlambat berkembang.Karena membaca alam Muhammad bin Musa Al Khawarizmi menemukan Aljabar, dasar-dasar matematika persamaan.Al Kawarizmi pulalah yang pertama kalimengungkap konsepAlgoritma.Algorithma adalah suatu urutan langkah-langkah penyelesaian yang digunakan dalam bahasa komputer.

Ya…..kalau ingin berilmu dan maju, harus banyak membaca dan belajar berikut berhitung.

12.Manfaat Berhitung

Berhitung adalah untuk tempat berlatih logika.Bila logika seorang baik, maka dia akan mudah berpikir secara berurut (sistematis).Berpikir berurut inilah yang sangat diperlukan dalam kehidupan dan bermasyarakat.

Manfaat berhitung adalah membimbing seseorang berlogika dalam menyelesaikan masalah.Orang yang berlogika dia akan berpikir kritis, lurus, efisien tepat dan teratur, untuk mendapatkan kebenaran dan mengindari kekeliruan. Berhitung membangkitkan seseorang akan kritis, logis dan kreatif, bila logika dan/atau berhitung digunakan sebagai alat.

13.Membaca, Menulis, Metoda Belajar dan Meneliti

Bila membaca ditinjau dari sisi metoda/cara belajar baik murid, pelajar, siswa maupun mahasiswa untuk mencapai keberhasilan di sekolah atau di perguruan tinggi, Soewarno Darsoprajitno menyatakan bahwa: “Keberhasilan dalam belajar, diperoleh dengan cara membaca dan berdiskusi dengan narasumber.Bila dinyatakan dalam persentase, maka persentase terbesar pada membaca (60%), berdiskusi dengan nara sumber (30%) dan 10% belajar dikelas (kuliah).Hasil mambaca dan diskusi dengan narasumber kemudian ditulis.Inilah suatu ungkapan atau pengalaman seseorang tentang pentingnya membaca dalam memperoleh ilmu.

Seorang (murid, pelajar, siswa atau mahasiswa) yang melakukan penelitian (apakah pengamatan, tugas akhir, skripsi, tesis atau disertasi) dan kemudian menuliskan, ternyata 50% dari seluruh kegiatan adalah “membaca”, dan “menulis”, sisanya “belajar sendiri”.Bila kegiatan membaca dan menulis dilakukan 50% maka 50% lagi mempelajari.Persentase sebesar itu, diperkirakan peneliti akan memahami apa yang dikerjakan dan ditulis, berdampak kepada penelitian dan penulisan penelitian, yaitu cepat selesai.Tampak di sini, bahwa kegiatan membaca, menulis dan pemahaman, sangat menentukan keberhasilan melakukan penelitian termasuk menulis laporannya.

M. Imaduddin Abdurrahim menegaskan, bahwa “memang Al-Quran sangat menggalakkan manusia memperhatikan dan meneliti alam dan menemukan ayat-ayat (sunnah) Allah yang mengatur alam itu”.Ibnu Rusydi, sarjana muslim yang terkenal mengatakan, “bahwa alam raya ini adalah kitab Allah yang pertama sebelum kitab-kitab lain yang berbentuk kumpulan wahyu-Nya”. Gejala alam telah berbicara kepada mereka yang mau mengerti akan ayat-ayat Allah yang telah dipatuhi alam itu.

Tidak ada batas waktu dalam menuntut ilmu (membaca dan belajar). Hadist nabi menyatakan belajar dimulai sejak dari buaian (ayunan) sampai meninggal atauPBB menyatakan pendidikan sepanjang hidup (long life education)

14.Renungan

Butir-butir kalimat dibawah ini adalah suatu ungkapan-ungkapan dari paparan diatas, sehingga didapat beberapa butir rangkuman sebagai bahan untuk direnungkan.

·Bila engkau menulis dengan jujur dan berterus terang, orang mungkin akan memanfaatkan kepada hal yang tidak baik, biar begitu tetaplah menulis dengan jujur dan berterus terang.

·Apapun yang engkau bangun (apakah dalam bentuk tulisan atau ujud benda) selama bertahun-tahun, mungkin akan dihancurkan seseorang dalam sekejap atau semalam, biar begitu tetaplah membangun dengan jujur dan tulus.

·Engkau tahu, amal-amal mu (dalam bentuk tulisan) tak mungkin dilakukan orang lain, maka sibukkanlah diri mu untuk beramal (menulis).

·Membaca, belajar, mengamati/meneliti, kemudian tulislah gagasan dan ide yang ditemukan itu dengan tulus, nanti akan diikuti/disukai, dielukan, dilecehkan dan/atau ditentang orang sekuat tenaga. Walaupun begitu teruslah menulis

·Ketahuilah bahwa semua yang engkau lakukan (baik tulisan atau disampaikan secara lisan) dengan tulus dan jujur pada akhirnya dan sesungguhnya adalah perbuatan engkau dengan Tuhan, bukan antara engkau dengan mereka.

Baca juga:
 Hidup Ini Indah Dengan Membaca, Kemudian Buat dan sampaikan, https://lizenhs.wordpress.com/2010/03/27/hidup-ini-indah-dengan-membaca-kemudian-buat-dan-sampaikan/
AYO….!! BANYAK-BANYAK MEMBACA DI BULAN RAMADHAN http://paraklaweh.blogspot.co.id/2008/12/ayo-banyak-banyak-membaca-di-bulan.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: