Posted by: lizenhs | November 22, 2008

KIKTINGGI KOTA WISATA SEJARAH

KIKTINGGI KOTA WISATA SEJARAH

Ditulis oleh Haslizen Hoesin

Masyarakat Agam memberikan sebutan yang sangat akrap kepada Bukittinggi, yaitu Bukik atau Kiktinggi atau Pasa. Kik adalah singkatan dari Bukik (Bukit) dan Pasa (pasar). Konon kabarnya kota Bukitinggi berasal dari balai atau pasa rakyat. Sebelum kedatangan Belanda (1823), pasa telah ramai didatangi pedagang dan penduduk sekitar. Pasa tahun 1858 berbentuk Pasa Serikat dan tahun 1918 telah berbadan hukum. Belanda mengembangkan pasa menjadi kota karena melihat potensi Agam Tuo dan sekitar saat itu. Ada pendapat Bukittinggi telah ada sejak 185 tahun atau bahkan dua abad yang lalu.

Bukik atau Kiktinggi atau Bukit Tinggi atau Bukittinggi memang nama yang cocok, karena berada di 7 bukit di tengah Luak Agam Tuo. Pusat kota berada diatas bukit tertinggi. Bukittinggi, berada di ketingian 909 sampai 941 meter dari permukaan laut, beriklim sedang, berhawa sejuk, suhu 170 – 240 C dan kelembaban udara 82 – 90.8 %. Hujan turun sepanjang tahun, curah hujan rendah bulan Februari, April dan Mei.

Kiktinggi dikenal pula dengan nama Fort de Kock, mengikuti nama benteng di bukit Jirek dan Parijs van Sumatra (zaman Belanda), Bukit Tinggi Baru (zaman Jepang), Tri Arga dll. Sekarang Bukittinggi dikenal “Tanah Abang II” atau “Kota Wisata” dan Jam Gadang sebagai “landmark”-nya.

Apakah pariwisata dan wisata? Pariwisata diambil dari bahasa Sansekerta, secara estimilogi terdiri dari kata pari dan wisata. Pari berarti, banyak, berkali-kali, atau lengkap dan wisata berarti perjalanan atau bepergian. Secara lengkap, satu diantara beberapa penertian adalah “bepergian atau perjalanan yang dilakukan kesuatu tempat bukan untuk bekerja, bersifat sementara dan sukarela dari seseorang ataupun beberapa orang dengan bersenang-senang, menikmati obyek dan daya tarik wisata dan mendapat pengalaman yang tak terlupakan atau kenangan indah”. Bila wisata sejarah, tentu obyek dan daya tarik mengenai peninggalan.

Bukittinggi disebut kota wisata, karena banyak obyek wisata di dalam kota dan di sekitarnya, yang dapat dijangkau dalam waktu relatif pendek. Lokasi wisata di dalam kota seperti Jam Gadang, Pasa (makanan, makan dan belanja). Tempat lain diantaranya Ngarai, Lubang Japang, Benteng, Panorama, Panorama Baru, Taman Bundo Kanduang, rumah Bung Hatta, jembatan Refleksi, mesium Tridaya Eka Darma dan patung/tugu.

Istirahat, Hotel dan “Home Base”

Kiktinggi sebagai tempat istirahat atau kota wisata sudah melekat sejak zaman

penjajahan. Dalam kaba dan buku sejarah ditulis bahwa orang Balanda, Jepang dan pribumi yang menetap di Padang istirahatnya di Bukitinggi. Mereka menginap di Centrum, Park Hotel dan Melati. Sekarang, di Bukittinggi telah ada biro perjalanan dan beragam tempat penginapan, mulai dari losmen sampai hotel berbintang empat.

Di masa perjuangan kemerdekaan, Hotel Centrum, Park Hotel dan Hotel Melati ikut pula mengukir sejarah. Hotel-hotel tersebut sekarang sudah tidak terdengar lagi. Seandai masih ada, dipugar, difungsikan kembali sebagai hotel atau dijadikan mesium dengan tidak merubah bentuk aslinya. Lihat Bandung (Savoy Homan, Gedung ITB, dll). Jakarta (Musium Fatahillah, Masjid Cut Nyak Din dll).

Selain tempat istirahat, Bukittinggi juga sebagai “home base” , karena mau raun keluar kota silakan, sore sudah kembali lagi kepenginapan. Lokasi wisata di sekitar kota dapat dicapai dengan jalan kaki, bendi atau sepeda sekitar 1–2 jam. Bila cukup jauh, menggunakan kendaraan pribadi atau pakai biro perjalanan, juga dapat dijangkau 1–2 jam. Bukittinggi dapat dicapai 90 menit dari Padang (Bandara Internasional Minangkabau Katapiang). Bila pelancong berada di Bukittinggi, mereka dapat menyusun strategi atau merencanakan bepergian ketempat lain ke seantero ranah Minang. Bukitinggi juga berada di persimpangan jalan menuju Bonjo, Payokumbuah, Padangpanjang dan Maninjau. Kenyataan ini tambah mengukuhkan Bukittinggi sebagai tempat strategis dan sebagai home base bagi wisatawan.

Jam Gadang,

Di atas bukit yang tertinggi, di tengah kota, terdapat sebuah menara jam, disebut penduduk “jam gadang”. Kemudian melekat menjadi nama menara jam tersebut. Mesin jam tiba 5 Oktober 1926 di Emma Haven (Taluak Bayua atau Teluk Bayur) dari Belanda, hadiah dari Ratu Juliana. Tidak lama setelah sampai, di bungun menara jam dekat pasa.

Menara berbentuk panggung (tipe rumah minang), empat persegi, bertingkat lima dan puncak, cukup ramping dan tidak terlalu besar. Pada masing-masing sisi dibawah puncak terdapat piringan jam, jendela dua dan tiga. Karena sisi-sisi berjendela, ruang dalam menara terang (ciri bangunan tropis, memanfaatkan cahaya matahari). Konon, menurut cerita, bangunan tanpa semen, campuran yang digunakan kapur, putih telur dan pasir putih. Peletakan batu pertama oleh anak Controleur Dutchman Rook Maker berusia 6 tahun. Menara dirancang dan dikerjakan oleh putra Agam Tuo. Arsitek opzichter Jazid Abidin dari Koto Gadang dan pemborong Haji Moran dari Birugo. Sebagai mandor Haji Moran menunjuk Datuak Gigi Ameh asal Birugo.

Bentuk puncak telah berubah tiga kali. Semula berbentuk kubah dengan diameter 80 cm. Di atas kubah terdapat patung ayam jago sedang berkokok, posisi mengarah ke timur (menyindir penduduk Agam Tuo bangun kesiangan) dan berkibar bendera Belanda. Pada zaman Jepang kubah diganti kuil persegi corak khas Jepang dan berkibar bendera Jepang. Sesudah kemerdekaan bentuk atap kuil diganti dengan gonjong (ciri khas Ranah Minang) disebut “serambi” dan berkibar Merah Putih.

Panggung bertiang delapan dengan ruangan berbentuk kubus, panjang sisi-sisi dalam 300 cm dan sisi-sisi luar 640 cm. Empat tiang ukuran alasnya 190 x 190 cm dan yang lain 64 x 158 cm. Antara tiang berbentuk seperti U terbalik, lebar 98 cm dan tinggi 210 cm. Ruang panggung pernah digunakan tempat menjual karcis mobil. Ruang tingkat pertama, kedua, ketiga, keempat dan piringan jam, panjang sisi dalam 300 cm dan tinggi 405 cm. Serambi berdinding kaca, panjang sisi dalam 245 cm, tinggi 425 cm dan tebal tiang 40 cm. Tebal diding lantai pertama 90 cm. Setiap tingkat terdapat janjang (tangga) terbanyak 17 anak janjang, curam, merapat ke dinding dan berbelok menyiku. Naik kelantai pertama melalui dua janjang tembok kiri dan kanan.

Ruang piringan jam dibagi dua. Bagian bawah tempat mesin jam dan atas tempat lonceng. Mesin jam, mirip jam lemari atau Junghans ukuran besar. Jam digerakkan dengan sistem kerek dengan dua pemberat, pengganti per. Satu pemberat menggerakan roda bergerigi miring pengayun bandul, yang lain menggerakan roda pemukul lonceng. Pada ruangan tempat lonceng, terdapat pula sumbu tegak dari mesin jam dan empat sumbu datar memutar jarum jam di keempat sisi bangunan. Sumbu tegak dan sumbu datar dihubungkan dengan roda gigi secara tegak lurus, seperti putaran mesin mobil ke roda belakang.

Waktu yang ditunjukan jam sudah tidak tepat lagi, harus dicocokkan 2 menit perhari. Keadaan ini dapat dimaklumi, karena roda gigi pengayun bandul sudah tumpul dan haus karena usia, meskipun pemeliharaan mesin jam dilakukan dengan baik. Bunyi lonceng jam cukup keras, dulu pada sekitar tahun kemerdekaan bunyi jam sampai terdengar kepinggir kota bahkan sampai ke Koto Gadang.

Di sekitar menara (Jam Gadang) terdapat taman dan pelataran. Taman pada zaman Belanda bernama Raafplein sedangkan zaman Jepang bernama Kobayashi, sekarang bernama Sabai Nan Aluih. Pelataran berdiameter 13 m. Di sebelah selatan, terminal bus, terus ke selatan bangunan kantor Asisten Residen dan rumah dinas. Komplek ini sekarang dijadikan Istana Negara Bung Hatta. Di sebelah barat kantor polisi dan pompa bensin. Di sebelah utara tempat pemberhentian bendi dan di seberangnya terdapat toko dan Loih Galuang. Di sebelah timur jalan raya ke arah selatan. Awal tahun 60-an terdapat gerbang bergonjong arah ke Tri Arga (Istana Bung Hatta).

Jam Gadang memiliki beberapa keistimewaan, yang menjadikan Jam Gadang terkenal. Keistimewaan pertama adalah rasa kagum, terpesona dan mungkin terharu bila melihat Jam Gadang. Bila anda berpikir mengenai konstruksi dan gaya arsitektur maka itu adalah keistimewaan kedua dan ketiga.

Saat Perang Padri, Jam Gadang digunakan Belanda untuk mengintai gerak gerik pengikut Imam Bondjo (Bonjol). Jam Gadang juga mengukir sejarah kemerdekaan, karena tanggal 27 September 1945 Merah Putih berkibar untuk pertama kali di puncaknya, menggantikan bendera Jepang. Merah Putih yang berkibar diatas Jam Gadang merupakan kepuasan/kelegaan rakyat dan pemuda Bukittinggi dan Agam, rakyat menyaksikan gembira, terharu dan menangis. Itulah keistimewaan Jam Gadang ke empat. Tanggal 4 Oktober 1945 dilakukan penaikan bendera Merah Putih di Jam Gadang secara resmi atas instruksi gubernur Sumatra yang berkedudukan di Medan. Jam Gadang telah berdiri kokoh selama 78 tahun, ini keistimewaan Jam Gadang ke lima.

Dulu, sekitar Jam Gadang hari Satu (sabtu) sore tidak ramai seperti sekarang. Sekarang pelataran bernama Sabai Nan Aluih itu berlantai tembok, ramai dikunjungi untuk bersantai dan berakhir pekan. Pelancong yang berakhir pekan diantaranya datang dari Pakan Baru, Jambi dan masyarakat Ranah Minang. Pelataran lebih ramai lagi setiap Idul Fitri, dipadati oleh perantau yang mudik, keistimwaan ke enam

Jam Gadang selain di pusat kota, terdapat juga di pinggir jalan memasuki kota. Jam Gadang itu kecil setinggi 3 meter dan sisi 1 meter, disebut “Jam Gadang Ketek atau Kaciak”. Jam Kaciak/Ketek sebagai tanda batas kota dengan Nagari yaitu di Birugo, Bukik Ambacang dan Parik Putuih. Jam Gadang Ketek lain (tinggi sekitar 4 m), juga terdapat diperumahan penduduk antara pinggir Ngarai dengan Rumah Sakit Islam Yarsi, keistimewaan jam gadang ke tujuh.

Pernahkan anda naik keatas Jam Gadang? Anda pasti akan terpesona melihat kesekeling sejauh mata memandang. Betapa indah pemandangan alam melingkari Bukittinggi. Anda melihat Marapi dan Singgalang dengan selepas pandangan. Bisa melihat Kamang (pusat pergerakan Tuanku nan Renceh) dan lebih jauh lagi Bonjo (pusat pergerakan Paderi). Melihat Puncak Lawang tempat paralayang (paragliding). Melihat nagari Kapau, pengusaha rumah makan Kapau. Sungai Pua dengan indusri kerajinan logam, Gaduik dengan bandaranya, Palupuah dengan bunga Raflesianya, Koto Gadang dan Pandai Sikek dengan tenunannya, dll., keistimewaan Jam Gadang yang ke delapan. Bila anda sedang berdiri dipelataran Jam Gadang, berimajinasi dan berimajinasi, itu keistimewaan ke sembilan, sepuluh dst

Diluar perkiraan, pelancong jarang yang naik Jam Gadang. Kenapa serambi Jam Gadang tidak berperan sebagai wisata alam melihat keindahan alam sekitar Bukitinggi? Atau kenapa pelancong tidak berminat naik?

Sekarang Bukittingi sedang giat membangun. Pembanguan juga dilakukan disekitar Jam Gadang. Tinggi bangunan yang dibangun disekitar Jam Gadang harus lebih rendah atau sepinggang Jam Gadang. Bila lebih tinggi dan lebar. Pertama, tentu akan merubah perhatian terhadap Jam Gadang. Kedua, kemegahan Jam Gadang akan berkurang dan/atau tidak terlihat lagi. Ketiga, bila pelancong berada di serambi, pandangan tidak leluasa melihat keindahan alam disekitar Bukittinggi.

DPRD, Pemkot dan Dinas Pariwisata secara bersama-sama dan sepakat menata tata ruang kota, khususnya bangunan disekitar Jam Gadang, untuk menjaga kekhasanya. Bila tidak, berarti beberapa keistimewaan atau kekhasan yang selama ini dibangggakan untuk mengundang wisatawan akan hilang. Pemkot Bukittinggi sebaiknya belajar dari DKI aturan tinggi bangunan disekitar Monas. Perhatikan Bali, bangunan tidak boleh melebihi pohon kelapa. Perhatikan bangunan tua Capital Building di Washington DC. tetap tampak dominan ditengah kota modern.

Kereta Api

Bukittingi dilintasi jalan kereta api Padang Panjang-Payokumbuah. Rel kereta api Padangpanjang-Bukittingi dibangun mulai 1888 selama 30 bulan. Rel Bukittingi-Payokumbuah dibangun mulai 1985 selama 12 bulan. Di lintasan Padangpanjang-Payokumbuah terdapat pendakian dan penurunan. Di daerah ini rel tiga buah, satu rel berada di tengah. Rel yang di tengah bentuknya seperti rantai sepeda tapi kaku dan lebih tinggi dari rel kiri-kanannya. Rel tersebut berfungsi untuk meniadakan slip (tergelincir) saat lokomotif mendaki dan direm. Lokomotif yang melintasi Bukittinggi digerakkan dengan uap dan mempunyai roda penggerak (driving wheel) bergerigi. Di pendakian dan penurunan, roda gerigi masuk dan bertumpu pada rel tengah.

Di Kiktinggi terdapat dua Stasiun yaitu stasiun besar di Tarok (jalan Stasiun) dan stasiun pemberhentian di Pasa Bawah di depan surau Inyiak Djambek. Stasiun Kereta Api di Jalan Stasiun, ternyata mempunyai kenangan dalam pengibaran Merah Putih. Pengibaran bendera dipelopori oleh pemuda DKA, tanggal 28 September 1945. Pada peristiwa ini tidak terjadi pertumpahan darah, meskipun masyarakat yang datang ke stasiun membawa ruduih, ladiang, kapak, sabik, pisau dll

Kenangan lain, khusus bagi penduduk, pelajar dan siswa, yang berasal dari Baso, Biaro dan Tanjuang Alam, Koto Baru, Padang Lua sekitarnya, umumnya Agam Tuo. Mereka ke/dari Kiktinggi dan ke kota lain dengan kereta api. Lokomotif yang beroperasi di Bukittingi antara lain: E1016 konstruksi Esslingen (3989/1920), sekarang di Taman Mini Jakarta. E1060 konstruksi Esslingen (5316/1966) dibuat Jepang, di Museum Kereta Api Ambarawa, masih baik dan difungsikan untuk membawa turis.

Bangunan stasiun, sekarang di tempati pensiunan PJKA. Kenapa lokasi tersebut tidak dijadikan saja museum kereta api seperti di Ambarawa atau sebagai bangunan bersejarah dan di pugar? Museum akan memberi tahu kepada generasi sekarang dan masa datang akan keberadaan kereta api di Agam, tidak hanya dalam tulisan sejarah saja. Apakah suatu saat nama jalan stasiun diganti dengan nama lain? Wallahualam.

Pasa (Pasar)

Sebagai kota wisata belumlah lengkap bila tidak ada tempat belanja, makan,

makanan ringan dan barang bawaan. Di Bukittinggi ada kesemua itu pada lima pasar yaitu Pasa Ateh (Atas) diatas bukit, Pasa Teleng atau Lereng (di lereng bukit pasa Ateh), Pasa Bawah, Pasa Banto dan Simpang Aua Kuniang dan ada pula pasa Pasa Jawi (pasa ternak). Pasa ternak sekarang di Garegeh sebelumnya di Mandiangin, pindahan dari pasa Jawi. Pasa Ateh berdekatan dengan Jam Gadang merupakan pusat pasar, disebut juga pasa Gadang.

Di bagian timur Pasa Ateh, terdapat dua jajaran bangunan tua mengapit jalan Saudagar. Tempat bagunan tua itu disebut Bulakang Pasa. Petunjuk bangunan itu lama, dari bentuknya yang khas terutama dibagian tengah dan ujung. Di bagian ujung tertulis anno 1917. Kenapa bangunan ini tidak dipugar? Sehingga di Bukitinggi ada “Pasa Tua”, kalau di Padang ada “Kota Tua”. Bangunan lain yang terkanal adalah Janjang Ampek Puluah, tangga melintasi perumahan penduduk Bawah Pasa.

Di Bukittinggi kegiatan pasa awalnya hari Satu (Sabtu), karena semakin ramai diadakan pula hari Raba’a (Rabu). Hari-hari lain pasa diselenggarakan di nagari sekitar Kiktinggi. Pasa di nagari disebut balai atau pakan. Balai karena diselenggarakan di lapangan dekat balai adat. Pakan karena diadakan sekali “sapakan” (sepekan). Nama balai/pakan disesuaikan dengan nama hari, yaitu Akad (Ahad), Sinayan (Senin), Salasa (Selasa), Kamih (Kamis)dan Juma’at (Jum’at). Di Nagari yang jauh dari Bukittingi, pakan/balai dapat dilaksanakan di hari Akad dan Raba’a

Pedagang Pasa Ateh dan Pasa Bawah ternyata memberikan andil pula pada peristiwa penaikan bendera di Stasiun Kereta Api, terutama kadai basi (toko besi) orang Sungai Pua. “Masyarakat mengambil ruduih, ladiang, kapak, arik dan pisau di toko-toko tersebut, setelah selesai dikembalikan tanpa ada yang hilang”, kata Hadjimar Bermawi yang menyaksikan kejadian tersebut.

Sampai akhir tahun 80-an di jalan sekitar pasa Teleng dan diantara toko permanen di tengah pasa, pedagang berjualan di bawah “payung kertas”. Pasar usai atau tidak Pakan, payung disimpan, orang dapat berjalan leluasa dan santai melewati jalan dan menikmati pemandangan. Itu ciri khas pasa Bukittinggi sampai tahun 80-an.

Sekarang Pasa Ateh lebih dominan makanan berat dan ringan, sovenir (barang hasil kerajinan rakyat seperti sulaman, bordir, logam, tenunan dan songket), kaset dan VCD Minang. Pasa bawah lebih dominan keperluan sehari-hari. Pasa Teleng dominan makanan. Pasar Simpang Aua lebih dominan grosir.

Pasa Ateh, Bawah dan Teleng yang dahulu dipenuhi payung kertas, sekarang

dipenuhik dengan kedai semi permanen. Janjang sempit dilewati, karena ditempati pedagang berjualan dan kotor, pelancong/wisatawan segan datang untuk berbelanja dan berjalan menikmati suasana pasa. Batang Ayia pasa Bawah ditutup dijadikan tempat kios. Arsitektur tata ruang dan bangunan Bukittingi dulu dipuji oleh banyak orang.

Dari data Ranah-Minang.com diketahui, Pasa Ateh didominasi pedagang grosir, Pasa Bawah dan Simpang Aua pedagang eceran (tradisional). Total pedagang eceran dan grosir 9056 pedagang, 75 % adalah pedagang eceran. Data tersebut menjelaskan, bahwa pasa memiliki beberapa kekhasan. Pertama, pedagang didominasi oleh pedagang eceran. Kedua, pedagang didominasi oleh orang Minang (itu kebanggaan). Usaha eceran ternyata memberikan kehidupan banyak keluarga, kekhasan ketiga. Ke Empat, tentu PAD Bukitinggi terbesar dari pedangan eceran.

Pasa di Bukittinggi terlihat jelas pasar tradisionalnya, yaitu dari kegiatan pasar yang bergilir dengan pakan/balai nagari. Itulah keunikan pasa Bukittinggi dan daya tarik tersendiri bagi wisatawan, kekhasan ke lima. Volume penjualan di kedua hari tersebut jauh melapaui total 5 hari lain, kata pedagang pasa Aua Kuniang. Kalau begitu Bukittinggi harus dikembangkan dan dirancang pasa tradisional, tertata, bersih, bernuansa moderen dan menyenangkan, tentu meningkatkan pedapatan masyarakat Minang. Untuk itu Pemkot perlu belajar dari Singapura, Kuala Lumpur dan Tokyo mengelola pedagang eceran.

Penutup

Apabila Pemkot dan DPRD menyatakan Bukittingi sebagai kota wisata (obyek peninggalan) dan pasa, maka yang dikagumi dan dinikmati wisatawan adalah keaslian bangunan dan kebersihan dan tata ruang pasa, keramahan pedagang, mutu barang, harga yang bersaing dan seni berolah tawar. Bangunan bersejarah dipugar, bukan dirombak atau diganti dengan yang baru. Penyadaran kepada pedagang tentang berdagang yang ramah dan baik. Pedagang diharuskan menjaga kebersihan disekitar tempat usahanya, pekerja kebersihan hanya mengambil yang telah dikumpulkan. Untuk pengembangan wisata dan ruang, Pemda pasti memiliki Rencana Induk Pembangunan Pariwisata dan Rencana Tata Ruang Wilayah. Pimpinan dan manajemen kota sebagai pemegang kebijakan, tentu harus berpegang pada rencana tersebut.

Yaaaaa. Dapatkah Bukittinggi menjadi kota wisata sejarah dan belanja yang tertata, ramah, bersih dan menyenangkan sebagaimana, sebagai sebuah kota wisata?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: